Anda di halaman 1dari 8

PANDUAN PRAKTIK KLINIS

SMF KEBIDANAN & PENY.KANDUNGAN


RSUP Dr. M. DJAMIL
RSUP TAHUN 2017
DR. M. DJAMIL
PADANG

RUPTURA UTERI

1. Pengertian Robekan atau diskontinuitas dinding uterus akibat dilampauinya


(definisi) daya regang miometrium.
Robekan tersebut dapat mencapai kandung kemih dan organ vital
sekitarnya. Risiko infeksi sangat tinggi dan angka kematian bayi
sangat tinggi pada kasus ini.
Ruptura uteri inkomplit yang menyebabkan hematoma pada
parametrium, kadang-kadang sulit untuk segera dikenali sehingga
seringkali menimbulkan komplikasi serius bahkan kematian. Syok
yang terjadi seringkali tidak sesuai dengan perdarahan
pervaginam karena perdarahan hebat dapat terjadi ke dalam
rongga abdomen.

2. Anamnesis Identifikasi faktor-faktor resiko :

Riwayat nyeri hebat pada perut bawah


Perubahan kontraktilitas uterus
Perdarahan pervaginam

3. Pemeriksaan Ruptura Uteri pada uterus normal :


Fisik Didahului adanya lingkaran konstriksi ( Bandls ring) mulai 3
jari diatas simpisis hingga umbilicus atau diatasnya,
Terabalig. Rotundum kiri dan kanan tegang dan nyeri
Hilangnya kontraksi dan bentuk normal uterus gravidus
Adanya tanda-tanda syok
Denyut jantung janin bradikardia sampai negatif
Perdarahan pervaginam
Teraba bagian-bagian janin disamping teraba massa bulat
keras
Urin kateter berdarah
Ruptura Uteri pada bekas seksio sesarea :
Perdarahan bisa sedikit bertambah dari normal
Bradikardia pada janin
Parut operasi

4. Pemeriksaan Pemeriksaan darah lengkap


Penunjang USG transabdominal, transvaginal berguna untuk
mendeteksi defek jaringan parut setelah persalinan secara
seksio sesarea.

5. Kriteria 1. Adanya factor predisposisi


Diagnosis 2.Nyeri perut mendadak dengan tanda-tanda adanya
Perdarahan intra abdominal diikuti hilangnya his
3.Perdarahan pervaginam bias sedikit atau banyak
4.Syok dengan gambaran klinis yang biasanya tidak sesuai
dengan jumlah darah yang keluar, karena adanya
perdarahan intra abdominal
5.Kadang-kadang disertai sesak nafas/ nafas cuping hidung
atau nyeri bahu
6. Bagian janin teraba langsung dibawah kulit dinding perut
7.Pola abnormal dari denyut jantung janin, prolonged
Decelaration pada denyut jantung janin, bradikardia, atau
Hilang tiba-tiba
8.Urin bercampur darah

6. Diagnosis Identifikasi faktor risiko, parut operasi, multiparitas,


stimulasi uterus, persalinan operatif, CPD
Hipoksia atau gawat janin, perdarahan vaginal, nyeri
Abdominal dan perubahan kontraktilitas uterus
Eksplorasi uterus

7. Diagnosis Akut abdomen pada kehamilan abdominal lanjut


Banding
8. Terapi
Jalur intravena besar (no. 16 atau 18) (Level I)
Atasi syok dengan resusitasi cairan (berikan segera cairan
isotonic (RL atauNaCl) 500 ml dalam 15-20 menit)
dandarah, siapkan laparotomy (level I)
Antibiotika dan serum anti tetanus
Bilater dapat tanda-tanda infeksi (demam, mengigil, darah
bercampur cairan ketuban berbau, hasil apusan atau biakan
darah) segera berikan antibiotik spektrum luas.
Bilater dapat tanda-tanda trauma alat genitalia atau luka
yang kotor, tanyakan saat terakhir mendapat tetanus
toksoid. Bila hasil anamnesis tidak dapat memastikan
perlindungan terhadap tetanus, berikan serum anti tetanus
1500 IU imdan TT 0,5 ml im
Tindakan histerektomi atau histerorafi bergantung pada
bentuk, jenis dan luas robekan
Pertimbangan untuk dilakukan Histerektomi:
- Fungsi reproduksi tidak diharapkan
- Kondisi buruk yang membahayakan ibu
- Kondisi ruptura uterus
- Tingkat perdarahan
Pertimbangan untuk dilakukan Repair uterus:
- Wanita muda masih mengharapkan fungsi
reproduksinya
- Kondisi klinis cenderung stabil
- Tidak ada pelebaran dari robekan ligamentum
latum, serviks atau parakolpos
- Ruptur yang tidak komplikasi
Rekurensi 4-10%, disarankan seksio sesaria elektif pada
kehamilan 38 minggu atau maturitas paru janin telah terbukti.

