Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

Depresi merupakan sebuah kontributor yang signifikan yang secara global menjadi

beban bagi dunia dan mempengaruhi seluruh penduduk yang ada di seluruh dunia. Hari ini,

depresi diperkirakan telah berdampak pada 350 juta penduduk dunia. World Mental Health

Survey melakukan penelitian di 17 negara dan mendapatkan hasil, rata-rata 1 dari 20 orang

dilaporkan memiliki episode depresi di tahun sebelumnya. Gangguan depresi seringkali mulai

pada usia muda; gangguan depresi menurunkan fungsi seseorang dan seringkali rekuren.

Untuk alasan-alasan ini, depresi merupakan penyebab utama dari kecacatan di seluruh dunia.

Kebutuhan untuk membatasi dan kondisi gangguan mental lainnya terus meningkat secara

global. Sebuah pertemuan kesehatan dunia baru-baru ini memanggil WHO dan bagian-

bagiannya untuk mengambil alih dalam masalah ini.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN KELAINAN AFEKTIF

Istilah kelainan afektif mencakup penyakit-penyakit dengan gangguan afek (mood)

sebagai gejala primer; semua gejala lain bersifat sekunder. Afek bisa terus menerus depresi

atau gembira (dalam mania) dan kedua episode ini bisa timbul pada orang yang sama, karena

itu dinamai psikosis manik depresif. Penyakit dengan hanya satu jenis serangan dinamai

unipolar; dan jika episode manik dan depresif keduanya ada disebut bipolar.

Etiologi

Genetika: penelitian kembar memperlihatkan angka kesamaan sebesar 70% untuk

kembar monozigot dan 20% untuk kembar dizigot. Insiden dalam masyarakat umum

sebesar 1 % dan dalam keluarga tingkat pertama 10-15%. Jenis transmisinya

kemungkinan poligenik, mengarah ke berbagai tingkat predisposisi. Penyakit bipolar

dan unipolar bersifat menurun.


Biokimia: biokimia dari kelainan afektif tetap tidak diketahui, walaupun dua hipotesis

tentang senyawa amina menghasilkan banyak penyelidikan dalam bertahun-tahun.

Pertama, hipotesis katekolamin, menyatakan bahwa setidaknya beberapa penyakit

depresi berhubungan dengan defisiensi katekolamin pada reseptor di otak, dan mania

mungkin berhubungan dengan kelebihan katekolamin di dalam otak. Kedua, hipotesis

indolamina membuat pernyataan serupa untuk 5 hidroxitriptamin (5 HT). Metabolit

utamanya asam 5-hidroksi indolasetat (5 HIAA) menurun dalam LCS pasien depresi

dan 5 HIAA rendah pada otak pasien yang bunuh diri.


Kepribadian premorbid: biasanya ada gangguan afek ringan. Personalitas siklotimik

menjadi sasaran gangguan afek ringan selama hidupnya, keadaan ini tidak

berhubungan dengan penyebab eksterna. Kepribadian depresi ditunjukkan dengan

2
perilaku murung, pesimis, dan kurang bersemangat. Personalitas hipomania

berperilaku lebih riang, energetik, dan lebih ramah dari rata-rata.

Berdasarkan PPDGJ-III, kelainan fundamental dari kelompok gangguan ini adalah

perubahan suasana perasaan (mood) atau afek, biasanya kearah depresi (dengan atau tanpa

anxietas yang menyertainya), atau ke arah elasi (suasana perasaan yang meningkat).

Perubahan afek ini biasanya disertai dengan suatu perubahan pada keseluruhan tingkat

aktivitas, dan kebanyakan gejala lainnya adalah sekunder terhadap perubahan itu, atau mudah

dipahami hubungannya dengan perubahan tersebut. Gangguan afektif dibedakan menurut:

Episode tunggal atau multiple


Tingkat keparahan gejala:
- Mania dengan gejala psikotik mania tanpa gejala psikotik hipomania
- Depresi ringan, sedang, berat tanpa gejala psikotik berat dengan gejala

psikotik
Dengan atau tanpa gejala somatik

Kriteria Diagnosis: Ada dua skema diagnosis yang dapat dipakai yaitu The International

Classification of Disease of the World Health Organization (ICD-10) dan The Diagnostic and

Statistical Manual of Mental Disorders of the American Psychiatric Association (DSM-IV-

TR). Episode Mood menurut DSM-IV-TR, ada empat jenis mood yaitu episode manik,

hipomanik, depresi, dan campuran.

B. DEPRESI

3
Depresi adalah gangguan psikiatri yang menonjolkan mood sebagai masalahnya,

dengan berbagai gambaran klinis yakni gangguan episode depresif, gangguan distimik,

gangguan depresif mayor dan gangguan depresif unipolar serta bipolar.

Depresi juga merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam

perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu

makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta

gagasan bunuh diri. Jika gangguan depresif berjalan dalam waktu yang panjang (distimia)

maka orang tersebut dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik diri dari pergaulan,

karena ia kehilangan minat hampir disemua aspek kehidupannya.

