Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Khitan bagi wanita juga disyariatkan sebagaimana halnya bagi pria.
Memang, masih sering muncul kontroversi seputar khitan bagi wanita, baik di
dalam maupun di luar negeri. Perbedaan dan perdebatan tersebut terjadi
karena berbagai alasan dan sudut pandang yang berbeda. Yang kontra bisa
jadi karena kurangnya informasi tentang ajaran Islam, kesalahan
penggambaran tentang khitan yang syari bagi wanita, dan mungkin juga
memang sudah antipati terhadap Islam. Lepas dari kontroversi tersebut,
selaku seorang muslim, kita punya patokan dalam menyikapi segala
perselisihan, yaitu dikembalikan kepada Allah Subhanahu wataala dan Rasul-
Nya.


Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu,
kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika
kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (an-Nisa: 59)
Setelah kita kembalikan kepada Allah Subhanahu wataala dan Rasul-
Nya, serta telah jelas apa yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wataala dan
Rasul-Nya, kewajiban kita adalah menerima ajaran tersebut sepenuhnya dan
tunduk sepenuhnya dengan senang hati tanpa rasa berat. Allah Subhanahu
wataala berfirman,


Sesungguhnya jawaban orangorang mukmin, apabila mereka
dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi (mengadili)
di antara mereka ialah ucapan, Kami mendengar dan kami patuh. Dan
mereka itulah orangorang yang beruntung. (an-Nur: 51)

1
Tentang sunat bagi wanita, tidak diperselisihkan tentang
disyariatkannya. Hanya saja para ulama berbeda pendapat, apakah hukumnya
hanya sunnah atau sampai kepada derajat wajib. Maka dari itu saya selaku
penulis ingin menjelaskan sekaligus mengajak para pembaca agar lebih
memahami bagaimana sebenarnya hukum sunat bagi perempuan menurut
agama islam.

1.2 Tujuan
1. Memahami sunat perempuan menurut agama islam
2. Menambah wawasan tentang anjuran Rasulullah S.A.W

1.3 Manfaat
1. Dapat memahami sunat perempuan menurut agama islam
2. Dapat menambah wawasan tentang anjuran Rasulullah S.A.W

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Ajaran Khitan dalam Islam


Khitan secara bahasa artinya memotong. Secara terminologis artinya
memotong kulit yang menutupi alat kelamin lelaki (penis). Dalam bahasa
Arab khitan juga digunakan sebagai nama lain alat kelamin lelaki dan
perempuan seperti dalam hadist yang mengatakan "Apabila terjadi pertemuan
dua khitan, maka telah wajib mandi" (H.R. Muslim, Tirmidzi dll.).
Dalam agama Islam, khitan merupakan salah satu media pensucian
diri dan bukti ketundukan kita kepada ajaran agama. Dalam hadist Rasulullah
s.a.w. bersabda:"Kesucian (fitrah) itu ada lima: khitan, mencukur bulu
kemaluan, mencabut bulu ketiak, memendekkan kumis dan memotong kuku"
(H.R. Bukhari Muslim). Faedah khitan: Seperti yang diungkapkan para ahli
kedokteran bahwa khitan mempunyai faedah bagi kesehatan karena
membuang anggota tubuh yang yang menjadi tempat persembunyian kotoran,
virus, najis dan bau yang tidak sedap. Air kencing mengandung semua unsur
tersebut. Ketika keluar melewati kulit yang menutupi alat kelamin, maka
endapan kotoran sebagian tertahan oleh kulit tersebut. Semakin lama endapan
tersebut semakin banyak. Bisa dibayangkan berapa lama seseorang
melakukan kencing dalam sehari dan berapa banyak endapan yang disimpan
oleh kulit penutup kelamin dalam setahun. Oleh karenanya beberapa
penelitian medis membuktikan bahwa penderita penyakit kelamin lebih
banyak dari kelangan yang tidak dikhitan. Begitu juga penderita penyakit
berbahaya aids, kanker alat kelamin dan bahkan kanker rahim juga lebih
banyak diderita oleh pasangan yang tidak dikhitan. Ini juga yang menjadi
salah satu alasan non muslim di Eropa dan AS melakukan khitan.

2.2 Hukum Khitan


Dalam fikih Islam, hukum khitan dibedakan antara untuk lelaki dan
perempuan. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum khitan baik untuk
lelaki maupun perempuan.

