Anda di halaman 1dari 20

DISKUSI REFLEKSI KASUS (DRK) IDENTIFIKASI PASIEN

DI RUANG AYYUB 2 RS ROEMANI MUHAMMADIYAH SEMARANG


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Keperawatan Manajemen Tahap Profesi
Dosen Pembimbing : Sarah Ulliya, S.Kp. M. Kes
Pembimbing Klinik : Ismiatun, AMK

Disusun Oleh:
Fadllun Naim 22020115210028
Ela Riya Suairoh 22020115210029
Endah Luthfiana 22020115210034
Mutiara Rachmawati 22020115210031
Febriana Tri Kusumawati 22020115210035
Risqi Nurcahyani 22020115210032
Ika Juita Giyaningtyas 22020115210036
Prima Khairunisa 22020115210033
Yudhanoorsanti Elmonita 22020115210027

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXVI


JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016
DISKUSI REFLEKSI KASUS (DRK) IDENTIFIKASI PASIEN
DI RUANG AYYUB 2 RS ROEMANI MUHAMMADIYAH
SEMARANG

A. Waktu Pelaksanaan
Hari/ tanggal : Jumat, 12 Februari 2016
Jam pelaksanaan : pukul 12.30 WIB
Tempat : Aula diklat lantai 3 RS Roemani Muhammadiyah
Semarang

B. Topik Kasus
Identifikasi Pasien

C. Masalah atau Isu yang Muncul


1. Identifikasi pasien masih menggunakan nomor bed
2. a. Identifikasi pasien dalam pemberian obat :
1) Identifikasi pasien saat akan memberikan obat kepada pasien yang
dilakukan oleh perawat menggunakan nama bed.
2) Identifikasi pasien saat akan membagi obat pagi-siang-malam yang
dilakukan oleh apoteker menggunakan label nama dan nomor bed.
b. Identifikasi pasien dalam pemberian darah:
Identifikasi pasien saat akan memberikan darah belum dilakukan
double check oleh perawat yang akan memberikan darah kepada pasien.
3. Identifikasi pasien saat akan dilakukan tindakan/prosedur menggunakan
nomor bed.

