Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH AGAMA

TENTANG
Al-Quran dan As-Sunnah Sebagai Sumber
Hukum Islam

Oleh Kelompok I :
Imi Wulandari
Fitri Ningsih
Ayu Sulastri
Ingsya Nugraha
Al Muttaqin

Dosen Pembimbing :
Virgo Vicnori, M.Ag

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES PIALA SAKTI
PARIAMAN
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Fiqih islam merupakan kumpulan hukum islam yang berkenaan
dengan amal perbuatan, yang digali dari sumber/dalilnya secara terperinci.
Dalil pokok yang merupakan sumber fiqih itu adalah wahyu Tuhan. Satu-
satunya pemilik dan penguasa hukum.
Pengertian wahyu sebagai satu-satunya sumber hukum, ialah bahwa
dialah yang berhak menetapkan adanya sumber lain yang dapat dijadikan
dasar bagi fiqih islam, di antaranya dinyatakan adalah : Quran , Hadist dan
sumber hukum pelengakap islam lainnya.
Sedangkan saat ini kita tidak hanya menggunakan 3 hukum tersebut.
Kita menggunakan hukum yang dibuat oleh pemimpin negara Indonesia yang
berupa Undang-Undang. Akan tetapi di Indonesia muncul Undang-Undang
Islam yang terbaru sampai saat ini adalah KHI (Kompilasi Hukum Islam).
Semoga tulisan kami ini bisa membantu pembaca dalam mempelajari
hukum islam.

1
BAB II
SUMBER HUKUM ISLAM
YANG DISEPAKATI PARA ULAMA

2.1 Al-Quran
1. Pengertian Al-Quran
Menurut bahasa (etimologi) kata Al-Quran berasal dari kata
qara-yaqrau-qur anan artinya bacaan atau yang dibaca. Sedangkan
menurut istilah (terminologi) Al-Quran adalah Kalmullah sebagai
mujizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat
Jibril, dengan bahasa Arab, ditulis dimushhaf, disampaikan secara
mutawatir, dibaca bernilai ibadah. Diawali dengan surat Al-Fatihan dan
diakhiri dengan surat An-Nas.

2. Pokok-pokok isi Al-Quran


Pokok-pokok isi Al-Quran ada lima yaitu :
a. Tauhid
b. Ibadah
c. Janji dan ancaman
d. Jalan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat
e. Riwayat dan ceritera ( qishah umat terdahulu).
3. Dasar Kehujjahan Al-Quran dan Kedudukannya sebagai Sumber
Hukum
Sebagimana kita ketahui Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW dan disampaikan kepada umat manusia adalah untuk
wajib diamalkan semua perintah-Nya dan wajib ditinggalkan segala
larangan-Nya. Firman) Allah SWT :

Artinya : "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu


dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara
manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu,
dan janganlah kamu menjadi penantan karena membela
orang-orang yang khianat". (An-Nisa :105).

Artinya : "Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara

2
mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah
kamu mengikuti hawa nafsu mereka (Al-Maidah: 49).

Al-Qur'an merupakan number hukum utama dalam islam dan


menempati kedudukan pertama dari sumber- sumber hukum islam yang
lain, ia merupakan aturan dasar yang paling tinggi. Semua sumber hukum
dan ketentuan norma yang ada tidak boleh bertentangan dengan isi Al-
Qur'an.
4. Pedoman AI-Qur'an dalam Menetapkan Hukum.
Pedoman Al-Qur'an dalam menetapkan hukum sesuai dengan
perkembangan dan kemampuan manusia, baik secara fisik maupun
rohani. manusia selalu berawal dari kelemahan dan ketidak mampuan.
Untuk itu AlQur'an berpedoman kepada tiga hal, yaitu :
a. Tidak memberatkan ( ) Firman Allah SWT :

Artinya : "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan


kesanggupannya..." (Al-Bagarah : 286).

Artinya : "...Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak


menghendaki kesukaran bagimu". (Al-Bagarah : 185)

Contoh :Azimah (ketentuan-ketentuan umum Allah) misal sholat wajib


dll
b. Meminimalisir beban ( )

Dasar ini merupakan konsekwensi logis dari dasar yang


pertama. Dengan dasar ini kita dapati rukhshah (keringanan) dalam
beberapa jenis ibadah, seperti Menjama dan mengqashar sholat
apabila dalam perjalanan dengan syarat yang telah ditentukan.
c. Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum ( )

3
Al-Qur'an dalam menetapkan hukum adalah secara bertahap,
hal ini bisa kita telusuri dalam hukum haramnya meminum-minuman
keras, berjudi serta perbuatan-perbuatan yang mengandung judi
ditetapkan dalam AlQur'an (QS. Al-Baqarah: 219, QS. An-Nisa : 43
dan QS. Al-Maidah : 90).

2.2 Al- Hadits


1. Pengertian Al-Hadits
Menurut bahasa (etimologi) Al-Hadits berarti yang baru, yang
dekat, atau warta yaitu sesuatu yang dibicarakan. Sedangkan menurut
istilah (terminologi) Al-Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan
kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir
(persetujuan) beliau.
2. Bentuk-bentuk Al-Hadits
Berdasarkan definisi istilah diatas, maka bentuk hadits dapat
dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
a. Qauliyah ( ucapan )
b. Filiyah ( perbuatan )
c. Taqririyah ( keputusan/ketetapan )

3. Dasar Kehujjahan Al-Hadits dan Kedudukannya sebagai Sumber


Hukum
Banyak kita jumpai ayat - ayat Al-Qur'an dan Hadits-hadits yang
memberikan pengertian bahwa hadits merupakan sumber hukum Islam
selain Al-Qur'an yang wajib diikuti, dan diamalkan baik dalam bentuk
perintah maupun larangannya. Uraian di bawah ini merupakan penjelasan
secara rinci tentang dasar kehujjahan hadits sebagai sumber hukum Islam
dengan mengambil beberapa dalil, baik naqli maupun aqli.
a. DaliI Al-Qur'an
Banyak kita jumpai ayat Al-Qur'an yang menjelaskan tentang
kewajiban mempercayai dan menerima segala yang disampaikan oleh
Rasul kepada umatnya untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari . Di
antara ayat-ayat dimaksud adalah:

4
Firman Allah SWT :

Artinya: Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang


beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia
menyisihkan yang buruk (munafiq) dari yang baik
(mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan
kepada kamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih
siapa yang dikehendaki-Nya di antara Rasul-rasul-Nya.
Karena itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya;
dan jika kamu beriman dan bertaqwa, maka bagimu pahala
yang besar. (QS. Ali lmran (3): 179).

