Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH AGAMA

TENTANG
DONOR MATA

Oleh:
AYU SULASTRI

Dosen Pembimbing :
Virgo Vicnori, M.Ag

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES PIALA SAKTI
PARIAMAN
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Islam merupakan agama penyempurna dari agama-agama lain. Islam
juga tidak pernah memberatkan umatnya dalam hal apapun, begitu pula dalam
hal kesehatan Di dalam kesehatan kita mengenal berbagai macam penyakit,
dalam Al-Quran setiap penyakit pasti ada obat/penyembuhannya. Namun,
tidak semua yg dapat menyembuhkan berwujud seperti obat, terkadang kita
harus melakukan penyembuhan dengan hal lain selain obat, misalnya
mendonor. Di Indonesia mendonor sudah dikenal, apalagi mendonorkan
darah. Namun untuk pendonoran berupa organ tubuh masih sangat asing
terdengar di Indonesia. Begitupula dengan pendonoran mata masih sangat
asing dan belum banyak yang melakukan pendonoran ini. Dalam pandangan
islam juga belum diketahui apa hukumnya melkukan pendonoran mata.

1.2 Permasalahan
1. Apa pengertian donor mata?
2. Bagaimana hukum donor mata dalam islam?
3. Bagaimana fatwa MUI tentang donor mata?

1.3 Tujuan
Penulisan karya tulis ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui pengertian donor mata
2. Untuk mengetahui hukum pendonoran mata dalam pandangan agama
islam
3. Untuk mengetahui fatwa MUI tentang donor mata

1.4 Manfaat
Penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk menyelesaikan tugas pada pelajaran Agama Islam

2. Sebagai bahan dalam memberikan sumbangan pengetahuan pada teman-


teman mahasiswa tentang pengertian donor mata

3. Sebagai bahan dalam memberikan sumbangan pengetahuan tentang


hukum pendonoran mata dalam pandangan agama islam

1
4. Sebagai bahan dalam memberikan pengetahuan kepada teman-teman
mahasiswa tentan fatwa MUI mengenai donor mata

1.5 Sistematika Penulisan

Judul

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Permasalahan

1.3 Tujuan Penulisan

1.4 Manfaat Penulisan

1.5 Sistematika penulisan

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian donor mata

2.2 Hukum donor mata dalam agama islam

2.3 Fatwa MUI tentang donor mata

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

3.3 Daftar Pustaka

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Donor Mata


Pengertian donor menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
pemberi sumbangan. Mata mnurut Kamus Saku Kedokteran adalah alat tepi
indera penglihatan untuk menerima cahaya dengan panjang gelombang 400-
700 milimikron yang melalui kornea, bilik mata depan, pupil, bilik mata
belakang, lensa, badan bening sampai retina. Disini energi cahaya diubah
menjadi rangsang sara fyang kemudian disalurkan melalui saraf mata ke pusat
penglihatan di lobus oksipitalis otak besar. Dengan, demikian pengertian
Donor mata secara umum merupakan pemberian kornea mata kepada orang
yang membutuhkannya (resipien). Kornea mata tersebut umumnya diambil
dari mayat lalu ditransplantasikan (dicangkokkan) kepada resipien.
Pengangkatan kornea mata mayat harus dilaksanakan kurang dari 6 jam sejak
donor dinyatakan meninggal, dan dalam waktu 24 jam sudah harus
dicangkokkan ke resipien. Meski umumnya diambil dari mayat,
dimungkinkan pula kornea mata diambil dari donor yang masih hidup. (Yusuf
bin Abdullah al-Ahmad, Ahkam Naql Adha` al-Insan fi a-Fiqh al-
Islami, Riyadh : 1425 H.

