Anda di halaman 1dari 12

PROGRAM STUDI : ARSITEKTUR

KODE MATA KULIAH : TA 43217


MATA KULIAH : STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 7
JUMLAH SKS : 8 SKS

Disusun Oleh : Ir. Agustinus Sutanto, M.Arch.,MSc.,Ph.D.

1. URAIAN MATA KULIAH - SILABUS :


Mata Kuliah ini adalah mata kuliah tahun keempat - semester 7 yang berbasis pada
Studio dengan bobot 8 SKS. Mata kuliah Studio ini merupakan studio terakhir sebelum
memasuki tahap Tugas Akhir (STUPA 8) sehingga studio ini menjadi tempat muara
berbagai macam pengetahuan yang sudah didapat selama ini. Fokus dari Studio ini
adalah menyusun design scheme, mengerti posisi teori arsitektur dalam perancangan,
penyusunan dan pengaplikasian metode perancangan, kemampuan membaca ruang
kota, investigasi tapak, intervensi bentuk - ruang dan susunannya, material-tektonik,
penyusunan program, serta melihat bagaimana semuanya ini bekerja didalam desain.

Studio ini percaya bahwa prinsip kekuatan-kegunaan dan keindahan dapat menghasilkan
sebuah produk arsitektur, tetapi dengan memberikan sentuhan tambahan yang bersifat
eksperimen dan spekulasi akan membuka celah untuk menghasilkan sebuah arsitektur
baru. Menghasilkan sebuah arsitektur baru merupakan cita-cita yang dicanangkan dalam
studio ini. Berbagai ide, tema, konsep yang memiliki kedalaman berpikir merupakan cara
bagaimana studio ini bekerja.

Setiap peserta diberi kebebasan untuk bereksplorasi, mencari serta menginvestigasi


terhadap berbagai kondisi yang dihadapi sehingga menemukan konflik-konflik yang
nantinya akan menjadi peluang untuk beraksitektur. Studio ini mencoba mempertanyakan
sebuah isu terpilih dan fokus dalam analisis dan sintesis yang ketat sehingga dapat
mengajukan proposal desain yang kuat. Studio ini diharapkan menjadi semacam `agora`,
tempat dimana pengetahuan arsitektur dipertanya-jawabkan sehingga menjadi rumah
untuk pengetahuan arsitektur baru dikembangkan.

2. TUJUAN INSTRUKSIONAL :
1. Mampu mengembangkan ide-ide arsitektur yang bersifat eksperimental dan spekulasi
untuk menghasilkan arsitektur yang spesifik.
2. Ber-eksperimen dan ber-spekulasi terhadap kondisi fisik, struktur sosial dan mental
yang terjadi dalam ruang kota dan melihat bagaimana kota bertransformasi serta
menemukan peluang-peluang yang ada agar arsitektur dapat bekerja didalamnya.
3. Mengembangkan desain arsitektur yang memiliki kekompleksitasan bentuk, ruang dan
susunannya serta mampu mengeksplorasi dan melakukan uji coba sebuah isu tertentu
untuk menghasilkan ide-ide keruangan baru dalam arsitektur.
4. Menginvestigasi kebutuhan program ruang kota secara spesifik dan mengajukan
program yang memiliki efek langsung dalam kehidupan berkota.
5. Memiliki kemampuan berpikir yang terintegrasi, fokus serta komprehensif dalam
melakukan analisis dan sintesis serta memiliki kemampuan untuk menggunakan teori
dan metode perancangan sebagai alat untuk pengembangan ide-ide arsitektur.
6. Mampu menerapkan standar-standar desain berkelanjutan (sustainability) terhadap
produk arsitektur yang dihasilkan serta memberikan nilai-nilai positif bagi lingkungan
binaan yang sudah terbentuk.
3. KOMPETENSI / STANDAR PENDIDIKAN
BERBASIS KAAB
(The Korea Architectural Accrediting Board) - Canberra Accord

( No. 03 ) Awareness of leadership skills and methods in collaborative work setting in


architecture with people from various disciplines and interests.

( No. 05 ) Ability to employ appropriate media, including photographs, models etc. to


convey design process.

( No. 06 ) Ability to employ information technology in management and use of


necessary information, including presentation of images in design process.

( No. 10 ) Understanding of concurrent and retrospective relational influence of


architecture in respect to historical, social, regional, and political factors that have
shaped and sustained them.

