Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

PEMANFAATAN LIMBAH KACA TERHADAP BAHAN


KONTRUKSI BETON

Oleh :

Imam Hanafi Hisbullah (1142004013)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER
UNIVERSITAS BAKRIE
JAKARTA
2016

1| P a g e
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala
limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat
menyelesaikan penyusunan Makalah Pemanfaatan limbah kaca terhadap
bahan kontruksi Beton ini dalam bentuk maupun isi yang sederhana. Semoga
Makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun
pedoman bagi pembaca dalam pendidikan terutama bidang green
technology

Harapan saya semoga Makalah ini dapat membantu menambah


pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca dalam penerapannya,
sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi Makalah Pemanfaatan
limbah kaca terhadap kontruksi Beton ini untuk kedepannya lebih baik.

Makalah Pemanfaatan limbah kaca terhadap penerapan struktur Beton


ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki
sangat kurang. Oleh karna itu kami harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
Makalah pemanfaatan limbah kaca ini.

Depok, 28 Oktober 2016

Imam Hanafi Hisbullah

2| P a g e
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.2

DAFTAR ISI....3

I. BAB I : PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah...4
I.2 Identifikasi, Rumusan dan Pembatasan Masalah
I.2.1 Identifikasi Masalah...5
I.2.2 Rumusan Masalah...6
I.2.3 Pembatasan Masalah...6
I.2.4 Tujuan Penulisan....6
I.3 Kegunaan Penulisan
I.3.1 Kegunaan Teoritis...6
I.3.2 Kegunaan Praktis....6
II. BAB II : KAJIAN PUSTAKA
II.1. Pengertian Kaca7
II.1.1 Pengaruh Sifat Reaktif Silika pada Kaca Terhadap Beton.8
II.2. Pengertian Beton...9
II.2.1. Perilaku Kuat Tekan dan slump test..10
II.2.2. Material Penyusun Beton...11
II.3. Modifikasi Mix Design...15
III. BAB III : ANALISI DAN PEMBAHASAN MASALAH
III.1. Pendahuluan...16
III.2 Pengujian Material...16
III.2.1. Pemeriksaan Material agregat halus dan agregat kasar....16
III.2.2 Pembuatan Serbuk Kaca....18
III.3 Pemeriksaan nilai Slum test dan nilai FAS..18
III.4 Kuat tekan beton dan berat..19
III.4.1. Berat dan volume...19
III.4.2. Kuat Tekan....20
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
IV.1. Kesimpulan..25
IV.2. Saran....25
DAFTAR PUSTAKA26

3| P a g e
BAB I

PENDAHULUAN
I.1. LATAR BELAKANG

Limbah merupakan suatu masalah besar yang sedang dihadapi semua umat
manusia. Berbagai upaya pengelolaan sudah dilakukan manusia untuk melakukan
pencegahan bahkan penanganan agar lingkungan ini aman dari limbah. Sebagian besar
limbah disumbangkan melalui pabrik,rumah tangga,dan indrustri-indrustri kecil lainnya.
Tidak adanya penampungan akan sisa hasil produksi ini yang kemudian akan menjadi
limbah kemudian mencemari tanah, air, udara, dan suara.
Salah satu limbah yang cukup sulit diolah adalah limbah kaca. Limbah kaca
selama ini dikenal sebagai hal yang berbahaya karena tajam dan cenderung runcing
sehingga ditakutkan membuat terluka. Limbah kaca juga merupakan jenis limbah padat
yang tidak bisa terurai oleh alam. Karena kaca merupakan material anorganik. Kegiatan
daur ulang sampah kaca perlu dilakukan karena jenis sampah ini tidak terbakar,
membusuk, maupun terurai. Cullet(pecahan kaca) mencakup bagian yang cukup besar
dalam limbah domestic.
Pengunaan kaca sendiri yang sangat banyak diberbagai keperluan manusia
menuntut produksi bahan ini dalam jumlah yang sangat besar. Jumlah produksi yang
besar tersebut menimbulkan dampak pada lingkungan sebab kaca tidak bersifat korosif
(Malla\wany, 2002). Kaca-kaca bekas (disebut cult) yang sudah tidak terpakai lagi
merupakan limbah yang tidak akan terurai secara alami oleh zat organic. Dengan
demikian diperlukan berbagai penanganan alternative untuk menjadikan limbah kaca
dalam pemanfaatan bahan campuran penyusun beton.
Limbah kaca khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya,
Semarang,dan Yogyakarta terus menerus meningkat. Hal ini disebabkan terus
meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap minuman yang menggunakan kaca sebagai
bahan kemasan. Belum lagi limbah kaca yang dihasilkan oleh industry dan perusahaan
komersial seperti toko-toko kaca yang memotong serta menghaluskan kaca setiap harinya
Pada pembuatan gedung-gedung tinggi di Jakarta kaca banyak digunakan, karena dari
segi arsitektur terlihat lebih indah. Selain itu kaca mempunyai harga jual yang murah
sebagai bahan kontruksi.
Selama beberapa tahun terakhir ini, telah diadakan penelitian untuk
mengembangkan penggunaan limbah-limbah yang masih digunakan untuk bahan
campuran dalam adukan beton. Pemanfaatan limbah berupa serbuk kaca untuk digunakan
kembali (re-fuse) merupakan salah satu solusi penanganan limbah yang tepat. Salah satu
usaha untuk mengatasi masalah tersebut adalah memanfaatkan limbah serbuk kaca
sebagai powder.

