Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH AGAMA

TENTANG
Keluarga Berencana dalam Islam

Oleh Kelompok X :
Ridce Nursasmi
Shella Dayuni
Yulia

Dosen Pembimbing :
Virgo Vicnori, M.Ag

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES PIALA SAKTI
PARIAMAN
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keluarga Berencana (KB) dapat dipahami sebagai suatu program
nasional yang dijalankan pemerintah untuk mengurangi populasi penduduk,
karena diasumsikan pertumbuhan populasi penduduk tidak seimbang dengan
ketersediaan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi sacara
nasional. Dalam pengertian ini, KB didasarkan pada teori populasi menurut
Thomas Robert Malthus. KB dalam pengertian pertama ini diistilahkan
dengan pembatasan kelahiran (tahdid an-nasl).
Pertumbuhan dan perkembangan kehidupan ummat manusia di muka
bumi ini menunjukkan bahwa seiring berjalannya waktu, manusia akan
menghadapi keadaan yang terus berbeda. Dimulai dari segi sosiologi, norma
hidup manusia, keilmuan tekhnologi dan perubahan lainnya. Perubahan ini
menunjukkan bahwa semakin berkembangnya manusia maka diperlukannya
pula sikap dan usaha bagaimana cara menghadapinya dan mencari solusinya.
Melihat kejadian-kejadian yang terjadi terhadap perkembangan
sekarang ini terutama sektor pertumbuhan penduduk yang terjadi di Negara
kita Indonesia semakin lama semakin menunjukkan pertambahan dari jumlah
penduduk yang begitu cepat. Hal ini merupakan salah satu akibat semakin
berkembangnya manusia maka berkembangnya pula sektor-sektor yang
lainnya. Apalagi Negara kita adalah Negara yang berkembang yang masih
dalam proses menuju Negara yang mandiri. Dari hal pertumbuhan penduduk
yang begitu cepat mengakibatkan peningkatan perekonomian Negara,
sedangkan yang kita ketahui saat ini bahwa Negara kita sedang dalam
keadaan krisis ekonomi.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian KB (Keluarga Berencana) dan Kependudukan ?
2. Apa Tujuan program KB ?
3. Apa Segi-segi positif/negatif KB dan Macam-macam Alat KB ?
4. Apa Manfaat Utama Program Keluarga Berencana ?
5. Apa Dalil Hukum yang Meperbolehkan KB ?
6. Apa Pandangan Islam dan Para Ulama Tentang Keluarga Berencana ?

C. Tujuan
1. Mengetahui Pengertian KB (Keluarga Berencana) dan Kependudukan

1
2. Mengetahui Tujuan program KB
3. Mengetahui Segi-segi positif/negatif KB dan Macam-macam Alat KB
4. Mengetahui Manfaat Utama Program Keluarga Berencana
5. Mengetahui Dalil Hukum yang Meperbolehkan KB
6. Mengetahui Pandangan Islam dan Para Ulama Tentang Keluarga
Berencana

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian KB (Keluarga Berencana) dan Kependudukan


1. Pengertian KB (Keluarga Berencana)

2
Istilah Keluarga Berencana (KB), merupakan terjemahan dari
bahasa inggris Familiy Planning yang dalam pelaksanaannya di Negara-
negara barat mencakup dua macam metode atau cara yaitu:
1) Planning Parenthood
Pelaksanaan metode ini menitik beratkan tanggung jawab
kedua orang tua untuk membentuk kehidupan rumah tangga yang
aman, tentram, damai, sejahtera dan bahagia, walaupun bukan dengan
jalan membatasi jumlah anggota keluarga. Hal ini, lebih mendekati
istilah bahasa arab Tandzimul Nasli (mengatur keturunan)
2) Birth Control
Penerapan metode ini menekankan jumlah anak atau
menjarangkan kelahiran, sesuai dengan situasi dan kondisi suami-istri.
Hal ini, lebih mirip dengan bahasa arabTahdidun Nasli (membatasi
keturunan). Tetapi dalam perakteknya di Negara barat, cara ini juga
membolehkan pengguguran kandungan (abortus); pemandulan
(infertilitas) dan pembujangan (at-tabattulu)
Untuk menjelaskan pengertian Keluarga Berencana di
indonesia, maka penulis mengemukakannya dengan pengertian umum
dan khusus; yaitu:
1) Pengertian umum
Keluarga Berencana ialah suatu usaha yang mengatur
banyaknya jumlah kelahiran sedemikian rupa, sehingga, bagi ibu
maupun bayinya, dan bagi ayah serta keluarganya atau masyarakat
yang bersangkutan, tidak menimbulkan kerugian sebagai akibat
langsung dari kelahiran tersebut.

2) Pengertian khusus
Keluarga Berencana dalam kehidupan sehari-hari berkisar
pada pencegahan konsepsi atau pencegahan terjadinya pembuahan
atau pencegahan pertemuan antara sel mani dari laki-laki dan sel
telur dari perempuan sekitar persetubuhan.