3
1. Hukum Khitan untuk Lelaki
Menurut jumhur (mayoritas ulama), hukum khitan bagi lelaki
adalah wajib. Para pendukung pendapat ini adalah imam Syafi'i, Ahmad,
dan sebagian pengikut imam Malik. Imam Hanafi mengatakan khitan
wajib tetapi tidak fardlu.
Menurut riwayat populer dari imam Malik beliau mengatakan
khitan hukumnya sunnah. Begitu juga riwayat dari imam Hanafi dan
Hasan al-Basri mengatakan sunnah. Namun bagi imam Malik, sunnah
kalau ditinggalkan berdosa, karena menurut madzhab Maliki sunnah
adalah antara fadlu dan nadb. Ibnu abi Musa dari ulama Hanbali juga
mengatakan sunnah muakkadah.
Ibnu Qudamah dalam kitabnya Mughni mengatakan bahwa khitan
bagi lelaki hukumnya wajib dan kemuliaan bagi perempuan, andaikan
seorang lelaki dewasa masuk Islam dan takut khitan maka tidak wajib
baginya, sama dengan kewajiban wudlu dan mandi bisa gugur kalau
ditakutkan membahayakan jiwa, maka khitan pun demikian.
Dalil yang dijadikan landasan bahwa khitan tidak wajib:
1. Salman al-Farisi ketika masuk Islam tidak disuruh khitan.
2. Hadist menyebutkan khitan dalan rentetan amalan sunnah seperti
mencukur buku ketiak dan memendekkan kuku, maka secara logis
khitan juga sunnah.
3. Hadist Ayaddad bib Aus, Rasulullah s.a.w bersabda:"Khitan itu
sunnah bagi lelaki dan diutamakan bagi perempuan. Namun kata
sunnah dalam hadist sering diungkapkan untuk tradisi dan
kebiasaan Rasulullah baik yang wajib maupun bukan dan khitan di
sini termasuk yang wajib.
Daliln yang dijadikan landasan para ulama yang mengatakan khitab
wajib:
1. Dari Abu Hurairah Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa nabi Ibrahim
melaksanakan khitan ketika berumur 80 tahun, beliau khitan
dengan menggunakan kapak. (H.R. Bukhari). Nabi Ibrahim
melaksanakannya ketika diperintahkan untuk khitan padahal
beliau sudah berumur 80 tahun. Ini menunjukkan betapa kuatnya
perintah khitan.

4
2. Kulit yang di depan alat kelamin terkena najis ketika kencing,
kalau tidak dikhitan maka sama dengan orang yang menyentuh
najis di badannya sehingga sholatnya tidak sah. Sholat adalah
ibadah wajib, segala sesuatu yang menjadi prasyarat sholat
hukumnya wajib.
3. Hadist riwayat Abu Dawud dan Ahmad, Rasulullah s.a.w. berkata
kepada Kulaib: "Buanglah rambut kekafiran dan berkhitanlah".
Perintah Rasulullah s.a.w. menunjukkan kewajiban.
4. Diperbolehkan membuka aurat pada saat khitan, padahal
membuka aurat sesuatu yang dilarang. Ini menujukkan bahwa
khitan wajib, karena tidak diperbolehkan sesuatu yang dilarang
kecuali untuk sesuatu yang sangat kuat hukumnya.
5. Memotong anggota tubuh yang tidak bisa tumbuh kembali dan
disertai rasa sakit tidak mungkin kecuali karena perkara wajib,
seperti hukum potong tangan bagi pencuri.
6. Khitan merupakan tradisi umat Islam sejak zaman Rasulullah
s.a.w. sampai zaman sekarang dan tidak ada yang
meninggalkannya, maka tidak ada alasan yang mengatakan itu
tidak wajib.
2. Hukum Khitan untuk perempuan
Hukum khitan bagi perempuan telah menjadi perbincangan para
ulama. Sebagian mengatakan itu sunnah dan sebagian mengatakan itu
suatu keutamaan saja dan tidak ada yang mengatakan wajib. Perbedaan
pendapat para ulama seputar hukum khitan bagi perempuan tersebut
disebabkan riwayat hadist seputar khitan perempuan yang masih
dipermasalahkan kekuatannya.
Tidak ada hadist sahih yang menjelaskan hukum khitan
perempuan. Ibnu Mundzir mengatakan bahwa tidak ada hadist yang bisa
dijadikan rujukan dalam masalah khitan perempuan dan tidak ada sunnah
yang bisa dijadikan landasan. Semua hadist yang meriwayatkan khitan
perempuan mempunyai sanad dlaif atau lemah. Hadist paling populer
tentang khitan perempuan adalah hadist Ummi 'Atiyah r.a., Rasulllah
bersabda kepadanya:"Wahai Umi Atiyah, berkhitanlah dan jangan
berlebihan, sesungguhnya khitan lebih baik bagi perempuan dan lebih

