Anda di halaman 1dari 8

KAJIAN AUDIT KESELAMATAN JALAN RAYA KAPONGAN

KABUPATEN SITUBONDO

Muh. Yusuf Usman*1, Harnen Sulistio2, Sobri Abusini2


1
Mahasiswa / Program Magister / Jurusan Teknik Sipil / Fakultas Teknik
Universitas Brawijaya
2
Dosen / Universitas Brawijaya
Jl. MT. Haryono No. 167 Malang, 65145, Jawa Timur
Korespondensi: myusuf_2003@yahoo.co.id

ABSTRAK

Kecelakaan lalu lintas di jalan raya pada dekade 10 tahun terakhir telah sangat memprihatinkan. Tidak pernah
satu hari terlewatkan tanpa adanya kecelakaan.Kabupaten Situbondo merupakan salah satu kabupaten di
Provinsi Jawa Timur, yang terletak di pesisir pantai utara pulau Jawa dan merupakan jalur penghubung
provinsi yang sering kita kenal jalur pantura (Pantai Utara). Kepadatan volume lalu lintas di dikarenakan
banyaknya kendaraan barang ataupun kendaraan penumpang umum seperti bus AKAP atau AKDP yang
melewati jalur tersebut. Meningkatnya volume lalu lintas ini merupakan faktor penyebab meningkatnya
tingkat kecelakaan di kabupaten Situbondo.Dari hasil analisis-analisis yang telah dilakukan dalam penelitian
ini terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan kesimpulan, antara lain trend kecelakaan terbanyak,
kecelakaan dalam rentang waktu 5 tahun berfluktuasi, terjadi pada tahun 2012 mencapai 517 kejadian. Dari
hasil pelaksanaan Audit Keselamatan Jalan, pada STA 200+300 marka jalan sudah mengelupas, hilang,
sehingga perlu dilakukan pengecatan ulang serta masih banyak obyek pinggir jalan yang berbahaya
(Roadside Hazardous Object) seperti tiang lampu penerangan jalan, tiang rambu lalu lintas, dan pepohonan.
Rekomendai penanganan pada lokasi studi yaitu sebelum memasuki tikungan simpang pasar (STA 200+300)
perlu dipasang alat pengendali kecepatan (speed humb) dan rambu peringatan.

Kata kunci : Audit keselamatan jalan, blackspot, kecelakaan, accident rate, kapongan

1. PENDAHULUAN yakni kendaraan itu sendiri yang dinilai


Kecelakaan lalu-lintas merupakan layak untuk dikendarai. Angka kecelakaan
indikator utama tingkat keselamatan jalan (accident rate) merupakan jumlah
raya.Kecelakaan lalu lintas di jalan raya kecelakaan yang terjadi pada suatu ruas
pada dekade 10 tahun terakhir telah sangat atau seksi jalan selama periode tertentu
memprihatinkan. Tidak pernah satu hari yang ditinjau berdasarkan panjang jalan dan
terlewatkan tanpa adanya kecelakaan. volume lalu-lintas yang melewati ruas
Jumlah kecelakaan lalulintas di jalan raya tersebut. Untuk mengurangi tingkat
yang berakibat fatal di Indonesia berkisar kecelakaan diperlukan penanganan khusus
di atas 27.000, dan dengan korban seperti perbaikan prasarana dan sarana serta
meninggal berkisar diatas 8.000 orang penyuluhan terhadap pengendara agar
(Dirlantas Polri, 2011), ini berarti tingkat kecelakaan di jalan raya bisa di
menunjukkan bahwa sekurang kurangnya kurangi.
20 jiwa melayang setiap harinya di jalan Kecelakaan di jalur Pantura (Pantai
raya. Utara) sangatlah tinggi dari jumlah kualitas
Dengan melihat besarnya jumlah dan kuantitas yang ada. Kendaraan yang
kecelakaan yang ada di Indonesia sering mengalami kecelakaan lalu lintas
keselamatan jalan harus dipandang secara adalah kendaraan sepeda motor. Dari data
komprehensif dari semua aspek. Dari aspek Satlantas Polresta Situbondo menyebutkan,
prasarana (seperti jalan) dan sarananya bahwa kecelakaan sepeda motor

JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 8, No.3 2014 ISSN 1978 - 5658 221
mendominasi jumlah peristiwa laka di jalur Data yang diperoleh di lapangan yang
ini, di urutan kedua bus dan kendaraan berupa data geometrik jalan dan
berat. Kurangnya rambu jalan serta persimpangan serta data lalu lintas lainnya
penerangan jalan pada malam hari ,dipersentasikan dalam bentuk gambar,
merupakan salah satu faktor penyebab tabel dan grafik untuk kemudian di evaluasi
tingginya kecelakaan di jalur ini. Perlu terhadap kondisi awal (kondisi eksisting,
adanya program aksi dari pihak terkait dengan standart atau ketentuan yang
dengan cara melakukan audit keselamatan berlaku guna selanjutnya di usulkan
jalan pada daerah black spot (rawan sebagai bahan masukan kepada pihak
kecelakaan) di Kabupaten Situbondo yang terkait dalam pembinanan jalan dan
berpotensi menimbulkan kecelakaan. pemakai jalan lainnya.
Penelitian ini mempunyai beberapa Gambaran dari kerangka konsep
tujuan, antara lain: penelitian diperlihatkan pada Gambar 1.
1. Mengetahui karekteristik kecelakaan
lalu lintas di jalur pantura kabupaten
Situbondo.
2. Mengetahui lokasi rawan kecelakaan
(black spot) di sepanjang jalur
pantura Kabupaten Situbondo.
3. Membuat langkah penanganan
perbaikan daerah rawan kecelakaan
dari pihak terkait untuk mengurangi
tingkat kecelakaan lalu lintas di jalur
Pantura Kabupaten Situbondo.