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman :

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada


Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan
kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan
sebelumnya. Bagi siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-
malaikat-Nya, Rasulrasul-Nya, dan hari kemudian, maka
sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh jauhnya. (QS.
Al-Nisa' (4): 136).

Ayat-ayat diatas Allah menyuru kaum Muslimin agar mereka


tetap beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Muhammad SAW), AlQur'an,
dan kitab yang diturunkan sebelumnya. Kemudian Allah mengancam
orang-orang yang mengingkari dan menentang seruan-Nya.
Di samping itu, Allah juga memerintahkan kepada kaum
muslimin agar menaati dan melaksanakan segala bentuk perundang-
undangan dan peraturan yang dibawa oleh Rasul-Nya, baik berupa
perintah maupun larangan. Tuntutan taat dan patuh kepada Rasul-Nya
sama halnya tuntutan taat dan patuh kepada Allah SWT. Banyak ayat
Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah ini. Firman Allah SWT:

5
Artinya: Katakanlah ! Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya; jika
kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang kafir". (QS. Ali lmran (3): 32).

Dalam firman-Nya yang lain:

Artinya : Hai orang-orang yang beriman ! Taatilah Allah, Rasul, dan


Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan
pendapat tentang sesuatu, akan kembalilah kepada Allah dan
Rasul, jika kamu benar-benar kepada Allah dan hari
Kemudian. Yang demikian ini lebih utama dan lebih baik
akibatnya. (QS. AN-Nisa (4): 59).

Kemudian dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman:

Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah dan apa-apa


yang dilarangnya, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-
Nya. (QS. AI-Hasyr (59): 7).

Artinya: Dan taatlah kamu kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, dan
berhati-hatilah. (QS. Al-Maidah (5): 92).

6
Artinya: Katakanlah: Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul;
dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban
Rasul SAW itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan
kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang
dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya,
niscaya kamu mendapat petunjuk (QS. A1-Nur (24): 54).

Dari ayat- ayat Al-Qur'an di atas tergambar bahwa setiap ada


perintah taat kepada Allah SWT dalam Al-Qur'an selalu diikuti dengan
perintah taat kepada Rasul-Nya. Demikian pula mengenai peringatan
(ancaman) karena durhaka kepada Allah, sering disejajarkan atau
disamakan dengan ancaman karena durhaka kepada Rasul Muhammad
SAW.

b. Dalil Al-Hadits
Mari kita pahami Dalam salah satu pesan Rasulullah SAW
berkenaan dengan kewajiban menjadikan hadits sebagai pedoman
hidup, disamping Al-Qur'an sebagai pedoman utamanya, beliau
bersabda:

Artinya: "Aku tinggalkan dua pusaka untukmu sekalian, yang kalian


tidak akan tersesat selagi kamu berpegang teguh pada
keduanya, yaitu berupa kitab Allah dan Sunnah Rasul-
Nya". (HR. Malik).

Saat Rasulullah ingin mengutus Mu'adz bin Jabal untuk


menjadi penguasa di Negeri Yaman, terlebih dahulu dia diajak dialog
oleh Rasulullah SAW.

Artinya: "(Rasul bertanya), bagaimana kamu akan menetapkan


hukum bila dihadapkan padamu sesuatu yang memerlukan
penetapan hukum? Mu'az menjawab: saya akan

7
menetapkannya dengan kitab Allah. Lalu Rasul bertanya;
seandainya kamu tidak mendapatkannya dalam kitab Allah,
Mu'az menjawab: dengan Sunnah Rasulullah. Rasul
bertanya lagi, seandainya kamu tidak mendapatkannya
dalam kitab Allah dan juga tidak dalam Sunnah Rasul,
Mu'az menjawab: saya akan berijtihad dengan pendapat
saya sendiri. Maka Rasulullah menepuk-nepuk belakangan
Mu'az seraya mengatakan "segala puji bagi Allah yang
telah menyelaraskan utusan seorang Rasul dengan sesuatu
yang Rasul kehendaki". (HR. Abu Daud dan Al-Tirmidzi).

Dalam hadits lain Rasul bersabda:

Artinya: "Wajib bagi sekalian berpegang teguh dengan Sunnahku


dan Sunnah Khulafa Ar-Rasyidin (khalifah yang mendapat
petunjuk), berpegang teguhlah kamu sekalian dengannya.
(HR. Abu Daud dan Ibun Majah).

