Anda di halaman 1dari 75

SELAMAT DATANG PESERTA

PELATIHAN - PPh PASAL 21


JAKARTA
DHIKY KURNIAWAN, SE, MM
Working Experience
2000 - 2001 : Direktorat Jenderal Pajak KPP Kebayoran Lama
2001 - 2003 : Direktorat Jenderal Pajak KPP Kebayoran Baru
(Seksi Penerimaan & Keberatan)
2003 - 2005 : Direktorat Jenderal Pajak KPP Kebayoran Baru Satu
(Pemeriksa Seksi PPh Badan)
2005 - 2007 : Direktorat Jenderal Pajak KPP Kebayoran Lama
(Pemeriksa - Seksi P2PPh)
2007 - 2008 : Direktorat Jenderal Pajak Kanwil Jakarta Selatan
(Penelaah Keberatan)
2008 - 2009 : Direktorat Jenderal Pajak KPP Pratama
Jakarta Kebayoran Baru Tiga (Pemeriksa)
2009 - 2011 : Direktorat Jenderal Pajak KPP Madya
Jakarta Pusat (Pemeriksa)
2011 - 2013 : Direktorat Jenderal Pajak KPP
Penanaman Modal Asing Dua (Pemeriksa)
2013 - now : Instruktur Pajak

Email: dekawht@gmail.com
Pokok Bahasan

1. KONSEP DASAR PPh PASAL 21


2. PERHITUNGAN PPh PASAL 21
3. TAX PLANNING

1. PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 DENGAN


APLIKASI MS EXCELL
2. PELAPORAN DENGAN e-SPT 1721
Dasar Hukum

UU No. 28 Tahun 2007 tentang KUP;


UU No. 36 Tahun 2008 tentang PPh;
PMK No. 252/PMK.03/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemotongan PPh Sehubungan
dengan Pekerjaan, Jasa dan Kegiatan Orang Pribadi
PMK No. 250/PMK.03/2008 tentang Biaya Jabatan atau Biaya Pensiun yang Dapat dikurangkan
dari Penghasilan Bruto Pegawai Tetap atau Pensiun
PMK No. 206/PMK.03/2012 tentang Batasan PTKP Pegawai Harian dan Mingguan serta Pegawai
Tidak Tetap Lainnya yang Tidak Dikenakan Pemotongan PPh;
PER-31/PJ./2012 Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan PPh
Pasal 21/26 sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa dan Kegiatan Orang Pribadi;
PER-32/PJ./2009 Bentuk Formulir SPM PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 dan Bukti
Pemotongan PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26; STDD PER-14/PJ./2013
PP No. 68 Tahun 2009 PPh Pasal 21 atas Pesangon, Manfaat Pensiun, THT, JHT
PMK No. 16/PMK.03/2010 Tatacara Pemotngan PPh Pasal 21 atas Pesangon, Manfaat
Pensiun, THT, JHT;
PP No. 80 Tahun 2010 PPh 21 untuk Pejabat Negara, PNS, TNI, POLRI yang dananya berasal
dari APBN/APBD
PMK No. 262/PMK.03/2010 Juklak PP No. 80 Tahun 2010
PMK No. 122/PMK.010/2015 Perubahan PTKP

LM Formasi
KONSEP DASAR: 1
RUANG LINGKUP PPh 21/26

Pajak atas penghasilan berupa gaji,


upah, honorarium, tunjangan dan imbalan
lain dengan nama apapun sehubungan
dengan pekerjaan, jabatan, jasa dan
atau kegiatan yang diterima oleh orang
pribadi.

SPDN PPh Psl 21

SPLN PPh Psl 26


KONSEP DASAR: SIFAT PEMOTONGAN 1

PPh Pasal 21 tidak final, Kecuali:


Pembayaran pesangon sekaligus; dan
Honorarium untuk PNS, ABRI.

PPh Pasal 26 Final;


Pasal 26 ayat (5) huruf a, pemotongan PPh Pasal 26 bersifat final, kecuali
pemotongan atas penghasilan yang diterima orang pribadi yang
statusnya berubah menjadi WPDN.
1 KONSEP DASAR: PEMOTONG PPh Psl 21/26

Pemberi Kerja
Orang pribadi;

Badan: pusat, cabang, perwakilan atau unit

Bendaharawan atau pemegang kas pemerintah;


Dana pensiun, penyelenggara JAMSOSTEK, atau badan lain
yang membayar uang pensiun dan THT atau JHT;
Penyelenggara kegiatan
1 Kewajiban Pemotong PPh 21

Bila batas waktu penyetoran jatuh pada hari libur, maka penyetoran atau pelaporan
dapat dilakukan satu hari kerja berikutnya
KONSEP DASAR:
1
KEWAJIBAN MEMBUAT BUKTI POTONG

Penghitungan PPh Pasal


Subjek Pembuatan Bukti Potong
21
Pegawai Tetap - Penghitungan masa; Psl 23 (1) dan (2), PER-
(Jan-Nov) estimasi; 31/PJ./2012Max. 1 bulan
- Penghitungan Masa Pajak setelah:
Terakhir (Bulan kary. berhenti - Tahun kalender berakhir;
kerja, pindah cabang, atau - Berhenti bekerja;
Desember) Realisasi

Non Pegawai Setiap masa sesuai dengan saat Setiap kali dilakukannya
Tetap terutangnya penghasilan. pemotongan PPh
1 Konsep Dasar: SETOR DAN LAPOR PAJAK (PMK-
184/PMK.03/2007) stdd PMK-80/PMK.03/2010

Batas Akhir Penyetoran Pajak (Pasal 3 PMK-184/PMK.03/2007)


Bila tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak
bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur
nasional, pembayaran atau penyetoran pajak dapat dilakukan
pada hari kerja berikutnya.

Batas Akhir Pelaporan (Pasal 8 PMK-184/PMK.03/2007)


Bila bertepatan pada hari libur (sabtu atau hari libur nasional),
pelaporan dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.

Termasuk hari libur:


Hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum
yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara
nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah.
1 KONSEP DASAR:
HAK PEMOTONG PPh 21/26 Jika KELEBIHAN
SETOR

Kompensasi lebih setor:


Pasal 22 (7) PMK - 252/PMK.03/2008 jo.