4| P a g e
Serbuk kaca merupakan bahan yang ramah lingkungan dan memiliki kandungan
SiO2 diatas 60%, yang dapat meningkatkan kuat desak beton sehingga dapat berpengaruh
baik terhadap structural bangunan. Bubuk kaca atau fritz adalah serpihan kaca yang
dihancurkan dan biasa digunakan untuk campuran pembuatan keramik di pabrik keramik.
Bubuk kaca ini berupa butiran halus dengan ukuran butiran 0,075mm-0,015mm, tidak
porous serta bersifat pozzolanik. Bubuk kaca mempunyai kandungan SiO2, Al2O3, Fe2O3
dan CaO yang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan pengganti semen dan
diharapkan menambah kuat desak beton karena butirannya yang sangat kecil dan mampu
mengisi lubang pori pada beton (Hanafiah,2011).

I.2. Identifikasi, Rumusan, Pembatasan Masalah


I.21. Identifikasi masalah
Limbah kaca merupakan sumber masalah bagi lingkungan karena sifatnya yang sukar
terurai oleh zat organic. Selain itu di Indonesia sendiri limbah kaca yang dikeluarkan
sekitar 0.7 Ton/tahun atau 2% dari total limbah sampah di indonesia hal ini banyak
dihasilkan oleh aktifitas manusia seperti kebutuhan rumah tangga dan indrustri-indrustri
kecil. Selain sukar terhadap zat organic bentuk limbah kaca yang berbahaya karena
tajam dan cenderung meruncing bisa menjadi permasalahan serius belum lagi banyak
limbah kaca yang tercampur dengan limbah sampah lainnya.
Tabel

Salah satu arternatif dalam pengendalian sampah limbah kaca dengan dilakukan daur ulang
atau dengan memanfaatkan limbah kaca sebagai campuran adukan beton,.

I.2.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan dapat dirumuskan
permasalaha dalam penelitian mengenai Pemanfaatan Limbah kaca sebagi berikut :

5| P a g e
1. Bagaimana pengaruh penambahan serbuk kaca (limbah kaca) terhadap kuat
tekan Beton ?
2. Berapa komposisi optimum pengunaan serbuk kaca yang di anjurkan pada
pembuatan Beton?
3. Bagaimana pengaruh penambahan serbuk kaca terhadap workabilitas
campuran beton?
4. Apa pengaruh pengunaan serbuk kaca (limbah kaca) dalam campuran beton
hingga dapat menghasilkan beton yang rama lingkungan dengan mutu tinggi

I.2.3. Pembatasan Masalah

1. Pembatasan dibatasi oleh pembahasan hasil percobaan yang telah


dilakukan terhadap beton yang dicampur frits (serbuk kaca)
2. Pembahasan dititik beratkan pada pengaruh serbuk kaca terhadap
campuran adukan beton
3. Percobaan pada beton merupakan referensi yang dari beberapa jurnal
mengenai pemanfaatan limbah kaca

I.2.4. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh campuran beton dengan limbah


kaca (serbuk kaca) terhadap kuat tekan beton.
2. Untuk mengetahui komposisi optimum penggunaan limbah kaca dalam
campuran pembuatan Beton
3. Untuk mengetahui pengaruh nilai workabilitas terhadap campuran beton
dengan limbah kaca (serbuk kaca)
I.3. Kegunaan Penelitian
I.3.1. Kegunaan Teoritis
Hasil penelitian secara teoritis diharapkan dapat memberikan referensi dalam
memperkaya wawasan dengan konsep green technology mengenaik pemanfaatan limbah
kaca sebagai bahan pembuatan beton.
I.3.2. Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini secara praktis diharapkan dapat menyumbang pemikiran
terhadap pemecahan masalah yang berkaitan dengan pengolahan limbah kaca tanpa
menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. PENGERTIAN KACA

6| P a g e
Kaca merupakan substansi yang keras dan rapuh, serta merupakan padatan amorf.
Yang mana dapat meleleh dengan mudah. Kaca merupakan hasil penguraian senyawa-
senyawa inorganic yang mana telah mengalami pendinginan tanpa kristalisasi. Salah satu
Komponen utama kaca adalak silica.

