Anda di halaman 1dari 37

Lakon

TUMIRAH
(Sang Mucikari)
Karya Seno Gumira Ajidarma

1 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


Dramatic Personae
TUMIRAH
MINAH
TUMINI
LASTRI
PARA PELACUR
SUKAB
ROMBONGAN PENARI
NINJA-NINJA
PARA PERONDA
ORANG-ORANG
PENGACARA
WARTAWAN
POLISI
HAKIM
JAKSA MAHMUD
INTEL

Keterangan:
Naskah ini diketik ulang dari buku
Mengapa kau culik anak kami? karya Seno Gumira Ajidarma (SGA).
Diterbitkan oleh Galang Press, Yogyakarta (2001).
Hak cipta milik SGA dan Galang Press.

Naskah sandiwara ini boleh dipentaskan tanpa izin penulis dan tanpa royalti, selama tidak
menjual tiket. Royalty buku dan pementasan yang merupakan hak penulis, disalurkan pada
korban kekerasan Negara.

2 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


BABAK I
PANGGUNG ADALAH RUMAH BORDIR DI PINGGIR HUTAN, TERLETAK DI
SEBUAH MEDAN TEMPUR. PASUKAN PEMERINTAH MAUPUN PARA
GERILYAWAN MENJADI LANGGANAN MEREKA. RUMAH-RUMAH BORDIL ITU
HANYA BERPINTU KAIN DAN BERATAP RUMBIA, DINDINGNYA KOMBINASI
GEDEK DAN KAYU. MESKIPUN SEDERHANA, RUMAH-RUMAH BORDIL ITU
ROMANTIS DAN ARTISTIK, MUNGKIN KARENA LAMPUNYA YANG REMANG-
REMANG. SEGALANYA REMANG-REMANG DI RUMAH BORDIL. DI SAMPING
KAMAR-KAMAR, TERDAPAT JUGA RUANG UNTUK MAKAN, MINUM DAN
AJOJING. SAYUP-SAYUP TERDENGAR LAGU DANGDUT DARI RADIO.

MALAM ITU, DI PINTU-PINTU, DI JENDELA, DI BANGKU PANJANG DI LUAR


RUMAH, DI MANA PUN, BETEBARAN PARA PELACUR. DANDANAN MEREKA
MENOR, NAMUN SEMUA BUSANA TERDIRI DARI KAIN DAN KEBAYA ATAU
KUTANG DENGAN RAMBUT TIDAK DISANGGUL, RAMBUT MEREKA TERURAI,
RATA-RATA PANJANG. MEREKA SEMUA EKSOTIK, CANTIK DAN LANGSING. DI
ANTARA MEREKA TERDAPATLAH TUMIRAH; KAIN DAN KEBAYANYA MERAH,
RAMBUTNYA TERURAI. MESKI USIANYA 40 TAHUN, IA TETAP SEORANG
WANITA YANG MEMPUNYAI KELAYAKAN MENJUAL DIRI.

TERDENGAR TEMBAK MENEMBAK DI KEJAUHAN. PARA PELACUR ITU SALING


MEMANDANG, MESKIPUN TAMPAK TIDAK TERLALU TERKEJUT.

TUMIRAH
Mereka mulai lagi. Di mana sih mereka bertempur?

MINAH
Di bukit-bukit sebelah timur, Mbak. Gerilyawan memancing pasukan pemerintah yang
berpatroli di dalam hutan, sampai bukit-bukit itu mereka dikepung.

TUMIRAH
Kemarin mereka bertempur di bukit-bukit sebelah barat, kan?

MINAH
Kemarin itu gerilyawan yang terpancing Mbak, mereka tidak bisa kembali ke hutan dan
dibantai habs disitu.

TUMIRAH
Heran. Senang sekali sih saling tembak begitu? Mending kalau masih anak-anak. Ini sudah
besar-besar, komandannya saja malah sudah beruban. Yang pasukan pemerintah, yang
gerilyawan, sama saja. Menganggap perang adalah sesuatu yang benar, hebat, wajib, tugas
ksatria taik kucinglah. Bertempur terus hamper setiap hari. Katanya zaman semakin maju,
kok manusia tidak tambah pinter; masih terus saling membunuh seperti orang primitive.
Heran. Kodok saja tidak begitu.

TUMINI
Memangnya Mbak Tumirah mau jadi kodok?

3 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


TUMIRAH
Gak mau, nanti digoreng sama kamu

TUMINI
Saya sih mau menggoreng Mbak Tumirah, tapi di tempat tidur.

TUMIRAH
Eh, mau eksperimen kamu? Sudah. Sama laki-laki sajalah.

TUMINI
Ah, laki-laki membosankan. Mau pasukan pemerintah, mau gerilyawan, cepat sekali mereka
keok.

LASTRI
Tapi Mahmud tidak cepat keok. Kadang-kadang begitu lama, sampai waktu pasukan
pemerintah dating, dia baru selesai.

TUMIRAH
Yang sembunyi di kolong tempat tidur itu?

LASTRI
Iya, padahal ada yang begitu masuk langsung naik.

TUMINI
Naik ke tempat tidur?

LASTRI
Iya. Kemana lagi?

TUMINI
Terus?

LASTRI
Ya, begitu.

TUMINI
Begitu bagaimana?

LASTRI
Ya, waktu tentara itu main, Mahmud ada di bawah tempat tidur.

TUMIRAH
Cemburu dong

LASTRI
Hihihi! Katanya hamper saja ia menembak

TUMIRAH
Gawat! Terus, bagaimana Mahmud lolos?

4 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


LASTRI
Ya terpaksa dia menunggu sampai selesai

TUMINI
Dia dengar kamu orgasme dong!

LASTRI
Ah, orgasme pura-pura! Mana bisa orgasme sama pasukan pemerintah! Hanya sama Mahmud
aku bisa orgasme.

TUMIRAH
Ih, omongannya! Orgasme..orgasme, kayak seksolog saja.

TUMINI
Oh, Mbak Tumirah, saya piker kita semua lebih pinter ketimbang seksolog

TUMIRAH
Oh, iya?

TUMINI
Kita bukan Cuma tahu. Kita mengerti. Kita merasakan, mengalami dengan seribu satu laki-
laki.

TUMIRAH
Itu bukan jaminan kalian tahu segalanya tentang seks.

LASTRI
Tapi sedikit-sedikit tahulah Mbak. Jelek-jelek juga pekerja seks. Masa tidak tahu apa-apa
tentang seks?

TUMIRAH
Iyalah, kalian pakar. Aku tidak tahu apa-apa tentang seks!

PARA PELACUR
Huuuuuuuu!

MINAH
Tidak tahu apa-apa tentang seks? Mana ada germo yang masih diburu-buru diajak main
seperti Mbak Tumirah?

TUMIRAH
Hahahaha! Hahahahaha!

(Menghadap penonton)

Yeah, Tumirah namaku. Germo pekerjaanku. Mucikari kata Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Sudah tua aku sebenarnya. Empat puluh tahun. Cukup layak untuk pension. Dan aku memang
sudah pension sejak beberapa tahun lalu. Badanku tidak kuat lagi rasanya. Melayani lelaki
bernafsu sampai empat atau enam kali sehari. Dulu malah sampai delapan-sepuluh kali.
Sekarang tidak kuat lagi aku. Boyokku pegel linu.

5 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


Untung tahu sedikit-sedikit soal pergermoan, tidak ada lagi yang bisa kukerjakan sekarang
selain menjadi germo. Kuajari anak-anakku cara memikat dan mengikat laki-laki sehingga
meskipun sudah punya pacar dan anak istri, akan selalu kembali kemari untuk menghidupi
kami. Yeah, dunia ini selalu membutuhkan pelacur. Profesi yang tertua, kata orang. Aku
bukan ahli sejarah, tapi aku setuju selama manusia lahir dengan alat kelamin, pelacur akan
tetap ada.

MINAH
Mbok Tumirah

TUMIRAH
Ya.

MINAH
Tentara-tentara makin banyak sekarang. Mereka banyak sekali, didtangkan langsung dari
pusat.

TUMIRAH
Dari pusat! Dari pusat! Tentara pusat dating dari daerah!

MINAH
Ah, enggak tahulah. Pokoknya banyak sekali. Pakai Hercules, pakai kapal.

TUMIRAH
Apa mereka mau menumpas gerilyawan ini sampai habis?

TUMINI
Dari dulu juga mau menumpas, nyatanya masih ada saja gerilyawan

LASTRI
Katanyanya sih memang dibiarin begitu, buat latihan perang

TUMIRAH
Sadis amat, matinya kan mati beneran tuh?

LASTRI
Iyalah. Sudah berapa pacarku yang gerilyawan mati.

TUMINI
Tapi gerilyawan itu masih ada saja ya? Tidak mati-mati?

TUMIRAH
Itu soalnya karena rakyat ada di pihak mereka.

SEMENTARA PERCAKAPAN BERLANGSUNG, TEMBAK MENEMBAK


BERLANGSUNG TERUS, TERDENGAR SAYUP-SAYUP DI KEJAUHAN. KADANG-
KADANG MENDEKAT, TAPI SEGERA MENJAUH.

