Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN PERDARAHAN SUBARAKHNOID

A. KONSEP DASAR MEDIS


1. Definisi
Penyebab utama perdarahan subarakhnoid adalah pecahnya
aneurisme intrakranial, kejadian yang sangat penting sehubungan dengan
ditemukan angiografi. (Harsono, Neurologi Klinis, Hal; 93) Pendarahan
Subarakhnoid (PSA) adalah keadaan terdapatnya atau masuknya darah
kedalam ruangan subarakhnoid. (Dr.Hartono, Kapita Selekta Neurologi.
Hal; 97). Pendarahan Subaraknoid (PSA) Terjadi akibat kebocoran
nontraumatik atau ruptur aneurisma kongenital pada circulus arteriorus
cerebralis atau yang lebih jarang akibat arteriovenosa. Gejalanya timbul
dengan onset mendadak antara lain adalah nyeri kepala hebat, kaku pada
leher, dan kehilangan kesadaran (Richard, Neuroanatomi Klinik, Hal; 24).
Jadi, Perdarahan Subarakhnoid (Subarachnoid Hemorrhage) adalah
pecahnya aneurisme intrakranial sehingga dapat menyebakan darah masuk
ke dalam ruang subaraknoid. Manifestasi dari PSA berupa nyeri kepala
hebat, kaku pada leher dan hilangnya kesadaran pada manusia.
Perdarahan subarakhnoid biasanya berasal dari aneurisme yang
pecah atau malformasi vaskuler. Aneurisma (distensi abnormal dari
pembuluh lokal) mungkin bawaan (berry aneurisma) atau infeksi
(aneurisma mikotik). Salah satu komplikasi perdarahan subarachnoid,
kejang arteri, dapat menyebabkan infark. (Neuroanatomy. Hal: 45).
2. Etiologi
- Trauma dan cedera iatrogenik selama pembedahan
- Aneurisma serebral dan malformasi arteriovenosa
- Perdarahan perimesensefalik dan perluasan perdarahan intraserebral
- Vaskulitis
- Penyebab hematologik (DIC, hemofi lia, purpura trombotik
trombositopenik)
- Tumor susunan saraf pusat
- Diseksi arteri
3. Manifestasi klinis
Tanda-tanda dan gejala klinis :
Gejala prodromal : nyeri kepala hebat dan perakut, hanya 10%, 90%
tanpa keluhan sakit kepala.
Kesadaran sering terganggu, dan sangat bervariasi dari tak sadar
sebentar, sedikit delir sampai koma.
Gejala/ tanda rangsangan : kaku kuduk, tanda kernig ada.
Fundus okuli: 10% penderita mengalami edema-papil beberapa jam
setelah perdarahan. Sering terdapat perdarahan . Sering terdapat
perdarahan subhialoid karena pecahnya aneurisma pada a. Komunikans
anterior, atau a.karotis interna.
Gejala-gejala neurologik fokal : bergantung pada lokasi lesi.
Gangguan fungsi saraf otonom : demam setelah 24 jam, demam ringan
karena rangsangan mening, dan demam tinggi bila dilihatkan
hipotalamus. Begitu pun muntah, berkeringat, menggigil, dan takikardi,
ada hubungannya dengan hipotalamus. Bila berat, maka terjadi ulkus
peplitikum disertai hematemesis dan melena(stress ulcer), dan
seringkali disertai peninggian kadar gula darah, glukosuria,
albuminuria, dan perubahan pada EKG. (Dr.Hartono, Kapita Selekta
Neurologi. Hal; 97). Terapi dan prognosis bergantung pada status klinis
penderita. Dengan demikian diperlukan peringkat klinis, sebagai suatu
pegangan, sebagi berikut :
Tingkat I : asimtomatik
Tingkat II : nyeri kepala hebat tanpa defit neorologik kecuali paralisis
nervi kraniales.
Tingkat III : somnolen dan defisit ringan
Tingkat IV : stupor, hemiparesis atau hemiplegia, dan mungkin ada
regiditas awal dan gangguan vegetatif.
Tingkat V : koma, regiditas deserebrasi,dan kemudian meninggal
dunia. (Harsono, Buku Ajar Neurologi Klinis, Hal; 94-
96).
4. Patofisiologi
Aneurisme merupakan luka yang disebabkan oleh karena tekanan
hemodinamik pada dinding arteri percabangan dan perlekukan. Saccular
atau biji aneurisme dispesifikasikan untuk arteri intracranial karena
dindingnya kehilangan suatu selaput tipis bagian luar dan mengandung
