Anda di halaman 1dari 35

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Design sistem catu daya perangkat telekomunikasi

Sistem catu daya pada perangkat telekomunikasi di design untuk

bekerja 24 jam dalam sehari dan bekerja secara continuous (tidak berhenti)

sehingga dibutuhkan perencanaan berbagai sumber daya cadangan lainnya

seperti battery, generator set dan hydrogen fuel cell sebagai alternatif jika

sumber daya utama mengalami permasalahan atau sumber daya utama

tidak bekerja.

Design system catu daya konvensional hanya menggunakan PLN

sebagai main source dan battery sebagai backup power sehingga apabila

terjadi pemadaman PLN dalam kurun waktu yang lama dapat

mengakibatkan BTS akan kehilangan servicesnya. Gambar 3.1 ini adalah

flow chart sistem catu daya untuk mengantisipasi kegagalan pemadaman

PLN untuk kurun waktu yang cukup lama atau lebih dari 4 jam pada

perangkat telekomunikasi.

28
Gambar 3.1 Flow chart sistem catu daya perangkat telekomunikasi modern

Sistem catu daya modern telah banyak diimplementasikan pada

sebagian besar penyelenggara bisnis telekomunikasi karena lebih ekonomis

dan dapat ditempatkan di rural area secara remote. Dengan merujuk kepada

diagram flowchart di atas dapat dijelaskan secara detail sebagai berikut:

Point 1 dimulai dengan kondisi sumber catu daya utama dari PLN tidak

tersedia dan sistem mendeteksi keberadaan bahan bakar pembangkit

tenaga diesel seperti solar dan bensin.

Point 2 mendeteksi keberadaan bakar telah tersedia dan unit generator atau

engine dalam kondisi siap dioperasikan atau tidak.

29
Point 3 bahan bakar generator dan unit generator tersedia dan telah

beroperasi. Generator menghasilkan keluaran catu daya Alternating

Current (AC).

Point 4 menginformasikan bahwa output daya AC tersebut di konversi

menjadi sumber catu daya Direct Current (DC) oleh sebuah perangkat

rectifier.

Point 5 menginformasi bahwa selama proses 1 sampai dengan 5

berlangsung, restifier system memberikan catu daya DC ke beban berupa

perangkat BTS dan perangkat transmisi lainnya

Point 6 merupakan proses charging capasitor atau battery selama generator

unit beroperasi

Point 7 merupakan kondisi bahan bakar dan unit generator tidak siap untuk

beroperasi sehingga mencari alternatif sumber catu daya AC lainnya

seperti genset portable. jika ditemukan sumber catu daya AC lainnya maka

unit tersebut akan terintegrasi secara sistem untuk dikonversikan menjadi

sumber catu daya DC di perangkat rectifier.

Point 8 sistem mendeteksi tidak tersedia sumber catu daya AC lainnya

sehinggan secara automatis mendeteksi ketersediaan bahan bakar alternatif

lainnya seperti hydrogen

Point 9 sistem telah mendeteksi bahwa bahan bakar hydrogen tersedia dan

secara paralel mendeteksi kesiapan perangkat fuel cell untuk beroperasi

Point 10 menginformasikan bahwa unit fuel cell beroperasi dan

memberikan sumber catu daya DC ke beban dan melakukan proses

charging ke battery atau capasitor

30
Point 11 menginformasikan jika bahan bakar hydrogen tidak tersedia maka

sistem akan menginstruksikan battery atau capasitor untuk memberikan

catu daya DC sementara ke perangkat beban

Point 12 adalah catu daya sementara yang dihasilkan oleh battery atau

capasitor dengan design perencanaan yang telah ditentukan. Pada

umumnya, para penyelenggara bisnis telekomunikasi hanya mendesign

battery akan bekerja selama 4 jam saja.

Flowchart diatas merujuk kepada (1) United States Patent with

Patent No.: US 7,615,877 B2. Diagram flowchart diatas menggambarkan

secara keseluruhan sistem cadangan catu daya perangkat telekomunikasi

yang memiliki proteksi sumber daya listrik yang dihasilkan oleh battery,

generator system dan fuel cell system. Ketiga sumber daya cadangan

listrik tersebut bekerja berdasarkan urutan kerja yang telah ditentukan

sebelumnya yaitu pada saat perangkat catu daya kehilangan sumber catu

daya utama dari PLN, battery adalah perangkat catu daya cadangan yang

pertama kali beroperasi dan memberikan catuan ke beban. Pada masa

transisi selama kurang lebih 5 (lima) menit tersebut, generator melakukan

warming up dan siap menggantikan fungsi dari battery sebagai backup

power supply cadangan ke beban. Fuel cell bekerja jika generator

mengalami kendala dalam memberikan supply daya ke perangkat.