TUMIRAH

6 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


Husss! Kalau perang jangan dekat-dekat sini! Oi! Sana! Bertempur dibukit sana, di hutan!
Kalau istirahat baru di sini!

(Tiba-Tiba Sepi)

Eh, dengar tuh! Kok jadi sepi!?

LASTRI
Perang terus juga bosen Mbak.

TUMIRAH
Heran. Kenapa tidak berhenti saja. Damai saja, salaman. Lantas senang-senang saja semua di
sini.

TUMINI
Wah, kalau damai nanti apa kita akan hidup Mbak?

MINAH
Iya, kalau mereka kembali kepada keluarganya bagaimana kita nanti?

TUMIRAH
Makanya kawin dong! Di antara begitu banyak laki-laki, masa tidak ada yang cinta sama
kalian?

MINAH
Ada sih Mbak, banyak malah. Tapi kita kan harus kawin hanya dengan orang kita cintai?

TUMIRAH
Cinta. Cinta. Apa pelacur itu mengenal cinta?

LASTRI
Memangnya Mbak Tumirah tidak pernah jatuh cinta?

MUSIK ROMANTIS FADE IN. TUMIRAH BERJALAN MENYENDIRI.

TUMIRAH
Apa mungkin? Apa mungkin manusia tidak mengenal cinta? Ini yang selalu membuat aku
tidak mengerti. Seorang penjahat pun punya Ibu, dan apakah mungkin seorang manusia itu
tidak mencintai ibunya sendiri? Aku dulu seorang pelacur. Sekarang kadang-kadang juga
masih melacur kalau masih mau ada yang make, tapi aku juga seorang perempuan. Aku tidak
bisa membayangkan seorang perempuantanpa cinta. Aku dulu pernah punya keluarga, punya
suami, dua kali malah. Punya anak aku tahu apa itu cinta, kangen, rindu, aku tahu.

(Musik romantic. Fade Out)

Sudah bertahun-tahun aku hidup di medan perang ini. Dan aku tahu kalau orang-orang yang
saling bertempur itu sebenarnya juga punya cinta. Aku tidak bisa mengenrti, bagaimana
caranya akal manusia menerima kalau pembunuhan itu boleh. Ini perang, kata mereka kalau
kutanya. Ini perang. Aku tahu. Barangkali aku bodoh, maklumlah aku Cuma lulusan SMP.
Tapi apakah pertanyaanku ini masih bodoh? Apa betul manusia itu begitu pintarnya sehingga

7 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


bisa membenarkan pembunuhan atas nama kehormatan? Apa iya sih perang itu betul-betul
soal kehormatan? Yeah. Perang saja terus sampai mampus.

TUMINI
Mbak Tumirah! Mereka ke sini!

TUMIRAH
Yang mana? Pasukan pemerintah atau gerilyawan?

TUMINI
Bukan dua-duanya

TUMIRAH
Lho, siapa dong?

TUMINI
Rombongan penari!

TUMIRAH
Asyiiiiiikkk.

ROMBONGAN DIDIK NINI THOWOK MASUK. PARA PELACUR MEMBENTUK


LINGKARAN. DIDIK NINI THOWOK BERAKSI DITINGKAH ROMBONGAN
MAUPUN PARA PELACUR, MEMBAWAKAN TARI SAMINTEN EDAN. SETELAH
ATRAKSI SAMINTEN EDAN ITU SELESAI, TERDENGAR MUSIK DANGDUT
HIDUPKU UNTUK CINTA DINYANYIKAN TUMIRAH, DAN SEMUANYA AJOJING,
KETIKA MEREKA AJOJING, SEJUMLAH NINJA DATANG MENYUSUP. MEREKA
IKUT AJOJING DAN PARA PELACUR MELAYANI MESKI AGAK BINGUNG.

SETELAH LAGU BERAKHIR, TIBA-TIBA SEJUMLAH NINJA INI MENGACAU.


NINJA 1 MENEMBAKKAN SENAPAN MESIN KE UDARA. NINJA-NINJA LAIN
SEGERA MENGACAU, MENGOBRAK-ABRIK BANGUNAN BORDIL, MENENDANG,
MELEMPAR DAN MEMBAKARNYA.

NINJA 2
Bakar semua! Bakar!

NINJA 3
Habiskan!

NINJA 4
Ganyang!

NINJA 5
Kerjain!

PARA NINJA ITU MEMPERKOSA PARA PELACUR, ROMBONGAN YANG EMNCOBA


MEMBELA DIHAJAR DAN DITENDANGI, SEBAGIAN DIBUNUH. PARA PELACUR
PUN ADA YANG DIBUNUH KARENA TERLALU SULIT DIPERKOSA. TUMIRAH
MENGGEBUKI PARA NINJA. NAMUN NINJA LAIN MENYERET DAN

8 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


MENGGEBUKINYA PULA. SEMENTARA KERUSUHAN BERLANGSUNG, NINJA
ORATOR BERBICARA DI SEBUAH PODIUM. MUSIK KERUSUHAN BERTALU-
TALU.

NINJA 1
Dengarlah kalian para pendosa! Dengarlah kata-kataku ini! Sudah tiba waktunya bagi kami
untuk mengambil alih kekuasaan! Dan dengarlah bahwa dalam kekuasaan kami segalanya
harus berlangsung secara tertib dan serba terkendali! Kami tidak sudi ada noda hitam dalam
kekuasaan kami yang serba putih, bersih dan murni! Kami tidak menerima perbedaan
pendapat, karena perbedaan itu hanya bikin kacau! Kami menawarkan sebuah dunia yang
seragam, tertib dan teratur, sebuah tawaran yang kami paksakan demi kepentingan ketertiban
dan keamanan Negara! Mau jadi apa bangsa ini kalau Cuma saling gebuk!? Sudahlah!
Serahkan kepada kami! Selama ini kami toh sudah membuktikan pengabdian kami dengan
darah! Dengan darah, saudara-saudara! Bukan dengan bacot apa boleh buat! Kekuasaan harus
berada di tangan kami! Selama ini kami masih stel kendo! Tapi coba lihat! Dengan kerusuhan
seperti ini setiap hari, siapa lagi yang bisa mengatasinya kalau bukan kami? Jangan sok!
Kalian semua belum layak ikut capur dalam pemerintahan! Apa boleh buat! Kalau perlu
kekerasan kami ambil dengan jalan kekerasan!

KERUSUHAN SELESAI. MUSIK KERUSUHAN SELESAI. NINJA-NINJA HILANG.


PANGGUNG GELAP. LAMPU MENYOROT TUMIRAH, YANG MERAYAP DI ANTARA
PUING-PUING RERUNTUHAN. PARA PELACUR TERKAPAR PENUH
PENDERITAAN.

TUMIRAH
Anak-anakku! Di mana kalian anak-anakku?

PELACUR 1
Ibu! Aku di sini! Tolong aku Ibu!

PELACUR 2
Ibu! Ibu! Tolong aku Ibu!

PELACUR 3
Ibu! Sakit sekali Ibu!

PELACUR 4
Aduuuuuh! Sakiiiiit!

PELACUR 5
Ibu! Ibu! Di manakah kamu?

PELACUR 6
Ibu! Tolong! Aku berdarah!

PELACUR 7
Darah! Tolong! Darah!

PELACUR 8
Ibu! Ibu!

9 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


PELACUR 9
Aku berdarah! Aku berdarah!

PELACUR 10
Aku berdarah! Aku berdarah!

PELACUR 11
Aku berdarah! Aku berdarah!

PELACUR 12
Ibu! Aku ingin mati!

TUMIRAH (Berdiri dengan gontai)


Anak-anakku! Ibu di sini, nak. Ibu di sini!

MUSIK SENDU FADE IN. TUMIRAH TERTATIH-TATIH MENGHAMPIRI PARA


PELACUR SATU PERSATU. TANGAN PARA PELACUR ITU MENGGAPAI-GAPAI,
SETIAP KALI TUMIRAH MENDEKAT.

MUSIK FADE OUT

TUMIRAH
Semuanya sudah berlalu. Berlalu! Seperti angina yang berlalu. Para pelacur terindah yang
paling layak dicintai dan paling bersemangat dalam hidup ini telah hancur. Tapi inilah
kehancuran yang dikehendaki. Inilah kehancuran yang bisa dijual. Kemaksiatan terlalu pantas
dikorbankan.

Apalah artinya para pelacur di dunia ini? Mereka boleh di hina dan dihancurkan, boleh
diinjak-injak dan dilecehkan, seolah-olah mereka begitu pantas dan layak diperkosa.
Kekejaman, oh kekejaman. Darimana kata-kata itu dating kalau tidak dari kekejaman itu
sendiri? Apakah karena kami hanya pelacur maka kehormatan kami boleh diinjak-injak?
Apakah karena kami pelacur maka kami tidak boleh memperjuangkan harga diri kami? Tapi
nyatanya kehancuran kami ini dijual.

Menghancurkan kemaksiatan adalah jualan yang paling laris belakangan ini. Hueeeek! Aku
mau muntah memikirkan ulah para politisi. Mereka itulah para pelacur dalam arti yang
sebenarnya. Mending kalau menjuala barangnya sendiri, para politisi itu paling pinter
menjual bukan cuman barang, tapi juga bangkai orang lain! Dasar pemakan bangkai!

MUSIK FADE IN. GANTI BABAK.

10 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


BABAK II
PANGGUNG HANYA KEHITAMAN YANG KELAM. PARA NINJA YANG
BERPAKAIAN HITAM-HITAM DAN BERTUTUP WAJAH HITAM HANYA
KELIHATAN MATA DAN MULUTNYA.

NINJA 1
Baru sekali aku memperkosa pelacur. Heran. Dia melawan seperti anak perawan.

NINJA 2
Namanya juga memperkosa. Mana ada orang yang mau diperkosa?

NINJA 3
Aku sih mau diperkosa.

NINJA 4
Masalahnya siapa yang mau memperkosa kamu ninja burik?

NINJA 3
Kok kamu tahu aku burik?

NINJA 4
Aku tahu, di balik seragam ninjamu itu kepalamu burik, penuh kudis bernanah.

NINJA 2
Kudis bernanah? hueeeek

NINJA 1
Semuanya memang tersembunyi di balik seragam. Mereka semua akan jadi bingung. Siapa
yang melakukan semua ini?

NINJA 2
Tugas kita memang membikin bingung kan?

NINJA 5
Bukan. Tugas kita mengadu domba.

NINJA 6
Orang-orang akan mengira ninja-ninja ini pasukan pemerintah!

NINJA 5
Yes!

NINJA 6
Sedangkan pasukan pemerintah akan mengira pelakunya gerilyawan!

NINJA 5
Bingo!

11 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


NINJA 6
Lantas?

NINJA 5
Semua orang bingung dan baku hantam!

NINJA 4
Wow! Keren!

NINJA 1
Kita adu domba mereka. Kalau situasi sudah begitu kacaunya, kita ambil alih kekuasaan.

NINJA 2
Seperti dulu?

NINJA 1
Ya, seperti dulu. Bukankah dari dulu tugas kita Cuma itu? Kita selalu dikirim untuk
menculik, membunuh atau memperkosa.

NINJA 6
Yeah. Kita adalah regu pemerkosa

NINJA 3
Masih ingat waktu kita memperkosa satu desa?

NINJA 7
Satu desa! Yeah. Kita perkosa satu desa. Kalau mereka tidak mau ngaku di mana suami dan
pacara-pacar mereka berada, kita perkosa mereka.

NINJA 8
Perempuan yang malang. Sudah ditindas suami, diperkosa ninja pula!

NINJA 4
Kita pernah menculik seorang perempuan , menginterogasi dia sambil menyundutinya
dengan rokok, lantas kita setrum dia, setelah lemas kita perkosa bergiliran.

NINJA 1
Perempuan yang malang!

NINJA 2
Perempuan yang malang!

NINJA 3
Perempuan yang malang!

NINJA 4
Kita juga dikirim untuk memperkosa perempuan-perempuan Cina. Kita ajak para
pengangguran untuk ikut memerkosa.

12 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


NINJA 5
Tapi penduduk menyelamatkannya.

NINJA 6
Sialan! Orang-orang malah bersimpati sekarang

NINJA 7
Tapi sebagian lari ke luar negeri!

NINJA 8
Lari bersama modal!

NINJA 9
Ekonomi ambruk. Negara kita dikucilkan!

NINJA 1
Misi kita berhasil!

PARA NINJA MENGANGKAT GELAS

PARA NINJA
Hura! Misi kita berhasil!

NINJA 1
Untuk pemerkosaan.

NINJA 2
Untuk kekejaman.

NINJA 3
Untuk kemenangan.

NINJA 2
Sekarang kita memperkosa pelacur. Kita sudah diberi obat anti penyakit kelamin.

NINJA 3
Tapi HIV belum ada obatnya.

NINJA 4
Pakai kondom dong!

NINJA 5
Memperkosa kok pakai kondom!

NINJA 1
Sudah! Ninja-ninja goblok! Ninja-ninja burik! Ninja-ninja pembunuh dan pemerkosa!
Dengarlah kata-kataku, kata-kata seorang pimpinan. Jangan banyak cakap di luaran, jangan
banyak bacot. Biarkan para analisis politik membual dengan ngawur. Biarkan mereka merasa
diri sok pintar. Biarkan semua orang terkecoh. Ini hanya bisa berhasil jika kita diam. Ninja
punya kebanggaan, tapi bukan kebanggaan yang bisa dicerita-ceritakan. Tidak pernah ada

13 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


seorang pun yang tahu jasa-jasa kita, karena kita tidak mungkin mengaku bahwa kita
menculik, membunuh dan memperkosa. Kita hanyalah alat politik, biarlah, mereka yang
menugaskan kita dengan tanpa perasaan itu menanggung akibatnya.

LAMPU PADAM. NINJA-NINJA MENGHILANG. LAMPU NYALA. TUMIRAH DUDUK


SENDIRIAN DI LEVEL YANG TINGGI. MASUK PENGACARA.

PENGACARA
Mbak Tumirah?

TUMIRAH
Siapa kamu?

PENGACARA
Saya pengacara

TUMIRAH
Apa itu pengacara? Orang yang pakai dasi biasanya politisi yang suka ngobral kata-kata di
televise. Siapapun kamu, lihat, kami tidak buka hari ini.

PENGACARA
Kami tidak dating untuk ngamar Mbak Tumirah. Kami dating karena kami tahu bencana ini.

TUMIRAH
Lho, kok bisa tahu?

PENGACARA
Berita cepat sekali tersebar. Saya dating untuk menawarkan pembelaan. Jika Mbak Tumirah
menuntut, kami akan membantu.

TUMIRAH
Membantu bagaimana?

PENGACARA
Kami akan membuat tuntutan Mbak Tumirah berhasil. Kami akan menyebarluaskan berita
ini. Kami akan berusaha menarik simpati orang banyak. Kami akan datangkan wartawan,
kami akan mengangkat masalah ini ke permukaan.

TUMIRAH
Wahai pengacara, dengarlah, kami sedang berduka di sini. Tolong jangan jual kami,
tinggalkan kami. Kami bukan tokoh oposisi, bukan pula selebriti. Enyahlah. Pergilah. Cari
bangkai-bangkai yang lain.

PENGACARA
Saya dating hanya untuk membantu.

TUMIRAH
Terima kasih. Pergilah.

PENGACARA PERGI. MASUK WARTAWAN

14 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


TUMIRAH
Siapa kamu? Pengacara juga?

WARTAWAN
Bukan. Saya wartawan.

TUMIRAH
Oh, wartawan! Tukang bikin panas keadaan. Berpesta di atas kenyataan yang mengilukan.
Kamu mau ngamar atau mau cari berita?

WARTAWAN
Saya sudah tahu beritanya, saya Cuma mau minta konfirmasi.

TUMIRAH
Konfirmasi apa?

WARTAWAN
Bahwa para pelacur diperkosa ninja

TUMIRAH
Para pelacur diperkosa ninja Wah. Berita bagus ya?

WARTAWAN
Bagus sekali Mbak Tumirah. Sensasional. Biarkan saya tulis berita itu. Akan saya bikin
sedramatis mungkin. Seolah-olah pembaca melihat sendiri kejadiannya. Pasti pembaca
menyukainya. Nanti foto mbak Tumirah saya pasang besar sekali. Malah ada wawancara
khusu dengan mbak Tumirah. Pengakuan Seorang Germo. Berceritalah Mbak Tumirah apa
adanya. Sekarang tidak ada sensor lagi. Tidak ada pembredelan. Kita bisa menulis tanpa takut
lagi.

TUMIRAH
Pergi kamu wartawan! Pergi! Jangan bikin aku risi! Tidak tahu malu!

WARTAWAN PERGI. MASUK POLISI

TUMIRAH
Nah! Baru dating polisi sekarang! Kalau ada kerusuhan, mereka pergi! Kerusuhan selesai
mereka dating! Apa maunya pak Polisi ini? Mau ngamar atau interogasi?

POLISI
Saya dating Cuma mau minta keterangan, Mbak Tumirah.

TUMIRAH
Bukannya mau mengamankan saya?

POLISI
Tidak, Mbak Tumirah. Saya Cuma mau Tanya-tanya.

TUMIRAH

15 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


Mau Tanya-tanya atau menuduh?

POLISI
Mabk Tumirah, pertanyaan seperti itu bisa dianggap tuduhan lho!

TUMIRAH
Sama kan kayak polisi? Katanya bertanya padahal menuduh!

POLISI
Maaf mbak Tumirah, saya hanya menjalankan tugas.

TUMIRAH
Nah, itu ilmu maling satu lagi. Ilmu menghindardari tanggung jawab. Saya Cuma disuruh
memukul. Saya cuma disuruh menculik, lantas menginterogasinya, sambil menempeleng.
Saya cuma disuruh menteror. Akhirnya saya memang disuruh menembak mahasiswa dari atas
gedung. Itu semua Cuma tugas, jadi bukan tanggung jawab. Bagaimana?

