Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

KASUS PELANGGARAN KODE ETIK PERAWAT ANESTESI

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Etik dan Aspek Legal Keperawatan
Anestesi Prodi D-IV Keperawatan semester tujuh.

Disusun oleh:
Heryuni Prastiwi P07120213019
Kalifa Nurahmad Fauzi P07120213024
Putri Prastiti Mubarokah P07120213042
Yoka Rachmawan P07120213040

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
Makalah Kasus Pelanggaran Kode Etik Perawat Anestesi tanpa ada hambatan.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Etik dan
Aspek Legal dan menambah informasi bagi mahasiswa tentang pelanggaran kode
etik yang terjadi.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1 Yustiana Olfah, APP.,M.Kes. selaku dosen yang mengampu mata kuliah Etik
dan aspek legal keperawatan anestesi
2 Teman-teman yang telah bersedia membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, penyusun mohon maaf atas kesalahan yang terjadi dalam pembuatan
makalah ini.

Yogyakarta, September 2016

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latarbelakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II
ISI

A. Contoh Kasus
Seorang pasien menjalani suatu pembedahan di sebuah kamar operasi.
Sebagaimana layaknya, sebelum pembedahan dilakukan anastesi terlebi
dahulu. Pembiusan dilakukan oleh dokter anastesi, sedangkan operasi dipimpin
oleh dokter ahli bedah tulang (orthopedy).
Operasi berjalan lancar. Namun, tiba-tiba sang pasien mengalami
kesulitan bernafas. Bahkan setelah operasi selesai dilakukan, pasien tetap
mengalami gangguan pernapasan hingga tak sadarkan diri. Akibatnya, ia harus
dirawat terus menerus di perawatan intensif dengan bantuan mesin pernapasan
(ventilator). Tentu kejadian ini sangat mengherankan. Pasalnya, sebelum
dilakukan operasi, pasien dalam keadaan baik, kecuali masalah tulangnnya.
Akan tetapi, ternyata kedapatan bahwa ada kekeliruan dalam pemasangan
gas anastesi (N2O) yang dipasang pada mesin anastesi. Harusnya gas N2O,
ternyata yang diberikan gas CO2. Padahal gas CO2 dipakai untuk operasi
katarak. Pemberian CO2 pada pasien tentu mengakibatkan tertekannya pusat-
pusat pernapasan sehingga proses oksigenasi menjadi sangat terganggu, pasien
jadi tidak sadar dan akhirnya meninggal. Ini sebuah fakta penyimpangan
sederhana namun berakibat fatal.
Dengan kata lain ada sebuah kegagalan dalam proses penetapan gas
anastesi. Dan ternyata, di rumah sakit tersebut tidak ada standar-standar
pengamanan pemakaian gas yang dipasang di mesin anastesi. Padahal
seharusnya ada standar, siapa yang harus memasang, bagaimana caranya,
bagaimana monitoringnnya, dan lain sebagainya.Idealnya dan sudah menjadi
keharusan bahwa perlu ada sebuah standar yang tertulis (misalnya warna
tabung gas yang berbeda), jelas, dengan formulir yang memuat berbagai
prosedur tiap kali harus ditandai dan ditandatangani. Seandainya prosedur ini
ada, tentu tidak akan ada, atau kecil kemungkinan terjadi kekeliruan. Dan
kalaupun terjadi akan cepat diketahui siapa yang bertanggungjawab.
B. Pembahasan
Etika punya arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang
pengguna yang berbeda dari istilah itu. Bagi ahli falsafah, etika adalah ilmu
atau kajian formal tentang moralitas. Moralitas adalah hal-hal yang
menyangkut moral, dan moral adalah sitem tentang motifasi, perilaku dan
perbuatan manusia yang dianggap baik atau buruk. Bagi praktisi
professional termasuk dokter dan tenaga kesehatan lainnya, etika berarti
kewajiban dan tanggungjawab memenuhi harapan profesi dan masyarakat,
serta bertindak dengan cara-cara yang professional, etika adalah salah satu
kaidah yang menjaga terjadinya interaksi antara pemberi dan penerima jasa
profesi secara wajar, jujur, adil, professional dan terhormat.
Dalam kode etik perawat anestesi pasal 2b dijelaskan bahwa
Perawat anestesi secara berkesinambungan menunjukan tingkat
kemampuan yang tinggi. Kemampuan merupakan gabungan penilaian
pengetahuan professional, kemapuan teknologi dan kemampuan antar
pribadi yang dimiliki seseorang. Berarti bahwa perawat anestesi dalam
melakukan kegiatan sebagai seorang proesional harus sesuai dengan ilmu
keperawatan anestesi.
Kode etik perawat anestesi pasal 2c menjelaskan bahwa Perawat
anestesi bertanggung jawab keputusan dan tindakan profesi seseorang dan
mendukung hak hak klien. Artinya dalam setiap tindakan perawat anestesi
harus bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan dan bertujuan
untuk memelihara kesehatan pasien sesuai dengan hak pasien.
Peran pengawasan terhadap pelanggaran kode etik perawat anestesi
sangatlah perlu ditingkatkan untuk menghindari terjadinya pelanggaran-
pelanggaran yang mungkin sering terjadi yang dilakukan oleh setiap
kalangan. Pengawasan biasanya dilakukan oleh lembaga yang berwenang
untuk memeriksa dan memutus sanksi terhadap kasus tersebut seperti
majelis kode etik. Jika ternyata terbukti melanggar kode etik maka perawat
yang bersangkutan akan dikenakan sanksi sebagaimana yang diatur dalam
kode etik perawat anestesi. Karena itu seperti kasus yang ditampilkan maka
juga harus dikenakan sanksi sebagaimana yang diatur dalam kode etik.
Namun, jika kesalahan tersebut ternyata tidak sekedar pelanggaran
kode etik tetapi juga dapat dikategorikan malpraktik maka majelis kode etik
tidak diberikan kewenangan oleh undang-undang untuk memeriksa dan
memutus kasus tersebut. Lembaga yang berwenang memeriksa dan
memutus kasus pelanggaran hukum hanyalah lembaga yudikatif. Dalam hal
ini yaitu lembaga peradilan.
Jika ternyata terbukti melanggar hukum maka perawat yang
bersangkutan dapat dimintakan pertanggungjawabannya baik secara pidana
maupun perdata. Sudah saatnya pihak berwenang mengambil sikap proaktif
dalam menyikapi fenomena maraknya gugatan malpraktik. Dengan
demikian kepastian hukum dan keadilan dapat tercipta bagi masyarakat
umum dan komunitas profesi. Dengan adanya kepastian hukum dan
keadilan pada penyelesaian kasus malpraktik ini maka diharapkan agar
tenaga kesehatan khususnya perawat anestesi tidak lagi menghindar dari
tanggung jawab hukum profesinya.

C. Solusi
Dengan melihat faktor-faktor penyebab dan juga segala macam aspek
serta aspek kode etik atas kasus yang kami ambil dalam hal ini kekeliruan
dalam pemasangan gas anastesi (N2O) yang dipasang pada mesin anastesi,
maka pencegahan terjadinya malpraktek harus dilakukan dengan melakukan
perbaikan sistem, mulai dari pendidikan hingga ke tatalaksana praktek
pertugas kesehatan. Standar pelayanan harus diterbitkan untuk mengatur
hal-hal pokok dalam praktek, sedangkan ketentuan rinci agar diatur dalam
pedoman-pedoman. Keseluruhannya akan memberikan rambu-rambu bagi
praktek tenaga kesehatan.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran