Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN PERITONITIS DI RUANG G.

13
RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG
PROVINSI JAWA TIMUR

DI SUSUN OLEH :
MOCHAMMAD AKHIYANTO RISMAWAN
NIM. 16143149011030

DEPARTEMEN GAWAT DARURAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARANI MALANG
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
2016
LAPORAN PENDAHULUAN PERITONITIS DI RUANG G. 13
RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG
PROVINSI JAWA TIMUR

Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Gawat Darurat

Telah Disahkan Dan Disetujui Pada:

Hari :
Tanggal :

Pembimbing Institusi Pembimbing Wahana Klinik


TINJAUAN TEORI
A. Definisi
1. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum, lapisan membrane serosa rongga
abdomen dan meliputi visera yang merupakan penyulit berbahaya yang dapat
terjadi dalam bentuk akut maupun kronik / kumpulan tanda dan gejala,
diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muscular dan tanda
tanda umum inflamasi. ( Santosa, Budi. 2011)
2. Peritonitis adalah peradangan peritoneum, suatu lapisan endotelial tipis yang
kaya akan vaskularisasi dan aliran limpa. ( Soeparman, dkk. 2009 )
3. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada
selaput rongga perut (peritoneum) lapisan membrane serosa rongga abdomen
dan dinding perut bagian dalam ( Suharni. 2010 ).

B. Etiologi
1. Infeksi bakteri
Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli, streptokokus alpha dan beta
hemolitik, stapilokokus aureus, enterokokus dan yang paling berbahaya
adalah clostridium wechii.
Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal
Appendiksitis yang meradang dan perforasi
Tukak peptik (lambung / dudenum)
Tukak thypoid
Tukak pada tumor
2. Secara langsung dari luar.
Operasi yang tidak steril
Terkontaminasi talcum venetum, lycopodium, sulfonamida, terjadi
peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon
terhadap benda asing, disebut juga peritonitis granulomatosa
Trauma pada kecelakaan peritonitis lokal seperti rupturs limpa, ruptur hati
Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis.
3. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang
saluran pernapasan bagian atas, otitis media, mastoiditis, glomerulonepritis.
Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus.
C. Tanda Gejala
1. Syok (neurogenik, hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita
peritonitis umum.
2. Demam
3. Distensi abdomen
4. Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal, difus, atrofi umum, tergantung
pada perluasan iritasi peritonitis.
5. Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang
jauh dari lokasi peritonitisnya.
6. Nausea
7. Vomiting
8. Penurunan peristaltik.

D. Klasifikasi
Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Peritonitis Bakterial Primer
a. Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada
cavumperitoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen.
Penyebabnya bersifat monomikrobial, biasanya E. Coli, Sreptococus atau
Pneumococus. Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Spesifik : misalnya Tuberculosis.
2. Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis an Tonsilitis.
Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi,
keganasan intraabdomen, imunosupresi dan splenektomi.
Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik, gagal ginjal
kronik, lupus eritematosus sistemik, dan sirosis hepatis dengan asites.
2. Peritonitis Bakterial Akut Sekunder (Supurativa)
Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal
atau tractus urinarius. Pada umumnya organism tunggal tidak akan menyebabkan
peritonitis yangfatal. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat
terjadinya infeksi ini. Bakteriianaerob, khususnya spesies Bacteroides,
dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi.
Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu
peritonitis. Kuman dapat berasal dari:
a. Luka/trauma penetrasi, yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum
peritoneal.
b. Perforasi organ-organ dalam perut, contohnya peritonitis yang disebabkan oleh
bahankimia, perforasi usus sehingga feces keluar dari usus.
Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal, misalnya appendisitis.
3. Peritonitis tersier, misalnya:
a. Peritonitis yang disebabkan oleh jamur
b. Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan.
Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii misalnya
empedu, getah lambung, getah pankreas, dan urine.
4. Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis:
a. Aseptik/steril peritonitis
b. Granulomatous peritonitis
c. Hiperlipidemik peritonitis
d. Talkum peritonitis

