Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Agama memberikan penjelasan bahwa manusia adalah mahluk yang
memilki potensi untuk berahlak baik (takwa) atau buruk (fujur) potensi fujur
akan senantiasa eksis dalam diri manusia karena terkait dengan aspek instink,
naluriah, atau hawa nafsu, seperti naluri makan/minum, seks, berkuasa dan
rasa aman. Apabila potentsi takwa seseorang lemah, karena tidak
terkembangkan (melalui pendidikan), maka prilaku manusia dalam hidupnya
tidak akan berbeda dengan hewan karena didominasi oleh potensi fujurnya
yang bersifat instinktif atau implusif (seperti berzina, membunuh, mencuri,
minum-minuman keras, atau menggunakan narkoba dan main judi). Agar
hawa nafsu itu terkendalikan (dalam arti pemenuhannya sesuai dengan ajaran
agama), maka potensi takwa itu harus dikembangkan, yaitu melalui
pendidikan agama dari sejak usia dini. Apabila nilai-nilai agama telah
terinternalisasi dalam diri seseorang maka dia akan mampu mengembangkan
dirinya sebagai manusia yang bertakwa, yang salah satu karakteristiknya
adalah mampu mengendalikan diri (self control) dari pemuasan hawa nafsu
yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

B. Rumusan Masalah
Untuk mengkaji masalahan yang terdapat dalam makalah Manusia
dan Agama ini, kelompok kami akan membuat beberapa rumusan masalah
yang akan dibahas:
1. Bagaimana Konsep manusia dalam Islam?
2. Bagaimana konsep Agama?
3. Bagaimanakah hubungan agama dengan manusia?

C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui konsep manusia dalam Islam.
2. Untuk Mengetahui konsep Agama.
3. Untuk mengetahui hubungan agama dengan manusia.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Manusia dalam Islam