Gambaran secara visual mengenai design sistem catu daya perangkat

telekomunikasi dapat dilihat dari gambar 3.2

31
Gambar 3.2 Design visual sistem catu daya perangkat telekomunikasi modern

Penjelasan dari gambar 3.2 adalah sebagai berikut:

Sumber catu daya utama perangkat telekomunikasi di Indonesia

diperoleh dari PLN (21) berupa arus bolak balik atau alternating current

(AC) sebesar 220 volt. Saat catu daya PLN tidak tersedia atau outage.

Automatic Transfer Switch (ATS) atau switch otomatis (23)

menginstruksikan kepada generator untuk bekerja (24). Terdapat jeda

waktu atau delay proses perpindahan dari PLN ke Generator. Selama

delay waktu perpindahan PLN ke Generator, battery (32) memberikan

catu daya DC untuk sementara waktu ke beban BTS (32). Waktu yang

dibutuhkan untuk proses transisi dari PLN ke Generator diatur oleh timer

yang terdapat di perangkat ATS. Setelah waktu persiapan atau warming up

32
genset telah dipenuhi, genset beroperasi dan menghasilkan sumber catu

daya AC sebesar 220 volt. Sumber catu daya AC dari PLN atau

Generator tersebut diubah menjadi sumber daya DC pada perangkat

Rectifier (30) menjadi ouput tegangan DC 48 Vdc. Keluaran DC Rectifier

digunakan untuk memberikan catu daya ke beban dan pengisian

atau charging battery. Sumber daya Fuel Cell akan bekerja sebagai

back up system untuk mengantisipasi kegagalan back up power supply

dari generator set dan battery.

3.1.1 Cara kerja sistem catu daya perangkat telekomunikasi

Pemanfaatan dari jenis-jenis sumber catu daya perangkat

telekomunikasi dipilih berdasarkan topology dan hierarchy jaringan BTS.

Untuk BTS-BTS dengan topology dan hierarchy terrendah atau end site,

dibutuhkan kombinasi catu daya PLN dan battery. Untuk tipe BTS dengan

topology dan hierarchy yang lebih tinggi pada umumnya menggunakan

kombinasi catu daya dari PLN, battery dan generator. Sedangkan

kombinasi catu daya PLN, battery dan fuel cell digunakan untuk type

BTS dengan topology dan hierarchy yang sama dengan kombinasi PLN,

battery dan generator namun mengalami permasalahan yang serius

terhadap lingkungan seperti limbah pembakaran dan suara bising.

Perangkat rectifier untuk setiap kombinasi akan selalu disertakan

sesuai dengan fungsinya untuk mengubah arus bolak balik atau

Alternating Current (AC) menjadi arus searah atau Direct Current (DC).

33
3.1.2 Cara kerja catu daya kombinasi PLN dan Battery

Pemanfaatan PLN dan Battery sebagai catu daya perangkat

telekomunikasi adalah kombinasi yang paling ekonomis dengan tetap

menjaga performansi BTS untuk tetap beroperasi saat terjadi pemadaman

PLN. Gambar 3.3 merupakan skema diagram dan cara kerja pemanfaatan

catu daya dari PLN, Battery dan Rectifier.

Gambar 3.3 Cara kerja kombinasi PLN, Battery dan rectifier untuk catu daya

Perangkat telekomunikasi

Diagram di atas merupakan skema cara kerja dari sistem catu daya

telekomuikasi dengan menggunakan sumber catu daya dari PLN dan

Battery. Rectifier disini berfungsi sebagai pengubah sumber catu daya arus

34
bolak balik atau Alternating Current (AC) menjadi arus searah atau Direct

Current (DC). Gambar 3.3 diambil dari User's Guide Product Rectifier

Flatpack2 Power System. Cara kerja dari sistem kombinasi PLN, Battery

dan rectifier dari gambar 3.1.2.1.1 adalah sebagai berikut:

Fungsi kontrol tegangan masukan dari PLN terdapat pada Smartpack

Control Unit (1) yang mendeteksi keberadaan tegangan dari PLN. untuk

kondisi dimana tegangan PLN tersedia (2) atau switch ON, Flatpack2

rectifier modules (3) mengubah arus bolak balik menjadi arus searah. Arus

keluaran dari rectifier module tersebut terdistribusi ke beban perangkat

BTS (9) dan melakukan pengisian battery atau charging battery (4).

Untuk kondisi dimana arus PLN tidak tersedia, battery (4) akan

memberikan catu daya ke perangkat telakomunikasi untuk sementara

waktu. keluaran arus dc akan mengalir dari battery (4) melalui fuse

(5). Besaran fuse yang terpasang harus sesuai dengan kebutuhan daya

yang dibutuhkan oleh beban perangkat telekomunikasi. Terdapat dua

jenis contactor yang terdapat pada sistem rectifier flatpack2 yaitu

contactor jenis Low Voltage Battery Disconnect (LVBD) (6) dan Low

Voltage Load Disconnect (LVLD) (7). Jenis beban perangkat yang

terhubung pada contactor jenis LVBD yaitu beban perangkat transmisi

dan beban perangkat yang terhubung pada contactor jenis BLVD

yaitu beban perangkat BTS.

