Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH AGAMA

TENTANG
Hukum Penggunaan Alkohol

Oleh :
INGESYA NUGRAHA

Dosen Pembimbing :
Virgo Vicnori, M.Ag

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES PIALA SAKTI
PARIAMAN
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alkohol sering disebut etanol karena memang etanol yangdigunakan
sebagai bahan dasar pada minuman tersebut, bukan metanol, atau grup
alkohol lainnya. Begitu juga dengan alkohol yang digunakan dalam dunia
farmasi. Sedangkan dalam islam alkohol itu adalah haram hukumnya. Islam
melarang umatnya untuk mengkonsumsi atau menggunakan alkohol.
Di indonesia banyak produk yang menggunakan alkohol dan tidak
disadari oleh masyarakat terutama kaum muslimin. Oleh karena itu di dalam
malakah ini dibahas tentang hukum penggunaan alkohol dalam islam.

1.2 Rumusan Masalah


Apa itu alkohol?
Bagaimana efek yang terjadi bila kita mengkonsumsi alkohol?
Bagaimana hukum penggunaan alkohol dalam islam?
Apa bedanya alkohol dan khamr?
Bagaimana penggunaan alkohol di Indonesia?
Bagaimana pandangan ilmu piqih tentang obat beralkohol?

1.3 Tujuan Penulisan


Untuk menjelaskan bagaimana hukum penggunaan alkohol dalam
islam
Untuk mengidentifikasi perbedaan antara alkohol dan khamr
Untuk mengetahui bagaimana penggunaan alkohol di Indonesia
Untuk mengetahui bagaimana pandangan ilmu piqih tentang obat
beralkohol

BAB II
PEMBAHASAN

1
2.1 Pengertian Alkohol
Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yang juga disebut grain
alcohol dan kadang untuk minuman yang mengandung alkohol. Hal ini
disebabkan karena memang etanol yang digunakan sebagai bahan dasar pada
minuman tersebut, bukan metanol, atau grup alkohol lainnya. Begitu juga
dengan alkohol yang digunakan dalam dunia famasi. Alkohol yang
dimaksudkan adalah etanol. Sebenarnya alkohol dalam ilmu kimia memiliki
pengertian yang lebih luas lagi. Dalam kimia, alkohol (atau alkanol) adalah
istilah yang umum untuk senyawa organik apa pun yang memiliki gugus
hidroksil (-OH ) yang terikat pada atom karbon, yang ia sendiri terikat pada
atom hidrogen dan atau atom karbon lain.

2.2 Efek Mengkonsumsi Alkohol


Bila dikonsumsi berlebihan, minuman beralkohol dapat menimbulkan
efek samping ganggguan mental organik (GMO), yaitu gangguan dalam
fungsi berpikir, merasakan, dan berprilaku. Timbulnya GMO itu disebabkan
reaksi langsung alkohol pada sel-sel saraf pusat. Karena sifat adiktif alkohol
itu, orang yang meminumnya lama-kelamaan tanpa sadar akan menambah
takaran/dosis sampai pada dosis keracunan atau mabuk.
Mereka yang terkena GMO biasanya mengalami perubahan perilaku,
seperti misalnya ingin berkelahi atau melakukan tindakan kekerasan lainnya,
tidak mampu menilai realitas, terganggu fungsi sosialnya, dan terganggu
pekerjaannya. Perubahan fisiologis juga terjadi, seperti cara berjalan yang
tidak mantap, muka merah, atau mata juling. Perubahan psikologis yang
dialami oleh konsumen misalnya mudah tersinggung, bicara ngawur, atau
kehilangan konsentrasi.
Efek samping terlalu banyak minuman beralkohol juga menumpulkan
sistem kekebalan tubuh. Alkoholik kronis membuat jauh lebih rentan terhadap
virus termasuk HIV.
Mereka yang sudah ketagihan biasanya mengalami suatu gejala yang
disebut sindrom putus alkohol, yaitu rasa takut diberhentikan minum alkohol.
Mereka akan sering gemetar dan jantung berdebar-debar, cemas, gelisah,
murung, dan banyak berhalusinasi.