9. Edukasi Konseling dalam kehamilan, persalinan, kemungkinan


komplikasi, dan pilihan keluarga berencana
Pada pasien dengan riwayat seksio sesarea pada saat
melakukan ANC sudah diberikan konseling selama mengedan
angka keberhasilan dilakukannya VBAC, keuntungan dan
resiko dari dilakukannya VBAC termasuk terjadinya ruptura
uterus dan dilakukannya histerektomi. (Level I)

10. Prognosis Bervariasi, tergantung kondisi klinis ibu dan banyaknya


perdarahan

11. Tingkat I/II/III/IV


Evidens

12. Tingkat A/B/C


Rekomendasi

13. Penelaah Dikonsultasikan dengan bidang pelayanan


Kritis

14. Indikator Berdasarkan SPM Rumah Sakit, PONEK, Permenkes


Medis

15. Kepustakaan 1.Sarwono P. Buku Acuan Nasional. Pelayanan Kesehatan


Maternal dan Neonatal, 2009
2. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG). Birth
after previous caesarean birth. London (UK): Royal College of
Obstetricians and Gynaecologists (RCOG); 2007 Feb. 17
p. (Green-top guideline; no. 45)
3. Standar Pelayanan Medik. Obstetri dan Ginekologi.
Perkumpulan Obstetridan Ginekologi Indonesia. 2002
4. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi
RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung, 2005
5. Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif,
Departemen Kesehatan RI, JNPK-KR, 2007

Ruptura Uteri
Riwayat Trauma
Periksa darah rutin
Riwayatoperasi uterus
Kultur darah
Stimulasi uterus
Fungsipembekuan
PartusMacet
(PT , APTT)
Nyeri abdomen akut
Golongan dan uji
Syok
silangan darah
(jumlah darah yang
disiapkan tergantung
Diagnosis kondisi)

Dari temuan saat SS Dari eksplorasi Diketahui sebelum


ulangan pascapersalinan atau
intrapartum

Laparatomi
eksploratif

Laparatomi
(Lahirkanjanin)
Konservatif

Life saving

REPARASI HISTEREKTOMI

Cllinical Pathways
Penata laksanaan tindakan operatif dilakukan paling lama 1 jam setelah diagnosis rupture
uteri ditegakkan.
Manajemen Post tindakan operatif
ManajemenSegera :
1. Manajemen Nyeri
2. Monitoring tanda-tanda vital
3. Mobilisasimobilisasi dini kecuali jika ada kontra indikasi
4. Komunikasi

Manajemen Selanjutnya :
1. Perawatan respirasi
2. Balance cairan
Kebutuhan dasar
Penggantian cairan
3. Drain dan kateter
4. Fungsi Pencernaan
Dilatasigasterpada pembedahan digestif
Ileus paralitik
Pseudo obstruction

Masa kritis pasien post operatif berlangsung sampai 72 jam. Pada periode ini pasien
harus dinilai cadangan fisiologisnya dengan teliti, pengawasan ketat pada system
kardiovaskuler, ginjal dan pernafasan.

Pasien ditempatkan diruangkhusus (recovery room) dengan menjaga jalan pernafasan


tetap bebas, dan harus tetap dijaga sampai pasien sadar. Pada hari operasi dan esok
harinya bila mengeluh kesakitan, dapat diberikan anal getik ringan.

Ketika pasien keluar dari kamar pemulihan (recovery room) diberikan cairan intravena
antaralain NaCL 0,9% atau dextrose 5% yang diberikan bergantian menurut rencana
tertentu. Infus cairan ini diberikan karena pada saat pembedahan pasien kehilangan
sejumlah cairan dan darah, sehingga kadang kadang memerlukan transfuse darah.
Dalam 24 jam diperkirakan lebih kurang 2-3 liter cairan harus dimasukkan untuk
menggantikan cairan yang keluar yaitu urin, cairan yang keluar dari muntah, dan
evaporasi dari kulit dan pernafasan.

Pemasangan DC pada post histerorapphy selama 24 jam, pemasangan DC pada post


histerektomi supravaginal selama 24-48 jam.

Pemberian antibiotika intravena : ceftriaxone 2x1 gr IV selama 2 hari, dilanjutkan dengan


pemberian antibiotika oral : ciprofloxacine 2x500 mg selama 5 hari, analgetika : asam
mefenamat 3x500 mg tablet selama 3 hari, multivitamin 1x1 tablet.
Lama perawatan 4-5 hari
Komplikasi post operatif penting :
1. Gagal nafas
2. Kegagalan penyembuhan luka
3. Demam
4. Deep Vein Trombosis
5. Oligouria
6. Ketidakseimbangan elektrolit
7. Perdarahan
8. Muntah