35
3.1.3 Cara kerja catu daya kombinasi PLN, Battery dan Generator Diesel

Kombinasi jenis catu daya PLN, Battery, Generator dan Rectifier

memungkinkan untuk memberikan catu daya kepada perangkat

telekomunikasi lebih dari 24 (dua puluh empat) jam jika terjadi pemutusan

catu daya PLN sehingga banyak digunakan oleh penyelenggara

telekomunikasi di Indonesia pada BTS-BTS dengan tingkat urgensi yang

lebih tinggi seperti BTS dengan transmission dependency lebih dari 20

sites.

Gambar 3.4 merupakan skema cara kerja sistem kombinasi catu daya

perangkat telekomunikasi yang terdiri dari sumber catu daya PLN, battery,

generator dan rectifier.

Gambar 3.4 Cara kerja kombinasi PLN, Battery, Generator dan Rectifier untuk

catu daya perangkat telekomunikasi

36
Berikut ini adalah cara kerja dari gambar 3.4:

Sumber catu daya arus bolak balik dihasilkan oleh PLN (1) dan

Generator (2). Pemilihan sumber catu daya arus bolak balik utama PLN

(1) dan cadangan Generator (2) ditentukan oleh sebuah perangkat

Automatic Transfer Switch (ATS) yang merupakan bagian dari blok AC

Distribution Unit (ADU) (3). Module ATS yang akan digunakan adalah

DSE 4120 seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.5

Gambar 3.5 Module ATS Deep Sea 4120 yang digunakan sebagai switch

automatis PLN dan Genset

Keluaran arus bolak balik dari blok AC Distribution Unit (ADU)

(3) diubah menjadi arus searah oleh perangkat rectifier (4). Seluruh

informasi berupa indikator alarm dan instruksi yang dibutuhkan dari

keluaran arus searah dan bolak balik pada ADU dan dari perangkat

rectifier di kontrol oleh Control Supervisory Unit (CSU) (5). Keluaran arus

searah terdistribusi ke beban perangkat (9) dan battery (7) melalui blok

37
Output DC Distribution Unit (6). Komponen elektronik yang terdapat

pada blok Output DC Distribution Unit berupa DC bus bar dan Miniature

Circuit Breaker (MCB). Sedangkan blok Low Voltage Disconnections

(LVDs) berupa komponen contactor yang berfungsi untuk memisahkan

beban perangkat DC sesuai dengan design yang diinginkan.

3.1.4 Cara kerja catu daya kombinasi PLN, Battery dan Fuel Cell

Kombinasi sumber catu daya PLN, Battery, Fuel Cell dan Rectifier

telah banyak diimplementasikan oleh penyelengga telekomunikasi di

Indonesia untuk mengatasi berbagai permasalahan yang timbul seiring

dengan permintaan dunia terhadap program green power. Kombinasi jenis

ini telah terbukti mengurangi jumlah emisi yang dihasilkan oleh jenis

bahan bakar fosil dan mengurangi suara bising yang dihasilkan oleh

generator. Desain dan cara kerja sistem catu daya tersebut dapat

diterangkan dalam gambar 3.6

38
Gambar 3.6 Cara Kerja Perangkat PLN- Battery-Fuel cell-Battery dan Rectifier

Berikut ini adalah cara kerja sistem catu daya dengan mengkombinasikan

catu daya utama PLN, battery, fuel cell dan rectifer:

Sumber catu daya utama diperoleh dari PLN (point 1) yang terukur

besaran arus bolak baliknya pada perangkat KWH meter (point 2).

Masukan arus bolak balik tersebut terhubung pada sebuah panel distribusi

(point 3).

Perangkat rectifier (point 4) merupakan suatu alat yang berfungsi untuk

mengubah arus bolak balik menjadi arus searah.

Untuk kasus terjadi pemutusan hubungan PLN, battery (point 5) berfungsi

sebagai sumber arus cadangan ke beban perangkat BTS (point 9)

Selama masa transisi perpindahan catu daya dari keluaran rectifier ke

keluaran catu daya dari perangkat fuel cell (6). Bus bar (7) merupakan

interface berupa plat tembaga yang berfungsi untuk mendistribusikan

keluaran catu daya rectifier atau battery atau fuel cell ke beban perangkat

BTS.