2
2.3 Hukum Alkohol Dalam Islam
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memberi suatu
ketentuan umum dalam sabdanya,

Tiap sesuatu yang memabukkan adalah khamar dan tiap sesuatu yang
memabukkan adalah haram. Dalam hadits lain, Nabi shallallahu alaihi wa
sallam menyatakan,

Segala sesuatu yang memabukkan (bila) banyak, (juga) adalah haram (bila)
sedikit.
Dua hadits di atas menjelaskan bahwa makanan atau minuman yang
memabukkan adalah haram. Bila telah mencapai kadar memabukkan, suatu
makanan atau minuman tidak boleh dikonsumsi atau dimanfaatkan oleh
siapapun, walaupun sedikit. Namun, bila suatu makanan atau minuman tidak
memabukkan saat dikonsumsi dalam jumlah banyak, hal tersebut tidaklah
mengapa.
Oleh karena itu, mengukur kehalalan mengkonsumsi suatu makanan
adalah dengan cara meneliti sebagai berikut.

Apabila memabukkan bila dikonsumsi, makanan tersebut tidak boleh


dikonsumsi karena tergolong sebagai khamar yang diharamkan.

Apabila sama sekali tidak memabukkan bila dikonsumsi dalam jumlah


banyak, makanan tersebut boleh dan halal dikonsumsi, walaupun
mengandung sedikit kadar alkohol.

Al-Lajnah Ad-Da`imah, yang Syaikh Ibnu Baz rahimahullah ketuai,


pernah ditanya tentang hukum mengonsumsi cuka yang mengandung kadar
alkohol sebanyak 6%. Setelah menyebutkan hadits kedua di atas, mereka
menjawab, Apabila cuka tersebut memabukkan (jika dikonsumsi) dengan
(kadar) yang banyak, (mengonsumsinya dengan kadar) yang sedikit (juga)
adalah haram, dan hukumnya adalah hukum khamar. (Adapun) kalau tidak

3
memabukkan jika dikonsumsi dalam (kadar) yang banyak, tidak ada larangan
dalam hal menjual, membeli, dan meminumnya.

2.4 Bedanya Alkohol Dengan Khomr


Sebagaimana telah diketahui bahwa fungsi alkohol dalam obat
semacam obat batuk adalah sebagai solvent (pelarut). Oleh karenanya,
sebagaimana penjelesan kami yang telah lewat mengenai alkohol, mohon
alkohol yang bertindak sebagai solvent (pelarut) ini dibedakan baik-baik
dengan alkohol pada khomr. Karena kedua alkohol ini berbeda.
Perlu kita ketahui terlebih dahulu, khomr adalah segala sesuatu yang
memabukkan. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

Setiap yang memabukkan adalah khomr. Setiap yang memabukkan


pastilah haram.

Yang jadi illah (sebab) pengharaman khomr adalah karena memabukkan.


Khomr diharamkan karena illah (sebab pelarangan) yang ada di dalamnya yaitu
karena memabukkan. Jika illah tersebut hilang, maka pengharamannya pun hilang.
Karena sesuai kaedah al hukmu yaduuru maa illatihi wujudan wa adaman
(hukum itu ada dilihat dari ada atau tidak adanya illah). Illah dalam pengharaman
khomr adalah memabukkan dan illah ini berasal dari Al Quran, As Sunnah dan
ijma (kesepakatan ulama kaum muslimin).
Inilah sebab pengharaman khomr yaitu karena memabukkan. Oleh
karenanya, tidak tepat jika dikatakan bahwa khomr itu diharamkan karena
alkohol yang terkandung di dalamnya. Walaupun kami akui bahwa yang jadi
patokan dalam menilai keras atau tidaknya minuman keras adalah karena
alkohol di dalamnya. Namun ingat, alkohol bukan satu-satunya zat yang
dapat menimbulkan efek memabukkan, masih ada zat lainnya dalam
minuman keras yang juga sifatnya sama-sama toksik (beracun). Dan sekali
lagi kami katakan bahwa Al Quran dan Al Hadits sama sekali tidak pernah
mengharamkan alkohol, namun yang dilarang adalah khomr yaitu segala
sesuatu yang memabukkan.

