Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

AGAMA

STERILISASI (PENGAKHIRAN KESUBURAN)

KELOMPOK XI:
WIDIA IRFANI
SYARFAIL
UTARI LISTIADESTI

Dosen Pembimbing :
VIRGO VICNORI, M.Ag

PRODI S1 KEPERAWATAN
STIKES PIALA SAKTI
PARIAMAN
2016

0
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia adalah makhluk yang sempurna memiliki rasa dan karsa,
sehingga mereka pun akan senang dicinta dan mencinta. Setiap dari kita juga
memiliki rasa untuk memiliki, sehingga kadangkali kita butuh perjuangan
yang keras untuk mendapatkannya. Salah satunya adalah keturunan.
Siapa yang dari kita ini yang tidak menginginkan momongan atau
keturunan. Dalam Islam kita diperintahkan untuk memperbanyak keturunan
untuk memperluas dakwah Islamiyah. Tidak hanya itu saja, dengan adanya
keturunan manusia juga dapat memperbanyak jenisnya. Makanya, kadangkala
ada orang mengatakan banyak anak, banyak rezeki
Inilah kesalahan persepsi. Bahwa semua orang memperbanyak anak
karena ingin memperoleh rezeki yang banyak pula. Nah, dengan adanya
kesalahan itu, pemerintah jaman Orba menggalakkan program KB. Program
ini memiliki banyak varian, seperti alat kontrasepsi, dan sterilisasi. Mungkin
kita sering mendengar kataalat kontrasepsi tapi untuk masalah sterilisasi
masih jarang terjamah. Oleh karena itu, kami akan membahas hal tersebut di
dalam makalah kami.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah Sterilisasi itu?
2. Apakah yang dimaksud dengan vasektomi dan tubektomi ?
3. Bagaimana proses tubektomi dan vasektomi ?
4. Bagaimana pendapat ulama dan ahli kesehatan reproduksi mengenai
vasektomi dan tubektomi ?
5. Bagaimana hukum sterilisasi secara Islam dan undang-undang ?

1.3 Tujuan
Menjelaskan dan memahamkan kepada mahasiswa mengenai apakah
sterilisasi, macam-macamnya, prosesnya dan hukum serta dasar-dasar hukum
yang berkaitan dengan sterilisasi

1
1.4 Manfaat
Mahasiswa akan tahu apa sterilisasi
Mahasiswa akan mampu menyebutkan macam-macam sterilisasi
Mahasiswa akan dapat menjelaskan serta memahami hukum yang jelas
tentang sterilisasi
Mahasiswa dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sterilisasi


Sterilisasi merupakan suatu tindakan/metode yang menyebabkan
seorang wanita tidak dapat hamil lagi. Ada juga yang mengartikan sterilisasi
ialah memandulkan lelaki atau wanita dengan jalan operasi (pada umumnya)
agar tidak dapat menghasilkan keturunan. Sterilisasi berbeda dengan cara-
cara/alat-alat kontrasepsi lainnya yang pada umumnya hanya bertujuan
menghindari/menjarangkankehamilan untuk sementara waktu saja.

2
Sedangkan sterilisasi ini, sekalipun secara teori orang yang disterilisasikan
masih bisa dipulihkan lagi (reversible), tetapi para ahli kedokteran mengakui
harapan tipis sekali untuk bisa berhasil.
Meskipun sterilisasi merupakan tindakan untuk memandulkan wanita
atau pria, tetapi tidak dapat disamakan pengertiannya dengan istilah
infertilitas; karena istilah tersebut dapat diartikan sebagai berikut:
Infertilitas (kemandulan) menyatakan berkurangnya kesanggupan untuk
berkembang biak, tanpa melalui prose operasi.
Jadi perbedaannya adalah sterilisasi merupakan pemandulan dengan
cara yang disengaja, tetapi infertilitas merupakan kemandulan yang tidak
disengaja. Maka dapat diketahui bahwa infertilitas (kemandulan) menjadi dua
macam, yaitu:
a) Infertilitas primer
Adalah kemandulan yang sama sekali tidak pernah hamil.
b) Infertilitas sekunder
Adalah keadaan wanita yang sudah pernah hamil, lalu menjadi mandul
karena factor umur yang sudah lanjut.