E. Patofisiologi
Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen ke dalam rongga
abdomen, biasanya diakibatkan dan peradangan iskemia, trauma atau perforasi
tumor, peritoneal diawali terkontaminasi material. Awalnya material masuk ke
dalam rongga abdomen adalah steril (kecuali pada kasus peritoneal dialisis) tetapi
dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri. Akibatnya timbul edem jaringan
dan pertambahan eksudat. Caiaran dalam rongga abdomen menjadi keruh dengan
bertambahnya sejumlah protein, sel-sel darah putih, sel-sel yang rusak dan darah.
Respon yang segera dari saluran intestinal adalah hipermotil tetapi segera dikuti
oleh ileus paralitik dengan penimbunan udara dan cairan di dalam usus besar.

F. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada peritonitis ialah inflamasi tidak lokal dan
seluruh rongga abdomen menjadi terkena pada sepsis umum. Sepsis adalah
penyebab umum dari kematian pada peritonitis. Syok dapat diakibatkan dari
septikemia atau hipovolemik. Proses inflamasi dapat menyebabkan obstruksi usus,
yang terutama berhubungan dengan terjadinya perlekatan.
Komplikasi yang terjadi pada peritonitis ialah sepsis dan kegagalan
multiorgan. Dua komplikasi pasca operatif paling umum adalah eviserasi luka dan
pembentukan abses. Luka yang tiba - tiba mengeluarkan drainase
serosanguinosa menunjukan adanya dehisens luka.