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa berpegang teguh


kepada hadits atau menjadikan hadits sebagai pegangan dan pedoman
hidup itu adalah wajib, sebagaimana wajibnya berpegang teguh
kepada Al-Qur'an.

c. Kesepakatan Ulama (Ijma')


Seluruh Umat Islam telah sepakat menjadikan hadits sebagai
salah satu dasar hukum Syari'at Islam yang wajib diikuti dan
diamalkan; karena sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah.
Penerimaan mereka terhadap hadits sama seperti penerimaan mereka
terhadap Al-Qur'an, karena keduanya sama-sama dijadikan sebagai
sumber hukum Syariat Islam.
Kesepakatan umat Islam dalam mempercayai, menerima dan
mengamalkan semua ketentuan yang terkandung di dalam hadits
ternyata sejak Rasulullah masih hidup hingga sekarang tidak ada yang
mengingkarinya. Banyak diantara mereka yang tidak hanya memahami
dan mengamalkan isi kandungannya, akan tetapi bahkan mereka
menghafal, memelihara, dan menyebarluaskan kepada generasi-

8
generasi selanjutnya.
Mari kita menengok peristiwa-peristiwa yang menunjukkan
adanya kesepakatan menggunakan hadits sebagai sumber hukum
Islam pada masa sahabat, antara lain dapat diperhatikan peristiwa di
bawah ini :
a. Pada saat Abu Bakar Ra. dibaiat menjadi Khalifah, ia dengan tegas
berkata Saya tidak meninggalkan sedikitpun sesuatu yang
diamalkan / dilaksanakan oleh Rasulullah, sesungguhnya saya
takut menjadi orang bila meninggalkan perintahnya".
b. Pada saat Khalifah Umar Ibnu Khattab ada di depan Hajar Aswad
is berkata: Saya tahu bahwa engkau adalah batu. Seandainya saya
sendiri tidak melihat Rasulullah menciummu, maka saya tidak
akan menciummu".
c. Pada suatu saat pernah ditanyakan kepada Abdullah bin Umar
(Ibnu Umar) masalah ketentuan shalat safar dalam Al-Qur'an. la
menjawab: "Allah SWT telah mengutus Nabi Muhammad SAW
kepada kita dan kita tidak mengetahui sesuatu. Maka
sesungguhnya kami berbuat sebagaimana duduknya Rasulullah
SAW, saya makan sebagaimana makannya Rasulullah dan saya
shalat sebagaimana shalatnya Rasul".
d. Diceritakan dari Sa'id bin Musayyab bahwa Khalifah Usman bin
Affan berkata: Saya duduk sebagaimana mengikuti duduknya
Rasulullah SAW, saya juga makan sebagaimana makannya
Rasulullah, dan saya mengerjakan shalat sebagaimana shalatnya
Rasul.
Sebenarnya Masih banyak lagi contoh-contoh yang dilakukan
oleh para sahabat yang menunjukkan bahwa apa yang diperintahkan,
dilakukan, dan diserukan, niscaya diikuti oleh umatnya, dan apa yang
dilarang selalu ditinggalkan oleh mereka.

d. Sesuai dengan Petunjuk Akal


Muhammad SAW, sebagai Nabi dan Rasul Allah telah diakui
dan dibenarkan oleh seluruh umat Islam. Di dalam mengemban

9
misinya itu, kadang-kadang beliau hanya sekedar menyampaikan apa
yang diterima dari Allah SWT, baik isi maupun formulasinya dan
kadang kala atas inisiatif sendiri dengan bimbingan wahyu dari Allah.
Namun juga tidak jarang beliau membawakan hasil ijtihad semata-
mata mengenai suatu masalah yang tidak ditunjuk oleh wahyu dan
juga tidak dibimbing oleh ilham. Hasil ijtihad beliau ini tetap berlaku
sampai ada dalil yang menghapuskannyanya
Dan apabila kerasulan Muhammad SAW telah diimani dan
dibenarkan, maka konsekwensi logisnya segala peraturan dan perundang-
undangan serta inisiatif beliau, baik yang beliau ciptakan atas bimbingan
ilham atau hasil ijtihad semata, ditempatkan sebagai sumber hukum dan
pedoman hidup. Di samping itu secara logika kepercayaan kepada
Muhammad SAW sebagai Rasul Allah mengharuskan umatnya mentaati
dan mengamalkan segala ketentuan yang beliau sampaikan.
Semua umat Islam telah sepakat dengan bulat bahwa Hadits
Rasul adalah sumber dan dasar hukum Islam setelah Al-Qur'an, dan
umat Islam diwajibkan mengikuti dan mengamalkannya sebagaimana
diwajibkan mengikuti dan mengamalkan Al-Qur'an.
Al-Qur'an dan Hadits merupakan dua sumber hukum pokok
syariat Islam yang tetap, dan orang Islam tidak akan mungkin bisa
memahami syariat Islam secara mendalam dan lengkap tanpa kembali
kepada kedua sumber Islam tersebut. Seorang mujtahid dan seorang
ulama' pun tidak diperbolehkan hanya mencukupkan diri dengan
mengambil salah satu dari keduanya.
Berdasarkan uraian di atas bisa diketahui bahwa hadits
merupakan salah satu sumber hukum Islam dan menduduki urutan
kedua setelah Al-Qur'an. Sedangkan bila dilihat dari segi
kehujjahannya, hadits melahirkan hukum zhanny, kecuali hadits yang
mutawatir.
4. Fungsi Al-Hadits terhadap Al-Quran
Dalam Al-Quran masih banyak ayat bersifat umum dan global
yang memerlukan penjelasan. Dan penjelasan itu diberikan oleh

10
Rasulullah SAW. Yang berupa Al-Hadits. Tanpa penjelasan dari beliau
banyak ketentuan Al-Quran yang tidak bisa dilaksanakan. Maka dari itu
Al-Hadits memiliki beberapa fungsi terhadap Al-Quran antara lain :
a. Bayanut Tafsir yaitu sebagai penjelas atau merinci ayat-ayat Al-
Quran yang masih global dan memberikan batasan terhadap ayat Al-
Quran yang dalam pelaksanaannya belum ada batasannya. Misal
hadits tentang tata cara ibadah sholat, tata cara ibadah haji dan lain-
lain.
b. Bayanut Taqrir yaitu sebagai penguat ketentuan-ketentuan yang telah
ditetapkan dalam Al-Quran. Misal hadits tentang rukun Islam dan
lain-lain.
c. Bayanut Tasyri yaitu menetapkan hukum suatu perkara yang tidak
ada ketentuan nashnya dalam Al-Quran. Misal hadits tentang
penyembelehan janin dalam perut induknya sama dengan
penyembelehan induknya dan lain-lain.