( No. 11 ) Ability of using precedents with critical view in discussion of architecture and
utilize it in building design as well as in urban planning.

( No. 12 ) Understanding of interaction between various traditional values and


environmental factors that exists in individual or collective societal condition.

( No. 13 ) Understanding of theories and methodologies clarifying the relationship


between physical environment and human.

( No. 14 ) Understanding of principles and theories of sustainability in designing and


making of architecture and urban design decisions.

( No. 16 ) Ability of formulating architectural program on the basis of gathering and


analysis of various pertinent pieces of information.

( No. 17 ) Ability of comprehensive architectural design based on collective pieces of


information on natural, environmental factors and limitations with consideration for
sustainability.

( No. 18 ) Ability of architectural design utilizing concepts developed from systematic


analysis and assessment of conditions in various cultural, historical contexts.

( No. 20 ) Ability in assessment and selection of materials, building components,


building systems, and structure systems in integral building design..

Kampung Batik, Kebayoran Baru


4. KRITERIA PENILAIAN

A
Nilai ini didapatkan apabila mahasiswa memasukkan semua tugas yang diberikan serta
kehadiran mencapai 95 % - 100 %. Mengedepankan etos eksperimen dan spekulasi.
Seluruh Tugas yang dikumpulkan sudah dapat menjawab permintaan tugas secara tepat.
Mampu menunjukkan penguasaan materi sesuai dengan level pendidikan yang sedang
dijalankan serta memiliki kemampuan yang mendalam pada penguasaan teori arsitektur,
metode, representasi gambar serta hasil olah rancang yang memiliki kualitas. Mampu
menguasai teknik menggambar arsitektur yang memiliki standar professional, mampu
(4 - 3.51);(100 - 78)
menunjukkan penguasaan berbagai media representasi dalam proses pekerjaan yang
dilakukan, dapat menempatkan kondisi urban sebagai bagian pemikiran dalam hasil LULUS

rancangannya, serta mampu menunjukkan kemampuan penguasaan struktur konstruksi,


tektonik, material, dan detail arsitektur yang sesuai dengan level pendidikannya.

B
Nilai ini didapatkan apabila mahasiswa memasukkan semua tugas yang diberikan serta
kehadiran mencapai 90 % - 94 %. Mengedepankan etos eksperimen dan spekulasi.
Seluruh tugas yang dikumpulkan sudah berusaha menjawab permintaan tugas. Mampu
menunjukkan penguasaan materi sesuai dengan level pendidikan yang sedang dijalankan
serta mencoba mempresentasikan hasil tugasnya dalam teori dan metode perancangan
yang baik serta menghasilkan hasil olah rancang dapat dipertanggung jawabkan. Mampu
menguasai teknik menggambar arsitektur yang memiliki standar professional, mencoba
(3,5 - 2,81);(77 - 65)
berbagai media representasi dalam proses pekerjaan yang dilakukan, mencoba melihat
LULUS sebuah kondisi urban dalam pekerjaannya serta mampu menunjukkan kemampuan
penguasaan struktur konstruksi sederhana yang sesuai dengan level pendidikannya.

C
Nilai ini didapatkan apabila mahasiswa memasukkan semua tugas yang diberikan serta
kehadiran mencapai 80 % - 89 %. Mencoba berpikir secara eksperimen dan spekulasi.
Seluruh Tugas yang dikumpulkan sudah berusaha menjawab permintaan tugas. Mencoba
menunjukkan penguasaan materi sesuai dengan level pendidikan yang sedang dijalankan
tetapi belum mampu mempresentasikan hasil tugasnya dalam kerangka teori dan
metode perancangan yang baik. Hasil olah rancang sudah berusaha menjawab kaidah
kaidah perancangan tetapi masih menyisakan beberapa pertanyaan. Mampu menguasai
(2,8 - 2);(64 - 56)
teknik menggambar arsitektur, mencoba berbagai media representasi dalam proses
LULUS
pekerjaan yang dilakukan, berusaha melihat sebuah kondisi urban dalam pekerjaannya
serta mampu menunjukkan kemampuan penguasaan struktur konstruksi sederhana
yang sesuai dengan level pendidikannya.