2.2 Pengertian Vasektomi dan Tubektomi


Vasektomi adalah istilah dalam ilmu bedah yang terbentuk dari dua kata
yaitu vas dan ektomi. Vas atau vasa deferensia artinya adalah saluran benih
yaitu saluran yang menyalurkan sel benih jantan (spermatozoa) keluar dari
buah zakar (testis) yaitu tempat sel benih itu diproduksi menuju kantung mani
(vesikulaseminalis) sebagai tempat penampungan sel benih jantan sebelum
dipancarkan keluar pada saat puncak sanggama (ejakulasi). Ektomi atau
ektomia artinya pemotongan sebagian. Jadi vasektomi artinya adalah
pemotongan sebagian (0.5 cm 1 cm) saluran benih sehingga terdapat jarak
diantara ujung saluran benih bagian sisi testis dan saluran benih bagian sisi
lainya yang masih tersisa dan pada masing-masing kedua ujung saluran yang
tersisa tersebut dilakukan pengikatan sehingga saluran menjadi
buntu/tersumbat.
Kata tubektomi berasal dari tuba dan ektomi, tuba = saluran telur
wanita ektomi = membuang / mengangkat. Namun sekarang definisi ini sudah

3
diperluas dengan pengertian sterilisasi tuba. Tubektomi adalah metode
kontrasepsi permanen di mana saluran tuba di blokir sehingga sel telur tidak
bisa masuk ke dalam rahim.

2.3 Tata Cara Vasektomi dan Tubektomi


Ada beberapa cara yang sering dilakukan dalam proses sterilisasi
wanita, antara lain :
1. Cara Radiasi, yaitu merusak fungsi ovarium, sehingga tidak dapat lagi
menghasilkan hormon-hormon yang mengakibatkan wanita menjadi
monupause.
2. Cara Operatif, yang terdiri dari beberapa teknik, antara lain:
Ovarektomi, yaitu mengangkat atau memiringkan kedua ovarium, yang
efeknya sama dengan cara radiasi.
Tubektomi, yaitu mengangkat seluruh tuba agar wanita tidak bisa lagi
hamil, karena saluran tersebut sudah bocor.
Ligasi Tuba, yaitu mengikat tuba sehingga tidak dapat lagi dilewati
ovum (sel-sel telur).
3. Cara Penyumbatan Tuba, yaitu menggunakan zat-zat kimia untuk
menyumbat lubang tuba, dengan teknik suntikan.
Mengenai cara yang biasa dilakukan dalam proses sterilisasi pria, adalah
vasektomi; dengan teknik membedah dan membuka vas (bagian dalam
buah pelir), kemudian diikat atau dijepit agar tidak dilewati lagi sperma.

2.4 Pendapat Ulama dan Ahli tentang Sterilisasi


Hasil Ijtihad para ulama Islam tentang hukum vasektomi dan
tubektomi:
1. Keputusan Majma Fiqh Islami di Kuwait tanggal 5/9/1988 menyebutkan:
diharamkan untuk memutuskan kemampuan mempunyai anak bagi laki-
laki dan perempuan yang dikenal dengan pemandulan (vasektomi dan
tubektomi) tanpa adanya alasan yang dibenarkan syariat.
2. Keputusan Majma Fiqh Islami di Makkah Mukarramah menyebutkan:
Tidak dibolehkan pemutusan kehamilan selamanya (pemandulan) tanpa
adanya alasan yang darurat secara syari. Yaitu apabila membahayakan

4
hidupnya karena suatu penyakit, maka jika pemandulan adalah cara untuk
menyelamatkan hidup si perempuan dari kematian maka itu dibolehkan.

Pada dasarnya, hukum sterilisasi vasektomi dan tubektomi dalam


Islam adalah haram dengan beberapa sebab :
1. Sterilisasi (vasektomi/tubektomi) berakibat pemandulan. Hal ini
bertentangan dengan tujuan pokok perkawinan dalam Islam yaitu
perkawinan selain bertujuan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat juga
untuk mendapatkan keturunan yang sah.
2. Mengubah ciptaan Tuhan dengan jalan memotong dan menghilangkan
sebagaian anggota tubuh yang sehat dan berfungsi).
3. Melihar aurat besar orang lain.
Namun apabila suami istri dalam keadaan terpaksa
(darurat/emergency) seperti terancamnya jiwa si ibu apabila ia mengandung
maka hal itu dibolehkan. Hal ini berdasarkan kaidah hukum Islam: Keadaan
darurat itu membolehkan hal hal yang dilarang.

