Anda di halaman 1dari 10

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Sungai Tondano memiliki fungsi vital sebagai sumber air utama untuk PDAM dan
PLTA untuk kota Manado dan sekitarnya, dimana bagian hilirnya sepanjang 7
km melewati Kota Manado. Bersama dengan anak sungainya Sungai Tikala,
sungai ini sangat potensial menyebabkan banjir di Kota Manado. Dalam dekade
terakhir tercatat 3
kali banjir yang mengakibatkan kerugian besar pada tahun 1996, 2000 ,2005
dan 2014
Untuk mengurangi resiko terjadinya kerusakan dan kerugian akibat banjir
dibutuhkan upaya pengendalian banjir yang dapat segera direalisasikan di
lapangan, antara lain melalui penanganan jangka pendek dengan bangunan
pengendali banjir atau pengendalian banjir secara struktural. Masalah yang
dihadapi adalah bagaimana mendapatkan upaya penanganan yang efektif
dengan dampak negatif yang minimal terhadap kegiatan pemanfaatan
sungai lainnya. Solusi yang bisa dilakukan adalah melalui kajian kondisi eksisting
sungai dan karakteristik banjir- nya untuk menentukan ruas-ruas sungai yang
rawan banjir guna penetapan prioritas penanganan dan kajian terhadap
alternatif rencana pengenda- lian banjir yang ada untuk menentukan rencana
yang optimal. Penentuan rencana yang optimal dilakukan berdasarkan kelayakan
hidraulika, dalam hal ini keamanan dalam mengalirkan debit banjir rancangan
yang terkait dengan profil muka air dan kecepatannya, serta dampak rencana
penanganan tersebut terhadap kegiatan pemanfaatan sungai.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan tujuan makalah diatas, maka masalah-masalah yang dibahas dapat


di rumuskan sebagai berikut :
a. Apa pengertian banjir?
b. Apa penyebab banjir di manado?
c. Apa dampak banjir di manado?
D. Bagaimana cara menanggulangi banjir?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk menentukan ruas- ruas kritis di Sungai Tondano guna
penentuan prioritas pembangunan dan mendapatkan alternatif pengendalian
banjir yang terbaik berdasarkan hasil kajian beberapa alternatif yang ada. Hasil
ini diharapkan bermanfaat sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi para
pengambil keputusan dan pihak-pihak yang terkait dalam perencanaan dan
pembangunan di Kota Manado, khususnya dalam upaya penanganan banjir.

1.4 Lingkup Penelitian

Lingkup penelitian dibatasi sebagai berikut


ini.
1. Tinjauan dibatasi pada aspek hidrologi
2. Debit banjir rancangan untuk simulasi banjir dibatasi pada banjir kala
ulang 5 tahun (Q5).
3. Ruas Sungai Tondano yang ditinjau adalah dari sta 0+000 (muara sungai)
sampai dengan sta 7+435 (batas hulu tinjauan) dengan panjang total
7.435 m.

1
4. Keberadaan Sungai Tikala dimodelkan sebagai lateral inflow ke ruas
sungai tinjauan, sedangkan keberadaan drainase dan jembatan di
sepanjang ruas tinjauan diabaikan.
5. Simulasi pemodelan aliran banjir dilakukan dengan software HEC-RAS versi
3.1 pada kondisi eksisting serta pada kondisi rencana pengendalian
dengan tanggul, normalisasi serta kombinasi tanggul dan normalisasi.
Pembahasan

2.1 Pengertian banjir

banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan
merendam daratan.Pengarahan banjir Uni Eropa mengartikan banjir
sebagai perendaman sementara oleh air pada daratan yang biasanya
tidak terendam air. Dalam arti "air mengalir", kata ini juga dapat berarti
masuknya pasang laut. Banjir diakibatkan oleh volume air di suatu badan
air seperti sungai atau danau yang meluap atau menjebol bendungan
sehingga air keluar dari batasan alaminya.