4
Apakah Setiap Alkohol Dihukumi Haram dan Dihukumi Identik
dengan Khomr ?. Menurut Syaikh Muhammad Rosyid Ridho dalam
Fatawanya hal. 1631, yang dinukil oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al
Utsaimin. Ringkasnya, beliau rahimahullah berkata,Alkohol adalah zat yang
suci dan mensucikan. Alkohol merupakan zat yang sangat urgen dalam dunia
farmasi dan pengobatan dalam kedokteran serta pabrik-pabrik. Alkohol telah
tercampur dalam banyak obat-obatan. Pengharaman penggunaan alkohol
bagi kaum muslimin menghalangi mereka untuk bisa menjadi pakar dalam
banyak bidang ilmu dan teknologi. Hal ini malah akan menyebabkan orang-
orang kafir unggul atas kaum muslimin dalam bidang kimia, farmasi,
kedokteran, pengobatan, dan industri. Pengharaman penggunaan alkohol
bisa jadi merupakan sebab terbesar meninggalnya orang-orang yang sakit
dan yang terluka atau menyebabkan lama sembuh atau semakin parah.
Syaikh Ibnu Utsaimin lantas memberi tanggapan, Ini perkataan yang amat
bagus dari beliau rahimahullah.
Jadi alkohol yang bertindak sebagai pelarut sebenarnya tidak
memabukkan karena kadarnya yang terlalu tinggi sehingga mustahil untuk
dikonsumsi. Kalau mau dikonsumsi, maka cuma ada dua kemungkinan yaitu
sakit perut, atau bahkan mati. Sehingga alkohol pelarut bukanlah khomr,
namun termasuk zat berbahaya jika dikonsumsi sebagaimana layaknya
Baygon. Jadi yang tepat kita katakan bahwa alkohol disebut khomr jika
memabukkan dan tidak disebut khomr jika tidak memabukkan.

2.5 Penggunaan Alkohol Di Indonesia


Alkohol di Indonesia sudah banyak digunakan dalam berbagai produk.
Misalnya obat-obatan seperti obat batuk, parfum, antiseptik,dll. Disini kita akan
membahas tentang hukum alkohol dalam obat.
Penggunaan obat-obatan yang mengandung alkohol masih banyak
diperbincangkan tentang status halal-haramnya. Hal ini dipicu oleh anggapan
bahwa alkohol sama dengan khamr (minuman keras,-red). Padahal,
kenyataannya ada beberapa perbedaan. Yang jelas, alkohol bukan satu-satunya
zat yang memabukkan. Ada banyak zat yang juga memabukkan.

5
Dalam dunia medis, alkohol digunakan sebagai antiseptik. Bahkan
alkohol merupakan jenis antiseptik yang cukup berpotensi. Cara kerjanya,
alkohol menggumpalkan protein, struktur penting sel yang ada pada kuman,
sehingga kuman mati. Begitu juga Povidon Iodin (Betadine) yang kadang
dicampur dengan solusi alkohol, biasanya digunakan antuk pembersih kulit
sebelum tindakan operasi. Selain itu, alkohol sering digunakan juga sebagai obat
kompres penurun panas atau untuk campuran obat batuk.

1. Menggunakan Obat yang Tercampur Dengan Alkohol

Pada dasarnya segala bentuk pengobatan dibolehkan, kecuali jika


mengandung hal-hal yang najis atau yang diharamkan syariah. Untuk
obat-obatan yang mengandung alkohol, selama kandungannya tidak
banyak serta tidak memabukkan, maka hukumnya boleh. Adapun dasar
dari penetapan hukum ini adalah sebagai berikut:
Pertama, bahwa yang menjadi 'illah (alasan) pengharaman khamr
adalah karena memabukkan. Jika faktor ini hilang, haramnya pun hilang.
Ini sesuai dengan kaidah Ushul fiqih,

