Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuhan telah menciptakan manusia dalam dua bentuk yaitu pria dan
wanita, dengan Adam dan Hawa sebagai cikal bakalnya. Fenomena
transeksual yang diikuti dengan tindakan operasi merubah kelamin,
sebenarnya mempunyai implikasi yang akan menyentuh banyak aspek,
masalah ini merupakan suatu gejala ketidakpuasan seseorang karena merasa
tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan
ataupun dengan ketidakpuasan dengan alat kelamin yang dimilikinya.
Selain faktor bawaan sejak lahir, fenomena ini juga bisa disebabkan
oleh faktor lingkungan. Seperti pendidikan yang salah sewaktu kecil dengan
membiarkan anak laki-laki berkembang dengan tingkah laku perempuan,
trauma pergaulan seks dengan pacar, dan sebagainya. Ekspresinya bisa dalam
bentuk dandanan, make up, gaya dan tingkah laku, bahkan sampai operasi
penggantian kelamin. Ironisnya, di media pertelevisian Indonesia seakan
menyemarakkan dan menyosialisasikan perilaku ketransseksualan dalam
berbagai acara yang memberikan porsi kepada para waria dan semacamnya
sebagai pengisi acara atau pembawa acara, yang secara tidak langsung
membiasakan masyarakat dengan fenomena semacam itu. Dewasa ini
masyarakat sudah tidak risih dengan keberadaan para guy atau waria yang
mungkin juga disebabkan oleh kebiasaan mereka menonton idola mereka di
televisi yang notabene adalah seorang waria atau guy. Dan seakan artis seperti
Dorce Gamalama yang telah melakukan operasi alat kelamin di Singapore
merupakan figur yang berani dan patut dicontoh karena telah mengikuti apa
kata nuraninya.
Namun fenomena transeksual atau biasa disebut juga transgender tidak
selalu diikuti oleh kecendrungan untuk operasi perubahan kelamin. Keinginan
melakukan operasi tersebut umumnya di pengaruhi oleh tingkat pemahaman
dan keyakinan penderita terhadap agama yang dianut. Pemikiran tersebut
nampak pada pandangan mereka terhadap eksistensi diri, baik di hadapan
masyarakat maupun di hadapan Tuhan.

1.2 Rumusan Masalah


Dalam hukum Indonesia sendiri belum ada ketentuan yang jelas
mengatur mengenai kedudukan masalah transseksual maupun kedudukan para
waria. Padahal dengan semakin meningkatnya globalisasi di dunia, masalah-
masalah seperti ini semakin sering muncul. Para waria dengan mudah dapat
ditemui di berbagai sudut kota. Bahkan di Thailand, secara rutin dalam
setahun diadakan kontes kecantikan untuk para waria yang belakangan
rupanya juga telah ada di Indonesia.
Dengan pemaparan diatas, berikut beberapa rumusan masalah yang
kami bahas, yaitu :
1. Bagaimana pandangan Islam tentang kelamin?
2. Bagaimana pandangan medis tentang kelamin?
3. Apa pengertian operasi perubahan dan penyempurnaan kelamin?
4. Apa saja faktor penyebab operasi perubahan dan penyempurnaan
kelamin?
5. Apa saja jenis operasi perubahan dan penyempurnaan kelamin dan
bagaimana hukumnya?
6. Bagaimana fatwa MUI tentang operasi perubahan dan penyempurnaan
kelamin?
7. Bagaimana kedudukan hukum perubahan dan penyempurnaan kelamin?
8. Apa saja akibat dari operasi perubahan dan penyempurnaan kelamin?
9. Bagaimana pencegahan dari operasi perubahan dan penyempurnaan
kelamin?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pandangan Islam tentang Kelamin
Pada dasarnya Allah SWT menciptakan manusia terdiri dari 2 macam
jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan.[1] Sebagaimana telah dituturkan
dalam Al Quran surat Al Hujurat ayat 13 sebagai berikut: Hai manusia,
sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al
Hujurat: 13).
Jika berbicara kelamin berarti ini berkaitan dengan gender beserta alat
reproduksinya. Perspektif gender dalam Al Quran tidak sekedar mengatur
keserasian relasi gender, hubungan laki-laki dan perempuan dalam
masyarakat tetapi lebih dari itu Al Quran juga mengatur keserasian pola
relasi antara mikrokosmos (manusia), makrokosmos (alam), dan Tuhan.
Secara umum Al Quran mengakui adanya perbedaan antara laki-laki
dan perempuan, tetapi perbedaan tersebut bukanlah diskriminasi yang
menguntungkan satu pihak dan yang lain dirugikan. Perbedaaan tersebut
dimaksudkan untuk mendukung obsesi Al Quran, yaitu terciptanya hubungan
harmonis yang didasari rasa kasih sayang di lingkungan keluarga.
Sebagaimana telah dituturkan dalam Al Quran surat Al Hujurat ayat 13
sebagai berikut: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu
cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu
rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar Rum: 21)

2.2 Pandangan Medis tentang Kelamin


Jenis kelamin merujuk pada sekse anatomis seseorang dengan kata
lain tipe genital apa yang dimilki. Sekse atau jenis kelamin mewakili
penampakan internal genitalia, dan terdapat gonad (ovarium dan testis) yang
menentukan fungsi reproduktif sekaligus hormon yang membentuknya.
Gender lebih sulit dan lebih kompleks untuk dipersepsikan atau
digambarkan. Gender yakni pengenalan atau kesadaran pada diri seseorang,
yang juga diharapkan berbeda dengan orang lain, seperti yang sesuai dengan
kategori sosial: anak laki-laki atau anak perempuan. Mayoritas populasi
memilki gender yang sesuai dengan jenis kelamin anatomis. Gender terbagi
menjadi dua aspek:
Identitas gender, yakni persepsi internal pengalaman seseorang
tentang gender mereka, menggambarkan identifikasi psikologis di dalam otak
seseorang sebagai laki-laki atau perempuan. Peran gender, merupakan sebuah
cara seseorang hidup dalam masyarakat dan berinteraksi dengan orang lain
berdasarkan identitas gender mereka.

2.3 Operasi Perubahan dan Penyempurnaan Kelamin


Operasi kelamin adalah tindakan perbaikan atau penyempurnaan
kelamin seseorang karena terjadinya kelainan sejak lahir atau karena
penggantian jenis kelamin.
Operasi ganti kelamin (taghyir al-jins) adalah operasi pembedahan
untuk mengubah jenis kelamin dari laki-laki menjadi perempuan atau
sebaliknya. Pengubahan jenis kelamin laki-laki menjadi perempuan dilakukan
dengan memotong penis dan testis, kemudian membentuk kelamin
perempuan (vagina) dan membesarkan payudara. Sedang pengubahan jenis
kelamin perempuan menjadi laki-laki dilakukan dengan memotong payudara,
menutup saluran kelamin perempuan, dan menanamkan organ genital laki-
laki (penis). Operasi ini juga disertai pula dengan terapi psikologis dan terapi
hormonal. (M. Mukhtar Syinqithi, Ahkam Al-Jirahah Al-Thibbiyah, hal. 199).

2.4 Faktor Penyebab Operasi dan Penyuburan Kelamin


1. Psikososial
Seseorang yang mengalami kelainan psikis dan sosial sehingga
dapat tersisih dan mengasingkan diri dari kehidupan masyarakat normal
serta kadang mencari jalannya sendiri, seperti melacurkan diri menjadi
waria atau melakukan homoseks dan lesbianisme. Adapun dari perilaku
tersebut didapat dari perlakuan orang tua yang menginginkan anak laki-
laki tetapi diberikan anak perempuan sehingga orang tua memberikan
perhatian anak tersebut seperti anak perempuan mulai dari pakaian hingga
perilaku.
Pada kasus transseksual karena keseimbangan hormon yang
menyimpang (bawaan), menyeimbangkan kondisi hormonal guna
mendekatkan kecenderungan biologis jenis kelamin bisa dilakukan.
Mereka yang sebenarnya normal karena tidak memiliki kelainan genetikal
maupun hormonal dan memiliki kecenderungan berpenampilan lawan
jenis hanya untuk memperturutkan dorongan kejiwaan dan nafsu adalah
sesuatu yang menyimpang.
2. Genetik
Adanya ketidakseimbangan hormonal yang terjadi pada seseorang
yang mengalami kelainan pada bentuk, jenis dan hormone yang pada
masa pubertas tidak mengalami perubahan yang tidak seharusnya.