3
Dari pengertian diatas, dapat dikatakan bahwa keluarga berencana
adalah istilah yang resmi digunakan di Indonesia terhadap usaha-usaha
untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga, dengan
menerima dan memperaktekkan gagasan keluarga kecil yang potensial
dan bahagia (Akseptor). dimana pasangan suami istri yang mempunyai
perencanaan yang kongkrit mengenai kapan anaknya diharapkan lahir
agar setiap anaknya lahir disambut dengan rasa gembira dan syukur dan
merencanakan berapa anak yang dicita-citakan, yang disesuaikan dengan
kemampuannya dan situasi kondisi masyarakat dan negaranya.

2. Kependudukan
Pertumbuhan dan perkembangan kehidupan umat manusia di
muka bumi ini menunjukkan bahwa seiring berjalannya waktu, manusia
akan menghadapi keadaan yang terus berbeda. Dimulai dari segi
sosiologi, norma hidup manusia, keilmuan tekhnologi dan perubahan
lainnya. Perubahan ini menunjukkan bahwa semakin berkembangnya
manusia maka diperlukannya pula sikap dan usaha bagaimana cara
menghadapinya dan mencari solusinya.
Melihat kejadian-kejadian yang terjadi terhadap perkembangan
sekarang ini terutama sektor pertumbuhan penduduk yang terjadi di
Negara kita Indonesia semakin lama semakin menunjukkan pertambahan
dari jumlah penduduk yang begitu cepat. Hal ini merupakan salah satu
akibat semakin berkembangnya manusia maka berkembangnya pula
sektor-sektor yang lainnya. Apalagi Negara kita adalah Negara yang
berkembang yang masih dalam proses menuju Negara yang mandiri. Dari
hal pertumbuhan penduduk yang begitu cepat mengakibatkan peningkatan
perekonomian Negara, sedangkan yang kita ketahui saat ini bahwa
Negara kita sedang dalam keadaan krisis ekonomi. Lapangan pekerjaan
sangat dibutuhkan sedang masyarakat terus berkembang jumlahnya,
sandang, pangan dan papan pun menjadi kebutuhan mendesak sedang kita
pun masih mengimport kebutuhan tersebut dari Negara lain, kesehatan
pun ikut menjadi bagian yang diperlukan sedang masyarakat miskin tak
mampu menjalankan. Kesemua itu adalah fenomena kehidupan yang

4
dialami Negara kita bahwa kebutuhan, kesejahteraan dan peningkatan
kualitas bangsa ini disesuaikan oleh laju pertumbahan penduduk.
Oleh karenanya, jikalau hal tersebut di atas tidak segera
ditanggulangi dan dicarikan solusi maka akan berpengaruh negatif
terhadap pembangunan nasional, karena pemerintah bisa kewalahan
menyediakan sarana perekonomian, fasilitas kesehatan, sarana
pendidikan, tempat wisata dan sebagainya. Menjadi tanggung jawab
kementrian kesejahteraan rakyat sebagai pemerintah yang mengola laju
pertumbahan rakyat dan kita bersama sebagai masyarakat wajib dan sadar
akan apa yang telah kita alami agar ikut berpartisipasi menjalankan
aturannya. Sebagaimana kaidah Ushul Fiqh menyatakan:



Kemaslahatan mayoritas harus didahulukan dari pada
kemaslahatan minoritas.
Berdasarkan sebuah data:
1. Bahwa penyebaran dan kepadatan penduduk Indonesia tidak merata,
sebab lebih dari 60% penduduk Indonesia tinggal di pulau Jawa yang
luasnya hanya 7% dari tanah air.
2. Bahwa dalam masa 50 tahun terakhir ini (tahun 1930-1980) pertumbuhan
penduduk Indonesia mengalami kenaikan yang cukup tinggi, 1,5% untuk
tahun 1930-1961, 2,1% untuk tahun 1961-1971 dan 2,3% untuk tahun
1971-1980.

Melihat data tersebut di atas, jika tidak segera ditanggulangi maka


akan berpengaruh negatif terhadap pembangunan Nasional. Dengan
menyadari ancaman yang bakal terjadi, maka pemerintah menjadikan
keluarga berencana sebagai bagian dari pembangunan nasional. Maka
pada tahun 1968, Presiden menginstruksikan kepada menteri negara
kesejahteraan rakyat, melalui SK. Presiden nomor 26 tahun 1968, yang
bertujuan untuk membentuk suatu lembaga resmi pemerintah, yang
bernama Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) yang
bertugas untuk megkoordinir kegiatan keluarga berencana. Kemudian
pada tahun 1969, program tersebut mulai dimasukkan kedalam program

