Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Jika kita telaah sejarah peradaban manusia, sebenarnya fenomena
penyimpangan seksual sudah muncul jauh sebelum masa Nabi Muhammad
SAW, tepatnya pada masa Nabi Luth yang diutus untuk kaum Sadoum.
Hampir semua kitab tafsir mengabadikan kisah tersebut ketika menyingkap
kandungan ayat-ayat yang berkaitan dengan kisah nabi Luth.
Allah berfirman: Dan Luth ketika berkata kepada kaumnya:
mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) yang belum pernah
dilakukan oleh seorangpun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi
laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini
kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan:
Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang
yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan
pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang
tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu);
maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa
itu. [QS Al-Araf:80-84].
Allah menggambarkan Adzab yang menimpa kaum nabi
Luth : Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu
yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan
batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh
Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim [Hud :
82-83]
Semua ayat di atas secara jelas mengutuk dan melaknat praktik
homoseksual karena bertentangan dengan kodrat dan kenormalan manusia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Homoseksual dan Lesbian serta Mastrubasi?
2. Bagaimana Homoseksual dan Lebian serta Mastrubasi dalam
pandangan islam?
3. Apa Hukum Homoseksual dan Lesbian serta Mastrubasi?

C. Tujuan
1. Agar mahasiswa mampu memahami Homoseksual dan Lesbian serta
Masrtubasi
2. Agar mahasiswa mengetahui bagaimana islam memandang Homoseksual
dan Lesbian serta Mastrubasi
3. Agar mahasiswa mengetahui hukum Homoseksual dan Lesbian serta
Mastrubasi
BAB II
PEMBAHASAN

A. Homoseksual/Liwath
1. Pengertian Homoseksual
Homo seksual (Liwath) adalah hubungan antara sesama jenis
(laki-laki dengan laki-laki), Perbuatan ini merupakan salah satu
penyelewengan seksual, karena menyalahi sunnah Allah, dan menyalahi
fitrah makhluk ciptaanNya. Pada penggunaan mutakhir, kata
sifat homoseks digunakan untuk hubungan intim dan atau hubungan
sexual diantara orang-orang berjenis kelamin yang sama, yang bisa
jadi mengidentifikasi diri merek sebagai gay.
Homoseks ala kaum Gay, akhir-akhir ini semakin banyak terjadi di
Indonesia. Dan perbutan ini merupakan perbuatan asusila yang sangat
terkutuk dan menunjukkan pelakunya seorang yang mengalami
penyimpangan psikologis dan tidak normal.
Homoseksual merupakan dosa besar dalam Islam. Karena
bertentangan dengan norma agama, norma susila dan juga menyalahi
fitrah manusia. Allah menjadikan manusia terdiri dari pria dan wanita agar
dapat berpasang-pasangan sebagai suami istri untuk mendapatkan
keturunan yang sah dan untuk memperoleh ketenangan dan kasih
sayang, sebagaimana tersebut dalam surat An-Nahl ayat 72: Allah
menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan
menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu,
dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka
beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?"
Menurut Dr. Muhammad Rashfi dalam kitab Al-Islam wa al-Thib,
sebagaimana dikutip oleh Sayyid Sabiq, bahwa Islam melarang keras
homosex, karena mempunyai dampak negatif terhadap kehidupan pribadi
dan masyarakat, antara lain:
a) Tidak tertarik kepada lawan jenis. Akibatnya jika si homo itu
menikah dengan wanita, maka istrinya akan merana karena ia tidak
dapat melaksanakan tugas sebagai suami, sehingga pasangannya
hidup tanpa ketenangan dan kasih sayang, dan tidak akan dapat
mempunyai keturunan
b) Kelainan jiwanya akibat mencintai sesama jenis, akan membuat
jiwanya tidak stabil, dan timbul tingkah laku yang aneh-aneh.
Misalnya jika ia seorang homo, akan bergaya seperti wanita dalam
berpakaian dan berhias. Dan jika ia seorang lesbian maka ia akan
bertingkah dan berpakaian seperti laki-laki.
c) Gangguan syaraf otak yang dapat melemahkan daya fikir, kemauan
dan semangat.
d) Terkena penyakit AIDS, yang menyebabkan penderitanya kehilangan
daya tahan tubuh. Penyakit ini belum ditemukan obatnya.