POLISI
Begitulah Mbak Tumirah, saya Cuma menjalankan tugas.

TUMIRAH
Nah, kan?

POLISI
Saya ahrus mendapatkan keterangan dari Mbak Tumirah.

TUMIRAH
Keterangan siapa?

POLISI
Siapa sebenarnya yang membakar tempat ini?

TUMIRAH
Wah, mana saya tahu? Mereka bertopeng semua. Para pengecut memang begitu, bukan?
Tidak pernah ebrani berterus terang. Lagipula, kau yang harus tahu siapa sebenarnya yang
membakar tempat ini kan polisi? Kok Tanya saya?

POLISI
Makanya saya melakukan penyelidikan Mbak. Mbak Tumirah kan melihat mereka

TUMIRAH
Semua juga melihat mereka, tapi kalau mereka bertopeng bagaimana? Namanya juga ninja.

POLISI (Mengeluarkan catatan)


Jadi, jam berapa ninja-ninja itu datang?

TUMIRAH
Eh, langsung main Tanya! Saya tidak mau jawab! Minggat kamu! Tidak mau tahu orang abru
susah! Minggat! Minggat! Minggaaaaat!

16 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


POLISI PERGI. LAMPU MEREDUP. TUMIRAH SENDIRIAN DI PANGGUNG DALAM
NYALA LAMPU. PARA PELACUR DATANG. MELANGKAH PERLAHAN-LAHAN
TANPA DAYA. ADA YANG MERANGKAK, ADA YANG MERAYAP. TERJATUH-
JATUH.

TUMINI
Mbak Tumirah, apa yang harus kukatakan kepada diriku? Aku merasa tidak punya badan,
tubuh seperti tidak menginjak bumi, pikiran melayang-layang.

MINAH
Siapa orang-orang itu, Mbak? Apa salah kita pada mereka?

LASTRI
Kenapa mereka berbuat seperti itu, Mbak, kenapa?

MUSIK FADE IN. PARA PELACUR MEMATUNG.

TUMIRAH
Apa yang harus kukatakan pada anak-anakku? Apa yang harus kukatakan pada siapapun di
muka bumi ini? Apa yang bisa diucapkan oleh seorang wanita korban pemerkosaan? Mereka
memang punya mulut, tapi apakah bahasa akan pernah cukup mewakili? Kalau sudah begini,
siapa yang akan peduli kepada kami?

TUMIRAH MENYANYI

Rembulan di kolam
Tertutup awan
Malam makin kelam
Pelacur jalanan

Siapa tertikam
Sembilu peradaban
Siapa dirajam
Belati kekuasaan

Malam jahanam
Hidup yang kejam
Hati perempuan
Hancur dan rawan

Rembulan tenggelam
Ke balik malam
Tinggal kenyataan
Dunia berantakan

SETELAH LAGU SELESAI, PARA PELACUR MENGHILANG. MUNCUL SUKAB.

TUMIRAH
Sukab!

17 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


SUKAB
Tumirah!

MEREKA BERPELUKAN. SETELAH LEPAS, MEREKA SALING MENJAGA JARAK

SUKAB
Kamu makin cantik saja Tumirah. Makin montok.

TUMIRAH
Sudahlah Sukab! Setiap kali ketemu pasti merayu. Padahal tidak dirayu saja aku pasti mau.
Ke mana saja kamu selama ini Sukab? Kau lihat, kami sduah habis sekarang.

SUKAB MENDEKATI TUMIRAH, MEMEGANG BAHUNYA.

SUKAB
Jangan pernah kehilangan harapan Tumirah. Jangan pernah.

TUMIRAH
Kamu tidak tahu Sukab. Kamu tidak mengerti. Yang dihancurkan ini adalah harapan kami.
Bagaimana mungkin kami berharap lagi?

SUKAB
Aku tahu. Sudah bertahun-tahun kita berharap. Tapi harapan kita itulah yang sudah
dihancurkan.

TUMIRAH
Sekarang kamu mengerti.

SUKAB
Kenapa aku tidak harus mengerti? Segalanya jelas. Terang seperti siang. Setiap orang sedang
saling menghancurkan.

TUMIRAH
Aku tidak mau ikut-ikutan.

SUKAB
Tapi ikut dihancurkan juga.

TUMIRAH
Itulah masalahnya Sukab. Apa yang harus aku lakukan? Aku Cuma seorang germo. Siapa
yang mau membela pelacur dan germo di dunia ini Sukab? Dengan pelacur, orang Cuma mau
tidur.

SUKAB
Jangan begitu. Ini aku dari jauh langsung datang

TUMIRAH
Tapi bisa apa kamu Sukab? Kamu Cuma tukang jual obat.

SUKAB

18 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


Kalau begitu, sudahlah. Aku pergi saja.

TUMIRAH
Sukab! Jangan marah dong!

SUKAB
Tidak. Aku tidak marah. Kamu benar. Bisa apa aku? Aku Cuma tukang jual obat

TUMIRAH
Sukab

SUKAB
Ya?

TUMIRAH
Sini!

SUKAB MENDEKAT

TUMIRAH
Kamu punya obat pegel linu?

SUKAB
Oh, itu?

SUKAB SEGERA DUDUK DI BELAKANG TUMIRAH, MEMIJITI PUNGGUNGNYA.

TUMIRAH
Maafkan kata-kataku Sukab. Maafkan aku

SUKAB
Yaaaah, kamu tidak minta maaf pun, aku sudah maafkan.

TUMIRAH BERBALIK, SUKAB MERANGKULNYA.

TUMIRAH
Sukab!

SUKAB
Tumirah!

PANGGUNG MEREDUP. LAMPU HANYA MENYOROT MEREKA BERDUA. TIBA-


TIBA MASUK NINJA-NINJA. MEREKA MENYAMBAR SUKAB DAN MEMBAWANYA
PERGI.

TUMIRAH
Sukab! Tolong! Pacar saya diculik! Tolong! Tolong!

PANGGUNG GELAP. MUSIK FADE IN-FADE OUT. PANGGUNG TERANG.

19 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


BABAK III
PANGGUNG ADALAH JALANAN DI MALAM SEPI. TERDENGAR KENTONGAN
PERONDA DI KEJAUHAN. SESOSOK NINJA TAMPAK TERKAPAR TAK BERDAYA.
IA BERGERAK-GERAK DENGAN LEMAH SEKALI. TIGA PERONDA MASUK.

PERONDA I
Sssstt!

PERONDA 2
Awas!

PERONDA 3
Ninja!

NINJA ITU BERGERAK SEPERTI TRENGGILING. SELALU BERGERAK, BERKUTAT


KE SANA KE MARI, TAPI TIDAK PERNAH BISA BERDIRI SEPERTI MANUSIA. TIGA
PERONDA MENGELILINGINYA BERPUTAR-PUTAR, TAPI TIDAK BERANI
MENGAMBIL TINDAKAN.

PERONDA 1
Ninja kok kayak trenggiling!?

PERONDA 2
Jelas orang begitu kok!

PERONDA 3
Awas! Jangan-jangan ini jebakan.

PERONDA 1 (Siap menggebuk)


Kita gebuk saja!

PERONDA 2 (Mencegah)
Periksa dulu! Jangan main embat begitu!

PERONDA 3
Ya, periksa dulu! He! Kamu siapa?

NINJA ITU CUMA MENGERANG LANTAS EBRGULING-GULING LAGI.

PERONDA 1
Wah, benar-benar trenggiling ini!

PERONDA 2
Kamu siapa? Darimana asalmu? Kenapa bisa sampai di sini? Jawab! Sekarang keadaan
sedang gawat. Kami selalu memeriksa orang-orang asing, belakangan ini banyak terjadi
pembunuhan. Kami tidak tahu siapa yang membunuh, tapi mereka berpakaian hitam-hitam

20 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


seperti kamu. Pandai melompat tembok, pandai lari di atas genteng dan mudah meloloskan
diri dari kepungan. Persis seperti ninja. Apakah kamu ninja?

PERONDA 3
Embat saja! Mana mungkin maling mengaku maling. Apalagi mengaku membunuh.

PERONDA 1
He! Jawab! Kamu ini ninja atau tinja!

PERONDA 2
Huss! Ninja kok tinja?

PERONDA 1
Sama saja! Perbuatan mereka Cuma sekelas tinja! Perbuatan taik! He! Siapa dalangmu!

PERONDA 2
Sudah! Bawa saja k epos hansip.

PERONDA 3
Ah, sudah, kerjain di sini saja. Sekali-sekali aku juga pengin tahu rasanya menggarap orang.
He, buka topeng kamu!

PERONDA 2
Jangan main hakim sendiri. Bawa saja ke pos hansip!

PERONDA 1
Ayo! Kita ringkus dia!