Na2CO3 + a.SiO2 Na2O.aSiO2 + CO2


CaCO3 + b.SiO2 CaO.bSiO2 + CO2
Na2SO4 + c.SiO2 + C Na2O.cSiO2 + SO2 +
SO2 + CO
Kaca adalah materi bening dan transparan ( tembus pandang ) yang biasanya
dihasilkan dari campuran silicon atau bahan silicon dioksida (SiO2), yang secara kimia
sama dengan kuarsa (bahasa Inggris: Kwart). Biasanya dibuat dari pasir. Suhu lelehnya
adalah 2000 Derajat Celcius. Jenis kaca yang paling umum di kenal dan yang digunakan
sejak berabad-abad silam sebegai jendela dan gelas minum adalah kaca soda kapur, yang
terbuat dari 75% (Si02) ditambah Na2O,CaO

Unsur-unsur pembentuk kaca antara lain :


Glass Former
Merupakan kelompok oksida pembentuk kaca.
Intermediate
Oksida yang menyebabkan kaca mempunyai sifat-sifat yang lebih
spesifik, contohnya untuk menahan radiasi, menyerap UV,dan sebagainya
Modifier
Oksida yan tidak menyebabkan kaca memiliki elastisitas, ketahanan suhu,
tingkat kekerasan, dll.

7| P a g e
II.1. 1 Pengaruh Sifat Reaktif Silika pada Kaca Terhadap Beton
Penggunaan agregat halus kaca yang dibuat dari jenis kaca leburan soda
line. Mulai dikembangkan untuk membuat beton kinerja tinggk. Agregat halus kaca
ini dibuat dalam bentuk bubuk dengan ukuran dan distribusi yang serupa agregat
halus/pasir alam. Penggunaannya diharapkan dapat memanfaatkan limbah dari hasil
limbah samping indrustri dan rumah tangga untuk komponen kontruksi,dan untuk
mengatasi kekurangan pasir alam yang tersedia. Berdasarkan ASTM C289-87
dilakukan tes kimia dan tes kereaktifan agregat didapat bahwa bubuk kaca masih
layak digunakan sebagai agregat walaupun memiliki sifat merugikan karena
mengandung silica reaktif yang dapat bereaksi dengan alkali semen, sehingga
mengakibatkan terjadinya ekspansi beton (Noor,1995)

II.2. PENGERTIAN BETON

Beton merupakan salah satu bahan utama yang paling sering digunakan dalam
pembangunan fisik dewasa ini. Beton dapat didefinisikan sebagai campuran dari agregat
halus dan agregat kasar dengan semen, yang dipersatukan oleh air dalam perbandingan
tertentu. Karena sifatnya yang khas, maka diperlukan pengetahuan yang cukup luas,
antara lain mengenai sifat bahan dasarnya,cara pembuatannya, cara evaluasinya, dan
variasi bahan tambahannya.

8| P a g e
Tingkat mutu beton atau sifat-sifat lain yang hendak dicapai, dapat dihasilkan
dengan perencanaan yang baik dalam pemilihan bahan-bahan pembentuk serta
komposisinya. Beton yang dihasilkan diharapkan memenuhi ketentuan-ketentuan seperti
kelecakan dan konsistensi yang memungkinkan pengerjaan beton dengan mudah tanpa
menimbulkan segresi atau pemisahan agregat dan bleeding. Ketahanan terhadap kondisi
khusus yang diinginkan, memenuhi kekuatan yang hendak dicapai serta ekonomis dari
segi biaya

1. Beton Mutu Normal


Beton mutu normal adalah beton yang mengandung agregat alam yang
dipecah atau tanpa dipecah sehingga sehingga diperoleh berat jenis diudara
atau berat massa volume beton antara 2100-2550 kg/m3 menurut ACI.Kuat
tekan beton mutu normal 20-50 Mpa pada umur 28 hari.
Beton mutu normal biasanya dipakai untuk kontruksi-kontruksi sederhana
seperti perumahan dan bangunan-bangunan gedung yang relative tidak terlalu
tinggi, dimana kuat tekan yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Proses
pelaksanaan pekerjaan kontruksi dengan menggunakan beton mutu normal
tidak terlalu menuntut tingkat ketelitian dan keamanan yang tinggi, dan
bahan-bahan dasar pembentuk mudah diperoleh serta ekonomis.
Kelemahan beton mutu normal yaitu mempunyai kekuatan yang kecil
serta sifat-sifat khususnya yang terbatas. Sifat khusus yang dimaksud antara
lain kedap air, lebih tahan terhadap agresi kimiawi, tahan terhadap pengaruh
lingkuman dimana beton tersebut digunakan dan lain sebagainya (Murdock
L.J,Brook K.M,1986)
2. Beton Mutu Tinggi
Beton mutu tinggi adalah beton yang mempunyai kuat tekan lebih dari 42
MPa pada umur 28 hari menurut ACI. Ada beberapa cara untuk menghasilkan
beton mutu tinggi, antara lain pemberian tekanan yang tinggi,autolavage,
penggunaan semen alumunium dan metode penambahan/subsitusi. Namun
metode yang paling popular digunakan akhir-akhir ini adalah metode
penambahan atau subsitusi. Hal ini disebabkan karena kemudahan dalam
pelaksanaannya, yakni hanya dengan menambahankan bahan-bahan tambahan
kedalam material-material dasar pembentuk beton. Keuntungan beton mutu
tinggi selain nilai kuat tekannya yang tingi, masih banyak aspek dari sifat-sifat
lain yang tidak ditemukan pada beton mutu normal
Seperti kekuatan awal tinggi, beton segar yang lebih praktis, lebih encer,
lebih mudah dikerjakan, lebih tahan terhadap segresi, kurang bleeding, lebih
tahan terhadap abrasi,, lebih padat lebih tahan panas, lebih tahan terhadap
korosi, kerapatan lebih tinggi, susut,dan rangkak yang kecil, keawetan lebih
tinggi dan homogeny. Dengan adanya beton mutu tinggi, memungkinkan
terciptanya optimalisasi struktur yang berarti minimalisasi bahan kontruksi
baik dari betonnya sendiri maupun baja tulangan yang digunakan. Aplikasi