3.2 Total Cost Ownership (TCO) Analysis dan Metode Pengumpulan Data

Data dan informasi terpenting yang dibutuhkan untuk keperluan

perhitungan analisis Total Cost Ownership adalah data berikut ini:

Biaya pembelian unit sumber catu daya alternatif

Biaya preventive dan corrective maintenance terhadap unit sumber

catu daya alternatif

Biaya operational harian seperti biaya pembelian bahan bakar

39
Biaya instalasi dan infrastruktur pendukung

Data dan informasi Mean Time Between Failure (MTBF) unit sumber

catu daya alternatif

Sebelum pehitungan Total Cost Ownership dimulai, semua informasi dan

data teknik dikumpulkan dan diolah dengan menggunakan urutan kerja yang

terdapat dalam flow chart gambar 3.7 berikut ini.

Gambar 3.7 Flow Chart Data Teknis dan Pengambilan Keputusan Dalam TCO

Analysis

40
Data teknik yang dipergunakan pada sebagian besar

penyelenggara bisnis industri telekomuikasi dalam merancang sistem catu

daya pada perangkat elektronik di sebuah unit Base Transceiver Station

(BTS) yaitu menggunakan data perkiraan konsumsi beban DC seperti

perangkat radio dan transmisi dan perkiraan konsumsi beban AC seperti

lampu penerangan, Air Conditioning dan lain sebaginya.

Untuk memperoleh hasil perancangan sistem catu daya yang lebih

akurat, perkiraan konsumsi beban AC dan DC saja tidak cukup sehingga

dibutuhkan data-data pendukung lainnya yaitu data statistik ketersediaan

sumber daya listrik dari PLN di lokasi tersebut. Sedangkan data kondisi

geografis, dan perkiraan jumlah pelanggan dapat digunakan sebagai

data pelengkap. Data informasi pemadaman PLN ini dibutuhkan untuk

menentukan jenis sumber catu daya yang sesuai dengan kebutuhannya.

3.2.1 Pengumpulan Data Ketersediaan Sumber Daya Listrik PLN dan TCO

Analysis

Data dan informasi mengenai ketersediaan sumber daya listrik dari

PLN ini dapat diperoleh melalui tahapan sebagai berikut :

Survey keberadaan sumber daya listrik PLN

Informasi mengenai keberadaan sumber daya listrik PLN dapat diperoleh

secera akurat setelah dilakukan pekerjaan survey lapangan yang

dilakukan oleh petugas PLN setempat. Adalah data pendukung yang

diperoleh adalah sebagai berikut:

41
i) Tegangan ujung masing-masing phasa.

Dari hasil pengukuran tegangan ujung tiang diperoleh

informasi mengenai besarnya tegangan yang dapat

dimanfaatkan untuk memberikan sumber daya listrik

ke perangkat. Tegangan yang direkomendasikan yaitu

sebesar 220 volt.

ii) Data Gardu

Data gardu memberikan informasi mengenai kapasitas

gardu distribusi, beban gardu distribusi dan persentase

trafo. Presentasi trafo yang direkomendasikan adalah

kurang dari 80 (delapan puluh) persen dari kapasitas gardu

distribusi.

iii) Pengukuran Gardu

Berfungsi untuk mengetahui kondisi actual ketersediaan

sumber daya listrik beserta kemungkinan terhadap

penambahan daya. Analisa pengukuran gardu ini

akan menjawab mengenai persetujuan pemasangan jaringan

listrik di lokasi tersebut.

Data historis tentang informasi kontinuitas pasokan sumber daya

listrik dari PLN

Data historis tersebut dapat diperoleh dari

Networkadministrator mengawasi, memantau dan mengamankan

jaringan komunikasi. Setiap penyelenggara bisnis telekomunikasi

42
memiliki NOC yaitu berupa sebuah ruangan yang berisi

visualisasi dari jaringan atau jaringan yang sedang

dipantau. Pada beberapa penyelenggara bisnis telekomunikasi

NOC sering juga disebut sebagai Network Management

System (NMS) yang berfungsi untuk melakukan konfigurasi

management, fault management, performance management,

security management dan audit.

Penjelasan masing-masing fungsi NMS adalah sebagai berikut :

(1) Konfigurasi management adalah pengaturan jaringan berupa

penambahan atau pengurangan objek, penambahan atau

pengurangan jumlah saluran, perubahan topology dan design yang

dilakukan terhadap jaringan yang ada ataupun jaringan yang

akan dibuat.

Fault management adalah pengaturan jaringan berupa proses

deteksi kesalahan di objek maupun di jaringan tersebut yang

diinformasikan dalam bentuk alarm ataupun peringatan yang

disampaikan oleh sistem dan telah diatur prosesnya.

ii) Performance Management adalah pengaturan jaringan berupa

monitoring kinerja dari objek maupun jaringan dalam rentang

waktu tertentu maupun pada saat jaringan beroperational.

iii) Security management adalah pengaturan jaringan berupa sistem

keamanan dalam mengakses jaringan sehingga jaringan

tersebut aman dari pengguna yang tidak bertanggung jawab.

43
iv) Audit adalah proses memeriksa jaringan apakah sesuai dengan

standar yang telah ditentukan.

