Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH AGAMA

TENTANG
BEDAH MAYAT

Oleh:
TIKHA AFRIDA YANTI
160101025

Dosen Pembimbing :
Virgo Vicnori, M.Ag

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES PIALA SAKTI
PARIAMAN
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sering terjadi dengan yang namanya otopsi atau bedah mayat.


Biasanya mayat yang mati karena kasus atau pembunuhan atau juga
kecelakaan yang sering terjadi. Hukumnya dalam islam masih di perdebatkan
para ulama. Sebenarnya apa sih tujuannya. Dan kalau memang untuk
kepentingan negara terus bagai mana dengan mayatnya. Padahal namanya
orang mati itu sakitnya luar biasa. Apalagi sampai di otopsi atau di bedah
bedah.
Pada makalah akan sedikit menjelaskan tentang bagaimana hukumnya
membedah (mengotopsi) seseorang yang telah meninggal dunia. Karena
manusia harus dihargai walaupun sudah meninggal sekalipun. Karena
biasanya sesudah terjadi suatu peristiwa baru dipikirkan pemecahannya dan
menetapkan hukumnya.

1.2 Tujuan

Berdasarkan latar belakang diatas, diharapkan mahasiswa mengetahui


dan mengerti tentang apa itu bedah mayat.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bedah Mayat

Secara etimologi bedah mayat adalah pengobatan dengan jalan


memotong bagian tubuh seseorang. Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah
Al-Jirahah yang berarti melukai, mengiris, atau operasi pembedahan.
Sedangkan secara terminologi bedah mayat adalah suatu penyelidikan
atau pemeriksaan tubuh mayat, termasuk alat-alat organ tubuh dan
susunannya pada bagian dalam. Setelah dilakukan pembedahan atau
pelukaan, dengan tujuan menentukan sebab kematian seseorang, baik untuk
kepentingan ilmu kedokteran maupun menjawab misteri suatu tindak
kriminal.

2.2 Pembagian Bedah Mayat

Ditinjau dari aspek dan tujuannya bedah mayat dapat dibagi menjadi 3
kelompok yaitu :
a. Bedah Mayat Pendidikan
Ialah pembedahan mayat dengan tujuan menerapkan teori yang
diperoleh oleh mahasiswa kedokteran atau peserta didik kesehatan lainnya
sebagai bahan praktikum tentang ilmu viral tubuh manusia (anatomi).
Praktek yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran untuk
mengetahui seluk-beluk organ tubuh manusia. Agar bisa mendeteksi
organ tubuh yang tidak normal dan terserang penyakit untuk
mengobatinya sedini mungkin atau tujuan lainnya seperti untuk
mengetahui penyebab kematiannya seiring maraknya dunia kriminal saat
ini, dengan membedah jasad manusia.
Dari hal di atas maka timbullah pertanyaan besar Apakah hal ini
dibolehkan secara Syari atau tidak, bila yang dibedah adalah mayat
muslim karena praktek seperti ini hampir dilakukan di semua Fakultas
Kedokteran.