9| P a g e
beton mutu tinggi antara lain untuk bangunan bertingkat banyak, jembatan,
terowongan dan lain sebagainya. Kelemahan yang terdapat pada beton mutu
tinggi antara lain pengerjaannya yang memerlukan pengawasan yang ketat
(pengendalian mutu),dan pengadaan bahan-bahan dengan mutu yang sangat
baik high quality yang sukar diperoleh harganya relative mahal.
Dibandingkan dengan beton mutu normal, beton mutu tinggi lebih mudah
rusak pada daerah sesmik (sering terjadi gempa) karena sifatnya yang sangat
getas (Mindess and Young,1981)

II.2.1 Perilaku Kuat Tekan dan Kuat Lentur Beton

1. Kuat Tekan
Kekuatan tekan merupakan kinerja utama beton. Kekuatan tekan adalah
kemampuan beton untuk menerima gaya tekan persatuan luas. Berdasarkan SNI Kuat
tekan didefinisikan sebagai besarnya beban persatuan luas yang menyebabkan benda
uji beton hancur bila dibebani dengan gaya tekan tertentu, yang dihasilkan oleh mesin
tekan. Menurut SNI 03-1974-1990 kekuatan tekan benda uji beton dapat dihitung
dengan rumus :

c= P/A
Dimana :
c = Kuat tekan beton (Kg/cm2)

P = Kuat tekan maksimum pada contoh beton


A = Luas penampang (permukaan pada contoh beton)

2. Kuat Lentur
Kuat lentur adalah kekuatan Tarik beton dalam keadaan lentur akibat momen,
kekuatan yang dikenal sebagai modulus runtuh adalah hal yang cukup penting untuk
menentukan retak-retak dan lendutan dari suatu balok yang dibebani. Kuat lentur
pada beton dapat ditentukan dari balok beton yang mengalami pembebanan
transversal. Kuat lentur maksimum dialami oleh serat bawah balok beton yang
disebut dengan modulus of rupture, yang besarnya bergantung dari panjang balok dan
jenis pembebanan

b = 5PI/2bh2

Dimana :
b = Kuat lentur beton (kg/cm2)

P = beban maksimum pada contoh beton (t)


I = panjang rentang contoh beton (cm)
b = lebar contoh beton (cm)

10| P a g e
h = tinggi contoh beton (cm)

3. Slump test
Slum adalah selisih perbedaan penurunan beton sebelum dan sesudah slump test
diangkat. Langkah-langkah penentuan slump :
Slump test diisi beton segar
Perojokan sebanyak 25 kali sampai slump terisi penuh beton segar
Pengangkatan slumptest
Catat penurunan yang terjadi
Sifat beton yang baik adalah jika beton tersebut memiliki kuat tekan tinggi (antara
20-50 Mpa, pada umur 28 hari). Dengan kata lain dapat di asumsikan bahwa mutu
beton ditinjau hanya dari kuat tekannya saja ( Tjokrodimuljo,1996).

II.2.2 MATERIAL PENYUSUN BETON

Beton dihasilkan dari sekumpulan interaksi mekanis dan kimiawi sejumlah


material pembentuk ( Nawy, 1985:8 ). Sehingga untuk memahami dan mempelajari
perilaku Beton, diperlukan tentang Karakteristik masing-masing komponen
pembentuknya. Bahan pembentuk beton terdiri campuran agregat halus dan agregat kasar
dengan air dan semen sebagai pengikatnya.
1. Agregat
Pada Beton biasanya terdapat sekitar 70% sampai 80% volume agregat
terhadap volume keseluruhan beton, karena itu agregat mempunyai peranan
yang penting dalam properties suatu beton (Minddesset al. 2003). Agregat ini
harus bergradasi sedemikian rupa sehingga sedluruh massa beton dapat
berfungsi sdebagai satu kesatuan yang utuh, homogeny, rapat, dan variasi
dalam prilaku (Nawy, 1998). Dua jenis agregat adalah :
1.1 Agregat halus (pasir alami dan buatan )
Agregat halus disebut pasir, baik berupa pasir alami yang diperoleh
langsung dari sungai atau tanah galian, atau dari pemecahan batu.
Agregat halus adalah agregat dengan ukuran butir lebih kecil dari
4,75mm (ASTM C 125-06 ). Agregat yang butir-butirnya lebih kecil
1,2mm disebut pasir halus, dan yang lebih kecil dari 0,002 mm disebut
clay (SK SNI T-15-1991-0). Persyaratan mengenai proporsi agregat
dengan gradasi ideal yang direkomendasikan terdapat dalam standar
ASTM C 33/ 03 Standart Spesification for Concrete Aggregate
Tabel 2.1 Gradasi Saringan Ideal Agregat Halus