"Hukum itu mengikuti keberadaan 'illah (alasannya). Jika ada


'illahnya, hukum itu ada. Jika 'illah tidak ada maka hukumnya pun tidak
ada."
Kedua, unsur alkohol dalam obat tersebut sudah hancur menjadi
satu dengan materi lain, sehingga ciri fisiknya menjadi hilang secara
nyata. Para ulama menyebutnya dengan istilah Istihlak, yaitu
bercampurnya benda najis atau haram dengan benda lainnya yang suci
atau halal yang jumlahnya lebih banyak sehingga menghilangkan sifat
najis dan keharaman benda yang najis tersebut.
Hal ini berdasarkan hadits Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
bahwa beliau bersabda,

6
"Jika air telah mencapai dua kullah, maka tidak mungkin
dipengaruhi kotoran (najis)." (HR. Daruquthni, Darimi, Hakim dan
Baihaqi). Hal ini sama dengan setetes air kencing bercampur dengan air
yang sangat banyak, air itu tetap suci dan menyucikan selama tidak ada
pengaruh dari air kencing tersebut.
Ketiga, dalam suatu hadits disebutkan bahwa Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

"Sesuatu yang apabila banyaknya memabukkan, maka meminum


sedikit darinya dinilai haram." (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud,
Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Maksud dari hadits tersebut adalah apabila
sesuatu yang jika diminum dalam jumlah banyak bisa memabukkan, maka
sesuatu tersebut haram walaupun dikonsumsi dalam jumlah sedikit.
Seperti khamr jika diminum dalam jumlah yang banyak akan
memabukkan, maka setetes khamr murni (tanpa campuran) diharamkan
untuk diminum, walaupun jumlahnya sedikit dan tidak memabukkan.
Lain halnya dengan air dalam satu bejana dan diberi setetes khamr
yang tidak mempengaruhi air tersebut, baik dari segi warna, rasa, maupun
sifat, dan dia tidak memabukkan, maka minum air yang ada campuran
setetes khamr itu dibolehkan. Adapun perbedaan antara keduanya: Setetes
khamr yang pertama haram karena murni khamr; dan seseorang jika
mengonsumsi setetes khamr tersebut dikatakan dia minum khamr. Adapun
setetes khamr kedua adalah tidak haram, karena sudah dicampur dengan
zat lain yang suci dan halal. Dan seseorang jika meminum air dalam
bejana yang ada campuran setetes khamr, akan dikatakan dia meminum
air dari bejana dan tidak dikatakan dia minum khamr dari bejana. Hukum
ini berlaku bagi obat yang ada campuran dengan alkohol.
Keempat, bahwa alkohol tidaklah identik dengan khamr. Tidak
setiap khamr itu alkohol, karena ada zat-zat lain yang memabukkan selain
alkohol. Begitu juga sebaliknya, tidak setiap alkohol itu khamr. Menurut
sebagian kalangan bahwa jenis alkohol yang bisa memabukkan adalah

7
jenis etil atau etanol. Begitu juga khamr yang diharamkan pada zaman
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallan bukanlah alkohol, tapi jenis lain.
Kelima, menurut sebagian ulama bahwa khamr tidaklah najis
secara lahir, tapi najis secara maknawi. Artinya, bukanlah termasuk
benda najis seperti benda-benda lainnya secara umum. Sehingga alkohol
boleh dipakai untuk pengobatan luar.
Keenam, suatu minuman atau makanan dikatakan memabukkan jika
memenuhi dua kriteria: Pertama, minuman atau makanan tersebut
menghilangkan atau menutupi akal. Kedua, yang meminum atau
memakannya merasakan 'nikmat' ketika mengonsumsi makanan atau
minuman tersebut, bahkan menikmatinya serta merasakan senang dan
gembira yang tiada taranya. Banyak orang sering menyebutnya dengan "fly",
seakan-akan dia sedang terbang jauh di angkasa luar, makanya kegembiraan
akibat mabuk ini tidak terkontrol. Dan sering kita dapatkan orang yang
mabuk tidak karuan ketika berbicara, dan dia sendiri tidak menyadari yang
dia katakan. Hal dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu orang
yang sangat gembira, kadang hilang kontrolnya, sehingga berbicara dengan
hal-hal yang mungkin kalau dia sadar tentu tidak akan mengatakannya.
Adapun obat bius tidaklah demikian, karena yang memakainya
tidaklah menikmatinya dan tidak merasakan senang dengan obat bius
tersebut. Demikian juga obat bius ini menjadikan orang tidak sadar alias
pingsan. Kalau khamr yang memabukkan tidaklah menjadikiannya
pingsan tapi justru dia menikmatinya, sehingga menjadikannya terus
menerus ketagihan terhadap minuman tersebut. (Syaikh Utsaimin, Syarh
Bulughul maram, Kairo, Dar Ibnu al Jauzi, 2008, hlm: 300).
Fenomena ini pernah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wasallam ketika menceritakan seseorang yang karena terlalu
senangnya ketika dia menemukan kembali kuda dan seluruh bekalnya
sehingga dia mengucapkan secara salah;

"Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu."


(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

8
2.6 Pandangan Ilmu Piqih Tentang Obat Beralkohol
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin menjelaskan, Adapun
beberapa obat yang menggunakan campuran alkohol, maka itu tidaklah haram
selama campuran tersebut sedikit dan tidak nampak memberikan pengaruh.
Obat yang mengandung alkohol ini dibolehkan karena adanya istihlak.
Yang dimaksud dengan istihlak adalah bercampurnya benda haram atau najis
dengan benda lainnya yang suci dan halal yang jumlahnya lebih banyak
sehingga menghilangkan sifat najis dan keharaman benda yang sebelumnya
najis, baik rasa, warna dan baunya.
Apakah benda najis yang terkalahkan oleh benda suci tersebut menjadi
suci? Pendapat yang benar adalah bisa menjadi suci.
Alasannya adalah dua dalil berikut. Hadits pertama, Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Air itu suci, tidak ada yang dapat menajiskannya.

Hadits kedua, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak mungkin dipengaruhi
kotoran (najis).
Dua hadits di atas menjelaskan bahwa apabila benda yang najis atau
haram bercampur dengan air suci yang banyak, sehingga najis tersebut lebur
tak menyisakan warna atau baunya, maka dia menjadi suci.
Jadi suatu saat air yang najis, bisa berubah menjadi suci jika bercampur
dengan air suci yang banyak. Tidak mungkin air yang najis selamanya berada
dalam keadaan najis tanpa perubahan. Tepatlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah, Siapa saja yang mau merenungkan dalil-dalil yang telah disepakati
dan memahami rahasia hukum syariat, niscaya akan jelas baginya bahwa
pendapat inilah yang lebih tepat. Sangat tidak mungkin ada air atau benda cair
yang tidak mungkin mengalami perubahan menjadi suci (tetap najis). Ini
sungguh bertentangan dengan dalil dan akal sehat.

9
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin juga mengatakan, Begitu
pula khomr apabila dia bercampur dengan zat lain yang halal dan tidak
memberikan pengaruh apa-apa, maka campuran yang ada akan tetap halal.
Di samping itu pula selain karena alasan istihlak sebagaimana
dijelaskan di atas, obat yang mengandung alkohol diperbolehkan karena illah
(sebab) seperti yang ada pada khomr tidak ada lagi, yaitu memabukkan.
Padahal hukum berputar sesuai dengan ada tidaknya illah (sebab).
Sebagian orang mungkin ada yang salah memahami hadits berikut.

Sesuatu yang apabila banyaknya memabukkan, maka meminum


sedikitnya dinilai haram. Sehingga dari sini ada sebagian yang mengatakan
bahwa dalam obat ini terdapat alkohol sekian persen, maka itu terlarang
dikonsumsi.
Kami katakan bahwa pernyataan seperti ini muncul, di antaranya
karena kurang memahami hadits di atas. Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan,
Mereka menyangka bahwa makna hadits tersebut adalah jika sedikit khomr
tercampur dengan minuman selain khomr, maka minuman tersebut menjadi
haram. Ini bukanlah makna dari hadits di atas. Namun makna hadits yang
sebenarnya adalah jika sesuatu diminum dalam jumlah banyak sudah
memabukkan, maka kalau diminum dalam jumlah sedikit tetap dinilai
haram. Sedangkan yang ada pada obat-obatan tidaklah demikian

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, bisa disimpulkan bahwa alkohol yang
digunakan untuk obat-obatan jika dipakai untuk obat luar, maka hukumnya
boleh selama hal itu membawa manfaat bagi yang berobat, dan menurut
pendapat sebagian ulama bahwa alkohol tidak najis.