5
pembangunan nasional pada pelita I. Dan kira-kira satu tahun sesudahnya
maka pemerintah menganggap perlu membentuk suatu lembaga
pemerintah yang diberi nama Badan Koordinasi Keluiarga Berencana
Nasional (BKKBN) yang bertugas untuk mengkoordinir semua kegiatan
KB di Indonesia. Maka sejak itu pula, masalah kependudukan di
Indonesia sudah bisa terkendalikan dengan baik serta seluruh lembaga
pemerintah dan swasta, mengambil bagian untuk menyukseskan
pembangunan nasional dibidang kependudukan.
Dari semua hal di atas, menunjukkan perkembangan permasalahan
khususnya di Indonesia semakin bertambah luas, dimana keluarga
berencana dianggap sebagai salah satu cara untuk menurunkan angka
kelahiran dan sebagai satu sarana untuk mengendalikan pertambahan
penduduk yang semakin pesat. Maka menjadi suatu keinginan pemerintah
kita dalam mencari solusi yang tepat agar kesejahteraan masyarakat dapat
merata. Apabila laju pertumbuhan penduduk sudah dapat dikendalikan
dengan program KB, maka pemerintah sudah bisa mengupayakan
peningkatan kualitas penduduk, dengan cara menyediakan fasilitas
perekonomian, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Sehingga pada
masa yang akan datang, penduduk Indonesia semakin tinggi kualitas
hidupnya dan semakin maju tingkat kecerdasannya.

B. Tujuan program KB
Program KB memiliki banyak tujuan khususnya program KB yang
ada di indonesia:
1. Tujuan Demografis : yaitu upaya penurunan tingkat pertumbuhan
penduduk sebanyak 50% pada tahun 1990 dari keadaan tahun 1971, kalau
ini berhasil maka laju pada pertumbuhan penduduk indonesia dapat
ditekan 1% pertahun, mulai tahun 1990.
2. Tujuan Normatif : yaitu menciptakan norma ketengah-tengah masyarakat
agar timbul kecenderungan untuk menyukai keluarga kecil, karena dengan
keluarga yang kecil akan lebih mudah untuk mencapai kesejahteraan dan
kebahagiaan keluarga, terutama kesejahteraan ibu dan anak.

6
Tujuan lain program KB adalah untuk memperoleh kesempatan yang
luas bagi seorang ibu demi melaksanakan berbagai kegiatan yang lebih
bermanfaat, yaitu menata kehidupan berumah tangga, dan bisa berpartisipasi
dalamkegiatan kemasyarakatan, seperti kegiatan sosial,pendidikan dan
ibadah-ibadah lain.
Lebih lanjut lagi tujuan KB adalah untuk mempersiapkan secara dini
sejumlah anak yang memungkinkan bagi orang tua untuk membekali anak-
anaknya baik fisik atau mentalnya, agar dapat mandiri dihari depannya.
Tujuan-tujuan ini akan lebih mudah dicapai apabila suatu keluarga relatif
kecil, yang secara ekonomis lebih mudah dijangkau, dan secara psikologis
akan ada ketenanga dalam keluarga.
Pelaksanaan KB dibolehkan dalam Islam karena pertimbangan
ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Artinya, dibolehkan bagi orang-orang
yang tidak sanggup membiayai kehidupan anak, kesehatan dan pendidikannya
agar menjadi akseptor KB. Bahkan menjadi dosa baginya, jikalau ia
melahirkan anak yang tidak terurusi masa depannya, yang akhirnya menjadi
beban yang berat bagi masyarakat, karena orang tuanya tidak menyanggupi
biaya hidupnya, kesehatan dan pendidikannya. Hal ini berdasarkan pada
sebuah ayat Al-Quran yang berbunyi:

Dan hendaklah orang-orang takut kepada Alloh bila seandainya
mereka meninggalkan anaka-anaknya yang dalam keadaan lemah; yang
mereka hawatirkan terhadap (kesejahteraan mereka)oleh sebab itu, hendaklah
mereka bertaqwa kepada Alloh dan mengucapkan perkataan yang benar.(An-
Nisa: 9). Ayat ini menerangkan bahwa kelamahan ekonomi, kurang stabilnya
kondisi kesehatan fisik dan kelemahan integensi anak akibat kekurangan
makanan yang bergizi, menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya. Maka
disinilah peranan KB untuk membantu orang-orang yang tidak dapat
menyanggupi hal tersebut, agar tidak berdosa di kemudian hari bila
meninggalkan keturunannya.

C. Segi-segi positif/negatif KB dan Macam-macam Alat KB


1. Segi positif

7
Dengan pelaksanaan program Keluarga Berencana diharapkan
jumlahpendudukan dapat diatur untuk meningkatkan kesejahteraan
bangsa dan untuk mencegah terjadinya bencana sosial, pengangguran,
kriminalitas dan kecelakaan lalulintas semakin meningkat. Selain itu
sebuah keluarga juga bisa memberi jarak atau masa senggang terhadap
kehamilannya, sehingga tidak terjadi kelahiran anak yang tidak diinginkan
oleh orang tuanya. Dan orang tuapun bisa lebih tekun dan banyak waktu
untuk mengurus anaknya, dan juga lebih bisa memantau dengan baik pada
pendidikan anak.
2. Segi Negatif KB
KB (keluarga berencana) juga memiliki segi negatifnya,karena
terkadang orang yang melakukan tindakan KB yang cukup lama sehingga
dapat membuat kandungan kering dan panas akibat obat-obat KB yang
telah di konsumsi, sehingga terjadi kemandulan terhadap seorang wanita,
selain itu juga sejak ada program KB melalui berbagai alat
kontrasepsi yang sudah beredar diseluruh penjuru pada saat ini tidak
hanya orang yang sudah berumah tangga saja yang menggunakan alat
tersebut, tetapi banyak terjadi pada kalangan remaja yang menyalah
gunakan alat/program tersebut, sehingga terjadi kemaksiatan dimana-
mana.
Terhadap orang-orang yang ahli maksiat pada khususnya
ahli zina mereka memiliki banyak peluang untuk melakukan perzinaan
dimanapun saja, karena begitu mudah saat ini bagi mereka untuk
mendapatkan barang tersebut. mereka berfikir setelah mereka
menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan, maka tidak
akan terjadi kehamilan pada dirinya, sehingga mereka leluasa dalam
melakukan kemaksiatan dilain waktu dengan menggunakan alat tersebut.

