Anda di halaman 1dari 5

JURNAL TEKNOLOGI & ISSN 2087-6920

INDUSTRI
Vol. 3 No. 1; Juni 2014

POTENSI BIJI KARET (HAVEA BRASILIENSIS) SEBAGAI


BAHAN PEMBUATAN SABUN CUCI TANGAN PENGHILANG BAU KARET

*FATIMAH1, SUSI SUSANTI1, AULIA RAHMAH1, DAN ARIYANI1

1
Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Politeknik Tanah Laut

Naskah diterima: 04 April 2014; Naskah disetujui: 03 Juni 2014

ABSTRAK

Karet merupakan produk perkebunan yang hingga saat ini dimanfaatkan getah dan batangnya saja. Biji
karet belum dimanfaatkan secara maksimal, selain sebagai bibit tanaman saja, selebihnya dibiarkan
terbuang tanpa pemanfaatan. Permasalahan yang terjadi bagi para petani karet yaitu bau yang
ditimbulkan oleh lateks sangat menyengat dan tidak bisa dihilangkan begitu saja meskipun sudah dicuci
berulang-ulang menggunakan sabun maupun pembersih lainnya. Masalah ini sangat mengganggu alat
indra dalam penciuman bau. Dari permasalahan diatas kami mencoba untuk mengetahui potensi biji
karet agar bisa dimanfaatkan sebagai sabun cuci tangan untuk menghilangkan bau karet. Minyak
diekstraksi menggunakan metode Soxhlet yang selanjutnya digunakan sebagai bahan dasar pembuatan
sabun. Sabun yang dibuat sebanyak 3 jenis, yaitu sabun A dengan formulasi 50% minyak sawit dan 50%
minyak biji karet, sabun B dengan formulasi 100% minyak biji karet, dan sabun C dengan formulasi
100% minyak biji karet yang terdiri atas 90% minyak biji karet dan 10% minyak biji karet berasal dari
kernel yang dihaluskan. Hasil uji organoleptik bau terhadap 30 orang panelis petani karet menunjukkan
bahwa ketiga jenis sabun berpotensi menghilangkan bau karet pada tangan. Sabun B menyatakan bau
karet hilang sebesar 67% dan sabun C menyatakan bau karet hilang sebesar 73%, tapi sabun C masih
menyisakan bau kernel di tangan. Sedangkan sabun A hanya 27% menyatakan bau karet hilang.

Kata kunci : biji karet, minyak, sabun cuci tangan

PENDAHULUAN

Tanaman karet berasal dari bahasa latin yang bernama Hevea braziliensis yang berasal dari Negara
Brazil. Tanaman ini merupakan sumber utama bahan tanaman karet alam dunia. Menurut Utomo dkk.,
2012, Indonesia merupakan negara dengan penghasil karet alam terbesar didunia sebelum perang Dunia
II. Karet merupakan produk perkebunan yang hingga saat ini dimanfaatkan getah dan batangnya saja.
Biji karet belum dimanfaatkan secara maksimal, selain sebagai bibit tanaman saja, selebihnya dibiarkan
terbuang tanpa pemanfaatan Dewasa ini biji karet bisa dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pembuatan
tempe serta sebagai bahan energi alternatif seperti biodiesel dan sebagainya.
Permasalahan yang terjadi bagi para petani karet yaitu bau yang ditimbulkan oleh lateks sangat
menyengat dan tidak bisa dihilangkan begitu saja meskipun sudah dicuci berulang-ulang menggunakan
sabun maupun pembersih lainnya. Masalah ini sangat mengganggu alat indra dalam penciuman bau.

*Korespondensi penulis:
Telepon/nomor faks : 0512-21537
Email : fatimahchbrb@yahoo.com
[42]
Keresahan petani karet saat ini yaitu penciuman bau karet yang sangat tajam setelah menyadap ataupun
memanen karet, karena baunya tidak dapat dihilangkan menggunakan sabun ataupun pembersih lainnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui potensi biji karet sebagai sabun cuci tangan
penghilang bau lateks.