2
Otopsi jenazah muslim untuk belajar ilmu kedokteran, Islam
sebagai agama yang telah disempurnakan oleh Allah SWT telah
menetapkan beberapa kaidah untuk menjawab permasalahan yang belum
terjadi pada masa Rasulullah SAW diantara kaidah tersebut adalah
Apabila berbenturan dua kemashlahatan maka yang dilakukan yang
paling banyak mashlahatnya, juga apabila berbenturan dua mufsadat maka
dilakukan yang paling ringan mufsadatnya.
Tema penggunaan jenazah sebagai objek penelitian termasuk
kasus baru yang jawabannya tidak dipandu langsung oleh Al-Quran dan
hadits (nash). Padanan eksplisit dalam nash pun tidak dijumpai. Sehingga
tidak bisa dipakai metode Qiyas (analogi). Kasus demikian, dalam kajian
Fiqih, dicari solusinya dengan metode tarkhrij. Yakni, dicari analogi pada
norma hukum yang dihasilkan lewat ijtihad karena tidak dipaparkan
langsung oleh nash.
b. Bedah Mayat Keilmuan
Ialah pembedahan yang dilakukan terhadap mayat yang meninggal
di rumah sakit, setelah mendapat perawatan yang cukup dari para dokter.
Bedah mayat ini biasanya dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
secara umum atau secara mendalam.
Sifat perubahan suatu penyakit setelah dilakukan pengobatan
secara intensif terlebih dahulu semasa hidupnya dan untuk mengetahui
secara pasti jenis penyakit mayat yang tidak diketahui secara sempurna
selama dia sakit.
Dengan melakukan otopsi ini seorang dokter dapat mengetahui
penyakit yang menyebabkan kematian jenazah tersebut, sehingga kalau
memang itu suatu wabah dan di khawatirkan akan menyebar bisa segera
diambil tindakan preventif, demi kemashlahatan.
c. Bedah Mayat Kehakiman
Yaitu bedah mayat yang bertujuan mencari kebenaran hukum dari
suatu peristiwa yang terjadi, seperti dugaan pembunuhan, bunuh diri atau
kecelakaan. Bedah mayat semacam ini biasanya dilakukan atas
permintaan pihak kepolisian atau kehakiman untuk memastikan sebab

3
kematian seseorang. Misalnya, karena tindak pidana kriminal atau
kematian alamiah melalui visum dokter kehakiman (visum et reperthum)
biasanya akan diperoleh penyebab sebenarnya, dan hasil visum ini akan
mempengaruhi keputusan hakim dalam menentukan hukuman yang akan
dijatuhkan.
Jika sebelum divisum telah diketahui pelakunya, maka visum ini
berfungsi sebagai penguat atas dugaan yang terjadi. Akan tetapi jika tidak
diketahui secara pasti pelakunya dan jika bukan karena kematian secara
alamiah maka bedah mayat ini merupakan alat bukti bahwa kematiannya
bukan secara alamiah dengan dugaan pelakunya orang-orang tertentu.
Seorang hakim wajib memutuskan suatu perkara hukum secara
benar dan adil diperlukan bukti-bukti yang sah dan akurat. Autopsi
Forensik merupakan salah satu cara atau media untuk menemukan bukti.
Kemungkinan terjadinya pembedahan mayat dapat disebabkan
oleh :
1. Untuk mengeluarkan janin
Bila seorang ibu meninggal dunia, dalam keadaan hamil, dan
bayi yang dikandungnya masih dalam keadaan hidup. Dalam hal ini
para ulama berselisih dalam menentukan hukumnya, apakah harus
dibedah perut ibu atau tidak?
a. Menurut Imam Malik dan Ahmad
Mengatakan tidak boleh dibedah perut seorang ibu
meskipun bayi yang dalam kandungannya masih hidup, namun
dikeluarkan dengan cara diambil dari jalan Farji oleh tenaga
medis.
b. Sedangkan Menurut Imam Syafii, Ibnu Hazm dan sebagian ulama
Malikyah mengatakan bahwa dalam keadaan seperti itu dibedah
perut ibu demi keselamatan bayi dalam kandungannya.
c. Menurut Ulama Syafii
Bahwa jika yang meninggal adalah seorang perempuan dan
didalam perutnya ditemukan janin yang masih hidup, maka perut
perempuan itu dibedah dalam keadaan darurat, maka pembedahan
ini boleh dilakukan kalau ada harapan janin itu untuk hidup atau