D. Pembahasan
1. Konsep Keselamatan Pasien
a. Keselamatan pasien (Patient Safety)
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/
Menkes/Per/VIII/2011 disebutkan bahwa keselamatan pasien (patient
safety) rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat
asuhan pasien lebih aman meliputi asesmen resiko identifikasi dan
pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien. Pelaporan dan
analisa insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya
serta implememntasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan
mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil(Depkes RI, 2011).
b. Standar keselamatan pasien
Masalah keselamatan pasien merupakan masalah yang perlu
ditangani segera dirumah sakit, maka standar keselamatan pasien dalam
rumah sakit sangatlah diperlukan. Standar keselamatan ini diatur dalam
PERMENKES RI Nomor 1691/Menkes/PER/VIII/2011 BAB III
mengenai standar keselamatan Pasien Pasal 7 disebutkan bahwa setiap
rumah sakit wajib menerapkan Standar Keselamatan Pasien. Standar
keselamatan pasien tersebut meliputi:
1) Hak pasien
2) Mendidik pasien dan keluarga
3) Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4) Penggunaan metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi
dan program peningkatan keselamatan pasien.
5) Peran kepemiminan dalam meningkatkan keselamatan pasien.
6) Mendidik staf tentang keselamatan pasien
7) Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai
keselamatan.
c. Sasaran Keselamatan Pasien (SKP)
Sasaran keselamatan pasien diatur dalam Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia, Nomor 1691/ Menkes/Per/VIII/2011
tentang keselamatan pasien rumah sakit BAB IV pasal 8. Sasaran
keselamatan pasien merupakan syarat untuk diterapkan di semua rumah
sakit yang diakreditasi oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit, dalam
penyusunan sasaran keselamatan pasien ini mengacu kepada Nine life-
saving patient safety solution dari WHO Patient Safety (2007) yang
digunakan juga oleh Komite keselamatan Pasien Rumah Sakit PERSI
(KKPRS PERSI) dan dari Joint Commision International (JCI)(Depkes
RI, 2011). Enam sasaran (Six Goals Patien Safety) yaitu:
1) Ketepatan identifikasi pasien
a) Definisi identifikasi pasien
Identifikasi pasien merupakan aspek yang sangat penting
dari setiap tindakan klinis yang bertujuan menggali informasi
pasien untuk mengkonfirmasi identitas pasien dengan beberapa
data. Identifikasi pasien harus dilakukan dengan benar dan
kegagalan identifikasi mengakibatkan kerugian bagi pasien dan
kepercayaan terhadap petugas kesehatan. Pasien rawat inap
harus selalu memakai gelang identitas yang melekat erat
dengan baik yang biasanya dipakai di lengan dominan. Gelang
pasien ini tidak boleh rusak setelah pasien dinyatakan masuk
keruangan dan dipakai selama pasien di rumah sakit, namun
tidak mengurangi kewajiban petugas medis untuk memeriksa
identitas pasien. Gelang pasien biasanya berisi nama pasien,
nama panggilan, jenis kelamin, tanggal lahir dan nomor
registrasi. Pada pasien bayi biasanya dipasang di pergelangan
kaki. Setiap pasien juga harus mempunyai lembar perekat
label, berisi informasi yang relevan mengenai identitas pasien,
label tersebut dicetak dan dimasukkan dalam catatan medis
mereka yang nantinya digunakan pada halaman dan dokumen
lainnya(Thomas, 2015).
Keadaan yang dapat mengarahkan terjadinya kesalahan
dalam mengidentifikasi pasien adalah pasien yang dalam
keadaan terbius/tersedasi, mengalami disorientasi, atau tidak
sadar sepenuhnya, bertukar tepat tidur, kamar, lokasi didalam
rumah sakit, mungkin mengalami disabilitas sensori atau
akibat situasi lain(KARS, 2012).
Berdasarkan SOP identifikasi pasien yang sudah ditentukan
oleh RS Roemani Muhammadiyah bahwa tujuan dari
identifikasi pasien adalah memastikan identitas pasien dengan
benar sebelum petugas memberikan obat, melakukan tindakan
atau prosedur, mengambil darah / sampel, memberikan darah
atau produk darah, dan melakukan pengobatan.
b) Aspek identifikasi
Ketika berinteraksi dengan pasien, selain untuk
mengidentifikasi pasien secara benar juga penting bagi petugas
medis untuk memperkenalkan diri dengan tujuan memastikan
bahwa petugas medis memakai identifikasi formal seperti
nama instansi atau kartu identifikasi rumah sakit yang dapat
dilihat dengan jelas. Ketika ada pasien dengan nama yang