2. Homoseksual menurut pandangan islam


Dalam pandangan islam perbuatan homoseksual merupakan
perbuatan tak terpuji dan ini telah terjadi jauh sebelum Allah SWT
mengutus Rasulullah sebagai rahmat bagi sekalian alam, yaitu kurang
lebih empat belas abad yang lalu Allah SWT mengutus nabi Luth A.S
kepada kaumnya untuk mengajak mereka kejalan yang benar dan agar
mereka meninggalkan perbuatan homoseksual ini. Tetapi mereka menolak
sehingga Allah memusnahkan mereka dari muka bumi. Kisah nabi Luth
A.S ini bisa kita temukan di beberapa surat didalam al-Quran maupun
hadits.
Berdasarkan firman Allah Taala tentang kaumnya Nabi Luth
alaihi assalam (artinya):

Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya:
Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji
yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum
kamu (Al Ankabut 28)

Rasulallah Saw bersabda :



Siapa saja di antara kalian mendapati seseorang yang melakukan
perbuatan kaum Luth maka bunuhlah pelakunya
beserta pasangannya.

Setelah kaum nabi Luth A.S musnah dari muka bumi berabad-
abad yang lalu, pada saat ini muncul generasi penerus mereka yang secara
mati-matian memperjuangkan praktek homoseksual. Amerika dan Eropa
berdiri di barisan terdepan, maka tidak heran jika perkawinan ala
homoseksual menjadi perkawinan yang sah yang di akui oleh Negara
dibeberapa Negara Eropa dan Amerika. Kita patut prihatin, tetapi yang
lebih memprihatinkan adalah sikap beberapa cendekiawan muslim yang
malah ikut-ikutan membelah praktek ini. Entah itu merupakan keyakian
mereka atau memang pengaruh faham liberalisme barat yang sekarang ini
sedang menggrogoti umat islam. Hal ini tentu menarik perhatian kita
untuk membahas pandangan agama islam terhadap homoseksual.

3. Hukum Homoseksual
Perbuatan homoseksual hukumnya adalah haram dipandang dari
segi apapun, ini termasuk dosa besar karena perbuatannya sangat
menjijikan dan yang paling mengerikan adalah adzab dan laknat yang
akan Allah berikan bagi para pelakunya.
Ada beberapa pendapat ulama-ulama fiqh mengenai hukuman bagi
pelaku homoseksual. Diantara pendapat para ulama tersebut adalah:
1. Fuqoha Madzhaf Hambali: Mereka sepakat bahwa hukuman bagi pelaku
homoseksual sama persis dengan hukuman bagi pelaku perzinahan. Yang
sudah menikah di rajam dan yang belum menikah dicambuk 100 kali dan
diasingkan selama setahun. Adapun dalil yang mereka pergunakan
adalah Qiyas. Karena defenisi Homoseksual (Liwath) menurut mereka
adalah menyetubuhi sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah. Maka
mereka menyimpulkan bahwa hukuman bagi pelakunya adalah sama
persis dengan hukuman bagi pelaku perzinahan. Tetapi qiyas yang mereka
lakukan adalahqiyas maa al-fariq (mengqiyaskan sesuatu yang berbeda)
karena liwath (homoseksual) jauh lebih mejijikkan dari pada perzinahan.
Al-Imam Asy-Syafii berkata,



Maka dengan (dalil) ini, kami menghukum orang yang
melakukan perbuatan gay dengan rajam, baik ia seorang
yang sudah menikah maupun belum.