2.5 Jenis dan Hukum Operasi Perubahan danPenyempurnaan Kelamin


Dalam dunia kedokteran dikenal tiga bentuk operasi kelamin, masing-
masing mempunyai hukum tersendiri dalam fikih :
1. Operasi penggantian jenis kelamin yang dilakukan terhadap orang yang
sejak lahir memiliki kelamin normal.
Operasi ganti kelamin dalam keadaan seperti ini, belum pernah
dikenal oleh orang-orang terdahulu. Tetapi para dokter mengatakan bahwa
hal itu merupakan bentuk dari penyakit transeksual/transgender yaitu
individu dengan gangguan psikologis laki-laki yang seperti wanita atau
wanita seperti laki-laki dengan tanpa disertai kelainan fisik/ alat kelamin
(genital). Atau dengan istilah lain, bahwa sang penderita atau pasien
merasakan bahwa dirinya adalah jenis lain yang bukan pada dirinya.
Seakan ia merasakan bahwa jiwanya adalah perempuan padahal fisiknya
adalah laki-laki, atau ia merasakan bahwa jiwanya adalah laki-laki
padahal bentuk fisiknya adalah perempuan. Antara jiwa dan fisik tidak
dapat saling menyatu. Orang yang mempunyai penyakit transeksual ini
mempunyai dua keadaan :
a. Penyakit yang muncul akibat faktor psikologis dan kejiwaan.
Hal ini terjadi karena salah dalam pola asuh sejak kecil, atau
karena pergaulan yang salah. Untuk jenis yang pertama ini,
penanganannya bukan dengan cara operasi kelamin, tetapi
kejiwaannyalah yang harus diobati dan disembuhkan. Penyimpangan
psikologis ini kadang muncul sejak kecil, hanya saja sering dianggap
remeh, sehingga lama kelamaan menjadi semakin besar dan akhirnya
susah untuk dirubah, dan ujung-ujungnya menganggap ini sebagai
taqdir, padahal itu hanya karena kebiasaan yang sudah mendarah
daging sejak kecil dan lama, serta tidak terkait dengan fisiknya.
Islam sejak dini telah mengajarkan kepada kita untuk
memisahkan tempat tidur laki-laki dan perempuan ketika sudah
berumur 10 tahun, salah satu tujuannya agar mereka tidak
berkepribadian ganda dikemudian hari. Kesimpulannya, bahwa
operasi merubah kelamin dari orang yang mempunyai kelamin normal
dalam bentuk yang pertama seperti ini hukumnya haram, karena tidak
ditemukan hubungan antara ketidak normalan fisik atau organ tubuh
seseorang. (Dr. Muh. Mukhtar as-Syenkiti, Ahkam al-Jirahiyah at-
Tibbiyah, Jeddah, Maktabah as-Shohabah,hlm. 200- 202). Dalil-
dalilnya adalah sebagai berikut :
Pada dasarnya, Allah swt telah menciptakan manusia ini dalam
bentuk yang sebaik-baiknya, sebagaimana firman Allah swt:
Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-
baiknya; (Qs At Tin : 4).
Penciptaan manusia dalam bentuk yang baik tersebut
merupakan penghormatan kepada manusia, sebagaimana firman Allah
swt: Sesungguhnya telah Kami muliakan keturunan Adam dan Kami
bawa mereka di daratan dan di lautan (Qs Al Isra: 70). Oleh
karenanya, kita sebagai hamba Allah dilarang untuk merubah ciptaan-
Nya yang sudah sempurna. Larangan ini tersebut di dalam firman
Allah swt dalam QS. An-Nisa: 119 ketika menceritakan perkataan
syetan (Syetan berkata) berikut:
Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan
membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan
menyuruh mereka (memotong-motong telinga binatang ternak), lalu
mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka
(merubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya.
Barang siapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain
Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (Qs
An Nisa: 119).
Dari ayat di atas, kita mengetahui bahwa awal tindakan
merubah ciptaan Allah swt berasal dari bisikan syetan. Rasulullah saw
sendiri bersabda : Rasulullah telah melaknat orang-orang laki-laki
yang meniru-niru (menyerupai) perempuan dan perempuan yang
meniru-niru (menyerupai) laki-laki ( HR Bukhari )
b. Waria yang disebabkan adanya perbedaan keadaan psikis dan fisik
Hal ini dapat digambarkan seperti ketidaknormalan sistem
tubuh atau terjadi percampuran hormon laki-laki dan perempuan, yang
berakibat munculnya perasaan dalam dirinya yang berbeda dengan
fisik tubuhnya. Maka dalam hal ini para ulama berbeda
pendapat: Pendapat Pertama: bahwa operasi ganti kelamin untuk
orang yang keadaannya seperti ini tetap tidak boleh. Ini adalah
pendapat mayoritas ulama. Dasarnya adalah ayat-ayat al Quran dan
hadist-hadits yang telah disebutkan di atas.Pendapat Kedua: bahwa
operasi ganti kelamin untuk orang yang keadaanya seperti ini,
dibolehkan. Ini adalah pendapat sebagian kecil ulama kontemporer.