faktor adventitia yang membantu pembentukan aneurisme. Suatu bagian
tambahan yang tidak didukung dalam ruang subarakhnoid. Aneurisme
kebanyakan dihasilkan dari terminal pembagi dalam arteri karotid bagian
dalam dan dari cabang utama bagian anterior pembagi dari lingkaran
lingkaran wilis.
5. Komplikasi
Pada beberapa keadaan, gejala awal adalah katastrofik. Pada kasus
lain, terutama dengan penundaan diagnosis, pasien mungkin mengalami
perjalanan penakit yang dipersulit oleh perdarahan ulang (4%),
hidrosefalus, serangan kejang, atau vasospasme. Perdarahan ulang
dihubungkan dengan tingkat mortalitas sebesar 70 % dan merupakan
komplikasi segera yang paling memperhatinkan. (Michael I. Greenberg,
Teks Atlas Kedokteran Kedaruratan, Hal: 45).
6. Pemeriksaan penunjang
(Lionel Ginsberg, Neurologi, Hal; 96-97) Pada sebagian besar kasus,
CT scan kranial akan menunjukkan darah pada subarakhnoid.
Perdarahan kecil mungkin tidak tersedia pada CT scan. Diperlukan
fungsi lumbal untuk konfirmasi diagnosis. Tidak ada kontraindikasi
fungsi lumbal selama diyakini tidak ada lesi massa dari pemeriksaan
pencitraan dan tidak ada kelainan perdarahan.
Diagnosis perdarahan subarakhnoid dari fungsil lumbal adalah darah
yang terdapat pada ketiga botol dengan kekeruhan yang sama, tidak ada
yang lebih jernih. Supernatan cairan serebrospinal terlihat berserabut
halus atau berwarna kuning (xantokromia) hingga tiga jam setelah
perdarahan setelah karena adanya produk pemecahan hemoglobin.
Edema paru dan aritmia jantung dapat terlihat dari rontgen dada dan
EKG.
Gangguan perdarahan harus disingkirkan.
Kadang-kadang terjadi glikosuria
7. Penatalaksanaan
Pasien dengan SAH memerlukan observasi neurologik ketat dalam
ruang perawatan intensif, termasuk kontrol tekanan darah dan tata laksana
nyeri, sementara menunggu perbaikan aneurisma defisit. Selain itu, pasien
harus menerima profilaksis serangan kejang dan bloker kanal kalsium
untuk vasospasme. (Michael I. Greenberg, Teks Atlas Kedokteran
Kedaruratan, Hal: 45) Perdarahan subarahnoid akibat aneurisma memiliki
angka mortalitas sangat tinggi 30-40% pasien meninggal pada hari-hari
pertama. Terdapat resiko perdarahan ulang yang signifikan ,terutama pada
6 minggu pertama, dan perdarahan kedua dapat lebih berat. Oleh karena
itu, tata laksan ditujukan pada resusitasi segera dan pencegahan
perdarahan ulang. Tirah baring dan analgesik diberikan pada awal tata
laksana. Antagonis kalsium nimodipin dapat menurunkan mor komplikasi
dini perdarahan subarahnoid meliputi hidrosepalus sebagai akibat
obstruksi aliran cairan serebrospinal oleh bekuan darah. Komplikasi ini
juga dapat terjadi pada tahap lanjut (hidrosepalus komunikans). Jika pasien
sadar atau hanya terlihat mengantuk, maka pemeriksaan sumber
perdarahan dilakukan dengan angiogrrafi serebral. Identifikasi aneurisma
memungkinkan dilakukan sedini memungkinkan dilakukannya intervensi
jepitan (clipping) leher aneurisma, atau jika mungkin membungkus
(wropping)aneurisma tersebut.Waktu dan saran angiografi serta
pembedahan pada pasien dengan perdarahan subarahnoid yang lebih berat
dan gangguan kesadaran merupakan penilaian spesialitis, karena pasien ini
mempunyai prognosis lebih buruk dan toleransi operasi lebih rendah.
Perdarahan lebih rendah akibat malformasi arteriovenosa memiliki
mortalitas lebih rendah dibandingkan aneurisma. Pemeriksaan dilakukan
dengan angiografi dan terapi dilakukan dengan pembedahan, radio terapi
atau neurologi intervensional. Malformasi arteriovenosa yang terjadi tanpa
adanya perdarahan, misalnya epilepsi, biasanya tidak ditangani dengan
pembedahan (Lionel Ginsberg, Neurologi, Hal 69).