2. Syekh ibnu Taymiyah mengatakan bahwa seluruh sahabat Rasulullah


SAW sepakat bahwa hukuman bagi pelaku homoseksual adalah hukuman
mati. Karena virus ini kalau saja tersebar dimasyarakat maka ia akan
menghancukan masyarakat tersebut.
Hanya saja para sahabat berbeda pendapat tentang cara
ekskusinya. Sebagian sahabat mengatakan bahwa kedua-duanya harus
dibakar hidup-hidup, sehingga menjadi pelajaran bagi yang lain.
Pendapat ini diriwayatkan dari khalifah pertama Abu Bakar As-
Shiddiq.


Tidaklah ada satu umat pun dari umat-umat (terdahulu)
yang melakukan perbuataan ini, kecuali hanya satu umat (yaitu kaum
Luth) dan sungguh kalian telah mengetahui apa
yang Allah Subhaanahu wa taala perbuat atas mereka, aku
berpendapat agar ia dibakar dengan api.

Sahabat yang lain berpendapat bahwa keduanya dibawa


kepuncak yang tertinggi di negeri itu kemudian diterjunkan dari atas
dan dihujani dengan batu. Karena dengan demikianlah kaum nabi Luth
A.S dihukum oleh Allah SWT.
Abdullah bin Abbas berkata,

Ia (pelaku gay) dinaikkan ke atas bangunan yang paling tinggi
di satu kampung, kemudian dilemparkan darinya dengan
posisi pundak di bawah, lalu dilempari dengan bebatuan.
B. Lesbian
1. Pengertian Lesbian
Pada awalnya istilah lesbian lebih dikenal dengan menggesekkan
kemaluan dan tidak memasukkannya (mahsyur, 1990). Namun, dalam
perkembangannya istilah lesbian kini lebih dikenal sebagai hubungan
seksual sesama perempuan. Atau dapat juga disebut sebagai kebalikan
dari istilah homoseksual. Dalam bahasa arab istilah lesbian dikenal
dengan nama As-sahaq dan pelakunya dikenal dengan sebutan As-saahiq.
Biasanya istilah As-sahaq sering dikenal dengan perkataan
(perempuan yang selalu menggumpuli perempuan lainnya).

Sebab-sebab lesbian :
Sebab-sebab orang yang melakukan lesbian sangat bervariatif.
baik karena pengaruh dari luar maupun pengaruh dari dalam dirinya
sendiri, antara lain adalah :
1. Cacat pembawaan yang kemudian didorong oleh pengaruh
lingkungan. Sejak lahir sudah memiliki pembawaan yang mengarah
kepada prilaku lesbian. Pembawaan ini akan cepat berkembang
apabila didorong oleh pengaruh lingkungan dan pergaulan.
2. Salah asuh dan salah didik semasa kecil, hal ini juga dapat dipicu
karena pengalaman masa kecil yang buruk sehingga menimbulkan
traumatik. Sehingga dapat menimbulkan kecenderungan untuk
melakukan lesbian.
3. Moerthiko berpendapat, bahwa lesbian terjadi disebabkan karena
pengalaman-pengalaman di masa lampau tentang seks yang
membekas pada pikiran bawah sadarnya.
4. Dr. Cario mengemukakan, bahwa menurutnya lesbian adalah suatu
gejala kekacauan saraf, yang berasal karena ada hubungan dengan
orang-orang yang berpenyakit saraf.

2. Lesbian menurut pandangan islam


Menurut pandangan islam lesbian merupakan perbuatan yang
bertentangan dengan agama, norma susila, dan bertentangan pula dengan
sunatullah dan fitrah manusia. Karena itu, Islam melarangnya secara
keras. Oleh karenanya Rasulullah Salallahu alaihi wasallam telah
memberikan peringatan kepada umatnya agar menjauhi perbuatan ini. Hal
itu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah, bahwa
Rasulullah Salallahu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya yang
paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth.(HR.
Ibnu Majah : 2563). Dalam hadist yang lain, Ibnu Abbas meriwayatkan,
bahwa Rasulullah saw bersabda : Allah melaknat siapa saja yang
melakukan perbuatan kaum Luth, (beliau mengulanginya sebanyak tiga
kali). (HR Nasai. No. 7337).
Berdasarkan hal tersebut di atas, para ulama telah sepakat bahwa
praktek lesbi adalah haram secara mutlak, dan tidak ada khilaf diantara
mereka dalam masalah ini, bahkan perbuatan ini disebut sebagai zina
perempuan() . Hal itu berdasarkan sabda Nabi Salallahu alaihi
wasallam::