Diameter Saringan Persen Lolos Gradasi Ideal


(mm) (%) (%)
9,5 mm 100 100

4,75 mm 95-100 97,5

11| P a g e
2,36 mm 80-100 90

1,18 mm 50-85 67,5

600 m 25-60 42,5

300 m 5-30 17,5

150 m 0-10 5

(Sumber. ASTM C 33/03)

1.2 Agregat kasar (kerikil batu pecah,atau pecahan dari blast furnance)
Menurut ASTM C 33 - 03 dan ASTM C 125 - 06, agregat kasar adalah
agregat dengan ukuran butir lebih besar dari 4,75 mm. Ketentuan
mengenai agregat kasar antara lain :

Harus terdiri dari butir butir yang keras dan tidak


berpori.
Butir butir agregat kasar harus bersifat kekal, artinya
tidak pecah atau hancur oleh pengaruh pengaruh cuaca,
seperti terik matahari dan hujan.
Tidak boleh mengandung zat zat yang dapat merusak
beton, seperti zat zat yang relatif alkali.
Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 %. Apabila
kadar
Persyaratan mengenai proporsi gradasi saringan untuk campuran beton
berdasarkan standart yang direkomendasikan ASTM C 33/ 03 Standart
Spesification for Concrete Aggregate (lihat table 2.1). Dan standar yang
direkomendasikan pada AST
Tabel 2.2 Gradasi Saringan Ideal Agregat Kasar
Diameter Saringan Persen Lolos Gradasi Ideal
(mm) (%) (%)

25,00 100 100


19,0 90-100 95

12,50 - -

9,50 20-55 37,5


4,75 0-10 5

2,36 0-5 2,5

(Sumber : ASTM C 33/03)

2. Semen ( Portland Cement )


Portland cement merupakan bahan pengikat utama adukan beton dan
pasangan batu yang digunakan untuk menyatukan bahan menjadi satu
kesatuan yang kuat. Jenis atau tipe semen yang digunakan merupakan salah

12| P a g e
satu factor yang mempengaruhi kuat tekan beton, dalam hal ini perlu diketahui
tipe semen yang distandartisasi di Indonesia. Menurut ASTM C150, semen
Portland dibagi menjadi lima tipe, yaitu :

Tipe I : Ordinary Portland Cement (OPC), semen untuk


penggunaan umum, tidak memerlukan persyaratan khusus
(panas hidrasi, ketahanan terhadap sulfat, kekuatan awal).

Tipe II : Moderate Sulphate Cement, semen untuk beton yang tahan


terhadap sulfat sedang dan mempunyai panas hidrasi
sedang.

Tipe III : High Early Strength Cement, semen untuk beton dengan
kekuatan awal tinggi (cepat mengeras)

Tipe IV : Low Heat of Hydration Cement, semen untuk beton yang


memerlukan panas hidrasi rendah, dengan kekuatan awal
rendah.

Tipe V : High Sulphate Resistance Cement, semen untuk beton yang


tahan terhadap kadar sulfat tinggi.

Selain semen Portland di atas, juga terdapat beberapa jenis semen lain :
1.1 Blended Cement (Semen Campur)
Semen campur dibuat karena dibutuhkannya sifat-sifat khusus yang
tidak dimiliki oleh semen portland. Untuk mendapatkan sifat khusus
tersebut diperlukan material lain sebagai pencampur. Jenis semen
campur :
a) Portland Pozzolan Cement (PPC)
b) Portland Blast Furnace Slag Cement
c) Semen Mosonry
d) Portland Composite Cement (PCC)
1.2 Water Proofed Cement
Water proofed cement adalah campuran yang homogen antara semen
Portland dengan Water proofing agent, dalam jumlah yang kecil.
1.3 White Cement (Semen Putih)
Semen putih dibuat untuk tujuan dekoratif, bukan untuk tujuan
konstruktif.
1.4 High Alumina Cement
High alumina cement dapat menghasilkan beton dengan kecepatan
pengerasan yang cepat dan tahan terhadap serangan sulfat, asam akan
tetapi tidak tahan terhadap serangan alkali.
1.5 Semen Anti Bakteri
Semen anti bakteri adalah campuran yang homogen antara semen
Portland dengan anti bacterial agent seperti germicide.
(Sumber : http://en.wikipedia.org)