2.2 Jenis jenis banjir

a. Banjir Air.
Banjir ini memang sudah umum. Penyebab banjir ini adalah meluapnya
air sungai, danau, atau got, sehingga air akan meluber lalu
menggenangi daratan. Pada umumnya banjir seperti ini disebabkan
oleh hujan yang terus menerus hingga sungai atau danau tidak mampu
menampung air.

b. Banjir Bandang.
Banjir bandang merupakan salah satu dari macam-macam banjir.
Tak hanya banjir dengan materi air saja, tapi banjir yang satu ini
juga mengangkut material lain berupa lumpur. Banjir seperti ini jelas
lebih berbahaya daripada banjir air, karena seseorang tidak akan
mampu berenang di tengah-tengah banjir jenis ini untuk
menyelamatkan diri. ak hanya itu, banjir bandang mampu
menghanyutkan apapun, karena daya rusaknya sangat tinggi. Banjir
ini biasanya terjadi di area dekat pegunungan, dimana tanah
pegunungan seolah longsor karena air hujan lalu ikut terbawa air ke
daratan yang lebih rendah.

c. Banjir lahar dingin


Banjir ini biasanya hanya terjadi ketika erupsi gunung berapi. Erupsi ini
kemudian mengeluarkan lahar dingin dari puncak gunung dan mengalir ke
daratan yang ada di awahnya. Lahar dingin ini mengakibatkan
pendangkalan sungai sehingga air sungai akan mudah meluap dan bisa
meluber ke pemukiman warga.

2
d. Banjir Lumpur.
Banjir lumpur identik dengan banjir lumpur Lapindo di daerah Sidoarjo
Jawa Timur. Mirip dengan banjir bandang, tapi lebih disebabkan oleh
keluarnya lumpur dari dalam bumi dan menggenangi daratan. Lumpur
yang keluar dari dalam bumi bukan lumpur biasa, tapi juga mengandung
bahan dan gas kimia tertentu yang berbahaya.

2.3 Penyebab Terjadinya Banjir


Sering sekali terjadinya banjir dan hampir setiap kali hujan, maka pasti ada saja
daerah yang terkena banjir. Secara umum, penyebab terjadinya banjir adalah sebagai
berikut:
a) Penebangan hutan secara liar tanpa disertai reboisasi
b) Pendangkalan sungai;
c) Pembuangan sampah yang sembarangan, baik ke aliran sungai
maupun gotong royong;
d) Pembuatan saluran air yang tidak memenuhi syarat;
e) Pembuatan tanggul yang kurang baik;
f) Air laut, sungai, atau danau yang meluap dan menggenangi daratan.

2.4 DAMPAK YANG DITIMBULKAN ADANYA BANJIR :

1. Rusaknya sarana dan prasarana

Air yang menggenang memasuki partikel pada dinding bangunan, apabila dinding tidak
mampu menahan kandungan air maka dinding akan mengalami retak dan akhirnya jebol.

2. Hilangnya harta benda

Banjir dalam aliran skala besar mampu menyeret apapun yang dilaluinya termasuk harta
benda. Seperti kursi, kasur, meja, pakaian, dan lain sebagainya.

3. Menimbulkan korban jiwa

Hal ini disebabkan karena arus air terlalu deras sehingga banyak penduduk yang hanyut
terbawa arus.

4. Menimbulkan bibit penyakit

3
Penyakit yang dapat ditimbulkan misalnya gatal-gatal. Air banjir banyak membawa kuman
sehingga penyebaran penyakit sangat besar.

2.5 CARA PENANGGULANGAN BANJIR

Untuk menanggulangi terjadinya banjir, maka dibutuhkan cara penanggulangan sebagai


berikut:

1. Pengoptimalan sungai ataupun selokan

Sungai ataupun selokan sebaiknya dipelihara dan dipergunakan sebagaimana mestinya.


Sungai ataupun selokan tidak untuk tempat pembuangan sampah. Kebersihan air dan deras
arusnya harus di pantau setiap saat sekedar untuk mengamati jika sewaktu-waktu terjadi
banjir.

2. Larangan pembuatan rumah penduduk di sepanjang sungai

Tanah di pinggiran sungai tidak seharusnya digunakan sebagai areal pemukiman penduduk.
Selain menyebabkan banjir, juga tatanan pola masyarakat menjadi tidak teratur.

3. Melaksanakan program tebang pilih dan reboisasi

Pohon yang telah ditebang seharusnya ada penggantinya. Menebang pohon yang telah
berkayu kemudian tanam kembali tunas pohon yang baru. Ini bertujuan untuk regenerasi
hutan agar tidak gundul.

4. Mempergunakan alat pendeteksi banjir sederhana

Untuk memantau tanda-tanda terjadinya banjir, dibutuhkan suatu alat pendeteksi banjir. Alat
pendeteksi ini dibuat secara sederhana agar masyarakat mampu untuk membuatnya.