2.3 Ijma'
1. Pengertian Ijma'
Ditinjau dari segi bahasa (etimologi), kata Ijma' merupakan masdar
(kata benda verbal) dari kata yang artinya memutuskan dan
menyepakati sesuatu. Ia juga bisa berarti kesepakatan bulat (konsensus).
Menurut Abdul Wahhab Khalaf, secara istilah Ijma' adalah :

Artinya : "Ijma' adalah kesepakatan (konsensus) seluruh mujtahid


pada suatu masa tertentu sesudah wafatnya Rasul atas
hukum syara' untuk satu peristiwa (kejadian) ".

Dari rumusan di atas dapat diambil beberapa penjelasan sebagai


berikut :
1. Kesepakatan adalah kesamaan pendapat baik disampaikan secara

11
tegas melalui lisan maupun tulisan atau dengan beramal sesuai
dengan hukum yang disepakati itu. Kesepakatan seperti itu disebut
Ijma' yang sebenarnya atau ijma' bayani atau disebut juga Ijma' Qauli.
Jika kesepakatan itu ditunjukkan dengan diam yaitu tidak
memberikan tanggapan maka dinamakan ijma' sukuti, karena diam
itu tidak memberikan tanggapan dipandang sebagai telah menyetujui
terhadap hukum yang sudah sampai kepadanya.
2. Seluruh mujtahid berarti masing-masing mujtahid menyatakan
kesepakatannya. Jika seorang saja tidak menyetujuinya maka tidak
terjadi ijma'. Demikian pula jika pada suatu masa hanya ada pada
seorang mujtahid saja, maka tidak ada ijma' sebab tidak terjadi
kesepakatan.
3. Pada zaman Rasulullah SAW tidak ada ijma' sebab setiap terjadi
ketiadaan hukum, para sahabat bertanya kepada Rasul, lalu beliau
menetapkan hukumnya.
4. Atas hukum syara' ijma' hanya terjadi bagi masalah yang
berhubungan dengan hukum. Syara' dan berdasar kepada hukum
syara' pula ; baik berupa nash yang qoth'i yaitu Al-Qur'an dan hadits
mutawatir, sebab ijma' bukanlah dalil syar'i yang berdiri sendiri.
2. Dasar Kehujjahan Ijma dan Kedudukannya sebagai sumber hukum
Ijma' sebagai dasar hukum walaupun terjadi perbedaan, namun
mayoritas ulama' telah sepakat sebagai sumber hukum Islam yang ke tiga
setelah Al-Qur'an dan AI-Hadits. Apabila sudah terjadi ijma' maka hukum
tersebut menjadi dasar beramal yang tidak boleh diingkari.

Artinya : "Apa-apa yang menurut pendapat kaum muslimin baik,


maka baik (pula) di sisi Allah (HR. Ahmad di dalam Kitab
Sunnah-nya)".

Artinya : "Umatku tidak bersepakat atas kesesatan". (H. R. Ibnu


Majah

12
3. Macam dan Tingkatan Ijma
a. Ijma' Sharih, (Sharih dari segi bahasa artinya jelas) yaitu Ijma' yang
memaparkan pendapat banyak Ulama' secara jelas dan terbuka, baik
dengan ucapan maupun perbuatan. Pada saat semua Ulama'
memaparkan pendapatnya, ternyata mereka menghasilkan pendapat
yang sama atas hukum suatu perkara. ljma' jenis ini kita akui sangat
langka karena sangat sulit dicapai darim sekian banyak Ulama'
memberikan sebuah paparan yang sama. Oleh karena itu, sebagian
Ulama' berpendapat bahwa Ijma' semacam ini hanya dapat terlaksana
pada zaman sahabat ketika jumlah mujtahid masih sedikit dan tempat
mereka berdekatan. Ijma' Sharih ini menempati peringkat Ijma'
tertinggi. Hukum yang ditetapkannya bersifat qat'i, sehingga umat
wajib mengikutinya. Maka seluruh Ulama' sepakat dan menerima
untuk menjadikan ijma Sharih ini sebagai dalil yang sah dan kuat
dalam penetapan hukum syari'at Islam.
b. ljma' sukuti, (Sukuti dari segi bahasa artinya diam) yaitu sebagian
mujtahid memaparkan pendapat-pendapatnya secara terang dan jelas
mengenai suatu hukum suatu peristiwa melalui perkataan atau
perbuatan, sedangkan mujtahid yang lain tidak memberikan
komentar apakah ia menerima atau menolak. ljma' sukuti ini bersifat
dzan dan tidak mengikat. Oleh seabab itu, tidak ada halangan bagi
para mujtahid untuk memaparkan pendapat yang berbeda setelah
Ijma' itu diputuskan. Bagi Imam Syafi'i dan Imam Malik
berpendapat bahwa ljma' sukuti ini tidak dapat dijadikan dasar
hukum. Namun Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hambal
berpendapat lain yaitu menjadikannya sebagai dasar hukum. Mereka
yang menerima ljma' sukuti sebagai hujah sebab menurut kedua
Imam tersebut, diamnya mujtahid sebagai tanda setuju.
2.4 Qiyas
1. Pengertian Qiyas
Qiyas menurut bahasa berarti menyamakan atau mengukurkan
sesuatu dengan yang lain. Para ahli Ushul Fiqih merumuskan qiyas
dengan:

13
Artinya : "Menyamakan atau mengukur satu kejadian yang tidak
ada nash tentang hukumnya dengan kejadian yang ada
nash tentang hukumnya di dalam hukum yang disebutkan di
dalam nash karena ada kesamaan antara dua kejadian itu
di dalam ilat hukum tersebut".

