Anda di halaman 1dari 4

2.

3 Sangsi daan Pelanggaran Kode Etik Profesi Dokter

1. Pengertian Pelaggaran Kode Etik Profesi

Kode etik adalah sistem norma,nilai dan atursn profesional tertulis yang secara tegas
menyatakan apa yang benar dan baik,dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi
profesional.Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah,perbuatan apa yang harus
dilakukan dan apa yang harus dihindari dan sekaligus mutu profesi itu dimata masyarakat.

Jadi pelanggaran kode etik profesi berarti pelanggaran atau penyelewegan terhadap sitem
norm,nilai dan aturan profesional tertulis yag secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik,
dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi suatu profesi dalam masyarakat.

2. Penyebab Pelanggaran Kode Etik Profesi

a) Pengaruh sifat kekeluargaan


Misalnya yang melakukan pelanggaran adalah keluaraga atau dekat hubungan
kekerabatannya dengan pihak yang berwenang memberikan sangsi terhadap pelanggaran
kode etik pada suatu profesi, maka ia akan cendernguntuk tidak memberikan sangsi
kepada kerabatnya yang telah melakukan pelanggarankode etik tersebut.
b) Pengaruh Jabatan
Misalnya yang melakukan pelanggaran kode etik profesi itu adalah pimpinana atau orang
yang memiliki keukasaan yang tinggi pada prpfesi tersebut, maka bisa jadi orang lain
yang posisi dan kedudukannya berada di bawah orang tersebuy, akan enggan untuk
melaporkan kepada pihak yang berwebnang memberikan sangsi, karena kekhawatiran
akan berpengaruh kepada jabatan dan posisinya pada profesi tersebut.
c) Pengaruh masih lermahnya penegakan hukum di Indonesia sehingga menyebabkan
pelaku pelanggaran kode etik profesi tidak merasa khawatir melkakukan pelanggaran.
d) Tidak berjalannya kontrol dan pengawasan dari masyarakat.
e) Organisasi profesi tidak dilengkapi dengan sarana dan mekanisme bagi masyarakat untuk
menyampaikan keluhan.
f) Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai substansi kode etik profesi,karena
buruknya pelayanan sosialisasi dari pihak profesi itu sendiri.
g) Belum terbentuknya kultur dan kesadaran dari para pengeban profesi untuk menjaga
martabat luhur profesinya.
h) Tidak adanya kesadaran etis dan moralitas diantara para pengemban profesi ubtuk
menjaga martabat luhur profesinya.

3. Upaya mencegah pelanggaran Kode Etik Profesi

a. Klausal penundukan pada undang-undang.


1. Setiap undang-undang mencanntumkan dengan tegas sangsi yang diancamkan
kepada pelanggarnya.Dengan demikian, menjadi pertimangan bagi warga,tidak
ada jalan lain keculi taat,jika terjadi pelanggaran berrati warga yang bersangkutan
bersedia dikenai sangsi yang cukup memberatkan atau merepotkan baginya.
Ketegasan sangsi undang-undang ini lalu diproyeksikan dalam rumusan kode etik
profesi yang memberlakukan sangsi undang-undang kepada pelanggarnya.
2. Dalam kode etik profesi dicantumkan ketentuan : Pelanggar kode etik dapat
dikenai sangsi sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku
b. Legalisasi kode etik profesi.
1. Dalam rumusan kode etik dinyatakan, apabila terjadi pelanggaran,kewajiban
mana yang cukup diselesaikan oleh Dewan Kehormatan, dan kewajiban mana
yang harus diselesaikan oleh pengadilan.
2. Untuk memperoleh legalisasi, ketua kelompok profesi yang bersangkutan
mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat agare kode
etik tersebut disahka dengan akta penetapan pengadialan yang berisi perintah
penghukuman kepada setiap anggota untuk mematuhi kode etik itu.
3. Jadi, kekutan berlaku danmengikat kode etik mirip dengan akta perdamaian yang
dibuat oleh hakim. Apabila ada yang melanggar kode etik, maka dengan surat
perintah, pengadilan memaksakan pemulihan itu.