5
menyenangkan bagi suaminya". Hadist ini diriwayatkan oleh Baihaqi,
Hakim dari Dhahhak bin Qais. Abu Dawud juga meriwayatkan hadist
serupa namun semua riwayatnya dlaif dan tidak ada yang kuat. Abu
Dawud sendiri konon meriwayatkan hadist ini untuk menunjukkan
kedlaifannya. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam kitab Talkhisul
Khabir.
Mengingat tidak ada hadist yang kuat tentang khitan perempuan
ini, Ibnu Hajar meriwayatkan bahwa sebagian ulama Syafi'iyah dan
riwayat dari imam Ahmad mengatakan bahwa tidak ada anjuran khitan
bagi perempuan. Sebagian ulama mengatakan bahwa perempuan Timur
(kawasan semenanjung Arab) dianjurkan khitan, sedangkan perempuan
Barat dari kawasan Afrika tidak diwajibkan khitan karena tidak
mempunyai kulit yang perlu dipotong yang sering mengganggu atau
menyebabkan kekurang nyamanan perempuan itu sendiri.

2.3 Apa yang Dipotong dari Perempuan


Imam Mawardi mengatakan bahwa khitan pada perempuan yang
dipotong adalah kulit yang berada di atas vagina perempuan yang berbentuk
mirip cengger ayam. Yang dianjurkan adalah memotong sebagian kulit
tersebut bukan menghilangkannya secara keseluruhan. Imam Nawawi juga
menjelaskan hal yang sama bahwa khitan pada perempuan adalah memotong
bagian bawah kulit lebih yang ada di atas vagina perempuan. Namun pada
penerapannya banyak kesalahan dilakukan oleh umat Islam dalam
melaksanakan khitan perempuan, yaitu dengan berlebih-lebihan dalam
memotong bagian alat vital perempuan. Seperti yang dikutib Dr. Muhammad
bin Lutfi Al-Sabbag dalam bukunya tentang khitan bahwa kesalahan fatal
dalam melaksanakan khitan perempuan banyak terjadi di masyarakat muslim
Sudan dan Indonesia. Kesalahan tersebut berupa pemotongan tidak hanya
kulit bagian atas alat vital perempuan, tapi juga memotong hingga semua
daging yang menonjol pada alat vital perempuan, termasuk clitoris sehingga
yang tersisa hanya saluran air kencing dan saluran rahim. Khitan model ini di
masyarakat Arab dikenal dengan sebutan "Khitan Fir'aun". Beberapa kajian
medis membuktikan bahwa khitan seperti ini bisa menimbulkan dampak

6
negatif bagi perempuan baik secara kesehatan maupun psikologis, seperti
menyebabkan perempuan tidak stabil dan mengurangi gairah seksualnya.
Bahkan sebagian ahli medis menyatakan bahwa khitan model ini juga bisa
menyebabkan berbagai pernyakit kelamin pada perempuan.
Seandainya hadist tentang khitan perempuan di atas sahih, maka di
situ pun Rasulullah s.a.w. melarang berlebih-lebihan dalam mengkhitan anak
perempuan. Larangan dari Rasulullah s.a.w. secara hukum bisa
mengindikasikan keharaman tindakan tersebut. Apalagi bila terbukti bahwa
berlebihan atau kesalahan dalam melaksanakan khitan perempuan bisa
menimbulkan dampak negatif, maka bisa dipastikan keharaman tindakan
tersebut. Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas beberapa kalangan
ulama kontemporer menyatakan bahwa apabila tidak bisa terjamin
pelaksanaan khitan perempuan secara benar, terutama bila itu dilakukan
terhadap anak perempuan yang masih bayi, yang pada umumnya sulit untuk
bisa melaksanakan khitan perempuan dengan tidak berlebihan, maka
sebaiknya tidak melakukan khitan perempuan. Toh tidak ada hadist sahih
yang melandasinya.