D
Nilai ini didapatkan apabila mahasiswa memasukkan tugas yang diberikan secara tidak
komplit dan tidak menjawab tuntutan soal serta kehadiran hanya mencapai 50% - 79%.
Ada tugas yang tidak dikumpulkan dan terlihat pada tugas yang dikumpulkan belum
dapat menjawab permintaan tugas. Belum mampu mempresentasikan hasil tugasnya
dalam teori dan metode perancangan yang baik. Hasil olah rancang tidak menjawab
kaidah kaidah perancangan dan masih menyisakan banyak pertanyaan penting. Mencoba
menguasai teknik menggambar arsitektur, belum menggunakan berbagai media
(1,99 - 1);(55 - 40)

E
representasi dalam proses pekerjaan yang dilakukan, belum melihat sebuah kondisi
TIDAK LULUS urban dalam pekerjaannya serta belum mampu menunjukkan kemampuan penguasaan
struktur konstruksi sederhana.

Nilai ini diberikan apabila mahasiswa tidak memasukkan tugas yang diberikan serta
kehadiran hanya mencapai 0 % - 50%. Seluruh Tugas tidak dikumpulkan. Mengajukan
pengunduran diri dari mata kuliah ini saat proses pendidikan masih berlangsung.
(0);(39 - 0)

TIDAK LULUS
Gangnam Hills, Korea Selatan - MVRDV (sumber : www.architizer.com)

5. JADWAL PELAKSANAAN & PERSENTASE


NILAI

1
SKETCHDAY RESEARCH PROJECT
(30 %)
20% dikerjakan dalam waktu 4 minggu
RISET

30%

2
DESIGN PROJECT
1st Qtr (50 %)
2nd Qtr dikerjakan dalam waktu 11 minggu
3rd Qtr

3
SKETCHDAY
(20 %)
DESIGN PROJECT dikerjakan dalam waktu 1 minggu

50%

4
PORTOFOLIO
PRASYARAT
PORTOFOLIO : PRASYARAT dikerjakan dalam waktu 1 minggu

ABSENSI : PRASYARAT

6. KEHADIRAN / PRESENSI
Kehadiran dalam kuliah (teori) dan studio (praktis) menjadi bahan pertimbangan dalam
penentuan Nilai Akhir (lihat Kriteria penilaian). Segala bentuk permasalahan atau
ketidakhadiran anda pada proses perkuliahan harap dilaporkan kepada Dosen Kelas
dengan membawa surat resmi atau memberikan alasan yang dapat diterima. Segala
keputusan berkaitan dengan absensi yang diputuskan oleh Dosen Kelas adalah mutlak
dan tidak dapat diganggu gugat.
7. MATERI TUGAS
HOW GREEN IS YOUR KAMPUNG?
- Utopis Kampung Masa Depan -

Muara Angke Social Angke - SHAU (sumber : www.shau.nl)

Dosen Koordinator :
Ir. Agustinus Sutanto, M.Arch., MSc., Ph.D.
Dosen Kelas :
Klara Puspa Indrawati, S.Ars., M.Ars
Ir. Himaladin

Kampung adalah sebuah istilah yang merujuk pada pengertian desa, yakni daerah
pemukiman yang secara administrasi merupakan kesatuan terkecil dalam suatu wilayah.
Dikenal pula istilah pulang kampung, dimana kata kampung melekat dalam persepsi
orang Indonesia sebagai sebuah tempat asal atau tempat kelahiran. Konotasi kampung
selalu dipersepsikan berlawanan dengan kota; kota adalah yang padat, modern dan
metropolis, sedangkan kampung adalah yang lenggang, tradisional dan lokal.

Jakarta adalah sebuah Kota Global yang menyisakan kampung-kampung dalam


struktur keruangannya. Menurut Marco Kusumawijaya, secara morfologis Jakarta sendiri
termasuk kota yang terbentuk dari kumpulan kampung, yang kemudian berkembang
dan disebut metropolitan. Pada tahun 1976, Bernard Dorlean menyebut Jakarta sebagai
sebuah kampung besar karena strukturnya yang lebih menyerupai aglomerasi kampung
dengan unsur-unsur metropolitan terselang-seling di antaranya, daripada sebuah kota
yang terstruktur (Kusumawijaya, 2004).