Pasal 22 (7) PER-31/PJ./2012:

Dalam hal dalam suatu bulan terjadi kelebihan penyetoran PPh Pasal
21 yang terutang, kelebihan pembayaran tersebut dapat
diperhitungkan dengan PPh Pasal 21 yang terutang pada bulan
berikutnya melalui SPT Masa.
KONSEP DASAR:
1
SAAT TERUTANG PPh PASAL 21/26

Pasal 21 PMK-252/PMK.03/2008:

Bagi pemotong PPh terutang setiap masa, yaitu akhir bulan:


Dilakukannya pembayaran; atau
Terutangnya penghasilan yang bersangkutan (Saat dibebankan
sebagai biaya).
1 KONSEP DASAR:
TEMPAT TERUTANG PPh PASAL 21

Butir 1 SE-23/PJ.43/2000:
Pemotong PPh 21/26: Pusat, cabang, BUT, perwakilan atau unit;
Pemotongan Pajak tersebut juga dilakukan oleh kantor cabang, perwakilan
atau unit tempat pembayaran imbalan jasa ketenagakerjaan dimaksud
dilakukan yang pada umumnya menunjuk pada tempat pelaksanaan
pekerjaan, jasa dan kegiatan.
UU PPh tidak mengatur mekanisme pemusatan (sentralisasi) pemotongan,
penyetoran dan pelaporan PPh Pasal 21.
OBJEK PPH 21: MACAM-MACAM
2
PENGHASILAN

a. Penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tetap, baik berupa


penghasilan yang bersifat teratur maupun tidak teratur;
b. Penghasilan yang diterima atau diperoleh penerima pensiun secara teratur
berupa uang pensiun atau penghasilan sejenisnya;
c. Penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan penghasilan
sehubungan dengan pensiun yang diterima secara sekaligus berupa uang
pesangon, uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua atau jaminan hari tua,
dan pembayaran lain yang sejenis;
d. Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas berupa upah harian,
upah mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah yang dibayarkan
secara bulanan;
e. Imbalan kepada bukan pegawai, seperti: honorarium, komisi, fee, dan imbalan
sejenis dengan nama dan dalam bentuk apapun sebagai imbalan sehubungan
dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan yang dilakukan;
f. Imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uang saku, uang
representasi, uang rapat, honorarium, hadiah atau penghargaan dengan nama
dan dalam bentuk apapun, dan imbalan sejenis dengan nama apapun.
2 OBJEK PPH 21:
REIMBURSEMENT DAN PERSYARATANNYA

Penggantian (reimbursement) kepada orang pribadi, tidak dibayarkan kepada


pihak ketiga
Syarat
Reimbursement

Material:
- Tidak ada mark up/mark down;
- Bukti asli diserahkan kepada penanggung beban sebenarnya.

Formal:
- Bukti transaksi atas nama penanggung beban sebenarnya;
- Diatur dalam kontrak.
2 ASPEK PAJAK ATAS REIMBURSEMENT
Reimbursement

PT A

Penggantian

Bukti an.
Kary. Sama aja gue
minta duit sama
perusahaan buat
berobat.

Reimbursement Objek PPh 21, karena:


- Di-mark up/down, atau bukti asli tidak a.n. penanggung beban sebenarnya;
- Subtansi transaksi tidak sejalan dengan bukti formal;
- Dianggap perusahaan memberikan uang tunai kepada pegawai, yang kemudian digunakan
berobat ke RS.
Reimbursement

PT A

Penggantian

Formalitas dan Subtansi


Bukti an. terpenuhi, sehingga
Perusahaan dianggap sebagai
pemberian benefit in
Kary. kinds

Reimbursement bukan Objek PPh 21, karena:


- Bukti transaksi a.n perusahaan dan sesuai dgn jml yang dikeluarkan kary;
- Substansi dan formal terpenuhi, sehingga perusahaan dianggap membayar kepada RS
untuk memberikan pengobatan kepada karyawan. Sehingga dianggap kenikmatan
OBJEK PPH 21: PREMI ASURANSI YANG
2
DITANGGUNG PEMBERI KERJA

Asuransi: Kesehatan, Kecelakaan, Jiwa, Dwiguna, Bea Siswa (KKJDB)

PPh 21 PPh badan

Ditanggung oleh perusahaan TI DE


Dipotong dari penghasilan karyawan TI NDE

Pasal 9 (1) UU PPh:


Premi Asuransi (KKJDB) yang dibayar oleh orang pribadi, tidak
boleh jadi pengurang.
2 OBJEK PPH 21: DIKECUALIKAN SBG OBJEK
PPh 21 ATAS IURAN PENSIUN YANG
DITANGGUNG PEMBERI KERJA

Yaitu : Iuran Pensiun kepada Dana Pensiun yang pendiriannya sudah


disahkan Menkeu dan Iuran JHT kepada JAMSOSTEK.
Bagi pemberi kerja bersifat Deductible Expense (DE)

PPh 21 PPh badan

Ditanggung oleh perusahaan NTI DE


Dipotong dari penghasilan karyawan NTI NDE
Aspek Pajak atas premi Jamsostek

No. Keterangan Sifat TI-PPh 21 DE-


PPh
Bdn
1. Tunjangan Hari Tua (THT) Pensiun
2. THT Dipotong dr. kary. Pensiun Peng. Ph. bruto
3. Jaminan Kematian (JK) Asuransi
4. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) Asuransi
5. Jaminan Perawatan Kesehatan Asuransi
(JPK)
6. BPJS Kesehatan, dibayar Asuransi
perusahaan
7. BPJS Ketenaga kerjaan:
-Dibayar perusahaan Pensiun
-Dipotong dr kary. Pensiun Peng. Ph. bruto
3 NON OBJEK PPH 21: MACAM-MACAM
PENGHASILAN YANG DIKECUALIKAN DARI
OBJEK PPh PSL. 21

Pembayaran manfaat atau santunan asuransi dari perusahaan asuransi


kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna, dan beasiswa;
Natura/kenikmatan yang diberikan oleh Wajib Pajak atau oleh
pemerintah;
Iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya
telah disahkan oleh Menteri Keuangan, iuran THT atau iuran JHT kepada
badan penyelenggara THT atau badan penyelenggara JAMSOSTEK yang
dibayar oleh pemberi kerja;
Kenikmatan berupa pajak yang ditanggung pemberi kerja, termasuk yang
ditanggung oleh pemerintah;
Beasiswa sepanjang memenuhi ketentuan yang disyaratkan oleh Menteri
Keuangan;
Zakat yang diterima orang pribadi dari badan LAZ yang dibentuk & disahkan
pemerintah. Sumbangan Wajib Keagamaan yang diterima oleh OP dari
lembaga keagamaan yang disahkan oleh Pemerintah.
NON OBJEK PPH 21: BEASISWA

PMK No. 246/PMK.03/2008 stdd PMK No.


