Anda di halaman 1dari 39

DESAIN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL)

DESIGN OF WASTE WATER TREATMENT PLANT (WWTP)


Muhammad Ihsan Firdaus
Kelompok 8 - Senin
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor, Jln. Kamper, Kampus IPB
Dramaga, Bogor, 16680
Ihsangrt48@yahoo.com

Abstrak : Pencemaran air adalah penambahan unsur atau organisme kedalam air, sehingga
pemanfaatannya dapat terganggu. Sebagai upaya untuk menghindari dampak yang merugikan
dari pembuangan air limbah tersebut, maka diperlukan desain instalasi pengolahan air limbah
yang berfungsi menurunkan konsentrasi zat-zat pencemar sebelum air limbah tersebut dialirkan
ke badan air penerima. Penelitian dilakukan dengan tujuan menentukan rancangan unit bangunan
pengolahan air limbah yang terdiri dari comminutor, grit chamber, bak ekualisasi, bak
sedimentasi, clarifier, oxidation ditch, bangunan disinfeksi, dan sludge drying bed. Metode yang
dilakukan adalah menghitung dimensi masing-masing unit berdasarkan data sekunder. Parameter
yang dilihat untuk perhitungan adalah BOD, COD, TSS (zat padat tersuspensi), TDS (zat pada
terlarut), bahan padat terendapkan, TOC (karbon organik total), nitrogen, fosfor, klorida, sulfat,
alkali, dan lemak. Konsentrasi TSS, BOD, dan COD pada limbah industri secara berturut-turut
yaitu 3297 mg/l, 2037 mg/l, dan 5883 mg/l. Sementara konsentrasi parameter TSS, BOD, dan
COD pada limbah domestik berturut-turut adalah 204 mg/l, 188 mg/l, dan 431 mg/l. Debit yang
keluar dari limba domestik adalah 250 m3/det dan dari industri sebesar 80 m3/det. Rancangan
dibuat dalam bentuk ukuran dimensi, perhitungan nilai-nilai setiap parameter, bentukan dan
desain gambar setiap unit. Analisis setiap unit juga dibuat untuk mempermudah perhitungan dan
perancangan unit instalasi pengolahan air limbah tersebut.
Kata kunci : IPAL, limbah, pengolahan

Abstract : Water pollution is the addition of elements or organisms into the water, so that function
can be disturbed. In effort to avoid the adverse impact of the disposal of waste water, it is
necessary to design a wastewater treatment plant that serves to lower the concentration of
contaminants before the waste water discharged into receiving water bodies. The study was
conducted with the objective of determining the design of wastewater treatment building unit
consisting of comminutor, grit chamber, equalization basin, sedimentation basin, clarifier,
oxidation ditch, disinfection, and sludge drying bed. The method used is to calculate the
dimensions of each unit based on secondary data. The parameters for the calculation is seen BOD,
COD, TSS (suspended solids), TDS (solids dissolved), a solid material deposited, TOC (total
organic carbon), nitrogen, phosphorus, chloride, sulfate, alkali, and fat. The concentration of TSS,
BOD and COD in the industrial waste in a row that is 3297 mg/l, 2037 mg/l and 5883 mg/l. While
the concentration parameter TSS, BOD and COD in domestic sewage in a row is 204 mg/l, 188
mg/l and 431 mg/l. Discharge coming out of domestic waste is 250 m3/s and the industry amounted
to 80 m3/sec. The design is made in the form of dimensions, the calculation of the values of each
parameter, notching and design drawings of each unit. Analysis of each unit is also designed to
facilitate the calculation and design of wastewater treatment plants are.
Keyword: WWTP, waste, treatment

PENDAHULUAN
Pencemaran air adalah penambahan unsur atau organisme kedalam air,
sehingga pemanfaatannya dapat terganggu. Pencemaran air dapat menyebabkan
kerugian ekonomi dan sosial, karena adanya gangguan oleh zat-zat beracun atau
muatan bahan organik yang berlebih. Keadaan ini akan menyebabkan oksigen
terlarut dalam air pada kondisi yang kritis, atau merusak kadar kimia air.
Rusaknya kadar kimia air tersebut akan berpengaruh terhadap fungsi dari air.
Besarnya beban pencemaran yang ditampung oleh suatu perairan, dapat

1
diperhitungkan berdasarkan jumlah polutan yang berasal dari berbagai sumber
aktifitas air buangan dari proses-proses industri dan buangan domestik yang
berasal dari penduduk.
Kualitas air merupakan faktor penting untuk mengetahui apakah suatu
sumber air tersebut dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup
manusia. Kualitas air adalah kandungan makhluk hidup, zat, energi, atau
komponen lain yang berada dalam air. Sistem pengolahan limbah terpadu dengan
membuat saluran pembuangan secara komunal dimana limbah yang dihasilkan
tiap unit industri dialirkan secara bersama-sama dan ditampung dalam sebuah bak
beton yang selanjutnya hasil olahan limbah tersebut dialirkan menuju sungai yang
jaraknya berdekatan dengan IPAL. Saluran pembuangan maupun air sungai
tempat bermuaranya limbah tahu sebagian dimanfaatkan untuk keperluan irigasi
sawah. Batasan air limbah dikemukakan sebagai kombinasi dari cairan dan
sampah-sampah cair yang masuk dari daerah pemukiman, perdagangan,
perkantoran dan industri, bersama-sama dengan airtanah, air permukaan, air hujan
yang mungkin ada (MetCalf dan Eddy 1972).
Untuk menghindari dampak yang merugikan dari pembuangan air limbah
tersebut, maka diperlukan desain instalasi pengolahan air limbah yang berfungsi
menurunkan konsentrasi zat-zat pencemar sebelum air limbah tersebut dialirkan
ke badan air penerima. Langkah yang sebaiknya dilakukan untuk mencapai
sanitasi yang lebih baik dan lengkap adalah dengan merencanakan pembangunan
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang nantinya berfungsi untuk melayani
penyaluran air limbah domestik di perumahan tersebut. Penelitian dilakukan
dengan tujuan menentukan rancangan unit bangunan pengolahan air limbah yang
terdiri dari comminutor, grit chamber, bak ekualisasi, bak sedimentasi, clarifier,
oxidation ditch, bangunan disinfeksi, dan sludge drying bed.

METODOLOGI
Karakteristik Air limbah
Air limbah secara umum digolongkan menjadi dua jenis, yaitu air limbah
domestik dan air limbah industri. Sebelum air limbah dibuang ke badan air
penerima, konsentrasi parameter polutan air limbah di atas baku mutu harus
diolah dan diturunkan sehingga data konsentrasi merupakan syarat mutlak untuk
diketahui. Parameter analisis karakteristik air limbah meliputi ciri fisik yaitu
bahan padat total, bahan padat terendapkan, warna, bau, dan suhu. Ciri kimiawi
antara lain bahan organik, protein, karbohidrat, lemak, minyak, deterjen, fenol,
bahan anorganik, pH, klorida, kebasaan, sulfur, zat beracun, logam berat, metan,
nitrogen, fosfor, dan gas. Kemudian terdapat ciri biologis yang perlu dianalisis
antara lain total coliform dan kandungan organisme mikro khusus. Air limbah
domestik dan non domestik dirancang pada system pengolahan terpisah. Kedua
jenis limbah tersebut dapat dicampur dengan konsentrasi beban pencemar bila
dihadapkan beberapa kendala melalui pendekatan Persamaan 1.

() + () (1)
=
( + )
Keterangan

2
Cc = Konsentrasi campuran (mg/L)
Qd = debit air limbah domestik (L/detik)
Qnd = debit air limbah non domestik (L/detik)
Cnd = Konsentrasi parameter pencemar pada air limbah domestik (mg/L)
Cnd = Konsentrasi parameter pencemar pada air limbah non domestik (mg/L)

Kesetimbangan Massa
Nilai perpindahan substansi di dalam reaktor harus seimbang dengan jumlah
sisa produksi oleh proses fisik dan kimiawi. Pada diagram alir keseimbangan
massa, parameter terpilih adalah debit aliran, BOD sebagai nilai konsentrasi
substrat, dan TSS sebagai nilai konsentrasi padatan. Kondisi tersebut dapat
digambarkan melalui Persamaan 2.

Masuk - keluar + penurunan selama proses = akumulasi (2)


Masuk dan keluar mengacu pada pengangkutan zat bersih ke dalam reaktor,
penurunan selama proses mengacu pada produksi atau destruksi bersih oleh reaksi
atau prose fisik, dan akumulasi adalah jumlah tersisa. Tahap anasis kesetimbangan
menurut Kurniawan (2013) adalah:

1. Skema atau diagram alir sederhana dari sistem atau proses dipersiapkan
2. Sistem atau batas kontrol volume digambar untuk menentukan batasan
penerapan kesetimbangan massa
3. Semua notasi untuk reaksi biologis atau kimia dimasukkan
4. Persamaan kesetimbangan massa dibuat berdasarkan notasi dan perhitungan
yang telah dibuat

Keseimbangan massa diperlukan untuk mengetahui debit air limbah di


setiap unit pengolahan. Beberapa persamaan yang digunakan antara lain:
1. Screen
= (3)

= (4)

2. Grit Chamber
= (5)

= (6)

3. Primary Sedimentation Solid Basin


1000 (7)
= 0.55
1000000

(8)
=

100 10000

= (9)

3
= (1 0.55) (10)

4. Primary Sedimentation Substrat Balance


(11)
= (1 )

5. Aeration Basin
1 (12)
= ( )
1000

= (13)

( ) (14)
( ) +
1000
=
( 7500)
( 1000 )

= (1 + ) (15)

14.5 (16)
=
0.2 1000

6. Secondary Sedimentation
( 10) (17)
=
(7500 10)

= + (18)

= ( ) (19)

7. Thickener
0.85 (( 1000) + ( 45000)) (20)
=
1000
(21)
=
0.06 1000

8. Anaerobic digester
= + (22)

( 45000) + ( 7500) ( 60000) (23)


=

4
= (1 0.55) (24)

(25)
=

9 (26)
=
1000

9 1 (27)
=
1000 80

9. Centrifuge
= 0.975 (( ) + ( 80)) (28)

(29)
=
0.32 1000

= + (30)

( ) + ( 80) ( 320) (31)


= 1000

10. = + + (32)

11. = + + (33)

Keterangan:
S0 : konsentrasi BOD efluen (mg/l)
X0 : konsentrasi efluen TSS (tidak termasuk screening dan grit chamber)
Q0 : debit aliran efluen (m3/detik)
Qsc : debit aliran influen (m3/detik)
Qscw : laju volumetrik screening (m3/detik)
Xscw : jumlah material yang terkumpul di screening (m3/1,000 m3)
Qg : debit aliran setelah grit chamber (m3/detik)
Qgw : laju volumetrik grit chamber (m3/detik)
Xgw : jumlah pasir yang terkumpul di grit chamber (m3/1,000 m3)
Qp0 : total debit aliran yang masuk ke sedimentasi primer (m3/detik)
Xp0 : total konsentrasi TSS influen sedimentasi primer (m3/detik)
Qp : debit aliran supernatan efluen sedimentasi primer (m3/detik)
Xp : debit aliran supernatant efluen sedimentasi primer (m3/detik)
Sp : konsentrasi BPD efluen sedimentasi primer (mg/l)
Xup : konsentrasi TSS aliran bawah (underflow) efluen sedimentasi primer
(mg/l)
Qup : debit aliran bawah (underflow) efluen sedimentasi sekunder (m3/detik)
QA : debit aliran efluen aerasi-lumpur aktif (m3/detik)
SA : konsentrasi BOD efluen aerasi lumpur aktif (mg/l)
Qs : debit aliran supernatan efluen sedimentasi sekunder (m3/detik)