sama dari nama yang sama, beberapa rumah sakit dapat
menggunakan tanda atau simbol dikenali di dekat tempat tidur
pasien atau pada daftar dokter bangsal. Beberapa rumah sakit
sengaja menempatkan pasien tersebut di bangsal yang sama,
dengan tujuan memperkuat nama yang mirip mereka dan
dengan demikian menarik perhatian mereka dalam upaya
untuk meminimalkan kesalahan(Thomas, 2015).
c) Tujuan identifikasi pasien
Tujuan yang ingin dicapai pada pelaksanaan identifkasi
pasien adalah pasien mendapatkan pelayanan atau pengobatan
yang seharusnya didapatkan oleh pasien, tidak terjadi kelalaian
maupun kesalahan dalam penatalaksanaan perawat dan
pengobatan serta keamanan dan keselamatan pasien yang
menjadi fokus utama(Depkes RI, 2011). Tujuan dari sasaran
ketepatan identifikasi dalam instrumen akreditasi rumah sakit
adalah(KARS, 2012) :
(a) Mengidentifikasi pasien sebagai individu yang akan
mendapatkan pelayanan atau pengobatan.
(b) Untuk mencocokkan pelayanan atau pengobatan terhadap
individu tersebut.
Berdasarkan SOP identifikasi pasien yang sudah ditentukan
oleh RS Roemani Muhammadiyah bahwa tujuan dari
identifikasi pasien adalah memastikan identitas pasien dengan
benar sebelum petugas memberikan obat, melakukan tindakan
atau prosedur, mengambil darah atau sampel, memberikan
darah atau produk darah, dan melakukan pengobatan.
d) Jenis identifikasi pasien
Pasien harus diidentifikasi dengan benar dengan
menggunakan beberapa data identifikasi. Sangat penting
menggunakan pertanyaan terbuka, sehingga pasien dapat
memberikan informasi, misalnya jangan menggunakan
pertanyaan Apakah anda Ny. Jons? karena hal tersebut dapat
melanggar kerahasiaan identitas pasien, jika yang diperiksa
adalah orang lain, hal ini dapat membingungkan pasien. Lebih
baik menggunakan pertanyaan terbuka misalnya Siapa nama
anda/ mohon konfirmsi nama anda?. Identifikasi pasien terdiri
dari(Thomas, 2015):
(a) Two-Point Identification yaitu identifikasi yang digunakan
setiap melakukan tindakan klinis dasar, identifikasi ini
setidaknya menggunakan dua data seperti nama lengkap
pasien dan tanggal kelahiran pasien yang nantinya
dicocokkan dengan gelang rumah sakit dan dokumen
pasien.
(b) Three-Point Identification yaitu identifiksi pasien yang
digunakan jika pasien tidak sadarkan diri atau untuk
prosedur invasif dan transfusi darah, biasanya melibatkan
tiga data identitas, seperti nama lengkap, tanggal lahir dan
nomor rekam medis untuk dicocokkan dengan gelang
rumah sakit dan dokumen pasien.
e) Sistematika identifikasi pasien
(1) Identifikasi pasien (rawat inap)
(a) Pemberian obat
Verifikasi oleh dua orang perawat dengan sistem 7
benar(Thomas, 2015):
1) Benar nama obat: mencocokkan obat dengan
instruksi dokter
2) Benar dosis : klarifikasi pada catatan pemberian
obat
3) Benar waktu : mencocokkan waktu pemberian
yang ada pada catatan program pengotan dan jam
yang ada.
4) Benar cara
5) Benar pasien
6) Benar informasi
7) Benar dokumentasi
(2) Pemberian tranfusi darah dan atau produk darah
Verifikasi pemberian transfusi darah pasien harus
diselesaikan oleh dua perawat di samping tempat tidur
pasien. Langkah dalam proses verifikasi dapat mencakup
berikut ini (Joint Commision Resaurces, 2009) :
1) Memeriksa slip transfusi
2) Memeriksa kantong darah
3) Memeriksa gelang pasien (nama pasien, tanggal lahir,
dan donor kelompok ABO dan jenis), bila
memungkinkan, secara aktif melibatkan pasien dalam
konfirmasi identifikasi, golongan darah, dan prosedur
tetap.
4) Memeriksa tanggal kadaluarsa unit darah
5) Memeriksa nomor identifikasi unit darah
6) Mengkonfigurasi tanggal dan waktu pemberian darah.
(3) Pemeriksaan penunjang (laboratorium dan radiologi)
Perawat harus memastikan identitas pasien dengan
benar:
(a) Meminta pasien menyebutkan nama dan tanggal
lahirnya
(b) Periksa dan bandingkan data pada gelang pengenal
dengan rekam medis
(c) Jika terdapat dua atu lebih pasien yang memiliki
nama yang sama, periksa ulang identitasnya
dengan melihat alamat rumahnya.
(d) Jika data pasien tidak lengkap, informasi lebih
lanjut harus diperoleh sebelum dilakukan tindakan.
f) Prosedur Identifikasi Pasien
Berikut ini kalimat yang tepat dalam identifikasi
pasien(Thomas, 2015):
(a) Memperkenalkan diri Hello, nama saya Dr. Thomas, dan
saya dokter junior diruangan ini
(b) Pastikan pasien dapat mendengar dan melihat kartu
identitas perawat, minta pasien menyebut kembali nama