Kota Jakarta kini merupakan titik berat aktivitas perekonomian Indonesia, kota dengan
peluang lapangan pekerjaan terbesar; tempat tujuan para warga desa dan kota kecil yang
berduyun-duyun datang dan mengadu nasib. Sebagai kota yang sudah mencapai status
megapolitan, Jakarta juga merupakan pusatnya heterogenitas, kota dengan beragam
budaya, agama, suku, tingkat pendapatan, profesi, dan lain sebagainya. Bangunan
pencakar langit yang mewah hingga pemukiman kumuh hidup berdampingan di atas
tanah Jakarta. Setelah Jakarta berdiri sebagaimana adanya sekarang, patut menjadi
pertanyaan, bagaimana kampung-kampung yang dulu membangun Jakarta beradaptasi
dengan lingkungan baru di sekitarnya saat ini?
Bersanding dengan karakter kota Global dan Megapolitan, kota Jakarta telah memberikan
persepsi baru bagi istilah kampung, yakni sebagai suatu permukiman kumuh, dengan
tingkat kemiskinan yang tinggi, dan kualitas hidup yang rendah. Jika kampung dulu
memberikan imaji tentang keasrian dan kelenggangan, kini imaji yang didapat dari
kampung adalah kesesakan, kepadatan dan ketidakteraturan. Citra seperti inilah yang
tampak dari kampung-kampung di Jakarta, baik kampung-kampung di pinggiran maupun
kampung di tengah kota.

Galih Widjil Pangarsa mendefinisikan kampung sebagai potensi yang membangun


kehidupan kota, bahkan membangun bangsa, termasuk dalam aspek budaya dan
keilmuan (Pangarsa, 2008). Kampung seperti bibit yang berakar pada suatu kota. Kini,
kampung-kampung di Jakarta lebih seperti rizoma yang tumbuh dan membentuk
jaringan di bawah permukaan peradaban kota; menjalar dan sambung menyambung ke
segala arah; meng-klaim areanya di setiap ruang-ruang yang tersedia, hingga terkadang
tidak nampak lagi batasan yang jelas antara kampung dan kota. Dalam kasus kampung
kota ini, terlihat kampung menjadi terlalu padat penduduk dalam area yang kecil, dan
menimbulkan dampak komplikasi terhadap kualitas lingkungan. Sedangkan bagi kampung
di pinggiran, keterjangkauan justru menjadi kendala. Kampung seperti terasing dalam
dimensi keruangan kota Jakarta.

Isu membangun kembali kampung menjadi pemukiman yang ramah manusia, ramah
lingkungan, kreatif dan adaptatif kini marak diusung sebagai oposisi dari bergesernya
Kampung menjadi Kota Global. Kampung sebagai ruang Sosial - Budaya - Ekonomi
- Politik dan Lingkungan harus dapat menjawab tantangan yang terjadi pada dirinya.
Pada saat yang bersamaan, untuk dapat bersaing dengan pesatnya pembangunan
kota, kampung harus mampu menerima evolusi sebagai bentuk adaptasi. Dengan
menilik masa lalu dan masa sekarang kampung, diharapkan mahasiswa berani untuk
berspekulasi tentang kampung di masa depan.

How Green is Your Kampung? merupakan tema yang diharapkan dapat menjadi
pemicu bagi mahasiswa dalam mengkritisi masa depan dari bagian kota Jakarta. Untuk
itu ada beberapa pertanyaan yang dapat diajukan, seperti : [1] apa yang sebenarnya
mendefinisikan sebuah kampung? [2] Bagaimana sebuah kampung harus
menyesuaikan diri dengan kemajuan kota disekelilingnya tanpa merubah nilai-nilai
ke-kampung-annya? [3] Model `arsitektur kampung` seperti apakah yang cocok
untuk masa depan?

Kata ` green` merupakan pendekatan yang memiliki kepentingan tinggi dalam konteks
kontemporer. Kata `green` memiliki konotasi menghijaukan dunia untuk kehidupan
manusia di masa depan. Kata `green` memiliki imaji utopis untuk menjadikan ruang kota
yang beraroma segar-sehat dan nyaman. Sehingga untuk dapat menjadi kampung yang
layak huni dan berdaya saing tinggi, kampung harus mampu turut ambil bagian dalam
membangun utopia tentang `green` dan Ruang Kotanya.