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Complete Blood Count (CBC), umumnya pasien dengan infeksi intra
abdomen menunjukan adanya luokositosis (>11.000 sel/ L) dengan adanya
shift to the left. Namun pada pasien dengan immunocompromised dan pasien
dengan beberapa tipe infeksi (seperti fungal dan CMV) keadaan leukositosis
dapat tidak ditemukan atau malah leukopenia
PT, PTT dan INR
Test fungsi hati jika diindikasikan
Amilase dan lipase jika adanya dugaan pankreatitis
Urinalisis untuk mengetahui adanya penyakit pada saluran kemih (seperti
pyelonephritis, renal stone disease)
Kultur darah, untuk menentukan jenis kuman dan antobiotik
BGA, untuk melihat adanya asidosis metabolik
Diagnostic Peritoneal Lavage. Pemeriksaan cairan peritonium
Pada SBP dapat ditemukan WBC > 250 500 sel/L dengan dominan PMN
merupakan indikasi dari pemberian antibiotik. Kadar glukosa < 50 mg/dL,
LDH cairan peritoneum > serum LDH, pH < 7,0, amilase meningkat,
didapatkan multipel organisme.
2. Radiologis
Foto polos
Foto polos abdomen (tegak/supine, setengah duduk dan lateral dekubitus)
adalah pemeriksaan radiologis utama yang paling sering dilakukan pada
penderita dengan kecurigaan peritonitis. Ditemukannya gambaran udara bebas
sering ditemukan pada perforasi gaster dan duodenum, tetapi jarang
ditemukan pada perforasi kolon dan juga appendiks. Posisi setengah duduk
berguna untuk mengidentifikasi udara bebas di bawag diafragma (seringkali
pada sebelah kanan) yang merupakan indikasi adanya perforasi organ.
USG
USG abdomen dapat membantu dalam evaluasi pada kuadran kanan atas
(abses perihepatik, kolesistitis, dll), kuadran kanan bawah dan kelainan di
daerah pelvis. Tetapi kadang pemeriksaan akan terganggu karena penderita
merasa tidak nyaman, adanya distensi abdomen dan gangguan distribusi gas
abdomen.
USG juga dapat mendeteksi peningkatan jumalah cairan peritoneum (asites),
tetapi kemampuan mendeteksi jumlah cairan < 100 ml sangat terbatas. Area
sentral dari rongga abdomen tidak dapat divisualisasikan dengan baik dengan
USG tranabdominal. Pemeriksaan melalui daerah flank atau punggung bisa
meningkatkan ketajaman diagnostik. USG dapat dijadikan penuntun untuk
dilakukannya aspirasi dan penempatan drain yang termasuk sebagai salah satu
diagnosis dan terapi pada peritonitis.
3. CT Scan
Jika diagnosa peritonitis dapat ditegakkan secara klinis, maka CT Scam tidak
lagi diperlukan. CT Scan abdomen dan pelvis lebih sering digunakan pada
kasus intraabdominal abses atau penyakita pada organ dalam lainnya. Jika
memungkinkan, CT Scan dilakukan dengan menggunakan kontra ntravena. CT
Scan dapat mendeteksi cairan dalam jumlah yang sangat minimal, area
inflamasi dan kelainan patologi GIT lainnya dengan akurasi mendekati 100%.
Abses peritoneal dan pengumpulan cairan bisa dilakukan aspirasi dan drain
dengan panduan CT Scan.
H. Penalaksanaan
1. Penggantian cairan kolid dan elektrolit adalah focus utama dari
penatalasanaan medis
2. Analgesic diberikan untuk mengatasi nyeri
3. Antiemetic dapat diberikan sebagai terapi mual dan muntah
4. Inkubasi usus dan penyisapan membantu dalam menghilangkan distensi
abdomen dalam meningkatkan fungsi usus
5. Terapi oksigen dengan kanul nasal atau masker akan meningkatkn oksigenasi
secara adekuat tetapi kadang-kadang intubasi jalan nafas dan bantuan ventilasi
juga diperlukan
6. Terapi antibiotic massif biasanya dimulai di awal pegobatan peritonitis
7. Tindakan bedah mencakup mengangkat materi terinfeksi dan memperbaiki
penyebab.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. RIWAYAT KEPERAWATAN
Data Dasar Pengkajian
a. Aktifitas / istirahat
Gejala : Kelemahan
Tanda : kesulitan ambulasi
b. Sirkulasi
Tanda : Takikardia,berkeringat,pucat,hipotensi,edema jaringan.
c. Eliminasi
Gejala : ketidakmampuan defikasi dan flatus diare ( kadang-kadang ).
Tanda : Cekungan ; distensi abdomen;abdomen diam penurunan haluaran
urine,warna gelap penurunan/ ada bising usus ( ileus ); bunyi keras hilang
timbul,bising usus kasar (obstuksi), kekakuan abdomen, nyeri tekan hiperesonan/
timpani( ileus ), hilang suara pekak diatas hati ( udara bebas dalam abdomen ).
d. Makanan / cairan
Gejala : aneroksia,mual/ muntah,haus. Tanda : muntah proyektif membrane
mukosa kering,lidah bengkak,turgor kilat buruk
e. Nyeri / kenyamanan
Gejala : nyeri abdomen tiba-tiba berat,umum atau local,menyebar kebahu,teru-
menerus oleh gerakan. Tanda : distensi,kaku,nyeri tekan otot tegang ( abdomen ) ;
lutut fleksi,perilaku distraksi:gelisah;focus pada diri sendiri.
f. Pernafasan
Tanda : pernafasan dangkal,takipnea.
g. Keamanan
Gejala : riwayat inflamasi organ pelvic( saipingitis );infeksi pasca-
melahirkan,abses retroperitoneal.
Gejala : riwayat adanya trauma penitrasi abdomen.contoh : luka tembak / tusuk
atau trauma tumpul pada abdomen;perforasi kandung kemih / rupture;penyakit
saluran GI contoh : apendesitis dengan reforasi,gangrene / rupture kandung
empedu,perfirasi karsinoma gaster,perforasi gaster/ulkus,duodenal,obstruksi
gangrenosa usus,perforasi diveirculum,ileltis,regional,bernistrangulasi.
B. DIAGNOSA TEST
SDP Meningkat kadang-kadang lebih besar dari 20.000.SDM mungkin
meningkat,menunjukkan nemokonsentrasi
a. protein / albumin serum : mungkin menurun karena perpindahan cairan
b. amilase serum : biasanya meningkat
c. elektrolit serum: hipokalemia mungkin ada.
d. GDA : alkalosis respiratori dan asidosis metabolik mungkin
e. Kultur : organisme penyebab mungkin teridentifikasi dari darah,eksudat secret
atau cairan asires.
f. Pemeriksaan foto abdominal : Dapat menyatakan disteasi usus / ileum. Bila
perporasi visera sebagai etiologi, udara bebasditemukan pada abdomen.
g. Foto dada : dapat menyatakan peninggian diafragma
h. Parasintesis : contoh cairan peritoneal dapat mengandung darah, PUS/ eksudat,
amylase, empedu, kreatinin.
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
mual,muntah, anoreksia
3. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan.