Diantara dalil dari pendapat ini adalah sebagai berikut :


Menurut kesaksian mayoritas dokter bahwa memang benar adanya
orang yang mempunyai penyakit seperti ini, mereka menyebutnya
dengan transeksual, yaitu terpisahnya antara bentuk fisik dengan
psikis, yaitu bentuk fisiknya adalah laki-laki umpamanya, tetapi
perasaannya bahwa dia bukanlah laki-laki. Penyakit ini menyebabkan
orang tersiksa dalam hidupnya, sehingga kadang-kadang diakhiri
dengan bunuh diri. Pengobatan secara kejiwaan sudah dilakukan
berkali-kali oleh para dokter, tetapi tetap saja gagal. Maka tidak ada
jalan lain kecuali operasi ganti kelamin. Keadaan seperti ini bisa
dikatagorikan darurat. Karena tanpa operasi tersebut seseorang tidak
akan bisa hidup tenang dan wajar sebagaimana yang lain, hidupnya
akan dirundung kegelisahan demi kegelisahan, dan tidak sedikit yang
diakhiri dengan tindakan bunuh diri. Kalau kita perhatikan bahwa
yang menyebabkan diharamkannya operasi ganti kelamin secara
umum atau dalam keadaan normal adalah karena dua alasan :
1) Hal tersebut termasuk merubah ciptaan Allah swt, sebagaimana
yang tersebut dalam Qs An Nisa 119, sudah disebut di atas.
Ketika menafsirkan ayat di atas, Ibnu Abbas, Anas,
Ikrimah, dan Abu Sholeh bahwa yang dimaksud merubah ciptaan
Allah adalah mengebiri, mencongkel mata, serta memotong
telinga. Sedangkan Imam Qurtubi di dalam tafsirnya dengan
menukil perkataan Qhadhi bahwa seseorang yang mempunyai jari-
jari tangan lebih dari lima atau daging tambahan di dalam
tubuhnya, maka tidak boleh dipotongnya, karena termasuk dalam
katagori merubah ciptaan Allah, kecuali kalau jari-jari tangan atau
daging tambahan tersebut terasa sakit, nyeri dan menyebabkannya
menjadi menderita, maka dalam keadaan seperti ini, diperbolehkan
untuk memotongnya. (Tafsir Qurtubi : 5 / 252)
Perkataan Qadhi yang dinukil oleh Imam Qurtubi di atas
menjelaskan dengan gamblang bahwa sesuatu tambahan dalam
tubuh yang berupa daging atau yang lain dan menyebabkan sakit
si penderita, maka diperbolehkan untuk menghilangkannya, dan
hal ini dimasukkan dalam katagori berobat, yang kadang harus
merubah ciptaan Allah swt. Karena sebenarnya yang dilarang
dalam masalah ini adalah merubah ciptaan Allah tanpa ada alasan
syara atau hanya karena ingin memperindah anggota tubuh saja.
Tetapi jika bertujuan untuk mengobati, maka dibolehkan. Atas
dasar keterangan di atas, maka operasi ganti kelamin yang
dilakukan oleh orang yang mengidap penyakit transeksual pada
jenis kedua ini, bisa dikatakan bahwa organ tubuhnya secara fisik
yang ada sekarang adalah organ tambahan, karena tidak sesuai
dengan kejiwaan dan perasaannya, sehingga jika dirubah menjadi
organ yang sama dengan kejiwaan dan perasaannya, maka
termasuk dalam proses pengobatan dari rasa sakit yang
dialaminya, dan memang tidak ditemukan obat selain operasi ganti
kelamin.
2) Operasi ganti kelamin termasuk dalam katagori menyerupai jenis