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. pengkajian
a. Identitas klien
Meliputi : nama, umur, jenis kelamin, status, suku, agama, alamat,
pendidikan, diagnosa medis, tanggal MRS, dan tanggal pengkajian
diambil.
b. Keluhan utama
Keluhan yang sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan
kesehatan adalah kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo,
tidak dapat berkomunikasi, dan penurunan tingkat kesadaran.
c. Riwayat penyakit sekarang
Serangan stroke hemoragik sering kali berlangsung sangat mendadak,
pada saat klien sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri
kepala, mual, muntah bahkan kejang sampai tidak sadar, disamping
gejala kelumpuhan separoh badan atau gangguan fungsi otak yang lain.
Adanya penurunan atau perubahan pada tingkat kesadaran disebabkan
perubahan di dalam intrakranial. Keluhan perubahan perilaku juga
umum terjadi. Sesuai perkembangan penyakit, dapat terjadi latergi,
tidak responsif, dan koma.
d. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, anemia,
riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat
obat antib koagulan, aspirin, vasodilator, obat obat adiktif,
kegemukan. Pengkajian pemakaian obat-obat yang sering digunakan
klien, seperti pemakaian antihipertensi, antilipidemia, penghambat beta,
dan lainnya. Adanya riwayat merokok, penggunaan alkohol dan
penggunaan obat kontrasepsi oral. Pengkajian riwayat ini dapat
mendukung pengkajian dari riwayat penyakit sekarang dan merupakan
data dasar untuk mengkaji lebih jauh dan untuk memberikan tindakan
selanjutnya.
e. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi, diabetes
melitus, atau adanya riwayat stroke dan generasi terdahulu.
f. Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
1) Bernafas
Pasien dapat mengalami sesak, pola nafas tidak efektif.
2) Nutrisi
Mengalami kelemahan otot pengunyah sehingga pasien tidak dapat
mengunyah makanan keras bahkan dipasang NGT.
3) Eliminasi
Terjadi kelemahan otot panggul dan springter pada anus sehingga
dapat menyebabkan pasien mengalami konstipasi.
4) Aktivitas
Terjadi gangguan mobilitas akibat hemiparesis pada satu sisi anggota
gerak. Disarankan bed rest total.
5) Istirahat
Pasien istirahat dengan normal.
6) Pengaturan Suhu
Suhu tubuh pasien biasanya dalam batas normal.
7) Kebersihan/Hygiene
Pasien tidak dapat melakukan personal hygiene secara mandiri
akibat kelemahan yang dialami.
8) Rasa aman
Pasien dan keluarga biasanya merasa khawatir terhadap perubahan
yang terjadi seperti keemahan anggota gerak, gangguan berbicara
dll.
9) Rasa Nyaman
Kadang pasien akan mengalami nyeri hebat pada bagian kepala yang
mengakibatkan pasien tidak nyaman serta merasa kepala berputar.
10) Sosial
Terjadi gangguan pada pasien saat berkomunikasi pada orang
disekitarnya.
11) Pengetahuan/Belajar
Kebanyakan pasien tidak mengetahui penyakit yang dialaminya serta
apa pemicu munculnya stroke tersebut.
12) Rekreasi
Pasien tidak dapat bangun dari tempat tidur atau pun keluar rumah
karena disarankan bed rest total.
13) Prestasi
14) Spiritual
g. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
Melangalami penurunan kesadaran, suara bicara : kadang mengalami
gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak bisa bicara/ afaksia.
Tanda tanda vital : TD meningkat, nadi bervariasi.
2) Sistem integument
Tidak tampak ikterus, permukaan kulit kering, tekstur kasar,
perubahan warna kulit; muka tampak pucat.
3) Kepala
Normo cephalic, simetris, biasanya terdapat nyeri kepala/sakit
kepala.
4) Muka
Asimetris, otot muka dan rahang kekuatan lemah.
5) Mata
Alis mata, kelopak mata normal, konjuktiva anemis (+/+), pupil
isokor, sclera ikterus (-/ -), reflek cahaya positif. Tajam penglihatan
tidak dapat dievalusai,mata tampak cowong.
6) Telinga
Secret, serumen, benda asing, membran timpani dalam batas normal
7) Hidung
Deformitas, mukosa, secret, bau, obstruksi tidak ada, pernafasan cuping
hidung tidak ada.
8) Mulut dan faring
Biasanya terpasang NGT
9) Leher
Simetris, kaku kuduk, tidak ada benjolan limphe nodul.
10) Thoraks
Gerakan dada simetris, retraksi supra sternal (-), retraksi intercoste (-),
perkusi resonan, rhonchi -/- pada basal paru, wheezing -/-, vocal
fremitus tidak teridentifikasi.
11) Jantung
Batas jantung kiri ics 2 sternal kiri dan ics 4 sternal kiri, batas kanan ics
2 sternal kanan dan ics 5 mid axilla kanan.perkusi dullness. Bunyi S1
dan S2 tunggal; dalam batas normal, gallop(-), mumur (-). capillary
refill 2 detik .
12) Abdomen
Terjadi distensi abdomen, Bising usus menurun.
13) Genitalia-Anus
Pembengkakan pembuluh limfe tidak ada., tidak ada hemoroid,
terpasang kateter.
14) Ekstremitas
Akral hangat, kaji edema , kaji kekuatan otot , gerak yang tidak disadari
, atropi atau tidak, capillary refill, Perifer tampak pucat atau tidak.

2. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan
kesadaran
2. Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan gangguan
aliran darah sekunder akibat peningkatan tekanan intracranial.
3. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kehilangan kontrol
otot facial atau oral.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Kelemahan
5. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakmampuan menelan.
6. Deficit perawatan diri berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi.
7. ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan
menurunnya refleks batuk dan menelan, imobilisasi.
8. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring
lama.
9. Gangguan eliminasi uri (incontinensia uri) yang berhubungan dengan
penurunan sensasi, disfungsi kognitif, ketidakmampuan untuk
berkomunikasi.
10. Risiko jatuh berhubungan dengan penurunan kesadaran.

3. Intervensi Keperawatana

NO Diagnosa NOC NIC


1. Ketidakefektifan Pola NOC : -NIC
1. Respiratory status : Airway Management
nafas berhubungan
1. Buka jalan nafas,
Ventilation
dengan penurunan
2. Respiratory status : guanakan teknik chin lift
kesadaran
Airway patency atau jaw thrust bila perlu
3. Vital sign Status 2. Posisikan pasien untuk
Kriteria Hasil :
memaksimalkan ventilasi
1. Mendemonstrasikan batuk
3. dentifikasi pasien
efektif dan suara nafas
perlunya pemasangan alat
yang bersih, tidak ada
jalan nafas buatan
sianosis dan dyspneu 4. Pasang mayo bila perlu
5. Lakukan fisioterapi dada
(mampu mengeluarkan
jika perlu
sputum, mampu bernafas
6. Keluarkan sekret dengan
dengan mudah, tidak ada
batuk atau suction
pursed lips) 7. Auskultasi suara nafas,
2. Menunjukkan jalan nafas
catat adanya suara
yang paten (klien tidak
tambahan
merasa tercekik, irama 8. Lakukan suction pada
nafas, frekuensi mayo
9. Berikan bronkodilator
pernafasan dalam rentang
bila perlu
normal, tidak ada suara
10. Berikan pelembab udara
nafas abnormal)
Kassa basah NaCl
3. Tanda Tanda vital dalam Lembab
11. Atur intake untuk cairan
rentang normal (tekanan
mengoptimalkan
darah, nadi, pernafasan
keseimbangan.
12. Monitor respirasi dan
status O2

Oxygen Therapy

1. Bersihkan mulut, hidung


dan secret trakea
2. Pertahankan jalan nafas
yang paten
3. Atur peralatan oksigenasi
4. Monitor aliran oksigen
5. Pertahankan posisi pasien
6. Onservasi adanya tanda
tanda hipoventilasi
7. Monitor adanya
kecemasan pasien
terhadap oksigenasi

2. Gangguan perfusi NOC : NIC :


jaringan cerebral
1. Circulation status Peripheral Sensation
berhubungan dengan
2. Tissue Prefusion : cerebral Management (Manajemen
gangguan aliran darah
Kriteria Hasil : sensasi perifer)
sekunder akibat
peningkatan tekanan 1. mendemonstrasikan 1. Monitor adanya daerah
intracranial. status sirkulasi yang tertentu yang hanya peka
ditandai dengan : terhadap
a. Tekanan systole panas/dingin/tajam/tump
dandiastole dalam ul
rentang yang 2. Monitor adanya paretese
diharapkan 3. Instruksikan keluarga
b. Tidak ada untuk mengobservasi
ortostatikhipertensi kulit jika ada lsi atau
c. Tidak ada tanda tanda laserasi
peningkatan tekanan 4. Gunakan sarun tangan
intrakranial (tidak untuk proteksi
lebih dari 15 mmHg) 5. Batasi gerakan pada
2. mendemonstrasikan kepala, leher dan
kemampuan kognitif punggung
yang ditandai dengan: 6. Monitor kemampuan
a. berkomunikasi dengan BAB
jelas dan sesuai 7. Kolaborasi pemberian
dengan kemampuan analgetik
b. menunjukkan 8. Monitor adanya
perhatian, konsentrasi tromboplebitis
dan orientasi 9. Diskusikan menganai
c. memproses informasi penyebab perubahan
d. membuat keputusan sensasi
dengan benar
e. menunjukkan fungsi
sensori motori cranial
yang utuh : tingkat
kesadaran mambaik,
tidak ada gerakan
gerakan involunter
3. Gangguan komunikasi NOC NIC
1. Anxiety self control Communication
verbal berhubungan
2. Coping
Enhancement : Speech
dengan kehilangan 3. Sensory function : hearing
Deficit.
kontrol otot facial atau & vision
1. Gunakan penerjemah,
4. Fear self control
oral.
Kriteria hasil : jika diperlukan
1. Komunikasi : penerimaan, 2. Beri satu kalimat simple
interpretasi, dan ekspresi setiap bertemu, jika
pesan lisan, tulisan, dan diperlukan
3. Dorong pasien untuk
non verbal meningkat.
2. Komunikasi ekspresif berkomunikasi secara
(kesulitan berbicara) : perlah dan untuk
ekspresif pesan verbal dan mengulangi permintaan
4. Berikan pujian positif
atau non verbal yang
Communication
bermakna.
Enhancement : Hearing
3. Komunikasi resptif
Defisit
(kesulitan mendengar) :
penerimaan komunikasi Communication
dan interpretasi pesan Enhancement : Visual
verbal dan/atau non defisit
Ansiety Reduction
verbal.
Active Listening
4. Gerakan terkoordinasi :
mampu mengkoordinasi
gerakan dalam
menggunakan isyarat
5. Pengolahan informasi :
klien mampu untuk
memperoleh, mengatur,
dan menggunakan
informasi
6. Mampu mengontrol
respon ketakutan dan
kecemasan terhadap
ketidakmapuan berbicara
7. Mampu manajemen
kemampuan fisik yang
dimiliki
8. Mampu
mengkomunikasikan
kebutuha dengan
lingkungan.
4. Intoleransi aktivitas NOC : NIC :
- Self Care : ADLs 1 Observasi adanya
berhubungan dengan
- Toleransi aktivitas pembatasan klien dalam
kelemahan
- Konservasi eneergi melakukan aktivitas
2 Kaji adanya faktor yang
Kriteria Hasil :
1 Berpartisipasi dalam menyebabkan kelelahan
aktivitas fisik tanpa 3 Monitor nutrisi dan
disertai peningkatan sumber energi yang
tekanan darah, nadi dan
RR adekuat
2 Mampu melakukan 4 Monitor pasien akan
aktivitas sehari hari adanya kelelahan fisik
(ADLs) secara mandiri
3 Keseimbangan aktivitas dan emosi secara
dan istirahat berlebihan
5 Monitor respon
kardivaskuler terhadap
aktivitas (takikardi,
disritmia, sesak nafas,
diaporesis, pucat,
perubahan
hemodinamik)
6 Monitor pola tidur dan
lamanya tidur/istirahat
pasien
7 Kolaborasikan dengan
Tenaga Rehabilitasi
Medik dalam
merencanakan progran
terapi yang tepat.
8 Bantu klien untuk
mengidentifikasi
aktivitas yang mampu
dilakukan
9 Bantu untuk memilih
aktivitas konsisten yang
sesuai dengan
kemampuan fisik,
psikologi dan sosial
10 Bantu untuk
mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber
yang diperlukan untuk
aktivitas yang
diinginkan
11 Bantu untuk
mendpatkan alat
bantuan aktivitas seperti
kursi roda, krek
12 Bantu untuk
mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
13 Bantu klien untuk
membuat jadwal latihan
diwaktu luang
14 Bantu pasien/keluarga
untuk mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas
15 Sediakan penguatan
positif bagi yang aktif
beraktivitas
16 Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
17 Monitor respon fisik,
emosi, sosial dan
spiritual