Dasar Hukum dan Undang-Undang yang Mengatur KB.


KB (Keluarga Berencana) merupakan progam pemerintah dalam
rangka mensejahterakan masyarakat. Dalam hal ini Program KB diatur
dalam :
GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara) 1999
Undang-undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan
Nasional.
Undang-undang No. 10 Tahun 1992 dalam butir 17, 18, 19.

Berdasarkan hukum, status pria dan wanita adalah


Adil dengan persetujuan bersama (UU No. 10 Tahun 1992 Pasal 19)
Suami istri mempunyai hak dan kewajiban yang sama serta kedudukan
yang sederajat dalam menentukan cara pengaturan kelahiran
Dari dasar undang-undang tersebut, maka KB memang dianjurkan
termasuk sterilisasi. Sebagai acuannya adalah kepadatan penduduk yang
semakin besar masa ke masa. Dan lemahnya kesadaran dan pendidikan

5
masyarakat tentang KB. Itulah mengapa KB diatur secara berkelanjutan oleh
pemerintah.

2.5 Hukum Sterilisasi menurut Islam


Dari beberapa cara yang dilakukan oleh Dokter Ahli dalam upaya
sterilisasi, baik yang dianggapnya aman pemakaiannya, maupun yang penuh
resiko, kesemuanya dilarang menurut ajaran Islam; karena mengakibatkan
seseorang tidak dapat mempunyai anak lagi.
Pemandulan yang dibolehkan dalam ajaran Islam, adalah yang
sifatnya berlaku pada waktu-waktu tertentu saja (temporer) atau istilah
menurut istilah Agama, bukan yang sifatnya selama-lamanya atau menurut
istilah tersebut. Artinya, alat kontrasepsi yang seharusnya dipakai oleh istri
atau suami dalam ber-KB, dapat dilepaskan atau ditinggalkan, bila suatu
ketika ia menghendaki ank lagi. Maka alat kontrasepsi berupa sterilisasi
dilarang digunakan dalam Islam, karena sifatnya pemandulan untuk selama-
lamanya, kecuali kalau alat tersebut dapat disambung lagi, sehingga dapat
disaluri ovum atau sperma, maka hukumnya boleh, karena sifatnya
sementara.
Tetapi kalau kondisi kesehatan istri atau suami yang terpaksa,
sehingga diadakan hal yang tersebut, menurut hasil penyelidikan seorang
dokter yang terpercaya, baru dibolehkan melakukannya, karena dianggap
dharurat menurut Islam. Sedangkan pertimbangan darurat, membolehkan
melakukan hal-hal yang dilarang.
Sterilisasi baik untuk lelaki (vasektomi) maupun untuk wanita
(tubektomi) sama dengan abortus, bisa berakibat kemandulan, sehingga yang
bersangkutan tidak lagi mempunyai keturunan. Karena itu, International
Planned Parenthood Federation (IPPF) tidak menganjurkan kepada anggota
negara-negara anggotanya termasuk Indonesia untuk melaksanakan sterilisasi
sebagai alat/cara kontrasepsi. IPPF hanya menyerahkan kepada negara-negara
anggotanya untuk memilih cara/alat kontrasepsi mana yang cocok atau baik
untuk masing-masing. Dalam hal ini,pemerintah Indonesia secara resmi tidak
pernah menganjurkan kepada rakyat Indonesia untuk melaksanakan sterilisasi

