Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan
tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan biasanya ringan
tetapi kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya yang menyebabkan
perdarahan banyak. Perdarahan post partum menjadi penyebab utama, 40%
kematian ibu di Iindonesia. Angka kejadian perdarahan post partum
berkisar antara 5% sampai 15%, dimana frekuensi kejadian perdarahan post
partum menurut penyebabnya yaitu: atonia uteri 50-60%, retensio placenta
16-17%, sisa placenta 23-24%, kelainan darah 0,5-0,8% dan ruptur
perineum 4-5%.
Menurut WHO ( World Health Organization ) sebanyak
99 % kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di
negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu di negara-negara
berkembang merupakan yang tertinggi dengan 450 kematian ibu per
100.000 kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu
di sembilan negara maju.(Hidayatullah, 2011) diaskes 12 Juni 2013
Tahun 2008 menyebutkan bahwa, AKI di kawasan Asia Tenggara
masih tergolong tinggi, dari 37 juta kelahiran yang terjadi di kawasan Asia
Tenggara setiap tahun, kematian ibu dan bayi baru lahir di kawasan ini
diperkirakan 1,3 juta per tahun. Sebanyak 98% dari seluruh kematian ibu
dan bayi di kawasan Asia Tenggara terjadi di India 17,5%, Bangladesh 17,9
%, Nepal 18,2 %, Myanmar 18,3% dan yang paling tinggi di Indonesia
sebanyak 26,1 (Hastuti, 2010) .
Indonesia membuat rencana strategi
nasional Making Pregnancy Safer(MPS) untuk tahun 2010 - 2014, dalam

1
konteks rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2015
adalah dengan visi "kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung
aman, serta yang dilahirkan hidup dan sehat". Salah satu sasaran yang
ditetapkan untuk tahun 2015 adalah menurunkan angka kematian maternal
menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup. (Hapsari, 2010) .
Jumlah kematian ibu tahun 2009 di Indonesia yang mengalami

perdarahan sebagai penyebab utama kematiannya adalah sebanyak 392

orang diantaranya 36,48% (143 orang) karena anemia, 44,89% (176 orang)

karena hipertensi, 19,39% (73 orang) lain-lain. Angka ini merupakan

indikator yang peka terhadap ketersediaan pemanfaatan dan kualitas terbaik

untuk menilai pembangunan ekonomi masyarakat yang menyeluruh

(Rusnah, 2009).

Di Sulawesi Barat, dalam sektor kesehatan masih menghadapi

dua problem mendasar, yaitu sarana air bersih serta angka kematian ibu dan

anak yang masih tinggi. Kedua permasalahan ini, selalu menjadi fokus

perhatian Dinas kesehatan Sulawesi Barat. Di tahun 2014 ini, data

menunjukkan peningkatan angka kematian ibu menjadi 358/100.000

kelahiran hidup, jika dibandingkan 2013 lalu, hanya menunjukkan angka

kematian ibu 131/100.000 kelahiran hidup. Lebih tinggi dari target sasaran

pembangunan Millenium Development Goals (MDGs) sekitar 102/100.000

kelahiran hidup. (Dinkes Sulbar, 2014)

Di Polewali Mandar, Angka kematian ibu, pada tahun 2009

yaitu 12/ 7173 kelahiran hidup, tahun 2010 meningkat menjadi 13/7405

2
kelahiran hidup, tahun 2011 masih tetap 13/8069 kelahiran hidup, tahun

2012 turun kembali menjadi 12/8749 kelahiran hidup, dan kembali turun

pada tahun 2013 yakni 11/8355 kelahiran hidup. Berdasarkan Laporan

Tahunan KIA ditemukan Penyebab kematian Ibu pada tahun 2011

didominasi oleh factor perdarahan yaitu 8 dari 13 kematian ibu (61.5%)

kemudian disusul oleh penyebab yang lainnya. (Rekam Medik Dinkes

Polewali Mandar).

Walaupun banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam

menemukan penurunan angka kematian ibu, namun tetap saja masih jauh

dari target nasional tahun 2015 untuk menurunkan angka kematian ibu

menjadi102/100.000 kelahiran hidup ( Bascom, 2012).

Untuk mencegah timbulnya komplikasi pada masa nifas

utamanya ruptur perineum yang menjadi sumber infeksi masa nifas atau

komplikasi lainnya dapat di cegah dengan peningkatan mutu pelayanan

antara lain perawatan perineum secara terus menerus. (Saifuddin AB,

2008; h. 65)

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka penulis tertarik

untuk melakukan asuhan kebidanan post natal care pada ny. L dengan

Ruptur perineum.