3
2.2 Hukum Donor Mata Dalam Islam
Allah Swt. menurunkan ajaran dien Al-Islam ke dunia untuk menjadi
rahmat bagi semua makhlukNya. Dengan mengkaji sumber-sumber khazanah
Islam (Al-Quran dan Sunnah Nabi), maka kita akan menemukan ajaran
hidup yang sarat pesan untuk dapat hidup bahagia, sejahtera, sehat lahir dan
batin sebagai kontribusi Islam kepada kehidupan manusia dan manivestasi
kerahmatan nya yang universal. Islam disamping memperhatikan kesehatan
rohani sebagai jembatan menuju ketenteraman hidup duniawi dan
keselamatan ukhrawi, ia juga sangat menekankan pentingnya kesehatan
jasmani sebagai nikmat Allah yang sangat mahal untuk dapat hidup aktual
secara optimal. Sebab kesehatan jasmani disamping menjadi faktor
pendukung dalam terwujudnya kesehatan rohani, juga sebagai modal
kebahagiaan lahiriah. Keduanya saling terkait dan melengkapi tidak bisa
dipisahkan bagai dua sisi mata uang.
Islam sangat memuliakan ilmu kesehatan dan kedokteran sebagai
perawat kehidupan dan misi kemanusiaan dengan izin Allah swt. Bahkan Ia
memerintahkan kita semua sebagai fardhu 'ain (kewajiban individual) untuk
mempelajarinya secara global dan mengenali sisi biologis diri kita sebagai
media peningkatan iman untuk semakin mengenal Allah Al-Khaliq disamping
sebagai kebutuhan setiap individu dalam menyelamatkan dan menjaga
hidupnya.
Firman Allah swt. yang artinya : "Dan di bumi terdapat tanda-tanda
kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin. Dan juga pada dirimu
sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan.?" QS. Ad-Dzariyat ( 51) :
20, 21.)
Sabda Nabi saw.: "Berobatlah wahai hamba Allah! karena
sesungguhnya Allah tidak menciptakan penyakit melainkan Ia telah
menciptakan pula obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu tua." (HR. Ahmad,
Abu Dawud dan Tirmidzi).
Islam juga menetapkan fardhu kifayah (kewajiban kolektif) dan
menggalakkan adanya ahli-ahli di bidang kedokteran dan memandang
kedokteran sebagai ilmu yang sangat mulia. Imam Syafi'i berkata: "Aku tidak

4
tahu suatu ilmu setelah masalah halal dan haram (Fiqih/syariah) yang lebih
mulia dari ilmu kedokteran." (Al-Baghdadi, Atthib minal kitab was sunnah
hal :187).
Hukum syari yang rajih (kuat) dalam masalah ini menurut kami
sebagai berikut : jika donor mata berasal pendonor hidup hukumnya mubah.
Jika dari mayat hukumnya haram.
Bolehnya donor mata dari orang hidup, dikarenakan ada dalil syari
yang menetapkan hak milik organ tubuh dan tiadanya risiko kematian donor
mata. Syaikh Abdul Qadim Zallum menyatakan boleh secara syari seseorang
yang masih hidup mendonorkan satu atau lebih organ tubuhnya kepada orang
lain secara sukarela, karena adanya hak milik orang itu atas organ tubuhnya,
dengan syarat tidak mengakibatkan kematian pendonor.
Menurut Syaikh Abdul Qadim Zallum kalau seseorang matanya
tercongkel akibat perbuatan orang lain, dia berhak mengambil diyat (tebusan)
atau memaafkan orang itu. Jika memaafkan, berarti dia menyumbangkan
diyat, yang artinya dia mempunyai hak milik atas diyat. Adanya hak milik
atas diyat, artinya ada hak milik atas organ tubuh yang disumbangkan dalam
bentuk diyat.
Ringkasnya, bolehnya memaaafkan artinya adalah penetapan hak
milik organ tubuh. Dalam hal ini telah terdapat nash-nash yang membolehkan
memberikan maaf dalam qishash (QS Al-Baqarah : 178) dan berbagai diyat.
Sabda Nabi SAW: Barangsapa tertimpa musibah pembunuhan atau
penganiayaan fisik, dia berhak memilih salah satu dari tiga pilihan;
menuntut qishash, mengambil diyat, atau memaafkan. (HR Ahmad, Abu
Dawud, dan Ibnu Majah).
Adapun jika donor mata berasal dari mayat, hukumnya haram.
Alasannya ada 2 (dua):
Pertama, ketika seseorang meninggal, hilanglah hak miliknya atas apa
pun, baik hartanya, tubuhnya, atau isterinya. Buktinya, hartanya wajib
diwariskan, tubuhnya wajib dikuburkan, dan isterinya wajib menjalani masa
iddah. Maka orang yang meninggal tidak boleh lagi melakukan tasharruf
(perbuatan hukum) atas tubuhnya, misalnya mendonorkan atau berwasiat