5
Xs : konsentrasi TSS supernatant efluen sedimentasi sekunder (mg/l)
Qus : debit aliran bawah (underflow) efluen sedimentasi sekunder (m3/detik)
Xus : konsentrsi TSS (underflow) efluen sedimentasi sekunder (mg/l)
R : rasio debit aliran recycle sedimentasi sekunder ke debit sedimentasi
primer
Qf : debit aliran efluen disinfeksi (m3/detik)
Qw : debit aliran limbah lumpur aktif dari sedimentasi sekunder (m3/detik)
Qt : debit aliran bawah (underflw) efluen thickener (m3/detik)
Xt : konsentrasi TSS aliran bawah (underflow) efluen thickener (m3/hari)
Qts : debit aliran supernatan efluen thickener menuju influen sedimentasi
primer (m3/detik)
Xts : konsentrasi TSS supernatan efluen thickener menuju influen sedimentasi
primer (mg/l)
Qd : debit aliran bawah (underflow) efluen digester anaerobic (m3/detik)
Xd : konsentrasi TSS aliran bawah (underflow) efluen digester anaerobik (g/l)
Qpl : laju aliran conditioning polimer untuk sentrifugasi (kg/l)
Xpl : konsentrasi TSS polimer untuk sentrifugasi (kg/l)
Qck : debit pembuangan padatan kering (cake) dari centrifuge (m3/detik)
Xck : konsentrasi TSS padatan kering (cake) efluen sentrifugasi (kg/l)
Qct : debit aliran centrate dari sentrifugasi menuju influen sedimentasi primer
(m3/detik)
Xct : konsentrasi TSS centrate dari sentrifugasi menuju influen sedimentasi
primer (mg/l)

Grit Chamber
Perhitungan grit chamber diawali dengan pemilihan besaran beberapa
parameter yang telah ditentukan oleh kriteria desain. Secara umum, terdapat 3
jenis grit chamber, yaitu horizonal-flow grit chamber, aerated grit chamber, dan
vortex-type grit chamber. Namun, pada penelitian ini digunakan aerated grit
chamber. Kriteria desain aerated grit chamber dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Kriteria desain aerated grit chamber


No Kriteria Nilai Satuan
1 Waktu detensi 2-5 menit
2 Dimensi
Kedalaman 25 m
Panjang 7,5 - 20 m
Lebar 2,5 - 7 m
3 Rasio lebar : kedalaman 1 : 1 5: 1 Rasio
4 Rasio panjang : lebar 3:1 5:1 Rasio
5 Suplai udara per unit panjang 0,2 0,5 m3/m.menit
6 Kuantitas grit 0,004 0,20 m3/103 m3

Data yang dibutuhkan dalam perancangan grit chamber adalah debit


maksimum, waktu detensi, jumlah bak, suplai udara, dan lebar bak awal yang

6
ditentukan berdasarkan kriteria desain. Jumlah unit dan dimensi yang digunakan
harus diperhitungkan dalam perencanaan grit chamber.
Setelah kriteria grit chamber sudah ditentukan, selanjutnya ditentukan
geometri grit chamber. Penentuan debit puncak grit chamber dapat ditentukan
dengan Persamaan 34.


= (34)
2

Kemudian ditentukan volume tiap bak untuk waktu detensi tertentu dengan
Persamaan 35.

= 60 (35)

Kedalaman rata rata dan freeboard di asumsikan sehingga dapat dihitung


nilai kedalaman total grit chamber dengan kedua nilai asumsi tersebut
dijumlahkan. Kemudian, dapat dicari luas permukaan dengan nilai volume dibagi
dengan kedalaman rata rata asumsi. Nilai luas tersebut disesuaikan dengan rasio
panjang : lebar sehingga didapatkan nilai panjang dan lebar. Kemudian dapat
dihitung nilai luas permukaan bak terpilih. Terakhir diasumsikan letak difuser
udara.
Setelah seluruh geometri grit chamber didapat, kemudian dihitung sistem
suplai udara. Langkah pertama adalah menghitung laju suplai udara per meter
panjang bak berdasarkan asumsi yang telah dibuat sebelumnya. Kebutuhan udara
teoritis per bak dapat dicari menggunakan Persamaan 36.

= (36)

Selanjutnya diasumsikan kebutuhan udara pada saat kondisi puncak.


Kemudian, dapat dihitung nilai kapasitas total difuser udara dengan mengalikan
kebutuhan udara saat kondisi puncak dengan laju suplai udara. Kapasitas blower
untuk kedua bak dapat dihitung dengan Persamaan 37.
2 60
= (37)
1000

Setelah sistem suplai udara didapatkan, laju overflow dihitung. Laju


overflow ketika kedua bak sedang beroperasi di cek dengan Persamaan 38.

86400
= (38)

Kemudian laju overflow dicek kembali apabila hanya satu bak yang
beroperasi dengan mengalikan dua laju overflow ketika kedua bak beroperasi.
Selanjutnya didesain struktur influen dari grit chamber. Disediakan lebar saluran
influen sebesar 1 m yang membagi aliran masuk ke dalam dua bak grit chamber.
Tiap saluran mempunya satu orifice sebesar 1 x 1 m yang mengalirkan limbah
menuju area difuser. Kemudian, dihitung headloss dengan Persamaan 39.

7
22 22
= 2 + (39)
2

Keterangan:
v1 : kecepatan rata-rata yang masuk ke saluran influent
v2 : kecepatan rata-rata yang masuk ke dalam grit chamber
H : perbedaan elevasi dari permukaan air ke dasar saluran atau bak
hl : total he adloss yang masuk ke dalam saluran dan exit loss selama di
dalam saluran influen.
Karena headloss di dalam saluran influen dan perbedaan kecepatan terlalu
kecil, hl dapat dihitung menggunakan Persamaan 40.

= 2 (40)

Keterangan:
A : luas permukaan orifice (m2)
Cd : koefisien debit = 0.61

Kecepatan rata - rata yang masuk ke saluran influent dihitung dengan


menggunakan Persamaan 41. Kecepatan rata rata yang masuk ke grit chamber
dapat dihitung dengan Persamaan 42.


1 = (41)


2 = (42)

Struktur efluen grit chamber terdiri dari proportional weir, saluran efluen,
dan pipa outlet. Dimensi saluran effluen dan juga diameter pipa outlet juga
ditentukan sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya yaitu melakukan penentuan
ketinggian weir crest dari dasar bak. Perhitungan ini mengasumsikan nilai
panjang weir adalah 2,5 m; nilai panjang bak effluen adalah 2,5 m; lebar bak
effluen adalah 1,5 m; panjang effluen box adalah 2,3 m; sedangkan lebar lauder
rencana adalah 1,5 m. Dengan asumsi tersebut dihitung head yang melewati weir
effluen saat debit rata rata ketika kedua bak sedang dioperasikan dengan
menggunakan Persamaan 43.
3

2
= (43)
2

Keterangan :
H : head yang melewati weir (m)
Cd : koefisien debit = 0.6
L : 0.1
L : panjang weir = 2.5
n : jumlah konstraksi akhir = 1

8
Nilai H dihitung menggunakan trial and error, kemudian nilai L dihitung
kembali agar mendekati nilai awal. Kemudian tinggi weir dihitung dengan selisih
antara kedalaman rata rata dan nilai H. Nilai H tersebut merupakan nilai head
yang melewati weir apabila kedua bak sedang dioperasikan. Selanjutnya, dihitung
nilai head yang melewati weir apabila salah satu bak sedang dalam perbaikan.
Perhitungan tersebut dapat menggunakan Persamaan 43 dengan debit yang
berbeda.
Kemudian dihitung nilai kedalaman air dengan menjumlahkan nilai head
saat satu bak dioperasikan dengan tinggi weir. Setelah didapatkan kedalaman air,
selanjutnya dihitung kedalaman bak effluen. Untuk menghitung kedalaman bak
effluen, kedalaman di ujung hulu bak effluen (y1) perlu diketahui. Y1 dihitung
dengan menggunakan Persamaan 44.

2 2
1 = 22 + (44)
2 2

Keterangan :
Y1 : Kedalaman air di ujung hulu bak effluen (m)
Y2 : Kedalaman air di bak pada jarak L dari ujung hulu (m)
Q : Debit di bak pada jarak L dari ujung hulu (m3/detik)
b : Lebar launder effluent box (m)
g : Percepatan gravitasi (m2/det)

Diasumsikan kedalaman air di effluent box pada titik outlet (tengah


tengah pipa effluen) yaitu 1,5 m. Sehingga, nilai Y2 sebesar 1,5 m. Ditambahkan
faktor keamanan. Setelah didapatkan Y1 ditambahkan bangunan terjunan dengan
mengalikan faktor keamanan dengan Y1. Kedalaman bak effluen dapat dihitung
dengan Persamaaan 45.

= 1 + (45)

Total headloss yang melewati grit chamber terdiri 4 headloss, yaitu


headloss di struktur effluen, headloss di struktur influen, headloss di bak grit
chamber, dan headloss karena baffles. Headloss akibat baffles dapat dicari dengan
menggunakan Persamaan 46.

22
= 2 (46)

Keterangan:
hL : headloss di baffles
V2 : kecepatan aliran di bak yang melewati area tanpa baffles
Ab : proyeksi vertikal dari luas baffle
A : luas penampang melintang bak
CD : koefisien drag = 1,9

Nilai v2 dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan 47.

9

2 = (47)

Comminutor
Penentuan ukuran dan tipe comminutor berdasarkan debit maksimum air
limbah. Umumnya, comminutor ditentukan sesuai dengan standar pabrik. Dasar
pemilihan berdasarkan debit air limbah. Comminutor terdiri atas dua jenis, yaitu
controlled discharge dan free discharge. Kriteria desain comminutor dapat dilihat
pada Tabel 2.

Tabel 2 Kriteria desain comminutor


No. Ukuran Motor Kapasitas (MGD)
Controlled Discharge Free Discharge
7B 0,75 0 0,35 0 0,30
10A 0,5 0,17 1,1 0,17 0,82
15M 0,75 0,4 2,3 0,4 1,4
25M 1,5 1,0 6,0 1,0 3,6
25A 1,5 1,0 11,0 1,0 6,5
36A 2 1,55 25,0 1,5 9,6
54A Berdasarkan jenis pekerjaan

Penentuan rancangan teknis comminutor dapat ditentukan dengan


Persamaan 48.


= 86400 0,2642 (48)
3

Debit puncak koreksi (Qp) yang didapat dari Persamaan 48 digunakan


untuk menentukan jensi comminutor. Setelah ditentukan jenisnya, ditentukan
diameter influen yang sama besarnya dengan diameter effluen.