3. Macam-macam Alat Kontrasepsi


Mengenai alat kontrasepsi yang sering digunakan
ber KB, ada yang dibolehkan dan ada pula yang diharamkan dalam
Islam. Selanjutnya, alat kontrasepsi yang dibolehkannya adalah:

8
1. Pil berupa tablet yang berisi bahan progestin dan progesteren yang
bekerja dalam tubuh wanita untuk mencegah terjadinya ovulasi dan
melakukan perubahan pada endometrium.
2. Suntikan, yaitu menginjeksikan cairan kedalam tubuh wanita yang
dikenal dengan cairan Devo Provera,Net Den dan Noristerat. Cara
kerjanya yaitu menghalangi cara terjadinya ovulasi,menipiskan
endometrin sehinga nidasi tidak mungkin terjadi.
3. Susuk KB yaitu yaitu berupa levemorgestrel,terdiridari enam kapsul
yang diinsersikan dibawah kulit lengan bagian dalam kira-kira 6
sampai 10 cm dari lipatan siku,cara kerjanya,kontra indikasi dan efek
sampingnya sama dengan suntikan .

Dan alat-alat kontrasepsi yang lainnya seperti kondom, diafragma,


tablet vagina,Coituis Interruktus (azal menurut Islam). Dan akhir-akhir
ini ada semacam jenis tisue yang dimasukkan kedalam vagina dan ada
pula beberapa kontrasepsi yang bersifat tradisional seperti jamu-jamuan,
urut dan sebagainya. Cara ini desepakati oleh ulama islam bahwa boleh
digunakan, berdasarkan dengan cara yang telah diperaktekkan oleh para
sahabat nabi semenjak beliau masih hidup.
Sedangkan alat kontrasepsi yang dilarang dalam Islam,
adalah program alat kontrasepsi mantap (KONTAP). Yang dimaksud
dengan kontrasepsi mantap (kontap) pria/wanita, ialah sterilisasi, baik
bagi pria dengan cara memotong saluran sperma kurang lebih 2 cm dan
kedua ujungnya diikat dengan benang sutera, dan operasi kecil ini disebut
vasektomi maupun sterilisasi, bagi wanita dengan cara memotong saluran
telur(tuba falopi) dan kedua ujungnya diikat dengan pemasangan cicin,
dan operasi ini disebut dengan tubektomi.
Mengeanai sterilisasi pria dan wanita, umat islam telah
mendapatkan fatwa hukumnya berdasarkan musyawarah ulama terbatas
pada tahun 1972 dan munas MUI tahun 1983, yang mengharamkan
sterilisasi, kecuali dalam keadaan sangat terpaksa, misalnya untuk
menghindarkan penurunan penyakit dari bapak/ibu terhadap anak
keturunannya yang akan lahir, atau terancamnya jiwa ibu bila

9
mengandung atau melahirkan lagi, dengan alasan antara lain karena
sterilisasi bisa mengakibatkan kemandulan permanen.
Namun pemerintah kita cukup bijaksana sampai kini operasi
vesektomi/tubektomi tidak/belum dijadikan program resmi KB, karena
mengingat adanya fatwa hukum islam tersebut di atas demi menghindari
terjadinya keresahan dimasyarakat.
Tetapi sebuah lembaga non pemerintah bernama Perkumpulan
Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI) telah sanggup memberi pelayanan
kepada masyarakat untuk vasektomi dan tubektomi dengan peralatan
teknologi canggih dan dengan tim dokter ahli yang telah mendapat
tambahan pendidikan dan ketrampilan /latihan kusus untuk pelayanan
kontap ini.Dalam hal ini pemerintah cq.Menteri kesehatan RI tidak
melarang pelayanan vasektomi/tubektomi asal dipenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:
a) Asas sukarela,artinya tidak bersangkutan telah diberitahu berbagai
alat/cara kontrasepsi dan yang bersangkutan secara sukarela memilih
vasektomi/tubektomi.
b) Asas bahagia,artinya yang bersangkutan terikat dalam pekawinan
yang sah dan harmonis,telah punya anak sekurang-kurangnya dua
anak dan kedua anak itu berada dalam keadaan sehat,fisik,mental,dan
sosialnya,dan apabila anak hidup tang dimiliki hanya dua orang,maka
umur anak yang terkecil sekurang-kurangnya 2 tahun.
c) Syarat pemeriksaan medis untuk mengetahui ada/tidaknya hambatan
medis untuk pelayanan vasektomi/tubektomi.
Sebagaimana diketahui,bahwa tujuan utama KB adalah untuk
mewujudkan kesejahteraan kelurga material dan spiritual dan bahwa
KB itu hanya berhasil dengan baik apabila didukung dengan sadar dan
ikhlas oleh kedua belah pihak suami istri dan lagi tidak ada satu pun
alat/cara KB yang bisa menjamin 100% efektif (kecuali kebiri atau
kastarasi dengan jalan mengambil dua testisnya yang sudah tentu tidak
manisiawi dan dilarang mutlak oleh islam).Disamping itu,terkadang
mendapat side effect berupa pendarahan,rasa mual-mual,kegemukan,dan
sebagainya yang sudah tentu menimpa sang istri yang sebagian kurang