6
sebagai cara kontrasepsi dalam program KB, karena melihat akibat sterilisasi
(pemandulan seterusnya) dan menghormati aspirasi umat Islam di Indonesia.
Sterilisasi baik untuk lelaki (vasektomi), maupun wanita (tubektomi)
menurut Islam pada dasarnya dilarang. Karena alasan yang sangat prinsipal,
ialah:
a. Sterilisasi (vasektomi/tubektomi)berakibat pemandulan tetap. Hal ini
bertentangan dengantujuan pokok perkawinan menurut Islam,yakni:
Perkawinan lelaki dan wanita selain bertujuan untuk kebahagiaan suami-
istri dalam hidup di dunia dan di akhirat, juga untuk mendapatkan
keturunan yang sah yang diharapkan menjadi anak yang saleh sebagai
penerus cita-citanya.
b. Mengubah ciptaan Tuhan dengan jalan memotong dan
menghilangkansebagian tubuh yang sehat dan berfungsi (saluran
mani/telur).
c. Melihat aurat orang lain (aurat besar).
Pada prinsipnya Islam melarang melihat aurat orang lain,meskipun
sama jenis kelaminnya. Hal ini berdasarkab Hadis Nabi: Bersabda Rasulullah
SAW,Janganlah laki-laki melihat aurat laki-laki lain dan janganlah
bersentuhan seseoranglaki-laki dengan laki-laki lain dibawah sehelai
selimut, dan tidak pula seorang wanita dengan wanita lain di bawah kain
(selimut). (HR. Ahmad , Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi).
Tetapi apabila suami-istri dalam keadaan yang sangat terpaksa
(darurat/emergency), seperti menghindari penurunan penyakit dari bapak/ibu
terhadap anak keturunannya yang bakal lahir, atau terancamnyajiwa si ibu
bila mnegandung atau melahirkan bayi, maka sterilisasi diperbolehkan oleh
Islam. Hal ini berdasarkan kaidah hukum Islam yang menyatakan: Keadaan
darurat itu membolehkan hal-hal yang dilarang.
Demikian pula melihat aurat orang lain (lelaki atau wanita) pada
dasarnya itu dilarang (haram) , tetapi apabila sangat diperlukan(dianggap
penting), seperti seorang lelaki yang hendak khitbah (meminang) seorang
wanita, dapat diizinkan melihat aurat kecil (bertemu muka), sebagaimana
sabda Nabi kepada Sahabat Al-Mughirah ketika mau kawin dengan seorang
wanita: Lihatlah dia dahulu, karena sesungguhnya dengan melihat

7
(mengenal lebih dahulu) lebih menjamin kelangsungan hubungan antara
kamu berdua. ( HR. At-Tirmidzi dan Al-Nasai dari Al-Mughirah).
Apabila melihat aurat itu diperlukan untuk kepentingan medis
(pemeriksaan kesehatan, pengobatan, operasi, dan sebagainya), maka sudah
tentu Islam membolehkan ,karena keadaan semacam ini sudah sampai ke
tingkat darurat, sehingga tanpa ada pembatasan aurat kecil atau besar, asal
benar-benar diperlukan untuk kepentingan medis dan melihat sekadarnya saja
atau seminimal mungkin. Hal ini didasarkan pada kaidah hukum Islamyang
menyatakan: Sesuatu yang diperbolehkan karena terpaksa, adalah menurut
kadar halangannya.
Catatan :
1. Sterilisasi lelaki (vasektomi) harus dibedakan hukumnya dari khitan lelaki
di mana sebagian dari tubuhnya ada pula yang dipotong dan dihilangkan ,
ialah kulup (qulfah, bhs. Arab, praeputium bhs. Latin), karena kalu kulup
yang menutupi kepala zakar (hasyafah/glans penis) tidak dipotong dan
dihilangkan justru bisa menjadi sarang penyakit kelamin (veneral
diseases). Karena itu, khitan untuk anak lelaki itu justru disunatkan.
2. Islam hanya membolehkan sterilisasi lelaki/wanita, karena semata-mata
alasan medis. Selain alasan medis, seperti banyak anak atau kemiskinan
tidak dapat dijadikan alasan untuk sterilisasi. Tetapi ia dapat
menggunakan cara-cara/alat-alat kontrasepsi yang diizinkan oleh Islam,
seperti kondom, oral pill, vaginal tablet, vaginal pasta dan sebagainya.
Perlu ditambahkan di sini, bahwa sesuai kaidah hukum Islam:
Hukum itu berputar bersama illat-nya (alasan yang menyebabkan
adanya hukum ada/tidak adanya. Hukum-hukum itu bisa berubah karena
perubahan jaman,tempat, dan keadaan.
Maka dapat disimpulkan,bahwa fatwa MUI Pusat pada tahun 1983
tentang larangan (haram) sterilisasi wanita atau pria dengan alasan sterilisasi
bisa membantu akibat kemandulan tetap tidak relevan lagi, sehingga perlu
dikaji ulang fatwa tersebut untuk disesuaikan dengan fatwa sekarang,bahwa
sterilisasi lelaki dan wanita tidak lagi membawa akibat kemandulan tetap.
Sebab dengan teknologi kedokteran yang makin canggih sekarang ini,
seorang wanita atau pria yang telah disterilkan kemudian pada sewaktu-waktu