2.6 Kajian Pengendalian Banjir Upaya pengendalian banjir

Untuk mengurangi besarnya kerugian akibat banjir, dapat dilakukan upaya


pengendalian dengan bangunan (structural method) dan dengan pengaturan
yang sifatnya tidak membuat bangun- an fisik (non structural method).
Pengendalian banjir secara struktural pada prinsipnya dilakukan dengan cara
membangun struktur atau bangunan air yang dapat meningkatkan kapasitas
pengaliran penampang sungai atau mengurangi debit banjir yang mengalir.
Alternatif pengendalian banjir dipilih sesuai dengan situasi, kondisi dan kebi-
jakan yang ada terutama menyangkut program penanganannya alternatif ini
antara lainnya adalah mencegah meluapnya banjir sampai ketinggian tertentu
dengan tanggul atau merendahkan elevasi muka air banjir dengan normalisasi
atau sudetan.

4
2.6.1 Penentuan debit banjir rancangan
Dalam kaitannya dengan rencana pembuatan bangunan air, besaran rancangan
berupa debit banjir rancangan (design flood) harus didapatkan melalui kegiatan
analisis hidrologi. Banjir rancangan adalah besarnya debit banjir kala ulang
tertentu yang ditetapkan sebagai dasar penentuan kapasitas dan dimensi
bangunan-bangunan hidrau- lik, sedemikian hingga kerusakan yang dapat
ditimbulkannya baik langsung maupun tidak langsung oleh banjir tidak boleh
terjadi selama besaran banjir tidak terlampaui .
Debit banjir rancangan idealnya didapatkan dengan cara hidrograf satuan
bilamana tersedia pasangan data debit dan hujan yang cukup. Bila pasangan
data debit dan hujan tidak tersedia, debit banjir rancangan bisa ditentukan
dengan meng- gunakan hidrograf satuan sintetik yang diturunkan berdasarkan
andaian transformasi hujan menjadi hidrograf ditentukan oleh beberapa
parameter fisik DAS yang bisa diukur.

2.6.2 Penelusuran banjir


Penelusuran aliran adalah prosedur untuk menentukan waktu dan besaran aliran
pada suatu titik pengaliran dengan menggunakan hidrograf yang diketahui atau
diasumsikan dari satu atau lebih titik di hulunya. Jika aliran tersebut adalah
aliran banjir, maka prosedurnya disebut pene- lusuran banjir (Chow, 1988).
Penelusuran banjir secara hidraulik adalah salah satu cara penelusuran aliran
yang memperhitungkan perubahan para- meter kecepatan aliran dan debit
sebagai fungsi dari tempat dan waktu. Hitungan penelusuran banjir secara
hidraulik dilakukan dengan menggu- nakan software HEC-RAS. HEC-RAS adalah
pemodelan sistem sungai yang disusun untuk menangani perhitungan hidraulik
satu dimensi untuk sistem saluran alam maupun saluran buatan (HEC, 2002).
Terkait penanggulangan banjir, model HEC-RAS digunakan untuk menentukan
elevasi profil muka air dan kecepatan banjir sebagai dasar perencanaan
bangunan pengendali banjir.

2.7 Cara penelitian


Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di Kota Manado Propinsi Sulawesi Utara, yakni pada ruas
hilir Sungai Tondano yang melewati kota hingga ke muara. Penelusuran hidraulik
untuk analisis banjir dilaksanakan pada ruas tersebut dengan batas hulu sta
7+435 dan batas hilir sta 0+000. Analisis hidrologi untuk penentuan debit banjir
rancangan dilakukan pada dua DAS terkait, yakni DAS Tondano Hilir dan DAS
Tikala. Peta DAS Tondano Hilir dan DAS Tikala disajikan pada Gambar 1 dan
skema sistem tinjauan disajikan pada Gambar 2.

2.7.1 Tahapan Penelitian dan pengumpulan data


Tahapan penelitian terdiri dari dua bagian utama yakni analisis hidrologi dan
analisis hidraulika. Analisis hidrologi meliputi perhitungan hujan rata-rata DAS,
analisis frekuensi untuk penentuan hujan harian rancangan, perhitungan
distribusi hujan jam- jaman dan perhitungan debit banjir rancangan dengan hasil
akhir berupa hidrograf banjir kedua DAS yang diperhitungkan, yaitu DAS Tondano
Hilir dan DAS Tikala.