Ekualisasi
Hasil perhitungan debit yang sudah didapat dari perhitungan sebelumnya,
digunakan kembali. Rata-rata debit campuran tiap jam dari data yang sudah ada
dihitung. Volume kuantitatif inlet dan outlet dihitung dengan mengakumulasi
debit rata-rata tiap jamnya. Average debit kumulatif dapat dihitung dengan
mengurangi debit inlet kumulatif dengan debit outlet kumulatif. Kemudian
pengaruh dari bak ekualisasi terhadap BOD-SS mass loading rate ditetntukan
dengan volume air buangan dalam bak ekualisasi dihitung di akhir setiap waktu
dengan Persamaan 49.

= + (49)

Keterangan:
Vsc : volume dalam bak ekualisasi pada akhir periode waktu (m3)
Vsp : volume dalam bak ekualisasi pada periode sebelumnya (m3)
Vic : volume yang masuk setiap jam (m3)
Voc : volume yang keluar setiap jam (m3) / volume rata-rata (m3)

10
Selanjutnya, BOD dan SS mass loading dihitung dengan Persamaan 50 dan
51.

kg
BOD (jam) = BOD x Q campuran tiap jam (50)
SS = SS x Q campuran tiap jam (51)

Konsentrasi rata-rata yang keluar dari bak ekualisasi (asumsi tercampur


sempurna) dapat dihitung melalui Persamaan 52.

(Vic x Xic)+(Vsp x Xsp)


Xoc = (52)
Vic+Vsp

Keterangan:
Xoc : konsentrasi rata-rata BOD atau SS pada aliran keluar (mg/l)
Vic : volume yang masuk setiap jam (m3)
Xic : konsentrasi rata-rata BOD atau SS pada aliran masuk (mg/l)
Vsp : volume dalam bak ekualisasi periode sebelumnya (m3)
Xsp : konsentrasi BOD air buangan dalam bak ekualisasi (mg/l)

Setelah itu, BOD dan SS mass loading ekualisasi dapat dihitung dengan
Persamaan 53 dan 54.

BOD ekualisasi = BOD ekualiasasi x Q rata rata (53)


SS ekualisasi = SS ekualiasasi x Q rata rata (54)

Perhitungan dimensi bak ekualisasi mengikuti kriteria desain seperti pada


Tabel 3.

Tabel 3 Kriteria desain bak ekualisasi


Komponen Besaran Satuan
Kecepatan aliran 0,3 3 m/detik
Kedalaman 1,5 - 2 m
Kemiringan atau slope (2-3) : 1
Rasio P : L 1:1
Tinggi jagaan atau freeboard 0,5 - 1 m

Kriteria desain juga mengkuti debit yang melewati, harus dilakukan


penyesuaian. Asumsi bak berbentuk limas terpancung, direncanakan 3 unit (2 unit
operasi, 1 unit cadangan), sehingga Debit satu bak dan volume satu bak dapat
menggunakan Persamaan 55 dan 56.

Q ratarata
Debit satu bak (Qlb) = (55)
2
Volume bak total
Volume satu bak = (56)
2

Untuk menemukan dimensi (P,L) bak digunakan Persamaan 57.

11
1
Volume satu bak = (3 (A1 + A2 + {(A1 x A2)0,5 }) (57)

Cek slope terhadap kriteria dengan menggunakan Persamaan 58.


12
{ )
2
S= (58)

Dimensi inlet ditentukan dengan menggunakan Persamaan 59.


1
A inlet = Do2 (59)
4

Diameter ditentukan dengan menggunakan Persamaan 60.


1
A inlet = D12 (60)
4

Cek Vi terhadap kriteria dengan menggunakan Persamaan 61.

Q maksimum
Vi = 1 (61)
2
4

Dimensi outlet ditentukan dengan menggunakan Persamaan 62.

1
A = (62)

Cek Vo terhadap kriteria dengan menggunakan Persamaan 63.

1
Vo = 1 (63)
2
4

Bak Sedimentasi
Kriteria desain untuk bak sedimentasi perlu diketahui sebelum mendesain
bentuk dari bak sedimentasi. Kriteria desain bak sedimentasi dapat dilihat pada
Tabel 4.

Tabel 4 Kriteria desain bak sedimentasi


Komponen Besaran Satuan
SS removal 50 70 %
BOD removal 30 40 %
Panjang 10 100 M
Weir loading 186 m3/m.hari
Rasio Panjang (P) : Kedalaman (H) 4,2 - 25
Rasio Panjang (P) : Lebar (l) 1 7,5
Kecepatan di pipa influen 0,3 m/detik

Waktu detensi yang digunakan bervariasi bergantung dengan overflow rate


dan kedalaman bak. Waktu detensi dapat dilihat pada Tabel 5.

12
Tabel 5 Waktu detensi bak sedimentasi
3 2
Overflow rate (m /m .hari) Waktu detensi (jam)
30 1,6 2,0 2,4 2,8 3,2 3,6
40 1,2 1,5 1,8 2,1 2,4 2,7
50 1,0 1,2 1,4 1,7 1,9 2,2
60 0,8 1,0 1,2 1,4 1,6 1,8
70 0,7 0,9 1,0 1,2 1,4 1,5
Kedalaman (m) 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 4,5

Data dari perhitungan ekualisasi diperlukan dalam mendesain bentuk bak


sedimentasi. Data yang diperlukan yaitu BOD5 ekualisasi rata-rata, SS ekualisasi
rata-rata, dan debit campuran rata-rata dari ekualisasi. Setlah ketiga data tersebut
diketahui dapat dilakukan perhitungan untuk mendesain bak sedimentasi.
Langkah pertama dalam menentukan desain bak sedimentasi adalah menentukan
dimensi bak sedimentasi. Luas permukaan dihitung dengan menggunakan
Persamaan 64.

= (64)

Keterangan:
As = luas permukaan bak sedimentasi (m2)
Qr = debit rata-rata (m3/det)
Qo= debit over flow rate (m3/det)

Apabila rasio p:l adalah 3:1, maka dapat diketahui dimensi panjang (p) dan
lebar (l) dari bak sedimentasi. Selanjutnya volume bak sedimentasi dihitung
dengan Persamaan 65.

v = p.l.H (65)

H = d + freeboard (66)

Keterangan:
v = volume bak sedimentasi (m3)
p = panjang bak sedimentasi (m)
l = lebar bak sedimentasi (m)
H = kedalaman bak sedimentasi (m)

Kemudian periksa over flow rate menggunakan Persamaan 67.



= (67)
.

Periksa waktu detensi menggunakan Persamaan 68.

..
= (68)

13
Diameter pipa influen dan effluen dihitung menggunakan Persamaan 69 dan 70
dengan asumsi v inlet adalah 1 m/s:
1
= . . 2 (69)
4


= (70)

Dimensi influen dan orifice dihitung menggunakan Persamaan 71 dan 72 dengan


asumsi H = 1 m.

= (71)


= (72)

Selanjutnya di cek v influen channel menggunakan Persamaan 73.



= 0.3 / (73)

Dengan rencana jumlah orifice adalah 10 buah dengan, maka dihitung Q orifice
dan jarak antar lubang menggunakan Persamaan 74, 75, dan 76.

= (74)

= . . (2. . )0.5 (75)

(10.)
= (76)
+1

Panjang weir dihitung menggunakan Persamaan 77, 78, dan 79.



= (77)

= (2. ( + )) + (2. ( + )) (78)

= 2(( 1)) + 2(( 1) + ( 1 1)) 1 (79)

Direncanakan jumlah v notch adalah 5, sehingga debit per notch dapat dihitung
dengan menggunakan Persamaan 80 dan 81.

= ( ) 4 (80)

= (81)

Selanjutnya dihitung head over v notch menggunakan Persamaan 82.

14
5
8
= . . (2)0.5 . 2 . 2 (82)
15

Kualitas lumpur dihitung dengan Persamaan 83 dan 84.

.%..86400
() = (83)
1000

.1000
= (84)
1,03.1,5%.106 .1440

Selanjutnya dihitung kandungan BOD5 dan SS di effluen dengan menggunakan


Persamaan 85 dan 86.

(10,3)..86400
BOD5= (85)
1000

(10,3)..86400
= (86)
1000

Oxidation Ditch
Unit pengolahan biologis yang dirancang adalah jenis cincin oksidasi atau
oxidation ditch. Kriteria desain cincin oksidasi dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Kriteria desain cincin oksidasi


Kriteria Besaran Satuan
Kedalaman air 1,2 1,8 m
Slope 45 Derajat
C 20 30 Hari
F/M 0,05 0,15 Per hari
Aerator Loading 0,1 0,4 Kg/m3.hari
MLSS (X) 3000 6000 mg/l
Periode aerasi (V/Q) atau 18 36 Jam
Recirculation ration 0,5 2
Y 0,1 0,5 mg.VSS/mg
Kd 0,03 0,06 Per hari
SS efluen 20 mg/l
TSS 10000 mg/l

Debit dan konsentrasi BOD5 dan SS influen dihitung dengan menggunakan


Persamaan 87 hingga 89.

Q ave = debit x faktor keamanan + debit (87)

BOD = BOD efluen sedimentasi primer x faktor keamanan + BOD (88)

TSS = TSS efluen sedimentasi primer x faktor keamanan + TSS (89)

Konsentrasi BOD5 di efluen dapat dihitung dengan Persamaan 90.

BOD5 yang larut di efluen = BOD baku mutu BOD influen (90)

15
Efisiensi Oxidation ditch dihitung dengan Persamaan 91 dan 92.

BOD influenBOD efluen


BOD5 yang larut di efluen = (91)
BOD influen

BOD influenBOD efluen


Efisiensi keseluruhan = 100% (92)
BOD influen

Volume reaktor direncanakan menggunakan 2 bak, sehingga dapat


digunakan Persamaan 93 dan 94.

debit
Q= (93)
2

V = (Q + r) x (94)

Cek dengan Persamaan 95.



= 24 jam/hari (95)

Cek F/M dengan Persamaan 96.

(BOD influenBOD efluen)


U = debit total x (96)
V x BOD efluen

Cek organic loading dengan Persamaan 97.

TSS influen x debit total


organic loading = (97)
V x 1000

Setelah organic loading, di cek dapat ditentukan dimensi bak dan pipa inlet-
outlet. Kebutuhan oksigen dihitung menggunakan Persamaan 98 dan 99.

Qx BOD InfluenBOD efluen


O2 = - biodegradable solid (98)
1000 X 0,68

2
SOR = 24 (1,024)20 0,95
(99)
[ ]
20

Terakhir, dihitung Horse Power dengan Persamaan 100 dan 101.

(CaC)
(T, R)Aktual = (T, R)standar (100)
9,2

O2
hp = (T,R)aktual x 24 jam
(101)

Clarifier
Prosedur perhitungan clarifier mula mula dihitung permukaan clarifier.
Kriteria desain clarifier dapat dilihat pada Tabel 7.

16
Tabel 7 Kriteria desain clarifier
Kriteria Besaran Satuan
Kedalaman 3 4,5 m
Diameter 3 60 m
Surface loading 16 33 m3/m2.hari
Overflow rate < 15 m3/m2.hari
weir Loading rate < 250 m3/m2.hari
Solid loading < 50 m3/m2.hari

Aliran ke bak clarifier berasal dari debit keluar cincin oksidasi. Karena
dalam cincin oksidasi tidak ada return sludge (recycle) maka dianggap sama. Luas
dan diamater dari bak clarifier dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan
102 dan 103.