TIGA PERONDA BERUSAHA MERINGKUS, TAPI RUPANYA SUSAH JUGA. SOSOK


NINJA ITU BERGULING KE SANA KE MARI. TIBA-TIBA.SESEORANG MASUK
MELEMPARKAN JARING. ORANG-ORANG MENDADAK MASUK PANGGUNG
DARI MANA-MANA. SEMUANYA MEMBAWA PENTUNGAN, BEBERAPA ORANG
MENGENAKAN IKAT KEPALA. SOSOK NINJA ITU TERJERAT, LANTAS JARING ITU
DIKEREK KE ATAS, MAKA TERGANTUNGLAH SOSOK NINJA ITU, BERGOYANG-
GOYANG.

ORANG-ORANG
Tertangkap dia sekarang

ORANG-ORANG
Pembunuh!

ORANG-ORANG
Pemerkosa!

ORANG-ORANG
Pengadu domba!

ORANG-ORANG
Tukang fitnah!

21 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


SESEORANG
Ayo, kita adili sekarang!

SESEORANG
Iya! Kita adili sekarang! Kita bentuk pengadilan rakyat

SESEORANG
Aku jadi hakim!

SESEORANG
Aku jadi jaksa!

SESEORANG
Aku jadi pembela

SESEORANG
Tidak perlu pembela! Taik kucing dengan pembela! Mereka saja main hakim sendiri.

SESEORANG
Lho, ini kan Negara hukum?

SESEORANG
Iya! Hukum rimba!

MEREKA MEMBENTUK KOMPOSISI PERSIDANGAN. HAKIM DAN JAKSA DI ATAS


LEVEL, BESEBRANGAN. ORANG-ORANG BAGAIKAN PENGUNJUNG
PENGADILAN, BERBARIS TERTIB. DI ANTARA ORANG-ORANG INI NAMPAK
PULA PARA PELACUR YANG BERWAJAH SAYU. PENAMPILAN MEREKA
BAGAIKAN BUNGA YANG LAYU. SOSOK NINJA MASIH TERGANTUNG-
GANTUNG DI DALAM JARING, BERUSAHA BERGERAK-GERAK DENGAN SUARA
TIDAK JELAS.

JAKSA
Saudara-saudara yang terhormat. Inilah pengadilan rakyat. Malam ini kita mengadili ninja
dalam jarring itu. Mahluk terkutuk yang telah mengacaukan kedamaian seenak perutnya.
Mahluk pengadu domba. Alat politik pencipta keresahan.

HAKIM
Jadi, dia Cuma alat?

JAKSA
Biar Cuma alat, harus dihukum juga. Mana biangnya kagak ketahuan lagi. (Ganti nada)
Saudara-saudara terhormat, ingatlah baik-baik, apa saja yang telah dilakukan ninja sialan ini
dalam sejarah negeri kita. Ia menjadi penembak misterius, menembaki preman-preman tanpa
pengadilan. Ia menjadi teroris, menculik orang-orang dari rumahnya sendiri, mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang bukan-bukan sambil menyundut rokok, ujung-ujungnya ia
memperkosa. Setiap kali ia menempeleng, ia kentut.

HAKIM

22 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


Huss! Masa kentut!?

JAKSA
Ya boleh saja kan? Ninja kan manusia juga, meski tidak punya perasaan. Masih banyak lagi
dosa ninja-ninja sebangsa dia. Interogasi sambil nyetrum, mengiris telinga orang, dan
menyuruh orang tidur di balok es. Ninja-ninja macam beginian yang menyuruh orang
mengakui hal-hal yang tak dilakukannya secara paksa. Teroris! Fasis!

HAKIM
Kita hukum dia?

JAKSA
Lho, hakim kok Tanya jaksa? Hakim memutuskan

HAKIM
Namanya juga hakim pura-pura! Jadi jaksa menuntut hukuman apa?

JAKSA
Hukuman picis!

HAKIM
Apa itu

JAKSA
Hukuman picis! Setiap orang boleh menyilet kulitnya, lantas membubuhinya dengan garam
atau jeruk nipis!

HAKIM
Setiap orang?

JAKSA
Ya, setiap orang di sini. Biarlah mereka melampiaskan dendamnya. Di banding kesalahan-
kesalahannya, hukuman itu belum apa-apa.

HAKIM
Kok seperti hukuman zaman mataram?

JAKSA
Lho, emangnya kita tidak hidup di zaman Mataram?

HAKIM
Jadi, pak jaksa sudah mantep, nih?

JAKSA
Ya, manteplah! Saya juga Cuma pura-pura ini.

HAKIM
Apa terdakwa tidak perlu ditanya?

JAKSA

23 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


Tanya saja. Bisa jawab nggak dia?

HAKIM
Terdakwa! Apakah setuju dengan keputusan gue!?

JAKSA
Lho, diputuskan saja belum.

HAKIM
Oh, iya ya sudahlah. Nggak usah Tanya-tanya terdakwa. Kalau terlalu adil malah nggak
seru nantinya.

MUSIK MENGGELEGAR FADE IN

HAKIM
Saudara-saudara yang terhormat! Dengan restu saudara-saudara sekalian, saya sebagai hakim
pengadilan rakyat ini memutuskan; ninja sialan pengganggu keamanan di dihukum picis!
Seret dia keluar kota. Ikat ke tiang. Setiap orang harus menyiletnya lantas membubuhi garam.

HAKIM MENGGEBRAKKAN PENTUNGAN SEBAGAI PENGGANTI PALU. ORANG-


ORANG MERANGSEK KE ARAH JARING. MENGGEBUKINYA. JARING ITU
KEMUDIAN DITURUNKAN. LAYAR PUTIH TURUN. JARING BERISI SOSOK NINJA
ITU DISERET KE BALIK LAYAR. SUASANANYA SEPERTI PENYALIBAN, MUSIK
MENYARANKAN SEBUAH PENGORBANAN SUCI. ADEGAN HUKUM PICIS
BERLANGSUNG DALAM SILUET. SOSOK NINJA ITU DIIKAT PADA SEBUAH
TIANG. ORANG-ORANG ANTRI SEPERTI TAK HABIS-HABISNYA MELAKUKAN
HUKUMAN PICIS. SETIAP KALI DISILET SOSOK NINJA ITU MEREGANG-
REGANG. CARA ORANG-ORANG MENYILET ITU KADANG-KADANG ATRAKTIF.
ADA YANG PAKAI ANCANG-ANCANG SEGALA. MUSIK MEMBERI AKSENTUASI.
TAPI KEMUDIAN MENJADI RUTIN. ORANG-ORANG ANTRI MENYILET SEPERTI
ANTRI BERAS. SOSOK NINJA PUN KELIHATAN MAKIN LAMA MAKIN LEMASH.
MUSIK SANGAT SUNYI. KETIKA ORANG-ORANG PERGI LAYAR PUTIH
TERANGKAT. SOSOK NINJA ITU MASIH DALAM SERAGAMNYA, TAPI YANG
SUDAH HANCUR SERBA KIWIR-KIWIR. HANYA WAJAHNYA YANG MASIH
TERTUTUP. TUMIRAH MASUK.

TUMIRAH
Anak manusia yang malang, siapakah kamu? Darimana asalmu? Kemana tujuanmu? Cahaya
langit telah melahirkan kamu, lantas kamu dapat nama, tapi tak seorang pun kini yang tahu
siapa namamu. Orang-orang tidak perlu nama untuk balas dendam, kekerasan tidak pernah
punya nama. Untuk apa? Kekerasan selalu hadir demi keangkuhannya sendiri. Kekerasan
tidak pernah rendah hati. Orang muda yang malang, siapakah kamu? Siapa bapakmu? Siapa
ibumu? Sudah kawin apa belum? Oalahapa yang membuat manusia harus menerima
kemalangan seperti ini? Orang-orang itu tidak kenal sama kamu. Tapi banyak orang sekarang
yang takut kepada banyak orang. Padahal banyak orang itu siapa juga kagak jelas. Tiba-tiba
saja mereka merajam kamu. O, anak yang malang siapa kamu? Di zaman susah seperti ini,
kita tidak bisa tahu sama sekali kenapa kepala kita dipenggal. Belum berpikir sudah dibacok.
Aduuuhnegeri apa ini? Orang-orangnya ramah. Ya ramah sekali. Bisa mengalungkan
celurit sambil tersenyum.

24 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


(Sosok ninja itu bergerak dalam sekaratnya. Tumirah mendekat.)

Aduh, kamu masih hidup ya? Mungkin lebih baik kamu mati saja. Kalau tahu kamu masih
hidup, mereka pasti akan merajam kamu lagi. Aduh, anak orang, bagaimana caranya anak
seorang ibu harus mengalami nasib seperti ini? Anak-anakku juga bernasib terajam-rajam
seperti ini.

(Pelacur-pelacur masuk dari segala arah, mereka seperti mayat hidup. Berjalan dengan
pandangan kosong)

Apakah yang bisa lebih kejam bagi seorang perempuan selain dari derita perkosaan? Biarpun
mereka pelacur, mereka punya hati. Mereka menjual tubuh, tapi tidak menjual cinta. Bahkan
seorang pelacur pun tidak berhak diperkosa! Ada yang diperkosa, ada yang dirajam, ada yang
dipenggal kepalanya. Hidup macam apa ini!