Untuk melakukan perencanaan bisnis sistem catu daya perangkat

telekomunikasi dengan Total Cost Ownership (TCO), data yang

dibutuhkan adalah informasi mengenai fault management dan

performance management. Berikut ini adalah ilustrasi data fault

management yang diperoleh dari NOC untuk perencanaan

sistem datu daya:

Tabel 3.1 Data historis jumlah pemadamam PLN per site basis

Dari data ilustrasi data historis kontinuitas sumber listrik PLN diatas,

berikut ini adalah keterangan dari masing-masing kolom:

a) Site ID atau Site Identity adalah penomoran identik untuk setiap BTS dan

bersifat unik.

b) Total Rata-Rata PLN Outage adalah jumlah rata-rata pemadaman listrik

PLN dalam kurun waktu satu bulan dan dalam satuan menit.

44
c) Total Maksimum PLN Outage adalah jumlah waktu terlama terjadi

pemadaman listrik PLN dalam kurun waktu satu bulan dan dalam satuan

menit.

d) Total Jumlah Kejadian PLN Outage adalah jumlah dari setiap kejadian

pemadaman PLN dalam kurun waktu satu bulan

3.2.2 Pengumpulan data beban daya perangkat dan TCO Analysis

Pada system BTS terdiri dari berbagai sub unit perangkat yang

terinstal. Pada umumnya beban listrik perangkat yang terinstal adalah

perangkat radio dan perangkat transmisi. Selain dua perangkat penting

diatas, Air Conditioning dan lampu penerangan perlu juga untuk

diperhitungkan untuk perhitungan dengan metode TCO.

Berikut ini adalah informasi beban perangkat telekomunikasi pada BTS.

Beban perangkat radio dan transmisi.

Data pada table dibawah ini merupakan beban perangkat jenis-jenis BTS

dan Transmisi yang dipergunakan pada PT. Hutchison 3 Indonesia

(PT.H3I) yang diperoleh dari produsen-produsen terbesar perangkat BTS

seperti PT. NSN, PT. Huawei dan PT. ZTE. Ditentukan dengan

konfigurasi BTS 2G dengan kapasitas 2/2/2 TRX.

45
Tabel 3.2 Perhitungan data beban perangkat radio dan transmisi

Beban perangkat Air Conditioner (AC), listrik penerangan dan lainnya

Air Conditioner (AC) merupakan sistem yang dirancang untuk

menstabilkan suhu dan kelembaban pada perangkat telekomunikasi.

Perangkat telekomunikasi seperti BTS dan Transmisi membutuhkan suhu

yang stabil yaitu antara 18 derajat celcius sampai dengan 24 derajat

celcius.

Terdapat tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan kebutuhan

AC yaitu:

a) Daya Pendingin AC atau BTUh (British Thermal Unit per hour

46
b) Daya Listrik (watt)

c) PK (Paard Kracht)

Sebagian besar dari kita lebih mengenal istilah PK pada AC. PK

adalah satuan daya pada kompresor AC dan bukan daya pendingin

pada AC.

Berikut ini adalahadalah daya pendingin AC berdasarkan PK AC:

AC 1/2 PK = 5,000 BTU/h

AC 3/4 PK = 7,000 BTU/h

AC 1 PK = 9,000 BTU/h

AC 1 1/2 PK = 12,000 BTU/h

AC 2 PK = 18,000 BTU/h

Sehingga untuk menghitung konversi daya pendingain terhadap BTUh dan

PK adalah sebagai berikut:

1 kW = 3,412.14 BTUh

1 PK = 9,000 BTUh

1 PK = 2,64 kW

BTUh = [(Panjang Ruangan (m) x Lebar Ruangan (m) x Tinggi Ruangan

(m))/3] x 500

Apabila pada suatu lokasi BTS terdapat ruangan dengan ukuran lebar 3

meter, panjang 4 meter dan tinggi 3 meter maka dibutuhkan AC dengan

kapasitas sebagai berikut:

Kapasitas AC = [(4x3x3)/3] x 500

= 6000 BTUh

47
Maka setelah dicocokkan dengan spoiler diatas maka angka tersebut

berada diantara 5000 BTUh dan 7000 BTUh, AC yang dapat digunakan

adalah AC dengan kapasitas 1/2 PK atau 3/4 PK. Agar AC tidak bekerja

terlalu berat disarankan untuk menggunakan AC dengan kapasitas 3/4 PK

dan konsumsi dayanya adalah 1,98 kW atau 9 Ampere.

Untuk menjaga agar tidak terjadi kerusakan perangkat karena AC,

pada umumnya dibutuhkan sebanyak 2 buah AC yang berfungsi secara

bergantian.