() = ( ) (102)

4
= ( )0.5 (103)

Setelah didapatkan diameter luas perlu dihitung ulang dengan menggunakan


Persamaan 104.
1
= 4 2 (104)

Overflow rate di cek kembali dengan Persamaan 105.


() = (105)

Solid Loading saat aliran rata rata dihitung dengan Persamaan 106.

() = (106)

Kemudian kedalaman Clarifier ditentukan. Zona air bersih dan pengendapan


dapat ditentukan diantara 1,5 sampai 2 m. Zona thickening dihitung setelah zona
air bersih ditentukan. Kedalaman zona penyimpanan lumpur dapat ditentukan
dengan asmsi faktor sustained BOD5 sebesar 1,5 dan sustained flowrate sebesar
2,5. Zona penyimpanan lumpur dapat ditentukan dengan menggunakan Persamaan
107 hingga 111.

TVSS= 0.31 x Qin C (BOD5 influen OD-BOD5 Effluen OD)


faktor suspenden BOD5 sustain flowrate (107)

= 2 (108)
0.8

Total solid di clarifier = total solid + z (109)


= (110)
2

17

1000
= 0.3 (111)
1 0.05 106

Kedalaman Clarifier dapat ditentukan dengan menggunakan Persamaan 112 dan


113.


= (112)

total kedalaman = kedalaman clarifier + kedalaman zona thickenig


+ zona air bersih (113)

Waktu detensi dapat ditentukan dengan menentukan volume rata-rata


Clarifier sebelumnya dengan menggunakan Persamaan 114. Waktu detensi dapat
ditentukan dengan menggunakan Persamaan 115.
1
= 3.14 2 (114)
4


= (115)

Struktur Effluen dapat didesain dengan menghitung total V-notch terlebih dahulu
dengan menggunakan Persamaan 116.


= (116)

Head over v-notch dapat dihitung dengan menentukan debit rataan dari Clarifier
dan aliran per V-notch terlebih dahulu dengan Persamaan 117 dan 118. Head over
v-notch dapat ditentukan dengan menggunakan Persamaan 119.


= ( ) (117)
86400

Qin c
Aliran per V notch = jumlah Vnotch (118)

2
5
= 8 (119)
0.6 29.810.5 tan 45
15

Aktual weir loading dihitung dengan menggunakan Persamaan 120


= (120)

Dimensi pipa effluen dapat di desain dengan mengasumsikan V = 1 m/detik dan


terdapat 2 pipa effluen, sehingga debit masing-masing pipa dapat dihitung dengan
Persamaan 121.

18
Qin c
Q masing masing pipa = (121)
2

Setelah didapatkan debit dapat ditentukan luas masing-masing pipa dengan


Persamaan 122.

Q masingmasing pipa
= (122)
V

Setelah luas pipa didapatkan, dapat dihitung diameter pipa dengan menggunakan
Persamaan 123.

0.27 0.5
= 1 (123)
3.14
4

Diameter pipa baru didapatkan, sehingga luasan dikoreksi dengan diameter pipa
baru tersebut dengan Persamaan 124.
1
A = 4 3.14 2 (124)

Kecepatan pada struktur efluen di cek kembali dengan Persamaan 125.



= (125)

Pipa influen jumlahnya 3 sehingga debit nya dapat dihitung dengan


Persamaan 126.


= (126)
3

Desinfeksi
Kriteria desain desinfeksi dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Kriteria desain desinfeksi


Kriteria Besaran Satuan
Waktu pengadukan < 30 Menit
Waktu detensi 15 45 Menit
Rasio P : L < 40
Kecepatan Aliran 1 4,5 m/menit
Dosis Chlor 28 Mg/l
Kadar chlor dalam kaporit 70 %

Nilai kriteria desain yang telah ditentukan selanjutnya dilakukan untuk


proses penentuan kriteria terpilih dengan nilai td yang dipilih selama 30 menit
atau sama dengan 1800 detik. Nilai kecepatan (v) aliran yang digunakan sebesar 3
m/menit atau sama dengan 0,05 m/det dan nilai dosis chlor yang digunakan
sebesar 6 mg/l atau setara dengan 6 g/m3.
Nilai nilai yang telah ditentukan kemudian digunakan dalam proses
perhitungan. Nilai perhitungan awal dilakukan dengan dihitungnya nilai dimensi
contact basin dengan perencanaan bak desinfeksi yang digunakan sebanyak 2

19
buah bak dan 1 buah bak cadangan. Nilai debit rata rata (Qave) yang didapat
sebesar 0.308 m3/det Perhitungan nilai debit (Q) tiap bak dan nilai volume akan
dihitung dengan menggunakan Persaman 127 dan Persamaan 128.

Q tiap bak = Qave/2 (127)

Volume = Q . td (128)

Perhitungan dilanjutkan dengan perhitungan dimensi dengan bak yang


digunakan sebanyak dua buah bak dengan kriteria tiap bak memiliki tiga susun
pass-around-the end baffles. Perhitungan nilai A cross nilai lebar (L) bak dan
panjang (P) bak dihitung dengan digunakan Persaman 129, Persamaan 130, dan
Persamaan 131 sebagai berikut.

A cross = (129)

L bak = H / A cross (asumsi H = 2 m) (130)


P bak = (131)
.

Pengecekan nilai wakti detensi (td) dilakukan dengan digunakan Persamaan


132.


td = (132)

Selanjutnya perhitungan kadar kebutuhan kaporit yang akan dihitung dengan


Persamaan 133.

. 86400 .

Banyaknya kaporit yang dibutuhkan = . (133)
1000 /

Perhitungan selanjutnya berupa penentuan nilai diameter strutur influen dan


diameter struktur effluen. Nilai diameter pipa pada influen dianggap sama dengan
diameter pipa pada effluen. Asumsi nilai kecepatan aliran sebesar 1 m/det dengan
jumlah pipa effluen sebanyak 2 buah. Nilai debit dari masing masing pipa
diketahui sebesar 0,16 m3/det. Nilai luas (A) dan nilai diameter (d) dihitung
dengan Persamaan 134 dan Persamaan 135.


A= (134)

4
d= (135)

Perhitungan selanjutnya proses pengecekan nilai kecepatan aliran dengan nilai


diameter baru dengan asumsi nilai panjang bak pengumpul sepanjang 2 m,

20
kedalaman sebesar 1 m, dan lebar zona effluen atau sama dengan lebar bak
sebesar 1,6 m. Perhitungan kecepatan aliran digunakan Persamaan 136.

v= (136)

Sludge drying bed


Kriteria desain desinfeksi dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Kriteria desain sludge drying bed


Kriteria Besaran Satuan
Konsentrasi solid 5 %
pH 6,5 7,5
Spesifik gravity 1,02
Optimum lime dosage (CaO) 5 % dari dry solids
Organik polymer (Cationic) 2% dari dry solids

Perhitungan awal yang dilakukan berupa perhitungan total solid per jam
pada saat operasi filter dilakukan dengan total solids diketahui sebesar 23856,32
kg/hari. Perhitungan digunakan Persamaan 137.

. 7 /
Sludge solids = (137)
5 ()

Selanjutnya perhitungan nilai lime (CaO), nilai polymer, total solid
dewatered, dan total solid per jam dihitung dengan Persamaan 138, Persamaan
139, Persamaan 140, dan Persamaan 141.

Lime (CaO) = sludge solids . optimum lime dosage (138)

Polymer = sludge solids . organik polymer (cationic) (139)

Total solid dewatered = sludge solids + lime + polymer (140)


Total solid per jam = (141)
8 /

Dilanjutkan dengan perhitungan size dari sludge pump pada conditioning


tank dengan debit yang diketahui sebesar 223,24 m3/hari. Nilai perhitungan total
sludge pumped per hari operasi dan nilai pumping rate per putaran dilakukan
dengan Persamaan 142 dan Persamaan 143.

. 7 /
Total sludge pumped per hari operasi = 5 /() (142)


Pumping rate per putaran = (143)
8 /

Perhitungan selanjutnya berupa perhitungan dimensi dari conditioning tank


dengan asumsi line conditioning tank sebesar 10 menit waktu detensi. Nilai
volume conditioning tank dihitung dengan Persamaan 144.

21
10
Volume conditioning tank = . 60 / (144)

Selanjutnya dihitung nilai dimensi drying bed dengan jumlah unit yang
dibuat sebanyak 4 unit, perbandingan panjang dan lebar (P:L) sebesar 2:1, tebal
bed setebal 30 cm atau sama dengan 0.3 m, nilai td sebesar 10 hari. Volume dan
luas dihitung dengan digunakan Persamaan 145 dan Persamaan 146.


Volume = (145)
10


A = (146)

A setiap unit = A / 4 (147)

A = 2L2 (148)


L = 2 (149)

HASIL DAN PEMBAHASAN


Karakteristik Air Limbah
Kualitas air pada dasarnya dapat dilakukan dengan pengujian untuk
membuktikan apakah air itu layak dikonsumsi. Penetapan standar sebagai batas
mutu minimal yang harus dipenuhi telah ditentukan oleh standar Internasional,
standar Nasional, maupun standar perusahaan. Berdasarkan PP No.82/2001
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air disebutkan
bahwu mutu air telah diklasifikasikan menjadi empat kelas, yaitu air kelas satu
yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan untuk
peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegiatan
tersebut. Air kelas dua, air yang diperuntukannya dapat digunakan untuk
prasarna/sarana rekreasi air. pembudidayaan ikan air tawar. peternakan, air untuk
mengairi pertanian, dan peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang
sama dengan kegunaan tersebut. Air kelas tiga, yang diperuntukannya dapat
digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi
pertamanan, dan peruntukan lain yang persyaratan mutu air yang sama dengan
kegunaan tersebut. Air kelas empat, air yang diperuntukannya lain yang
mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut (Azwir 2006).
Karakteristik air limbah dapat diketahui berdasarkan parameter parameter
tertentu seperti BOD, COD, TSS, TDS, dan lainnya. Kadar BOD dan COD yang
tinggi dapat menyebabkan penurunan kandungan oksigen terlarut di perairan,
yang dapat mengakibatkan kematian organisme akuatik. Sementara itu, dampak
dari kandungan fosfat yang tinggi dapat mempercepat pertumbuhan mikroalgae
pada perairan bebas. Oleh karena pencemaran lingkungan mempunyai dampak
yang sangat luas dan sangat merugikan manusia maka perlu dilakukan
pengurangan pencemaran lingkungan atau apabila mungkin ditiiadakan sama
sekali (Andrianto 2008). Pada penelitian ini konsentrasi dari parameter BOD,
COD, TSS (zat padat tersuspensi), TDS (zat pada terlarut), bahan padat

22
terendapkan, TOC (karbon organik total), nitrogen, fosfor, klorida, sulfat, alkali,
dan lemak dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Nilai konsentrasi limbah domestik, industri dan campuran setiap


parameter
No parameter Konsentrasi (mg/L)
Domestik Industri Campuran
1 Total zat padat
zat padat terlarut (TDS) 638 - 638
zat padat tersuspensi (TSS) 204 3297 3501
2 Bahan padat terendapkan 18.5 - 18.5
3 Kebutuhan oksigen biokimia, 5 hari, 20oC (BOD5, 20oC) 188 2037 2225
4 Karbon oragnik total (TOC) 132 - 132
5 Kebutuhan oksigen kimiawi (COD) 431 5883 6314
6 Nitrogrn (total sebagai N) 31.9 - 31.9
7 Fosfor (total sebabgai P) 8.72 - 8.72
8 Klorida 35.3 - 35.3
9 Sulfat 19.2 - 19.2
10 Alkanitas (sebagai CaCO3) 92.4 - 92.4
11 Lemak 88 - 88