Peter Buchanan mengemukakan bahwa memenuhi aspek green tidak dapat hanya
melalui teknologi mutakhir. Teknologi hanya dapat menjadi media dalam menjawab
permasalahan teknis, tetapi tidak dapat menjawab isu secara keseluruhan. Dalam buku
Ten Shades of Green, Buchanan mengemukakan sepuluh aspek yang perlu dikaji dalam
mendukung pendekatan green yang menyeluruh dalam desain (Buchanan, 2006) :

[1] Lower Energy; [2] Replenishable Source; [3] Recycling; [4] Embodied Energy; [5]
Long Life, Loose Fit; [6] Total Life Cycle Costing; [7] Embedded in Place; [8] Access
and Urban Context; [9] Health and Happiness; [10] Community and Connection.

Kesepuluh aspek di atas merupakan landasan yang perlu menjadi sorotan dalam meneliti
maupun merancang sebuah kampung yang dapat memenuhi aspek green secara
menyeluruh.
Penting untuk diingat bahwa kampung memiliki karakter dan kompleksitas yang
jauh berbeda dengan kota. Ada beberapa variabel yang perlu menjadi sorotan dalam
menggarap sebuah kampung, terutama di Jakarta : [1] Karakter fisik kampung yang
sangat organik. Dalam menelusuri struktur fisik sebuah kampung, peta lokal
dapat lebih membantu ketimbang peta global. Hal ini dikarenakan struktur rizoma
kampung yang senantiasa saling menjalin jika ada kesempatan, dengan kecepatan dan
heterogenitas yang tinggi; terlalu abstrak untuk dapat dipetakan dalam peta global. [2]
Struktur keruangan kampung yang spesifik di setiap kampungnya. Setiap kampung
memiliki karakter pertumbuhan fisik yang berbeda karena dibentuk oleh faktor-faktor
yang berbeda pula. Faktor tersebut dapat berupa faktor budaya, mata pencarian, maupun
karena faktor fisik lingkungan sekitarnya. [3] Keberadaan komunitas sebagai simpul
kampung. Tanpa adanya ikatan komunitas yang kuat, kampung-kampung di Jakarta tidak
dapat bertahan dari himpitan kapitalisme. Dengan nilai tanah yang tinggi di Jakarta,
melepaskan tanah seringkali menjadi jalan pintas dalam menyelesaikan masalah ekonomi
bagi warga. Kerenggangan ikatan komunitas membuat pilihan ini semakin menggiurkan,
dan sedikit demi sedikit keberadaan kampung akan memudar dari wajah Jakarta.

How Green is Your Kampung? - Utopis Kampung Masa Depan, adalah


sebuah proyek arsitektur yang mencoba menyelesaikan dan memprediksikan arsitektur
kampung yang hijau yang bertahan terhadap tumbuhnya kota-kota global. Memimpikan
kampung yang utopis mungkin menjadi sebuah cara dan jembatan untuk melihat
kampung dalam konteks yang berbeda.

Quinta Monroy, Chile (2004) | Quinta Monroy, Chile (2010)


- ELEMENTAL
(sumber : Drexler, Hans (2012). Holistic Housing. Edition DETAIL.. Jerman)
8. TUGAS PERTAMA
- Tahap Penelitian -

Pada tugas pertama, mahasiswa diminta untuk menginvestigasi kampung yang akan
menjadi objek perancangan. Misi dari penelitian ini adalah mencari kekuatan sekaligus
kelemahan sebuah kampung, mengkritisi kondisi kampung sesuai dengan konteksnya,
mengetahui isu-isu di lapangan secara konkrit serta mempertanyakan tentang `arsitektur
kampung` di masa depan.

Melalui hasil dari penelitian ini, mahasiswa harus mampu menjawab : (a) Kebutuhan
seperti apakah yang dibutuhkan untuk kampung masa depan? (b) Seberapa `hijau`
kampung dimasa depan? (3) Strategi apa yang diusung untuk menjadi solusinya?.
Dalam menjalankan penelitian ini, bukan hanya diperlukan ketelitian dan kepekaan akan
ruang, namun juga kepekaan rasa untuk dapat melihat fenomena yang terjadi dalam
keseharian kampung.