10
cocok dengan alat/cara kontrasepsi tertentu,maka wajarlah apabila suami
juga dituntut untuk berpartisipasi penuh memakai alat/cara kontrasepsi
tertentu dengan persetujuan si istri guna mensukseskan KB
keluarganya,mulai dari kondom,coitus interuptus sampai vasektomi dan
sebagainya apalagi tidak ada akibat sampingan bagi suami,termasuk
vasektomi.
Sekedar untuk memberikan ilustrasi tentang keberhasilan
vasovasostomis (penyambungan kembali saluran sperma setelah
vasektomi) dan reanastomosis(penyambungan kembali saluran telue
setelah tubektomi), di bawah ini penulis sampaikan data data yang
dikutip dari keterangan :
1. Dokter doddy M. Soebadi, anggota tim RSUD dr.soetomo surabaya
yang menangani vasovasostomi, bahwa di RSUD dr. Soetomo sejak
tahun 1984 telah melakukan 12 vasovasostomi, semua menunjukkan
adanya sperma dalam jumlah ejakulasi yang cukup.
2. Dokter samsul hadi ahli kebidanan dan penyakit kandungan RSUD dr.
Soetomo telah melakukan 20 reanastomosis di RSUD dr. Soetomo
dengan angka keberhasilan lebih dari 98%, sedangkan yang bisa hamil
lagi mencapai 60-70%.

Oleh karena itu, pemerintahan menempuh suatu cara untuk


mengatasi ledakan penduduk yang tidak seimbang dengan pertumbuhan
perekonomian nasional dengan mengadakan program KB, untuk
mencapai kemaslahatan seluruh rakyat. Upaya pemerintah tersebut, sesuai
dengan kaidah fiqhiyah yang berbunyi:

Kebijaksanaan imam (pemerintahan) terhadap rakyatnya bisa


dihubungkan dengan (tindakan) kemaslahatan.
Pertimbangan kemaslahatan umat (rakyat) dapat dijadikan dasar
pertimbangan untuk menetapkan hukum Islam menurut mazdhab Maliki.
Di Negara Indonesia yang tercinta ini, pemerintahan sebagai pelaksana
amanat rakyat, berkewajiban untuk melaksanakan program KB. Maka

11
program tersebut hukumnya boleh dalam Islam, karena pertimbangan
kemaslahatan umat (rakyat).
Sehubungan dengan macam-macam alat kontrasepsi ada sebuah
rekayasa laboratoris telah mampu menghasilakan vaksin yang bahan
mentahnya adalah spermalaki-laki.vaksin tersebut dimanfaatkan untuk
proses pengabalan (imunisasi), agar wanita yang memperoleh injeksi
vaksin tersebut diharapkan tidak hamil. Dalam rangka menyukseskan
program KB. Dalam hal ini sebagian ulam menyatakan bahwa melakukan
kontrasepsi (menghambat kehamilan) dengan cara imunisasi
menggunakan injeksi vaksin yang bahan mentahnya sperma laki-laki
adalah boleh, karena sifat istiqdzar (menjijikkan) sudah luntur dan sudah
hilang.
Keterangan dalam kitab Al Bajuri l/99 :
( )

( : ).

Yakni keharaman menelan (sperma atau memasukkannya melalui


injeksi misalnya) bukan karena menjijikkan, berbeda dengan sperma yang
dikeluarkan dari kotoran dan ludah sebagaimana yang akan dijelaskan
pada babnya, maka walupun diharamkan menelannya namun bukan
karena menjijikkan, mengingat sperma itu bukan sesuatu yang najis.
Dengan demikian,maka keharaman menelan sperma itu adalah sesudah
keluar dari lambung. (al-Ahkamul Fuqohak 1926-1999).