2. Rukun Qiyas
Dari rumusan diatas dapat dijelaskan beberapa rukun qiyas
sebagai berikut :
a. Kejadian adalah peristiwa, perbuatan, tindakan yang tidak
ada hukumnya atau belum jelas hukumnya baik di dalam Al-Qur'an
maupun As-Sunnah. Dalam ilmu Ushul Fiqih hal ini disebut
"Far'un" Suatu peristiwa dapat disebut far'un apabila :
adanya kemudian, ada kesamaan illat dengan peristiwa yang akan
disamainya.
b. Kejadian yang telah ada ketentuan hukumnya baik di dalam Al-
Qur'an maupun sunnah disebut ashal atau disebut juga
"maqiis'alaih" yaitu sesuatu yang akan diqiyaskan
kepadanya, atau "musyabbah bih" yaitu sesuatu yang akan
diserupakan dengannya.
Suatu kejadian dapat disebut ashl apabila :
1) Hukumnya adalah hukum syari'ah amali dan berdasar nash.
2) illat hukumnya dapat Diketahui secara aqli
3) Hukumnya bukan merupakan cabang (far'un) dari ashal mansukh

4) Nash hukum ashal tidak meliputi hukum far'un.


5) Hukum ashal adalah hukum yang disepakati dan tidak mansukh
6) Hukum pada ashal tidak mempunyai qiyas rangkap.
c. Illat yaitu suatu sifat yang menjadi dasar hukum pada ashal. Sifat ini
pula yang harus ada pada far'un". Haramnya minum khamr adalah
ashal karena ada nash yang menyatakan itu, yaitu firman Allah
SWT :
(maka jauhilah) karena sifatnya yang memabukkan.
Perasan anggur adalah "far'un" yang tidak disebutkan

14
hukumnya tetapi sifatnya saja yaitu memabukkan. Karena sifatnya
sama maka rasa anggur dan semua makanan dan minuman yang
memiliki sifat memabukkan hukumnya disamakan dengan khamar
yaitu haram.
Kata illah : penggunaannya sering tumpang tindih dengan sebab
dalam hukum wadh'i sebab biasanya berhubungan dengan suatu
asalan yang tidak bisa dipahami akal. Jadi, setiap sabab pastilah 'illah,
tetapi tidak semua 'illah merupakan sabab.
d. Hukum ashal yaitu hukum suatu kejadian yang sudah disebutkan
dan akan ditetapkan bagi far'un karena sama sifatnya (illatnya).
Suatu sifat dapat dijadikan sebagai illat, apabila : jelas atau dzonni
(dapat dibuktikan), dapat dibatasi secara pasti sama antara ashal
dengan far'un serta munasabah yaitu dugaan kuat bahwa sifat
tersebut merupakan alasan hukum pada ashal, sehingga adanya
menyebabkan adanya hukum dan tidak adanya mengakibatkan tidak
adanya hukum.
Al-Ashlu Al-Faru Ilah Hukum
Khamar Narkoba Memabukkan Haram

3. Dasar Kehujjahan Qiyas dan Kedudukannya sebagai Sumber


Hukum
Sebagian Ulama' Sunni berpendapat bahwa qiyas adalah salah satu
sumber hukum Islam. Ulama' yang menjadikan qiyas sebagai sumber
hukum atau disebut (musbitul qiyas) dan mereka mempunyai dasar yang
kuat baik dari nas maupun dari akal. Dalam Al-Qur'an terdapat banyak
ayat yang menyuruh manusia menggunakan akalnya semaksimal
mungkin. Tidak kurang dari 50 ayat Al-Qur'an yang mendorong manusia
menggunakan akalnya. Di antaranya dapat dilihat dalam Surat al-Hasyr
ayat 2 berikut ini :

Artinya: Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi


pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai
pandangan.

15
Dasar qiyas sebagai sumber hukum adalah sebuah.hadits dari Ibnu
Abbas

Artinya: Dari Ibnu Abbas, seorang perempuan dari kabilah Juhainah


telah datang kepada Nabi. la bertanya, "sesungguhnya
ibuku telah bernazar akan pergi haji tapi ia tidak
melaksanakannya sampai wafat". Apakah saya boleh
mengerjakan haji untuk ibuku?" Nabi menjawab, "Ya boleh,
kerjakanlah haji untuknya. Bagaimana pendapatmu kalau
ibumu sewaktu wafat meninggalkan utang, bukankah
engkau yang membayarnya? Hendaklah kamu bayar hak
Allah sebab hak Allah lebih utama untuk dipenuhi". (HR.
Bukhari).

Dari hadits di atas, dapat dijelaskan bahwa membayar hutang


kepada Allah disamakan dengan hutang kepada manusia. Kalau hutang
kepada manusia saja wajib dibayar, maka hutang kepada Allah juga harus
dibayar.

4. Macam-macam Qiyas
Qiyas mempunyai tingkatan yang berbeda-beda. Perbedaan
tersebut didasarkan pada tingkat kekuatan hukum karena adanya `illah
yang ada pada asal dan furu', adapun tingkatan tersebut pada umumnya
dibagi menjadi tiga yaitu :
a. Qiyas aula, yaitu qiyas yang apabila 'illahnya mewajibkan adanya
hukum. Hukum cabang memiliki nilai yang lebih utama dari pada
hukum yang ada pada al-ashal. Misalnya berkata kepada kedua orang
tua dengan mengatakan "ah", "eh", "busyet" atau kata-kata lain yang

16
semakna dan menyakitkan itu hukumnya haram, sesuai dengan firman
Allah QS. Allsra' (17): 23.

Artinya: "Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada


keduanya perkataan "ah".

Lalu diqiyaskan memukul dengan perkataan "ah", "busyet"


dan sebagainya hukumnya Iebih utama. Rasionalnya, berkata "ah" saja
dilarang, apalagi memukulnya. Memukul tentu lebih menyakitkan
dibanding berkata "ah" bukan?
b. Qiyas musawi, yaitu qiyas yang apabila 'illahnya mewajibkan adanya
hukum. Hukum yang ada pada ashal dan hukum yang ada pada cabang
nilainya sama. Contohnya, keharaman memakan harta anak yatim
berdasarkan firman Allah Surah an-Nisa' (4): 10.