Post Operasi
1. Nyeri berhubungan dengan agen cedera fisik
2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Diagnosa Keperawatan
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN NIC NOC
1 Nyeri akut berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Penatalaksanaan nyeri
proses penyakit. diharapkan nyeri dapat berkurang atau hilang. 1. Lakukan pengkajian nyeri, secara komprhensif
Level nyeri, kriteria hasil: meliputi lokasi, keparahan, factor presipitasinya
1. Nyeri berkurang 2. Observasi ketidaknyamanan non verbal
2. Ekspresi nyeri lisan atau pada wajah 3. Kendalikan factor lingkungan yang dapat
3. Kegelisahan atau keteganganotot mempengaruhi respon pasien terhadap
4. Mempertahankan tingkat nyeri pada skala ketidaknyamanan
0-10. 4. Anjurkan pasien untuk istirahat
5. Menunjukkan teknik relaksasi yang efektif 5. Libatkan keluarga dalam pengendalian nyeri
untuk mencapai kenyamanan. pada anak.
7. Kolaborasi medis dalam pemberian analgesic.
2 Ketidakseimbangan nutrisi kurang Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pengelolaan Nutrisi
dari kebutuhan tubuh berhubungan diharapkan nutrisi pasien adekuat. 1. Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi
dengan mual,muntah, anoreksia. Status Gizi, kriteria hasil: kebutuhan nutrisi.
1. Mempertahankan berat badan. 2. Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada
2. Toleransi terhadap diet yang dianjurkan. catatan asupan.
3. Menunjukan tingkat keadekuatan tingkat 3. Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan
energi. nutrisi dan bagaimana memenuhinya.
4. Turgor kulit baik. 4. Minimalkan faktor yang dapat menimbulkan
mual dan muntah.
5. pertahankan higiene mulut sebelum dan sesudah
makan.

3 Hipertermi berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Fever Treatment


proses peradangan. diharapkan suhu tubuh kembali normal 370 C 1. Pantau suhu minimal setiap dua jam, sesuai
Thermoregulation,kriteria hasil: dengan kebutuhan
1. Suhu kulit dalam rentang yang diharapkan 2. Pantau warna kulit dan suhu
2. Suhu tubuh dalam batas normal 4. Lepaskan pakaian yang berlebihan dan tutupi
3. Nadi dan pernapasan dalam rentang yang pasien dengan hanya selembar pakaian.
diharapkan 4. Berikan cairan intravena
4. Perubahan warna kulit tidak ada
4 Nyeri berhubungan dengan agen Setelah dilakukan tindakan keperawatan Penatalaksanaan nyeri
cedera fisik. diharapkan nyeri dapat berkurang atau hilang. 1. Lakukan pengkajian nyeri, secara komprhensif
Level nyeri, kriteria hasil: meliputi lokasi, keparahan.
1. Nyeri berkurang 2. Observasi ketidaknyamanan non verbal
2. Ekspresi nyeri lisan atau pada wajah 3. Gunakan pendekatan yang positif terhadap
3. Mempertahankan tingkat nyeri pada skala pasien, hadir dekat pasien untuk memenuhi
0-10. kebutuhan rasa nyamannya dengan cara:
4. Menunjukkan teknik relaksasi yang efektif masase, perubahan posisi, berikan perawatan
untuk mencapai kenyamanan. yang tidak terburu-buru
4. Kendalikan factor lingkungan yang dapat
mempengaruhi respon pasien terhadap
ketidaknyamanan
5. Anjurkan pasien untuk istirahat dan
menggunakan tenkik relaksai saat nyeri.
6. Kolaborasi medis dalam pemberian analgesic.