154/PMK.03/2009:

Beasiswa bukan Objek PPh dengan syarat:


1. Diterima atau diperoleh WNI dari WP pemberi beasiswa untuk
mengikuti pendidikan formal dan atau non formal yang
dilaksanakan di dalam negeri dan/atau di luar negeri pada tingkat
pendidikan dasar, menengah, dan tinggi;
2. Penerima beasiswa tidak mempunyai hubungan istimewa dengan
pemilik, komisaris, direktur, atau pengurus dari Wajib Pajak
pemberi beasiswa.
4 PERHITUNGAN PPH PASAL 21: TARIF
PAJAK
Pasal 17 huruf a UU PPh No. 36/2008)

Tarif Pajak
Lapisan Penghasilan Kena Pajak
NPWP Non NPWP
sd Rp50.000.000,00 5% 6%

> Rp50.000.000,00 sd Rp250.000.000,00 15% 18%

> Rp250.000.000,00 sd Rp500.000.000,00 25% 30%

> Rp500.000.000,00 30% 36%


Pasal 21 (5a) UU PPh 2008, WPOP yang tidak ber-NPWP dikenai tarif lebih tinggi
20%.
Contoh Penghitungan: 4

Ph. KP = Rp600 juta

UU PPh 2000 UU PPh 2008

25 juta x 5% 1.250.000,- 50 juta x 5% 2.500.000,-

25 juta x 10% 2.500.000,- - -

50 juta x 15% 7.500.000,- 200 juta x 15% 30.000.000,-

100 juta x 25% 25.000.000,- 250 juta x 25% 62.500.000,-

400 juta x 35% 140.000.000,- 100 juta x 30% 30.000.000,-

Jml: 600 juta 176.250.000,- Jml: 600 juta 125.000.000,-


Penghitungan Efektif PPh 21 4

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak Penghitungan Efektif

s/d Rp50.000.000,- 5% 5% x Ph KP
> Rp50.000.000,- s/d Rp250.000.000,- 15% (15% x Ph KP) - 5 juta

> Rp250.000.000,- s/d Rp500.000.000,- 25% (25% x Ph KP) - 30 juta


> Rp500.000.000,- 30% (30% x Ph KP) - 55 juta

Contoh: Ph KP = Rp600 juta


PPh terutang = (30% x Rp600 juta) Rp55 juta
= Rp125 juta
4 PERHITUNGAN PPH PASAL 21: MENURUT
PENERIMA PENGHASILAN

Pegawai:
4.1. PPh Psl 21 Pegawai Tetap.
4.2. PPh Psl 21 Pegawai Tidak Tetap.
4.3. PPh Psl 21 Mantan Pegawai/Komisaris Yang Tidak
Merangkap Sebagai Pegawai Tetap/Penarikan Dapen oleh
Pegawai yang masih aktif.

Selain Pegawai:
4.4 PPh Psl 21 Peserta Kegiatan.
4.5 PPh Psl 21 Selain Pegawai Lainnya.
4.1 PEGAWAI TETAP:

Pegawai Tetap:
Ph. KP = Ph. Neto PTKP
Ph. Neto = Ph. Bruto B. Jabatan Iuran Pensiun/THT

Penerima Pensiun:
Ph. KP = Ph. Neto PTKP
Ph Neto = Ph. Bruto B. Pensiun
4.1 PEGAWAI TETAP:
PENGURANG PENGHASILAN

Biaya Jabatan:
5% x Ph. Bruto;
max Rp500.000,- per bulan atau Rp6.000.000,- per tahun;
Bdskn. Jml bulan kerja/perolehan yg sebenarnya.
Biaya Pensiun:
5% x Pensiun;
max. Rp200.000,- per bulan atau Rp2.400.000,- per tahun
Bdskn. Jml bulan perolehan yg sebenarnya.
Iuran pensiun dan JHT ditanggung karyawan;
Dapen yang disahkan Menkeu;
JHT kepada penyelenggara jamsostek.
PTKP
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

Besarnya PTKP Pegawai:

2009 sd 2012 2013 - 2014 2015


Diri WP sendiri 15.840.000,- 24.300.000,- 36.000.000,-
Status kawin 1.320.000,- 2.025.000,- 3.000.000,-
Tanggungan 1.320.000,- 2.025.000,- 3.000.000,-
Maks. Tanggungan 3 3 3

WNI Ditentukan menurut kondisi di awal tahun


WNA Bulan saat WNA menjadi SPDN
Contoh Penghasilan Tidak Kena Pajak
Sesuai Status WPOP

Status UU PPh 2008 PMK- PMK-


162/PMK.011/2012 122/PMK.010/2015
TK/0 15.840.000,- 24.300.000,- 36.000.000,-
K/0 TK/1 17.160.000,- 26.325.000,- 39.000.000,-

K/1 TK/2 18.480.000,- 28.350.000,- 42.000.000,-

K/2 TK/3 19.800.000,- 30.375.000,- 45.000.000,-

K/3 21.120.000,- 32.400.000,- 48.000.000,-


PTKP Pegawai Wanita
STATUS KAWIN SUAMI TDK STATUS TDK
STATUS KAWIN MENERIMA/MEMPEROLEH KAWIN
PENGHASILAN

HANYA UTK DIRI - UTK DIRI SENDIRI


SENDIRI, YAITU - STATUS KAWIN - UTK DIRI SENDIRI
Rp24.300.000,- - TANGGUNGAN MAKS. - TANGGUNGAN
SETAHUN 3 ORG MAKS 3 ORG

SYARAT

MENUNJUKKAN KET. TERTULIS DARI


PEMERINTAH DAERAH SETEMPAT
SERENDAH-RENDAHNYA KECAMATAN
4.1 PEGAWAI TETAP : KONSEP PENGHITUNGAN

Penghitungan Masa
(Atas Dasar Estimasi Penghasilan Yang Disetahunkan )