Untuk perancangan lampu penerangan dan kebutuhan lainnya

dicadangkan daya 1500 watt. sehingga total daya yang digunakan untuk

keperluan AC dan penerangan adalah sebagai berikut :

Total Daya = (2 x Daya AC) + 1500 watt

= (2 x 1,980) + 1500

= 5460

Namun karena sebagian besar lokasi BTS milik PT. H3I tidak memiliki

ruangan atau site outdoor maka kebutuhan AC dapat diabaikan.

3.2.3 Pengumpulan data traffic BTS dan TCO Analysis

Data traffic BTS merupakan data penunjang yang digunakan dalam

perancangan sistem catu daya listrik pada perangkat telekomunikasi yang

berfungsi untuk memprediksi beban BTS.

48
Tabel. 3.3 Data Traffic BTS

Hingga saat ini perencanaan beban BTS masih menggunakan

pendekatan seperti yang telah dijelaskan dalam sub bab 3.1.2 mengenai

beban perangkat BTS dan sarana penunjang lainnya. Pada design awal

konfigurasi BTS pada umumnya menggunakan konfigurasi BTS 2/2/2,

49
artinya dibutuhkan 2 modul TRX pada setiap sektornya. Contoh diatas

yaitu menggunakan tiga sector.

3.3 Data Penunjang dan Spesifikasi Teknis Perangkat Dalam TCO

Analysis

Jenis dan ragam dari perangkat catu daya listrik yang ada di

pasaran sangat bervariasi dan sangat mempengaruhi terhadap harga dan

kulitas dari masing-masing perangkat tersebut namun dalam analisa bisnis

ini. Pemilihan jenis perangkat catu daya listrik ini disesuaikan dengan

beberapa kriteria teknis dan tentunya tetap mempertimbangkan aspek

bisnis. Aspek bisnis yang dipertimbangkan adalah mendapatkan jenis

perangkat catu daya dengan harga yang murah dan dapat dipergunakan

secara maksimal sesuai dengan perhitungan Total Cost Ownership-nya.

Didalam perhitungan bisnis dikenal dua komponen dasar dalam belanja

usaha dengan keterangan sebagai berikut:

a) CAPEX atau modal belanja awal adalah biaya bisnis yang

dikeluarkan untuk memperoleh manfaat atau keuntungan berupa

akuisisi aset yang akan memiliki manfaat dalam kurun waktu

tertentu melebihi pajak tahunannya.

b) OPEX atau Operational Expenditure adalah biaya yang diperlukan

untuk keperluan operational dan rutin

c) Net Present Value (NPV) atau Nilai Bersih Saat ini adalah istilah dalam

sistim keuangan yang digunakan untuk menentukan anggaran biaya

terhadap pembelian suatu produk atau barang yang telah diukur dalam

50
jangka waktu panjang atau sudah ditentukan waktunya. NPV sendiri dapat

didefinisikan sebagai jumlah nilai sekarang dari arus kas individu dari

entitas yang sama. NPV dapat digambarkan sebagai perbedaan jumlah

antara jumlah potongan arus kas masuk dan arus kas keluar. Dibutuhkan

untuk membandingkan nilai sekarang dari uang hari ini terhadap

nilai uang untuk masa yang akan datang dengan mengambil nilai inflasi

mata uang.

3.3.1 Spesifikasi teknis perangkat PLN dan investasi bisnis dengan

perhitungan TCO

Besarnya nominal catu daya PLN yang dibutuhkan untuk

memberikan pasokan listrik ke beban perangkat telekomunikasi harus

dapat memenuhi kriteria sebagai berikut:

a) Stabilitasi tegangan sebesar 220 volt +/- 10%

b) Memiliki tahanan grounding maksimal sebesar 1 (satu ohm)

c) Mampu memberikan pasokan daya ke perangkat sebesar 2000 watt

d) Mampu memberikan pasokan daya ke perangkat AC dan

penerangan sebesar 3640 watt

e) Total daya yang dibutuhkan dari sumber listrik PLN adalah 5640

watt.

Dari data diatas, besarnya investasi pengadaan sumber daya dari PLN

sebesar 7700 Volt Ampere adalah sebagai berikut:

51
a) Biaya CAPEX pengadaan jaringan PLN sebesar Rp. 29,807,800

(dua puluh sembilan juta delapan ratus tujuh ribu delapan ratus

rupiah).

Tabel 3.4 Biaya investasi PLN kapasitas 6600 watt dan 7700 watt

b) Biaya OPEX terhadap pemakaian listrik setiap bulannya adalah sebagai

berikut:

Total biaya = ((meter PLN tertera*720)/1000)* 1550

Apabila asumsi biaya maksimum di meter PLN tertera sebesar 7700

setaip bulannya maka biaya yang harus disediakan sebesar Rp.

