Anda di halaman 1dari 2

2.

Ketika mekanisme townsend diterapkan ke gangguan pada tekanan atmosfer


ditemukan beberapa kelemahan:
Pertama, menurut teori Townsend, pertumbuhan arus hanya terjadi sebagai hasil
dari proses ionisasi. Tetapi pada praktiknya, tegangan breakdown ditemukan
tergantung dari tekanan gas dan geometri gap.
Kedua, mekanisme memprediksi waktu tinggal mulai dari 10 -5s, sementara itu pada
kenyataan praktiknya, breakdown telah diamati terjadi pada waktu yang sangan
singkat mulai dari 10-8s.
Ketiga, mekanisme Townsend memprediksi bentuk pelepasan yang sangat tersebar,
tetapi pada kenyataan praktiknya, pelepasan ditemukan menjadi filamen dan tidak
teratur.

Mekanisme townsend gagal untuk menjelaskan semua fenomena yang diamati dan
sebagai hasilya, sekitar tahun 1940, Reather and, Meek and Loeb secara
independen mengusulkan Teori Streamer.

Teori tersebut memprediksi pembentukan suatu spark discharge dari sebuah peluruhan tunggal yang mana
muatan ruang (banyak muatan) dibentuk dari peluruhannya sendiri yang mengubah peluruhan menjadi
sebuah plasma streamer (kanal plasma). Perhatikan gambar 2.12. Sebuah elektron tunggal pada katoda,
mulai mengion dan menyebabkan peluruhan sepanjang gap. Elektron dalam peluruhan bergerak sangat
cepat dibanding ion positif. Sehingga pada saat elektron mencapai anoda, seolah-olah ion positif masih
berada pada posisi asal dan membentuk suatu muatan ruang positif pada anoda. Oleh karena itu medan
listrik membesar, dan menyebabkan peluruhan sekunder oleh beberapa elektron yang dihasilkan pada
proses photo-ionisasi disekitar area muatan ruang. Ini pertama terjadi didekat anoda dimana muatan ruang
maksimum. Ini secara terus menerus membentuk muatan ruang yang lebih besar. Proses ini sangat cepat
dan muatan ruang positif meluas sampai katoda sehingga membentuk suatu streamer/kanal. Jalur
bercahaya yang relatif sempit yang terjadi saat tembus pada tekanan tinggi disebut streamer/kanal. Segera
ketika ujung streamer mencapai katoda, aliran elektron bergerak cepat dari katoda untuk menetralkan
muatan rungan positif pada streamer/kanal; hasilnya adalah bunga api, dan tembus bunga api terjadi. Tiga
tahapan pembentukan streamer/kanal ditunjukkan pada gambar 2.13 dimana (a) menunjukkan tahap
ketika muatan ruang positif mencapai katoda. (b) menunjukkan bahwa streamer netral terbentuk pada
setengah panjang gap, dan (c) menunjukkan bahwa gap telah dijembatani oleh sebuah jalur penghantar.

4.
Ide untuk menggunakan vacum insulation, telah lamadipikirkan. Sesuai dengan teori Townsend,
arus yang terjadi padacelah antara katoda dan anoda, disebabkan karena aliran partikelyang terlepas dari
ikatannya. Jika tidak ada sama sekali partikelyang mengalir diantara celah (vakum yang sempura )
maka tidakakan ada sifat konduktor yang terdapat di celah tersebut, akibatnyaarus tidak akan mengalir
pada celah tersebut, Dalam hal ini vacumadalah insulator yang sempurna. Tetapi pada kenyataannya
dalampraktek, kegagalan masih dapat saja terjadi.
Pada proses kegagalan townsend telah dijelaskan bahwaelektron akan bertambah banyak melalui
beberapa jenisproses ionisasi, dan terjadilah banjiran elektron(avalance). Pada high vaccum,
elektroda dipisahkanbeberapa centimeter, sebuah elektron yang bergerakmenyeberangi celah
tersebut akan bergerak tanpamengalami tumbukan, maka dari itu arus yang timbulpada
celah tidak dapat dikatakan sebagai akibat daribanjiran elektron. Namun begaimanapun juga
sebuahelektron yang bergerak bebas pada celah akanmenyebabkan proses kegagalan sama
seperti teoritownsend juga.

5.
Terdapat 4 prinsip area dimana isolasi harus digunakan:
1. Antara koil dan bumi (fasa ke bumi)
2. Antara koil dari fasa yang berbeda (fasa ke fasa)
3. Antara lilitan dalam koil (inter-turn)
4. Antara koil dari fasa yang sama (inter-coil)

6.
Isolasi secara umum diklasifikasikan berdasarkan ketahanan panas. Performansi dari isolasi tergantung
dari temperatur operasinya. Semakin tinggi temperatur, semakin tinggi tingkat kerusakan kimianya.
Material isolasi dikelompokkan dalam kelas-kelas berbeda O, A, B, dan C dengan batas
temperatur 90C, 105C, 130C untuk 3 kelas pertama dan tidak ada batasan khusus untuk kelas C. Kelas
O dan A mencakup berbagai bahan organik tanpa dan dengan impregnasi. Kelas B dan C mencakup bahan
anorganik dengan dan tanpa bahan pengikat.
Kategori baru dari IEC (International Electrotechnical Commission):
a. Kelas Y(dahulu O): 90C: kertas, katun, sutra, karet alami, polyvinyl chloride, dll tanpa
impregnasi.
b. Kelas A: 105C: sama dengan kelas Y tetapi tidak diimpregnasi, ditambah nilon.
c. Kelas E: 120C: Polythylene terephthalate(terylene fibre, melinex film), cellulose triacetate,
polyurethanes, polyvinyl acetate enamel.
d. Kelas B: 130C: mika, fibreglass(alkali free alumino borosilicate), bitumenized asbestos,
bekalite, polyester enamel.
e. Kelas F: 155C: sama dengan kelas B namun dengan alkyd dan epoxy based resins.
f. Kelas H: 180C: sama dengan kelas B dengan silicone resin binder, karet silikon, aromatic
polyamide(nomex paper and fibre), polymide film(enamel, varnish, and film) dan estermide
enamel.
g. Kelas C: diatas 180C: sama dengan kelas B namun dengan pengikat non-organik yang sesuai;
teflon(polytetraflouroethylene)