2. METODE PENELITIAN
Metode analisis yang dilakukan
adalah dengan mengumpulkan data dan
informasi dan mengiventarisir data yang
ada kemudian dilakukan penelitian
terhadap data yang dandengan Gambar 1. Kerangka konsep penelitian
membandingkan menggunakan standar
sesuai peraturan dan standard yang ada 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
focus utama dalam penelitian ini adalah 3.1 Geometris Wilayah
melakukan identifikasi terhadap komponen Kabupaten Situbondo merupakan
ruas jalan dan persimpangan yang salah satu Kabupaten di Jawa Timur yang
berpotensi menyebabkan kecelakaan serta letaknya berada di ujung timur Pulau Jawa
mengiventarisir fasilitas lalu lintas yang bagian utara dengan posisi antara 735
ada dengan melakukan audit keselamatan 744 Lintang Selatan dan 11330 -
jalan 11442 Bujur Timur.
Dari hasil audit yang dilakukan, jika Letak Kabupaten Situbondo di
ditemukan permasalahan yang berpotensi sebelah utara berbatasan dengan Selat
menjadi penyebab kecelakaan atau Madura, sebelah timur berbatasan dengan
kemacetan, maka selanjutnya di usulkan Selat Bali, sebelah selatan dengan
untuk dilakukan perbaikan /penanganan Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten
pencegahan sesuai dengan prinsip audit Banyuwangi serta sebelah barat berbatasan
keselamatan jalan. Usulan perbaikandapat dengan Kabupaten Probolinggo.
berupa perbaikan desain jalan (lebar, jarak Luas Kabupaten Situbondo adalah
pandang, sudut tikungan, pelebaran median 1.638,50 Km2 atau 163.850 Ha, bentuknya
dan lain lain). memanjang dari barat ke timur lebih
JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 8, No.3 2014 ISSN 1978 - 5658 222
kurang 140 km. Pantai Utara umumnya Masalah parkir yang tidak sesuai
berdataran rendah dan di sebelah selatan lajur parkir dan operasional lalu
berdataran tingggi. lintas
3. Cahaya (lampu) menyilaukan
3.2 Prasarana Jalan Masalah yang berkaitan dengan
Jalur pantura merupakan jalan lama cahaya (lampu) yang menyilaukan
yang dibuat oleh kolonial Belanda yang seperti pada jalan dua arah.
membentang dari ujung barat pulau jawa 4. Kelayakan Jarak Pandang
sampai ke ujung timur Pulau Jawa. Jalan Kesesuaian jarak pandang dengan
ini merupakan jalan utama dimana jalan kecepatan lalu lintas
akses penghubung antar provinsi maupun 5. Alinyemen Jalan
antar kabupaten. Jalan Pantura di Masalah desain alinyemen jalan
Kabupaten Situbondo menghubungkan dari sesuai dengan kecepatan rencana
Kabupaten Probolinggo ke Kabupaten jalan.
Banyuwangi. Semua jenis kendaraan berat 6. Potongan melintang jalan
maupun kendaraan kecil lalulalang Jumlah dan lebar jalur jalan, lebar
melewati jalur ini. Tingginya volume bahu jalan, dan kemiringan.
kendaraan yang melewati jalur ini sering 7. Desain persimpangan
terjadi adanya peristiwa kecelakaan lalu Lokasi dan tapak persimpangan
lintas.Memacu kendaraan dengan jelas bagi seluruh pengguna jalan,
kecepatan tinggi di jalur ini sering sebagai ketersediaan jari jari belokan,
penyebab kecelakaan. Kurangnya rambu- tapers, jarak antara garis stop dan
rambu dan penerangan juga merupakan penyeberangan jalan.
faktor penyebab terjadinya kecelakaan. 8. Lajur tambahan dan lajur putar,
Keahlian pengendara di jalur ini juga lokasi taper, desain taper, desain
diperlukan melihat kondisi jalan yang lajur tambahan untuk kendaraan
berliku-liku. membelok (U-turn), alinyemen
kerb, pulau lu lintas dan median.
3.3 Prinsip Audit Keselamatan Jalan 9. Lalu lintas kendaraan tidak
Hasil pemeriksaan yang dicatat pada bermotor
formulir pemeriksaan merupakan Konflik pejalan kaki akibat tidak
identifikasi persoalan pada wilayah studi, tersedianya fasilitas penyeberangan
di mana panjang Jalan Raya Kapongan jalan.
adalah 6 km yang akan dibagi menjadi 6 10. Lampu penerangan.
segmen, setiap segmen sepanjang 1 km Ketersediaan lampu penerangan
yaitu: jalan pada simpang, bundaran,
STA 199+000 STA 200+000 penyeberangan jalan, dan
STA 200+000 STA 201+000 ketersediaan lampu untuk
STA 201+000 STA 202+000 penerangan rambu / tanda.
STA 202+000 STA 203+000 11. Rambu Lalu Lintas
STA 203+000 STA 204+000 Penempatan rambu yang
STA 204+000 STA 205+000 mendukung panduan lalu lintas
Kemudian dilakukan pengelompokan kendaraan, peringatan tambahan
terhadap 15 persoalan : saat mendekati tempat berbahaya.
1. Tanaman / pohon. Namun, rambu yang berlebihan
Apakah sesuai dengan lajur akan membingungkan pengguna
tanaman, dan ruang bebas jalan jalan.
2. Parkir. 12. Lampu Lalu Lintas
Jumlah dan lokasi lampu lalu lintas
serta sistem operasinya

JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 8, No.3 2014 ISSN 1978 - 5658 223
13. Objek Fisik 3.5 Analisis Kinerja Jalan
Ketersediaan ruang bebas jalan Untuk mengetahui karakteristik dan
untuk penempatan pagar kinerja lalu lintas dengan mengetahui
penghalang / barrier. volume serta kapasitas jalan tersebut.
14. Marka Jalan dan Delineasi Volume adalah jumlah kendaraan yang
Keberadaan marka jalan, melalui satu titik yang tetap pada jalan
penempatan marka dalam suatu waktu. Berdasarkan survey,
15. Penghentian Angkutan Umum diperoleh volume lalu lintas pada Jalan
Lokasi dan operasional tempat henti Raya Kapongan seperti dalam Tabel 1.
bus dan fasilitas pendukungnya Kemudian, dengan menggunakan
sesuai kebutuhan serta aman formula pada perhitungan kapsitas untuk
terlindung bagi aksesibilitas pejalan daerah sesuai dengan aturan MKJI, dengan
kaki. tipe jalan 2 lajur tidak dipisah dengan lebar
Persoalan ditiap lokasi, jalan 8 m dan lebar efektif bahu jalan 3m,
dipresentasikan dalam bentuk matriks maka diperoleh hasil survei volume dan
hubungan antara lokasi dan permasalahan. kapasitas pada ruas Jalan Raya Kapongan
Masing masing permasalahan yang ada seperti pada Tabel 1.
pada lokasi diberikan skor. Nilai skor 1 bila
ada persoalan, dan nilai skor 0 bila tidak Tabel 1. Perhitungan kapasitas jalan raya
terdapat persoalan. Untuk memperoleh Kapongan
peringkat persoalan yang paling berpotensi Kapasitas LOS
Q
Waktu (C)
penyebab kecelakaan dilakukan dengan smp/jam
smp/jam
(Q/C) Tingkat
menjumlahkan skor masing-masing Pagi 2736.8 4767.46 0.57 A
persoalan. Siang 3054.2 4767.46 0.64 B
Sore 3195.4 4767.46 0.67 B
3.4 Hasil Audit Rata- 4767.46
3083.2 0.62 B
Berdasarkan hasil studi pada setiap Rata
Sumber : Hasil Analisis
ruas 1 km Jalan Raya Kapongan, diperoleh
peringkat persoala yang potensial Indikator ruas kerja jalan diperoleh
menyebabkan kecelakaan lalu lintas, yaitu: dengan melihat Level of Service Jalan Raya
1. Lampu Penerangan Jalan Kapongan di mana arus lalu lintas rata rata
2. Rambu Lalu Lintas berada pada level B di mana arus tergolong
3. Penghentian angkutan umum stabil, tetapi kecepatan operasi mulai
4. Desain Persimpangan dibatasi oleh kondisi lalu lintas. Pengemudi
5. Tanaman / Pohon memiliki kebebasan untuk memilih
6. Objek Fisik kecepatan.
7. Lampu Lalu Lintas
8. Kelayakan Jarak Pandang 3.6 Analisis Kecepatan Ruas Jalan
9. Potongan Melintang Jalan Berdasarkan tata cara perencanaan
Dari hasil penerapan audit geometrik jalan antarkota, kecepatan
keselamatan jalan yang didapat pada ruas rencana untuk jalan arteri adalah 50-120
Jalan Raya Kapongan sepanjang 6 km km / jam.
didapat lokasi yang paling banyak Dengan melakukan pengukuran spot
persoalan yaitu STA 200+050 201+000 speed (kecepatan sesaat) yaitu kecepatan
di mana terdapat 12 persoalan dari 15 yang diukur pada saat kendaraan melitas
kriteria yang ditetapkan untuk audit jalan suatu titik di jalan, hasil kecepatan sesaat di
yang dinilai memiliki potensi yang besar lapangan diperoleh 85% speed (the 85th
pengaruhnya terhadap terjadinya konflik percentile) dimana 85% dari seluruh
lalu lintas yang serius, untuk itu perlu kendaraan tersebu bergerak diatas
dikaji lebih dalam lagi dan lebih mendetail. kecepatan tsb. Adapun data dan hasil

JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 8, No.3 2014 ISSN 1978 - 5658 224
survey kecepatan sesaat pada ruas Jalan 90 cm. Kendaraan yang melewati
Raya Kapongan dapat dilihat pada tabel Speed Bump ini memiliki kecepatan
berikut. kendaraan kurang dari lebih 8
Kecepatan sesaat kendaraan rata rata km/jam. Di samping itu, Speed
dihitung arah Situbondo Banyuwangi Bump dapat mengendaikan /
STA 201+200 adalah 65,33 km/jam, STA mengurangi kecepatan kendaraan.
200+800 adalah 51,19 km/jam, dan STA b. Speed Hump
201+700 adalah 64,92 km/jam, terjadi Speed Humps merupakan bagian
pengurangan kecepatan saat melewati dari traffic calming yang berfungi
simpang pasar karena jumlah kendaraan untuk mereduksi kecepatan
yang cukup padat pada kawasan guna lahan kendaraan yang melintas di suatu
perdagangan. ruas jalan, terutama di kawasan
Sedangkan arah sebaliknya, arah perumahan guna melindungi pejalan
Banyuwangi Situbondo, kecepatan sesaat kaki, pengendara sepeda, anak-anak
kendaraan rata rata pada STA 201+200 maupun lanjut usia. Penelitian ini
adalah 62,97 km/jam, STA 200+800 adalah bertujuan untuk menganalisa
54,05 km/jam, dan STA 201+700 adalah pengaruh pemasangan Speed
63,98 km/jam. Kecepatan terendah adalah Humps dengan ukuran beragam
ketika kendaraan berada pada simpang yang dipasang oleh masyarakat
pasar, selain sudut pandang yang terbatas, terhadap penurunan kecepatan, juga
guna lahan perdagangan menyebabkan pengaruh jarak pemasangan Speed
volume kendaraan meningkat, sehingga Humps terhadap kecepatan
mempengaruhi kecepatan kendaraan yang kendaraan ketika melintas di antara
melintas. Sedangkan pada STA 201+700 Speed Humps yang dipasang secara
kecepatan kendaraan cenderung meningkat seri.
pada kedua lajur. Semakin tinggi Speed Humps
Kecepatan arus bebas berdasarkan dengan ukuran lebar yang sama,
perhitungan MKJI sebesar 62 maka persentase penurunan
km/jam.Kondisi tersebut efektif bila kecepatannya akan semakin besar.
ditinjau dari rencana kecepatan kendaraan Kecepatan kendaraan sebelum di
untuk kelas jalan arteri adalah 60-100 km / Speed Humps berbeda dengan
jam. kecepatan kendaraan pada saat
melintas di Speed Humps. Hal ini
3.7 Analisis Pengendali Kecepatan menunjukkan bahwa keberadan
Kendaraan Speed Humps secara nyata mampu
Dari data kecepatan Spot Speed hasil untuk menurunkan kecepatan
survei pada lokasi penelitian Jalan Raya kendaraan. Tinggi dan lebar Speed
Kapongan Kabupaten Situbondo di lokasi Humps merupakan faktor-faktor
blackspot, Jalan Raya Kapongan STA yang berpengaruh terhadap
205+000 201+000 menjadi lokasi rawan kecepatan di Speed Humps, sedang
kecelakaan lalu lintas dan berbahaya bagi jarak pemasangan antar Speed
pemakai jalan dan pejalan kaki. Untuk itu Humps merupakan faktor yang
diperlukan fasilitas pengendali batas berpengaruh terhadap kecepatan
kecepatan dengan dipasang speed bumb, kendaraan ketika melintas di antara
speed humb, dan rumble strips. Speed Humps yang dipasang secara
a. Speed Bump seri Speed Humps dengan ukuran
R. Marshall Elizer Jr. (1993:12) yang tidak terlalu ekstrim (tinggi =
mengatakan bahwa Speed Bump 5 cm, lebar = 120 cm) dengan jarak
umumnya mempunyai ukuran tinggi pemasangan antar Speed Humps
7,5 cm sampai 15 cm dan lebar 30- sejauh 50 m cukup berhasil

JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 8, No.3 2014 ISSN 1978 - 5658 225
meredam kecepatan kendaraan yang 194 korban, dan korban luka
melintas. ringan (LR) mencapai 741 korban.
c. Rumble Bars c. Kendaraan terlibat kecelakaan
Rumble strip adalah penambahan terbanyak adalah speda motor,
tinggi perkerasan jalan (yang mencapai angka 376 kendaraan,
merupakan bagian dari marka kemudian mobil penumpang
jalan). Dibuat dengan menggunakan sebanyak 68 kendaraan.
bahan therrrroplastic yang dipasang d. Tipikal kecelakaan terbanyak
melintang ialan daIam beberapa adalah tabrak samping yang
jalur dan memiliki ketinggian mencapai 56%.
tertentu (biasanya 10 std 13 mm). e. Korban terlibat kecelakaan
Tujuan dibuatnya rumble strip terbanyak berada pada kisaran usi
adalah untuk menyadarkan 21-30 tahun dan berprofesi sebagai
pengemudi sehingga kecepatan karyawan, dengan tingkat
kendaraan dapat dikurangi demi pendidikan terbanyak adalah
meningkatkan keselamatan lalu tamatan SMA (67%)
lintas. Dengan adanya rumble strip f. Pelanggaran lalu lintas,
maka pengemudi mempunyai dua pelanggaran tertinggi adalah
pilihan. mengurangi kccepatan pengemudi dengan jenis SIM C.
kendaraannya atau merasa tidak g. Kecelakaan berdasarkan waktu,
nyaman dan kerusakan pada kejadian terbanyak terjadi pada
kendaraan akibat benturan ban kisaran zona waktu pukul 18.00-
dengan permukaan rumble strip. 24.00.
Secara visual, pita penggaduh h. Indikator keselamatan Jalan Raya
berupa bagian jalan yang dibuat Kapongan, kecelakaan per jenis
tidak rata dengan menempatkan kendaraan adalah kendaraan bus =
marka jalan pada badan jalan. 7724/1.000.000 populasi
Tujuan dari pemasangan rumble kendaraan.
strips adalah untuk memberi i. Angka kecelakaan lalu lintas, total
peringatan kepada pengemudi Accident Rate / km adalah sebesar
melalui getaran dan suara getaran R = 3,85 kecelakaan / 1 km setara
kendaraan yang melintas di atasnya. dengan 3850 kecelakaan per 1000
km panjang ruas jalan dalam satu
4. KESIMPULAN DAN SARAN tahun.
4.1 Kesimpulan j. Angka kecelakaan = 6 kecelakaan
Kesimpulan dari hasil analisis kajian meninggal dunia / 100.000
audit keselamatan di Jalan Raya Kapongan populasi penduduk.
Kabupaten Situbondo hasil bahwa: k. Tingkat kecelakaan (accident rate)
1. Berdasarkan data kecelakaan lalu AR = 1005 kecelakaan / 100 juta
lintas Kabupaten Situbondo tahun km perjalanan kendaraan.
2013 di Jalan Raya Kapongan dapat l. Tingkat kefatalan (Severity Index)
disimpulkan sebagai berikut: SI = 0,084
a. Trend kecelakaan terbanyak, m. Tingkat Fatalitas (Fatality Rate)
kecelakaan dalam rentang waktu 5 FR = 6,736 fatalitas kecelakaan /
tahun berfluktuasi, terjadi pada 100 juta km perjalanan kendaraan.
tahun 2012 mencapai 517 kejadian. 2. Dari hasil pelaksanaan Audit
b. Korban kecelakaan, jumlah korban Keselamatan Jalan yang dilakukan
meninggal dunia mencapai 41 pada lokasi blackspot ruas Jalan Raya
korban, luka berat (LB) mencapai Kapongan, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:

JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 8, No.3 2014 ISSN 1978 - 5658 226
a. Rambu lalu lintas yang sangat h. Lampu PJU dengan ketinggian
kurang terutama untuk rambu lampu untuk dapat menerangi
peringatan dan penunjuk jalan dengan I = 50 lux tinggi tiang 6,98
yang berfungsi menuntun dan m dengan jarak antar lampu = 55,6
mengarahkan arus lalu lintas. m. Nilai E = 51,2 Lux > E = 50
b. Pada STA 200+300 marka jalan Lux di lokasi studi 75 m > 55,6 m
sudah mengelupas, hilang, sehingga penerangan perlu
sehingga perlu dilakukan penambahan titik lampu.
pengecatan ulang 3. Rekomendai penanganan pada lokasi
c. Masih banyak obyek pinggir jalan studi antara lain :
yang berbahaya (Roadside a. Sebelum memasuki tikungan
Hazardous Object) seperti tiang simpang pasar (STA 200+300)
lampu penerangan jalan, tiang perlu dipasang alat pengendali
rambu lalu lintas, dan pepohonan. kecepatan (speed humb) dan rambu
d. Hasil pemeriksaan audit peringatan.
keselamatan Jalan Raya Kapongan b. Kecelakaan paling sering terjadi
(Checklist), lokasi blackspot, pada zona waktu pukul 18.00-
terdapat permasalahan tanaman / 24.00, sehingga pada lokasi rawan
pohon, cahaya lampu yang kecelakaan perlu dipasang rambu
menyilaukan, kelayakan jarak rambu yang memantulkan cahaya,
pandang, alinyemen jalan, delineasi segera dipasang, marka
potongan melintang jalan, desain jalan dicat kembali, penerangan
persimpangan, lalu lintas jalan di tempat rawan ditambah
kendaraan tak bermotor, lampu jumlahnya.
penerangan, rambu lalu lintas c. Perbaikan daerah rawan
lampu lalu lintas, obyek fisik, dan kecelakaan, diantaranya perbaikan
penghentian angkutan umum. jarak pandang pada tikungan pasar
e. Analisis Kinerja Jalan rata rata dengan merelokasi PKL yang
ruas Jalan Raya Kapongan nilai berjualan menggunakan bahu jalan,
Q/C rata rata sebesar 0,62 yaitu Perbaikan geometrik simpang
pada level B, dengan kecepatan pasar STA 200+300 dengan
kendaraan rata rata simpang pasar pembebasan lahan pada sekitar
pada arah Situbondo kawasan simpang untuk
Banyuwangi sebesar 51 km / jam memperbaiki tikungan dan jarak
sedangkan untuk arah sebaliknya pandang pengemeudi pengguna
sebesar 54 km/jam. jalan, pemasangan fasilitas traffic
f. Jarak pandang minimum yang light (APIL), dibangun fasilitas
diperlukan pengguna jalan sebelum pejalan kaki, perbaikan trotoar,
melewati blackspot adalah 91,42 m marka batas tepi, zebra cross,
dengan kecepatan 63,98 km/jam. warning light, tempat
g. Jarak pandang henti SS = 53,6 < pemberhentian angkutan umum
63,98 m (VR = 50 km/jam) dan dipasang bahan perlambatan
berbahaya bagi pengendara dengan kecepatan pada lokasi tertentu.
kecepatan > 50 km/jam. 4.2 Saran
Sedangkan kecepatan rata rata Dari hasil studi yang telah diperoleh
pengendara > 50 km/jam. Sehingga terdapat beberapa keterbatasan dan
perlu dibersihkan atau dihilangkan kelemahan, maka perlu dilakukan
pepohonan yang menghalangi penelitian lanjutan untuk melengkapi hasil
jarak pandang. penelitian ini. Ada beberapa saran yang

JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 8, No.3 2014 ISSN 1978 - 5658 227
menurut penulis perlu diperhatikan agar 5. DAFTAR PUSTAKA
penyempurnaan dari penelitian ini. Ali , Muhammad. 1985. Penelitian Pendidikan
1. Perlu pemasangan rambu-rambu Prosedur dan Strategi. Bandung. Aksara.
Bina Marga, 1997. Manual Kapasitas Jalan
lalu lintas pada tempat-tempat Indonesia: Jalan Perkotaan, Bina Marga.
tertentu seperti pada tikungan jalan, Bandung
persimpangan jalan dan sebagainya Budiarti, A dan Mahmuda, A, M, H 2007, Rekayasa
guna memberitahu kepada Lalui Lintas, Lembaga Pengemban
pengguna jalan agar lebih waspada. Pendidikan (LPP) UNS dan UNS Press,
Surakarta.
2. Pemasangan traffic light waspada Cleland, David I and King, William R. 1975.System
pada titik persimpangan yang Analysis and Project Management. Mc
dianggap perlu, seperti pada Graw-Hill Kogakusha, Ltd. Tokyo.
pertigaan, atau diberi pengejut jalan Fairuz, Mohammad. (28 Oktober 2010). Faicup.
agar pengendara memperlambat laju Contoh Proposal Penelitian.
Harnen, S. 2007. Keselamatan Transportasi Jalan,
kendaraan sebelum persimpangan. Strategi, Kelembagaan, Dan Program Aksi
3. Pemasangan penerangan jalan di Dalam Pembentukan Transportasi Jalan
malam hari agar pengendara lebih Universitas Brawijaya Malang
jelas serat untuk mengurangi tindak Isfanari, 2011. Kajian Karakteristik Angkutan Ojek
kejahatan di jalan. Sepeda Motor Dan Cidomo Di Kota
Mataram.
4. Perlu penegakkan disiplin lalu lintas Koentjaraningrat. 1990. Metode-Metode Penelitian
kepada pemakai jalan yaitu dengan Masyarakat. Jakarta : Pustaka Jaya.
mentaati rambu-rambu yang telah Martilla, dan James, J.C. (1977). Importance
dipasang, pembatasan kecepatan Performance Analysis.
dan lainnya. Journal of Marketing 41, 13-17Manheim, Marvin
L.. 1979. Fundamental ofTransportation
5. Perlunya patroli berkala dari System Analysis, Volume I: Base Concept.
Satlantas Situbondo untuk menekan The MIT Press. New York.
angka kecelakaan.
Ali , Muhammad. 1985. Penelitian
Pendidikan Prosedur dan Strategi.
Bandung. Aksara.
Bina Marga, 1997. Manual Kapasitas Jalan
Indonesia: Jalan Perkotaan, Bina
Marga. Bandung

JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 8, No.3 2014 ISSN 1978 - 5658 228