Investigasi langsung ke lapangan menjadi metode yang tidak dapat dihindari dalam
membaca fenomena kampung. Berhadapan langsung dan melihat sesuatu yang ada
dihadapan mata akan membangun memori, persepsi dan imajinasi terhadap obyek yang
kita hadapi. Mahasiswa diberikan kebebasan untuk memilih lokasi penelitian (wilayah
perkampungan) berdasarkan pengamatan, kedekatan perasaan atau pun isu-isu tentang
kondisi sebuah kampung. Luasan area yang harus dianalisa adalah berkisar 5 hektar
(50.000m2). Fokus yang diharapkan dapat dimunculkan melalui tugas pertama ini antara
lain :

1. Kemampuan membaca dan memetakan kompleksitas pada aspek-aspek fisik


(konfigurasi bangunan dan jalan, ruang-ruang publik, ruang komersil, dll.) dan non-
fisik (ekonomi, sosial, budaya, agama, suku, dll.) yang membentuk karakter keruangan
kampung, serta faktor-faktor pembentuknya.

2. Kemampuan untuk mengolah data, menganalisa, serta menemukan konflik


atau anomali yang terjadi dan mengembangkannya dalam kerangka arsitektur.

3. Kemampuan untuk merumuskan metode dan strategi sebagai landasan dalam


mengembangkan kampung melalui studi-studi yang komprehensif (studi lapangan, studi
kasus, studi literatur).

Ketentuan Tugas: Kelompok 1-3 Orang

Dalam Proposal ini belum ditentukan 4 Minggu


program arsitektur yang diinginkan 06 Februari - 06 Maret 2017
untuk menjawab permasalahan
tentang kampung itu sendiri. Proposal Review
06 Maret 2017
ini sebagai sebuah thesis (tatakan)
untuk anda kembangkan dalam tugas
(a) Kajian Teoritikal : 1000 kata (berbasis pada 5 buku)
kedua yang berkaitan dengan desain
arsitektur. (b) Studi Kasus (arsitektur dan kampung) : 3 buah
proyek desain arsitektur
(c) Hasil Survey Loktasi (data kependudukan, mata
pencaharian, suku dan agama mayoritas, aktivitas
keseharian, kondisi fisik lingkungan, tipologi
arsitektural)
(d) Analisis - Sintesis Isu : 600 kata + diagram
(e) Deskripsi strategi : 600 kata + diagram
9. TUGAS KEDUA
- Tahap Perancangan -
Pada tugas kedua, mahasiswa diminta untuk fokus merespon isu yang telah diusung
pada tugas sebelumnya melalui teori, metode, dan strategi ke dalam program, dan
rancangan bangunan. Setiap mahasiswa diberikan kebebasan untuk menentukan sendiri
lokasi (nyata) perancangan (berdasarkan Tugas I) dan jenis proyek yang dianggap mampu
merespon isu terkait.

Adapun hasil rancangan yang diharapkan adalah rancangan yang Visioner, Spekulatif,
Eksperimental serta Utopis. Hasil karya harus mampu menjawab isu-isu yang telah
ditemukan dalam proses analisis-sintesis dalam kerangka berpikir yang kreatif, imaginatif
dan futuristik. Produk arsitektur yang dihasilkan diharapkan dapat bekerja dengan
responsif, tepat guna, dan bernilai estetis tinggi.

Yang menjadi fokus pada tugas tahap kedua (arsitektur desain) antara
lain :

1. Kemampuan untuk menerjemahkan strategi perancangan ke dalam


susunan program arsitektural yang dapat menjawab tentang
Kampung di Masa Depan dengan responsif, visioner, inovatif dan utopis.

2. Kemampuan untuk menghasilkan konfigurasi keruangan yang


kreatif melalui eksperimen dan spekulasi.

3. Kemampuan untuk merepresentasikan ide, konsep, dan logika


rancangan melalui media gambar, model, dan animasi.

Pendekatan mendesain melalui : gambar (lukisan - sketsa), video (film), narasi (story
telling), kritik, sejarah, puitisasi, fenomenologi, grammatologi, crafting, parametric serta
pendekatan lainnya dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan akhir dari
proyek ini. Melalui `kebebasan` berpikir yang diberikan, diharapkan para peserta Stupa 7
dapat melihat desain sebagai proses non-linear.