3
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan umum

Mampu melaksanakan Asuhan kebidanan pada ibu post partum


dengan ruptur perineum di Puskesmas Pekkabata.

1.2.2 Tujuan khusus

Mampu melaksanakan Asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan

ruptur perineum menggunakan pengkajian manajemen kebidanan dan

pendokumentasian dengan menggunakan SOAP

1.3 Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Dapat memberikan informasi kepada pembaca mengenai hasil

pengkajian ini, serta dapat memberikan manfaat bagi pengembangan

ilmu kebidanan dalam hal menambah pengetahuan, pengalaman dan

wawasan, serta dalam penerapan ilmu metode pengkajian/penelitian

dapat dijadikan referensi, khususnya mengenai asuhan kebidanan.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Puskesmas pekkabata

Memberikan informasi kepada tenaga kesehatan, khususnya

bidan mengenai bahaya rupture perineum nifas, pencegahan dini

serta pemberian konseling mengenai persiapan menghadapi

persalinan.

4
b. Bagi Profesi Bidan
Hasil pengkajian ini diharapkan dapat menjadi bahan

masukan bagi bidan dalam upaya meningkatkan pelayanan

kesehatan khususnya asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan

rupture perineum, dan Memberikan informasi bagi masyarakat,

khususnya ibu nifas mengenai perawatan rupture perineum.

c. Bagi STIKes Bina Generasi

Menjadi bahan masukan untuk menambah pengetahuan dan

informasi serta sebagai bahan yang dapat dijadikan

parameter keberhasilan menciptakan sumber daya manusia.

d. Bagi mahasiswa

Sebagai bahan masukan dan referensi bagi mahasiswa yang

akan melakukan asuhan kebidanan. Serta dapat bermanfaat sebagai

bahan dokumentasi dan bahan perbandingan untuk studi kasus

selanjutnya.

BAB II

5
TINJAUAN TEORI

2.1 Tinjauan Umum Tentang ruptur/robekan perineum.


1. Pengertian tentang ruptur / robekan perineum.
Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama
dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum
umumnya terjadi digaris tengah dan biasa menjadi menjadi luas apabila
kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil dari pada
biasa sehingga kepala janin terpaksa lahir lebih kebelakang daripada
biasa, kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang
lebih besar dari pada sikumferensia suboksipito-bregmatika, atau anak
dilahirkan dengan pembedahan vaginal. ( Sarwono Prawirohardjo, 2007;
h. 665).
Robekan perineum atau luka pada perineum yang diakibatkan oleh
rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau
bahu pada saat proses persalinan. (Rukiah,2010;h.361)
2. Tingkatan ruptur perineum
a. Tingkat I :bila perlukaan hanya terbatas pada
mukosa vagina atau kulit perineum.
b. Tingkat II :adanya perlukaan yang lebih dalam dan luas kevagina
dan perineum dengan melukai fasia serta otot-otot diafragma
urogenitale.
c. Tingkat III :perlukaan yang lebih luas dan lebih dalam yang
menyebabkan muskulus sfingter ani ekternus terputus didepan .
d. Tingkat IV : robekan mengenai perineum sampai dengan otot spinter
ani dan mukosa rektum. ( Miles,2011;h 491)

3. Penyebab ruptur perineum

6
a. Kepala janin besar dan bayi besar.
b. Presentasi defleksi ( dahi, muka ) pada primigravida.
c. letak sungsang, pimpinan persalinan yang salah, perineum kaku
d. Partus presipitatus
e. Pada primigravida
f. Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya
4. Tanda dan gejala robekan jalan lahir
a. Tanda dan Gejala yang selalu
ada
1) Pendarahan segera
2) Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir
3) Uterus kontraksi baik
4) Plasenta baik
b. Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada
1) Pucat
2) Lemah
3) Menggigil
5. Penanganan ruptur perineum

Penanganan ruptur perineum diantaranya dapat dilakukan dengan


cara melakukan penjahitan luka lapis demi lapis, dan memperhatikan
jangan sampai terjadi ruang kosong terbuka kearah vagina yang biasanya
dapat dimasuki bekuan-bekuan darah yang akan menyebabkan tidak
baiknya penyembuhan luka. Selain itu dapat dilakukan dengan cara
memberikan antibiotik yang cukup.

a. Prinsip yang harus diperhatikan dalam menangani rupture perineum


adalah:

7
1) Bila seorang ibu bersalin mengalami perdarahan setelah anak lahir,
segera memeriksa perdarahan tersebut berasal dari retensio plasenta
atau plasenta lahir tidak lengkap.