5. Resiko gangguan nutrisi NOC : NIC :


1. Nutritional Status Nutrision Management
kurang dari kebutuhan
2. Nutritional Status : food 1. Kaji adanya alergi
tubuh berhubungan
and fluid intake makanan
dengan 3. Nutritional Status : 2. Kolaborasi dengan ahli
ketidakmampuan nutrient intake gizi untuk menentukan
4. Weight control
menelan. jumlah kalori dan
Kriteria Hasil :
1. Adanya peningkatan berat nutrisi yang dibutuhkan
badan sesuai dengan pasien
3. Anjurkan pasien untuk
tujuan
2. Berat badan ideal sesuai meningkatkan intake Fe
4. Anjurkan pasien untuk
dengan tinggi badan
3. Mampu mengidentifikasi meningkatkan protein
kebutuhan nutrisi dan vitamin C
4. Tidak ada tanda-tanda 5. Monitor jumlah nutrisi
malnutrisi dan kandungan kalori
5. Menunjukkkan 6. Berikan informasi
peningkatan fungsi tentang kebutuhan
pengecapan dari menelan nutrisi
6. Tidak terjadi penurunan 7. Kaji kemempuan pasien
berat badan yang berarti untuk mendapatkan
nutrisi yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring

1. BB pasien dalam batas


normal
2. Monitor adanya
penurunan berat badan
3. Monitor tipe dan
jumlah aktivitas yang
bisa dilakukan
4. Monitor lingkungan
selama makan
5. Jadwalkan pengobatan
dan tindakan tidak
selama jam makan
6. Monitor mual muntah
7. Monitor kadar
albumin, total protein,
Hb, dan kadar Ht
Monitor kalori dan intake
nutrisi