anda jika diperlukan.
(c) Gunakan pertanyaan terbuka misalnya Siapa nama anda
dan nama keluarga anda? (ketika pasien menyebutkan
identitasnya, cocokkan dengan dokumen pasien. Minta
pasien untuk mengeja namanya jika diperlukan).
(d) Gunakan pertanyaan terbuka Bolehkah saya memeriksa
gelang pengenal anda?
(e) Konfirmasi informasi yang diberikan pasien dan cocokkan
dengan gelang pengenal pasien.
(f) Gunakan pertanyaan terbuka Berapa tanggal lahir anda?
(cocokkan kembali gelang pengenal pasien dengan
dokumen pasien)
Identifikasi pasien terdiri atas two- point identification, yang
biasanya digunakan dalam identifikasi pasien. Akan lebih baik
untuk melakukan pengecekan nomer registrasi, atau alamat,
dan data tersebut harus dilakukan jika menggunakan three-
point identification jika diperlukan.
g) Prosedur Ketepatan Identifikasi Pasien Rawat Inap di RS
Roemani Muhammadiyah Semarang
(1)Strategi Pengidentifikasian Pasien
World Health Organization (WHO) dalam pembahasannya
mengenai patient safety solution khususnya identification
patient menyarankan strategi yang harus dipertimbangkan
mengenai ketepatan identifikasi pasien. Strategi tersebut
adalah (WHO (World Health Organization), 2007) :
a) Rumah sakit harus mempunyai sistem organisasi
tentang patient safety yang baik yang meliputi:
(1) Menekankan tanggung jawab kepada petugas
kesehatan (perawat) untuk memeriksa dan
mencocokkan identifikasi pasien yang benar dengan
tindakan yang akan diberikan (pengambilan
spesimen dan prosedur lain).
(2) Mendorong penggunaan setidaknya dua
pengidentifikasi (misalnya nama dan tanggal lahir)
untuk memverifikasi identitas pasien dan tidak
menggunakan nomor kamar atau nomor tempat
tidur.
(3) Standarisasi pendekatan prosedur identifikasi pasien
meskipun pelayanan yang berbeda.
(4) Menyediakan protokol yang jelas untuk
mengidentifikasi pasien yang tidak memiliki
identifikasi dan nama yang sama.
(5) Pendekatan non verbal dapat dikembangkan dan
digunakan untuk mengidentifikasi pasien koma dan
bingung.
(6) Mendorong pasien untuk berpartisipasi dalam semua
tahapan proses identifikasi.
(7) Mendorong pelabelan yang digunakan untuk
pemeriksaan darah dan spesimen lain.
(8) Menyediakan untuk pemeriksaan ulang untuk
mencegah kesalahan identifikasi pasien.
b) Memberikan pelatihan tentang prosedur pemeriksaan/
verifikasi identitas pasien dan mengembangkan
keprofesionalan bagi pekerja kesehatan.
c) Mendidik pasien tentang pentingnya identifikasi yang
benar dengan cara yang positif dan menjaga provesi
mereka.
(2)Pelaksanaan Identifikasi Pasien
Pelaksanaan identifikasi pasien ditekankan pada
verifikasi identifikasi pasien, termasuk keterlibatan pasien
dalam proses dan pasrtisipasi pasien dalam konfirmasi.
Adanya perkembangan kebijakan dalam ketepatan
identifikasi adalah untuk memperbaiki proses identifikasi,
khususnya pada proses untuk mengidentifikasi pasien
ketika pemberian obat, darah, atau produk darah,
pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan
klinis atau pemberian pengobatan atau tindakan lain.
Kebijakan tersebut tentunya dengan protokol identifikasi
seorang pasien yang meliputi nama pasien, nomor rekam
medis, tanggal lahir, gelang identitas pasien dengan bar-
code dan lain-lain. Dilarang menggunakan nomor kamar
atau lokasi untuk mengidentifikasi pasien.
Perawat pada umumnya memiliki pengetahuan dan
pemahaman yang baik tentang sistem identifikasi pasien,
perawat memahami bahwa tujuan dari identifikasi pasien
adalah mencegah kesalahan identitas yang dapat
menyebabkan kesalahan tindakan dan demi keamanan
petugas. Disamping untuk keamanan pasien, perawat
menyadari bahwa identfikasi pasien merupakan bentuk
perlindungan pada petugas karena kesadaran hukum
masyarakat semakin meningkat(Anggraeni & Hakim,
2014).
Ketepatan identifikasi yang ditentukan oleh Komisi
Akreditasi Rumah Sakit (KARS) yaitu :
a) Pasien diidentifikasi menggunakan dua identifikasi
pasien, tidak boleh menggunakan nomor kamar atau
lokasi pasien.
b) Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah
atau produk darah.
c) Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan
spesimen lain untuk pemeriksaan klinis
d) Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan
dan tindakan / prosedur.
e) Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan
identifikasi yang konsisten pada semua situasi dan
lokasi.