2) Bila plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi uterus baik, dapat
dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan pada
jalan lahir, selanjutnya dilakukan penjahitan.

b. Prinsip melakukan jahitan pada robekan perineum:

1) Reparasi mula-mula dari titik pangkal robekan sebelah


dalam/proksimal ke arah luar / distal. Jahitan dilakukan lapis demi
lapis, dari lapis dalam kemudian lapis luar.

2) Robekan perineum tingkat I : tidak perlu dijahit jika tidak ada


perdarahan dan aposisi luka baik, namun jika terjadi perdarahan
segera dijahit dengan menggunakan benang catgut secara jelujur atau
dengan cara angka delapan.

3) Robekan perineum tingkat II : untuk laserasi derajat I atau II jika


ditemukan robekan tidak rata atau bergerigi harus diratakan terlebih
dahulu sebelum dilakukan penjahitan. Pertama otot dijahit dengan
catgut kemudian selaput lendir. Vagina dijahit dengan catgut secara
terputus-putus atau jelujur. Penjahitan mukosa vagina dimulai dari
puncak robekan. Kulit perineum dijahit dengan benang catgut secara
jelujur.

4) Robekan perineum tingkat III : penjahitan yang pertama pada dinding


depan rektum yang robek, kemudian fasia perirektal dan fasia septum
rektovaginal dijahit dengan catgut kromik sehingga bertemu kembali.

5) Robekan perineum tingkat IV : ujung-ujung otot sfingter ani yang


terpisah karena robekan diklem dengan klem pean lurus, kemudian

8
dijahit antara 2-3 jahitan catgut kromik sehingga bertemu kembali.
Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis seperti
menjahit robekan perineum tingkat I.

6. Perawatan ruptur perineum


Perawatan khususnya perineum bagi wanita setelah melahirkan
anak mengurangi ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah, infeksi dan
meningkatkan penyembuhan.
Perinsip-perinsip dasarnya adalah sebagai berikut :
a. Mencegah kontaminasi dari rectum
b. Menangani dengan lembut pada jaringan yang terkena trauma
c. Membersihkan semua keluaran yang menjadi sumber bakteri dan bau.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, prosedur yang disarankan pada
ibu adalah :
1) Mencuci tangan.
2) Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan kebawah mengarah
ke rektum dan letakkan pembalut tersebut kedalam kantong plastik.
3) Berkemih dan BAB ke toilet.
4) Cuci kembali tangan.

Perawatan ruptur perineum :


a. Persiapan alat dan bahan
1) Satu pasang handscoen
2) Gasa steril
3) Kom berisi bethadine
4) Kapas Savlon
5) Nierbekken

b. Cara kerja
1) Vulva hygiene

9
a) Membantu ibu untuk mengambil posisi litotomi
b) Cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air yang bersih yang
mengalir
c) Pakai sarung tangan disenfeksi tinggi atau steril
d) Dengan menggunakan 1 kapas savlon, oleskan dari atas kebawah
pada labia minora (dimulai dari bagian yang terjauh dari petugas).
Terakhir oleskan 1 kapas savlon dari bagian atas sampai kebawah
vulva 1 kali.
2) Vagina toilet
a) Gulungkan gasa bethadine pada jari telunjuk dan jari tengah,
kemudian oleskan kedalam vagina dengan memutar 360derajat.
b) Kompres bethadine
3) Sinar Lampu inframerah
Dapat digunakan dua kali sehari untuk membantu pengeringan
dan kesembuhan luka perineum. Ibu biasanya berbaring dalam posisi
lakteral kiri (sims) lampu yang diletakkan dengan jarak 50 cm dan
sinar inframerah diarahkan pada perineum selama 10 menit, lampu
tersebut akan memberikan kehangatan serta pengurangan rasa sakit.

4) Sitz baths (bak rendam dengan air yang dapat ditambah garam).
Kadang-kadang digunakan untuk memberikan rasa nyaman dan
membantu kesembuhan.