5
Tondano Hilir dan DAS Tikala.

Gambar 2. Skema sistem tinjauan.

6
Analisis AHP (Analytical Hierarchy
Process)

Proses Hierarki Analitik (Analytical Hierarchy ProcessAHP) dikembangkan oleh


Dr. Thomas L. Saaty,seorang ahli matematika di University of Pittsburgh Amerika
Serikat pada tahun 1970-an. Dengan menggunakan AHP, suatu persoalan akan
diselesaikan dalam suatu kerangka pemikiran yang terorganisir, sehingga dapat
diekspresikan untuk mengambil keputusan yang efektif.

Langkah-langkah AHP
1. Menentukan tujuan, kriteria, dan alternatif keputusan
2. Membuat pohon hierarki (hierarchi- cal tree) untuk berbagai kriteria dan
alternatif keputusan.
3. Membentuk sebuah matriks perbanding- an berpasangan (pairwise
comparison).
4. Membuat peringkat prioritas dari matriks pairwise
5. Membuat peringkat alternatif dari matriks pairwise masing-masing
alternatif
6. Konsistensi Logis dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menentukan vektor jumlah ter- timbang
2. Menghitung vektor consistency
3. Menghitung nilai rata-rata vektor
consistency

max

n

4. Menghitung consistency index

max n
CI n 1
5. Menghitung consistency ratio
CI
CR
RC

7
DAS merupakan ekosistem alam yang dibatasi oleh punggung bukit. Air hujan
yang jatuh di daerah tersebut akan mengalir pada sungai-sungai yang akhirnya
bermuara ke laut atau ke danau. Pada Daerah Aliran Sungai dikenal dua wilayah
yaitu wilayah pemberi air (daerah hulu) dan wilayah

penerima air (dae rah hilir).


kedua daerah ini saling berhubungan dan mempengaruhi dalam unit ekosistem
Daerah Aliran Sungai (DAS). Fungsi Daerah Aliran Sungai adalah sebagai areal
penangkapan air (catchment area), penyimpan air (water storage) dan penyalur
air (distribution water).

8
Gambar 6. Skema model Sungai Tondano.

no tahun Jumlah Curah Jumlah Hari


Hujan (mm) Hujan (hari)

1 2000 3217,60
2 2001 3711,20
3 2002 2497,60
4 2003 3470,50
5 2005 1014,00
6 2006 2890,90 192
7 2007 3436,80 257
8 2008 3635,00 291
9 2009 2884,00 222
10 2010 3786,00 274
11 2011 3031,00 276

Data curah hujan stasiun BMKG kayuwatu

9
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

3.1.1 Kesimpulan

1. Banjir di Sungai Tondano diakibatkan oleh bankfull capacity yang kecil (87 m3/s), serta
pengaruh backwater akibat pasang naik dan lateral inflow Sungai Tikala, dimana kondisi
yang ekstrim terjadi bila banjir di kedua sungai tersebut terjadi bersamaan dengan pasang
maksimum.
2. Perubahan luas tata guna lahan dari masing- masing karakter permukaan pada suatu
DAS berpengaruh terhadap nilai koefisien pengaliran rata-rata (Crata-rata), dimana jika
rata-rata semakin besar maka debit banjir yang dihasilkan akan menjadi semakin besar
pula. Namun variabel lain juga yang berpengaruh untuk menghitung debit banjir adalah
intensitas hujan di tahun tersebut.

3.1.2 Saran
1. Keberhasilan suatu rencana pengendalian banjir maupun bangunan hidraulik pada
umumnya sangat ditentukan oleh informasi hidrologi, sehingga adanya ketidakpastian
dalam peng- gunaan rumus-rumus empirik akibat keterba- tasan data terukur perlu
diminimalisir. Hal ini dapat diantisipasi melalui pembangunan jaringan hidrometri dan
pembenahan sistem pendataan yang memadai agar didapatkan informasi hidrologi yang
akurat seperti pasangan data debit dan hujan jam-jaman terukur yang antara lainnya
dibutuhkan dalam penentuan indeks-phi, durasi dan distribusi hujan serta penentuan
hidrograf banjir rancangan.
2. Untuk meminimalisir resiko banjir di masa datang, perlu dilakukan upaya-upaya
lanjutan untuk menurunkan puncak banjir

10