(3) Hasil Observasi Perawat Ayyub 2 mengenai pelaksanaan


identifikasi pasien.
Berdasarkan hasil observasi pada 20 perawat ruang Ayyub 2
mengenai identifikasi pasien sejak tanggal 1-9 Februari
2016, didapatkan hasil antara lain:
a) Gelang identifikasi pasien, yang meliputi: nama
lengkap, No. RM dan tanggal lahir
Semua pasien menggunakan gelang identitas sesuai
dengan warna jenis kelamin. Hal tersebut sudah sesuai
dengan SOP, namun ada beberapa nama pada gelang
yang sudah pudar karena penulisan menggunakan pen,
sehingga tidak jelas saat dibaca untuk mengidentifikasi
pasien tersebut.
b) Identifikasi dilakukan dengan mengecek 2 dari 3
identitas tersebut
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, ditemukan
bahwa 20 perawat (100%) yang diobservasi tidak
mengecek 2 dari 3 identitas pasien. Semua perawat
memakai nomor bed dan hanya menanyakan nama
untuk mengidentifikasi pasien sebelum melakukan
tindakan.
c) Identifikasi pasien sebelum pemberian obat, memberi
tindakan/prosedur, mengambil darah atau sample,
memberikan produk darah dan memberikan pengobatan
Dari hasil observasi, masih terdapat sejumlah 5 perawat
(25%) yang hanya menggunakan nomor bed untuk
memberikan obat. Sedangkan untuk pemberian produk
darah, double check, hanya dilakukan oleh 20%
perawat.
d) Identifikasi secara verbal (nama lengkap dan tanggal
lahir atau No. RM) dan nonverbal (melihat gelang
identitas pasien dan dicocokkan)
Berdasarkan hasil observasi, terdapat 100 % (20
perawat) perawat yang melakukan identifikasi dengan
satu identitas saja, yaitu nama pasien. Selain itu,
terdapat 50 % perawat (10 perawat) yang menanyakan
nama pasien dengan tertutup, seperti Bapak Naim?
serta belum melihat dan belum mencocokkan dengan
gelang identitas pasien.
(4)Hasil kuesioner Pelaksanaan Standar Keselamatan Pasien:
Identifikasi Pasien
(a) Pernyataan 1
Terdapat 75% perawat menyatakan selalu memastikan
bahwa pasien sudah terpasang gelang identitas yang
meliputi nama, tanggal lahir, dan no. RM.
(b) Pernyataan 2a
Terdapat 33% perawat menyatakan sudah sering
melakukan identifikasi pasien setiap kali akan
memberikan obat.
(c) Pernyataan 2b
Terdapat 17% perawat yang jarang mengklarifikasi 2
dari 3 identitas pasien yang tertera pada gelang.
(d) Pernyataan 2c
Terdapat 50 % perawat yang sering menggunakan
nomor bed tanpa mengkonfirmasi identitas pasien.
Selain itu terdapat 42 % perawat selalu menggunakan
nomor bed tanpa mengkonfirmasi identitas pasien.
(e) Pernyataan 2d
Terdapat 58% perawat yang jarang hanya menanyakan
nama pasien ketika memberikan obat dan sebanyak 33%
perawat yang sering hanya menanyakan nama pasien
ketika memberikan obat.

(f) Pernyataan 3a
Terdapat 58% perawat selalu melakukan identifikasi
pasien setiap kali akan mengambil sampel darah.
(g) Pernyataan 3b
Terdapat 83% perawat sering mengklarifikasi dari 3
identitas pasien yang tertera pada gelang pasien setiap
kali akan mengambil sampel darah.
(h) Pernyataan 3c
Terdapat 42% perawat jarang hanya menggunakan
nomor bed tanpa mengkonfirmasi identitas pasien pada
saat akan mengambil sampel darah.
(i) Pernyataan 3d
Terdapat 50% perawat jarang hanya menanyakan nama
pasien ketika akan mengambil sampel darah.
(j) Pernyataan 4a
Terdapat 83% perawat selalu melakukan identifikasi
pasien setiap kali akan memberikan transfusi darah.
(k) Pernyataan 4b
Terdapat 67% perawat sering mengklarifikasi dari 3
identitas pasien yang tertera pada gelang pasien setiap
kali akan memberikan transfusi darah.
(l) Pernyataan 4c
Terdapat 67% perawat tidak pernah hanya menggunakan
nomor bed tanpa mengkonfirmasi identitas pasien pada
saat akan memberikan transfusi darah.
(m)Pernyataan 4d
Terdapat 50% perawat jarang hanya menanyakan nama
pasien ketika akan memberikan transfusi darah.