lain yang dilarang oleh Rasulullah saw.
Tetapi para ulama telah menjelaskan bahwa yang dilarang
dalam masalah ini adalah menyerupai jenis di dalam berpakaian,
berhias, bertutur kata dan cara berjalan. Hal ini disimpulkan dari
dalil nash dan dalil lain. Oleh karenanya, Imam Nawawi
menyatakan bahwa waria yang ada semenjak lahir tidak termasuk
dalam katagori yang dilarang oleh Rasulullah saw, karena mereka
tidak bisa meninggalkan gaya-gaya tersebut yang dibawanya dari
lahir,walaupun sudah diobati berkali-kali, sebagaimana yang
disebutkan oleh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari.
Demikianlah beberapa dalil yang diungkapkan oleh
kelompok kedua yang membolehkan bagi seseorang yang terkena
penyakit transeksual jenis kedua dan tidak bisa diobati lagi secara
psikis, maka dibolehkan untuk melakukan operasiganti kelamin,
dan ini termasuk keadaan darurat.
2. Operasi perbaikan atau penyempurnaan kelamin yang dilakukan
terhadap orang yang sejak lahir memiliki cacat kelamin, seperti penis
atau vagina yang tidak berlubang.
Operasi seperti ini dibolehkan, karena termasuk dalam katagori
pengobatan. Karena pada dasarnya manusia itu ciptaannya sempurna,
maka jika didapati beberapa bagian anggota tubuhnya tidak normal atau
tidak berfungsi, sepertivagina yang tidak berlubang, atau penis yang tidak
berlubang sehingga tidak bisa buang air kecil, maka dibolehkan baginya
untuk melakukan operasi perbaikan kelamin, dengan tujuan agar salah
satu organ tubuhnya tersebut berfungsi sebagaimana yang lain. Rasulullah
saw bersabda : Wahai hamba-hamba Allah berobatlah, karena Allah
menjadikan setiap penyakit itu ada obatnya. Jadi operasi kelamin yang
cacat sejak kecil atau karena suatu kecelakaan termasuk dalam katagori
berobat dan bukan dalam katagori merubah ciptaan Allah swt.
3. Operasi pembuangan salah satu dari kelamin ganda yang dilakukan
terhadap orang yang sejak lahir memiliki 2 (dua) jenis kelamin yaitu
penis dan vagina
Orang yang mempunyai kelamin ganda dalam dunia medis
disebut ambiguous genitalia yang artinya alat kelamin meragukan. Orang
tersebut tidak menderita penyakit transeksual tetapi lebih cenderung
kepada interseksual yaitu suatu kelainan, dimana penderita memiliki ciri-
ciri genetik, anatomik atau fisiologik meragukan antara pria dan wanita.
Gejalanya sangat bervariasi, mungkin saja tampilan luarnya adalah laki-
laki normal atau wanita normal, tetapi alat kelaminnya yang masih
meragukan apakah dia laki-laki atau perempuan. Penderita seperti ini
memang benar-benar sakit secara fisik, yang kemudian mempengaruhi
kondisi psikologisnya. Maka, Operasi pada orang yang mempunyai
kelamin ganda seperti ini dibolehkan, tentunya setelah ada kejelasaan
statusnya, baik laki-laki maupun perempuan dengan cara-cara yang telah
diterangkan di atas dan dikuatkan dengan pernyataan para dokter ahli dan
amanah. Biasanya operasi dilakukan ketika anak tersebut masih bayi dan