8,593,000.00 (delapan juta lima ratur sembilan puluh tiga ribu rupiah)

setiap bulannya

3.3.2 Spesifikasi teknis perangkat rectifier dan investasi bisnis dengan

perhitungan TCO

Rectifier adalah perangkat utama dalam sistem catu daya perangkat

telekomunikasi. Fungsi rectifier adalah mengubah tegangan alternating

current (AC) yang berasal dari PLN ataupun generator diesel menjadi

52
tegangan direct current (DC). Tegangan DC ini merupakan tegangan input

bagi seluruh perangkat beban perangkat telekomunikasi.

Tabel 3.5 Spesifikasi teknis jenis rectifier yang akan dipergunakan pengubah arus

bolak balik yang bersumber dari PLN atau genset ke arus searah.

Sesuai dengan batasan masalah yang telah ditentukan pada Bab.1

sebelumnya, daya yang dibutuhkan sebesar 2000 watt DC. Sehingga

dibutuhkan rectifier module sebanyak 5 module.

Investasi bisnis yang dibutuhkan untuk pengadaan satu unit rectifier

dengan kapasitas sebesar 2000 watt adalah sebagai berikut:

53
a) Biaya Capital Expenditure (CAPEX) adalah pembelian unit rectifier baru

termasuk biaya instalasinya adalah 4,296.00 (empat ribu dua ratus

sembilan puluh enam ribu) dollar Amerika Serikat.

b) Biaya Operational Expenditure (OPEX) adalah biaya yang dibutuhkan

untuk pekerjaan operational harian yang meliputi:

Tidak dibutuhkan biaya perawatan dan operational untuk perangkat

rectifier

3.3.3 Spesifikasi teknis perangkat battery dan investasi bisnis dengan

perhitungan TCO

Pada perancangan sistem catu daya perangkat telekomunikasi,

battery difungsikan sebagai sumber daya tenaga listrik cadangan atau

power storage. Battery akan bekerja saat sumber daya utama dari PT.

PLN tidak tersedia dalam kurun waktu tertentu. Adapun rentang waktu

battery beroperational ditentukan selama 4 jam dalam satu hari. Design

pemilihan jenis dan kapasitas battery disesuaikan dengan perhitungan

Total Cost Owneship selama 5 (lima) tahun.

54
Tabel 3.6 Spesifikasi teknis jenis battery yang akan dipergunakan

Tabel 3.6 diatas merupakan standar spesifikasi perangkat battery yang

dipergunakan pada bisnis telekomunikasi.

Selain spesifikasi standar diatas, beberapa parameter yang dibutuhkan lainnya

yaitu:

1. Open Circuit

a) Ketahanan battery VLRA untuk memberikan backup dc power

akan menurun secara perlahan pada kondisi open sirkuit karena

terjadi pengosongan (self-discharge).

55
b) Pada battery type monolith, pengosongan kapasitas battery saat

self-discharge sebesar +/- 2% per bulan pada suhu 20C

c) Disarankan untuk melakukan charging ulang battery ketika open

circuit saat tegangan telah mencapau 2.10 vpc atau setiop enam

bulan sekali.

d) Akan terjadi kerusakan kapsitas permanen battery apabila tidak

dilakukan pengisian ulang secara berkala.

2. Cycle Life

Yaitu jumlah cycle charge dan discharge dari sebuah battery.

Sebuah battery dipertimbangkan untuk tidak dipergunakan lagi jika nominl

kapasitasnya kurang dari 80 persen. Selain dipengaruhi oleh banyaknya

proses charge dan discharge, cycle juga dipengaruhi oleh setting depth-of-

discharge (DoD) pada setiap battery yang dipergunakan. Pada umumnya,

setting DoD pada battery perangkat telekomunikasi yaitu sebesar 40

persen

3. Depth of Discharge

Depth of discharge (DoD) adalah metode alternatif yang

mengindikasikan batery dalam keadaan charging atau State of Charging

(SoC). DoD merupakan komplemen dari SOC dimana saat unit SOC

menunjukan point presentasi sebesar 100% (kondisi penuh) maka unit

DoD menjadi 0% (kondisi penuh). DoD dapat juga disebut sebagai

jumlah Ampere-Hour (AH) selama waktu discharge dibagi kapasitas real

battery atau dapat ditentukan oleh persamaan berikut :

DOD = Dischage AH / Real Capacity dari data sheet.

56
Tabel 3.7 merupakan cycle life terhadap Depth of Discharge yang terdapat pada

battery dengan merk Narada 12 NDF100.

Tabel 3.7 Perbandingan cycle life battery terhadap Depth of Discharge

Investasi bisnis yang dibutuhkan untuk pengadaan perangkat battery yang dapat

memberikan cadangan daya selama 4 jam untuk beban 2000 watt adalah sebagai

berikut:

a) Biaya Capital Expenditure (CAPEX) adalah pembelian unit battery baru

yang dapat memberikan cadangan power supply selama 4 jam adalah 300

AH dengan estimasi investasi biaya sebesar 2,580.00 (dua ribu lima ratus

delapan puluh ribu) dollar Amerika Serikat atau 860 (delapas ratus enam

puluh) dollar amerika serikat untuk 1 bank kapasitas 100 AH.