METODOLOGI

Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah oven, timbangan, kain saring, kertas saring,
botol, tanur, soxhlet, pendingin balik, batu didih, hot plate, alat destilasi, labu destilasi, aotoklaf, buret,
pipet, cawan porselin, cawan aluminium, labu Erlenmeyer, kertas saring dan gelas ukur.

Bahan
Bahan yang digunakan adalah biji karet dengan jenis PB VI yang diperoleh dari kebun panyipatan
kabupaten Tanah Laut. Bahan-bahan kimia yang digunakan antara lain: n-heksan, NaOH 50%, HCl 0,5
N, NaOH 1 N, aquades, indicator phenolpetialin, alkohol 96%, KOH 1 N, gliserin dan EDTA.

Metode Penelitian
Minyak diekstraksi menggunakan metode ekstraksi soxhlet/solvent extraction. Pengujian kadar air
biji karet dilakukan dengan metode gravimetri. Penentuan angka asam, bilangan penyabunan, dan FFA
menggunakan metode titrimetri (Sudarmadji, dkk., 1976).

Penentuan Formulasi Sabun


Reaksi pembentukan sabun dari minyak dilakukan dengan mereaksikan suatu alkali (NaOH atau
KOH) dengan minyak. Reaksi ini dikenal dengan reaksi safonifikasi (penyabunan). Sabun yang dibuat
ada 3 jenis dengan komposisi yang berbeda, yaitu sabun A, sabun B , dan sabun C. Formulasi
berdasarkan angka penyabunan yang didapat yaitu 203. Untuk menyabunkan minyak 1 gram diperlukan
basa (NaOH/KOH) sebesar 203 mg.
a. Pembuatan sabun sabun A dengan formulasi 50% minyak sawit dan 50% minyak karet. Untuk
membuat 100 gram berbahan baku minyak ditambah dengan larutan NaOH 36 % sebesar 56 mL.
b. Formulasi sabun B yaitu 100% minyak karet. Untuk membuat 100 gram berbahan baku minyak
ditambah dengan larutan NaOH 36% sebesar 56 mL.
c. Formulasi sabun C yaitu 100% minyak karet yang terdiri atas 90% minyak karet dan 10% minyak
karet berasal dari kernel yang dihaluskan (33 gram kernel mengandung 10 gram minyak). Untuk
membuat 100 gram bahan baku minyak ditambah dengan larutan NaOH 36% sebesar 56 mL.

Analisis Bau
Analisis bau dilakukan dengan menggunakan metode kuisioner, yaitu angka 1 dengan kriteria
bau karet menyengat, angka 2 bau karet kurang menyengat dan angka 3 bau karet hilang. Dengan
jumlah 30 orang panelis, masing masing panelis mencoba 3 jenis sabun. Untuk uji sabun, petani karet

[43]
mencelupkan tangan mereka pada karet yang berbau kemudian dicuci dengan air dan tangan mereka
masih berbau karet. Setelah itu tangan disabuni dengan sabun A sampai berbusa dan dicuci dengan air
bersih. Kemudian panelis menciumi tangan mereka kembali. Untuk menguji sabun B dan C dilakukan
lagi mulai proses awal seperti diatas.