belum beranjak dewasa, jika sudah dewasa tentunya akan lebih susah lagi,
karena mungkin itu akibat salah pola asuh dan polainteraksi dari
lingkungan sekitar. Karena kalau seseorang dibiarkan dalam status yang
tidak jelas, maka sungguh kasihan hidupnya, dan masyarakatpunkesulitan
untuk berinteraksi dengannya karena statusnya yang belum jelas, apakah
dia itu laki-laki atau perempuan. Oleh karenanya operasi untuk
membuang salah satu dari dua jenis kelamin dibolehkan, karena akan
membawa kemaslahatan bagi yang bersangkutan dan kemaslahatan bagi
masyarakat yang ia hidup di dalamnya.
Kaidah hukum menjelaskan bahwa boleh tidaknya sesuatu hal
tergantung juga pada besar kecilnya nafsadah atau maslahah yang ada.
Bila operasi kelamin (contoh) ternyata lebih besar membawa kebaikan
(manfaat) dari pada madharatnya (keburukan) seperti tentang
kejiwaannya, agamanya, sosial kemasyarakatannya, jati dirinya dan
kehormatan dirinya, maka dalam hal ini operasi kelamin boleh hukumnya,
dan demikian sebaliknya, bila ternyata operasi kelamin akan membawa
dampak negative yang besar dari pada keadaannya sekarang, maka
operasi kelamin dilarang hukumnya.
Menanggapi masalah operasi kelamin diatas pendapat pakar
hukum Islam sebagai berikut : Hasanain Muhammad Makhluf (ahli Fiqih
Mesir), operasi kelamin yang bersifat tashih atau takmil (perbaikan atau
penyempurnaan) diperbolehkan secara hukum bahkan dianjurkan jika
kelamin seseorang tidak memiliki lubang yang berfungsi untuk
pembuangan air seni, baik penis maupun vagina, maka operasi untuk
memperbaiki atau menyempurnakannya menjadi kelamin yang normal
hukumnya boleh dilakukan karena kelainan seperti ini merupakan suatu
penyakit yang harus diobati Menurut Prof Drs.Masyfuk Zuhdi (ahli Fiqih
Indonesia) orang yang lahir dengan alat kelamin tidak normal bisa
mengalami kelainan fsihis dan sosial, sehingga biasanya tersisih dari
kehidupan masyarakat normal serta mencari jalan sendiri, seperti
melacurkan diri, menjadi wanita atau melakukan homo seksual, padahal
perbuatan tersebut sangat dikutuk oleh Islam. Untuk menghindari hal ini,
operasiperbaikan atau penyempurnaan kelamin boleh dilakukan karena
kaidah Fiqih. Artinya ; Menolak bahaya harus didahulukan daripada
mengupayakan manfaat. Maksudnya, upaya untuk menghindari bahaya
yang akan diakibatkan oleh kelainan kelamin tersebut lebih baik dari pada
mengusahakan suatu kemaslahatan,karena menghindari atau menolak
bahaya termasuk suatu kemaslahatan juga.
Operasi kelamin yang dilakukan harus sejalan dengan keadaan
bagian dalam kelamin dan tidak boleh yang berlawanan dengan bagian
dalam kelamin. Sebab operasi kelamin yang berbeda dengan bagian
dalam kelamin bukanlah Tahsin (perbaikan), tapi
termasuk Taghyir atau Tabdil yakni mengubah ciptaan Allah, dan ini
dilarang karena bertentangan dengan Firman Allah ayat 30 surah al
Rahman:
Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?
(QS. Al Rahman: 30)

