Anda di halaman 1dari 14

Hepatitis B dan C

Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang disebabkan oleh banyak hal namun yang
terpenting diantaranya adalah karena infeksi virus-virus hepatitis. Virus-virus ini selain dapat
memberikan peradangan hati akut, juga dapat menjadi kronik. Virus-virus hepatitis dibedakan
dari virus-virus lain yang juga dapat menyebabkan peradangan pada hati oleh karena sifat
hepatotropik virus-virus golongan ini. Petanda adanya kerusakan hati (hepatocellular necrosis)
adalah meningkatnya transaminase dalam serum terutama peningkatan alanin aminotransferase
(ALT) yang umumnya berkorelasi baik dengan beratnya nekrosis pada sel-sel hati.
Hepatitis kronik dibedakan dengan hepatitis akut apabila masih terdapat tanda-tanda
peradangan hati dalam jangka waktu lebih dari 6 bulan. Virus-virus hepatitis penting yang dapat
menyebabkan hepatitis akut adalah virus hepatitis A (VHA), B (VHB), C (VHC) dan E (VHE)
sedangkan virus hepatitis yang dapat menyebabkan hepatitis kronik adalah virus hepatitis B dan
C.
Infeksi virus-virus hepatitis masih menjadi masalah masyarakat di Indonesia. Hepatitis
akut walaupun kebanyakan bersifat self-limited kecuali hepatitis C, dapat menyebabkan
penurunan produktifitas dan kinerja pasien untuk jangka waktu yang cukup panjang. Hepatitis
kronik selain juga dapat menurunkan kinerja dan kualitas hidup pasien, lebih lanjut dapat
menyebabkan kerusakan hati yang signifikan dalam bentuk sirosis hati dan kanker hati.
Pengelolaan yang baik pasien hepatitis akibat virus sejak awal infeksi sangat penting
untukmencegah berlanjutnya penyakit dan komplikasi-komplikasi yang mungkin timbul. Akhir-
akhir ini beberapa konsep pengelolaan hepatitis akut dan kronik banyak yang berubah dengan
cepat sehingga perlu dicermati agar dapat memberikan pengobatan yang tepat.
1. Virus Hepatitis B
Virus hepatitis B adalah virus DNA hepatotropik, hepadnaviridae terdiri atas 6 genotip
(A sampai H), terkait dengan derajat beratnya dan respon terhadap terapi. Terdiri dari 42
nm partikel sferis dengan inti nukleokapsid, densitas elektron, diameter 27 nm, selubung
luar lipoprotein dengan ketebalan 7 nm. Inti HBV mengandung ds DNA partial (3,2 kb)
dan :
Protein polimerase DNA dengan aktivasi reserve transkriptase
Antigen hepatitis B core (HbcAg) merupakan protein struktural
Anti hepatitis B e (HbeAg) merupakan protein non-struktural yang berkorelasi
secara tidak sempurna dengan replikasi anti HBV

Selubung lipoprotein HBV mengandung :

Antigen permukaan hepatitis B (HbsAg) dengan tiga selubung protein : utama


besar dan menengah
Lipid minor dan komponen karbohidrat
HbsAg adalah bentuk partikel non infeksius dengan bentuk sferis 22 nm atau
tubular

Satu serotipe utama dengan banyak subtipe berdasarkan keanekaragaman protein


HbsAg. Virus HBV mutan merupakan konsekuensi proof reading yang terbatas dari
reverse transkriptase atau munculnya resistensi, hal tersebut meliputi :

HbeAg negatif mutasi precore/core


Mutasi yang diinduksi oleh vaksin HBV
Mutasi YMDD oleh karena lamivudin
Hati merupakan tempat utama replikasi disamping tempat lainnya.1
Gambar 3 : Virus Hepatitis B

Epidemiologi dan faktor resiko


Masa inkubasi HBV 15 180 hari (rata-rata 60 90 hari). Viremia berlangsung selama
beberapa minggu sampai bulan setelah infeksi akut. Sebanyak 1-5% dewasa, 990%
neonatus dan 50% bayi akan berkembang menjadi hepatitis kronis dan viremia yang
persisten. Infeksi persisten dihubungakan dengan hepatitis kronik, sirosis dan kanker
hati. HBV ditemukan di darah, semen, sekret servikovaginal, saliva, cairan tubuh
lainnya.1

Cara transmisi:
Melalui darah : penerima produk darah, IVDU, pasien hemodialisis, pekerja
kesehatan, pekerja yang terpapar darah
Transmisi seksual