4
berumur 6 bulan keatas. Jika kurang dari 6 bulan tidak ada
harapan untuk hidup, maka pembedahan itu haram dilakukan. Hal
ini didasarkan sabda Nabi yang berbunyi : Artinya : Sesuatu
yang diperbolehkan karena, hanya boleh dilakukan sekedarnya
saja.
d. Menurut Mazhab Maliki perut mayat tidak boleh dibedah
Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW yang
mengatakan bahwa memecah tulang mayat sama haramnya
dengan memecah tulang manusia yang hidup. (H.R. Abu Daud
dari Aisyah binti Abu Bakar). Seiring dengan kewajiban terhadap
mayat, yakni memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan
menguburkan sebagai penghormatan bagi mayat.
e. Ulama Mazhab Hanafi sependapat dengan Mazhab Syafii
Bahwa jika ada sesuatu yang bergerak dan diduga yang
bergerak itu adalah janin yang masih hidup, maka perut ibu boleh
dibedah demi membela kehormatan yang masih hidup.
Senada dengan pendapat ini menurut Syekh Yusuf Dajwi
(guru besar hukum Islam Mesir) mengatakan bahwa bedah mayat
itu merupakan darurat pada keadaan tertentu, seperti kematian
yang diduga karena pembunuhan sehingga pembunuh
sesungguhnya dapat diketahui.
2. Untuk mengeluarkan benda berharga dalam perut mayat.
Dalam kitab fiqih, diantaranya kitab fiqih sebagian Mazhab
Maliki dan umumnya Mazhab Syafii, disebutkan bahwa apabila
seseorang pada masa hidupnya sempat menelan uang logam (koin),
maka ketika ia meninggal perutnya dibedah untuk mengeluarkan uang
logam tersebut. Ukuran uang logam yang dikeluarkan tersebut lebih
kurang bernilai dinar, atau 3 dirham (satu dinar = 4,5 gram emas,
jadi dinar =1,125 gram emas).
Nuruddin Atr (ahli hadits dari Syriah) mengatakan bahwa jika
sekedar mengeluarkan uang logam dari perut mayat dibolehkan, maka
membedah mayat untuk mengetahui sebab kematiannya dan

5
kepentingan ilmu kesehatan lebih diutamakan lagi, karena
kepentingannya jauh lebih besar dari pada sekedar pembedahan untuk
mengeluarkan uang logam yang tertelan itu.
Ketidakbolehan sebagaimana yang tertuang dalam hadits
riwayat Abu Daud diatas merupakan keharaman secara umum tanpa
ada tujuan yang bermanfaat. Akan tetapi, berdasarkan kebutuhan
darurat, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
kepintaran pelaku kriminal untuk alibi dalam satu pembunuhan, maka
secara medis perlu dilakukan pembedahan mayat, hal ini menurut
Hasan M. Makhluf termasuk kepada kaidah fikih yang mengatakan
segala sesuatu yang membawa kesempurnaan yang wajib, maka
hukumnya wajib pula.
3. Menegakkan kepentingan umum
Peralatan modern kadang-kadang sulit juga membuktikan
sebab-sebab kematian seseorang dengan hanya penyelidikan dari luar
tubuh mayat. Kesulitan tersebut, cukup menjadi alasan untuk
membolehkan membedah mayat sebagai bahan penyelidikan, karena
sangat diperlukan dalam penegakkan hukum, dan sesuai dengan
kaidah fiqhiyyah : Tidak haram bila darurat dan tidak makruh karena
hajat.
4. Memperhatikan kepentingan pendidikan dan keilmuan
Diantara ilmu dasar dalam pendidikan kedokteran ialah ilmu
tentang susunan tubuh manusia yang disebut anatomi. Untuk
membuktikan teori-teori dalam ilmu kedokteran tersebut, tentu dengan
jalan praktek langsung terhadap manusia. Otopsi menurut teori
kedokteran atau bedah mayat, merupakan syarat yang amat penting
bagi seorang calon dokter, dalam memanfaatkan ilmunya kelak.
Sekiranya mayat itu diperlukan sebagai sarana penelitian untuk
mengembangkan ilmu kedokteran, maka menurut hukum Islam, hal
ini dibolehkan, karena pengembangan ilmu kedokteran bertujuan
untuk mensejahterakan umat manusia.