Penghitungan Masa pajak terakhir


(Atas Dasar realisasi Penghasilan):

Untuk Masa Pajak:


1. Masa Desember, atau
2. Masa pajak karyawan berhenti bekerja
4.1 PEGAWAI TETAP :
Jan - Nov Des
Masa
Masa Terakhir
Ph. bruto sebulan / setahun 5.000.000 60.000.000
Dikurangi:
- Biaya jabatan (5% x Rp5.000.000,-) 250.000 3.000.000
- Iuran Pensiun 100.000 1.200.000
Ph neto sebulan 4.650.000
Contoh:
Perkiraan Ph. neto setahun / real setahun 55.800.000 55.800.000
Toto, status TK/0.
Gaji sebulan Dikurangi:
Rp5.000.000,- PTKP 36.000.000 36.000.000
Tommy ikut PhKP 19.800.000 19.800.000
program pensiun PPh 21 setahun 990.000 990.000
dengan iuran PPh 21 sebulan 82.500
sebulan PPh 21 dipotong/ disetor Jan - Nov
Rp100.000,- 907.500
(11 bulan x Rp 82.500,- )
PPh 21 terutang Des 82.500
Penghitungan PPh Pasal 21 Masa

Ph. Bruto Pengurang Ph. Ph. Neto Perk. Ph. neto Dikurangi
Sebulan Bruto Sebulan setahun (x 12) PTKP
(-) = (-)
*

=
Ph. yang B. Jabatan,
menjadi Iuran
Objek PPh Pensiun, dan Ph KP
Pasal 21. THT.
x trf Psl
17

PPh 21 Sebulan = PPh 21


PPh 21 setahun /12 Setahun
Penghitungan PPh 21 Masa:
Menentukan Perkiraan (Estimasi) Penghasilan Neto setahun

Bekerja sejak Januari


Ph. Neto sebulan 12
PPh 21 sebulan = PPh 21 setahun /12

Bekerja mulai tengah tahun


Ph. Neto sebulan bl sejak asuk kerja sa pai de ga
Desember (n bulan)
PPh 21 sebulan = PPh 21 setahun/n bulan

WNA Di Indonesia tdk setahun penuh


Ph. Neto 12
PPh 21 sebulan = PPh 21 setahun /12
Bekerja sejak awal tahun
Gaji 10.000.000
Premi Kesehatan 400.000

Jumlah Ph. Bruto teratur sebulan 10.400.000


Pengurangan:
1. Biaya Jabatan 500.000
(maksimum Rp500.000,- sebulan)
2. Iuran terkait dengan gaji THT 200.000 (+)
Jumlah pengurang 700.000 (-)
Jumlah Ph neto sebulan 9.700.000
Jumlah perkiraan Ph. neto teratur setahun 116.400.000
(12 bulan x Rp9.340.000,- )
Dikurangi:
PTKP: K/0 39.000.000 (-)
Ph. Kena Pajak 77.400.000
Ph. Kena Pajak Dibulatkan 77.400.000
Dalam hal pegawai yang
PPh Pasal 21 Setahun
bersangkutan belum memiliki
5% x Rp50.000.000,- = 2.500.000,-
NPWP, maka jumlah PPh
15% x Rp27.400.000,- = 4.110.000,- (+)
Pasal 21 yang harus dipotong
6.610.000
adalah sebesar:
PPh Pasal 21 sebulan 550.833
120% x Rp550.833,- =
(Rp6.070.000,-/12 bln)
Rp661.000,-
Masuk Kerja di Tengah Tahun
Tidak membawa 1721 A1

Penghasilan teratur
Gaji 10.000.000
Premi Kesehatan 400.000
(+)
Jumlah Ph. Bruto sebulan 10.400.000
Contoh : Pengurangan:
1. Biaya Jabatan
Dikdik (K/0), bekerja pada
(maksimum Rp500.000,- sebulan) 500.000
PT ABC sebagai pegawai 2. Iuran pensiun 200.000 (+)
tetap sejak 1 Juli 2015. Jumlah 700.000 (-)
Dikdik menerima gaji Jml Ph. neto sebulan 9.700.000
sebulan sebesar Jml Ph. neto setahun 58.200.000
Rp10.000.000,- dan ikut Dikurangi:
program BPJS Kesehatan , PTKP: K/0 39.000.000 (-)
serta membayar iuran Ph. Kena Pajak 19.200.000
pensiun yang dipotong dari Ph. Kena Pajak Dibulatkan 19.200.000
gaji sebesar 200.000,- PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp19.200.000,- 960.000
PPh Pasal 21 sebulan 160.000
(Rp 960.000,- : 6)
Masuk Kerja di Tengah Tahun -
Cabang Penghasilan teratur
Gaji 10.000.000
Membawa 1721 A1 Premi Kesehatan 400.000

Jumlah Ph. Bruto sebulan 10.400.000


Pengurangan:
Contoh : 1. Biaya Jabatan
Tn. Randu bekerja sebagai (maksimum Rp500.000,- sebulan) 500.000
pegawai tetap sejak 1 Juli 2015 2. Iuran pensiun 200.000 (+)
dgn gaji Rp10.000.000,- dan Jumlah 7 00.000 (-)
diikutsertakan dalam program Jml Ph. neto sebulan 9.700.000
BPJS Kesehatan sesuai Jml Perkiraan Ph. Neto setahun 58.200.000
ketentuan yang berlaku-. ( 6 bln x Rp9.700.000,-)
Jml Ph neto masa sebelumnya 58.200.000
Sblmnya kerja di CABANG X dgn
data Ph dalam 1721 A1: Jml seluruh Ph neto 116.400.000
Dikurangi:
Ph. Neto Rp 58.200.000,- PTKP: K/0 39.000.000 (-)
PPh 21 terutang Rp 3.305.000,- Ph. Kena Pajak 77.400.000
Ph. Kena Pajak Dibulatkan 77.400.000
PPh Pasal 21 terutang
6.610.000
PPh Pasal 21 yang terutang di masa sebelumnya 3.305.000 (-)
PPh Pasal 21 terutang di tempat sekarang 3.305.000
PPh Pasal 21 sebulan 550.833
(Rp3.305.000,- : 6)
Masuk Kerja di Tengah Tahun
(Kewajiban pajak subjektif dimulai setelah bulan Januari)