2.4 Tata Cara Pelaksanaan Khitan Perempuan


1. Siapkan kejiwaan anak yang hendak dikhitan. Hilangkan rasa takut dari
dirinya. Bekali orang tuanya dengan menjelaskan hukumnya dengan
bahasa yang sederhana dan menyenangkan.
2. Sterilkan alat-alat dan sterilkan pula daerah yang hendak dikhitan.
3. Gerakkan atau tarik qulfah (prepuce) ke belakang hingga terpisah atau
tidak lekat lagi dengan ujung klitoris, hingga tampak pangkal
atas prepuce yang bersambung dengan klitoris. Hal ini akan
mempermudah pemotongan kulit bagian luar sekaligus bagian
dalam prepuce tersebut tanpa melukai sedikit pun klitorisnya
sehingga prepuce tidak tumbuh kembali. Apabila prepuce dan klitoris sulit
dipisahkan, hendaknya khitan ditunda sampai hal itu mudah dilakukan.
4. Lakukan bius lokal pada lokasi meski dalam hal ini ada perbedaan
pendapat ulamadan tunggu sampai bius itu benar-benar bekerja.
5. Qulfah ( prepuce) ditarik ke atas dari ujungnya menggunakan jepit bedah
untuk dijauhkan dari klitoris. Perlu diperhatikan, penarikan tersebut

7
diusahakan mencakup kulit luar dan kulit dalamprepuce, lalu dicapit
dengan jepit arterial. Perlu diperhatikan juga, jangan sampai klitoris ikut
tercapit. Setelah itu, potong kulit yang berada di atas pencapit dengan
gunting bengkok, lalu biarkan tetap dicapit sekitar 510 menit untuk
menghindari pendarahan, baru setelah itu dilepas. Jika terjadi pendarahan
setelah itu, bisa dicapit lagi, atau bisa dijahit dengan senar 0/2 dengan
syarat tidak bertemu dan menempel lagi antara dua sisi prepuce yang telah
terpotong. Tutuplah luka dengan kasa steril dan diperban. Perban bisa
dibuang setelah empat jam. Apabila terjadi pendarahan di rumah, tahan
lagi dengan kapas dan konsultasikan ke dokter. Hari hari berikutnya ,
jaga kebersihannya dengan air garam atau semacamnya. Sangat perlu
diperhatikan, jangan sampai dua sisi prepuce yang telah terpotong
bertemu lagi atau menyambung, atau bersambung dan menempel dengan
klitoris.

2.5 Waktu khitan


Waktu wajib khitan adalah pada saat balig, karena pada saat itulah
wajib melaksanakan sholat. Tanpa khitan, sholat tidak sempurna sebab suci
yang yang merupakan syarat sah sholat tidak bisa terpenuhi. Adapun waktu
sunnah adalah sebelum balig. Sedangkan waktu ikhtiar (pilihan yang baik
untuk dilaksanakan) adalah hari ketujuh setelah lahir, atau 40 hari setelah
kelahiran, atau juga dianjurkan pada umur 7 tahun. Qadli Husain mengatakan
sebaiknya melakuan khitan pada umur 10 tahun karena pada saat itu anak
mulai diperintahkan sholat. Ibnu Mundzir mengatakan bahwa khitan pada
umut 7 hari hukumnya makruh karena itu tradisi Yahudi, namun ada riwayat
bahwa Rasulullah s.a.w. menghitan Hasan dan Husain, cucu beliau pada umur
7 hari, begitu juga konon nabi Ibrahim mengkhitan putera beliau Ishaq pada
umur 7 hari.

2.6 Walimah Khitan


Walimah artinya perayaan. Ibnu Hajar menukil pendapat Imam
Nawawi dan Qadli Iyad bahwa walimah dalam tradisi Arab ada delapan jenis,
yaitu : 1) Walimatul Urush untuk pernikahan; 2) Walimatul I'dzar untuk

8
merayakan khitan; 3) Aqiqah untuk merayakan kelahiran anak; 4). Walimah
Khurs untuk merayakan keselamatan perempuan dari talak, konon juga
digunakan untuk sebutan makanan yang diberikan saat kelahiran bayi; 5)
Walimah Naqi'ah untuk merayakan kadatangan seseorang dari bepergian jauh,
tapi yang menyediakan orang yang bepergian. Kalau yang menyediakan
orang yang di rumah disebut walimah tuhfah; 6) Walimah Wakiirah untuk
merayakan rumah baru; 7) Walimah Wadlimah untuk merayakan keselamatan
dari bencana; dan 8) Walimah Ma'dabah yaitu perayaan yang dilakukan tanpa
sebab sekedar untuk menjamu sanak saudara dan handai taulan. Imam Ahmad
meriwayatkan hadist dari Utsman bin Abi Ash bahwa walimah khitan
termasuk yang tidak dianjurkan. Namun demikian secara eksplisit imam
Nawawi menegaskan bahwa walimah khitan boleh dilaksanakan dan
hukumnya sunnah memenuhi undangan seperti undangan lainnya.