5
kepada ahli warisnya mendonorkan organ tubuhnya. Wasiat ini tidak sah,
karena merupakan wasiat atas sesuatu yang tidak lagi dimiliki. Kaidah fiqih
menyatakan : Man laa yamliku at-tasharrufa laa yamliku al-idzin
fiihi. (Barangsiapa tidak berhak melakukan tasharruf, tidak berhak pula
memberikan izin melakukan tasharruf). (Az-Zarkasyi, al-Mantsur fi al-
Qawaid, 3/211; M. Shidqi al-Burnu, Mausuah al-Qawaid al-Fiqhiyah,
11/1081
Kedua, mayat mempunyai kehormatan yang wajib dijaga. Yaitu tidak
boleh dianiaya misalnya dicincang, dicongkel matanya, dipenggal kehernya,
dan sebagainya. Sabda Nabi SAW: Memecahkan tulang mu`min yang sudah
mati, sama dengan memecahkannya saat dia hidup. (HR Ahmad, Malik, dan
Ad-Daruquthni).

2.3 Fatwa Mui Tentang Donor Mata


Fatwa MUI Tentang Pencangkokan Organ Tubuh : Majelis Ulama
Indonesia memperbolehkan pencangkokan organ tubuh melalui hibah, wasiat
dengan meminta atau tanpa imbalan atau melalui bank organ tubuh.
Hal itu terdapat dalam fatwa MUI yang disahkan dalam rapat pleno
Musyawarah Nasional (Munas) VIII MUI yang dibacakan Sekretaris Komisi
C tentang fatwa, Asrorun Ni`am Sholeh Transplantasi boleh dilakukan
dengan persyaratan. MUI juga memperbolehkan donor organ tubuh dari
orang meninggal dengan syarat kematiannya disaksikan dua dokter ahli.
Namun, fatwa MUI mengharamkan jual beli organ tubuh.

2.4 Deskripsi Masalah


Masalah besar yang terjadi di Indonesia adalah
kekurangan semua organ tubuh untuk transplantasi. Adanya
perbedaan yang cukup besar antara permintaan dan
penyediaan organ tubuh, menyebabkan banyaknya kasus
waiting list buat resipien untuk menunggu donor, sehingga
perlu dipikirkan tentang legalitas secara hukum, politik dan
agama serta secara etis agar mendapat jalan keluar yang
terbaik dalam proses transplantasi ini.

6
Salah satu contoh kasus transplasi di Indonesia CLIFF
Yehezkiel Mambo, begitu nama lengkap anak lelaki ini,
akhirnya tersenyum bahagia. Setelah lama bibir itu menahan
sakit akibat penyakit gagal ginjal kronis stadium lima, derita
itu pun akhirnya sirna usai menjalani operasi transplantasi
ginjal. Hal ini seperti dijelaskan oleh ibundanya Serli Katili dan
James Mambo. Ini adalah anugerah yang luar biasa Cliff bisa
sembuh setelah cuci darah selama tiga tahun sambil
menahan rasa sakit.
Awal diagnosis Cliff, kami sangat terpukul dan tidak
menerima kondisi ini. Apalagi saat mendengar ginjal dari Cliff
tinggal 25 persen. Hingga kami langsung memutuskan pergi
ke salah satu daerah bagian Malaysia memastikan
diagnosanya. Kami melakukan ini karena kasus yang terjadi
pada Cliff jarang terjadi di Indonesia, kata Serli Katili Ibunda
Cliff F. Mambo dalam acara yang bertemakan Sukses
Transplantasi Ginjal Anak Pertama di Indonesia Lt. 6
auditorium RS. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Senin, 15
April 2013.
Diceritakannya, setelah berbagai kendala dan
pertimbangan akhirnya mereka memutusukan pindah ke
Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM. Alasannya, karena
mengetahui pihak rumah sakit menyanggupi operasi
transplantasi ginjal pada anak-anak. Meskipun, operasi ini
sangat berisiko mengingat operasi transplantasi ginjal pada
anak ialah pertama kali di Indonesia, namun mereka tetap
optimis menempuh cara tersebut.
Ia mengisahkan bahwa kesulitan mencari donor ginjal
yang pas selama dua tahun lebih juga menjadi kendala yang
dilaluinya. Meski demikian, ia tak gentar berjuang untuk
anaknya. Baginya, ini bukan tentang lama menunggunya,
tapi tidak kuatnya mendengar keluhan anaknya kian hari
mendorong dirinya mencari pengobatan terbaik. Makanya