Penghasilan bruto sebulan


Contoh Gaji 20.000.000
David (K/0) mulai bekerja 1 Jumlah Ph. Bruto sebulan 20.000.000
Juli 2015 dengan gaji per Pengurangan:
bulan Rp20.000.000,- Biaya Jabatan
(maksimum Rp500.000,- sebulan) 500.000
Jumlah 500.000 (-)
Jml Ph. neto sebulan 19.500.000
Jml Perkiraan Ph. Neto setahun 234.000.000
(12 x Rp19.500.000,-)
Jml Ph neto masa sebelumnya
Jml seluruh Ph neto
Dikurangi:
PTKP: K/0 39.000.000 (-)
Ph. Kena Pajak 195.000.000
Ph. Kena Pajak Dibulatkan 195.000.000
PPh Pasal 21 terutang setahun
5% x Rp50.000.000,- = 2.500.000
15% x Rp157.675.000,- = 21.750.000 (+)
24.250.000
PPh Pasal 21 sebulan 2.020.833
(Rp24.250.000,- : 12)

Bila kewajiban pajak subjektif David Raisita telah ada sejak bulan Januari, maka jumlah Ph.
Neto setahun = 6 x Ph neto sebulan.
Rapel = Kenaikan gaji yang berlaku surut
Gaji Jan sd Mei : Rp10.000.000,-. Bulan Jun: Rp15.000.000,- berlaku surut sejak Jan. (Rapel: 5bln
x Rp5.000.000,-= Rp25.000.000,-)
Sebelum Kenaikan Setelah Kenaikan
Gaji 10.000.000 15.000.000
JKK 10.000 15.000
JPK 30.000 (+) 45.000 (+)
Jumlah Teratur sebulan 15.060.000
10.040.000
Pengurangan:
1. Biaya Jabatan 500.000 500.000
(maksimum Rp500.000,- sebulan)
2. Iuran terkait dengan gaji THT 200.000 (+) 300.000 (+)
Jumlah 700.000 (-) 800.000 (-)
Ph. neto sebulan 9.340.000 14.260.000
Perkiraan Ph neto setahun 171.120.000
112.080.000
12 bulan x Rp 9.340.000,-
Dikurangi:
PTKP: K/0 39.000.000 (-) 39.000.000 (-)
Ph. Kena Pajak 132.120.000
73.080.000
Ph. Kena Pajak Dibulatkan 132.120.000
73.080.000
PPh Pasal 21 Setahun 5.962.000 14.818.000
PPh Pasal 21 sebulan 496.833 1.234.833
PPh 21 (Jan - Mei) seharusnya: 6.174.165
(5 x Rp 1.234.833,-)
PPh 21 yang telah dipotong (Jan - Mei) 2015 2.484.165 (-)
(5 x Rp 496.833,-)
PPh 21 Rapel 3.690.000
PPh Pasal 21 atas Bonus /Ph. Tidak Teratur:
Selisih PPh Pasal 21 atas seluruh Ph (Ph teratur + tidak teratur) dengan PPh
Pasal 21 atas Ph teratur
PPh 21 Bonus/Ph Tdk teratur
Skema Penghitungan PPh 21
Masa Pajak Terakhir

Pengurang Ph. Ph. Neto real Dikurangi


Ph. Bruto real (-) = (-)
Bruto real 1 thn setahun PTKP

Ph. yang B. Jabatan, Iuran


menjadi Objek Pensiun, dan Ph KP
PPh Pasal 21. THT.

x
Trf. Psl 17

PPh 21 terutang = PPh 21 Setahun


PPh 21 setahun PPh 21 disetor di masa (real)
pajak sebelumnya

Penghitungan PPh 21 di masa pajak terakhir didasarkan pada penghasilan sebenarnya karyawan
yang bersangkutan;
Ph. Neto Real yang Disetahunkan

WPOP kewajiban pajak subjektifnya tidak setahun penuh:


WNA (datang/pergi) meninggalkan Indonesia ditengah tahun ;atau
WNI meninggal dunia tengah tahun.

Ph neto disetahunkan = Ph. Neto Real x 12/n


PPh 21 terutang = PPh 21 setahun x n/12

Pegawai pindah cabang.


Ph Neto disetahun = Ph neto real x MK/n
PPh 21 terutang = PPh 21 atas Ph neto disetahunkan x n/MK
Variasi Penghitungan PPh 21 Masa
Terakhir

- Penghitungan PPh 21 untuk pegawai yang kewajiban pajak


subjektifnya setahun penuh:
- Masa terakhir Desember;
- Masa terakhir Berhenti kerja di tengah tahun;
- Masa terakhir Pindah cabang di tengah tahun.
- Penghitungan PPh 21 untuk pegawai yang kehilangan/berakhir
kewajiban pajak subjektifnya di pertengahan tahun:
- Masa Desember WNA yg mulai kerja di pertengahan tahun;
- Masa terakhir WNA pergi meninggalkan Indonesia selamanya.
Penghitungan PPh 21 Masa Terakhir (Masa Desember)

PPh 21 PPh 21
Des-15
(Jan-Jun) (Jul-Nov)
Gaji 10.000.000 15.000.000 150.000.000
JKK 10.000 15.000 150.000
JKM 30.000 45.000 450.000
Jumlah Ph bruto teratur sebulan 10.040.000 15.060.000 150.600.000
Pengurangan:
1. Biaya Jabatan 500.000 500.000 6.000.000
(maksimum Rp500.000,- sebulan)
Jaka , K/0, kerja di PT 2. Iuran terkait dengan gaji THT 200.000 300.000 3.000.000
Indah Kayu dengan Jumlah 700.000 800.000 9.000.000
memeroleh gaji dan Jumlah teratur sebulan 9.340.000 14.260.000 141.600.000
tunjangan setiap bulan Jumlah Teratur setahun 112.080.000 171.120.000
sebesar Rp10.000.000,-, 12 bulan x Ph neto sebulan
dan oleh Perusahaan Dikurangi:
diikutsertakan dalam PTKP K/0:
program pensiun,-.
Diri sendiri 39.000.000 39.000.000 39.000.000
Mulai bulan Juli 2015,
Ph. Kena Pajak 73.080.000 132.120.000 102.600.000
Jaka memeroleh
Ph. Kena Pajak Dibulatkan 73.080.000 132.120.000 102.600.000
kenaikan penghasilan
PPh Pasal 21 Setahun
tetap setiap bulan
Trf Psl 17 x Ph Kena Pajak 5.962.000 14.818.000 10.390.000
menjadi Rp15.000.000,-.
PPh Pasal 21 sebulan 496.833 1.234.833
PPh 21 dipotong s.d November 2015
(6 x 496.833,-) + (6 x Rp1.234.833,-) 2.980.998 6.174.165 9.165.163
PPh 21 dipotong bulan Desember 2015 1.224.837
Adam Juwanto yang berstatus K/0 adalah pegawai pada PT Jarum Sejahtera. Sejak 1 Juli 2015, yang
bersangkutan berhenti bekerja .Gaji Adam Juwanto setiap bulan sebesar Rp10.000.000,- dan juga
memperoleh tunjangan lainnya sebesar Rp. 40.000, serta mengikuti program pensiun.
Jan sd Mei Juni
Penghasilan teratur
Gaji 10.000.000 60.000.000
Berhenti Tengah Tahun