1. Pengertian Manusia dalam Alquran
Quraish Shihab mengutip dari Alexis Carrel dalam Man the
Unknown, bahwa banyak kesukaran yang dihadapi untuk mengetahui
hakikat manusia, karena keterbatasan-keterbatasan manusia sendiri.
Istilah kunci yang digunakan Al-Quran untuk menunjuk pada
pengertian manusia menggunakan kata-kata basyar, al-insan, dan an-nas.
Kata basyar disebut dalam Al-Quran 27 kali. Kata basyar
menunjuk pada pengertian manusia sebagai makhluk biologis (QS Ali
Imran [3]:47) tegasnya memberi pengertian kepada sifat biologis
manusia, seperti makan, minum, hubungan seksual dan lain-lain.
Kata al-insan dituturkan sampai 65 kali dalamAl-Quran yang
dapat dikelompokkan dalam tiga kategori. Pertama al-insan dihubungkan
dengan khalifah sebagai penanggung amanah (QS Al-Ahzab [3]:72),
kedua al-insan dihubungankan dengan predisposisi negatif dalam diri
manusia misalnya sifat keluh kesah, kikir (QS Al-Maarij [70]:19-21) dan
ketiga al-insan dihubungkan dengan proses penciptaannya yang terdiri dari
unsur materi dan nonmateri (QS Al-Hijr [15]:28-29). Semua konteks al-
insan ini menunjuk pada sifat-sifat manusia psikologis dan spiritual.
Kata an-nas yang disebut sebanyak 240 dalam Al-Quran mengacu
kepada manusia sebagai makhluk sosial dengan karateristik tertentu
misalnya mereka mengaku beriman padahal sebenarnya tidak (QS Al-
Baqarah [2]:8)[1]
Dari uraian ketiga makna untuk manusia tersebut, dapat
disimpulkan bahwa manusia adalah mahkluk biologis, psikologis dan
sosial. Ketiganya harus dikembangkan dan diperhatikan hak maupun
kewajibannya secara seimbang dan selalu berada dalam hukum-hukum
yang berlaku (sunnatullah).[2]
Al-Quran memandang manusia sebagaimana fitrahnya yang suci
dan mulia, bukan sebagai manusia yang kotor dan penuh dosa. Peristiwa
yang menimpa Nabi Adam sebagai cikal bakal manusia, yang melakukan
dosa dengan melanggar larangan Tuhan, mengakibatkan Adam dan
istrinya diturunkan dari surga, tidak bisa dijadikan argumen bahwa
manusia pada hakikatnya adalah pembawa dosa turunan. Al-Quran justru
memuliakan manusia sebagai makhluk surgawi yang sedang dalam
perjalanan menuju suatu kehidupan spiritual yang suci dan abadi di negeri
akhirat, meski dia harus melewati rintangan dan cobaan dengan beban
dosa saat melakukan kesalahan di dalam hidupnya di dunia ini. Bahkan
manusia diisyaratkan sebagai makhluk spiritual yang sifat aslinya adalah
berpembawaan baik (positif, haniif).
Karena itu, kualitas, hakikat, fitrah, kesejatian manusia adalah
baik, benar, dan indah. Tidak ada makhluk di dunia ini yang memiliki
kualitas dan kesejatian semulia itu. Sungguhpun demikian, harus diakui
bahwa kualitas dan hakikat baik benar dan indah itu selalu mengisyaratkan
dilema-dilema dalam proses pencapaiannya. Artinya, hal tersebut
mengisyaratkan sebuah proses perjuangan yang amat berat untuk bisa
menyandang predikat seagung itu. Sebab didalam hidup manusia selalu
dihadapkan pada dua tantangan moral yang saling mengalahkan satu sama
lain. Karena itu, kualitas sebaliknya yaitu buruk, salah, dan jelek selalu
menjadi batu sandungan bagi manusia untuk meraih prestasi sebagai
manusia berkualitas mutaqqin di atas.
Gambaran al-Quran tentang kualitas dan hakikat manusia di atas
megingatkan kita pada teori superego yang dikemukakan oleh sigmund
Freud, seorang ahli psikoanalisa kenamaan yang pendapatnya banyak
dijadika rujukan tatkala orang berbicara tentang kualitas jiwa manusia.
Menurut Freud, superego selalu mendampingi ego. Jika ego yang
mempunyai berbagai tenaga pendorong yang sangat kuat dan vital (libido
bitalis), sehingga penyaluran dorongan ego (nafsu lawwamah/nafsu buruk)
tidak mudah menempuh jalan melalui superego (nafsu muthmainnah/nafsu
baik). Karena superego (nafsu muthmainnah) berfungsi sebagai badan
sensor atau pengendali ego manusia. Sebaliknya, superego pun sewaktu-
waktu bisa memberikan justifikasi terhadap ego manakala instink, intuisi,
dan intelegensi ditambah dengan petunjuk wahyu bagi orang beragama
bekerja secara matang dan integral. Artinya superego bisa memberikan
pembenaran pada ego manakala ego bekerja ke arah yang positif. Ego
yang liar dan tak terkendali adalah ego yang negatif, ego yang merusak
kualitas dan hakikat manusia itu sendiri.

2. Tujuan Penciptaan Manusia


Kata Abdi berasal dari kata bahasa Arab yang artinya
memperhambakan diri, ibadah (mengabdi/memperhambakan diri).
Manusia diciptakan oleh Allah agar ia beribadah kepada-Nya. Pengertian
ibadah di sini tidak sesempit pengertian ibadah yang dianut oleh
masyarakat pada umumnya, yakni kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat,
dan haji tetapi seluas pengertian yang dikandung oleh kata
memperhambakan dirinya sebagai hamba Allah. Berbuat sesuai dengan
kehendak dan kesukaann (ridha) Nya dan menjauhi apa yang menjadi
larangan-Nya.