Klasifikasi Depresi (i)

Tiga tipe utama gangguan depresi depresi mayor, gangguan depresi persisten atau terus

menerus, dan gangguan bipolar- dapat terjadi dengan gangguan cemas apapun.

a. Depresi Mayor meliputi setidaknya lima dari gejala-gejala berikut selama periode 2

minggu. Salah satu episode akan mengganggu kemampuan untuk bekerja,

belajar,makan dan tidur. Episode depresi mayor dapat terjadi satu atau dua kali

sepanjang hidup, atau cukup sering rekuren. Episode-episode ini biasanya datang

secara spontan, selama atau setelah kematian seseorang yang dicintai, putus cinta,

terserang penyakit, atau kejadian lainnya. Beberapa orang dengan depresi mayor

dapat merasakan bahwa sudah tidak pantas lagi untuk hidup dan beberapa akan

mencoba untuk mengakhiri hidupnya.


b. Gangguan depresi persisten, atau PDD (Persistent Depressive Disorder), sebelumnya

disebut sebagai distimia merupakan sebuah bentuk dari depresi yang biasanya

berlangsung sekurang-kurangnya dua tahun. Walaupun gangguan depresi persisten

tidak separah depresi mayor, gangguan depresi ini meliputi gejala-gejala yang sama

dengan depresi mayor, sebagian besar kurang energi, hilang nafsu makan, atau nafsu

4
makan yang berlebih, dan insomnia atau selalu ingin tidur. Hal ini dapat

dimanifestasikan dalam bentuk stress, labil, dan anhedonia sedang, yang merupakan

ketidakmampuan untuk memperoleh kebahagian dari sebagian besar aktivitas. Orang-

orang dengan PDD kemungkinan bisa dipikirkan sebagai orang-orang yang selalu

melihan gelas setengah kosong.


c. Gangguan bipolar, pernah juga disebut sebagai mania-depresi, dikarakteristikkan

dengan sebuah siklus mood dari mania atau hipomania menjadi depresi. Selama fase

mania, seseorang kemungkinan mengalami kegembiraan yang abnormal atau

berlebihan, labil, kebutuhan untuk tidur yang menurut, gagasan muluk, hiperitmia,

pikiran yang kejar-kejaran, nafsu seksuak yang meningkat, energi yang meningkat,

dan perilaku sosial yang tidak sesuai. Selama fase depresi,seseorang mengalami gejala

yang sama sebagaimana seseorang yang menderita depresi mayor. Perubahan mood

atau mood swing dari mania menjadi depresi seringkali bertahap, walaupun dapat

terjadi secara tiba-tiba.

Klasifikasi Depresi (ii)

Pada semua tiga variasi dari episode depresif khas yang tercantum di bawah ini: ringan,

sedang dan berat, individu biasanya menderita suasana perasaan (mood) yang depresif,

kehilangan minatdan kegembiraan, dan berkurangnya energy yang menuju meningkatnya

keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktivitas. Biasanya ada rasa lelah yang nyata sesudah

kerja sedikit saja. Gejala lazim lainnya adalah :

a. Konsentrasi dan perhatian berkurang

b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang

c. Gagasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna (bahkan pada episode tipe ringan

sekalipun)

5
d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis

e. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri

f. Tidur terganggu

g. Nafsu makan berkurang

Suasana perasaan (mood) yang menurun itu berubah sedikit dari hari ke hari, dan sering kali

tak terpengaruh oleh keadaan sekitarnya, namun dapat memperlihatkan variasi diurnal yang

khas seiring berlalunya waktu. Sebagaimana pada episode manik, gambaran klinisnya juga

menunjukkan variasi individual yang mencolok, dan gambaran tak khas adalah lumrah,

terutama di masa remaja. Pada beberapa kasus, anxietas, kegelisahan dan agitasi motorik

mungkin pada waktu-waktu tertentu lebih menonjol daripada depresinya, dan perubahan

suasana perasaan (mood) mungkin juga terselubung oleh cirri tambahan seperti iritabilitas,

minum alkohol berlebih, perilaku histrionik, dan eksaserbasi gejala fobik atau obsesif yang

sudah ada sebelumnya, atau oleh preokupasi hipokondrik. Untuk episode depresif dari ketiga-

tiganya tingkat keparahan, biasanya diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk

penegakkan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar

biasa beratnya dan berlangsung cepat.

Beberapa di antara gejala tersebut di atas mungkin mencolok dan memperkembangkan cirri

khas yang dipandang secara luas mempunyai makna klinis khusus. Contoh paling khas dari

gejala somatik ialah kehilangan minat atau kesenangan pada kegiatan yang biasanya dapat

dinikmati, tiadanya reaksi emosional terhadap lingkungan atau peristiwa yang biasanya

menyenangkan, bangun pagi lebih awal 2 jam atau lebih daripada biasanya, depresi yang

lebih parah pada pagi hari, bukti objektif dari retardasi atau agitasi psikomotor yang nyata

(disebutkan atau dilaporkan oleh orang lain), kehilangan nafsu makan secara mencolok,

6
penurunan berat badan (sering ditentukan sebagai 5% atau lebih dari berat badan bulan

terakhir), kehilangan libido secara mencolok. Biasanya, sindrom somatik ini hanya dianggapp

ada apabila sekitar empat dari gejala itu pasti dijumpai.