Artinya: Sebenarnya orang-orang yang memakan harta anak yatim


secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam
perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang
menyala-nyala (neraka).

Dari ayat di atas, kita dapat mengqiyaskan bahwa segala


bentuk kerusakan atau kesalahan pengelolaan atau salah menejemen
yang menyebabkan hilangnya harta tersebut juga dilarang seperti
memakan harta anak yatim tersebut.
c. Qiyas adna yaitu qiyas yang apabila 'illahnya mewajibkan adanya
hukum. Hukum cabang nilainya lebih lemah dari pada hukum ashal.
Sebagai contoh, mengqiyaskan hukum apel kepada gandum dalam hal
riba fadl (riba yang terjadi karena adanya kelebihan dalam tukar-
menukar antara dua bahan kebutuhan pokok atau makanan). Dalam
kasus ini, `illah hukumnya adalah baik apel maupun gandum
merupakan jenis makanan, yang bisa dimakan dan ditukar. Namun ada
segi yang lain dari 'illah gandum yang tidak terdapat pada apel, apa itu

17
? apel tidak makanan pokok. Oleh karenanya, 'illah yang ada pada
apel lebih lemah dibandingkan dengan illat yang ada pada gandum
yang menjadi makanan pokok.
5. Sebab-sebab dilakukan Qiyas
Diantara sebab-sebab dilakukan qiyas adalah :
a. Adanya persoalan-persoalan yang harus dicarikan status hukumnya,
sementara di dalam nash Al-Quran dan As-Hadits tidak ditemukan
hukumnya dan mujtahid pun belum melakukan ijma
b. Nash baik yang berupa Al-Quran maupun Al-Hadits telah berakhir
dan tidak turun lagi
c. Adanya persamaan illat antara peristiwa yang belum ada hukumnya
dengan peristiwa yang hukumnya telah ditentukan oleh nash.

2.5 Fungsi Hukum Islam


1. Fungsi Ibadah : sebagai alat untuk menegakkan ibadah.
2. Fungsi amar maruf nahi munkar : perintah kebaikan dan pencegah
kemunkaran.
3. Fungsi zawajir : sebagai alat penjeraan .
4. Fungsi tandzim wa ishlah al-ummah: penataan organisasi dan
rehabilitasi masyarakat .
5. Fungsi Jawabir : sebagai penebus dosa.

2.6 Ijtihad dalam hukum Islam


1. Pengertian Ijtihad
Ijtiha menurut bahasa berasal dari kata
yang artinya mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Para ahli
Ushul Figih merumuskan pengertian ijtihad.

Artinya : Pencurahan segala kemampuan untuk mendapatkan hukum


syara' melalui dalil-dalil syara' pula"

Jadi dengan demikian, ijtihad adalah mencurahkan seluruh


kemampuan untuk menetapkan hukum syara dengan jalan istinbath

18
( mengeluarkan hukum ) dari Al-Quran dan Al-Hadits. Orang yang
melakukan ijtihad disebut Mujtahid.
Imam Al-Ghazali mendefinisikan ijtihad adalah usaha sungguh-
sungguh dari seorang mujtahid dalam upaya mengetahui atau
menetapkan hukum syariat.
Berdasarkan definisi di atas, maka ijtihad hanya dibenarkan bagi
peristiwa atau hal-hal yang tidak ada dalilnya yang qoth'i, atau tidak ada
dalilnya sama sekali.
2. Hukum ijtihad
Menurut Syeikh Muhammad Khudlari, bahwa hukum ijtihad itu
dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu :
a. Wajib Ain, yaitu bagi seseorang yang ditanya tentang sesuatu
masalah dan masalah itu akan hilang sebelum hukumnya diketahui.
Atau ia sndiri mengalami suatu peristiwa yang ia seniri juga ingin
mengetahui hukumnya.
b. Wajib kifayah, yaitu apabila seseorang ditanya tentang sesuatu dan
seseuatu itu tidak hilang sebelum diketahui hukumnya, sedangkan
selain dia masih ada mujtahid lain. Apabila seorang mujtahid telah
menyelesaikan dan menetapkan hukum sesuatu tersebut, maka
kewajiban mujtahid yang lain telah gugur. Namun bila tak seorang
pun mujtahid melakukan ijtihadnya, maka dosalah semua mujtahid
tersebut.
c. Sunnah, yaitu ijtihad terhadap suatu masalah atau peristiwa yang
belum terjadi.
3. Peranan dan kedudukan hasil ijtihad
a. Peranan ijtihad
Ijihad sangat diperlukan dan memiliki peranan yang sangat
penting dalam mencari sandaran hukm yang benar, mengingat banyak
masalah yang secara jelas belum ditentukan hukumnya baik dalam
Al-Quran maupun Al-Hadits. Karenanya, Islam memberikan
peluang kepada umatnya yang mempunyai kemampuan untuk
melakukan ijtihad. Sebagaimana dianjurkan dalam Al-Quran Surat
Al-Hasyr ayat 2 yang berbunyi :

19

Artinya: Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran,
wahai orang-orang yang mempunyai pandangan. ( QS. Al-
Hasyr : 2 ).

Hadits Nabi MuhammadSAW :

Artinya : "Jika seorang hakim menghukum, lalu ia berijtihad


kemudian ijtihadnya itu benar, maka is mendapatkan dua
pahala, apabila ia menghukum, dan berijtihad dan ternyata
ijtihadnya salah, maka mendapat satu pahala". (HR.
Bukhori dan Muslim) .