5) Pemberian obat analgetik untuk meredakan nyeri.(Suherni,dkk,2008)


7. Lingkup perawatan perineum
Lingkup perawatan perineum bertujuan untuk pencegahan infeksi
organ-organ reproduksi yang disebabkan oleh masuknya
mikroorgannisme yang masuk melalui vulva yang terbuka atau akibat dari
perkembangbiakan bakteri pada peralatan penampang lochea (pembalut)
8. waktu perawatan

10
a. Saat mandi : pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut,
setelah terbuka maka ada kemungkinan akan mungkin terjadi
kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung dalam pada pembalut,
untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut, demikian pula
pada perineum ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
b. Setelah buang air kecil, pada saat buang air kecil kemungkinan besar
terjadi kontaminasi air seni pada rectum akibatnya dapat memicu
pertumbuhan bakteri pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan
perineum.
c. Setelah buang air besar, pada saat buang air besar diperlukan
pembersihan sisa-sisa kotoran di sekitar anus ke perineum yang letaknya
berseblahan maka diperlukan proses pembersihan anus dan perineum
secara keseluruhan.
9. Factor yang mempengaruhi perawatan perineum
a.Gizi
Faktor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi terhadap
proses penyembuhan luka pada perineum karena penggantian jaringan
sangat membutuhkan protein.
b. Obat-obatan steroid:
1) Dapat menyamarkan adanya infeksi dengan menggangu respon
inplamasi normal
2) Antikoagulan : dapat menyebabkan hemoragi
3) Antibiotic:efektif bila diberikan segera sebelum pembedahan untuk
patologi spesifik atau kontaminasi bakteri
4) Keturunan : sifat genetic seseorang akan mempengaruhi
kemampuan dirinya dalam penyembuhan luka.
10. Dampak perawatan luka perineum yang tidak benar

11
a. Infeksi : kondisi perineum yang terkena lochia dan lembab akan
sangat menunjang perkembangan bakteri yang dapat menyebabkan
timbulnya infeksi
b. Komplikasi : munculnya infeksi pada perineum dapat merambat pada
salur kandung kemih ataupun jalan lahir yang dapat berakibat pada
munculnya komplikasi infeksi kandung kemih maupun infaksi pada
jalan lahir
c. Kematian ibu post partum : penanganan komplikasi yang lambat
dapat menyebabkan terjadinya kematian pada ibu post partum
mengingat kondisi fisik ibu post partum masih lemah
11. Fase -fase penyembuhan luka
a. Fase inflamasi,berlangsung selama 1 sampai 4 hari
b. Fase proliferati,berlangsung 5 sampai 20 hari
c. Fase maturasi, berlangsung 21 hari sampai sebulan atau bahkan
tahunan.

BAB III
TINJAUAN KASUS

12
PENGKAJIAN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS
DENGAN RUPTUR PERINEUM
Nama : Ny L Tgl : 28 januari 2016 No. R.M :
Tgl lahir : 30 oktober 1985 Jam : 22.15 wita Ruangan : PNC
A SUBJEKTIF
. Riwayat Menstruasi
1 Umur Menarche : 15 thn, lamanya haid : 6 hari, HPHT : 05 mei 2015 TP: 12 februari 2016

Dismenorhoe Metrorhagia Menorrhagia

Keluhan utama : Nyeri pinggang di bagian atas simfisis, pelepasan darah, ibu mengeluh belum ada ASI
2 yang keluar

3 Riwayat perkawinan :
Status perkawinan : Kawin Belum kawin
Jumlah perkawinan : Istri 1x 2x
Suami 1x 2x
Usia Perkawinan : 4 thn
4 Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
GII PI A0
No Tahun Tempat Umur Jenis Penolong Penyulit Jenis Keadaan
. Partus Partus hamil persalina persalina kelamin anak
n n /berat lahir sekarang
1 2012 PKM 27 Per Bidan - LK/ 3,3 Sehat
Pekkkabata thn vaginam Kg
5 Riwayat kehamilan sekarang
Hamil muda : Mual ya Muntah Perdarahan tidak ada Lain-lain....
Hamil tua : Pusing Sakit kepala ada sejak 2 hari Perdarahan tidaK Gerakan janin baik
lain-lain
6 Riwayat penyakit keluarga
Kanker Penyakit hati Hipertensi DM Penyakit ginjal Penyakit jiwa
Kelainan Bawaan Hamil kembar TBC Alergi lain-lain
7 Riwayat Ginekologi
Infertilitas Infeksi virus PMS Cervisitis Cronis Endometriosi Myoma Polip servikx
Operasi kandungan Perkosaan Lain-lain...
8 Riwayat KB
Metode KB yang pernah dipakai ......Pil... Lamanya.....2....... tahun
Komplikasi dari KB :........ Perdarahan......... Radang panggul........ Lain-lain....