(Sosok ninja bergerak lagi)

Ah, betul dia masih hidup. Anak-anakku, ayo kita tolong dia. Kasihan.

(Tumirah beranjak akan melepaskan tali ikatan . Tapi tak ada seorangpun yang bergerak.)

Ayo! Kok diam saja!

MINAH (Menunjuk)
Dia salah satu dari mereka

TUMIRAH
Oh, kalian dendam ya? begitu? Pelihara saja dendam itu sampai mampus.

TUMINI
Apakah kami tidak berhak mendendam?

TUMIRAH
O, tentu saja kalian berhak. Kalian yang mengalami pemerkosaan itu.

LASTRI
Jadi kenapa kami harus menolong bajingan itu?

TUMIRAH
Kasihan sekali kalian ini! Dua kali kasihan!

TUMIRAH BERGERAK SENDIRI, MELEPASKAN TALI DAN MEMAPAH TUBUH


DENGAN SUSAH PAYAH

TUMINI
Katakana pada kami Mbak Tumirah, kenapa kami harus mau menolong bajingan itu?

TUMIRAH
Untuk apa? Toh kamu tidak membantu apa-apa

25 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


MINAH
Kami akan membantu, tapi kami harus tahu kenapa

TUMIRAH MASIH MENYERET-NYERET SOSOK NINJA

TUMIRAH
Piker sendiri! Tak ada gunanya kukasih tahu juga

LASTRI
Mbak Tumirah, kami ini Cuma pelacur. Cuma lulusan SD. Mana kami tahu jawabnya kenapa.
Kami hanya tahu, hutang darah harus dibayar darah.

TUMIRAH
Apa kalian mau membalas dengan cara memperkosa ninja-ninja? Enak benar mereka!

TUMINI
Aduh, Mbak Tumirah, saya bingung, saya tidak bisa berpikir!

TUMIRAH
Tugas pelacur memang bukan untuk berpikir. Tapi para pemikir kerjanya Cuma melacur.
Mereka Cuma sibuk melacurkan pikiran-ikirannya. Bantu aku dulu, nanti aku kasih tahu.

PARA PELACUR MEMBANTU TUMIRAH. SOSOK NINJA DISERET KE SATU


TEMPAT. DIRAWAT. TUMIRAH NAIK KE LEVEL YANG TINGGI, MENGAWASI
KERJA ANAK BUAHNYA SAMBIL MEROKOK.

TUMIRAH
Kasih air. Lap yang bersih. Coba-coba buka selubung wajahnya.

LASTRI
Mbak, tolong dong, sebelum kami terpaksa harus melihat wajah pemerkosa kami, beritahu
kami, mengapa kami harus menolongnya?

TUMIRAH
Dasar pelacur goblok. Karena kita ini manusia, tahu! Karena kita manusia! Mau ditindas
sampai gepeng, mau diperkosa sampai dobol, mau dirajam sampai hancur, hanya satu hal kita
tidak boleh hilang, yaitu kemanusiaan kita, ngerti!? Kalau kita mau menindas juga, kalau kita
mau memperkosa dan merajam siapapun yang lewat kampong kita, itu hanya menjadikan kita
sama saja dengan para bajingan itu, ngerti nggak? Meski aku ini Cuma germo lulusan SMP,
jelek-jelek begini aku mengerti menjaga hati. Kita ini perempuan, jangan pernah kita
kehilangan keperempuanan kita. Kita punya cara sendiri untuk melawan. Jangan mau didikte
untuk menjadi mahluk seperti mereka. Melawan kekerasan dengan kekerasan Cuma cara
orang bego. Itu bukan cara manusia, itu cara monyet! Buruan, buka dulu topengnya!

PELAN-PELAN PARA PELACUR MEMBUKA SELUBUNG KEPALANYA.

TUMINI
Wah, sampai lengket dengan kulitnya

26 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


MINAH
Mbak, dia sudah mau mati

LASTRI
Sepertinya sudah mati malah!

SELUBUNG ITU TERBUKA. PARA PELACUR TERKEJUT . MEREKA MUNDUR.


TUMIRAH TURUN DARI LEVEL YANG TINGGI. SETELAH DEKAT, IA PUN
MUNDUR, MEMBALIKKAN TUBUH, MENENGOK LAGI. LANTAS MENDEKAT
LAGI. IA JATUH PADA LUTUTNYA DI DEPAN MAYAT SOSOK NINJA ITU. LANTAS
BERTERIAK SAMBIL MEMELUKNYA.

TUMIRAH
Sukaaaaab!

PARA PELACUR MENDEKAT. TUMIRAH MENANGISI MAYAT SUKAB.


TANGISANNYA SEPERTI RINTIHAN. PARA PELACUR MEMATUNG DI DEKAT
TUMIRAH. PARA NINJA MASUK DAN MENYEBAR.

NINJA 1
Lagi-lagi sukses!

NINJA 2
Mereka merajam habis temannya sendiri! Hahahahaaa!

NINJA 3
Dasar masayrakat bodoh! Mau sok jadi pahlawan! Diberi isyu santet, ditelan! Diumpani
orang ebrseragam ninja, langsung dihukum mati! Hahahaha! Kasihan o kasihan! Masyarakat
bego yang tidak patut dikasihani! Hahahaha! Mampus! Hahahahaa!

NINJA 4
Prestasi pendidikan nasional!

NINJA 5
Prestasi penataran!

NINJA 6
Prestasi pembangunan!

NINJA 7
Untuk melahirkan masyarakat bego!

NINJA-NINJA
Hahahahaaa!

NINJA 1
Jadi, saudara-saudaraku, sudah kita jalankan tugas pemimpin dengan baik. Semua kekacauan
ini secara politis baik untuk kedudukan kita. Kita masih akan terus melakukan terror,
menciptakan keresahan, memata-matai, menyadap pembicaraan telepon, menculik,
memfitnah dan mengadu domba. Semua itu penting untuk posisi kita. Biarkan semua orang

27 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


saling curiga dan saling menggasak. Biarkan pasukan pemerintah dan para gerilyawan
bertempur terus sepanjang abad. Kita membutuhkan keresahan ini, kita memang
menghendaki kekacauan ini, karena kita benci perdamaian. Masyarakat yang damai adalah
masyarakat yang mengerikan! Kita harus tetap selamat dalam kerusuhan, di dalam
masyarakat yang cerdas dan damai, tidak ada tempat untuk kita. Di dalam masyarakat yang
cerdas dan damai, kita Cuma akan jadi kerbau, gentong nasi, badak, paling bantar jadi
centeng pasar. Di dalam masyarakat yang rusuh kita adalah para pendekar. Kita harus selalu
menciptakan kerusuhan demi keberadaan kita. Ayo saudara-saudara, mari kita bersulang!

NINJA 2
Demi kerusuhan!

NINJA 3
Demi kekacauan!

NINJA 4
Demi kekerasan!

NINJA 1
Saudara-saudara! Ayo! Kita mainkan pedang kita!

MUSIK FADE IN KOREOGRAFI NINJA, SAMPAI NINJA-NINJA ITU KELUAR


PANGGUNG. MUSIK FADE OUT. TUMIRAH DAN PARA PELACUR MASIH DI SANA.
TUMIRAH MEMBELAI-BELAI SUAKB SAMBIL MENEMBANG SEBUAH TEMBANG
JAWA YANG PILU SEKALI. SETELAH SELESAI IA MASIH MERATAP.

TUMIRAH
Sukab, o Sukab! Baru kenal sebentar, kamu kok sudah mati. Tidak mudah punya sahabat di
dunia yang serba culas ini Sukab. Akhir hidup kamu, kok bisa jadi seperti ini Sukab. Jadi
bulan-bulanan permainan, jadi korban. Sukab...sukab, kasihan sekali kamu Sukab. Aku tidak
tahu apa maunya orang-orang itu. Diam saja seperti orang-orang tertindas, mau melawan,
malah masuk perangkap. Oalaaah Sukab, Sukab, apa yang membenarkan hadirnya kelicikan,
apa yang membenarkan pengorbanan kehidupan. Kita semua tidak tahu apa-apa. Kita Cuma
mau tenteram, tenang-tenang menjalankan pekerjaan kita. Itu pun sudah dimaki banyak
orang. Sukab, Sukab, kamu orang baik Sukab, malang benar nasib kamu.

TUMINI
Mbak, sudah Mbak

LASTRI
Kita kubur saja baik-baik

TUMIRAH
Sembarangan saja main kubur. Kasih tahu dong istrinya, keluarganya, supaya tidak jadi orang
hilang tak tentu rimbanya.

MINAH
O, punya keluarga toh mas Sukab ini, saya kira telat kawin. Lha wong seringkali lontang-
lantung sendirian.

28 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


TUMIRAH
Sudahlah, setiap orang kan punya masalahnya sendiri. Bilang sama istrinya.

TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA TEMBAKAN. PERTEMPURAN BERLANGSUNG DI


KEJAUHAN. PANGGUNG GELAP. TINGGAL CAHAYA-CAHAYA PERTEMPURAN.
KETIKA LAMPU TERANG. RUMAH BORDIL SUDAH BERDIRI KEMBALI. MASIH
TERDENGAR SUARA-SUARA PERTEMPURAN. PARA PELACUR MEJENG; ADA
YANG MEROKOK, MENYISIR RAMBUT ATAU SALING MENCARI KUTU.