D. Manfaat Utama Program Keluarga Berencana


Program Keluarga Berencana (KB) dirumuskan sebagai upaya
peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakaat melalui batas usia
perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga,
peningkatan kesejahteraan keluarga, untuk mewujudkan Norma Keluarga
Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKBBS). Dalam ajaran Islam dikenal dengan
keluarga Sakinah Mawaddah wa rahmat. Dengan mengikuti program KB

12
sesuai anjuran pemerintah, para akseptor akan mendapatkan tiga manfaat
utama optimal, baik untuk ibu, anak dan keluarga, antara lain :
1. Manfaat Untuk Ibu:
Mencegah kehamilan yang tidak diinginkan
Mencegah setidaknya 1 dari 4 kematian ibu
Menjaga kesehatan ibu
Merencanakan kehamilan lebih terprogram
2. Manfaat Untuk Anak:
Mengurangi risiko kematian bayi
Meningkatkan kesehatan bayi
Mencegah bayi kekurangan gizi
Tumbuh kembang bayi lebih terjamin
Kebutuhan ASI eksklusif selama 6 bulan relatif dapat terpenuhi
Mendapatkan kualitas kasih sayang yang lebih maksimal
3. Manfaat Untuk Keluarga:
Meningkatkan kesejahteraan keluarga
Harmonisasi keluarga lebih terjaga
Meningkatkan kebahagiaan keluarga

E. Dasar Hukum yang Meperbolehkan dan Melarang KB


Hukum islam ada dua macam yaitu hukum qothi dan ijtihadi. Hukum
qothi ialah hukum islam yang ditetapkan nash dalam Al-quran dan hadits
nabi yang qothi dilalahnya (sudah pasti dan jelas petunjuknya) pada hukum
suatu masalah. Misalnya hukum zina
Hukum ijtihadi ialah hukum islam yang sudah ditetapkan berdasarkan
ijtihad, karena tiadanya nash al quran dan sunnah ,atau ada nashnya tapi
tidak qothi dilalahnya. Misalnya hukum mubah (boleh) ber-KB.
Hukum ijtihad bisa berubah itu berdasarkan kaidah-kaidahhukum
islam yang telah disepakati oleh semua fuqoha (ahli fiqih) dan Ushuliyun
(ahli ushul fiqih), yang diantaranya adalah :
.
Hukum itu berputar bersama illat nya (alasan yang menyebab adanya
hukum), ada/tidak adanya. Adapun dasar dibolehkannya KB dalam Islam
menurut dalil aqli, adalah karena pertimbangan kesejahteraan penduduk yang
didiam-diamkan oleh bangsa dan negara. Sebab kalau pemerintahan tidak
melaksanakannya maka keadaan rakyat di masa datang, dapat menderita.

13
Ber-KB dalam pengertian untuk memberi batas/jarak kesenjangan
pada kehamilan atau mencegah terjadinya kehamilan sementara akibat
hubungan suami istri telah dikenal sejak masa Nabi, dengan
perbuatan azal yang sekarang dikenal dengan coitus-interuptus, yakni jima
terputus, yaitu melakukan ejakulasi diluar vagina sehingga sperma tidak
bertemu dengan induk telur.
Azal pernah dilakukan oleh sebagian sahabat Nabi yang men-jima
budak-budaknya tetapi tidak menginginkan dia hamil. Demikian pula dengan
istri-istri mereka yang sudah mendapat persetujuan sebelumnya.
Perbuatan azal mereka ini mereka ciptakan pada Nabi seraya meminta petunjuk
Nabi tentang hukumnya. Ternyata Nabi tidak menentukan hukumnya.
Mengenai azaldiungkapkan dalam hadits riwayat Bukhori-Muslim :
( )
( )
Kami(Para Shahabat) pernah melakukan azal dimasa Rasululloh
SAW, sedangkan Alquran (ketika itu) masih selalu turun, (Muttafaq Alaih).
Dan pada hadist lain mengatakan: Kami pernah melakukan azal (yang ketika
itu) Nabi mengetahuinya, tetapi ia tidak pernah melarang kami. (H.R
Muslim, yang bersumber dari Jabir juga).
Sebenarnya dalam al-Quran dan Hadits tidak ada nash yang khusus
yang melarang atau memerintahkan KB secara eksplisit, karena hukum ber-
KB harus dikembalikan kepada kaidah hukum Islam dengan metode ijtihad,
yaitu:

Segala sesuatu pada asalnya adalah diperbolehkan sehingga ada dalil
yang menunjukkan atas dilarangnya sesuatu tersebut
Dalam al-Quran ada ayat-ayat yang berindikasi tentang
diperbolehkannya mengikuti program KB, sebagai berikut:
a. Menghawatirkan keselamatan jiwa atau kesehatan ibu. Hal ini sesuai
dengan firman Allahdalam surat al-Baqarah :195:
Janganlah kalian menjerumuskan dirimu dalam kerusakan.

14
b. Menghawatirkan keselamatan agama, akibat kesempitan penghidupan hal
ini sesuai dengan hadits Nabi: Kefakiran atau
kemiskinan itu mendekati kekufuran.
c. Menghawatirkan kesehatan atau pendidikan anak-anak bila jarak
kelahiran anak terlalu dekat sebagai mana hadits Nabi: Jangan
bahayakan dan jangan lupa membahayakan orang lain.????? Sehubungan
dengan diperbolehkannya menggunakan alat kontrasepsi pencegah
kehamilan (KB), ada juga sebagian ulama mengharamkan hal tersebut,
berdasarkan Keterangan dalam kitab Talkhisul Murad Hamisy
Baghyah dan ianatuth tholibin :
).
: (
Abdu Al-salam dan ibnu yunus berkata, tidak halal bagi wanita
mempergunakan obat pencegah kehamilan walaupun dengan ridho suami.
Dalam Ianatuth tholibin disebutkan, haram penggunaan apapun untuk
mencegah kehamilan.
Dari keterangan tersebut muncul sebuah pertanyaan yaitu : Bagaiman
hukum berobat untuk mencegah hamil karena takut menularnya penyakit ?.
jawabannya adalah tidak boleh dan haram, walaupun takut menularnya
penyakit karena ketakutan hanyalah sangkaan yang belum tentu akan
terjadi. (al-Ahkamul Fuqohak 1926-1999).