Nilai konsentrasi limbah industri pada parameter TSS, BOD, dan COD
menunjukkan nilai lebih besar dibandingkan konsentrasi parameter serupa dalam
limbah domestik. Konsentrasi TSS, BOD, dan COD pada limbah industri secara
berturut-turut yaitu 3297 mg/l, 2037 mg/l, dan 5883 mg/l. Sementara konsentrasi
parameter TSS, BOD, dan COD pada limbah domestik berturut-turut adalah 204
mg/l, 188 mg/l, dan 431 mg/l. Parameter lain berdasarkan Tabel 10 pada limbah
industri tidak diketahui datanya, sehingga tidak dapat dibandingkan antara
konsentrasi pada limbah industri dengan domestik. Konsentrasi limbah industri
menunjukkan nilai yang besar karena industri lebih banyak menggunakan bahan
kimia yang lebih berbahaya bagi lingkungan dibandingkan dengan domestik.
Selain parameter tadi, diketahui juga nilai debit total buangan untuk limbah
domestik yaitu 250 l/det sementara limbah industri 80 l/det. Berdasarkan debit
total air buangan, dapat diketahui konsentrasi BOD campuran dan konsentrasi
TSS campuran per jamnya dengan asumsi persenan dari total awal. Untuk data
konsentrasi BOD campuran dan TSS Campuran dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Nilai konsentrasi BOD dan TSS setiap jam


Debit total = l/det BOD = mg/l SS = mg/l
Jam
% % %
0-1 78 257.40 79 502.63 82 782.13
1-2 63 207.90 67 426.28 65 619.98
2-3 47 155.10 44 279.95 52 495.99
3-4 36 118.80 28 178.15 35 333.84
4-5 34 112.20 25 159.06 17 162.15
5-6 32 105.60 34 216.32 17 162.15
6-7 35 115.50 50 318.12 21 200.30
7-8 61 201.30 75 477.18 49 467.37
8-9 95 313.50 94 598.07 115 1096.89
9-10 125 412.50 116 738.04 147 1402.11

23
Debit total = l/det BOD = mg/l SS = mg/l
Jam
% % %
10-11 122 402.60 118 750.77 155 1478.42
11-12 127 419.10 121 769.85 161 1535.65
12-13 122 402.60 117 744.40 153 1459.34
13-14 115 379.50 108 687.14 146 1392.57
14-15 108 356.40 94 598.07 132 1259.04
15-16 96 316.80 82 521.72 114 1087.35
16-17 82 270.60 76 483.54 96 915.67
17-18 82 270.60 74 470.82 94 896.59
18-19 86 283.80 79 502.63 91 867.97
19-20 98 323.40 84 534.44 106 1011.05
20-21 112 369.60 96 610.79 123 1173.20
21-22 115 379.50 99 629.88 128 1220.89
22-23 108 356.40 102 648.97 125 1192.27
23-24 92 303.60 90 572.62 113 1077.81

Tabel 11 menunjukkan nilai yang fluktuatif hal ini menunjukkan adanya


perbedaan intensitas kegiatan pada setiap jamnya. Konsentrasi BOD campuran
tertinggi yaitu senilai 769.85 mg/l dan konsentrasi TSS campuran tertinggi senilai
1535.65 mg/l. Konsentrasi BOD campuran dan konsentrasi TSS campuran
mengalami nilai tertinggi pada jam 11 ke 12 dan nilai terendah untuk BOD
campuran dan TSS campuran dialami pada jam yang sama yaitu dari jam 4 ke jam
5. Hal ini dapat terjadi karena kemungkinan pada jam ke 11-12 tersebut
merupakan puncak dari kegiatan industri ataupun domestik sehingga
menghasilkan nilai konsentrasi yang tinggi.

Kesetimbangan Masa
Kesetimbangan massa pada pengolahan air limbah dipakai untuk
mengetahui konsentrasi substansi yang mengalami perubahan dan reduksi pada
setiap influen ataupun efluen unit pengolahan. Data yang digunakan untuk analisis
kesetimbangan massa dalam penelitian ini yaitu Biochemical Oxygen Demand
(BOD) sebesar 636.24 mg/l, Total Suspended Solid (TSS) sebesar 953.82 mg/l,
dan debit total 0.33 m3/det. Perpindahan subtansi harus seimbang dengan jumlah
sisa produksi oleh proses fisik dan kimiawi. Berikut disajikan perhitungan
kesetimbangan massa debit air limbah pada Tabel 12 hasil yang disajikan
merupakan hasil dari iterasi ke-13.

Tabel 12 Hasil perhitungan kesetimbangan massa


Parameter Hasil
Screen
Qsw m3/det 1.65E-06
Qsc m3/det 0.330
Grit Chamber
Qgw m3/det 1.32E-10
Qg m3/det 0.330
Sedimentasi Primer
SS removal kg/det 0.383
Qup m3/det 0.001
Qp m3/det 0.329
Xp mg/L 333.836

24
Parameter Hasil
Sp mg/L 382.734
Aerasi
dS kg/det 0.124
dX kg/det 0.081
R 0.258
QA m3/det 0.414
Qfe m3/det 0.030
Sedimentasi Sekunder
Qus m3/det 0.110
Qs m3/det 0.334
Qw m3/det 0.025
Thickener
Qt.Xt m3/det 0.0539
Qt m3/det 0.0009
Anaerobik
Qts m3/det 0.353
Xts mg/L 487.271
Qd.Xd m3/det 0.019
Xd mg/L 21
Apl 1.70E-04
Qpl=Qpt m3/det 2.12E-06
Sentrifugal
Qck.Xck 0.019
Qck m3/det 5.80E-05
Qct m3/det 8.42E-04
Xct mg/L 564.858
Qpo baru 0.349
Xpo baru 1688.37

Debit yang masuk atau Qg sebesar 0.33 m3/detik dengan debit yang keluar
atau Qgw sebesar 1.32E-10 m3/detik. Pada unit sedimentasi, SS removed di unit
sedimentasi primer dengan menggunakan persamaan diperoleh nilai sebesar 0.383
m3/detik. Dari nilai SS removed dan konsentrasi TSS aliran bawah efluen
sedimentasi primer sehingga diperoleh debit aliran bawah (under flow) efluen
sedimentasi primer sebesar 0.001 m3/detik. Selanjutnya, debit aliran efluen
sedimentasi primer (Qp) diperoleh nilai sebesar 0.0329 m3/det. Dari debit Qp
tersebut maka dapat diperoleh nilai konsentrasi TSS supernatan efluen Xp sebesar
333.836 mg/L.
Pada bak aerasi lumpur aktif, konsentasi BOD efluen terlarut (Sa) sebesar 5
mg/l, koefisien hasil (yield) bersih TSS berdasarkan BOD influen dan BOD5
efluen terlarut (y) sebesar 0,65 mg dan konsentrasi TSS di bak aerasi (Xa) sebesar
2000 mg/l sehingga dapat diperoleh nilai dari Qa sebesar 0.414 m3/detik. Pada
sedimentasi sekunder, ada 3 debit yang menjadi bagian penting yaitu Qfe, Qus
dan Qw sehingga dari penjumlahan Qfe dan Qus dengan pengurangan Qw maka
didapatkan nilai Qs (debit aliran supernatan efluen sedimentasi sekunder) sebesar
0.334 m3/detik. Kemudian, debit thinckener sebesar 0.0009 m3/detik. Debit pada
thinckener atau Qt juga sama dengan nilai dari debit aliran bawah digester
anaerobik (Qd). Kemudian, dengan penjumlah debit dari Qup dan Qw dengan
pengurangan dari debit Qt atau bisa disebut debit aliran bawah efluen thinckener
diperoleh nilai debit aliran supernatan efluen thickener menuju influen
sedimentasi primer sebesar 0.353 m3/detik.

25
Pada unit sentrifugasi, 9 kg polimer ditambahkan pada setiap 1 ton padatan
(Dpl) dan keluaran dari digester anaerobic (QdXd) dengan konsentrasi (Xpl)
sebesar 80 g/l sehingga diperoleh nilai Qpl atau laju aliran conditioning polime
untuk sentrifugasi di peroleh sebesar 2.12E-06 m3/detik. Unit dengan diharapkan
menampung padatan sebesar (Cc) sebesar 975 mg/L dari penambahan QdXd dan
QplXpl maka keluaran sentrifugasi padatan kering atau QckXck sebesar 0.019
mg/detik. Dari nilai perolehan tersebut dapat diketahui nilai dari Qck yaitu 5.80E-
05 m3/detik. Selain itu, Qct dapat diperoleh dari penambahan debit Qd dan Qpl
dengan pengurangan Qck sehingga nilai dari Qct diperoleh sebesar 8.42E-04
m3/detik. Nilai Q baru didapatkan yaitu senilai 0.349 m3/detik dan untuk nilai X
baru didapatkan yaitu senilai 1688.37 mg/l. Nilai Qf yang keluar lebih kecil dari
pada Q awal.

Grit Chambers
Grit Chamber adalah tempat proses pengolahan air yang memiliki fungsi
menghilangkan tanah kasar, pasir dan partikel halus mineral dari air yang akan
diolah sehingga tidak mengendap dalam saluran ataupun pipa dan melindungi
pompa dan mesin dari abrasi. Secara teoretis, partikel yang bisa diendapkan oleh
Grit Chamber ini adalah partikel yang berukuran >200 mm. Pada instalasi digester
aerob dan anaerob, unit Grit Chamber digunakan untuk mengurangi frekuensi
pembersihan digester akibat akumulasi grit. Untuk IPAL industri, terutama
industri yang air limbahnya lebih banyak mengandung senyawa terlarut dan
koloid, maka Grit Chamber ditiadakan, diganti dengan equalization tank
(Chakrabarti 1970). Perencanaan ini menggunakan tipe aerated grit chamber yaitu
adanya aerasi untuk mengurangi pembusukan. Kriteria rancangan pada grit
chamber ditampilkan pada Tabel 13.

Tabel 13 Kriteria rancangan grit chamber


No Kriteria Rancangan GC terpilih Nilai Satuan
1 Jumlah Bak GC 2 buah
2 Debit limpasan puncak (Qpeak maksimal) 0.42 m3/det
3 Waktu detensi 4 menit
4 Suplai udara 0.4 m3/m.detik
5 Lebar bak 4 m

Setelah kriteria desain dan kriteria terpilih telah ditentukan, maka


perhitungan dalam perancangan grit chamber tipe ini dapat dilakukan. Dimensi
yang ditentukan berdasarkan pada jumlah unit. Setelah perhitungan perencanaan
grit dilakukan, dimensi yang dibutuhkan dalam perancangan dapat diliihat pada
Tabel 14.