7
saat mendapatkan donor yang pas mereka sangat senang
sekali. Hingga akhirnya, operasi pada 13 maret 2013
dilakukan membuat kesehatan anaknya membaik.
Kami sangat berterima kasih kepada pihak RSCM,
khususnya tim dokter yang telah mengembalikan kesehatan
dan keceriaan anak kami. Keluhan yang ia rasakan perlahan
hilang, apalagi melihat Cliff bisa makan apa saja sekarang.
Cliff senang sekali, tutupnya.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan dapat disimpulkan
sebagai berikut : Islam sangat memuliakan ilmu kesehatan dan kedokteran
sebagai perawat kehidupan dan misi kemanusiaan dengan izin Allah SWT.
Bahkan ia memerintahkan kita semua sebagai fardhu ain untuk
mempelajarinya secara global dan mengenali sisi biologis diri kita sebagai
media peningkatan iman untuk semakin mengenal Allah SWT Al-Khaliq
disamping sebagai kebutuhan setiap individu dalam menyelamatkan dan
menjaga hidupnya. Donor mata berasal dari pendonor hidup hukumnya
mubah, tetapi jika donor berasal dari mayat hukumnya haram.

8
3.2 Saran
1. Masyarakat harus lebih peduli tentang kesehatan, terutama kesehatan
mata.
2. Masyarakat harus mempertimbangkan hukum-hukum donor mata dalam
agama islam.
3. Jika sampai terjadi pendonoran, masyarakat harus lebih teliti dalam
memilih donor mata yang cocok dan sesuai.
4. Sebaiknya menerima pendonor dari pendonor yang masih hidup bukan
yang sudah mati.

DAFTAR PUSTAKA

Yandi. 10 Juni 2010. Hukum Donor Mata. E-mail kepada Muhammad ShiddiqAl-
Jawi.

Cahyono, Aris Danu. 2010. MUI: Tranplantasi Organ Tubuh Boleh, Asal...
(online). http://www.inilah.com/read/detail/694251/mui-tranplantasi-
organtubuh-boleh-asal/. Diakses 28 Juli 2010

9
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...............................................................................
1.2 Permasalahan.................................................................................
1.3 Tujuan.........................................................................................
1.4 Manfaat........................................................................................
1.5 Sistematika Penulisan.......................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Donor Mata.....................................................................
2.2 Hukum Donor Mata Dalam Islam........................................................

10
2.3 Fatwa Mui Tentang Donor Mata.........................................................
2.4 Deskripsi Masalah...........................................................................
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan...................................................................................
3.2 Saran...........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR
ii

Dengan kebesaran allah swt. yang maha pengasih lagi maha penyayang,
penulis panjatkan rasa puji syukur atas hidayah-nya, yang telah melimpahkan
rahmat, nikmat, dan inayah-nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Makalah Donor Mata.
Adapun Makalah Donor Mata ini telah penulis usahakan dapat disusun
dengan sebaik mungkin dengan mendapat bantuan dari berbagai pihak, sehingga
penyusunan makalah ini dapat diselesaikan secara tepat waktu. untuk itu penulis
tidak lupa untuk menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini.

11
Terlepas dari upaya penulis untuk menyusun makalah ini dengan sebaik-
baiknya, penulis tetap menyadari bahwa tentunya selalu ada kekurangan, baik dari
segi penggunaan kosa-kata, tata bahasa maupun kekurangan-kekurangan lainnya.
oleh karena itu, dengan lapang dada penulis membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang bermaksud untuk memberikan kritik dan saran kepada penulis agar
penulis dapat memperbaiki kualitas makalah ini.
Penulis berharap semoga Makalah Donor Mata ini bermanfaat, dan
pelajaran-pelajaran yang tertuang dalam makalah ini dapat diambil hikmah dan
manfaatnya oleh para pembaca.

Pariaman, November 2016

Penulis

12