Penetrasi jaringan (perkutan) atau permukosa : tertusuk jarum, penggunaan


ulang peralatan medis yang terkontaminsi, penggunaan bersama pisau cukur dan
silet, tato, akupuntur, tindik, penggunaan sikat gigi bersama.
Transmisi maternal neonatal, maternal infant
Tak ada bukti penyebaran fekal oral.
PATOGENESIS

Virus Docking : virus docking dengan sel hati terjadi secara langsung melalui
reseptor spesifik. Protein kapsid yang berisi HBV DNA diangkut ke inti sel dengan
bantuan nuklear, sinyal lokalisasi. Dan pengembangan partikel dna yang lengkap
dimulai dan virus baru dieksresikan dari hepatosit oleh aparatus golgi. Sekitar 5x10 13
virus diperoduksi per hari. Uptake virus dipengaruhi oleh endositosis dan DNA virus
mencapai inti sel.

Hepatocytolisis disebabkan oleh respon sel imun untuk viruscoded atau virus
induced antigens dari membran sel hati.

2. Virus Hepatitis C
Virus Hepatitis C mempunyai selubung glikoprotein dan merupakan virus RNA
untai tunggal, dengan partikel sferis dan inti nukleokapsid 33 nm. Virus ini termasuk
klasifikasi flaviviridae, genus hepacivirus. Genom HCV terdiri atas 9400 nukleutida,
mengkode protein besar sekitar seridu 3000 asam amino.
1/3 bagian dari poliprotein terdiri ats protein struktural
Protein selubung dapat menimbulkan antibodi netralisasi

Regiovipervariabel terletak di E2
Sisa 2/3 dari poliprotein terdiri ats protein nonstruktural yang terlibat dalam
replikasi HCV

Hanya ada satu serotipe yang dapat diidentifikasi, terdapat banyak genotip dengan
distribusi yang berfariasi diseluruh dunia.
Epidemiologi dan faktor resiko

Masa inkubasi HCV diperkirakan 15 160 hari (puncak pada sekitar 50 hari). Viremia
yang berkepanjangan dan infeksi yang persisten umum dijumpai (55-855). Distribusi
geografik luas. Infeksi yang menetap dihubungkan dengan hepatitis kronik, sirosis dan
kanker hati.

Cara transmisi :

Darah (predominan) : IVDU dan penetrasi jaringan, resepien produk darah


Transmisi seksual : efisiensi rendah, frekuensi rendah
Maternal neonatal : efisiensi rendah, frekuensi rendah
Tak terdapat bukti transmisi fekal oral

GAMBARAN KLINIS

Pada infeksi yang sembuh spontan


1. Spektrum penyakit mulai dari asimptomatik, infeksi yang tidak nyata sampai
kondisi yang fatal sehingga terjadi gagal hati akut
2. Sindrom klinis yang mirip pada semua virus penyebab mulai dari gejala prodromal
yang non spesifik dan gejala gastrointestinal, seperti :
a. Malaise, anoreksia, mual, muntah
b. Gejala flu, faringitis, batuk, coryza, fotofobia, sakit kepala, mialgia
3. Awitan gejala cendrung muncul mendadak pada HAV dan HEV, pada virus yang lain
secara insidedious
4. Demam jarang ditemukan kecuali pada infeksi HAV
5. Immune complex mediated, serum sickness like syndrome dapat ditemukan pada
kurang dari 10% pasien dengan infeksi HBV, jarang pada infeksi virus lain.
6. Gejala prodromal menghilang pada saat timbul kuning, tetapi gejala anoreksia,
malaise dan kelemahan dapat menetap
7. Ikterus didahului dengan kemunculan urin berwarna gelap, pruritus (biasanya ringan
dan semenara) dapat timbul ketika ikterus meningkat
8. Pemeriksaan feses menunjukkan pembesaran dan sedikit nyeri tekan pada hati
9. Splenomegali ringan dan limfadenopati pada 15-20% pasien.