Tabel 14 Penentuan geometri grit chamber


No Kriteria Nilai Satuan
1 Debit puncak maks GC (Qpeak/2) 0.20955 m3/det
2 Vol.tiap bak untuk waktu detensi 50.29 m3
3 Asumsi kedalaman rata2 2 m
4 Asumsi freeboard 0.8 m

26
No Kriteria Nilai Satuan
5 Kedalaman total GC (B3+B4) 2.8 m
6 Luas Permukaan bak (B2/B3) 25.146 m2
7 Rasio P:L 4:1
8 Panjang 2.05 m
9 Lebar 12.26 m
10 Luas permukaan bak terpilih 56 m2

Debit puncak yang dapat ditampung oleh setiap chamber yaitu 0.21 m3/det,
nilai debit ini merupakan pembagian dua dari nilai debit kriteria rancangan awal
untuk dua unit grit. Volume setiap bak untuk waktu detensi yaitu 50.29 m3 nilai
ini merupakan perhitungan debit maksimum tiap chamber dengan waktu detensi.
Jika waktu detensi lama, akan semakin besar volume yang dibutuhkan untuk satu
unit chamber. Kedalaman air rerata merupakan faktor hidrolika yang harus
dipertimbangkan dalam perencanaan grit chamber. Nilai kedalaman air rerata ini
merupakan nilai asumsi awal yang dimasukan sebagai faktor penentu. Kedalaman
air ini harus ditambahkan dengan tinggi jagaan atau freeboard agar unit tetap
aman dari limpahan limbah apabila debit maksimum terlampaui. Luas juga akan
didapat, dengan asumsi awal perbandingan panjang dan lebar yaitu 4:1 sehingga
nilai luas permukaan bak terpilih yaitu 56 m2.
Karena rancangan menggunakan tipe aerated grit chamber, nilai parameter
suplai udara harus diperhatikan juga. Meliputi laju suplai udara per meter panjang,
kebutuhan udara bak, kebutuhan udara pada kondisi puncak, kapasitas total
difuser udara, dan kapasitas blower pada kedua bak. Tabel 15 merupakan nilai
perencanaan untuk suplai udara pada grit chamber.

Tabel 15 Parameter suplai udara


No Parameter Nilai Satuan
1 Laju suplai udara per meter panjang bak 6.66667 l/det
2 Kebutuhan udara teoritis per bak 93.3333 l/det
3 Kebutuhan udara saat kondisi puncak 150 %
4 Kapasitas total dari difusser udara 10 l/det
5 Kapasitas blower untuk kedua bak 1.20 l/m3

Laju suplai udara per meter panjang bak 6.67 l/det sehingga per bak
memiliki kebutuan udara 93.3 l/det. Selain itu kebutuhan udara pada kondisi
puncak juga perlu direncanakan agar unit dapat tetap berjalan meskipun kondisi
air limbah dalam debit maksimum. Besar kebutuhan udara pada kondisi puncak
diasumsikan sebesar 150% dari total suplai udara yang dikeluarkan. Kapasitas
total untuk difuser adalah 10 lt/det/bak sedangkan kapasitas blower untuk kedua
bak adalah sebesar 1,2 lt/det. Pengecekan dibutuhkan untuk memastikan unit
dapat bekerja optimum baik menggunakan satu bak ataupun dua bak. Parameter
pengecekan yang digunakan adalah laju overflow. Selain itu, Headloss juga perlu
diperhitungkan dalam unit grit chamber. Hasil perhitungan headloss dapat dilihat
pada Tabel 16.

27
Tabel 16 Hasil perhitungan headloss
1 Headloos di struktur effluen 0.2147 m
2 Headloos di struktur influen 0.023 m
3 Headloos di bak GC (diabaikan)
4 Headloss di baffles
a. Kecepatan aliran di bak (v2) 0.05571 m
b. hL 0.00015 m

Headloss ini merupakan kumulasi dan berhubungan dengan headloss yang


terjadi di effluen dan influen. Headloss yang terjadi di bak grit chamber dapat
diabaikan. Kecepatan aliran di bak baffles adalah sebesar 0,055 m. Semakin cepat
aliran maka semakin besar headloss yang terjadi. Kehilangan tekan ini harus
diperhitungkan agar air limbah dapat mengalir ke unit terakhir dengan debit yang
mencukupi.

Comminutor
Comminutor terdiri dari peralatan seperti grinder dan memotong material
yang tertangkap oleh screen. Comminutor dilengkapi dengan gigi pemotong atau
peralatan pencacah dalam drum yang berputar (Hamer 1986). Alat ini
meringankann beban kerja unit pengolahan, terutama saat proses pengendapan,
serta mampu mengoptimalkan kinerja pengolahan biologis. Alat ini juga dapat
dipasang diantara grit chamber dan primary septic tank untuk mengurangi bau
yang menyengat.
Comminutor akan beroperasi pada debit puncak, hasil debit puncak efluen
grit chamber atau Qp yang telah dihitung adalah 0.42 m3/detik. Hasil dari
pemilihan comminutor didapatkan Qp yang sebesar 9556.7 MGD kriteria desain
comminutor menunjukkan jenis yang terpilih berdasarkan debit puncak koreksi
yaitu free discharge. Tipe comminutor dipilih dengan kapastitas maksimum 0.35
MGD dan ukuran motor 0.75. Jumlah comminutor yang diinginkan yaitu 2 unit.
Struktur influen comminutor terdiri dari pipa dengan diameter 0.2 m untuk
mendistribusikan aliran ke masing-masing comminutor. Comminutor dipasang
pada sebuah dinding sebagai perangkat antar comminutor. Dengan demikian,
struktur efluen terdiri dari saluran untuk menerima aliran dari comminutor dari
pipa outlet dengan diameter influen dan efluen sama yaitu 0.2 m.

Ekualisasi
Bak ekualisasi ini berfungsi untuk mengatur debit air limbah yang akan
diolah serta untuk menyeragamkan konsentrasi zat pencemarnya agar homogen
dan proses pengolahan air limbah dapat berjalan dengan stabil. Selain itu dapat
juga digunakan sebagai bak aerasi awal pada saat terjadi beban yang besar secara
tiba-tiba (shock load). Waktu tinggal di dalam bak ekualisasi umumnya berkisar
antara 6 10 jam (Reynolds 1985).

Tabel 17 Volume rata-rata limbah yang dikeluarkan perjam selama 24 jam


Debit Vol kumulatif
Jam %Pemakaian Rata2 Vol. kumulatif
Debit (l/det) (m3/det) influen (m3) effluen (m3) rata2 (m3)
0-1 78 257.40 0.277 722.779 998.32095 -275.542

28
Debit Vol kumulatif
Jam %Pemakaian Rata2 Vol. kumulatif
Debit (l/det) (m3/det) influen (m3) effluen (m3) rata2 (m3)
1-2 63 207.90 0.277 1194.296 1996.6419 -802.346
2-3 47 155.10 0.277 1456.726 2994.96285 -1538.237
3-4 36 118.80 0.277 1610.690 3993.2838 -2382.593
4-5 34 112.20 0.277 1748.023 4991.60475 -3243.582
5-6 32 105.60 0.277 1869.674 5989.9257 -4120.251
6-7 35 115.50 0.277 2015.204 6988.24665 -4973.042
7-8 61 201.30 0.277 2457.259 7986.5676 -5529.308
8-9 95 313.50 0.277 3529.429 8984.88855 -5455.459
9 - 10 125 412.50 0.277 5385.679 9983.2095 -4597.530
10 - 11 122 402.60 0.277 7153.898 10981.53045 -3827.632
11 - 12 127 419.10 0.277 9070.024 11979.8514 -2909.828
12 - 13 122 402.60 0.277 10838.243 12978.17235 -2139.930
13 - 14 115 379.50 0.277 12409.373 13976.4933 -1567.121
14 - 15 108 356.40 0.277 13795.056 14974.81425 -1179.758
15 - 16 96 316.80 0.277 14889.917 15973.1352 -1083.218
16 - 17 82 270.60 0.277 15688.728 16971.45615 -1282.728
17 - 18 82 270.60 0.277 16487.539 17969.7771 -1482.238
18 - 19 86 283.80 0.277 17366.184 18968.09805 -1601.914
19 - 20 98 323.40 0.277 18507.139 19966.419 -1459.280
20 -21 112 369.60 0.277 19997.366 20964.73995 -967.374
21 - 22 115 379.50 0.277 21568.496 21963.0609 -394.565
22 - 23 108 356.40 0.277 22954.180 22961.38185 -7.202
23 - 24 92 303.60 0.277 23959.703 23959.7028 0.000
Vmax -7.202
Vmin -5529.308
V 5522.106

Perbedaan debit pada setiap jam dipengarui oleh persentase pemakaian yang
berbeda setiap jamnya. Berdasarkan Tabel 17, volume kumulatif maksimum
adalah -7.202 m3 dan volume kumulatif minimum adalah -5529.3 m3. Nilai
volume bak ekualisasi didapat dengan cara nilai volume kumulatif rata-rata
terbesar ditambah dengan nilai volume kumulatif rata-rata terkecil diabsolutkan
sebesar 5522.1 m3. Volume bak ekualisasi juga dapat dicari menggunakan grafik
melalui plotting volume kumulatif influen dan efluen terhadap rentang waktu
setiap jam selama 24 jam. Kemudian, garis singgung antara kurva volume
kumulatif influen dan kurva volume kumulatif efluen dibuat, sehingga jarak
terbesar garis singgung tersebut merupakan volume bak ekualisasi. Penentuan
volume dengan menggunakan grafik tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.

29
35000

30000

25000

20000
Influen
15000 Effluen

10000

5000

0
0 4 8 12 16 20 24
Gambar 1 Grafik volume kumulatif influen dan efluen terhadap rentang
waktu setiap jam selama 24 jam

Perhitungan untuk perancangan unit dimulai saat bak dalam keadaan


kosong. Kondisi kosong terjadi saat waktu debit campuran setiap jam pertama
melebihi debit campuran rata-rata selama 24 jam. Pada perhitungan yang
dilakukan, hal tersebut terjadi saat pukul 08.00. Hal tersebut menandakan, pada
jam tersebut, unit ekualisasi harus dalam keadaan kosong.

0.6

0.5

0.4

0.3 Qrata-rata
Q
0.2

0.1

0.0
0 4 8 12 16 20 24

Gambar 2 Grafik debit campuran dengan debit rata-rata camputan terhadap


rentang waktu setiap jam selama 24 jam

Bak ekualisasi dapat dipantau tingkat keberhasilannya dengan cara melihat


grafik hubungan antara waktu dan nilai BOD serta TSS. Apabila grafik pada akhir
telah dalam keadaan relatif konstan, maka dapat dinyatakan bahwa unit tersebut
telah berhasil untuk menyeragamkan dan menghomogenkan nilai TSS dan BOD
dengan unit ekualisasi. Nilai BOD dapat dilihat pada Gambar 3.

30
1600
1400
1200
1000
BOD sebelum
800
BOD setelah
600
400
200
0
0 4 8 12 16 20 24
Gambar 3 Grafik Hubungan Antara Nilai BOD Sebelum dan Sesudah
Ekualisasi

Pada Gambar 3 menunjukan hasil bahwah terjadi perubahan nilai BOD


sebelum dan sesudah ekualisasi. Nilai BOD sebelum ekualisasi bersifat fluktuatif
kemudian nilai BOD sesudah ekualisasi menjadi lebih konstan dan cenderung
menurun nilainya. Selain BOD, parameter selanjutnya adalah TSS yang akan
disajikan pada Gambar 4.