Dengan demikian, ijtihad merupakan salah satu alat penggali


hukum syara untuk dapat mengaplikasikan setiap hukum yang
terkandung dalam nash-nash tersebut, agar relevan dengan
permaslahan hukum yang ada di masyarakat.

b. Kedudukan hasil ijtihad


Hasil ijtihad merupakan pendapat yang bersifat zanni (dugaan
kuat). Hasil ijtihad itu mempunyai akibat hukum, baik bagi orang
yang bertanya maupun bagi mujtahidnya sendiri. Sedangkan bagi
kaum muslimin, hasil ijtihad itu tidak mengikat dan tidak
mengharuskan orang lain untuk mengikutinya. Bahkan pendapat hasil
ijtihad seseorang, tidak menghalangi orang lain untuk berijtihad dan
menghasilkan pendapat yang berbeda.
Kecuali seorang gadli atau hakim yang telah memutuskan
hukum berdasarkan ijtihadnya sendiri tidak boleh membatalkan
keputusan selama keputusan pertama tidak menyalahi nash atau dalil
qath'i. Sifat dasar ijtihad yang demikian itu, membolehkan seorang
mujtahid atau orang lain untuk meninjau ulang atau melakukan

20
ijtihad baru untuk menetapkan hukum baru.

4. Syarat-syarat mujtahid
Seseorang diperbolehkan melakukan ijtihad bila syarat-syarat
ijtihad dipenuhi. Syarat-syarat tersebut terbagi menjadi tiga, yaitu :
a. Syarat umum
1) Beriman
2) Mukallaf
3) Memahami masalah
b. Syarat khusus
1) Mengetahui ayat-ayat Al-Quran yang berhubungan dengan
masalah yang dianalisis, dalam hal ini ayat-ayat ahkam, termasuk
asbabul nuzul, musytarak, dan sebagainya.
2) Mengetahui sunnah-sunnah Nabi yang berkaitan dengan masalah
yang dianalisis, mengetahui asbabul wurud, dan dapat
mengemukakan hadit-hadits dari berbagai kitab hadits seperti
Shahih Bukhori, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud dan lain-lain.
3) Mengetahui maksud dan rahasia hukum islam, yaitu kemaslahatan
hidup manusia di dunia dan akhirat.
4) Mengetahui kaidah-kaidah kulliyah, yaitu kaidah-kaidah yang
diistinbathkan dari dalil-dalil syara.
5) Mengetahui kaidah-kaidah Bahasa Arab, yaitu nahwu, sharaf,
balaghah, dan sebagainya.
6) Mengetahui ilmu ushul fiqih, yang meliputi dalil-dalil syarI dan
cara-cara mengistinbathkan hukum.
7) Mengetahui ilmu mantiq.
8) Mengetahui penetapan hukum asal berdasarkan barah ashliyah.
9) Mengetahui soal-soal ijma, sehingga hukum yang ditetapkan
tidak bertentangan dengan ijma.
c. Syarat pelengkap
1) Mengetahui bahwa tidak ada dalil qathI yang berkaitan dengan
masalah yang akan ditetapkan hukumnya.
2) Mengetahui masalah-masalah yang diperselisihkan oleh para
ulamadan yang akan mereka sepakati.
3) Mengetahui bahwa hasil ijtihad itu tidak bersifat mutlak.
5. Tingkatan-tingkatan mujtahid
Tingkatan ini sangat bergantung pada kemampuan, minat dan
aktivitas yang ada pada mujtahid itu sendiri. Secara umum tingkatan
mujtahid ini dapat dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu :

21
a. Mujtahid Muthlaq atau Mustaqil, yaitu seorang mujtahid yang
telah memenuhi persyaratan ijtihad secara sempurna dan ia melakukan
ijtihad dalam berbagai hukum syara, dengan tanpa terikat kepada
madzhab apa pun. Seperti madzahibul arba ( Imam Hanafi, Syafii,
Maliki, dan Ahmad bin Hambal ).
b. Mujtahid Muntasib, yaitu mujtahid yang memiliki syarat-syarat
ijtihad secara sempurna, tetapi dalam melakukan ijtihad dia
menggabungkan diri kepada suatu madzhab dengan mengikuti jalan
yang ditempuh oleh madzhab itu. Sekalipun demikian, pendapatnya
tidak mesti sama dengan pendapat imam madzhab tersebut.
c. Mujtahid Fil Mazhabih, yaitu mujtahid yang dalam melakukan
ijtihad ia mengambil metode yang digunakan oleh Imam Mazhab
tertetu dan ia juga mengikuti Imam Mazhab dalam masalah furu'.
Terhadap masalah-masalah yang belum ditetapkan hukumnya oleh
Imam Mazhabnya, terkadang ia melakukan ijtihad sendiri.
d. Mujtahid Murajjih, atau dalam istilah lain orang yang mentarjih,
yaitu mujtahid yang dalam menggali dan menetapkan hukum suatu
perkara didasarkan kepada hasil tarjih (memilih yang lebih kuat) dari
pendapat imam-imam mazhabannya tentunya dengan mengambil
dasar hukum yang lebih kuat.

6. Penerapan hasil ijtihad


Pada garis besarnya ayat-ayat Al-Qur'an dapat dibedakan atas
Ayat Muhkamat dan Ayat Mutasyabihat. Ayat Muhkamat adalah ayat
yang sudah jelas dan terang maksudnya hukum yang dikandungnya
sehingga tidak memerlukan penafsiran atau interpretasi. Pada umumnya
ayat muhkamat ini bersifat perintah seperti perintah menegakkan sholat,
puasa, menunaikan zakat, ibadah haji. Sedangkan Ayat Mutasyabihat
adalah ayat yang memerlukan penafsiran lebih lanjut walaupun dalam
bunyinya sudah jelas mempunyai arti, seperti ayat-ayat mengenai gejala-
gejala alam yang terjadi setiap hari. Dengan ayat-ayat mutasyabihat
mengisyaratkan kepada kita bahwa Al-Qur'an mergajarkan kepada
manusia mempergunakan akalnya, mengamati dengan benar, harus

22
berpikir dan bertanya secara tuntas tentang segala sesuatu yang
diamatinya.
Demikian juga dalam Al-qur'an dijumpai dalil-dalil yang bersifat
Qoth'i dan dzonni. Dalil Qothi adalah dalil yang sudah jelas hukumnya
dan tidak diperlukan penafsiran. Sedangkan Dalil dzonni adalah belum
jelas hukumnya untuk itu dibutuhkan penjelasan dan penafsiran, hal
demikian bermuara untuk menggunakan akal untuk memecahkannya dan
yang tidak kalah penting munculnya peristiwa baru yang sebelumnya
belum pernah terjadi dan membutuhkan status hukum. Misalnya :
Bagaimana hukumnya bayi tabung, cangkok mata, cloning manusia,
donor Darah dll.