13| P a g e
3. Air
Fungsi air disini antara lain adalah sebagai bahan percampuran dengan
pengaduk antara semen dan agregat. Pada umumnya air yang didapat
diminimum memenuhi persyaratan sebagai pencampuran beton, air ini harus
bebas dari padatan tersuspensi ataupun pada terlarut yang terlalu banyak, dan
bebas dari material organic (Mindess et al,2003)
Persyaratan air sebagai bahan bangunan, sesuai dengan penggunaannya
harus memenuhi syarat menurut persyaratan umum Bahan Bangunan Di
Indonesia (PUBI-1982), antara lain :
1. Air harus bersih
2. Tidak mengandung lumpur, minyak dan benda terapung lainnya yang
dapat dilihat secara visual
3. Tidak boleh mengandung benda-benda tersuspensi lebih dari 2
gram/liter
4. Tidak mengandung garam-garam yang dapat larut dan dapat merusak
beton (asam-asam,zat organic dan sebagainya) lebih dari 15 gram/liter.
Kandungan klorida (Cl), tidak lebih dari 500 p.p.m dan senyawa sulfat
tidak lebih dari 1000 p.p.m sebagai SO3
5. Semua air yang mutunya meragukan harus dianalisa secara kimia dan
dievaluasi.

II.3. Modifikasi Mix Design

Ada beberapa metode dalam perencanaan campuran (mix design). Metode


perencanaan campuran digunakan untuk memperkirakan proporsi campuran awal.
Estimaksi ini perlu dilakukan dengan membuat sedikit campuran percobaan (trial
mix) dan sering masih harus dikoreksi. Ada beberapa macam mix design yang dapat
digunakan, antara lain :
Americcan Concrete Institue (ACI)
Portland Design Cement Association (PCA)
DOE (British Departement of Environment ACI)
Dari metode diatas, metode DOE adalah metode yang paling sederhana, prosedur
perencanaan ini berlaku untuk semua beton dengan berat normal tidak mengandung
admixture,serbuk kaca. Untuk beton yang memerlukan sifat khusus atau tujuan khusus
maka harus dibuat modifikasi dalam perencanaan campuran karna melibatkan prinsip-
prinsip yang berbeda dan juga perlu dilakukan campuran percobaan (trial mix) sebelum
membuat dalam jumlah besar.
II.3.1 Perencanaan campuran (Mix Design)

14| P a g e
Tujuan utama mempelajari sifat-sifat beton adalah untuk perancangan campuran
(mix design), yaitu pemilihan bahan-bahan beton yang memadai, serta menentukan
proporsi masing-masing bahan untuk menghasilkan beton ekonomis dengan kualitas yang
baik (Antoni-p.Nugraha,2007). Dalam penelitian ini mix design dilaksanakan
mengunakan beberapa metode salah satunya adalah DOE, Pemakaian metode ini dipilih
karena metode ini adalah metode yang paling sederhana dan memiliki tingkat akurat yang
bias terbilang baik.

BAB III

ANALISIS DAN PEMBAHASAN MASALAH

III.1. Pendahuluan
Didalam bab ini akan diuraikan hasil dari uji coba beton yang di campurkan dengan
bubuk kaca yang telah dilakukan oleh Handy Yohanes Karwur, FT UNSRAT,2013.
Hasil desain beton beserta analisa yang didapat selama penelitian percobaan juga akan diberikan
dalam bab ini. Adapun pengujian terhadap beton tersebut adalah sebagai berikut :

1. Uji sieve analysis ; karakter agregat halus, karakter agregat kasar,dan matrial serbuk
kaca. Antara lain :
a. Agregat kasar batu pecah ( SK SNI M-10-1989-F dan SK SNI M-11-1989-F)
b. Agregat halus pasir Amurang (SK SNI M-10-1989-F dan SK SNI M-11-1989-F)
c. Serbuk kaca ( ketetapan oleh peneliti yang dipilih )

2. Slump test
Dalam penelitian ini sampel beton mengunakan kerucut Abram,dengan slump tes
10cm

3. Uji kuat tekan beton yang meliputi :

15| P a g e
a. Uji kekuatan tekan beton untuk usia 7,14,dan 28 hari dengan mengunakan
standart SKSNI M141989F
b. Berat volume beton

III.2 Pengujian Material

III.2.1. Pemeriksaan Material agregat halus dan agregat kasar


Agregat halus dan kasar digunakan terlebih dahulu diuji karakteristiknya. Halis
pemeriksaan Karakteristik agregat halus adalah sebagai berikut :

Hasil pemeriksaan agregat kasar sebagi berikut :

16| P a g e
III.2.2 Pembuatan Serbuk Kaca

Pecahan kaca diambil dari sisa-sisa potongan kaca di toko (limbah), kemudian
dihancurkan dengan menggunakan mesin Los Angeles. Pengayakan pada mesin dengan
ukuran ayakan paling kecil yaitu sampai ayakan no.200. Serbuk kaca yang digunakan
adalah yang lolos ayakan no. 200

III.2.3. Parameter Benda Uji yang di ukur

Pembuatan benda uji yang berbentuk silinder 10/20 cm.