F. Pandangan Islam Tentang Keluarga Berencana


Hukum islam ada dua macam yaitu hukum qothi dan ijtihadi. Hukum
qothi ialah hukum islam yang ditetapkan nash dalam Al-quran dan hadits
nabi yang qothi dilalahnya (sudah pasti dan jelas petunjuknya) pada hukum
suatu masalah. Misalnya hukum zina. Hukum ijtihadi ialah hukum islam yang
sudah ditetapkan berdasarkan ijtihad, karena tiadanya nash al quran dan
sunnah ,atau ada nashnya tapi tidak qothi dilalahnya. Misalnya hukum
mubah (boleh) ber-KB. Hukum ijtihad bisa berubah itu berdasarkan kaidah-
kaidahhukum islam yang telah disepakati oleh semua fuqoha (ahli fiqih) dan
Ushuliyun (ahli ushul fiqih), yang diantaranya adalah :

15
Hukum itu berputar bersama illat nya (alasan yang menyebab adanya
hukum), ada/tidak adanya.
1. Pandangan Al-Quran Tentang Keluarga Berencana
Pandangan Hukum Islam tentang Keluarga Berencana, secara
prinsipil dapat diterima oleh Islam, bahkan KB dengan maksud
menciptakan keluarga sejahtera yang berkualitas dan melahirkan
keturunan yang tangguh sangat sejalan dengan tujuan syari`at Islam yaitu
mewujudkan kemaslahatan bagi umatnya. Selain itu, KB juga memiliki
sejumlah manfaat yang dapat mencegah timbulnya kemudlaratan. Bila
dilihat dari fungsi dan manfaat KB yang dapat melahirkan kemaslahatan
dan mencegah kemudlaratan maka tidak diragukan lagi kebolehan KB
dalam Islam.
Dalam al-Quran banyak sekali ayat yang memberikan petunjuk
yang perlu kita laksanakan dalam kaitannya dengan KB diantaranya ialah :
a) Surat An-Nisa: 9

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang
seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah,
yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu
hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar(S. An-Nisa: 9)
b) Surat Lukman: 14
Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada
dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan
lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.
bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya
kepada-Kulah kembalimu. (S.Lukman: 14)
c) Surat al-Qashas: 77
Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu
melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik,

16
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan.( S. al-Qashas: 77)
2. Pandangan al-Hadis tentang Keluarga Berencana
Dalam Hadits Nabi diriwayatkan:
( )
sesungguhnya lebih baik bagimu meninggalkan ahli warismu
dalam keadaan berkecukupan dari pada meninggalkan mereka menjadi
beban atau tanggungan orang banyak.
Dari hadits ini menjelaskan bahwa suami istri mempertimbangkan
tentang biaya rumah tangga selagi keduanya masih hidup, jangan sampai anak-
anak mereka menjadi beban bagi orang lain (masyarakat). Dengan demikian
pengaturan kelahiran anak hendaknya direncanakan dan amalkan sampai
berhasil.
Dalam hadist Nabi yang di Riwayatkan dalam kitab Bukhari :
Telah menceritakan pada kami abu al yaman telah mengabarkan pada
kami dari syuaib azuhry berkata telah menabarkan pada saya ibnu
muhairiz bahwa abu said al khudriy mengabarkan bahwa ketia beliau
bermajlis bersama Nabi Muhammad Saw. Berkata wahai Rasulullah,
kami mendapat tawanan, hanya kami juga masih menyukai harganya.
Bagaimana pendapat anda jika kami melakukan azal ?. maka beliau
besabda:apakah kalian melakukannya ?, tidak dosa bagi kalian
melakukannya, namun tidak satu nyawapun yang telah Allah tetapkan
akan keluar (jadi) kecuali dia pasti aka muncul juga.
Dan dalam haditsNabi yang di Riwayatkan dalam musnad imam
Ahmad : Telah bercerita kepada kami hasan, telah bercerita kepada kami
zuhair dari abu az zubair dari jabir ada seorang yang mendatangi nabi
Muhammad Saw. Dan berkat saya memiliki seorang anak perempuan dia
adalah seorang pelayan kami dan yang memberi minuman kendaraan
kami. Saya menyetubuhinya namun saya tidak suka dia hamil. Kemudian
Rasulullah Saw bersabda lakukan azal (mengeluarkan air sperma di luar