Apabila seorang wanita mendatangi (menyetubuhi) seorang
wanita maka keduanya berzina (Ibn Qayyim, Al-Jawab Al-Kafi, Dar Al-
Marifah,1997, hlm.177)
Menyimpulkan hadis tersebut, Ibn Hajar menggolongkan
perbuatan lesbian ini sebagai bentuk penyimpangan fitrah manusia, dan
pelakunya termasuk dalam kategori pelaku dosa-dosa besar yang
mewajibkan baginya untuk segera bertaubat kepada Allah.

3. Hukum Lesbian
Perbuatan Lesbian hukumnya adalah haram mutlak karena ia
bentuk dari zina. para ulama telah sepakat bahwa hukuman bagi
pelaku sihaq (lesbi) adalah tazir, dimana pemerintah yang memiliki
wewenang untuk menentukan hukuman yang paling tepat, sehingga bisa
memberikan efek jera bagi pelaku perbuatan haram ini. Ibn Qayyim
berkata dalam Al-Jawab Al-Kafisebagaimana berikut :



Akan tetapi, tidaklah wajib padanya (yaitu dalam perbuatan lesbi)
hukuman (bunuh) karena tidak adanya ilajj (solusi/obat, yaitu jima)
walaupun disematkan kepada keduanya (yakni homo dan lesbi) nama zina
secara umum (Ibn Qayyim, Al-Jawab Al-Kaf, hlm.177). Ibn Qudamah
dalam Al-Mughni menyatakan bahwa lesbi termasuk kategori zina, meski
hukumannya berbeda. Ia mengatakan :
: ;
. .
.
Apabila dua perempuan saling bergesekan (lesbi), maka
keduanya adalah berzina yang dilaknat, karena telah diriwayatkan dari
Nabi saw, bahwa beliau bersabda : jika perempuan mendatangi
perempuan, maka keduanya adalah berzina. Keduanya tidak dihadd,
karena tidak adanya ilajj yaitu jimak. Maka hal itu serupa dengan
mubasyaroh ( ) bersentuhan tanpa farji dan keduanya harus
ditazir( Ibn Qudamah,Al-Mughni, Vol.10, hlm.162).
Jadi, hukuman bagi lesbi adalah tazir. Hukuman tazir tidak
sampai membunuh pelakunya, tidak sebagaimana rajam bagi pezina laki-
laki dan perempuan. Meski begitu, bukan berarti ini dosa sepele. Karena
lesrbi juga perbuatan keji. Ia bentuk dari zina yang dilaknat oleh Allah. Ia
disamakan dengan liwath zina yang pernah dilakukan kaum nabi Luth.
Lesbi dan liwath adalah perbuatan keji, yang bisa mengundang adzab
Allah.
Apabila hukuman tazir tersebut tidak terlaksana di dunia, maka
hukuman tersebut akan dilaksanakan di akhirat. Dalam hal ini Allah
berfirman :

Dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras. (QS. Ar-Rad [13]: 34).

C. MASTRUBASI/ ISTIMNA
v Pengertian Mastrubasi
Mastrubasi berasal dari kata latin Manasturbo yang berarti rabaan atau gesekan
dengan tangan (manu). Dalam bahasa arab disebut istimna, Mastrubasi pada laki-
laki lebih dikenal dengan istilah onani. Pengertian mastrubasi secara umum
didefinisikan sebagai rangsangan yang disengaja yang dilakukan pada organ
genital untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual. Namun pada
kenyataannya, banyak cara untuk mendapatkan kepuasan diri (frictionless
masturbation), sehingga istilah autoerotism adalah istilah yang lebih mengena
untuk menggambarkan fenomena ini.