TUMIRAH
Coba dengar, mereka mulai lagi. Berapapun pasukan pemerintah didatangkan, para
gerilyawan tidak mati-mati. Setelah bertempur 20 tahun lebih, anak-anak mulai
mengggantikan bapaknya. Anak-anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan di dalam hutan.
Anak-anak yang emrangkak di antara mayat-mayat saat terjadi pemboman bertubi-tubi.
Anak-anak yang menonton rudal sebagai kembang api. Bagaimana mengalahkan generasi
seperti itu?

Mereka mengira kehidupan adalah peperangan. Sejak pendaratan kapal-kapal 20 tahun yang
lalu, kehidupan sudah berubah di sini. Hidup hanyalah terror, terror dan terror tapi
bagaimana sih caranya mengalahkan suatu bangsa? Balatentara bisa disiasati, tapi bagaimana
dengan bangsa? Apakah kita harus menembak bayi-bayi dalam perut ibunya? Eh, yang
beginian pun dilakukan juga. Kandungan disobek bayonet dan bayinya diambil. Heran. Kok
bisa-bisanya lahir manusia sekejam itu. Tapi kita tidak boleh menyerah. Betapapun kita harus
tetap hidup. Betapapun.betapapun..

PANGGUNG GELAP. PANGGUNG TERANG. MUSIK ROMANTIS GITAR AKUSTIK


FADE IN. DI PANGGUNG NAMPAK REMBULAN. DARI KIRI MUNCUL MAHMUD
DAN DARI KANAN MUNCUL LASTRI. SAYUP-SAYUP TERDENGAR SUARA
PERTEMPURAN. RENTETAN TEMBAKAN, LENGKAP DENGAN JERITAN ORANG-
ORANG TERTEMBAK.

MAHMUD
Engkau dating juga Lastri

LASTRI
Aku justru khawatir kamu tidak akan dating Mahmud. Pertempuran masih terus berlangsung

MAHMUD
Pertempuran tidak akan pernah berhenti Lastri

LASTRI
Ya, sudah dua puluh tahun kalian bertempur. Seperti tidak ada habisnya

MAHMUD
Kalau kelak pertempuran ini selesai, masih ada yang harus kami perangi Lastri

LASTRI
Siapa lagi? Apakah akan ada musuh lain dating menyerbu?

MAHMUD

29 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


Bukan musuh Lastri, melainkan diri kami sendiri

LASTRI
Oh, itu maksudmu?

MAHMUD
Ya, itu maksudku. Iblis tidak pernah mati

LASTRI
Aku termasuk iblis bukan!?

MAHMUD
Oh, pasti bukan, kamu bidadari

LASTRI
Hahahaha! Pelacur kok dibilang bidadari!

MAHMUD
Aku tidak pernah melihat kamu sebagai seorang pelacur Lastri. Aku melihat kamu sebagai
bidadari. Perempuan yang selalu kurindukan dan kucintai.

LASTRI
Mahmud, apa kau bisa mencintai seorang pelacur?

MAHMUD
Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan dengan pelacur itu Lastri. Aku hanya tahu kalau aku
mencintai kamu.

LASTRI
Meskipun aku tidur dengan banyak lelaki?

MAHMUD
Yah, aku cemburu juga sih. Tapi bukankah cemburu itu juga perlu?

LASTRI
Kamu tidak keberatan aku jadi seorang pelacur?

MAHMUD
Kamu adalah seorang pelacur, dan aku mencintaimu. Apalagi yang harus kukatakan?

LASTRI
Kamu ngomong gitu bukan karena kesepian kan?

MAHMUD
Yah, orang yang bertempur setiap hari seperti aku pun mengenal cinta, Lastri. Jangan
menyama ratakan semua orang. Kamu ingin bukti apa lagi dariku Lastri. Terakhir kali
bertemu pun, aku bahkan sudah melamarmu jadi istriku. Kawinlah denganku Lastri.

LASTRI
Kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu?

30 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


MAHMUD
Kamu mau aku mengiris telingaku?

LASTRI
Jangan. Aku suka menciumi telinga kamu

MAHMUD
Kalau begitu, ayo kita kawin sekarang!

LASTRI
Kamu tahu kami semua baru diperkosa?

MAHMUD
Ya

LASTRI
Sudah pelacur, pernah diperkosa pula. Kamu masih mau mengawini aku?

MAHMUD
Astaga! Lastri! Sudah berapa tahun kita pacaran? Masa sampai sekarang kamu belum kenal
aku juga? Meskipun aku ini tidak sekolah dan hidupku hanya berisi pertempuran, aku bukan
jenis orang yang tolol yang menganggap keperawanan itu penting, dan mengukur kesucian
seseorang hanya dari tubuhnya. Apalah artinya jadi pelacur, apalah artinya perkosaan, kalau
aku mencintai kamu dan kamu mencintai aku.

Aku tahu kita semua menderita atas penghinaan itu, tapi kita sudah pasti tidak menjadi betul-
betul hina karena sebuah penghinaan. Orang yang paling hina adalah orang yang menghina.
Hal ini jelas. Orang yang dihina selalu lebih mulia dari orang yang menghinanya. Ini juga
jelas. Anak kecil saja tahu. Janganlah terlalu meragukan aku Lastri. Jangan terseret semua
kebodohan itu. Jangan terjebak perangkap kehormatan yang tolol. Ini memang sebuah luka,
tapi kita tidak perlu hancur karenanya. Kita punya cinta dan cinta akan menyelamatkan kita.

LASTRI
Mahmud.

MAHMUD
Ya?

LASTRI
Maafkan kebodohanku

MAHMUD
Ah, aku pun perlu waktu untuk memahaminya Lastri

LASTRI
Kita jadi kawin!?

MAHMUD
Ah, Lastri! Lastri kekasihku! Kita akan meraih kemenangan. Persetan dengan semua ninja!

31 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


MEREKA BERPELUKAN. PANGGUNG GELAP. PANGGUNG TERANG. MUSIK
ROMANTIS FADE OUT. NINJA-NINJA SEDANG MENGADAKAN RAPAT.

NINJA 1 (Menggebrak)
Bahaya terbesar ternyata cinta

NINJA-NINJA
Yeah

NINJA 2
Dengan cinta, orang kehilangan dendam

NINJA 3
Kehilangan semangat pembalasan

NINJA 4
Adu domba kita bisa gagal

NINJA-NINJA
Yeah. Kita bisa gagal

NINJA 5
Kita harus bisa menghancurkan cinta

NINJA 1
Ya, kita harus menghancurkan cinta dari masyarakat goblok ini! Maka kemenangan sudah
pasti di tangan kita

NINJA 2
Heran. Kekerasan bisa kalah oleh cinta. Kalau sudah begini untuk apa pentunganku ini?

NINJA 3
Bertahun-tahun mempelajari taktik terror masyarakat. Kalah karena cinta.

NINJA 4
Dunia ini cengeng

NINJA 5
Dunia ini sentimental

NINJA 1
Makanya, kita harus hancurkan cinta taik kucing itu

NINJA-NINJA (Bersulang)
Demi kemenangan kekerasan.

LAMPU GELAP. NINJA-NINJA BUBAR. LAMPU MENYALA. DI PANGGUNG SUDAH


ADA TUMIRAH. IA SEDANG BERSENANDUNG. TERDENGAR EFEK-EFEK SUARA
ALAM.

32 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


TUMIRAH
Sebenarnya ini sebuah tempat yang indah kalau tidak ada pertempuran. Rumah-rumah ini
selalu sejuk di bawah pohon-pohon yang rindang di tepi hutan. Ada sungai lewat tepian.
Sungai yang tidak terlalu dalam, jernih airnya. Ikan-ikan dan batuan di dasarnya kelihatan.
Karena cahaya matahari, batu-batu itu kadang berwarna pelangi, indah sekali.

Aku suka duduk-duduk di tepi sungai itu, memikirkan hal-hal yang baik. Di sebelah sana ada
air terjun, kecil saja, suaranya terdengar ke sini kalau sepi. Aku senang mendengarkan semua
suara-suara itu. Kicau burung, desir sungai, hembusan angina, gugur daun, bisikan rumput,
pokoknya asal jangan suara tembakan. Kapan kami bisa dijauhkan dari saura-suara mesin
pembunuh itu, kapan kami bisa diam. Tapi berakap-cakap dengan alam. Manusia begitu
kerdil sehingga merasa dirinya besar. Menganggap dunia ini hadir untuk diri mereka. GR
sekali. Apa sebenarnya yang sudah dipelajari manusia sepanjang sejarah kehidupan mereka di
bumi selain cara untuk merusak dan saling menyakiti? Manusia yang selalu ingin menguasai,
manusia yang tidak pernah belajar untuk hidup bersama angina, hutan, sungai dan burung-
burung. Sedangkan dengan sesamanya saja manusia susah sekali hidup bersama ah,
jangan-jangan manusia memang sudah menjadi mahluk terkutuk. Iya, ya? Terkutuklah untuk
selalu saling bermusuhan, terkutuk untuk selalu memikirkan kepentingannya sendiri tapi,
tapi, siapa yang mengutuknya? Tidak mungkin Tuhan bukan? Lha wong katanya Tuhan itu
Maha Baik. Aduh, aku bingung.