3000

2500

2000
TSS sebelum
1500
TSS setelah
1000

500

0
0 4 8 12 16 20 24

Gambar 4 Grafik Hubungan Antara Nilai TSS Sebelum dan Sesudah


Ekualisasi.

Sama halnya seperti pada parameter BOD. Pada Gambar 6 menunjukan


bahwa terjadi perubahan nilai TSS sebelum ekualisasi dan sesudah ekualisasi.
Nilai TSS sebelum ekualisasi bersifat fluktuatif kemudian nilai TSS sesudah
ekualisasi cenderung lebih stabil. Ekualisasi diaplikasikan untuk berbagai kondisi,
yaitu aliran pada musim kemarau, aliran pada musim penghujan dengan sistem
terpisah, serta kombinasi dari drainase dan air limbah domestik.

31
Sedimentasi
Sedimentasi adalah pemisahan partikel secara gravitasi setelah endapan
terbentuk dari proses koagulasi flokulasi berbentuk lumpur. Unit ini menggunakan
prinsip berat jenis. Berat jenis partikel koloid (biasanya berupa lumpur) akan lebih
besar daripada berat jenis air. Pada bak sedimentasi, akan terpisah antara air dan
lumpur. Bak sedimentasi dilengkapi plat settler yang bertujuan mempercepat
proses pengendapan. Plat settler yang dipasang memiliki kemiringan 600 supaya
partikel koloid yang berat akan mudah mengendap saat menabrak plat settler
(Rahardjo 2003). Tabel 18 menampilkan kriteria rancangan bak sedimentasi.

Tabel 18 Kriteria rancangan bak sedimentasi


Komponen Besaran Satuan
SS removal 60 %
BOD removal 35 %
Panjang 50 M
Weir loading 186 m3/m.hari
Rasio Panjang (P) : Kedalaman (H) 15 : 1
Rasio Panjang (P) : Lebar (l) 4:1
Kecepatan di pipa influen 0,3 m/detik
Waktu detensi 1.2 jam

Selanjutnya adalah menentukan dimensi bak sedimentasi berdasarkan


kriteria rancangan. Diketahui juga data BOD, SS, dan debit berdasarkan
perhitungan sebelumnya pada bak ekualisasi. Debit yang berasal dari bak
ekualisasi adalah sebesar 0.285 m3/detik, BOD ekualisasi sebesar 529.18 mg/l,
dan SS ekualisasi sebesar 963.65 mg/l. Bak sedimentasi dirancang akan
menggunakan 3 unit dengan 2 unit beroperasi dan 1 unit cadangan. Hasil
perhitungan dimensi bak pengendap dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19 Hasil perhitungan dimensi bak pengendap


Komponen Besaran Satuan
Debit rata rata tiap bak 0.14 m3/detik
Luas permukaan 246.03 m2
Lebar 38.34 M
Panjang 1.355625 M
Kedalaman 0.00 M
Freeboard 0.3 M
Kedalaman Total 0.30 M
Cek overflow rate 1120.32 m3/m2.hari
Cek waktu detensi (td) 0.05 Jam

Diameter pipa influen dan efluen didesain sama yaitu sebesar 450 mm. Weir
yang digunakan berbentuk v-notch dengan total panjang weir sebesar 70 m.
Jumlah vnotch pada weir sebanyak 346 buah dengan debit per v-notch sebesar
0,00041 m3/det. Dimensi launder (gutter) ditentukan dengan lebar launder sebesar
0.5 m, lalu lebar bak efluen sebesar 1 m dan diameter pipa inlet outlet sebesar 450
mm. Total panjang launder sebesar 38.5 m dengan aliran per unit sebesar 0.0037
m3/det.
Volume lumpur yang di rencanakan per bak sebesar 0.08 m3/menit. Jumlah
produksi lumpur per bak per hari dengan % removal 0,5 sebesar 5927.27 kg/hari.
Untuk kuantitas efluen dari bak sedimentasi BOD dan TSS di efluen primer

32
sebesar 4556.92 kg/hari dan 5927.27 kg/ hari. Volume di efluen primer sebesar
12071.55 m3/hari. Lalu untuk kuantitas scum adalah sebesar 0.1 m3/hari.
Dimensi pada ruang lumpur direncanakan dengan asumsi ketinggian ruang
lumpur sebesar 0.8 m maka volume lumpur per bak sebesar 115.09 m3/hari. Jika
pengurasan dilakukan setiap 2 hari sekali maka volume lumpur dan luas ruang
lumpur sebesar 57.55 m3 dan 7.1 m2. Bentuk zona pengendapan (ruang lumpur)
berbentuk trapesium dengan jumlah sisi sejajar sebesar 17.76 m, sisi 1dan sisi 2
dengan perbandingan 1:2 sebesar 5.92 m dan 11.84 m. Tinggi tekan yang tersedia
sebesar 3.09 m dan kecepatan aliran sebesar 5.32 m/det. Jika diasumsikan pipa
penguras 1 buah dengan diameter 0,35 m maka luas dan debit pipa penguras
sebesar 0,096 m2 dan 0.51 m3/det. Lama pengurasan yang terjadi adalah 112.59
detik.

Oxidation Ditch
Oxidation ditch adalah bak berbentuk parit yang digunakan untuk mengolah
air limbahdengan memanfaatkan oksigen (kondisi aerob). Kolam oksidasi ini
biasanya digunakan untukproses pemurnian air limbah setelah mengalami proses
pendahuluan. Fungsi utamanya adalah untuk penurunan kandungan bakteri yang
ada dalam air limbah setelah pengolahan (McInernay 1981). Oxidation ditch (parit
oksidasi) terdiri dari suatu cincin atau saluran oval shaped yang dilengkapi dengan
aerator meknik (type brush atau surface) dan alat pencampuran. Air limbah yang
telah disaring, masuk ke dalam saluran dan dikombinasikan dengan sisa hasil
proses activated sludge. Kriteria perencanaan dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20 Kriteria perencanaan oxidation ditch


kriteria perencanaan
tipikal tunggal dengan kedalaman air 1.8 m
Slope 45
c 20 hari
F/M 0.12 per hari
aerator loading 0.3 kg/m3.hari
MLSS (X) 4500 mg/liter
periode aerasi (V/Q atau ) 24 jam
recirculation ration 1
Y 0.3 mg VSS/mg
Kd 0.04 per hari
TSS effluent 20 mg/liter
konsentrasi lumpur (TSS) 10000 mg/liter

Data-data tersebut merupakan data yang menjadi acuan dalam menghitung


nilai atau parameter yang diperlukan dalam rancangan. F/M Ratio menujukkan
jumlah zat organik (BOD) yang dihilangkan dibagi dengan jumlah massa
mikrorganisme di dalam bak aerasi atau reaktor yaitu sebesar 0.12 /hari. MLSS

33
adalah jumlah total suspended solid yang berasal dari bak pengendapan lumpur
dan menentukan keaktifan lumpur.
Parameter di atas menentukan hasil perhitungan yang dilakukan dengan data
hasil keluaran bak sedimentasi, yaitu debit rata-rata 0.284 m3/det, BOD influen
529.18 mg/l, SS influen 963.65 mg/l, dan faktor keamanan 8%. Faktor keamanan
tersebut mempengaruhi debit rata- rata menjadi 0.31 m3/det atau 26571,76
m3/hari, BOD influen menjadi 571,52 mg/l, SS influen menjadi 1040,74 mg/l.
Setelah itu dapat dihitung nilai konsentrasi BOD di efluen dan didapatkan hasil
sebesar 31,382 dan BOD yang larut di efluen 18,618. BOD mengalami penurunan
yang disebabkan adanya proses aerasi dan terjadinya proses deoksigenasi yang
disebabkan oleh mikroorganisme. Kemudian dihitung efisensi oxidation ditch.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa efisiensi penurunan BOD sebesar 96,74 %
sedangkan efisiensi untuk pengolahan keseluruhan sebesar 90,55 %. Jumlah bak
yang digunakan pada rancangan yaitu sebanyak 3 buah dengan 1 cadangan.
Sehingga perhitungan debit yang masuk ke reaktor sebesar 8857.25 m3/hari dan
volume reaktor sebesar 9234 m3. Nilai efisiensi yang diperoleh atau dirancang,
dijadikan sebagai data untuk mendesain dimensi bak dan pipa outlet inlet. Hasil
perhitungan untuk mencari dimensi tersebut dapat dilihat pada Tabel 21.

Tabel 21 Dimensi Bak dan pipa inlet - outlet


dimensi bak dan pipa inlet-outlet
tinggi air (asumsi) 1.8 m
Freeboard 0.2 m
Y 2 m
Slope 1
lebar (asumsi) 5.5 m
2y 4 m
lebar permukaan 13.5 m
lebar permukaan tembok (asumsi) 5 m
D 32 M
lebar 1 bak 19 M
kecepatan di outlet (asumsi) 1 m/detik
debit tiap bak (Qbak) 0,103 m3/detik
luas (A) 0,103 m2
panjang total 466.171 M
diameter (d) 0.361 m

Unit oxidation ditch merupakan unit yang membutuhkan oksigen dalam


mereduksi BOD. Distribusi udara yang tidak merata dapat mempengaruhi hasil
pengolahan air limbah, diharapkan udara terdistribusi secara merata agar hasil
pengolahan air limbah maksimal. Untuk memperoleh nilai kebutuhan akan
oksigen tersebut dibutuhkan parameter berupa standar oxygen requiment (SOR),
Fa, asumsi berat udara, kebutuhan udara teori, desain udara totalnyang disediakan,
suplai volume udara, dan lain sebagainya. Nilai parameter tersebut dapat dilihat
pada Tabel 22 berikut ini.

34
Tabel 22 Data kebutuhan oksigen pada oxidation ditch
kebutuhan oksigen
teori kebutuhan oksigen 7201.74 kg O2/hari
SOR 10938.24 kg/hari
berat udara (asumsi) 1,201 Kg.m3
Oksigen 23.2 %
efisiensi dan difusser udara (asumsi) 8 %
kebutuhan udara teori 490711.86 m3/hari
desain total udara yang disediakan dari
udara teori 150 %
3
desain udara total 511.16 m /menit
suplai volume udara per kg BOD yang
dihilangkan 100,203 m3/kg
suplai volume udara per m3 dari limbah
yang diolah 55,40 m3/m3
suplai volume udara dari volume tangki
aerasi 55,39 m3/m3.hari

Berdasarkan Tabel 22, kebutuhan oksigen sebesar 7201.74 kg O2/hari


kebutuhan oksigen pada unit ini dipengaruhi jumlah BOD di efluen. Suplai
volume udara per kg BOD yang dihilangkan sebesar 100,203 m3/kg. Sedangkan
suplai volume udara per m3 dari limbah yang diolah sebesar 55,40 m3/m3. Suplai
volume udara dari volume tangki aerasi sebesar 55,39 m3/m3.hari. Aerasi
horsepower adalah tenaga yang dibutuhkan untuk menggerakan aerator . Data dan
hasil aerasi horsepower dapat dilihat pada Tabel 23. Perkiraan nilai tenaga yang
dibutuhkan untuk menggerakan aerator adalah 388.27 hp.