3. Fungsi dan Kedudukan Manusia


Sebagai orang yang beriman kepada Allah, segala pernyataan yang
keluar dari mulut tentunya dapat tersingkap dengan jelas dan lugas lewat
kitab suci Al-Quran sebagai satu kitab yang abadi. Dia menjelaskan
bahwa Allah menjadikan manusia itu agar ia menjadi khalifah (pemimpin)
di atas bumi ini dan kedudukan ini sudah tampak jelas pada diri Adam (QS
Al-Anam [6]:165 dan QS Al-Baqarah [2]:30) di sisi Allah
menganugerahkan kepada manusia segala yang ada dibumi, semula itu
untuk kepentingan manusia (ia menciptakan untukmu seluruh apa yang
ada dibumi ini. QS Al-Baqarah [2]:29). Maka sebagai tanggung jawab
kekhalifahan dan tugas utama umat manusia sebagai makhluk Allah, ia
harus selalu menghambakan dirinyakepada Allah Swt.
Untuk mempertahankan posisi manusia tersebut, Tuhan
menjadikan alam ini lebih rendah martabatnya daripada manusia. Oleh
karena itu, manusia diarahkan Tuhan agar tidak tunduk kepada alam,
gejala alam (QS Al-Jatsiah [45]:13) melainkan hanya tunduk kepada-Nya
saja sebagai hamba Allah (QS Al-Dzarait [51]:56). Manusia harus
menaklukanya, dengan kata lain manusia harus membebaskan dirinya dari
mensakralkan atau menuhankan alam.
Jadi dari uraian tersebut diatas bisa ditarik kesimpulan secara
singkat bahwa manusia hakikatnya adalah makhluk biologis, psikolsogi
dan sosial yang memiliki dua predikat statusnya dihadapan Allah sebagai
Hamba Allah (QS Al-Dzarait [51]:56) dan fungsinya didunia sebagai
khalifah Allah (QS Al-Baqarah [2]:30); al-Anam [6]:165), mengantur
alam dan mengelolanya untuk mencapai kesejahteraan kehidupan manusia
itu sendiri dalam masyarakat dengan tetap tunduk dan patuh kepada
sunnatullah.

4. Hakekat Manusia Menurut Al-Quran


Hakekat manusia adalah sebagai berikut :
a. Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan
hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
b. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas
tingkah laku intelektual dan sosial.yang mampu mengarahkan dirinya
ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya serta
mampu menentukan nasibnya.
c. Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus
berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
d. Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha
untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat
dunia lebih baik untuk ditempati
e. Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan
ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas
f. Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung
kemungkinan baik dan jahat.
g. Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama
lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan
martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.
h. Makhluk yang berfikir. Berfikir adalah bertanya, bertanya berarti
mencari jawaban, mencari jwaban berarti mencari kebenaran.[4]

5. Hakekat Manusia (Menurut Islam - Mohammad Sholihuddin, M.HI)


Manusia terdiri dari sekumpulan organ tubuh, zat kimia, dan unsur
biologis yang semuanya itu terdiri dari zat dan materi Secara Spiritual
manusia adalah roh atau jiwa. Secara Dualisme manusia terdiri dari dua
subtansi, yaitu jasmani dann ruhani (Jasad dan roh). Potensi dasar
manusia menurut jasmani ialah kemampuan untuk bergerak dalam ruang
yang bagaimanapun, di darat, laut maupun udara. Dan jika dari Ruhani,
manusia mempunyai akal dan hati untuk berfikir (kognitif), rasa (affektif),
dan perilaku (psikomotorik). Manusia diciptakan dengan untuk
mempunyai kecerdasan.