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan enzim hati yaitu SGOT dan SGPT, akan terjadi peningkatan yang bervariasi
selama masa sebelum dan sesudah timbul gejala klinis. Peningkatan kadar enzim ini tidak
berhubungan jumlah kerusakan dari sel hati. Puncak peningkatan bervariasi antara 400 4000
IU, dan biasanya terjadi pada saat timbul gejala kuning, dan menurun sejalan dengan perbaikan
penyakit. Kuning yang terlihat pada kulit atau bagian putih mata apabila kadar bilirubin lebih
dari 2,5 mg/dL. Kadar bilirubin sendiri sebenarnya terdiri atas penjumlahan bilirubin direk dan
indirek. Kadar bilirubin > 20 mg/dL merupakan petanda adanya infeksi hepar yang berat. Pada
pasien dengan gangguan komponen darah, terjadi pemecahan sel darah yang hebat sehingga
terjadi peningkatan kadar bilirubin > 30 mg/dL, tetapi hal ini tidak berhubungan dengan
prognosis yang buruk. Peningkatan kadar gamma globulin biasa terjadi pada infeksi akut
hepatitis. Serum IgG dan IgM terjadi peningkatan pada sepertiga pasien dengan infeksi ini.
Tetapi peningkatan IgM merupakan karakteristik dari fase akut hepatitis A.

Diagnosis hepatitis B ditegakkan melalui pemeriksaan HbsAg, tetapi terkadang kadarnya


terlalu rendah untuk dapat dideteksi sehingga memerlukan pemeriksaan IgM anti-HBc. Kadar
HbsAg tidak berhubungan dengan berat dari penyakit., bahkan terdapat tendensi terdapat
hubungan terbalik antara kadar HbsAg dan kerusakan hati. Pertanda lain yang penting untuk
infeksi hepatitis B ini adalah HbeAg. Pemeriksaan yang lebih baik lagi adalah HBV DNA yang
merupakan indikasi adanya replikasi hepatitis B. Marker ini penting untuk follow up penderita
dengan hepatitis B dengan terapi kemoterapi antivirus (interferon atau lamivudine). Terdapat
hubungan antara peningkatan titer ini dengan derajat kerusakan hati.

Diagnosis hepatitis C melalui pemeriksaan anti-HCV pad a saat fase akut, tetapi akan
menghilang bersamaan dengan penyembuhan infeksi ini. Diangosis hepatitis D melalui
pemeriksaan anti-HDV, yang menunjukkan aktifnya hepatitis D. Tetapi positifnya pemeriksaan
ini sering sangat cepat, karena kada anti-HDV ini akan hilang bersamaan dengan menurunnya
kadar HbsAg. Pemeriksaan lain yang mendukung adalah adanya HDV RNA.

Diagnosis

Diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
berupa pemeriksaan serologi :

Transmisi melalui darah


1. HBV
Diagnosis serologis telah tersedia dengan mendeteksi keberadaan dari IgM antibodi
terhadap antigen core hepatitis (IgM anti HBc dan HbsAg)
Keduanya ada saat gejala muncul
HbsAg mendahului IgM anti HBc
HbsAg merupakan petanda yang pertama kali diperiksa secara rutin
HbsAg dapat menghilang biasanya dalam beberapa minggu sampai bulan setelah
kemunculannya, sebelum hilangnya IgM anti Hbc.

HbeAg dan HBV DNA :

HBV DNA di serum merupakan petanda yang pertama muncul, akan tetapi tidak
rutin diperiksa
HbeAg biasanya terdeteksi setelah kemunculan HbsAg
Kedua petanda tersebut menghilang dalam beberapa minggu atau bulan pada
infeksi yang sembuh sendiri selanjutnya akan muncul anti HBs dan anti Hbe
menetap
Tidak diperlukan lagi untuk diagnosis rutin

IgG anti HBc

Menggantikan IgM anti HBc pada infeksi yang sembuh


Membedakan infeksi lampau atau infeksi yang berlanjut
Tidak muncul pada pemberian vaksin HBV

Antibodi terhadap HbsAg (Anti Hbs)


Antibodi terakhir yang muncul
Merupakan antibodi penetral
Secara umum mengindikasikan kesembuhan dan kekebalan terhadap reinfeksi
Dimunculkan dengan vaksinasi HBV.
Gambar 6 : respon imun HBV akut

2. HCV
Diagnosis serologi
Deteksi anti HCV
Anti HCV dapat dideteksi pada 60% pasien selama masa akut dari penyakit, 35%
sisanya akan terdeteksi pada beberapa minggu atau bulan kemudian
Anti HCV tidak mungkin pada <5% paisen yang terinfeksi (pada pasien HIV, anti
HCV tidak muncul dalam presentase yang lebih besar)
Pemeriksaan IgM anti HCV dalam pengembangan belum disetujui FDA)
Secara umum anti HCV akan tetap terdeteksi untuk periode yang panjang, baik
pada pasien yang mengalami kesembuhan spontan maupun yang berlanjut
menjadi kronik
HCV RNA