6
Pembedahan mayat tidak boleh dilakukan secara berulang-
ulang, karena mayat hendaknya segera dikuburkan bukan untuk
dipamerkan. Sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi :
Artinya : Percepatlah mengantar jenazah ke kuburnya. Bila
dia seorang yang shaleh maka kebaikanlah yang kamu hantarkan
kepadanya dan dia kebalikannya, maka sesuatu keburukan yang kamu
tanggalkan dari beban lehermu. (HR. Bukhari).

2.3 Hukum Bedah Mayat

Dalam Al-Quran tidak ditemukan ayat yang mengandung secara pasti


tentang bedah mayat akan tetapi, terdapat beberapa ayat Al-Quran yang
dapat dijadikan isyarat mengenai landasan praktek bedah mayat ini. Seperti
janji Allah SWT yang akan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Diangkasa mar (ufuk) dan yang ada didalam diri manusia itu sendiri. Seperti
dijelaskan dalam Surat Funssilat Ayat 53 yang berbunyi :
Artinya : Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda
(kebesaran) Kami disegenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga
jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar. Tidak cukupkah (bagi
kamu) bahwa tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
Pengertian dalam diri manusia ini menurut para mufasir, berarti
didalam tubuh manusia ada nilai ilmu pengetahuan dan kebenaran untuk
diteliti. Dan dalam Surat Al-anbiya Ayat 35 yang berbunyi : Artinya : Setiap
yang bernyawa itu akan mengalami mati, Kami akan menguji kamu dengan
keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan
hanya kepada Kami. Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa Allah SWT
menyatakan bahwa setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, dengan
kematian itu akan diuji unsur kejahatan dan kebaikan dan ayat ini sangat
berkaitan dengan pernyataan Allah SWT bahwa manusia adalah makhluk
mulia. Yakni dalam Surat Al-Isra Ayat 70 yang berbunyi :
Artinya : Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak Adam, dan
Kami angkut mereka di darat dan di laut dan Kami beri mereka rezki dari

7
yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka diatas banyak makhluk yang Kami
ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.
Untuk menyingkap kebenaran atau ketidakbenaran dalam diri manusia
di dunia, diperlukan berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sebab kemampuan
yang dimiliki manusia terbatas. Dan semua cabang ilmu pengetahuan itu tidak
mungkin dimiliki oleh satu orang saja. Oleh karenanya diperlukan orang yang
ahli dibidang tertentu untuk menjawab persoalan yang muncul jika kita tidak
mengetahuinya.
Seperti : orang yang sakit perlu bertanya kepada dokter tentang
penyakitnya agar bisa diobati. Hukum bedah mayat dengan tujuan anatomis
dan klinis dapat berpedoman kepada hadits Rasulullah SAW yang
menganjurkan untuk berobat, karena setiap penyakit ada obatnya. (H.R. Abu
Daud dari Abu Darda). Hadits ini juga mengandung anjuran untuk
mengembangkan ilmu kesehatan, seperti bedah mayat untuk mengantisipasi
penyakit yang belum ditemukan obatnya pada saat itu.
Sedangkan bedah mayat dengan tujuan forensik merupakan salah satu
upaya menetapkan hukum secara adil adalah wajib hukumnya. Ini
berdasarkan Firman Allah SWT Surat An-Nisa Ayat 58 yang berbunyi :
Artinya : Sungguh Allah menyuruhmu menyampaikan amanat
kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum
diantara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh :
Allah sebaik-baiknya yang memberi pengajaran kepadamu, sungguh, Allah
Maha Mendengar, Maha Melihat. Jadi pembedahan mayat dengan tujuan
sebagai alat bukti dalam tindak pidana dapat dibenarkan. Sebab alat bukti
merupakan salah satu unsur dalam proses perkara di pengadilan.