MASUK INTEL

INTEL
Spada!

TUMIRAH
Wah, baru lagi nih!

INTEL
Mbak Tumirah, perkenalkan saya Intel.

TUMIRAH
Lho, intel kok bilang-bilang!?

INTEL
Ya, lebih baik bilang terus terang toh? Daripada diam-diam lantas kepergok dan digebuki?

TUMIRAH
Itu kan kalau intel goblok.

INTEL
Lha wong saya ini termasuk intel goblok Mbak Tumirah. Bener! Lha wong saya ini
menyamar, tapi orang-orang langsung tahu kalau saya intel kok!

TUMIRAH
Lho, kok bisa?

INTEL

33 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


Waktu mahasiswa diskusi, saya langsung masuk. Lha mahasiswanya gondorng-gondrong,
rambut saya cepak sendiri. Hihihihi! Mana sabuk saya juga sabuk dinas, sepatu juga dan HT
saya krosak-krosak delapan anam terus.

TUMIRAH
Wah, ya layak intel goblok kamu. Pernah digebuki mahasiswa?

INTEL
Mahasiswa yang saya gebuki. Lha wong saya memang disuruh provokasi

TUMIRAH
Provokasi? Apa tuh?

INTEL
Kalau mahasiswa membalas. Nah, itu sudah kena provokasi. Kita ada alas an buat nembak.

TUMIRAH
Itu namanya akal bulus

INTEL
Ya, namanya juga politik Mbak, isinya memang bulus-bulus!

TUMIRAH
Sudah! Daritadi kamu ngecap terus! Sekarang kasih tahu apa tujuanmu dating kemari!? Mau
ngamar atau memata-matai?

INTEL
Sebetulnya saya disuruh bilang ngamar Mbak Tumirah. Tapi sebenarnya saya disuruh
memata-matai

TUMIRAH
Hahahaha! Memang betul kamu itu goblok. Apanya dariku yang mau dimata-matai? Aku ini
kan Cuma germo, mucikari pinggiran dari rumah bordil di tepi hutan. Kalau mau memata-
matai jangan di sini. Di sana tuh, sama orang-orang yang mau jadi presiden. Siapa tahu
mereka juga mau main curang kayak pendahulunya.

INTEL
Justru itu Mbak Tumirah. Justru karena Mbak Tumirah mucikari.

TUMIRAH
Germo.

INTEL
Mucikari. Menurut kamu besar bahasa Indonesia malah muncikari, pakai en

TUMIRAH
Sudahlah germo saja. Nggak usah pakai dihalus-haluskan segala. Istilah untuk pengertian
yang sama dibagus-bagusin. Menculik jelas-jelas ada yang nugasin, kok malah dibilang
prosedur. Nggak usah keminterlah, kita semua nggak akan bisa dibegoin. Apalagi sama
orang-orang yang dari sononya sudah bego!

34 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


INTEL
Iya deh, germo. Sebagai germo yang berdinas di tepi hutan di tengah-tengah arena
pertempuran, tentu Mbak Tumirah menguasai informasi dari kedua belah pihak.

TUMIRAH
Kalau soal-soal seks, ya tahulah barangkali

INTEL
Bukan itu

TUMIRAH
Apa dong. Aku tak tahu apa-apa

INTEL
Mbak Tumirah pasti tahu banyak

TUMIRAH
Masti-mastiin. Itu pekerjaan lain. Menduga-duga semaunya.

INTEL
Orang para gerilyawan sering tidur di sini. Pasti tahu banyaklah

TUMIRAH
Pasukan pemerintah juga ke sini kalau cari perempuan. Aku Cuma tahu urusan gitu-gituan.
Jangan mojok-mojokin orang dong!

INTEL
Bukan begitu, Mbak Tumirah. Yang ditakutkan atasan saya adalah: dahulu Mbak Tumirah
memang tidak berpihak. Tapi setelah ninja-ninja itu memperkosa anak buah Mbak Tumirah,
barangkali sekarang Mbak Tumirah berpihak

TUMIRAH
Berpihak pada siapa?

INTEL
Itu yang saya mau Tanya. Mbak Tumirah pasti mengira ninja-ninja itu adalah.

TUMIRAH
Adalah siapa?

INTEL
Itulah yang saya mau tahu

TUMIRAH
Aku juga mau tahu, bego! Kamu harusnya lebih tahu dong! Kalian kan intel! Kalian harus
tahu dong ninja-ninja itu siapa! Kok Tanya sama aku! Jangan-jangan kalian juga sudah tahu
siapa sebenarnya ninja-ninja itu! Bego!

INTEL

35 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


Dari tadi juga sudah jelas saya ini bego! Apa masih perlu dibilang bego lagi!?

TUMIRAH
Bukan Cuma kamu yang bego, bego! Seluruh situasi ini bego, ngerti! Aku memang Cuma
germo, tapi germo mana pun jug abaca Koran yang sibuk berkaok-kaok itu. Aku ngertlah
kalian takut aku membocorkan macam-macam informasi. Terus terang aku tahu banyak
informasi. Komandan pasukan pemerintah maupun komandan para gerilyawan juga selalu
tidur di sini.

Kalau mau, aku bisa saling membocorkan rahasia mereka. Tapi aku tidak begitu, karena aku
memang tidak peduli. Lalu tiba-tiba ada sepasukan ninja memperkosa anak-anakku. Aku
tidak bisa tidak peduli, aku pasti peduli dan aku pasti melawan, tapi pasti tidak dengan cara-
cara kalian, monyet-monyet tidak tahu diri!

Kami akan melakukan apa pun yang bisa kami lakukan. Karena aku germo, dan memang
barangkali dilahirkan sebagai germo, ya aku buka lagi rumah bordil ini. Titik. Cuma itu yang
aku bisa. Kalau aku melakukan sesuatu yang tidak aku mampu, itu namanya sok tahu!
Menurut aku sih, kalau boleh aku punya pendapat, setiap orang harus kembali ke dirinya
sendiri. Tentara, ya jadi tentara yang baiklah, jangan jadi ninja. Intel jadi intel sajalah, jangan
jadi teroris. Pelacur ya jadi pelacurlah, jangan jadi politikus! Kecuali kalau memang dari
sononya sudah jadi tukang adu domba. Biarlah di neraka domba-domba balas mengadu
kepala mereka sampai moncrot!

INTEL
Mbak.

TUMIRAH
Ya?

INTEL
Saya kebelet.

TUMIRAH
Kebelet apa? Ke WC?

INTEL
Kebelet ngamar.

TUMIRAH
Oalah, intel!. Lastri! Lastri! Sini! Ini bapak intel mau ngamar. Coba tolong diantar! Nah,
sudahlah begitu; senang-senang. Aku ini Cuma germo kok, tidak kebanyakan pertingsing!
Masa germo mau dituduh makar? Yang bener aje! Ya nggak? Kaya yang kurang musuh aja!
Eh, mana rombongan dangdut itu?

MASUK ROMBONGAN DANGDUT, LANGSUNG MEMBAWAKAN LAGU SELAMAT


MALAM. KOMPLEKS BORDIL ITU SUDAH DIPENUHI ORANG-ORANG,
SEMUANYA BERAJOJING. SUASANA MERIAH DAN CERIA.

KETIKA LAGU ITU USAI, PANGGUNG SUDAH GELAP. TINGGAL TUMIRAH DI


DEPAN SALAH SATU RUMAH BORDIL. LAMPU MENYOROT TUMIRAH. IA

36 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma


DUDUK DI KURSI, NAMPAK LEMAS SERTA SUDAH TUA SEKALI. IA
MENYANYIKAN ULANG LAGU SELAMAT MALAM. TAPI DENGAN PENAFSIRAN
YANG KEBALIKANNYA, LAGU ITU MENJADI LAGU PENDERITAAN.
DINYANYIKAN DENGAN SUARA SERAK TANPA IRINGAN APA-APA. SUARANYA
MERAYAP DENGAN BERAT SEPERTI MUSIK BLUES YANG PALING SERET.

SUARA TUMIRAH BAGAIKAN LANGSUNG MENGGAUNG DARI GUA


PENDERITAAN. PADA AKHIR LAGU, KEPALA TUMIRAH TERKULAI.
BARANGKALI MATI. BARANGKALI TIDAK. TIDAK ADA YANG TAHU. MASIH
TERDENGAR BAKU TEMBAK ANTARA PASUKAN PEMERINTAH DAN PARA
GERILYAWAN. CAHAYA LEDAKANNYA SEBENTAR-BENTAR MENERANGI
LANGIT MALAM.

LAMPU FADE OUT DAN SELESAI.

Jakarta
24 Desember 1998

37 | Lakon TUMIRAH (Sang Mucikari) Karya Seno Gumira Ajidarma