17
kemaluan wanita) jika kamu mau, namun bagaimanapun tetap akan terjadi
apa yang telah ditakdirkan.
3. Menurut Pandangan Ulama
Para ulama yang membolehkan KB sepakat bahwa Keluarga
Berencan (KB) yang dibolehkan syari`at adalah suatu usaha
pengaturan/penjarangan kelahiran atau usaha pencegahan kehamilan sementara
atas kesepakatan suami-istri karena situasi dan kondisi tertentu untuk
kepentingan (maslahat) keluarga. Dengan demikian KB disini mempunyai arti
sama dengan tanzim al nasl (pengaturan keturunan). Sejauh pengertiannya
adalah tanzim al nasl (pengaturan keturunan), bukan tahdid al nasl (pembatasan
keturunan) dalam arti pemandulan (taqim) dan aborsi (isqot al-haml), maka KB
tidak dilarang. Pemandulan dan aborsi yang dilarang oleh Islam disini adalah
tindakan pemandulan atau aborsi yang tidak didasari medis yang syari`i.
Diantara ulama yang membolehkan adalah Imam al-Ghazali, Syaikh
al-Hariri, Syaikh Syalthut, Ulama yang membolehkan ini berpendapat bahwa
diperbolehkan mengikuti progaram KB dengan ketentuan antara lain, untuk
menjaga kesehatan si ibu, menghindari kesulitan ibu, untuk menjarangkan
anak. Mereka juga berpendapat bahwa perencanaan keluarga itu tidak sama
dengan pembunuhan karena pembunuhan itu berlaku ketika janin mencapai
tahap ketujuh dari penciptaan.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian yang telah dikemukakan dimuka dapat diambil
kesimpulan, bahwa kontrasepsi mantap pria/wanita dengan jalan
vasektomi/tubektomi dapat dibenarkan oleh islam. Sebab
vasektomi/tubektomi pada saat ini tidak membawa akibat kemandulan
permanen, karena dengan kemajuan tegnologi kedokteran yang canggih
dewasa ini dengan cara mikroskopik dapat dilakukan vasosasostomi dan
reanastomisisdengan hasil yang cukup memuaskan. Namun pelaksanaannya
harus selektif (tidak masal) persuasif , dan benar-benar memenuhi ketentuan
yang telah digariskan oleh pemerintah. Menkes dengan intruksi Menkes RI

18
No.316/Menkes/Inst/VIII/1980 tanggal 1 agustus, 1980 dan instruksi Menkes
RI No. 128/Yan/Med/RSKS/1986 tanggal 26 juli 1986.
dengan pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB) diharapkan
jumlah pendudukan dapat diatur untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa
dan untuk mencegah terjadinya bencana sosial, pengangguran, kriminalitas
dan kecelakaan lalulintas semakin meningkat. Namun dengan melaksanakan
program KB tersebut tentunya ada aturan-aturan yang harus dilaksanakan,
yaitu menggunakan alat/cara yang tidak berbahaya yang sudah disetujui oleh
ahli medis dan sudah disepakati para ulama dalam syariat islam.

DAFTAR PUSTAKA

Zuhdi Masjfuk, Masail Fiqhiyah. Jakarta : PT Toko Gunung Agung 1982


Muhammad bin Ahmad bin Umar as Syathori
http://saef-swordofgod.blogspot.com/2013/05/keluarga-berencana-dan-
kependudukan.html

19
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah.............................................................................. 1
C. Tujuan............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian KB (Keluarga Berencana) dan Kependudukan.............................3
B. Tujuan program KB............................................................................6

20
C. Segi-segi positif/negatif KB dan Macam-macam Alat KB.............................8
D. Manfaat Utama Program Keluarga Berencana..........................................13
E. Dasar Hukum yang Meperbolehkan dan Melarang KB...............................13
F. Pandangan Islam Tentang Keluarga Berencana.........................................16
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

ii

Dengan kebesaran allah swt. yang maha pengasih lagi maha penyayang,
penulis panjatkan rasa puji syukur atas hidayah-nya, yang telah melimpahkan
rahmat, nikmat, dan inayah-nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Makalah Keluarga Berencana dalam Islam.
Adapun Makalah Keluarga Berencana dalam Islam ini telah penulis
usahakan dapat disusun dengan sebaik mungkin dengan mendapat bantuan dari
berbagai pihak, sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan secara tepat

21
waktu. untuk itu penulis tidak lupa untuk menyampaikan banyak terimakasih
kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini.
Terlepas dari upaya penulis untuk menyusun makalah ini dengan sebaik-
baiknya, penulis tetap menyadari bahwa tentunya selalu ada kekurangan, baik dari
segi penggunaan kosa-kata, tata bahasa maupun kekurangan-kekurangan lainnya.
oleh karena itu, dengan lapang dada penulis membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang bermaksud untuk memberikan kritik dan saran kepada penulis agar
penulis dapat memperbaiki kualitas makalah ini.
Penulis berharap semoga Makalah Keluarga Berencana dalam Islam ini
bermanfaat, dan pelajaran-pelajaran yang tertuang dalam makalah ini dapat
diambil hikmah dan manfaatnya oleh para pembaca.

Pariaman, November 2016

Penulis

22