B. Konsep Agama
1. Pengertian Agama
Kata agama dalam bahasa Indonesia berarti sama dengan din
dalam bahasa Arab dan Semit, atau dalam bahasa Inggris religion. Dari
arti bahasa (etimologi) agama berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti
tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi turun temurun. Sedangkan kata din
menyandang arti antara lain menguasai, memudahkan, patuh, utang,
balasan atau kebiasaan.
Secara istilah (terminologi) agama, seperti ditulis oleh Anshari
bahwa walaupun agama, din, religion, masing-masing mempunyai arti
etimologi sendiri-sendiri, mempunyai riwayat dan sejarahnya sendiri-
sendiri, namun dalam pengertian teknis terminologis ketiga istilah
tersebut mempunyai makna yang sama, yaitu:
Agama, din, religion adalah satu sistem credo (tata keimanan atau tata
keyakinan) atas adanya Yang Maha Mutlak diluar diri manusia;
b. Agama juga adalah sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada
yang dianggapnya Maha Mutlak tersebut.
c. Di samping merupakan satu sistema credo dan satu sistema ritus,
agama juga adalah satu sistem norma (tata kaidah atau tata aturan)
yang mengatur hubungan manusia sesama manusia dan hubungan
manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata
keimanan dan tata peribadatan termaktub diatas.
Menurut Durkheim Durkheim: agama merupakan sebuah
sistem kepercayaan dan ritual yang berkaitan dengan yang suci (the
sacred). Bagi Spencer, agama adalah kepercayaan terhadap sesuatu yang
Maha Mutlak. Sementara Dewey, menyatakan bahwa agama adalah
pencarian manusia terhadap cita-cita umum dan abadi meskipun
dihadapkan pada tantangan yang dapat mengancam jiwanya; agama
adalah pengenalan manusia terhadap kekuatan gaib yang hebat. Rita
Smith Kipp dan Susan Rodgers: agama harus (1) monoteistik, (2)
mempunyai kitab, (3) mempunyai nabi, dan (4) mempunyai komunitas
internasional.[7]
Dengan demikian, mengikuti pendapat Smith, tidak berlebihan
jika kita katakan bahwa hingga saaat ini belum ada definisi agama yang
benar dan dapat ditarima secara universal.[8]

2. Syarat-Syarat Agama
a. Percaya dengan adanya Tuhan
b. Mempunyai kitab suci sebagai pandangan hidup umat-umatnya
c. Mempunyai tempat suci
d. Mempunyai Nabi atau orang suci sebagai panutan
e. Mempunyai hari raya keagamaan
3. Unsur-Unsur Agama
Menurut Leight, Keller dan Calhoun, agama terdiri dari beberapa unsur pokok:
a. Kepercayaan agama, yakni suatu prinsip yang dianggap benar tanpa ada
keraguan lagi
b. Simbol agama, yakni identitas agama yang dianut umatnya.
c. Praktik keagamaan, yakni hubungan vertikal antara manusia dengan
Tuhan-Nya, dan hubungan horizontal atau hubungan antarumat beragama sesuai
dengan ajaran agama.
d. Pengalaman keagamaan, yakni berbagai bentuk pengalaman keagamaan
yang dialami oleh penganut-penganut secara pribadi.
e. Umat beragama, yakni penganut masing-masing agama

4. Fungsi Agama
Sumber pedoman hidup bagi individu maupun kelompok
Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan
manusia.
Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah
Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan
Pedoman perasaan keyakinan
Pedoman keberadaan
Pengungkapan estetika (keindahan)
Pedoman rekreasi dan hiburan
Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.[9]