6. Deficit perawatan diri NOC: NIC:


berhubungan dengan
1. Activity Intolerance Self-Care Assistance:
hemiparese/hemiplegi. 2. Mobility: Physical
Bathing/Hygiene
impaired
3. Self Care Deficit 1.Monitor kemampuan
Hygiene pasien terhadap
4. Sensory perpeption,
perawatan diri
Auditory disturbed 2.Monitor kebutuhan akan
Kriteria Hasil: personal hygiene,
berpakaian, toileting
1. Pasien dapat
dan makan.
melakukan aktivitas
3.Beri bantuan sampai
sehari-hari (makan,
klien mempunyai
berpakaian,
kemapuan untuk
kebersihan, toileting,
merawat diri
ambulasi) 4.Bantu klien dalam
2. Kebersihan diri
memenuhi
pasien terpenuhi.
kebutuhannya.
3. Mengungkapkan
5.Anjurkan klien untuk
secara verbal
melakukan aktivitas
kepuasan tentang
sehari-hari sesuai
kebersihan tubuh dan
kemampuannya
hygiene oral. 6.Pertahankan aktivitas
4. Klien terbebas dari
perawatan diri secara
bau badan
rutin
7.Evaluasi kemampuan
klien dalam memenuhi
kebutuhan sehari-hari.
8.Berikan reinforcement
atas usaha yang
dilakukan dalam
melakukan perawatan
diri sehari hari.
7. Resiko terjadinya NOC: NIC :
1. Respiratory status : Airway suction
ketidakefektifan
Ventilation 1. Pastikan kebutuhan
bersihan jalan nafas 2. Respiratory status :
oral/tracheal suctioning.
yang berhubungan Airway patency 2. Berikan O2 1-
3. Aspiration Control
dengan menurunnya 2liter/mnt, metode
refleks batuk dan dengan pemasangan
Kriteria Hasil :
menelan, imobilisasi. nasal kanul.
3. Anjurkan pasien untuk
1. Mendemonstrasikan
istirahat dan napas
batuk efektif dan suara
dalam (bagi anak usia
nafas yang bersih, tidak
diatas 5)
ada sianosis dan dyspneu 4. Posisikan pasien untuk
(mampu mengeluarkan memaksimalkan
sputum, bernafas dengan ventilasi
mudah, tidak ada pursed 5. Lakukan fisioterapi

lips) dada jika perlu


2. Menunjukkan jalan nafas 6. Keluarkan sekret

yang paten (klien tidak dengan batuk atau


merasa tercekik, irama suction
7. Auskultasi suara nafas,
nafas, frekuensi
catat adanya suara
pernafasan dalam rentang
tambahan
normal, tidak ada suara
8. Berikan bronkodilator
nafas abnormal) 9. Monitor status
3. Mampu
hemodinamik
mengidentifikasikan dan 10. Berikan pelembab
mencegah faktor yang udara Kassa basah
penyebab. NaCl Lembab
11. Berikan antibiotik
12. Atur intake untuk
cairan mengoptimalkan
keseimbangan.
13. Monitor respirasi dan
status O2
14. Pertahankan hidrasi
yang adekuat untuk
mengencerkan sekret
15. Jelaskan pada pasien
dan keluarga tentang
penggunaan peralatan :
O2, Suction, Inhalasi.

8. Resiko gangguan NOC:


integritas kulit NIC :

berhubungan dengan 1. Tissue Integrity : Skin


and Mucous Pressure Management
tirah baring lama.
Membranes
1. Anjurkan pasien
2. Hemodyalis Akses untuk menggunakan
pakaian yang
Kriteria Hasil : longgar

1. Integritas kulit yang 2. Hindari kerutan


baik bisa padaa tempat tidur
dipertahankan
3. Jaga kebersihan
2. Melaporkan adanya
gangguan sensasi atau
nyeri pada daerah kulit agar tetap

kulit yang mengalami bersih dan kering

gangguan
4. Mobilisasi pasien
3. Menunjukkan (ubah posisi pasien)

pemahaman dalam setiap dua jam sekali

proses perbaikan kulit


5. Monitor kulit akan
dan mencegah
adanya kemerahan
terjadinya sedera
berulang
6. Oleskan lotion atau
minyak/baby oil
4. Mampu melindungi
pada derah yang
kulit dan
tertekan
mempertahankan
kelembaban kulit dan
7. Monitor aktivitas
perawatan alami
dan mobilisasi
pasien

8. Monitor status
nutrisi pasien

9. Memandikan pasien
dengan sabun dan
air hangat

10. Inspeksi kulit


terutama pada
tulang-tulang yang
menonjol dan titik-
titik tekanan ketika
merubah posisi
pasien.
11. Jaga kebersihan alat
tenun.

9. Gangguan eliminasi uri NOC: NIC


Urinary Retention Care
(incontinensia uri) yang 1. Urinary elimination
1. Monitor intake dan
berhubungan dengan 2. Urinary Contiunence
output
penurunan sensasi, 2. Monitor penggunaan
disfungsi kognitif, Kriteria hasil: obat antikolinergik
3. Monitor derajat
ketidakmampuan untuk 1. Kandung kemih kosong
distensi bladder
berkomunikasi secarapenuh
4. Instruksikan pada
2. Tidak ada residu urine
pasien dan keluarga
>100-200 cc
untuk mencatat output
3. Intake cairan dalam
urine
rentang normal 5. Sediakan privacy untuk
4. Bebas dari ISK eliminasi
6. Stimulasi reflek
5. Tidak ada spasme bladder
bladder dengan
Balance cairan seimbang
kompres dingin pada
abdomen.
7. Kateterisaai jika perlu
8. Monitor tanda dan
gejala ISK (panas,
hematuria, perubahan
bau dan konsistensi
urine)

10. Risiko jatuh NOC NIC


1. Trauma Risk For Fall Prevention
berhubungan dengan
2. Injury Risk for
1. Mengidentifikasi faktor
penurunan kesadaran. Kriteria Hasil :
1. Keseimbangan resiko pasien terjadinya
2. Gerakan terkoordinasi :
jatuh
kemampuan otot untuk
bekerja sama secara 2. kaji kemampuan
volunteer untuk mobilitas pasien
melakukan geraka yang
3. Monitor tanda tanda
bertujuan vital
3. Prilaku pencegahan jatuh
4. Tidak ada kejadian jatuh 4. Bantu pasien dalam
berjalan atau mobilisasi