57
b) Dengan asumsi terjadi pemadaman PLN setiap hari selama 4 jam,

dibutuhkan analisa DoD terhadap cycle life. Dari tabel 3.2.2.2, dengan

DoD sebesar 65% diperkirakan jumlah cycle lifenya 650 kali

Sehingga formula penggantian batter adalah:

Perhitungan battery back up = (300 AH/40 Ampere) x 0.65

= 4.87 jam

Dengan menggunakan pendekatan, jika setiap hari terjadi pemadaman

PLN sebanyak satu kali dengan waktu 4.87 jam maka jadwal penggantian

battery dilakukan setiap dua tahun sekali. Setiap dua tahun dibutuhkan

biaya pembelian battery sebesar 2,580.00 dollar Amerika Serikat.

c) Tidak terdapat biaya operational harian untuk perangkat battery

3.3.4 Spesifikasi teknis perangkat generator diesel dan investasi bisnis

dengan perhitungan TCO

Genset merupakan salah satu sumber catu daya perangkat yang

biasa digunakan untuk menghasilkan sumber catu daya listrik Alternating

Current (AC) pada perangkat telekomunikasi. Genset dapat difungsikan

untuk sumber catu daya utama dan cadangan namun pada umumnya

difungsikan sebagai catu daya cadangan karena biaya operational yang

cukup tinggi. Salah satu faktor penyebabnya adalah harga bahan bakar

yang setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan harga.

58
Tabel 3.8 Spesifikasi teknis perangkat genset yang digunakan:

Biaya investasi yang dibutuhkan untuk pengadaan genset baru 8 KVA merk

Denyo terbagi kedalam katagori sebagai berikut:

Biaya Capital Expenditure (CAPEX) adalah pembelian unit genset

baru termasuk biaya instalasinya adalah 16,000.00 (enam belas

ribu) dollar Amerika Serikat.

Biaya Operational Expenditure (OPEX) adalah biaya yang

dibutuhkan untuk pekerjaan operational harian yang meliputi:

59
a) Biaya perawatan sebesar Rp. 900,000.00 disetiap bulan

b) Biaya penggantian Spare Part sebesar Rp. 3,000,000 untuk setiap

12 bulan

c) Biaya pembelian bahan bakar sebesar Rp. 16,000.00 per liter

d) Biaya overhaul genset sebesar Rp. 30,000,000 untuk setiap 5000

jam kerja genset.

e) Konsumsi bahan bakar genset untuk setiap waktunya dapat

dilakukan dengan perhitungan empiris dengan 80% (delapan puluh

persen) beban maksimum sebagai berikut:

Konsumsi bahan bakar = (0.21 x kapasitas genset)/1000

3.3.5 Spesifikasi teknis perangkat fuel cell dan investasi bisnis dengan

perhitungan TCO

Hydrogen Fuel Cell (HFC) adalah salah satu sumber catu daya

perangkat telekomunikasi. Hanya beberapa penyelenggara bisnis

telekomunikasi di Indonesia yang telah menggunakan teknologi fuel cell

sebagai sumber catu daya cadangan. Salah satunya adalah PT. Hutchison 3

Indonesia.

Keunggulan perangkat HFC ini yaitu keluaran daya yang sudah

dalam bentuk Direct Current sehingga dalam implementasinya dapat

ditempatkan sebagai pengganti battery. Keunggulan lainnya yaitu tidak

mengeluarkan suara bising dan ramah lingkungan (tidak ada emisi).

Adapun kelemahan dari perangkat HFC ini adalah keterbatasan

60
penyediaan bahan bakar sehingga harga bahan bakar menjadi tinggi

karena bahan bakar tersebut hanya tersedia di Jakarta.

Tabel 3.9 Spesifikasi teknis perangkat Hydrogen Fuel Cell:

Biaya investasi yang dibutuhkan untuk pengadaan perangkat Hydrogen

Fuel Cell dengan kapasitas 2500 watt terbagi kedalam dua katagori sebagai

berikut:

Biaya Capital Expenditure (CAPEX) adalah pembelian unit HFC termasuk

biaya instalasinya adalah 16,000.00 (enam belas ribu) dollar Amerika

Serikat.

Biaya Operational Expenditure (OPEX) adalah biaya yang dibutuhkan

untuk pekerjaan operational harian yang meliputi:

61
a) Biaya perawatan sebesar 125 dollar Amerika Serikat disetiap

bulannya

b) Biaya penggantian Spare Part sebesar 8125 dollar Amerika Serikat

setiap tahunnya

c) Biaya pembelian bahan bakar sebesar Rp. 250,000.00 per tabung

dimana dalam satu tabung terdapat 7 Nm Hydrogen.

62