Tunjangan lainnya 40.000 (+) 240.000 (+)


Jumlah Ph. Bruto sebulan 10.040.000 60.240.000
Pengurangan:
1. BiayaJabatan
(max. Rp500.000,-
500.000 3.000.000
sebulan)
2. Iuranpensiun 200.000 (+) 1.200.000 (+)
Jumlah 700.000 (-) 4.200.000 (-)
Jml Ph. neto sebulan 9.340.000
Jml Perkiraan Ph. Neto
112.080.000 56.040.000
setahun
Dikurangi:
PTKP: K/0 39.000.000 (-) 39.000.000 (-)
Ph. Kena Pajak 73.080.000 17.040.000
Ph. Kena Pajak Dibulatkan 73.080.000 17.040.000
PPh Pasal 21 terutang
Trf Pasal 17 x Ph Kena Pajak 5.962.000 852.000
PPh Pasal 21 sebulan 496.833
(Rp5.962.000,- : 12)
PPh Pasal 21 yang telah disetor di masa sebelumnya (Jan-Mei) 2.484.167 (-)
5 bln x Rp496.833,-)
PPh Pasal 21 kurang (lebih) bayar (1.632.167)
Andi Syahbudin, K/0 adalah pegawai PT IL J di Jakarta. Sejak 1 Juli 2015 dipindahtugaskan ke kantor
cabang di Bandung ,Gaji Andi Syahbudin sebesar Rp10.000.000,- dan perusahaan juga
mengikutsertakan Andi Syahbudin dalam program BPJS Kesehatan dan Program pensiun.
Pindah Cabang di Tengah Tahun

Januari Juni
Gaji 10.000.000 10.000.000 60.000.000
Premi BPJS Kesehatan 40.000 240.000

Jumlah Ph. neto sebulan /realisasi 10.040.000 60.240.000


Pengurangan:
1. Biaya Jabatan 500.000 3.000.000
max. Rp500.000,-/bulan; atau Rp6 juta /tahun
2. Iuran THT 200.000 200.000 1.200.000
Jumlah 700.000 4.200.000
Jumlah Ph neto sebulan 9.340.000 56.040.000
Jumlah Perkiraan Ph neto setahun /real setahun 112.080.000
12 bulan x Ph neto sebulan
Ph neto disetahunkan 112.080.000
Dikurangi:
PTKP: K/0 39.000.000 39.000.000
Ph. Kena Pajak 73.080.000 73.080.000
Ph. Kena Pajak Dibulatkan 73.080.000 73.080.000
PPh Pasal 21 Setahun
Trf Psl 17 x Ph Kena Pajak dibulatkan 5.962.000 5.962.000
PPh 21 terutang setahun/disetahunkan 2.981.000
(6/12 x PPh Pasal 21 setahun)
PPh 21 sebulan 496.833
(5 x Rp670.271,-) 2.484.167
PPh 21 kurang (lebih) bayar 496.833
Konsep Penghitungan Masa Pajak
Terakhir

PPh 21 atas penghasilan real selama setahun (12 bulan) dikurangi PPh 21
yang telah dipotong selama 11 bulan (Jan Nov).
12 11 = 1

PPh 21 Kurang Bayar Sebulan


(Desember)
Akankah Lebih Bayar???

Fluktuasi penghasilan
Perbedaan lapisan tarif pengenaan pajak saat

menghitung PPh 21 Masa dan PPh 21 Masa Pajak


Terakhir.
Banyak pegawai keluar di pertengahan tahun
Perbedaan estimasi penghasilan yang disetahunkan
dengan penghasilan sebenarnya.
4.2 KONSEP PENGHITUNGAN: PEGAWAI TIDAK
TETAP

Dibayarkan Bulanan:
PPh Psl. 21 = Trf Psl 17 x Ph KP disetahunkan
Ph KP disetahunkan = Ph. Bruto disetahunkan PTKP Setahun
PPh Psl 21 bulan ini = PPh Psl 21 Setahun/12

Dibayarkan Harian/Mingguan, satuan:


Jumlah Sebulan PPh Pasal 21 Terutang Keterangan

<=Rp 2.025.000,- 5% x Upah PTKP Harian PTKP Harian = Rp200.000,-

> Rp 2.025.000,- 5% x Upah PTKP sebenarnya PTKP/360 x hari kerja

> Rp 7.000.000,- Tarif Psl 17 x Ph. KP yg disetahunkan Ph KP = Ph Neto PTKP


4.3 MANTAN PEGAWAI, KOMISARIS NON
PEGAWAI TETAP, PENARIKAN DANA
PENSIUN

Honorarium yg bersifat tidak teratur yg diterima atau diperoleh


Komisaris/dewan pengawas yg bukan pegawai tetap pada perusahaan yg
sama;
Jasa produksi, tantiem, gratifikasi, bonus atau imbalan lain yang
bersifat tidak teratur yg diterima atau diperoleh oleh mantan pegawai;
Penarikan Dapen o/ peserta program pensiun yg berstatus sbg pegawai
dari Dapen yang pendiriannya telah disahkan oleh MenKeu.
4.4 PESERTA KEGIATAN

PESERA KEGIATAN:
Peserta perlombaan dalam segala bidang, antara lain perlombaan
olahraga, seni, ketangkasan, ilmu pengetahuan, teknologi dan
perlombaan lainnya;
Peserta rapat, konferensi, sidang, pertemuan, atau kunjungan kerja;
Peserta atau anggota dalam suatu kepanitiaan sebagai penyelenggara
kegiatan tertentu;
Peserta pendidikan, pelatihan, dan magang;
Peserta kegiatan lainnya.
4.5 Bukan PEGAWAI