13
B. OBJEKTIF
1 Pemeriksaan umum : Baik,Kesadaran : Composmentis BB/TB : 55 kg / 159 cm
TTV :
TD : 100/80 mmHg
Nadi : 89 x/menit
Suhu : 37,1 C
Pernafasan : 24 x/ menit
2 Pemeriksaan fisik
Mata : Conjungtiva merah muda Sklera putih Pandangan kabur
Leher : Pembesaran kelenjar limfe Tiroid
Payudara : Papilla terbentuk Hiperpigmentasi pada areola Pengeluaran cloastrum ada bila dipencet
Abdomen : Inspeksi
Membesar Linea alba Linea nigra ada ada striae livida striae alba lukabekas
Operasi tidak ada
Lain-lain...
Pemeriksaan Obstetric :
Fundus uteri : Setinggi pusat 2 jari bwh pusat simfisis pusat
Kontraksi Uterus : Keras Sedang Lembek
Kandung kemih : Penuh Kosong
Luka Operasi : Redness/merah Edema Discharge / nanah
Genetalia
Pengeluaran Lochea : Rubra Sanguilenta Serosa Air-air
Luka Perineum : : Redness/merah Edema Discharge / nanah
Foley catheter : Tidak Ya....cc
Ekstremitas : : Normal Tungkai edema Refleks patella
Kandung kemih : Penuh Kosong
Ekstremitas : Normal Tungkai edema positif reflex patella positif
3 Persalinan Sekarang
Jenis Persalinan : Spontan Dengan Alat SC
Keadaan Anak : Hidup Mati
Jenis Kelamin : Laki laki Perempuan BB/PB : 3200 gram / 48 cm
Ketuban Pecah : Spontan Amniotomi Pukul : 21.25 wita
Episiotomi : Dilakukan Tidak dilakukan

Lama persalinan Jumlah Perdarahan


Kala I 4 jam 15 menit 10 cc
Kala II 1 jam 45 menit 100 cc
Kala III 7 menit 150 cc

14
Kala IV 2 jam 5 menit 100 cc

4 Pemeriksaan penunjang
Darah : HB 11,8 gr/dl Ht.... Leukosit...... Trombosit....
Urine : Protein Glukosa Keton
CTG :
USG :
Lain-lain :

C ASSESMENT
PII A0 ,ibu nifas dengan rupture perineum

D PLANNING
Tgl : 28 januari 2016 pukul : 22.30 wita
1. Tetap jalin komunikasi yang baik dengan ibu maupun keluarga
Hasil : Ibu mengerti dan telah terbuka dengan bidan, dalam mengungkapkan keluhannya.
2. Beri penjelasan pada ibu tentang hasil pemeriksaan berhubungan dengan keadaannya dan
keadaan bayinya saat ini, berdasarkan hasil pemeriksaan saat ini keadaan ibu dan bayi baik.
Hasil :Ibu mengerti dengan penjelasan bidan.
3. Ajarkan ibu tentang perawatan luka perineum dan vulva hygiene yang benar
Hasil : ibu mengerti dan mau melakukannya
4. Memberi penjelasan pada ibu dan keluarga mengenai bahaya post patum.
Hasil : Ibu mengerti dengan penjelasan bidan, dan telah mengetahui bahaya post partum.
5. Memberi penjelasan pada ibu, mengenai terapi pengobatan rupture perineum.
Hasil : Ibu mengerti penjelasan bidan, mengenai pengobatan rupture perineum.
6. Menginformasikan hasil pemeriksaan dan asuhan yg akan diberikan.
Hasil : ibu memahami
7. Memberi penjelasan kepada ibu, tentang mobilisasi dini dan Memfasilitasi ibu untuk
mobilisasi dini.
Hasil : ibu melakukan mobilisasi dini
8. Mengobservasi TTV,TFU dan tanda bahaya nifas pada ibu
Hasil : bidan melakukan
9. Memberikan Konseling mengenai ASI ekslusif kepada ibu
Hasil : ibu memutuskan memberikan ASI Ekslusif
10. Memberikan KIE tentang tehnik menyusui, perawatan bayi, dan nutrisi
Hasil :Ibu mengerti dengan penjelasan bidan.
Tgl/Jam Profesi
Nama dan Tanda tangan
HASIL PEMERIKSAAN, ANALISA DAN
TINDAK LANJUT