2.4 Pandangan Ulama Tentang Bedah Mayat (AUTOPSI)

Secara garis besar, dalam hal ini ada dua pendapat :


1. Pendapat pertama menyatakan semua jenis autopsi hukumnya haram
Alasannya hadits berikut, Dari Aisyah r.a bahwa Rasulullah SAW
bersabda : Sesungguhnya mematahkan tulang mayat itu sama (dosanya)

8
dengan mematahkannya pada waktu hidupnya. (HR Ahmad, Abu Daud,
dan Ibnu Majah)

2. Pendapat kedua menyatakan autopsi itu hukumnya mubah (boleh)


Alasannya, tujuan autopsi anatomis dan klinis sejalan dengan
prisip-prinsip yang ditetapkan Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat
diceritakan bahwa seorang Arab Badui mendatangi Rasulullah SAW
seraya bertanya, Apakah kita harus berobat? Rasulullah SAW
menjawab, Ya, hamba Allah. Berobatlah kamu, sesungguhnya Allah
tidak menurunkan penyakit melainkan juga (menentukan) obatnya,
kecuali untuk satu penyakit, yaitu penyakit tua. (HR Abu Daud,
Tirmidzi, dan Ahmad).
Rasulullah SAW memerintahkan berobat dari segala penyakit,
berarti secara implisit (tersirat) kita diperintahkan melakukan penelitian
untuk menentukan jenis-jenis penyakit dan cara pengobatannya.
Autopsi anatomis dan klinis merupakan salah satu media atau
perangkat penelitian untuk mengembangkan keahlian dalam bidang
pengobatan. Tujuan autopsi forensik sejalan dengan prinsip Islam untuk
menegakkan kebenaran dan keadilan dalam penetapan hukum.
Dalam literatur fikih kontemporer, ada dua model pendapat.
Pertama, pandangan mufti Mesir, Yusuf Ad-Dajwi, yang berkesimpulan
bahwa praktek demikian itu boleh (jawaz). Kedua, pendapat mufti Mesir
yang lain, Muhammad Bukhet al-Mithi, bahwa bedah jenazah hanya
boleh untuk dua keperluan; mengambil harta orang, misalnya pertama,
yang tersimpan di perut jenazah, dan menyelamatkan janin di perut
ibunya yang meninggal. Bila untuk penelitian, katanya, tidak boleh (la
yajuuz).
Pandangan keduanya merupakan hasil rakhrij atas kajian pada
ulama klasik. Berupa bahasan tentang hukum bedah mayat pada dua
kasus; mengambil harta dalam perut jenazah, ahli fikih mazhab Hanafi
berpendapat boleh bila almarhum atau almahumah tidak meninggalkan

9
harta yang dapat dijadikan ganti. Sebab hak manusia harus didahulukan di
atas hak Allah.

Dalam mazhab Syafii, menurut pendapat yang masyhur, hal itu


dapat dilakukan secara mutlak. Begitu pula pendapat Imam Sahnun al-
Maliki. Sedangkan Ahmad bin Hanbal tidak membenarkan. Dalam kasus
mengambil janin, ahli fikih mazhab Hanafi dan Syafii berpendapat
mubah. Sedangkan mazhab Maliki dan Hambali melarang.
Perbedaan itu berpangkal pada perbedaan memahami hadist Nabi
kepada penggali kubur agar tidak merusak tulang-belulang yang
didapatkan dari kuburan. Engkau jangan merusak tulang itu, karena
merusak tulang seseorang yang telah meninggal sama dengan merusak
tulang seseorang yang masih hidup, sabda Nabi, diriwayatkan Malik,
Ibnu Majah, dan Abu Daud dengan sanad yang sahih.
Pendapat yang melarang operasi perut jenazah berasal dari
pemahaman hadits itu secara mutlak, dalam kondisi apapun. Sedangkan
alasan pendapat yang membolehkan adalah darurat, seperti
menyelamatkan janin dan mengambil harta.
Syekh Abdul Majid Sulem, mufti Mesir yang lain, dalam al-
Fatawa al-Islamiyah, berkomentar terhadap hadits tadi. Menurutnya,
hadits itu berlaku bila tidak ada kemashlahatan lebih krusial (mashlahah
rajihah). Bila ada kemashlahatan lebih krusial yang wajib dikuburkan.
Pandangan MUI, 20 tahun silam, itu sejalan dengan fatwa Yusuf Ad-
Dajwi.
Komisi Fatwa MUI, membuat keputusan dengan beberapa klausul :
Pertama, hukum asal pengawetan jenazah adalah haram. Sebab
jenazah manusia itu terhormat, sekalipun sudah meninggal. Orang yang
hidup wajib memenuhi hak-hak jenazah. Salah satunya,
menyelenggarakan jenazah dikuburkan.
Kedua, pengawetan jenazah untuk penelitian dibolehkan, tapi
terbatas (muqoyyad). Dengan ketentuan, penelitian itu bermanfaat untuk