2.6 Fatwa MUI


Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram bagi
siapa saja yang secara sengaja dan tidak memiliki alasan ilmiah merubah
jenis kelamin. Dengan demikian, Pemerintah dan DPR RI diminta membuat
aturan hukum terkait dengan praktek operasi ganti kelamin dan
penyempurnaan kelamin. Berdasarkan hasil Musyawarah Nasional (Munas)
VIII MUI juga diputuskan tidak boleh menetapkan keabsahan status jenis
kelamin akibat operasi perubahan alat kelamin, sehingga tidak memiliki
implikasi hukum syar`i terkait perubahan tersebut.
Karena tidak boleh ditetapkan keabsahannya, kata dia, kedudukan
hukum jenis kelamin orang yang telah melakukan operasi sama dengan jenis
kelamin semula seperti sebelum operasi meski sudah mendapat penetapan
pengadilan. Sedangkan menyempurnakan kelamin bagi seorang Khuntsa
(banci) yang kelaki-lakiannya lebih jelas guna menyempurnakan kelaki-
lakiannya hukumnya boleh. Demikian juga sebaliknya bagi perempuan.
Atas dasar fatwa tersebut, MUI merekomendasikan kepada
Kementerian Kesehatan untuk menjadikan fatwa itu sebagai pedoman untuk
memberikan aturan pelaksanaan operasi kelamin dengan melarang operasi
ganti kelamin dan mengatur pelaksanaan operasi penyempurnaan. Juga, bagi
organisasi profesi kedokteran untuk membuat kode etik kedokteran terkait
larangan operasi ganti kelamin dan pengaturan bagi praktek operasi
penyempurnaan kelamin.
2.7 Kedudukan Hukum dari Operasi Perubahan dan Penyempurnaan
Kelamin
Pertama: Masalah seseorang yang ingin mengubah jenis kelaminnya
sedangkan ia lahir dalam kondisi normal dan sempurna organ kelaminnya dan
bagi perempuan yang dilengkapi dengan rahim dan ovarium, maka pada
umumnya tidak dibolehkan atau banyak ditentang dan bahkan diharamkan
oleh syariat Islam untuk melakukan operasi kelamin. Ketetapan haram ini
sesuai dengan keputusan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam
Musyawarah Nasional II tahun 1980 tentang Operasi Perubahan/
Penyempurnaan kelamin. Menurut fatwa MUI ini sekalipun diubah jenis
kelamin yang semula normal kedudukan hukum jenis kelaminnya sama
dengan jenis kelamin semula sebelum diubah.
Kedua: Jika operasi kelamin yang dilakukan bersifat perbaikan atau
penyempurnaan dan bukan penggantian jenis kelamin, maka pada umumnya
itu masih bisa dilakukan atau dibolehkan. Jika kelamin seseorang tidak
memiliki lubang yang berfungsi untuk mengeluarkan air seni dan/atau
sperma, maka operasi untuk memperbaiki atau menyempurnakannya
dibolehkan bahkan dianjurkan sehingga menjadi kelamin yang normal karena
kelainan seperti ini merupakan suatu penyakit yang harus diobati.
Ketiga: Apabila seseorang mempunyai alat kelamin ganda, maka
untuk memperjelas dan memfungsikan secara optimal dan definitif salah satu
alat kelaminnya, ia boleh melakukan operasi untuk mematikan dan
menghilangkan salah satu alat kelaminnya.
Tidak adanya aturan hukum yang jelas yang mengatur mengenai
kedudukan pergantian kelamin ini menyebabkan banyak kesalahan persepsi
yang terjadi di kalangan masyarakat mengenai boleh atau tidaknya melakukan
operasi kelamin. Banyak yang berpendapat bahwa melakukan operasi
pergantian kelamin itu sah-sah saja karena itu merupakan hak asasi tiap
orang. Namun, jika perubahan kelamin itu hanya untuk menuruti hasrat atau
kemauan dari subjek itu sendiri, maka berarti dia telah menyalahi dan
berusaha untuk mengubah apa yang telah dikodratkan Tuhan kepadanya.
2.8 Akibat Operasi Perubahan dan Penyempurnaan Kelamin
Tidak hanya menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat,
operasi penggantian jenis kelamin juga dapat menimbulkan masalah hukum
bagi subjek yang melakukan operasi itu sendiri. Masalah hukum yang paling
umum timbul atau dipermasalahkan adalah mengenai hukum waris. Dengan
adanya pergantian kelamin yang dilakukan oleh seseorang, maka secara
langsung akan mempengaruhi kedudukannya dalam pembagian harta warisan,
terutama jika orang yang bersangkutan adalah seorang muslim. Dengan
bergantinya jenis kelamin seseorang dari pria menjadi wanita ataupun
sebaliknya maka kedudukan dan haknya sebagai penerima waris juga akan
berganti.
Dalam hal ini, kejelasan mengenai jenis kelamin seseorang sangat
diperlukan. Jika terjadi kasus seperti yang telah disebutkan di atas (seseorang
yang memiliki alat kelamin ganda), maka akan sulit ditentukan apakah ia
memperoleh bagian warisan seperti layaknya bagian pria atau wanita. Maka
agar tidak terjadi kekeliruan, operasi penggantian kelamin sebaiknya
dilakukan.