10
Adapun jika dipakai untuk obat dalam dan dikonsumsi (dimakan atau
diminum), maka hukumnya dirinci terlebih dahulu: Jika obat tersebut
dimunum dalam jumlah yang banyak akan memabukkan, maka hukumnya
haram mengonsumsi obat yang mengandung alkohol tersebut. Tetapi jika
tidak memabukkan, maka hukumnya boleh.
Walau demikian dianjurkan setiap muslim untuk menghindari obat-
obatan yang beralkohol, karena berpengaruh buruk untuk kesehatan. Wallahu
A'lam.

3.2 Saran
Sebagai solusinya, kami sarankan menggunakan obat herbal, di mana
diketahui tidak membutuhkan alkohol dalam pelarutan zat-zat aktif, tetapi
dapat menggunakan air sebagai bahan pelarut. Obat batuk herbal yang berasal
dari bahan alami ini pada dasarnya tidak berbahaya, dan dari segi
kehalalannya sudah lebih dapat dibuktikan. Inilah solusi yang lebih aman.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Alkohol

http://id.wikipedia.org/wiki/Minuman_beralkohol

11
http://dzulqarnain.net/hukum-mengkonsumsi-makanan-yang-mengandung-
sedikit-alkohol.html

http://www.hi-techmall.org/soft/blog/salah-kaprah-antara-alkohol-khomr-
minuman-keras

file:///C:/Users/mery/Documents/Hukum%20Mengonsumsi%20Obat%20yang
%20Mengandung%20Alkohol.htm

file:///C:/Users/mery/Documents/2966-polemik-alkohol-dalam-obat-obatan.html

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

12
1.1 Latar Belakang............................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan............................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Alkohol..........................................................................2
2.2 Efek Mengkonsumsi Alkohol.............................................................2
2.3 Hukum Alkohol Dalam Islam.............................................................3
2.4 Bedanya Alkohol Dengan Khomr........................................................4
2.5 Penggunaan Alkohol Di Indonesia.......................................................5
2.6 Pandangan Ilmu Piqih Tentang Obat Beralkohol......................................9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................. 11
3.2 Saran......................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR
ii

Dengan kebesaran allah swt. yang maha pengasih lagi maha penyayang,
penulis panjatkan rasa puji syukur atas hidayah-nya, yang telah melimpahkan

13
rahmat, nikmat, dan inayah-nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Makalah Hukum Penggunaan Alkohol.
Adapun Makalah Hukum Penggunaan Alkohol ini telah penulis
usahakan dapat disusun dengan sebaik mungkin dengan mendapat bantuan dari
berbagai pihak, sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan secara tepat
waktu. untuk itu penulis tidak lupa untuk menyampaikan banyak terimakasih
kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini.
Terlepas dari upaya penulis untuk menyusun makalah ini dengan sebaik-
baiknya, penulis tetap menyadari bahwa tentunya selalu ada kekurangan, baik dari
segi penggunaan kosa-kata, tata bahasa maupun kekurangan-kekurangan lainnya.
oleh karena itu, dengan lapang dada penulis membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang bermaksud untuk memberikan kritik dan saran kepada penulis agar
penulis dapat memperbaiki kualitas makalah ini.
Penulis berharap semoga Makalah Hukum Penggunaan Alkohol ini
bermanfaat, dan pelajaran-pelajaran yang tertuang dalam makalah ini dapat
diambil hikmah dan manfaatnya oleh para pembaca.

Pariaman, Oktober 2016

Penulis

14