Tabel 23 Data dan hasil aerasi horsepower


horse power
C 3 mg/liter
Ca 8,5 mg/liter
(T,R) standar 3 lb O2/hp.jam
(T,R) actual 1,703 lb O2/hp.jam
kebutuhan horse power total (hp) 388.27 Hp

Clarifier
Clarifier adalah alat / tempat untuk menjernihkan air baku yang keruh (misal
air sungai, air tanah ) dengan cara melakukan pengendapan, untuk mempercepat
pengendapan lazimnya ditambahkan chemical koagulan dan flokulan agar terjadi
proses koagulasi dan flokulasi pada air. Clarifier mempunyai pengaduk di
pusatnya sehingga proses sedimentasi menjadi lebih terkontrol, berada dengan bak
sedimentasi yang menggunakan prinsip gravitasi sepenuhnya. Hasil perhitungan
untuk luas permukaan clarifier dapat dilihat pada Tabel 24.

35
Tabel 24 Hasil perhitungan untuk luas permukaan clarifier
permukaan clarifier
Q in C 0.31 m3/det
Sf 2 kg/m2.jam
Luas 1937.52 m2
D 49.68 M
D pembulatan 50 M
A baru (m2) 1962.5 m2
overflow rate 13.54 m3/m2.hari
solid loading 47.39 kg/m2.hari

Setelah didapatkan nilai luas 1962.5 m2. overflow rate dan solid loading
juga memenuhi kriteria dengan nilai 13.54 m3/m2.hari dan 47.39 kg/m2.hari.
Selanjutnya perhitungan kedalaman clarifier, perlu beberapa parameter yang
harus dihitung. Parameter tersebut yaitu zona air bersih, zona thickening dan zona
sedimentasi. Zona thickening adalah zona tempat proses yang untuk mengurangi
volume lumpur sekaligus meningkatkan konsentrasi padatan di dalam lumpur.
Hasil perhitungan kedalaman clarifier dapat dilihat pada Tabel 25.

Tabel 25 Hasil perhitungan kedalaman clarifier


kedalaman clarifier
zona air bersih 1,5 m
LC 7000 mg/liter
total massa solid OD 31003.88 Kg
total massa solid di clarifier 9301.16 Kg
kedalaman di thickening zone 0,67 m
faktor suistained BOD5 1,5
suistained flow rate 2,5
Y 0,5
TVSS 15303.7 kg/hari
total solid, Y 39259.25 Kg
total solid di clarifier 12753.08 Kg
total solid di clarifier per 2 hari 22054.12 Kg
spesific gravity 1,03
solid content (%) 5
volume lumpur per hari 11027.12 m3/hari
kedalaman zona lumpur 1,6 m
freeboard 0,2 m
total kedalaman, H 4,1 m
volume clarifier 8046,25 m3
td 7.26 Jam

Berdasarkan Tabel 25, total kedalaman yang didapat adalah 4,1 meter. Hal
ini sesuai dengan kriteria desain. Jumlah solid yang dihasilkan clarifier per 2 hari
adalah 22054.12 kg. Volume clarifier yang didapat adalah 8046.25 m3 dengan
waktu detensi 7.26 jam. Selanjutnya perhitungan struktur efluen menggunakan
data diameter dan debit yg masuk ke clarifier. Panjang saluran effluent sebesar
156 m. Total V-notch yang digunakan adalah 650 buah dan kedalam V-notch
adalah 6 m dan kemiringan 90o. Kriteria rancangan tersebut menghasilkan weir

36
loading 170.33 m3/m2.hari dan head over v-notch sebesar 4.1 m. Dimensi pipa
effluent yang dihasilkan yaitu diameter 0.44 m untuk kecepatan 0.96 m/det. Debit
yang mengalir di pipa effluent sebesar 0.15m3/det, sehingga luas penampang
didapat sebesar 0,15 m2. Perhitungan struktur influent sama dengan struktur
effluent. Asumsi kecepeatan di pipa inffluent sebesar 1 m/det dan jumlah pipa
inffluent sebanyak 3 buah. Debit yang mengalir di pipa effluent sebesar 0,102
m3/det, sehingga luas penampang didapat sebesar 0,102 m2. Diameter pipa yg
didapat sebesar 400 mm setelah pembulatan. Lalu hasil koreksi kecepatan sebesar
0,82 m/detik.

Desinfeksi
Desinfeksi merupakan suatu tindakan yang ditujukan untuk menghilangkan
mikroorganisme yang merugikan dalam rangka mencegah infeksi. Desinfeksi
merupakan upaya penghilangan atau pemusnahan mikroorganisme patogen yang
bersifat selektif, sehingga tidak semua mikroorganisme dapat dimusnahkan
(Cheremisinoff 1995). Desain ini disinfeksi yang dirancang sebanyak 2 buah.
Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 26.

Tabel 26 Hasil perhitungan volume, dimensi dan struktur influent dan effluent
unit disinfeksi
perhitungan volume
Q tiap bak (m3/detik) 0,15 m3/detik
td (detik) 1800 Detik
volume (m3) 276.78 m3
perhitungan dimensi
v (m/detik) 3 m/menit
A (m2) 3,07 m2
H (m) 2 m
L (m) 1,6 M
Pbak (m) 90 M
cek td (detik) 1872.9 Detik
kebutuhan kaporit 227.75 kg/hari
struktur influent dan effluent
v (m/detik) 1 m/detik
A (m2) 0,15 m2
D 0,44 M
D pembulatan (mm) 450 Mm
cek v (m/detik) 0.96 m/detik

Volume bak yang dibutuhkan untuk unit desinfeksi adalah sebesar 276.78
3
m dengan kebutuhan akan kaporit sebesar 227.76 kg/hari. Untuk perancangan
diameter struktur influen dan efluen bak desinfeksi tersebut bernilai sama yaitu
dengan diameter 450 mm. Pembubuhan bahan desinfektan terhadap air limbah
hasil olahan diharapkan dapat membunuh kuman yang masih tersisa pada akhir
proses pengolahan sehingga diperoleh buangan yang memenuhi standar baku
mutu. Sehingga dibutuhkan waktu detensi agar seluruh mikroorganisme dapat
mati yaitu 1872.9 detik.

37
Sludge drying bed
Tujuan proses pengeluaran air lumpur ialah menghilangkan sebanyak
mungkin air yang terkandung dalam lumpur setelah proses pengentalan.
Persyaratan kadar padatan kering lumpur yang diinginkan tergantung pada
penanganan akhir yang akan dilakukan. Unit ini seringkali diterapkan karena
investasinya murah dan tidak menuntut pengontrolan ekstra. Pengeluaran dengan
unit ini dilakukan melalui media pengering secara gravitasi dan penyinaran sinar
matahari. Perencanaan dimensi sludge drying bed ditampilkan pada Tabel 27.

Tabel 27 Dimensi Drying Bed


Parameter Nilai Satuan
P:L 2:1
total bed 30 cm
Td 10 hari
Volume 189.25 m3
A 630.82 m2
A tiap unit 157.71 m2
L 9.5 m
P 19 m

Perencanaan akan dibuat 4 unit sludge drying bed dengan ketebalan bed
sebesar 0,3 m. Berdasarkan Tabel 27, waktu detensi yang diperhitungkan adalah
10 hari. Volume drying bed sebesar 189.25 m3 dengan luas tiap unit adalah 157.71
m2. Dengan adanya luas dan rasio panjang : lebar, maka didapatkan lebar drying
bed sebesar 9.5 m dan panjangnya 19 m. Berdasarkan hasil perhitungan dimensi
yang telah dianalisis, unit ini mampu menghasilkan padatan lumpur sebanyak
34276.72 kg/hari, karbonat dan polimer masing-masing dihasilkan sebanyak
1601.72 kg/hari dan 640.68 kg/hari. Debit pompa lumpur pada conditioning tank
sebesar 214.12 m3/hari dan laju perputaran pompa yang dihasilkan sebesar 113.54
m3/jam. Berdasarkan asumsi line conditioning tank selama 10 menit waktu
detensi, maka volume yang tertampung adalah 18.93 m3.

KESIMPULAN
Air limbah domestik hasil perhitungan diakumulasikan dengan air limbah
industri. Pada penelitian ini, digunakan data sekunder yang berasal dari referensi,
untuk memperoleh nilai debit total yang akan masuk ke unit-unit pengolahan air
limbah (IPAL). Konsentrasi yang dilihat adalah parameter BOD, COD, TSS (zat
padat tersuspensi), TDS (zat pada terlarut), bahan padat terendapkan, TOC
(karbon organik total), nitrogen, fosfor, klorida, sulfat, alkali, dan lemak.
Konsentrasi TSS, BOD, dan COD pada limbah industri secara berturut-turut yaitu
3297 mg/l, 2037 mg/l, dan 5883 mg/l. Sementara konsentrasi parameter TSS,
BOD, dan COD pada limbah domestik berturut-turut adalah 204 mg/l, 188 mg/l,
dan 431 mg/l. Debit yang keluar dari limba domestik adalah 250 m3/det dan dari
industri sebesar 80 m3/det.
Unit yang direncanakan untuk mengurangi konsentrasi dari pencemar yaitu
dengan unit bangunan pengolahan air limbah yang terdiri dari comminutor, grit
chamber, bak ekualisasi, bak sedimentasi, clarifier, oxidation ditch, bangunan

38
disinfeksi, dan sludge drying bed. Penelitian dilakukan untuk menghasilkan
rancangan setiap unit pengolahan limbah cair. Rancangan dibuat dalam bentuk
ukuran dimensi, perhitungan nilai-nilai setiap parameter, bentukan dan desain
gambar setiap unit. Analisis setiap unit juga dibuat untuk mempermudah
perhitungan dan perancangan unit instalasi pengolahan air limbah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Andrianto I. 2008. Pengaruh Waktu Ozonisasi Terhadap Penurunan Kadar BOD,
COD, TSS, dan Fosfat Pada Limbah Cair Rumah Sakit. Jurnal PTAPB -
BATAN Yogyakarta.
Azwir. 2006. Analisa Pencemaran Air Sungai Tapung Kiri oleh Limbah Industri
Kelapa Sawit Pt. Peputra Masterindo di Kabupaten Kampar. [Tesis].
Universitas Diponegoro.
Chakrabarti T. 1970. Design Criteria for Aerated Grit Chambers. Utah: Brigham
Young University.
Cheremisinoff N. 1995. Handbook of Water and Wastewater Treatment
Technology. New Jersey (US): Marcel Dekker Inc.
Hamer, M. J. 1986, " Water And Waste water Technology ", Second Edition, New
York.
McInernay, M.J., M.P. Bryant, R.B. Hespel, and J.W. Costerton. 1981.
Syntrophomonas wolfey, gen. nov. sp. Nov., An anerobicsyntrophic, fatty
acid oxidizing bacterium. Applied Environmental Microbiology. 50 : 1395-
1403.
MetCalf and Eddy. 1972. Waste Water Engineering Collection Treatment
Disposal. London. MC graw Hill Book Company.
Raharjo. 2003. Jurnal Geologi Kelautan, vol. 1, no. 3, Desember 2003 : 19 28.
Reynolds, T.D., Unit Operations And Processes In Environmental Engineering,
B/C. Engineering Division, Boston, 1985.

39

Anda mungkin juga menyukai