5. Karakteristik Agama
Karakteristik agama dalam kehidupan manusia seperti halnya bangunan yang
sempurna. Seperti dalam salah satu sabda nabi Muhammmad, bahwa beliau
adalah penyempurna bangunan agama tauhid yang telah dibawa oleh para nabi
dan rasul sebelum kedatangan beliau.
Layaknya sebuah bangunan agamapun harus memiliki rangka yang kokoh, tegas,
dan jelas. Rangka yang baik adalah rangka yang menguatkan bangunan yang akan
dibangun di atasnya. Memiliki ukuran yang simetris satu sama lainnya.
Komposisi bahan yang tepat karena berperan sebagai penopang. Oleh sebab itu,
kerangka harus memiliki luas yang cukup atau memiliki perbandingan yang sesuai
dengan bangunannnya. Itulah sebaik-baiknya agama dengan demikian agama pada
dasarnya berperan sebagai pedoman kehidupan manusia, untuk menjalani
kehidupannya dibumi. Manusia akan kehilangan pedoman atau pegangan dalam
menjalani kehidupan di dunia bila tidak berpedoman pada agama. Dewasa ini
agama mengalami beralih dan berpedoman kepada akal logikanya. Padahal akal
dan logika manusia memiliki keterbatasan yaitu keterbatasan melihat masa depan.
Sedangkan agama telah disusun sedemikian rupa oleh sang pencipta agar menjadi
pedoman sepanjang hayat manusia. Akibat dari skularisme ini menimbulkan gaya
hidup baru bagi kaum muslim yakni gaya hidup hedomisme dan pragmatis.
Adapun karakteristik agama pada umumnya adalah sebagai berikut:
a. Agama adalah suatu sistem tauhid atau sistem ketuhanan (keyakinan)
terhadap eksistensi suatu yang absolute (mutlak), diluar diri manusia yang
merupakan pangkal pertama dari segala sesuatu termasuk dunia dengan segala
isinya.
b. Agama merupakan sistem ritual atau peribadatan (penyembahan) dari
manusia kepada suatu yang absolut.
c. Agama adalah suatu sistem nilai atau norma (kaidah) yang menjadi pola
hubungan manusiawi antara sesama manusia dan pola hubungan dengan ciptaan
lainnya dari yang absolut.

C. Perlunya Manusia Terhadap Agama


Sekurang-kurangnnya ada tiga alasan yang melatarbelakangi perlunya manusia
terhadap agama. Ketiga alasan tersebut secara singkat dapat dikemukakan sebagai
berikut:[10]

1. Latar belakang Fitra manusia


Kenyataan manusia memiliki fitrah keagamaan pertama kali ditegaskan dalam
ajaran Islam, yakni bahwa agama adalah kebutuhan fitri manusia. Sebelumnya,
manusia belum mengenal kenyataan ini. Baru di masa akhir-akhir ini, muncul
beberapa orang yang menyerukan dan mempopulerkannya. Fitrah keagamaan
yang ada dalam diri manusia inilah yang melatarbelakangi perlunya manusia pada
agama. Oleh karenanya, ketika datang wahyu Tuhan yang menyeru manusia agar
beragama, maka seruan tersebut memang amat sejalan dengan fitrahnya itu.
Dalam ajaran Islam dijelaskan bahwa agama adalah kebutuhan fitri manusia.
Dalam Surat al-Rum, 30: 30

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas)
fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu
Adanya potensi fitrah beragama yang terdapat pada manusia tersebut dapat pula
dianalisis dari istilah insan yang digunakan al-Quran untuk menunjukkan
manusia. Menurut Musa Asyari, bahwa manusia insane adalah manusia yang
menerima pelajaran dari tentang apa yang tidak diketahuinya
Adanya perjanjian manusia dengan Allah yang telah diikat oleh fitrah mereka.
Kenyataan manusia memiliki fitrah keagamaan tersebut diatas, buat pertama
kalinya ditegaskan dalam ajaran Islam Yakni bahwa agama adalah kebutuhan
fitrah manusia.
Informasi mengenai potensi beragama dimiliki manusia itu dapat dijumpai pada
ayat al-Qur'an (surat al-A'raf ayat 172)


Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari


sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari
kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-
orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