Pemeriksaan kuat tekan pada umur 7,14,28 hari. Banyak benda uji yang
digunakan sebanyak 12 buah untuk setiap umur pengujian kuat tekan.
Pemeriksaan kuat tekan 0%, 6%, 8%, 10%, 12%, 15% subsitusi serbuk
kaca pada semen untuk tiap umur beton yang akan diuji. Banyak benda uji
yang digunakan sebanyak 4 buah untuk setiap pengujian.
Pemeriksaan nilai slump dari setiap variasi campuran beton.
Pengujian mesin uji tekan (compression test machine) standart SK-SNI M-
14-1989-F dan ASTM C39

17| P a g e
III.3 Pemeriksaan nilai Slum test dan nilai FAS

Pengujian nilai slump test merupakan salah satu metode yang dugunakan untuk
mengetahui tingkat workabilitas campuran beton. Nilai slump diukur dengan mengunakan
kerucut Abram. Hasil pemeriksaan slump untuk masing-masing campuran beton dapat dilihat
pada table dibawah ini.

Nilai uji slum bervariasi antara 77mm sampai 85 mm. Nilai slump yang bervariasi dikarenakan
kondisi kadar air dan absorbs agregat yang tidak seragam. Untuk mempertahankan nilai slump
test sesuai slump rencana, dilakukan koreksi terhadap pemakain air saat pencampuran

Faktor air semen (fas) dinyatakan dalam perbandingan berat air terhadap berat semen
dalam campuran. Faktor air semen (fas) merupakan salah satu factor paling penting dalam
menentukan mutu beton. Semakin rendah fas maka kekuatan mutu beton semakin tinggi dan
sebaliknya, namun dengan semakin rendah fas semakin sulit pengerjaannya.

III.4 Kuat tekan beton dan berat

18| P a g e
III.4.1. Berat dan volume

Berdasarkan table diatas diketahui bahwa semakin besar kandungan serbuk kaca maka
berat benda dan berat volume mengecil ini sangat berguna dalam bangunan gedung karna beton
tersebut memiliki beban yang lebih kecil.

Dari hasil nilai diatas,berat volume beton pada umur satu hari berkisar 2056,808 sampai
2149,117 kg/m3. Sesuai klasifikasi ACI. FIP dan SNI , maka semua jenis beton dalam penelitian
ini termasuk beton dalam jenis beton berbobot normal

III.4.2. Kuat Tekan

Pada table diatas. Menunjukan Kuat tekan maksimum untuk umur 7 dan 14 hari dicapai oleh
kaca 0% sedangkan untuk umur beton 28 hari dicapai oleh kaca 10%

19| P a g e
*Grafik perkembangan Kuat Tekan Beton dengan persentase campuran serbuk kaca
terhadap umur beton

Dapat kita lihat dengan jelas perkembangan kuat tekan dari setiap umur 7 dan 14 hari
titik maksimum berada pada kaca 0% namun pada umur 28 hari berada pada kaca dengan
kandungan serbuk kaca 10%. Perbadingan persentase laju peningkatan kuat tekan beton terhadap
kuat tekan beton umur 28 hari dapat dilihat pada table dibawah :

Dapat dilihat kuat tekan maksimum berada pada kaca 10% yaitu sebesar 31.07 MPa. Dibawah ini
adalah grafik perbandingan antara kaca 0% sampai 15% untuk mengetahui persentase tertinggi
dan terendah kuat tekan beton umur 28 hari.

20| P a g e
*Hubungan Kuat tekan beton terhadap persentase pemakain serbuk kaca pada umur 28 hari

Merupakan grafik perkembangan kuat tekan beton pada umur 28 hari untuk setiap variasi
serbuk kaca. Berdasarkan grafik tersebut terlihat bahwa beton memakai serbuk kaca paling
banyak memiliki hasil kuat tekan yang paling rendah dibandingkan dengan variasi lainnya. Nilai
maksimum dari kuat tekan beton kita lihat pada serbuk kaca 10%

21| P a g e
*Persentase Kuat Tekan Beton rata-rata terhadap kaca 0%

Kuat tekan beton dengan persentase pemakain serbuk kaca terhadap kuat tekan tanpa
serbuk kaca. Untuk kaca 6% berada diantara 82.51%-105.58% sementara untuk kaca 8%
terdapat pada 69.33%-111.17%. untuk kaca 10% antara 75.12%-118.45%.kaca 12% pada kisaran
72.41%-103.4% dan untuk kaca 15% pada kisaran 55.17%-91.99%

22| P a g e
*Grafik perkembangan kuat tekan beton dengan umur beton dari setiap persentase
pemakaian serbuk kaca

Diatas menggambarkan kuat tekan beton pengujian sebagai berikut :