v Mastrubasi Menurut Pandangan Islam


Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi moral dan kesucian
pengikutnya, Islam sangat melarang keras semua jenis perbuatan yang
berhubungan dengan zina, dan islam juga adalah agama yang sesuai dengan
fitrah / naluri manusia. Agama yang sesuai dengan akal sehat dan selalu
memberikan solusi yang cerdas dan manusiawi.
Islam sangat melarang penyaluran seksual yang bebas tanpa batas. Itulah kenapa
zina / perzinahan adalah salah satu dosa besar dalam Islam. Dalam Al Quran,
perzinahan adalah sebuah jalan yang sangat jelek dan mampu merusak tatanan
moral masyarakat. Alloh berfirman:

yang artinya,Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu
adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk(Al Isro 32).
Islam memberikan beberapa solusi supaya terhindar dari jeratan setan yang
tak nampak ini :
1. Syaikh Bin Baz pernah menyatakan, disyariatkan bagi seseorang untuk
memperbanyak amal shalih dan memperbanyak doa kepada Allah untuk memohon
kemantapan di atas al haq dan husnul khatimah.
2. Memperbanyak istighfar. Yakinlah dengan janji Allah, bahwa Allah Subhanahu
wa Taala mengampuninya.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-


orang yang mensucikan diri. [al Baqarah/2:222].
3. Bila kondisi memungkinkan, Anda sebaiknya segera menikah, karena akan
menjadi solusi manjur bagi Anda. Perkawinan merupakan pilihan tepat untuk
mengendalikan gejolak nafsu dan mengekang pandangan. Nabi Shallallahu alaihi
wa slalam bersabda:

Barangsiapa mampu menikah, hendaklah ia menikah. Sesungguhnya akan lebih


menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. [HR al Bukhari].

4. Jika Anda belum siap menikah, maka biasakanlah berpuasa agar gejolak
syahwat berkurang. Ini terapi pengekangan hasrat seksual yang disampaikan Nabi
bagi pemuda yang belum mampu menikah. Sabda beliau Shallallahu alaihi wa
sallam :

Barangsiapa belum bisa (menikah), hendaklah ia berpuasa. Sesungguhnya puasa


menjadi pengekang baginya. [HR al Bukhari].
5. Menjaga pandangan dari yang di haramkan, sebagaimana firman Allah Swt :


Artinya : Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka
menahan pandanganya (QS. An Nuur : 30)
6. Upaya ini harus juga dengan menghindari tempat-tempat yang menimbulkan
fitnah. Begitu pula dengan barang-barang yang bisa menimbulkan fitnah,
misalnya tabloid, film dan lain-lain, yang biasa menampilkan gambar-gambar
wanita mutabarijah dan seronok. Cari kawan yang dapat mengajak Anda untuk
selalu ingat kepada Allah.




Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk, perbandingannya seperti
antara pembawa (penjual) minyak wangi dengan pandai besi. Orang yang
membawa minyak wangi, ia mungkin memberimu hadiah (minyak wangi), atau
engkau membeli darinya, atau akan menjumpai aromanya yang wangi. Sedangkan
pandai besi, bisa membakar pakaianmu atau kamu mendapatkan bau tak sedap
(darinya). [HR al Bukhari dan Muslim].

7. Disamping upaya-upaya tersebut di atas, ada baiknya anda manfaatkan waktu-


waktu luang dengan banyak kesibukan. Misalnya melakukan kegiatan-kegiatan
yang bermanfaat, baik yang berhubungan dengan pekerjaan, talim-talim atau
kegiatan lainnya yang bisa menghindarkan diri Anda dari kesendirian. Sehingga
jika tiba-tiba muncul godaan, segeralah Anda bergabung dengan kawan atau
menemui orang lain.