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Memang ada yang mengatakan bahwa khitan tidaklah dianjurkan dari
aspek medis dikarenakan ia akan menyulitkan saat buang air kecil, tidak
memberikan kepuasan pada pasangannya saat berhubungan atau menyulitkan

9
saat melahirkan. Tetapi selaku seorang muslim, kita jelas harus meyakini atas
hadist yang telah disampaikan oleh rasulullah. Ringkas kata, orang-orang
kafir pun mengakui kebenarannya. Meskipun masih banyak perdebatan
tentang sunat bagi perempuan oleh beberapa kalangan, setidaknya kita sudah
mengetahui dan memahami bagaimana pandangan agama islam akan hal
tersebut. Ketidak pahaman kita tentang sunat perempuan itu dikarenakan
informasi yang sangat minim di masyarakat, bahkan bisa dikatakan hampir
tidak ada penjelasan yang mendetail. Yang ada hanya bersifatnya global,
padahal informasi ini sangat penting. Sebetulnya, rasanya tabu untuk
menjelaskan semacam ini. Namun, ini adalah syariat yang harus diketahui
dengan benar, dan Sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran. Saya
menyadari bahwa kekurangan informasi dalam hal ini bisa berefek negatif
yang luar biasa:
1. Anggapan yang negatif tehadap syariat Islam.
2. Bagi yang sudah menerima Islam dan ajarannya, lalu ingin
mempraktikkannya, bisa jadi salah praktik (malapraktik), akhirnya sunnah
ini tidak terlaksana dengan benar. Bahkan, bisa jadi terjerumus ke dalam
praktik khitan firauni yang kita sebut di atas sehingga terjadilah
kezaliman terhadap wanita yang bersangkutan, dan mungkin kepada
orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Subhan, Zaitunah.2008. Menggagas Fiqh Pemberdayaa Perempuan.Jakarta:eL-


Kahfi
Ibrahim, Majid Sayid. 2007. 50 Nasihat Rasul U/ Wanita. Jakarta : Mizan.
Muhammad Husain. 2007. Fiqh Perempuan Refleksi Kiai atas Wacana dan
Gender. Yogyakarta : LKiS Yogyakarta.

10
Anonim. 2014. Problema Anda Hukum Khitan Bagi
Wanita. http://asysyariah.com/. ______. 2014.
Ajaran Khitan dalam Islam. http://pesantrenvirtual.com/.
______.
. Wajibkah Wanita Dikhitan Sunat. http://eramuslim.com/.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................... 1

11
1.2 Tujuan......................................................................................... 2
1.3 Manfaat........................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Ajaran Khitan dalam Islam................................................................3
2.2 Hukum Khitan............................................................................... 3
2.3 Apa yang Dipotong dari Perempuan.....................................................6
2.4 Tata Cara Pelaksanaan Khitan Perempuan..............................................7
2.5 Waktu khitan................................................................................. 8
2.6 Walimah Khitan..............................................................................9
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan.................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR
ii

Dengan kebesaran ALLAH SWT. yang maha pengasih lagi maha


penyayang, penulis panjatkan rasa puji syukur atas hidayah-nya, yang telah

12
melimpahkan rahmat, nikmat, dan inayah-nya kepada penulis, sehingga penulis
dapat menyelesaikan Makalah Sunat Perempuan.
Adapun Makalah Sunat Perempuan ini telah penulis usahakan dapat
disusun dengan sebaik mungkin dengan mendapat bantuan dari berbagai pihak,
sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan secara tepat waktu. untuk itu
penulis tidak lupa untuk menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak
yang telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini.
Terlepas dari upaya penulis untuk menyusun makalah ini dengan sebaik-
baiknya, penulis tetap menyadari bahwa tentunya selalu ada kekurangan, baik dari
segi penggunaan kosa-kata, tata bahasa maupun kekurangan-kekurangan lainnya.
oleh karena itu, dengan lapang dada penulis membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang bermaksud untuk memberikan kritik dan saran kepada penulis agar
penulis dapat memperbaiki kualitas makalah ini.
Penulis berharap semoga Makalah Sunat Perempuan ini bermanfaat, dan
pelajaran-pelajaran yang tertuang dalam makalah ini dapat diambil hikmah dan
manfaatnya oleh para pembaca.

Pariaman, Januari 2017

Penulis

13