10
pengembangan keilmuan dan mendatangkan mashlahat lebih besar;
memberikan perlindungan jiwa. Bukan untuk praktek semata.

14
Ketiga, sebelum pengawetan, hak-hak jenazah muslim harus
dipenuhi. Misalnya dimandikan, dikafani, dan disalati. Pengawetan
janazah untuk penelitian harus dilakukan dalam batas proporsional, hanya
untuk penelitian. Jika penelitian telah selesai, jenazah harus segera
dikuburkan sesuai dengan ketentuan syariat Islam.
Keempat, negara diminta membuat regulasi yang mengatur
ketentuan dan mekanismenya.
Kaidah dalam agama Islam, ulas Masdar F Masudi dari Pengurus
Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), segala sesuatu pada dasarnya
diperbolehkan sampai ada dalil yang menyatakan terlarang.
Organ tubuh dalam hukum Islam menyangkut manusia hidup
karena terkait dengan jiwa. Sejauh ini belum ada aturan tentang donasi
tubuh manusia setelah meninggal, karena itu boleh dilakukan. Apalagi
tujuan donasi adalah untuk menyelamatakan jiwa manusia. Hal ini
dihargai dan dinilai sebagai amal jariah.
Izin penggunaan mayat bisa diberikan oleh pemilik saat masih
hidup atau izin keluarga jika telah meninggal. Untuk mayat yang tak
teridentifikasi, izin diberikan oleh pemerintah.
Hal senada dikemukakan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dari
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Menurutnya,
sesungguhnya tidak perlu ada kekhawatiran jika mendonorkan tubuh
maka tubuh menjadi tidak lengkap saat menghadap Tuhan. Saat
seseorang meninggal dunia, jiwanya meninggalkan tubuh untuk
menghadap Tuhan, sedang tubuh hancur bersama tanah. Jika
disumbangkan untuk riset dan pendidikan yang bermanfaat bagi
kemanusiaan, si pemilik akan mendapat pahala, ujarnya.
Menurut Sekretaris Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan
Dokter Indonesia dr. Agus Purwadianto, SpF, SH, Msi, Indonesia telah

11
memiliki peraturan dan fatwa mengenai bedah mayat, antara lain Fatwa
Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara Kementerian Kesehatan No
4/1955, yang menyatakan bedah mayat hukumnya mubah (tidak
diharamkan dan tidak dihalalkan).
Dalam Fatwa No 5/1957 dijelaskan tata cara penggunaan mayat
untuk kepentingan pendidikan. Selain itu, ada Peraturan Pemerintah No
18/1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta
Transplantasi Alat dan atau Jaringan Tubuh Manusia (ATK).