8
ingin mempunyai anak lagi, masih bisa ditolong dengan operasi
penyambungan saluran telur wanita atau saluran sperma pria yang
bersangkutan dan reversible.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sterilisasi ialah memandulkan lelaki atau wanita dengan jalan operasi
(pada umumnya) agar tidak dapat menghasilkan keturunan. Sterilisasi
berbeda dengan cara-cara/alat-alat kontrasepsilainnya yang pada
umumnyahanya bertujuan menghindari/menjarangkankehamilan untuk
sementara waktu saja. Sedangkan sterilisasi ini, sekalipun secara teori orang
yang disterilisasikan masih bisa dipulihkan lagi (reversible), tetapi para ahli
kedokteran mengakui harapan tipis sekali untuk bisa berhasil.

9
Sterilisasi pada lelaki disebut vasektomi atau vas ligation. Caranya
ialah memotong saluran mani (vas deverens) kemudian kedua ujungnya
diikat, sehingga sel sperma tidak dapat mengalir keluar penis (urethra).
Sterilisasi lelaki termasuk operasi ringan, tidak memerlukan perawatan di
rumah sakit dan tidak mengganggu kehidupan seksual. Lelaki tidak akan
kehilangan sifat kelelakiannya karena operasi. Nafsu seks dan potensi lelaki
tetap, dan waktu melakukan koitus, terjadi pula ejakulasi,tetapi yang
terpancar hanya semacam lendir yang tidak mengandung sel sperma.
Lelaki yang disterilisasi itu testis-nya(buah pelir) masih tetap
berfungsi,sehingga lelaki masih mempunyai semua hormon yang diperlukan.
Juga kepuasan seks tetap sebagaimana biasa. Demikian pula kelenjar-kelenjar
yang membuat cairan putih tidak berubah,sehingga pada waktu puncak
kenikmatan seks (orgasme), cairan putih masih keluar dari penis.
Sterilisasi pada wanita disebut tubektomi atau tubal ligation. Caranya
ialah dengan memotong kedua saluran sel telur (tuba palupi) dan menutup
kedua-duanya, sehingga sel telur tidak dapat keluar dan sel sperma tidak
dapat pula masuk bertemu dengan sel telur, sehingga tidak terjadi kehamilan.

DAFTAR PUSTAKA

Mahjudin.2010.Mailul Fiqhiyah Berbagai Kasus Yang Dihadapi Hukum Islam


Masa Kini. Jakarta: Kalam Mulia.
Zuhdi,Masjfuk.1997. Masail Fiqhiyah. Jakarta: Gunung Agung.
http://muslim.or.id/2007/01/07/konsultasi-ustadz-hukum-keluarga-berencana-kb/
http://www.bkkbn.go.id/jabar/program_detail.php?prgid=7
http://www.solusikesehatan.com/penyakit-kandungan.html

10
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i

DAFTAR ISI...........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang..........................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................1

1.3 Tujuan........................................................................................................1

1.4 Manfaat......................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

11
2.1 Pengertian Sterilisasi.................................................................................3

2.2 Pengertian Vasektomi dan Tubektomi.......................................................3

2.3 Tata Cara Vasektomi dan Tubektomi.........................................................4

2.4 Pendapat Ulama dan Ahli tentang Sterilisasi............................................5

2.5 Hukum Sterilisasi menurut Islam..............................................................6

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan..............................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA

12