Merupakan petanda yang paling awal muncul pada infeksi akut hepatitis C
Muncul setelah beberapa minggu terinfeksi
Pemeriksaan yang mahal, untuk mendiagnosis penyakit tidak rutin dilakukan,
kecuali pada keadaan dimana disurigai adanya infeksi pada pasien dengan anti
HVC negatif
Diemukan pada infeksi kronis HCV.1

Gambar 9 : (d) acute hepatitis C (e) Cronic hepatitis C


PERJALANAN ALAMIAH DAN OUTCOME

1. HBV
a. Resiko untuk kronisitas tergantung umur, menurun secara progresif dengan
meningkatnya umur
i. 90% infeksi pada neonatus akan berkembang menjadi karier
ii. 1-5% pasien dewasa akan berkembang menjadi kronik

b. Gagal hati akut pada < 1% infeksi akut

c. Infeksi persisten (HbsAg positif dengan atau tanpa replikasi aktif HBV)
i. Karier asimptomatik dengan gambaran histologi normal atau non-
spesifik
ii. Hepatitis kronis, sirosis, karsinoma hepatoseluller
iii. Dihubungkan dengan glomerulonefritis membranosa, poliarteritis
nodosa, dan yang lebih jarang krioglobulinemia campuran

2. HCV
a. 15-45% akan sembuh spontan
b. Kejadian akut sangat jarang dijumpai
c. Umumnya akan terjadi infeksi menetap dengan viremia yang memanjang dan
konsentrasi serum aminotransferase yang meningkat atau berfluktuasi
d. Histologi pada infeksi HCV persisten
i. Hepatitis kronik inflamasi ringan, sedang dan berat
ii. Porta, periporta, bridging fibrosis atau sirosis
e. Resiko untuk terjadinya karsinoma hepatoseluller pada pasien yang telah
mengalami sirosis.
Terdiri dari istirahat, diet dan pengobatan medikamentosa
1. Istirahat. Pada periode akut dan keadaan lemah diharuskan cukup istirahat. Istirahat
mutlak tidak terbukti dapat mempercepat penyembuhan. Kekecualian diberikan
kepada mereka dengan umur tua dan keadaan umum yang buruk
2. Diet. Jika pasien mual, tidak nafsu makan atau muntah-munta, sebaikmya diberikan
infus. Jika sudah tidak mual lagi, diberikan makanan yang cukup kalori (30 35
kalori/kgBB) dengan protein cukup (1 g/kgBB). Pemberian lemak sebenanrnya tidak
perlu dibatasi. Dulu ada kecendrungan untuk membatasi lemak, karena disamakan
dengan penyakit kandung empedu. Dapat diberikan diet hati II-III.

3. Medikamentosa
a. Kortikosteroid tidak diberikan bila untuk mempercepat penurunan bilirubin
darah. Kortikosteroid dapat digunakan pada kolestasis yang berkepanjangan,
dimana transaminase serum sudah kembali normal tetapi bilirubin masih
tinggi. Pada keadaan ini dapat diberikan prednison 3x10 mg selama 7 hari
kemudian dilakukan tapering off.
b. Berikan obat-obat yang bersifat melindungi hati
c. Antibiotik tidak perludiberikanjikatidakadaindikasi
d. Jangan diberikan antiemetik. Jika perlu sekali dapat siberikan golongan
fenotiazin
e. Vitamin K diberikan pada kasus dengan kecendrungan perdarahan. Bila
pasien dalam keadaan prekoma atau koma, penanganan seperti pada koma
hepatic
DAFTAR PUSTAKA

1. A.Sanityoso. Hepatitis Virus Akut. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi Keempat. Balai
Penerbit FKUI, Jakarta, 2007. 427-442.
2. Suwitra, Sanityoso, Andri. Hepatitis virus akut. buku ajar penyakit dalam. Ed IV Jilid I.
Jakarta :pusat penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2006
3. L.Kasper MD, Dennis. Acute viral hepatitis. Harrion's principles of internal medicine 16th
Edition. United States of America: McGraw Hill. 2005
4. Mansjoer A. Hepatitis akut. Kapita selekta kedokteran. Jakarta. 2000
5. Kuntz, Erwin dan Hans-Dieter Kuntz. Acute viral hepatitis. Hepatology principles and
practice. Germany : Springer Medizin Verlag Heidelberg. 2006