Yang termasuk Bukan Pegawai:


Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara, akuntan,
arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris;
pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron,
bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati, pemain drama,
penari, pemahat, pelukis, dan seniman lainnya;
olahragawan;
penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;
pengarang, peneliti, dan penerjemah;
pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik komputer dan sistem aplikasinya,
telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi dan sosial serta pemberi jasa kepada
suatu kepanitiaan;
agen iklan;
Pengawas atau pengelola proyek;
pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi perantara;
petugas penjaja barang dagangan;
petugas dinas luar asuransi;
distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling dan kegiatan sejenis
lainnya;
4.5 BUKAN PEGAWAI: PERHITUNGAN

Bukan pegawai tidak


berkesinambungan

Ph. Bruto

Bukan pegawai

Bukan pegawai berkesinambungan:

Ph. Bruto Ph KP
4.5 BUKAN PEGAWAI: PERHITUNGAN

Tdk
Berkesinambungan PPh 21 = Trf Psl 17 x 50% x Ph. Bruto

Pasal 1 angka 22 PER-31/PJ./2012:

Imbalan kepada bukan pegawai yang bersifat berkesinambungan adalah


imbalan kepada bukan pegawai yang dibayar atau terutang lebih dari satu
kali dalam satu tahun kalender sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau
kegiatan.
4.5 BUKAN PEGAWAI:
PENGHASILAN BERKESINAMBUNGAN

Tdk Berhak PTKP Trf Psl 17 x Kumulatif (50% x Ph. Bruto)

Berhak PTKP Trf Psl 17 x Kumulatif Ph. KP

Ph. KP = (50% x Ph Bruto) PTKP Sebulan


4.5 BUKAN PEGAWAI:
YANG BERHAK MENDAPAT PTKP

Pasal 13 ayat (1) PER-31/PJ/2012 Non Pegawai yg menerima Ph


berkesinambungan berhak PTKP, sepanjang:
1. Telah mempunyai NPWP; dan
2. Hanya memperoleh penghasilan dari hubungan kerja dengan Pemotong PPh Pasal
21 dan/atau PPh Pasal 26 serta tidak memperoleh penghasilan lainnya.

Pasal 13 ayat (2) PER-31/PJ/2012:


U tuk dapat memperoleh pengurangan berupa PTKP sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), penerima penghasilan bukan pegawai harus menyerahkan fotokopi kartu Nomor
Pokok Wajib Pajak, dan bagi wanita kawin harus menyerahkan fotokopi kartu Nomor
Pokok Wajib Pajak suami serta fotokopi surat nikah dan kartu keluarga.
4.5 BUKAN PEGAWAI: PENGHASILAN BRUTO

Pasal 10 ayat (5) huruf a PER-31/PJ./2012:


Ph Bruto tidak termasuk bagian gaji atau upah dari pegawai yang
dipekerjakan.

Pasal 10 ayat (5) huruf b PER-31/PJ./2012:


Ph Bruto tidak termasuk penyerahan barangnya. Hanya atas pemberian
jasa.

Pasal 10 ayat (6) PER-31/PJ./2012:


Khusus dokter yang melakukan praktik di RS dan/atau klinik:
Sebesar jasa dokter yang dibayarkan pasien melalui rumah sakit dan/atau
klinik sebelum dipotong biaya-biaya atau bagi hasil oleh rumah sakit
dan/atau klinik.
Non Pegawai Skema Pemajakan Bukan Pegawai

Ph. Tdk Tdk


Memiliki Trf Psl 17 x 120% x 50%
Berkesinam-
NPWP? x Jml Ph Bruto
bungan

Ya Ya
Trf Psl 17 x 50% x Jml Ph Bruto

Memiliki Tdk Trf Psl 17 x 120% x


NPWP? Kumulatif Ph Bruto (50% x Ph Bruto)

Ya
Trf Psl 17 x
Kumulatif Ph Bruto (50% x Ph Bruto)

Ph. Dari 1 Tdk


pemotong
pjk

Ya Trf Psl 17 x Kumulatif Ph KP


((50% x Ph Bruto) - PTKP 1 bln))
PPh Pasal 21 atas Pesangon, Uang Manfaat Pensiun, THT
5 dan JHT yang Dibayarkan Sekaligus

PP Nomor 68 Tahun 2009:


Uang pesangon;
Uang manfaat pensiun;
THT;
JHT
Berlaku mulai 16 November 2009

Pembayaran uang pesangon, uang manfaat pensiun, THT dan JHT yang
dibayarkan sekaligus sebelum 16 November 2009, ikut PP Nomor 149
Tahun 2000.
5 Tarif PPh Pasal 21--PP No. 68 Tahun 2009
(Pesangon, uang manfaat pensiun, THT, JHT)

Pesangon Uang Manfaat Pensiun, THT, JHT

Penghasilan Tarif Penghasilan Tarif

s.d. Rp50.000.000,- 0% s.d. Rp50.000.000,- 0%


> Rp50.000.000,- s.d Rp100.000.000,- 5% > Rp50.000.000,- 5%
> Rp100.000.000,- s.d 15%
Rp500.000.000,-
> Rp500.000.000,- 25%

Dianggap dibayarkan sekaligus:


Uang pesangon, uang manfaat pensiun, THT, JHT yang dibayarkan sebagian atau
seluruh pembayarannya dilakukan dalam jangka waktu 2 (dua) tahun kalender.
5 Sifat Pemotongan Pajak

Uang Pesangon,
Uang Manfaat Pensiun, Final (Dibayar sekaligus /
THT dan JHT 2 (dua) tahun kalender)

Tidak Final
(Tahun ke-3 dan seterusnya)

Tarif Psl 17 x Ph Bruto


(20% lebih tinggi untuk non NPWP)
5 PPh Pasal 21
Honorarium yang diterima pejabat negara, PNS, anggota ABRI

Dasar Hukum:
PP Nomor 80 Tahun 2010
PMK No. 262/PMK.03/2010

Penerima Penghasilan Tarif

PNS gol I dan II, Anggota TNI dan Anggota Polri golongan 0% x Jml bruto/ imbalan lain
pangkat Tamtama dan Bintara dan pensiunannya;