15
CATATAN PERKEMBANGAN
S (subjective) O (Objective) Petugas TTD
A (Assesment) P (Planning)
29 januari Bidan S
2016, Ibu mengtakan daerah luka pada perineumnya sudah
pukul mulai kering
06.00 wita O
TFU 2 jari bawah pusat, kontraksi uterus baik, lochea
rubra, mammae tegang, papila terbentuk, ada
kolestrum.
TD : 110/70 mmHg, Nadi : 80 x/menit, suhu : 36,6
C, pernafasan : 20 x/menit

A
PII A0, post partum hari pertama

P
Menginformasikan tentang makanan yang bergizi
Menganjurkan untuk meletakkan kaki lebih tinggi
saat tidur, dan tidak menggantung kaki saat duduk
Membantu ibu menyusui bayinya
Bayi dapat menghisap kuat
Pemberian obat oral dan vitamin

S
Nyeri pinggang atas simfisis, pelepasan darah, ada
ASI, Bayi menyusu pada ibunya dan menghisap kuat.
17.00 wita
O
Lochea rubra (+)
TTV:
TD : 100/80 mm\Hg, N : 80 x/menit, Suhu : 36,5C,
pernafasan : 20x/menit

A
P1 A0, post partum hari pertama dengan rupture
perineum

16
P
Menginformasikan tentang makanan yang bergizi
Membantu ibu menyusui bayinya
Bayi dapat menghisap kuat.
Luka perineum ibu mulai kering

17
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 POST NATAL CARE


Perubahan pada masa nifas pun juga dialami oleh Ny. L dimana

perubahan yang dialaminya masih dalam batas normal, misalnya untuk

involusi uterusnya yang pada hari pertama berada pada 2 jari bawah pusat

dan pengeluaran lokheanya adalah lokhea rubra dengan jumlah perdarahan

yang normal. Dan untuk keluhan yang dialaminya yaitu belum BAB pada

hari pertama juga wajar karena berdasarkan asumsi oleh Harnawatiaj:2008

buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari

setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan oleh penurunan tonus

otot usus selama proses persalinan dan pada awal pasca partum.

(Kusmiyati, Yuni, dkk, 2009)


Berdasarkan jurnal penelitian oleh Yayat Suryati, tentang

hubungan tingkat pengetahuan ibu nifas tentang perawatan luka perineum

dan status gizi pada proses penyembuhan luka, menyatakan bahwa ada

hubungan tingkat pengetahuan ibu nifas tentang perawatan luka perineum

dengan proses penyembuhan luka. Juga ada hubungan status gizi dengan

proses penyembuhan luka. Hal ini sejalan dengan kasus Ny. L yang

mengalami rupture perineum tingkat II, serta kurangnya pengetahuan Ny.L

mengenai perawatan luka dan proses penyembuhan luka, kemudian dinilai

dari status gizi Ny. L yang pada waktu hamil mengalami KEK.

18
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Masa nifas yang dijalani oleh Ny. L dapat dipantau dengan baik karena

dengan berpedoman terhadap teori tentang asuhan pada masa nifas

sehingga berbagai keluhan yang dapat meresahkan Ibu dapat ditangani

dengan memberikan penjelasan tentang keluhan yang dialami dan segera

menanganinya, (Rukiyah, 2010)


5.2 Saran

5.2.1 Bagi Ibu/ Klien

Diharapkan dapat menjadi bahan motivasi bagi ibu, untuk

melakukan pemeriksaan kehamilannya secara rutin, sebagai upaya

preventif serta dapat melakukan persalinan di tenaga kesehatan sehingga

komplikasi dapat diatasi.

5.2.2 Bagi Profesi Bidan

Diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi bidan dalam upaya

meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya pendokumentasian asuhan

kebidanan.

5.2.3 Bagi Institusi

Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan informasi serta

sebagai bahan yang dapat dijadikan parameter keberhasilan menciptakan

sumber daya manusia.

5.2.4 Bagi Puskesmas Pekkabata

19
Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan khususnya

bagi pemberian asuhan kebidanan di Peskesmas Pekkabata, Kecamatan

Polewali, Kabupaten Polewali Mandar mengenai pendokumentasian

kebidanan.

20