Analisis Fisik
Analisis fisik yaitu dilakukan pengamatan tentang bentuk sabun dari segi warna, bau dan tekstur
dalam hasil pembuatan sabun tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Minyak biji karet yang diekstraksi menggunakan metode ekstraksi pelarut akan digunakan sebagai
bahan dasar dalam pembuatan sabun. Sabun akan terbentuk jika terjadi reaksi antara basa dengan asam lemak
yang berasal dari minyak biji karet. Lipid tersabunkan merupakan bahan yang tidak larut dalam air tetapi
larut dalam pelarut organik seperti eter dan kloroform, dan jika dipanaskan dengan basa membentuk sabun
yang larut dalam air (Robinson T, 1995). Berikut hasil analisis minyak biji karet sebagai berikut

Tabel 1. Hasil analisis kimiawi minyak biji karet


Parameter Hasil
Kadar Air 24,37 %
Kadar Minyak 39,23 %
Bilangan Penyabunan 203
Angka Asam 34
Asam Lemak Bebas (FFA) 1,885 % FFA

Hasil analisis diatas menunjukkan bahwa minyak biji karet berpotensi dijadikan bahan dalam
pembuatan sabun yang dapat dilihat dari angka penyabunan yaitu 203. Selain itu minyak biji karet
mengandung rendemen sebesar 39,23%, dimana ini merupakan kadar yang tinggi pada suatu bahan untuk
dapat dimanfaatkan menjadi produk yang lebih bernilai jual tinggi. Minyak yang didapatkan kemudian dibuat
menjadi sabun dengan hasil analisis fisik meliputi warna, bau dan tekstur sebagai berikut.

Tabel 2. Analisis fisik berbagai formulasi sabun


Jenis Sabun Parameter
Warna Bau Tekstur
Formulasi A Putih krim minyak karet Padat
Formulasi B Putih susu minyak karet Padat
Formulasi C Kecoklatan kernel karet + minyak padat

[44]
Hasil uji organoleptik pada sabun biji karet yang dilakukan pada 30 orang panelis terlihat pada gambar
berikut.

Skala

Gambar 1. Persentase hasil uji organoleptik berbagai formulasi sabun

Keterangan :
Skala 1 = Bau karet menyengat
Skala 2 = Bau karet kurang menyengat
Skala 3 = Bau karet hilang

Hasil uji organoleptik yaitu uji bau pada berbagai formulasi sabun terhadap petani karet
menunjukkan bahwa biji karet berpotensi menghilangkan bau karet pada tangan. Pada formulasi sabun
A yang terdiri dari minyak sawit dan minyak biji karet, 27 % mengatakan bau karet hilang. Sedangkan
untuk formulsi B dengan komposisi minyak biji karet 100% menyatakan bahwa bau karet hilang
sebesar 67%. Sedangkan untuk sabun C dengan formulasi 90% biji karet dan 10% minyak yang berasl
dari kernel karet yang menyatakan bau karet hilang yaitu 73%. Minyak biji karet mengandung senyawa
yang dapat menghilangkan bau karet. Selain itu, bukan hanya pada minyak biji karet, kernel karet
diduga juga mengandung senyawa yang dapat menghilangkan bau karet dimana ditunjukkan pada hasil
uji bau sabun C. Senyawa aktif yang terkandung pada minyak biji dan kernel yang dapat
menghilangkan bau karet belum diketahui secara pasti. Begitu juga mekanisme reaksi penghilangan bau
karet pada tangan belum diketahui secara pasti.

KESIMPULAN

1. Biji karet berpotensi dijadikan sebagai sabun pencuci tangan yang dapat menghilangkan bau lateks
2. Dari hasil uji organoleptik, sabun yang mengandung minyak biji karet besar dapat dijadikan sebagai
sabun pencuci tangan yang dapat menghilangkan bau lateks.

[45]
UCAPAN TERIMA KASIH

Proyek penelitian ini didukung secara finansial oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Kemendikbud.

DAFTAR PUSTAKA

Robinson T. The Organic Constituents of Higher Plants. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi.
Diterjemahkan oleh Padmawinata K. 1995. Bandung: Penerbit ITB.

Sudarmadji S., Haryono Bambang dan Suhardi. 1976. Prosedur analisa


Untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta: Liberty.

Utomo TP, Hasanudin U, dan Suroso E. 2012. Agroindustri Karet Indonesia. Bandung: Sarana Tutorial
Burani Sejahtera.

[46]