4.Sangsi Pelanggaran Kode Etik Profesi :

a. Sangsi moral.
b. Sangsi dikeluarkan dari organisasi.

2.4 Prosedur Penanganan Pelanggaran Etik Kedokteran

Pada tahun 1985 Rapat Kerja antara P3EK, MKEK dan MKEKG telah menghasilka
pedoman- pedoman kerja yang menyangkut para dokter antara lainsebagai berikut :

1. Pada prinsipnya semua masalah yang menyangkut pelanggaran etik diteruskan lebih
dahulu kepada MKEK.
2. Masalah etik murni diselesaikan oleh MKEK.
3. Masalah yang tidak murni serta masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh MKEK
dirujuk ke P3EK propinsi.
4. Dalam sidang MKEK dan P3EK untuk pengambilan keputusan, Badan Pembela
Anggota IDI dapat mengikuti persidangan jika dikehendaki oleh yang bersangkutan
( tanpa hak untuk mengambil keputusan ).
5. Masalah yang menyangkut profesi dokter atau dokter gigi akan ditangani bersama
oleh MKEK dan MKEKG terlebih dahulu sebelum diteruskan ke P3EK apabila
diperlukan.
6. Untuk Kepentingan Pencatatatn, tiap kasus pelanggaran etik kedokteran serta
penyelesaiannya oleh MKEK dilaporkan ke P3EK propinsi.
7. Kasus-kasus pelanggaran etikolegal yang tidak dapat diselesaikan oleh P3EK propinsi
diteruskan ke P3EK Pusat.
8. Kasus-kasus yang sudah jelas melanggar peraturan perundang-undangan dapat
dilaporkan langsung ke pihak yang berwenang.
2.5 Pedoman Penilaian Kasus-Kasus Pelanggaran Etik Kedokteran.
Etik lebih mengandalkan itiikad baik dan keadan moral para pelakunya untuk mengukur
hal ini tidaklah mudah. Karena itu timbul kesulitan dalam menilai pelanggaran etik, selama
pelanggaran etik itu tidak merupakan kasus-kasus pelanggaran hukum. Dalam menilai kasus-
kasus pelanggaran etik kedokteran, MKEK berpedoman pada :
1. Pancasila
2. Prinsip-Prinsip dasar moral umumnya
3. Ciri dan hakekat pekerjaan profesi
4. Tradisi luhur kedokteran
5. LSDI
6. KODEKI
7. Hukum Kesehatan terkait
8. Hak dan kewajiban dokter
9. Hak dankewajiban penderita
10. Pendapat rata-rata masyarakat kedokteran
11. Pendapat pakar-pakar dan praktisi kedokteran senior.
Selanjutnya, MKEK menggunakan pula beberapa pertimbangan berikut, yaitu :
1. Tujuan spesifik yang ingin dicapai.
2. Manfaat bagi kesembuhan pasien.
3. Manfaat bagi kesejahteraan umum.
4. Penerimaan penderita terhadap tindakan itu
5. Preseden tentang semacam itu
6. Standar pelayanan medik yang berlaku

Jika semua pertimbangan menunjukan bahwa telah terjadi pelanggaran


etik,pelanggaran dikategorikan dalam kelas ringan , sedang atau berat, yang
berpedoman pada :

1. Akibat terhadap kesehatan penderita


2. Akibat bagi masyarakat umum
3. Akibat bagi kehormatan profesi
4. Peranan penderita yang mungkin ikut mendorong terjadinya pelanggaran
5. Alasasn-alasan lain yang diajukan tersangka.

Kewajiban Dokter Terhadap Pasien ( KODEKI )

Pasal 14
Seorag dokter wajib bersikap tulusikhlas dan mempergunakan

Analisa Kasus Pelanggaran Terhadap Kode Etik Profesi Kedokteran

Contoh kasus pelanggaran kasus terhadap kewajiban umum dokter


Pada tanggal 30 januari 2014, seorang dokter yang bekerja pada Puskesmas Bukit
duri jakarta dilaporkan dilaporkan suka memberi suka memberi antibiotik mahal
yang beratkan pasien.Hal ini terjadi pada seorang pengidap penyakit Demam
Berdarah.