PNS gol III, Anggota TNI dan POLRI berpangkat Perwira Pertama, 5% x Jml bruto/ imbalan lain
dan pensiunannya;

PNS gol IV, Anggota TNI dan POLRI golongan pangkat Perwira 15% x Jml bruto/ imbalan lain
Menengah dan Perwira Tinggi, dan pensiunannya.
6 PPH PSL 26

PPh Psl. 26 = 20% x imbalan bruto


Dikenakan untuk WPOP yang berstatus SPLN.
7 PPH PSL 21 BAGI NON NPWP

(Psl. 20 PMK-252/PMK.03/2008)

Penerima Ph. Non NPWP akan dikenai tarif 20% lebih tinggi daripada tarif yang
ber-NPWP;
PPh 21 Non NPWP= 120% x PPh terutang;
Hanya berlaku untuk pemotongan PPh Pasal 21 tidak final;
Bagi Pegawai Tetap/pensiunan: PPh 21 yang dipotong dengan tarif 20% lebih
tinggi dapat diperhitungkan dengan PPh 21 terutang untuk bulan selanjutnya
setelah ber-NPWP.
Selain pegawai Tetap: Dalam hal WP yang dikenai pemotongan PPh 21 dengan
tarif lebih tinggi mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP, PPh 21 yang
dikenakan dengan tarif lebih tinggi tsb dapat dikreditkan di SPT PPh WPOP-
nya.
8 TAX PLANNING PPH PASAL 21

Tax Planning:
Upaya mencapai pemenuhan kewajiban perpajakan yang
optimal melalui:
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan
pengendalian perpajakan
(POAC)
8 TAX PLANNING PPH PASAL 21 : TUJUAN

1. Kuantitatif
Tujuan akhirnya adalah adanya tax saving (beban pajak paling
minimum), dengan cara memilih jenis transaksi dan kebijakan
yang akan diambil perusahaan.

2. Kualitatif
Pelaksanaan administrasi yang baik dan terencana, sehingga
menghindarkan adanya konflik yang mengakibatkan adanya
kerugian bagi perusahaan, dengan adanya sanksi dan beban
pajak. Misal: melengkapi dokumen, diatur jelas klausul
pemotongan pajak.
8 TAX PLANNING PPH PASAL 21 : TUJUAN
KUANTITATIF

1. Hubungan Biaya di PPh Badan dan Beban PPh Pasal 21


2. Aspek Pajak atas Kebijakan Pilihan Biaya Pegawai
TAX PLANNING PPH PASAL 21 : TUJUAN
8
KUANTITATIF

HUBUNGAN BIAYA DI PPH BADAN DAN PPH PASAL 21

PPh Pasal 21 PPh Badan Contoh

TI DE Biaya Gaji
NTI NDE Pemberian kenikmatan/natura
NTI DE Makan bersama
TI NDE Hadiah uang atas perlombaan Family day

Pilihlah Hindari
1. NTI vs DE TI vs NDE
2. TI vs DE, bila tarif PPh 21 < PPh Badan
3. NTI vs NDE, bila tarif PPh 21 > PPh Badan
Pilihan Transaksi & Dampak Pajaknya

1. Makan Bersama Vs. Tunj. Makan


Antar jemput Karyawan Vs. Tunj. Transport
NTI Vs DE TI Vs DE

2. Kendaraan, Hand Phone Vs. Tunj. Kendaraan, HP


NTI Vs. DE (50%) TI Vs DE

3. Akomodasi, Uang Saku Vs. Lump-sump


TI u/ uang saku Vs DE TI Vs DE

4. Bonus dari R/E Vs Bonus sbg biaya


TI Vs NDE TI Vs DE

5. Tunj. PPh 21 Vs. PPh 21 Ditanggung Persh.


TI Vs DE NTI Vs. NDE
Tunj. Kesehatan Vs. Fasilitas Pengobatan
TI Vs DE NTI Vs NDE
Kebijakan Pemotongan PPh 21

Dipotong dari Ph Pegawai;


Ditanggung;
Di-gross up Perusahaan memberikan tunjangan PPh
Pasal 21 sebesar PPh Pasal 21 yang terutang.
Kebijakan Pemotongan PPh 21
Tunjangan PPh Pasal 21
Dipotong Ditanggung
(Gross Up )
Gaji 10.000.000 10.000.000 10.000.000
Tunj. pajak 584.496
Tunjangan lainnya 40.000 40.000 40.000

Jumlah Ph. Bruto sebulan 10.040.000 10.040.000 10.624.496


Pengurangan:
1. Biaya Jabatan 500.000 500.000 500.000
(max. Rp500.000,-
sebulan)
2. Iuran Pensiun 200.000 200.000 200.000
Jumlah 700.000 700.000 700.000
Jumlah Ph neto sebulan 9.340.000 9.340.000 9.924.496
Jumlah Perkiraan Ph. Neto
setahun 112.080.000 112.080.000 119.093.952
12 bulan x Ph neto
sebulan
Dikurangi:
PTKP: K/0 39.000.000 39.000.000 39.000.000
Ph. Kena Pajak 73.080.000 73.080.000 80.093.952
Ph. Kena Pajak Dibulatkan 73.080.000 73.080.000 80.093.000
PPh Pasal 21 Setahun 5.962.000 5.962.000 7.013.950
PPh Pasal 21 sebulan 496.833 496.833 584.496
Take Home Pay 9.303.167 9.800.000 9.800.000
Jurnal Akuntasi Kebijakan Pemotongan PPh 21

Dipotong
Gaji 10.000.000
Utang Gaji 9.303.167
Utang Iuran Pensiun 200.000
Utang PPh Pasal 21 496.833

Ditanggung
Gaji 10.000.000
PPh Pasal 21 496.833
Utang Gaji 9.800.000
Utang Iuran Pensiun 200.000
Utang PPh Pasal 21 496.833

Digross up
Gaji 10.000.000
Tunjangan PPh 584.496
Utang Gaji 9.800.000
Utang Iuran Pensiun 200.000
Utang PPh Pasal 21 584.496
TAX PLANNING PPH PASAL 21: TUJUAN
8
KUALITATIF

1. ASPEK LEGAL (DOKUMENTASI)


2. PENAMAAN AKUN
3. REKONSILIASI