5 Resiko infeksi berhubungan dengan Setelah dilakuakan tindakan keperawatan Pengendalian Infeksi
prosedur invasif. diharapkan tidak terjadi infeksi pada luka 1.Pantau tanda dan gejala infeksi( suhu, denyut
bedah. jantung, penampilan luka).
Pengendalian Resiko, kriteria hasil: 2.Amati penampilan praktek higiene pribadi
1. Bebas dari tanda dan gejala infeksi. untuk perlindungan terhadap infeksi.
2. Higiene pribadi yang adekuat. 3.Instruksikan untuk menjaga higiene pribadi
3. Mengikuti prosedur dan pemantauan. untuk melindungi tubuh terhadap infeksi.
4.Lindungi pasien terhadap kontaminasi silang
dengan pemakaian set ganti balut yang steril.
5. Bersihkan lingkungan dengan benar setelah.
6 Intoleransi aktivitas berhubungan Setelah dilakukan tindakan diharapkan pasien Management Energi
dengan kelemahan fisik. dapat beraktivitas tanpa mengalami 1.Tirah baring pada pasien dan bantu segala
kelemahan. aktivitas sehari-hari, atur periode istirahat dan
Konservasi energi, kriteria hasil: aktivitas
1. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa 2.Monitor terhadap tingkat kemampuan aktivitas,
disertai peningkatan tekanan darah, nadi, dan hindari aktivitas yang berlebihan
RR 3. Tingkatkan aktivitas sesuai dengan toleransi
2. Mampu melakukan aktivitas secara 4.Monitor kadar enzim serum untuk mengkaji
mandiri. kemampuan aktivitas
5.Monitor tanda-tanda vital dan atur perubahan
posisi.
6.Monitor nutrisi dan sumber energi yang
adekuat.
DAFTAR PUSTAKA

Diagnosa Keperawatan NANDA 2011-2012 Prima Medika : Jakarta


Santosa, Budi. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC. Jakarta
Soeparman, dkk. 2009. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit,
ECG Jakarta
Suharni. 2010. Beberapa Kelainan Gastrointestinal yang Memerlukan Tindakan
Bedah. Dalam: Kapita Selekta Gastroenterologi Anak. Jakarta: CV
Sagung Seto.
Pathway Keperawatan
Infeksi Bakteri, virus, Trauma Appendiksitis Konsumsi diit rendah serat
cacing/ parasit abdomen

Obstruksi lumen peritonium Fekalit dalam lumen


Ruptur
peritonium Perforasi
Mukosa Terbendung Konstipasi

Sekresi mukus terus menerus Tekanan intra sekal

Tekanan intra luminal Respon inflamasi Sumbatan fungsional


dan pertumbuhan kuman kolon

Aliran limfe terhambat


Oedema, ulserasi mukosa

Peritonitis

Pre Operasi

Peradangan Peritonium Peningkatan Peristaltik Proses infeksi


Konsumsi diit
mendadak rendah
serat

Proses penyakit Anoreksia, mual, Kemungkinan distensi abdomen


Ketidakseimbangan
Nyeri nutrisi
muntah kurang dari kebutuhan
Resiko
ruptur tubuh
infeksi Konstipasi

Hipetermi

Post Operasi

Pembedahan/Laparatomy Pembatasan, paska operasi (puasa) Kelemahan fisik


Resiko kekurangan volume cairan Intoleransi aktivitas
Nyeri

Resiko infeksi