Pada umur 7 hari nilai kuat tekan rata-rata kaca 0% adalah 16.87 MPa,Namun pada kaca
6%,8%,10%,12%,15% mengalami penurunan kuat tekan. Hal ini dikarenakan proses pengikatan
senyawa yang melambat akibat pengurangan fungsi semen itu sendiri dimana unsur senyawa
alite (trkalsium silikat) yang berfungsi sebagai pembangun kekuatan awal beton berkurang. Pada
variasi 15% terlihat penurunan kuat tekan sangat besar hanya variasi kaca 10% yang kuat
tekannya mendekati kuat tekan beton kaca 0%
Pada umur 14 hari nilai kuat tekan rata-rata semua variasi yang memakai serbuk kaca
tetap mengalami penurunan terhadap kaca 0%. Penurunan terjadi dari variasi satu ke variasi
selanjutntya hal ini juga dikarenakan proses pengikatan senyawa yang melambat sama seperti
pada pengujian kuat tekan umur 7 hari. Kaca 15% terlihat nilai kuat tekan paling minimum pada
umur 14 hari.
Pada umur 28 hari nilai kuat tekan rata-rata kaca 0% adalah 26,23% MPa,Kemudian
terjadi kenaikan sampai pada variasi kaca 10% yaitu 31,067 MPa. Persentase ini yang
merupakan nilai maksimum. Untuk umur 7 hari dan 14 hari semua variasi pemakaian serbuk
kaca mengalami penurunan namun pada umur 28 hari kuat tekan semua variasi mengalami
peningkatan kecuali pada persentase 15%. Dapat dilihat bahwa untuk semua variasi terlihat jelas
bahwa untuk kaca 15% terjadi penurunan di setiap umur yang diuji, didapati juga bahwa pada

23| P a g e
pengujian kuat tekan beton, pola retak yang dihasilkan oleh presentase kaca 12% dan 15%
berbeda dengan presentase lainnya, dimana pada presentase 12% dan 15% beton menjadi lebih
getas.

24| P a g e
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

IV.1. Kesimpulan
1. Penambahan serbuk kaca sebagai subsitusi agregat halus tidak memenusi syarat
standar ASTM karena pada praktiknya dapat menurunkan kuat tekan pada beton
2. Penambahan serbuk kaca pada beton hanya sebagai tambahan admixture beton hal ini
dibuktikan pada hasil penelitian dimana pada kandungan serbuk kaca 8% beton
memiliki kekuatan tekan lebih besar 18.45% dibandingkan beton dengan kandungan
serbuk kaca 0%
3. Berdasarkan hasil analisa dari penelitian terhadap beton dengan campuran serbuk
kaca menunjukan adanya perbedaan workbilitas slum test hal ini karena serbuk kaca
merupakan material pengisi sehinnga campuran beton lebih padat
4. Pemanfaatan limbah kaca menjadi bahan campuran dalam beton bisa dikatakan beton
ramah lingkungan karena dapat mengurang limbah sampah Indonesia sebesar
0.7Ton/tahun
5. Berdasarkan hasil analisa berat jenis beton, dapat dikatakan beton dengan komposisi
serbuk kaca yang semakin besar memiliki berat jenis yang lebih kecil hal ini karena
masa jenis serbuk kaca(1290-1940kg/m3) lebih kecil dibandingkan masa jenis
pasir(agregat halus) (1442kg/m3)
6. Bahan baku serbuk kaca dapat mengambat reaksi kimia yang terjadi pada semen hal
ini yang membuktikan bahwa semakin besar penambahan serbuk kaca pada
komposisi beton makan nilai kekuatan tekannya semakin turun hal ini berlaku hingga
penambahan serbuk kaca mencapai 100%
7. Penggunaan optimum serbuk kaca pada komposisi pembuatan beton adalah 8%

IV.2. Saran
1. Dalam pembuatan beton dengan campuran serbuk kaca sebagai subsitusi perlu dikaji
kembali,karena selain menghambat laju reaksi semen juga dapat menyebabkan
kekuatan tekan beton
2. Penggunaan serbuk kaca pada komposisi beton bisa membantu dalam penerapan Eco-
technologi karena selain lebih kuat beton juga semakin ringan,hal ini sangat berguna
untuk bangunan gedung bertingkat
3. Dalam pembuatan beton dengan campuran serbuk kaca perlu dilakukan pengawasan
yang ketat hal ini dikarenakan penambahan serbuk kaca harus optimum agar tidak
terjadi kesalahan desain

DAFTAR PUSTAKA

25| P a g e
ACI Committee 201, 1994, Guide to Durable Concrete (ACI Manual of Concrete Practise) Part
I, American Concrete Institute, Detroit Michigan.
ACI Committee 211,1993, Guide for Selecting Proportions for Normal Heavyweight, and Mass
Concrete (ACI 211.1-91), American Concrete Institute, Detroit Michigan.
Departemen PU,1989,Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A(SK SNI S-04-1989-F), Yayasan
LPMB, Bandung.
Mindess.S dan Young. J. Francis,1981 Concrete Prentice-Hall,.
Murdock L.J, Brook K.M,1986,Bahan dan Praktek Beton, Erlangga,.
Puja, A dan Rachmat, P.2010, Pengendalian Mutu Beton sesuai SNI, ACI dan ASTM, ITS
Press Surabaya.
Anonim, 2008, SNI 1972:2008 (Medote Pengujian Kuat Tekan Beton), Departemen
Pekerjaan Umum, Jakarta.

26| P a g e