5. Ciptakan lingkungan
yang aman bagi pasien

6. Berikan alat Bantu jika


diperlukan

7. Libatkan keluarga
dalam membatu pasien
mobilisasi.

C. KAJIAN ISLAM TENTANG PERDARAHAN SUBARACHNOID


Beginilah makhluk ciptaan Allah, maka perlihatkan padaku apakah yang
mampu diciptakan oleh para sesembahan selain Dia (QS. Luqman:11)

Apabila seseorang terkena penyakit kerana di sihir, maka jin akan


memusatkan kegiatannya pada anggota badan atau pusat saraf tertentu sesuai
dengan perintah tukang sihir. Kadangkala ia memusatkan diri pada pusat
pendengaran, penglihatan, perasa, tangan atau kaki. Pada kedan seperti ini,
keadaan anggota tubuh berada dalam tiga kemungkinan:
1. Jin menahan perintah saraf suatu anggota badan secara keseluruhan,
sehingga anggota tersebut tidak berfungsi sama sekali, maka orang yang
kena sihir dapat menjadi buta, bisu, tuli, atau lumpuh salah satu anggota
tubuhnya.
2. Jin menahan perintah sarat terhadap suatu anggota badan pada waktu
tertentu dan membiarkannya pada waktu tertentu. Bila keadaan seperti ini,
fungsi anggota penderita akan terhalang secara tidak terus-menerus.
3. Jin menjadikan pusat saraf memberikan banyak perintah secara cepat dan
berturut-turut tanpa ada sebab tertentu, maka anggota badan akan kaku dan
tidak dapat bergerak, jika tidak lumpuh.
Dalam sebuah proses sihir, perlu kita ingat bahwa Allah SWT telah
berfirman maksudnya:

Sedangkan mereka ahli sihir itu tidak akan mempu memberi mudarat
dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah (QS. al-Baqar

Pengubatan penyakit Lumpuh/stroke karena gangguan Jin/ sihir.


Secara umum pengubatannya adalah:
Bacakanlah pada si penderita ruqyah syari (lihat bacaan ruqyah pada Al
Quran dan Al Hadits sahih). Jika kesurupan sewaktu di ruqyah, maka jin
yang ditugasi untuk menyihir akan berbicara melalui lidahnya maka jin
tersebut harus dikalahkan.
Jika tidak kesurupan tetapi dia merasakan adanya beberapa perubahan ringan,
maka terapkanlah beberapa hal berikut ini:
1. Rakamkan di satu kaset beberapa surat Al-Quran, yaitu Al-Fatihah, ayat
Kursi, ad-Dukhaan, al-Jinn, surat-surat pendek, dan al-Muawwidzaat (al-
Ikhlash, Al Falaq dan An Nas). Hendaklah dia mendengarkan kaset ini
tiga kali sehari.
2. Bacakanlah ruqyah pada minyak jintan hitam dan disapu di dahi pesakit
sampai ke tengkuk. dan bahagian yang sakit ( bahagian yang lumpuh dan
sepanjang tulang punggung) pada waktu pagi dan petang. Bacaan ruqyah
yang dimaksud disini diantaranya adalah Al-Faatihah, Al-Muawwidzaat
(al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas), Ayat 82 surat Al-Israa ( ayat 21-22) dan
beberapa bacaan doa.

(3)

Dengan nama Allah Yang kerana bersama nama-Nya tidak ada sesuatu
apapun dilangit atau di bumi mampu mendatangkan bahaya, dan Dialah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

(3)
Kami berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari
kejahatan makhluk yang Dia ciptakan 3 x.


(3)
Ya Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan
sesuatu yang kami tahu dengan-Mu, dan kami mohon ampunan kepada-Mu
terhadap yang kami tidak mengetahui.

(7)
Kami memohon kepada Allah yang Maha Agung, Pemilik singgahsana
yang agung, semoga Dia menyembuhkan kamu sekalian.



(3)
Dengan nama Allah, kami menjampi kamu dan semoga Allah
menyembuhkan kamu sekalian dari segala penyakit yang mengganggu kamu
sekalian dan dari kejahatan setiap pendengki ketika ia dengki, dan dari
kejahatan setiap pemilik pandangan mata yang berbahaya, semoga Allah
menyembuhkan kamu sekalian.




(3)
Ya Allah, hilangkan penyakit ini, wahai Penguasa seluruh manusia,
sembuhkanlah ! Engkaulah yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan
kecuali kesembuhan dari-Mu, sembuhkanlah dengan kesembuhan sempurna
tanpa meninggalkan rasa sakit.