Berdasarkan informasi tersebut terlihat dengan jelas bahwa manusia secara fitri
merupakan makhluk yang memiliki kemampuan untuk beragama. Hal demikian
sejalan dengan petunjuk nabi dalam salah satu hadisnya yang mengatakan bawha
setiap anak yang dilahirkan memiliki fitrah (potensi beragama), maka kedua orang
tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Bukti bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi beragama ini dapat
dilihat melalui bukti historis dan antropologis. Melalui bukti-bukti historis dan
antropologis kita mengetahui bahwa pada manusia primitif yang kepadanya tidak
pernah datang informasi mengenai Tuhan, ternyata mereka mempercayai adanya
Tuhan, sungguhpun Tuhan yang mereka percayai itu terbatas pada daya
khayalnya. Misalnya saja, mereka mempertuhankan benda-benda alam yang
menimbulkan kesan misterius dan mengagumkan serta memiliki kekuatan yang
selanjutnya mereka jadikan Tuhan, kemudian kepercayaan ini disebut dengan
dinamisme. Selanjutnya, kekuatan misterius tersebut mereka ganti istilahnya
dengan ruh atau jiwa yang memiliki karakter dan kecenderungan baik dan buruk
yang selanjutnya mereka beri nama agama animisme. Roh dan jiwa itu
selanjutnya mereka personifikasikan dalam bentuk dewa yang jumlahnya banyak
dan selanjutnya disebut agama politeisme. Kenyataan ini menunjukkan bahwa
manusia memiliki potensi bertuhan. Namun karena potensi tersebut tidak
diarahkan, maka mengambil bentuk bermacam-macam yang keadaanya serba
relatif. Dalam keadaan demikian itulah para nabi diutus kepada mereka untuk
menginformasikan bahwa Tuhan yang mereka cari itu adalah Allah yang memiliki
sifat-sifat sebagaimana juga dinyatakan dalam agama yang disampaikan para nabi.
Dengan demikian, sebutan Allah bagi Tuhan bukanlah hasil khayalan manusia dan
bukan pula hasil seminar, penelitian, dan sebagainya. Sebutan atau nama Allah
bagi Tuhan adalah disampaikan oleh Tuhan sendiri.
Ketika kita mengkaji paham hulul dari Al-Hallaj (858-922 M). Misalnya kita
jumpai pendapatnya bahwa pada diri manusia terdapat sifat dasar ke-Tuhanan
yang disebut lahut, dan sifat dasar kemanusiaan yang disebut nasut. Demikian
pula pada diri Tuhan pun terdapat sifat lahut dan nasut. Sifat lahut Tuhan mengacu
pada dzat-Nya, sedangkan sifat nasut Tuhan mengacu pada sifat-Nya. Sementara
itu sifat nasut manusia mengacu kepada unsur lahiriah dan fisik manusia,
sedangkan sifat lahut manusia mengacu kepada unsur batiniah dan Ilahiah. Jika
manusia mampu meredam sifat nasutnya maka yang tampak adalah sifat lahutnya.
Dalam keadaan demikian terjadilah pertemuan anatara nasut Tuhan dengan lahut
manusia, dan inilah yang dinamakan hulul.

2. Kelemahan dan kekuarangan manusia


Faktor lain yang melatarbelakangi manusia memerlukan agama adala karena di
samping manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan.
Hal ini antara lain diungkapkan oleh kata an-nafs. Menurut Quraish Shihab,
bahwa dalam pandangan al-quran, nafs diciptakan Allah dalam keadaan
sempurna yang berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat
kebaikan dan keburukan, dan karena itu sisi dalam manusia inilah yang oleh al-
quran dianjurkan untuk diberi perhatian lebih besar. Seperti yang tertera dalam
al-quran surat Al-Syams ayat 7-8:
o
o
dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan
kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (Asy-Syams, 91:7-8)
Menurut Quraish Shihab bahwa kata mengilhamkan berarti potensi agar manusia
melalui nafs menangkap makna baik dan buruk, serta dapat mendorongnya untuk
melakukan kebaikan dan keburukan. Tetapi kata nafs dalam pandangan kaum sufi
merupakan sesuatu yang melahirkan sifat tercela dan periaku buruk. Pengertian
kaum sufi tentang nafs ini sama dengan yag terdapat dalam Kamus Besar Bahasa
Indoneisa yang antara lain menjelaskan bahwa nafs adalah dorongan hati yang
kuat untuk berbuat yang kurang baik. Selanjutnya, Quraish Shihab mengatakan,
walaupun al-quran menegaskan bahwa nafs berpotensi positif dan negatif, namun
doperoleh pula isyarat bahwa pada hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat
daripada daya tarik negatifnya, hanya aja daya tarik keburukan lebih kuat daripada
daya tarik kebaikan. Untuk menjaga kesucian nafs ini manusia harus selalu
mendekatkan diri pada Tuhan dengan bimbingan agama, dan di sinilah letaknya
kebutuhan manusia terhadap agama.