Individual Ketentuan Tugas:


12 Minggu Urutan Halaman Presentasi Akhir:
08 Maret - 26 Mei 2017
Hal 1 : Brief Proyek (1000 kata)

Review I (UTS) Hal 2 : 3D Perspektif Bangunan Terbaik


Senin, 27 Maret 2017 Hal 3 - 10 : Analisis - Sintesis dan Design
Scheme serta Program Ruang
(a) Maket Kawasan (berkelompok)
Hal 11 : Block Plan
(b) Analisa-Sintesis untuk site terpilih (individual)
Hal 12 : Site Plan
(c) Program arsitektural (individual)
Hal 13 - 25 : Denah - Tampak - Potongan -
Potongan Aksonometri
Review II (Kritik Silang)
Rabu, 26 April 2017 Hal 26 - 30 : 3D Perspektif Eksterior Bangunan
Hal 31 - 32 : 3D Perspektif Interior Bangunan
Sketch Day
Hal 33 - 34 : Rencana Struktur - Kontruksi
Senin, 08 Mei - Jumat, 12 Mei 2017
(aksonometri dan diagram)
Hal 35 - 36 : Rencana ME dan P (aksonometri
Review Final (UAS)
Senin, 29 Mei 2017 dan diagram)
Hal 37 - 38 : Skematik Penggunaan Material
(a) Maket Rancangan (individual) (aksonometri dan diagram)
(b) Presentasi Rancangan dalam format A3 sebanyak Hal 39 - 40 : Konsep Green Building dan Detail
40 halaman Tektonik
10. DAFTAR BACAAN

Design Like You Design Like You Give a


How Green is your Give a Damn: Damn 2:
Garden? Architectural Reponses Building Change from the

CJ Lim (2003) to Humanitarian Crises Ground Up

ISBN 9780470845394 Architecture for Humanity Architecture for Humanity (2012)


(2006) ISBN 9780810997028
ISBN 9780500342190

The Bartlett Book A Guide to Archigram Holistic Housing :


2016 1961-1974 Concepts, Design
The Bartlett School of Peter Cook (1994) Strategies and Processes
Architecture UCL (2016) ISBN 9781616890865 Hans Drexler & Sebastian
ISBN 9780995481909 El Khouli (2012)
ISBN 9783920034782

Ten Shades of Green:


Architecture and the AA Book 2016 Radical
Natural World Architectural Association Reconstruction
Peter Buchanan (2006) (2016) Lebbeus Wood (1997)

ISBN-10 0393731898 ISBN 9781907896798 ISBN 9781568982861


11. JADWAL PELAKSANAAN
Senin, 6 Februari 2017 Penjelasan Soal Tugas

Rabu, 8 Feb - Jumat, 3 Mar 2017 Pengerjaan Tugas Tahap I (Proposal)

Senin, 6 Maret 2017 Review Tugas 1


Rabu, 8 Mar - Jumat, 24 Mar 2017 Kegiatan Studio

Senin, 27 Maret 2017 UTS


Rabu, 29 Mar - Jumat, 21 April 2017 Kegiatan Studio

Rabu, 26 April 2017 Kritik Silang


Jumat, 28 Apr - Jumat, 5 Mei 2017 Kegiatan Studio

Senin, 8 - Jumat, 12 Mei 2017 Sketch Day


Senin, 15 Mei - Jumat, 26 Mei 2017 Kegiatan Studio

Senin, 29 Mei 2017 UAS (Review Final)


Rabu, 7 Juni 2017 Pengumpulan Portofolio
Rabu, 14 Juni 2017 Pengumuman Nilai Akhir

CATATAN TAMBAHAN
1. Absensi wajib adalah 90% dan menjadi prasyarat kelulusan.

2. Sistem absensi Studio akan menggunakan sistem random.

3. Setiap ketidakhadiran karena disebabkan oleh sesuatu hal, harap dilaporkan kepada
dosen kelas.

4. Portofolio menjadi prasyarat kelulusan.

5. Review akhir dari setiap tugas adalah mutlak untuk diikuti serta menjadi bahan
pertimbangan untuk menentukan kelulusannya.

6. Setiap tugas yang diberikan wajib dikumpulkan 100% (tanpa kecuali).

7. Nilai akhir yang dikeluarkan adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

8. Pengumuman tambahan akan diberikan dan disesuaikan dengan proses yang sedang
berjalan.

Jakarta : Kampung besar atau metropolis?


Jawaban sederhana untuk pertanyaan di atas
sebenarnya mudah sekali, yaitu :
dua-duanya!
(Marco Kusumawijaya, 2004)

JURUSAN ARSITEKTUR
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
SEMESTER GENAP 2016-2017
JAKARTA