v Hukum Mastrubasi / Istimna


Sayyid Sabiq menyebutkan bahwa telah terjadi perbedaan pendapat dikalangan
para ulama dalam permasalahan onani :
1. Para ulama madzhab Maliki, Syafii dan Zaidiyah berpendapat bahwa
onani/mastrubasi adalah haram. Argumentasi mereka akan pengharaman
onani/mastrubasi ini adalah bahwa Allah swt telah memerintahkan untuk menjaga
kemaluan dalam segala kondisi kecuali terhadap istri dan budak perempuannya.
Apabila seseorang tidak melakukannya terhadap kedua orang itu kemudian
melakukan onani maka ia termasuk kedalam golongan orang-orang yang
melampaui batas-batas dari apa yang telah dihalalkan Allah bagi mereka dan
beralih kepada apa-apa yang diharamkan-Nya atas mereka. Firman Allah SWT




Artinya : dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-
isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka Sesungguhnya mereka dalam
hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu. Maka mereka Itulah
orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al Mukminun : 5 7)

2. Para ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa onani/mastrubasi hanya


diharamkan dalam keadaan-keadaan tertentu dan wajib pada keadaan yang
lainnya. Mereka mengatakan bahwa onani/mastrubasi menjadi wajib apabila ia
takut jatuh kepada perzinahan jika tidak melakukannya. Hal ini juga didasarkan
pada kaidah mengambil kemudharatan yang lebih ringan. Namun mereka
mengharamkan apabila hanya sebatas untuk bersenang-senang dan
membangkitkan syahwatnya. Mereka juga mengatakan bahwa onani/mastrubasi
tidak masalah jika orang itu sudah dikuasai oleh syahwatnya sementara ia tidak
memiliki istri atau budak perempuan demi menenangkan syahwatnya.

3. Para ulama madzhab Hambali berpendapat bahwa onani/mastrubasi itu


diharamkan kecuali apabila dilakukan karena takut dirinya jatuh kedalam
perzinahan atau mengancam kesehatannya sementara ia tidak memiliki istri atau
budak serta tidak memiliki kemampuan untuk menikah, jadi onani tidaklah
masalah.

4. Ibnu Hazm berpendapat bahwa onani itu makruh dan tidak ada dosa
didalamnya karena seseorang yang menyentuh kemaluannya dengan tangan
kirinya adalah boleh menurut ijma seluruh ulama sehingga onani/mastrubasi itu
bukanlah suatu perbuatan yang diharamkan. Firman Allah SWT:

Artinya : Padahal Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa


yang diharamkan-Nya atasmu. (QS. Al Anam : 119)
Dan onani tidaklah diterangkan kepada kita tentang keharamannya maka ia adalah
halal sebagaimana firman-Nya :
Artinya : Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.
(QS. Al Baqoroh : 29)

5. Diantara ulama yang berpendapat bahwa onani/mastrubasi itu makruh adalah


Ibnu Umar dan Atho. Hal itu dikarenakan bahwa onani bukanlah termasuk dari
perbuatan yang terpuji dan bukanlah prilaku yang mulia. Ada cerita bahwa
manusia pada saat itu pernah berbincang-bincang tentang onani/masttrubasi maka
ada sebagian mereka yang memakruhkannya dan sebagian lainnya
membolehkannya.

6. Diantara yang membolehkannya adalah Ibnu Abbas, al Hasan dan sebagian


ulama tabiin yang masyhur. Al Hasan mengatakan bahwa dahulu mereka
melakukannya saat dalam peperangan. Mujahid mengatakan bahwa orang-orang
terdahulu memerintahkan para pemudanya untuk melakukan onani/mastrubasi
untuk menjaga kesuciannya. Begitu pula hukum onani seorang wanita sama
dengan hukum onani seorang laki-laki. (Fiqhus Sunnah juz III hal 424 426)

Dari pendapat-pendapat para ulama diatas tidak ada dari mereka yang secara tegas
menyatakan bahwa onani/mastrubasi sama dengan zina yang sesungguhnya.
Namun para ulama mengatakan bahwa perbuatan tersebut termasuk kedalam
muqoddimah zina (pendahuluan zina), firman Allah SWT:

Artinya : dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah
perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al Israa : 32)
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Homo seksual (Liwath) adalah hubungan antara sesama jenis (laki-laki dengan
laki-laki), Perbuatan ini merupakan salah satu penyelewengan seksual, karena
menyalahi sunnah Allah, dan menyalahi fitrah makhluk ciptaanNya. Homoseksual
merupakan dosa besar dalam Islam dan hukumnya haram. Karena bertentangan
dengan norma agama, norma susila dan juga menyalahi fitrah manusia. Syekh
ibnu Taymiyah mengatakan bahwa seluruh sahabat Rasulullah SAW sepakat
bahwa hukuman bagi pelaku homoseksual adalah hukuman mati, sebagaimana
azab yang diberikan Allah terhadap kaum nabi luth.
lesbian lebih dikenal dengan menggesekkan kemaluan dan tidak
memasukkannya (mahsyur, 1990). Namun, dalam perkembangannya istilah
lesbian kini lebih dikenal sebagai hubungan seksual sesama perempuan. para
ulama telah sepakat bahwa praktek lesbi adalah haram secara mutlak, dan tidak
ada khilaf diantara mereka dalam masalah ini, bahkan perbuatan ini disebut
sebagai zina perempuan. hukuman bagi pelaku sihaq (lesbi) adalah tazir, dimana
pemerintah yang memiliki wewenang untuk menentukan hukuman yang paling
tepat, sehingga bisa memberikan efek jera bagi pelaku perbuatan haram ini.
mastrubasi didefinisikan sebagai rangsangan yang disengaja yang dilakukan
pada organ genital untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual. Islam
adalah agama yang sangat menjunjung tinggi moral dan kesucian pengikutnya,
maka dari itu islam memberikan beberapa solusi supaya terhindar dari perbuatan
ini, diantaranya seperti yang diajarkan Rasulullah Saw : yang pertama sebaiknya
segera menikah jika memang telah mampu, tetapi jika belum mampu biasakanlah
berpuasa agar dapat menahan hawa nafsu. Dalam menentukan hukum telah terjadi
perbedaan pendapat dikalangan para ulama dalam permasalahan mastrubasi :
madzhab Maliki, Syafii dan Zaidiyah berpendapat bahwa onani adalah haram.
Ibnu Hazm berpendapat bahwa onani itu makruh. Dan yang membolehkannya
adalah Ibnu Abbas, al Hasan dan sebagian ulama tabiin yang masyhur.

B. Saran dan Kritik

Homoseksual, Lesbian, dan Mastrubasi merupakan perbuatan yang tak terpuji


maka dari itu hendaknya para pemuda lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT,
dan menjaga diri dari pergaualan bebas.
Seharusnya Pemerintah lebih memberikan perhatian khusus pada kasus
homoseksual dan lesbian ini dengan penyuluhan yang diselipkan dikurikulum
pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Al Baghdadi, Abdurrahman, 1998, Emansipasi Adakah Dalam Islam, Gema Insani


Press, Jakarta

Hasan, M. Ali, 1995, Masail Fiqhiyah Al Haditsah Pada Masalah-Masalah


Kontemporer Hukum Islam, RajaGrafindo Persada, Jakarta

Mahjuddin, 1990, Masailul Fiqhiyah Berbagai Kasus Yang Yang Dihadapi Hukum
Islam Masa Kini, Kalam Mulia, Jakarta

Uman, Cholil, 1994, Agama Menjawab Tentang Berbagai Masalah Abad Modern,
Ampel Suci, Surabaya

Zallum, Abdul Qadim, 1998, Beberapa Problem Kontemporer Dalam Pandangan Islam
: Kloning, Transplantasi Organ, Abortus, Bayi Tabung, Penggunaan Organ Tubuh
Buatan, Definisi Hidup dan Mati, Al-Izzah, Bangil
Zuhdi, Masjfuk, 1993, Masail Fiqhiyah Kapita Selekta Hukum Islam, Haji Masagung,
Jakarta

http://fdj-indrakurniawan.blogspot.com

Anda mungkin juga menyukai