3. Tantangan manusia
Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena
manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik
yang datang dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam dapat berupa
dorongan hawa nafsu dan bisikan setan, sedangkan tantangan dari luar dapat
berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara sengaja
berupaya ingin memalingkan manusia dari Tuhan. Mereka dengan rela
mengeluarkan biaya, tenaga, dan pikiran yang dimanifestasikan dalam berbagai
bentuk kebudayaan yang di dalamnya mengandung misi menjauhkan manusia dari
Tuhan. Tantangan dari dalam dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan
setan. Lihat Surat Al-Isra ayat 53.

Artinya: Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: " Hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu
menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah
musuh yang nyata bagi manusia
Sementara tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang
dilakukan manusia yang secara sengaja berupaya ingin memalingkan manusia dati
Tuhan. Seperti yang tertera dalam al-quran surat Al-anfal ayat 36:


Artinnya: Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka
untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah.
Untuk itu, upaya mengatasi dan membentengi manusia adalah dengan mengajar
mereka agar taat menjalankan agama. Godaan dan tantangan hidup demikian itu,
saat ini semakin meningkat, sehinga upaya mengagamakan masyarakat menjadi
penting.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Manusia hakikatnya adalah makhluk biologis, psikolsogi dan sosial yang memiliki
dua predikat statusnya dihadapan Allah sebagai Hamba Allah dan fungsinya
didunia sebagai khalifah Allah, mengantur alam dan mengelolanya untuk
mencapai kesejahteraan kehidupan manusia itu sendiri dalam masyarakat dengan
tetap tunduk dan patuh kepada sunnatullah. Rasa agama dan perilaku keagamaan
(agama dan kehidupan beragama) merupakan pembawaan dari kehidupan
manusia, atau dengan istilah lain merupakan fitrah manusia.
Manusia tidak akan pernah lepas dari agama karena dalam diri manusia ada fitrah.
Fitrah keagamaan yang ada dalam diri manusia inilah yang melatarbelakangi
perlunya manusia pada agama. Faktor lain yang melatarbelakangi manusia
memerlukan agama adalah karena di samping manusia memiliki berbagai
kesempurnaan juga memiliki kekurangan, dan Faktor lain yang menyebabkan
manusia memerlukan agama adalah karena manusia dalam kehidupannya
senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun
dari luar.

B. Saran
Demikian makalah yang dapat kami paparkan tentang hukum syari, semoga
bermanfaat bagi pembaca pada umumnyadan pada kami pada khususnya. Dan
tentunya makalah ini tidak lepas dari kekurangan, untuk itu saran dan kritik yang
bersifat konstruktif sangat kami butuhkan, guna memperbaiki makalah
selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Syukur, Pengantar Studi Islam, Semarang: Pustaka Nuun, 2010


Ahmad, Supadie Didiek, dkk. Pengantar Studi Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2011
J, Hasse, Pemetaan Teori Sosial dalam Penelitian Sosial Keagamaan, Makalah
pada Pelatihan Metodologi Penelitian Islam Keagamaan, STAIN Zawiyah Cot
Kala Langsa, Tanggal. 26 September 2013

Miftah, Fathoni Ahmad, Pengantar Studi Islam, Semarang: Gunung Jati, 2001
Muhaiman Dimensi-Dimensi Studi Islam, Surabaya: Karya Abditama, 1994
Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Rajawali Pers. 2010

Read more: http://syafieh.blogspot.com/2013/09/metodologi-studi-islam-manusia-


dan-agama.html#ixzz3p4L5HGOc

Anda mungkin juga menyukai