(7)



Dengan nama Allah, dengan Nama Allah, dengan nama Allah, kami
berlindung dengan keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan
yang kau hadapi dan kami hindari.
Semuanya ini berlangsung selama 60 hari, jika dalam waktu itu penyakitnya
belum sembuh, maka yang demikian itu sudah cukup. Tetapi jika tidak
sembuh juga, maka ruqyahlah sekali lagi, kemudian berikan arahan-arahan di
atas untuk beberapa waktu yang menurut kita mencukupi dan sesuai untuk
kesembuhan..

Pengubatan penyakit Lumpuh/stroke karena murni pecahnya pembuluh


darah di Otak
Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang
ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena
berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah
dan oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan, penyempitan atau
pecahnya pembuluh darah.
Saya bukan ahlinya dalam menjelaskan secara tinjawan medis
mengenai seluk-beluk stroke, kepada para pengunjung saya sarankan
membaca rujukan-rukujan ilmu kedokteran. Dalam artikel ini saya hanya
akan menjelaskan penyembuhan penyakit stroke (apapun jenisnya) dengan
menggabungkan antara tekhnik ruqyah + herbal.

Penjabaran :
a. Ruqyah + buah manggis
untuk penyakit stoke, saya menyarankan agar pesakit/penderita
mengkonsumsi buah manggis. Sebab buah manggis mengandung
antioksidan yang sangat tinggi yang bisa membuang racun yang ada dalam
tubuh maka dengan sendirinya penyumbatan pembuluh darah di jaringan
otak dapat diatasi. Juga memperlebar pembuluh darah dan memeperlancar
peredaran darah. manggis juga kaya akan mineral kalium yang membantu
metabolisme energi pada penderita stoke sebab tubuh mampu menyerap
100% semua nutrisi.
Bacakanlah pada buah manggis yang sudah dibuka minimal dengan
membaca surat Alfatihah 7x pada buah manggis. Setiap pagi,tengahari,
petang dan malam hari makanlah 3 buah manggis yang sudah diruqyah.
b. Ruqyah + minyak habbatussauda cair
Habbatussauda adalah herbal ajaib yang banyak diceritakan pada
berbagai hadits rasulullah sebagai obat dari segala macam penyakit
termasuk dalam hal ini untuk mengobati stroke.
Bacakanlah ayat-ayat ruqyah (sama seperti ayat penyembuhan sihir
lumpuh diatas) pada minyak habbatussauda lalu komsumsi 3 sendok
minyak habbatussauda setiap pagi, siang, sore dan malam hari sebelum
tidur.
c. Bekam
Proses bekam dapat mengeluarkan semua kotoran, sisa, dan endapan
darah sehingga mendorong kembali aktifnya seluruh sistem dan organ
tubuh yang dapat menyembuhkan penyakit stroke. Tekhnik bekam juga
sesuai untuk stroke, disarankan bagi penderita stoke untuk berbekam
seminggu sekal.

D. PENYIMPANGAN KDM
Pathway

Peningkatan
tekanan sistemik Gangguan perfusi
jaringan serebral
Aneurisma / APM
Vasospasme Arteri
Perdarahan serebral
Arakhnoid/ventrikel Iskemik/infark
otak
Deficit neurologi
Hematoma serebral
Hemisfer Kanan Hemisfer Kiri
Peningkatan
Ketidakefektifan
TIK/herniasis Hemiparase/plegi Hemiparase/plegi
pola nafas serebral kiri kanan
Penurunan Kesadaran
Penekanan saluran
pernafasan Deficit perawatan Intolerani
diri Aktivitas
Ketidakefektifan
Risiko gangguan Risiko
Bersihan jalan
integritas kulit ketidakseimbangan
nafas
nutrisi
Area Gocca Kerusakan kontrol
syaraf motorik
Kerusakan fungsi N Kontrol spingter
VII dan N XII ani menhilang
Hambatan
Inkontinensia
komunikasi verbal
urine/retensi urine
Gangguan
Risiko jatuh Eliminasi Urine
DAFTAR PUSTAKA

Ginsberg, Lionel. Neurologi Edisi 8. Jakarta: Erlangga. 2008 Hal 69. Waxman,
Stephen. 26th Edition Clinical Neuroanatomy. Mc Graw Hill Medical:
America. 2010
Hartono. Kapita Selekta Neurologi. Gadjamada University Press.
Yogyakarta.2009.
Harsono. Buku Ajar Neurologi Klinis. Jakarta: EGC. 2009. Hal; 94-96.
Greenberg, Michael. Teks Atlas Kedokteran Kedaruratan Greenberg
Jilid 1. Jakarta: Erlangga. 2004.
NANDA Internasional. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi.
Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran.EGC
Nanda Nic-Noc.2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis dan Nanda,Jilid 1.Jakarta:MediaActionPublishing
Snell, Richard. Neuroanatomi Klinik Edisi 5. Jakarta: EGC. 2007 Hal 24.
Muttaqin, Arif. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta: Salemba Medika. 2008.
http://www.kalbemed.com/Portals/6/05_199Penatalaksanaan%20perdarahan
%20subaraknoid.pdf
http://raihanpahimi.blogspot.co.id/2014/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-
none_30.html