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sesuai dengan pembahasan yang sudah dikemukakan pada makalah


ini, maka perihal status hukum bedah mayat ditinjau menurut hukum Islam
melalui pendekatan teori-teori pada kaidah fiqhiyah, dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Bedah mayat adalah suatu tindakan dokter ahli untuk membedah mayat
karena dilandasi oleh suatu maksud atau kepentingan-kepentingan tertentu
seperti: kepentingan penegakkan hukum; menyelamatkan janin yang
masih hidup di dalam rahim mayat; untuk mengeluarkan benda yang
berharga dari mayat; dan untuk keperluan penelitian ilmu kedokteran.
Tindakan pembedahan yang didasari oleh motif-motif tersebut dibolehkan
dalam ajaran Islam, bahkan bisa dihukumkan wajib apabila keperluan
bedah itu menempati level hajat atau darurat.
2. Hadits yang melarang memecahkan tulang mayat atau dengan kata lain
merusak mayat dalam pemaknaan penulis adalah apabila bedah mayat
atau autopsi yang dilakukan seseorang tersebut dilakukan tanpa tujuan
yang benar, maka hukumnya haram. Termasuk pula bila pembedahan
mayat itu melampaui batas dari hajat yang dibutuhkan .

3.2 Saran

Diharapkan agar mahasiswa/i dapat memahami tentang Bedah Mayat.


Karena pengetahuan ini sangat berguna didalam mempelajari tentang Bedah
Mayat menurut pandangan islam.

13
DAFTAR PUSTAKA

Hasan, Muhamad Ali. 1997. Masail Fiqhiyah Al-Haditsah. Jakarta : PT Raja


Grafindo Persada.

Al-Suyuthi, Imam. 2005. Al-Asybah wa al-Nazhair fi Qawaid wa Furu fiqh


al-Syafii, tahqiq oleh Muhammad Hasan Islamil al-Syafii, Juz I, Beirut:
Dar al-Kutub Ilmiyah

Kamal, Mahmud. 1991. Bedah Mayat dari Segi Hukum Islam. Jakarta : Pustaka
Panjimas.

Mahjuddin. 2005. Masailul Fiqhiyah :Berbagai Kasus yang dihadapi Hukum


Islammasa Kini, Jakarta : Kalam Mulia

Hubais, Umar, 1993. Fatwa, Menjawab Masalah-masalah Keagamaan Masa


Kini, cet 7, Jakarta: PT. Al-Irsyad

14
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..........................................................................1
1.2 Tujuan........................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bedah Mayat............................................................2
2.2 Pembagian Bedah Mayat...........................................................2
2.3 Hukum Bedah Mayat.................................................................7
2.4 Pandangan Ulama Tentang Bedah Mayat (AUTOPSI).................8
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.............................................................................. 13
3.2 Saran....................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA

15
KATA PENGANTAR
ii

Dengan kebesaran ALLAH SWT. yang maha pengasih lagi maha


penyayang, penulis panjatkan rasa puji syukur atas hidayah-nya, yang telah
melimpahkan rahmat, nikmat, dan inayah-nya kepada penulis, sehingga penulis
dapat menyelesaikan Makalah Bedah Mayat.
Adapun Makalah Bedah Mayat ini telah penulis usahakan dapat disusun
dengan sebaik mungkin dengan mendapat bantuan dari berbagai pihak, sehingga
penyusunan makalah ini dapat diselesaikan secara tepat waktu. untuk itu penulis
tidak lupa untuk menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini.
Terlepas dari upaya penulis untuk menyusun makalah ini dengan sebaik-
baiknya, penulis tetap menyadari bahwa tentunya selalu ada kekurangan, baik dari
segi penggunaan kosa-kata, tata bahasa maupun kekurangan-kekurangan lainnya.
oleh karena itu, dengan lapang dada penulis membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang bermaksud untuk memberikan kritik dan saran kepada penulis agar
penulis dapat memperbaiki kualitas makalah ini.
Penulis berharap semoga Makalah Bedah Mayat ini bermanfaat, dan
pelajaran-pelajaran yang tertuang dalam makalah ini dapat diambil hikmah dan
manfaatnya oleh para pembaca.

Pariaman, Januari 2017

Penulis

16
i

17