2.9 Pencegahan terhadap Operasi Kelamin


Menurut standar care The Herry Benjamin International Gender
Dyspheria Assocition, yaitu:
1) Subjek ditangani oleh psikolog atau psikiater yang berpengalaman dalam
maslah gender. Pada tahap ini diberikan segala informasi yang harus
diketahui dan dibutuhkan oleh subjek, termasuk apa yang mungkin
dicapai, prosedur, apa yang tidak mungkin dicapai, dan konsekuensi
penyesuaian gender atau operasi yang akan dilakukan.
2) Two years real life diagnostic test, disini individu diharuskan untuk
menjalanikehidupan total dengan peran gender yang diinginkan selama
paling tidak dua tahun. Pada masa ini dilakukan terapi hormon dan
menjalani konsultasi psikolog. Setiap 3 bulan dan hidup dalam peran
gender baru, setiap kasus dididskusikan oleh sebuah tim sebelum operasi
diijinkan. Hanya subjek yang mengalami kepuasan atau merasakan
terbebaskan dari masalh gendernya, yang diijuinkan menjalani operasi.
Jika masih ada keraguan, operasi diundur sampai kondisi yang diinginkan
terpenuhi.
3) Jika semua kriteria diatas terpenuhi, transeksual diijinkan menjalani
serangkaian operasi yang dibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA
Nurhaeni, Ismi Dwi Astuti. 2009. Kebijakan Publik Pro Gender. Surakarta.
UPT Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press).
Setiawan Budi Utomo, 2003. Fiqih Aktual (jawaban tuntas masalah
kontemporer), Jakarta: Gema Insani
Haspels, Nelien dan Busakorn Suriyasarn. 2005. Meningkatkan
Kesetaraan Gender Dalam Aksi Penanggulangan Pekerja Anak Serta Perdagangan
Perempuan dan Anak, Jakarta: Kantor Perburuhan Internasional.
Zuhdi Masjfuk, Masail Fiqhiyah (Kapita Selekta Hukum Islam), Jakarta:
Haji Masagung, 1992.

Jotidhammo. 1997. Dhammapada Atthakatha Kisah-kisah


Dhammapada. Yogyakarta: Vidyasena Vihara Vidyaloka.

Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqh (kapita selekta hukum Islam), CV Haji Masagung,
Jakarta, 1992
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/07/27/60838/MUI-
Haramkan-Operasi-Ganti-Kelamin
http://eprints.undip.ac.id/14977/1/2005B4B003121.pdf