(n) Pernyataan 4e
Terdapat 25% perawat jarang memastikan identitas yang
ada di label dengan identitas yang ada di kantong darah,
serta mencocokan gelang pasien serta mengkonfirmasi
identitas pasien, golongan darah pada saat pemberian
transfusi darah.
(o) Pernyataan 5a
Terdapat 25% perawat yang sering melakukan
identifikasi pasien setiap kali akan melakukan tindakan
keperawatan lain seperti sebelum mengirim pasien
hemodialisa, operasi, pemeriksaan rontgent, dll,
sedangkan sisanya (75%) selalu melakukannya.
(p) Pernyataan 5b
Terdapat 17% perawat yang sering mengklarifikasi 2
dari 3 identitas pasien yang tertera pada gelang pasien
setiap kali akan melakukan tindakan keperawatan lain
seperti sebelum mengirim pasien hemodialisa, operasi,
pemeriksaan rontgent, dll.
(q) Pernyataan 5c
Terdapat 58% perawat yang sering menggunakan nomor
bed tanpa menkonfirmasi identitas pasien pada saat akan
melakukan tindakan keperawatan lain seperti sebelum
mengirim pasien hemodialisa, operasi, pemeriksaan
rontgent, dll, sedangkan sisanya (42%) selalu
melakukan.
(r) Pernyataan 5d
Terdapat 8% perawat yang tidak pernah hanya
menanyakan nama pasien ketika akan tindakan
keperawatan lain seperti sebelum mengirim pasien
hemodialisa, operasi, pemeriksaan rontgent, dll, 16 %
menyatakan selalu, dan 75% menyatakan sering
melakukan.
(s) Pernyataan 6
Terdapat 83% perawat yang sering hanya melihat gelang
identitas pasien sebelum melakukan tindakan tindakan
keperawatan lain seperti sebelum mengirim pasien
hemodialisa, operasi, pemeriksaan rontgent, dll,
sedangkan sisanya (17%) selalu melakukannya.
(t) Pernyataan 7
Terdapat 50% perawat yang sering menanyakan
identitas pasien dengan pertanyaan tertutup.
(u) Pernyataan 8
Terdapat 33% perawat yang sering dan selalu
menanyakan nama dan tanggal lahir pasien dengan
pertanyaan terbuka, 25 % tidak pernah, dan 8% jarang
melakukan.
(v) Pernyataan 9
Terdapat 17% perawat yang tidak pernah dan jarang
mengklarifikasi identitas pasien dengan menanyakan
nama dan tanggal lahir pasien, sedangkan 33% sering
dan selalu melakukannya.
(w) Pernyataan 10
Terdapat 75% perawat mengklarifikasi identitas yang
diucapkan pasien dengan mencocokkan data pada
gelang identitas pasien, sedangkan sisanya (25%) selalu
melakukan.
(x) Pernyataan 11
Terdapat 42% perawat yang merasa sudah selalu
mendapatkan sosialisaasi terkait standar keselamatan
pasien, 33% merasa jarang, dan 25% merasa sering
mendapatkan.
E. Unit yang perlu diundang
1. Perawat ruang Ayyub 2
2. Kepala ruang Ayyub 2
3. Bagian bidang keperawatan khususnya SKP
4. Mahasiswa Keperawatan

F. Rencana tidak lanjut (ditulis berdasarkan hasil diskusi bersama)


Rekomendasi:
1. Memberikan label identifikasi pasien di obat (nama, RM, tanggal lahir)
dengan prinsip 7 benar (benar obat, pasien, dosis, waktu, cara, informasi,
dokumentasi).
2. Melakukan double check saaat pemberian transfusi darah dan obat yakni
dengan cara mengecek kebenaran identifikasi yang dilakukan minimal
oleh 2 perawat.

LAMPIRAN SPO
LAMPIRAN DOKUMENTASI
HASIL KESEPAKATAN RENCANA TINDAK LANJUT

No :
Isu :
Kegiatan Indikator :
1. .............................................................................................................................
2. .............................................................................................................................
3. .............................................................................................................................
4. .............................................................................................................................
5. .............................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, D., & Hakim, L. (2014). Evaluasi pelaksanaan sistem identifikasi pasien di
Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 28(1), 97102.

Depkes RI. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. No


1691/Menkes/Per/VIII, Tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Jakarta.

Joint Commision Resaurces. (2009). Patien Safety: EssentialsFor Healt Care fifth
Edition. United States of America: Joint Commision Resources.

KARS. (2012). Instrumen Akreditasi Rumah Sakit Standar Akreditasi Versi 2012 (1st ed.).
Jakarta: Komisi Akreditasi Rumah Sakit.

Thomas, R. (2015). Practical Medical Procedures at a Glance. British: Library of


Congress Cataloging.

WHO (World Health Organization). (2007). WHO Collaborating Centre for Patient
Safety Solution: Patient Identification (Vol. 1).