Dasar menggunakan akal untuk menetapkan hukum adalah :


1. Ketetapan Al-Qur'an mengenai landasan musyawarah dalam
menetapkan sesuatu:
Firman Allah SWT :

Artinya : ". ... Sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan


musyawarah antara mereka (As-Syura : 38).

2. Allah memerintahkan dalam Al-Qur'an untuk mengembalikan segala


pertentangan dan silang pendapat kepada ulil amri, yaitu orang-orang
yang memiliki tingkat pemahaman syariah yang tinggi dan
menguasai tata cara menetapkan hukum.
3. Adanya ketegasan Nabi kepada para sahabatnya agar berijtihad dan
merumuskan ketetapan hukum melalui pemikiran dalam masalah
yang tidak terdapat hukumnya dalam Al-Qur'an maupun as-sunnah.
Seperti dalam hadits saat terjadi dialog antara nabi dengan Mu'adz
bin jabal cukup memperkuat mengenai kedudukan akal itu.

23
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT
dengan selesainya makalah Sumber Hukum dan Ajaran Islam ini, kami
menyimpulkan bahwasumber hukum Islam adalah segala sesuatu yang
dijadikan dasar, acuan, atau pedoman syariat Islam, dimana Sumber ajaran
Islam dirumuskan dengan jelas dalam percakapan Nabi Muhammad dengan
sahabat beliau Muaz bin Jabal, yakni terdiri dari tiga sumber yaitu Al-
Quran, As-Sunnah dan Ar-Rayu (akal pikiran manusia yang memenuhi
syarat untuk berijtihad), dan merupakan satu rangkaian kesatuan dengan
urutan yang tidak boleh dibalik.

3.2 Saran
Untuk menyempurnakan makalah ini, kami berharap bagi para
pembaca untuk tidak segan-segan memberikan saran dan kritikan yang
sifatnya membangun dan berguna, agar makalah ini bisa mencapai
kesempurnaan pada penyusunan selanjutnya. Sebelum dan sesudahnya
penyusun mengucapkan terima kasih.

24
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Dr. H. Sulaiman, Sumber Hukum Islam Permasalahn dan


Fleksibilitasnya, Jakarta, Sinar Grafika, 1995.

Abdul Wahhab Khallaf, Kaidah-kaidah Hukum Islam, Arrisalah, Bandung, 1985

Acara Peradilan Agama dan Zakat Menurut Hukum Islam, Jakarta, Sinar Grafika,
1995

A.Hanafi, Ushul Fiqih, Bumirestu, Jakarta, 1981

A.Syafii Karim, Ushul Fiqih, Pustaka Setia, Bandung, 2006

Dedi Supriyadi, Perbandingan Fiqih Syiyasah, Pustaka Setia, Bandung, 2007

Dedi Supriyadi, Perbandingan Mazhab dengan Pendekatan Baru, Pustaka Setia,


Bandung, 2008

Idris Ramulyo, Mohammad, Hukum Perkawinan, Hukum Kewarisan, Hukum

Mahrus Asad dkk, Memahami Fiqih Kelas III Madrasah Aliyah, Armico,
Bandung, 2006

Muzilanto dkk, Modul Fiqih Kelas XII Madrasah Aliyah, Akik Pusaka, Solo, 2009

25
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..........................................................................1
BAB II SUMBER HUKUM ISLAM YANG DISEPAKATI PARA ULAMA
2.1 Al-Quran................................................................................... 2
2.2 Al- Hadits................................................................................... 4
2.3 Ijma'......................................................................................... 11
2.4 Qiyas....................................................................................... 14
2.5 Fungsi Hukum Islam................................................................18
2.6 Ijtihad dalam hukum Islam......................................................19
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.............................................................................. 25
3.2 Saran....................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA

26
KATA PENGANTAR
ii

Dengan kebesaran allah swt. yang maha pengasih lagi maha penyayang,
penulis panjatkan rasa puji syukur atas hidayah-nya, yang telah melimpahkan
rahmat, nikmat, dan inayah-nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Makalah Al-Quran dan As-Sunnah .
Adapun Makalah Al-Quran dan As-Sunnah ini telah penulis usahakan
dapat disusun dengan sebaik mungkin dengan mendapat bantuan dari berbagai
pihak, sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan secara tepat waktu.
untuk itu penulis tidak lupa untuk menyampaikan banyak terimakasih kepada
semua pihak yang telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini.
Terlepas dari upaya penulis untuk menyusun makalah ini dengan sebaik-
baiknya, penulis tetap menyadari bahwa tentunya selalu ada kekurangan, baik dari
segi penggunaan kosa-kata, tata bahasa maupun kekurangan-kekurangan lainnya.
oleh karena itu, dengan lapang dada penulis membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang bermaksud untuk memberikan kritik dan saran kepada penulis agar
penulis dapat memperbaiki kualitas makalah ini.

27
Penulis berharap semoga Makalah Al-Quran dan As-Sunnah ini
bermanfaat, dan pelajaran-pelajaran yang tertuang dalam makalah ini dapat
diambil hikmah dan manfaatnya oleh para pembaca.

Pariaman, Oktober 2016

Penulis

28