F32.0 Episode depresif ringan

Suasana perasaan mood yang depresif, kehilangan minat dan kesenangan, dan mudah

menjadi lelah biasanya dipandang sebagai gejala depresi yang paling khas; sekurang-

kurangnya dua dari ini, ditambah sekurang-kurangnya dua gejala lazim di atas harus ada

untuk menegakkan diagnosis pasti. Tidak boleh ada gejala yang berat di antaranya. Lamanya

seluruh episode berlansung ialah sekurang- kurangnya sekitar 2 minggu .

Individu yang mengalami episode depresif ringan biasanya resah tentang gejalanya dan agak

sukar baginya untuk meneruskan pekerjaan biasa dan kegiatan social, namun mungkin ia

tidak akan berhenti berfungsi sama sekali.

F32.1 Episode depresif sedang

Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala yang paling khas yang ditentukan untuk

episode depresif ringan, ditambah sekurang-kurangnya tiga (dan sebaiknya empat) gejala

lainnya.Beberapa gejala mungkin tampil amat menyolok, namun ini tidak esensial apabila

secara keseluruhan ada cukup banyak variasi gejalanya. Lamanya seluruh episode

berlangsung minimal sekitar 2 minggu .

Individu dengan episode depresif taraf; sedang biasanya menghadapi kesulitan nyata untuk

meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga .

F32.2 Episode depresif berat tanpa gejala psikotik

7
Pada episode depresif berat, penderita biasanya menunjukkan ketegangan atau kegelisahan

yang amat nyata, kecuali apabila retardasi merupakan ciri terkemuka. Kehilangan harga diri

dan perasaan dirinya tak berguna mungkin mencolok, dan bunuh diri merupakan bahaya

nyata terutama pada beberapa kasus berat.

Anggapan di sini ialah bahwa sindrom somatik hampir selalu ada pada episode depresif berat.

Semua tiga gejala khas yang ditentukan untuk episode depresif ringan dan sedang harus ada,

ditambah sekurang-kurangnya empat gejala lainnya, dan beberapa diantaranya harus

berintensitas berat. Namun, apabila gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi) menyolok,

maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu utnuk melaporkan banyak gejalanya

secara terinci. Dalam hal demikian,penentuan menyeluruh dalam subkategori episode berat

masih dapat dibenarkan. Episode depresif biasanya seharusnya berlangsung sekurang-

kurangnya 2 minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka

mungkin dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam waktu kurang dari 2 minggu.

Selama episode depresif berat, sangat tidak mungkin penderita akan mampu meneruskan

kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.

Kategori ini hendaknya digunakan hanya untuk episode depresif berat tunggal tanpa gejala

psikotik; untuk episode selanjutnya, harus digunakan subkategori dari gangguan depresif

berulang.

F32.3 Episode depresif berat dengan gejala psikotik

Episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2 terssebut di atas, disertai

waham, halusinasi atau stupor depresif. Wahamnya biasanya melibatkan ide tentang dosa,

kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan pasien dapat merasa bertanggung jawab

atas hal itu. Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa suara yang menghina atau

8
menuduh atau bau kotoran atau daging membusuk. Retardasi psikomotor yang berat dapat

menuju pada stupor. Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi

atau tidak serasi dengan suasana perasaan (mood).

F32.8 Episode depresif lainnya

Episode yang termasuk di sini adalah yang tidak sesuai dengan gambaran yang diberikan

untuk episode deprresif pada F32.0- F32.3, meskipun kesan diagnostik menyeluruh

menunjukkan sifatnya sebagai depresi. Contohnya termasuk campuran gejala depresif

(khususnya jenis somatik) yang berfluktuasi dengan gejala non diagnostik seperti ketegangan,

keresahan dan penderitaan; dan campuran gejala depresif somatik dengan nyeri atau keletihan

menetap yang bukan akibat penyebab organik (seperti yang kadang- kadang terlihat pada

pelayanan rumah sakit umum).

F32.9 Episode depresif YTT

F33Gangguan Depresif Berulang

Gangguan ini tersifat dengan episode berulang dari depresi

sebagaimana dijabarkan dalam episode depresif ringan, sedang, atau berat, tanpa riwayat

adanya episode tersendiri dari peninggian suasana perasaan dan hiperaktivitas yang

memenuhi kriteria mania dan hiperaktivitas ringan yang memenuhi kriteria hipomania segera

sesudah suatu episode depresif (kadang-kadang tampaknya dicetuskan oleh tindakan

pengobatan depresi). Usia dari onset, keparahan, lamanya berlangsung, dan frekuensi episode

dari depresi, semuanya sangat bervariasi. Umumnya episode pertama terjadi pada usia lebih

tua dibanding dengangangguan bipolar, dengan usia onset rata-rata lima puluhan. Episode

masing-masing juga lamanya antara 3 dan 12 bulan (rata-rata lamanya sekitar 6 bulan) akan

tetapi frekuensinya lebih jarang. Pemulihan keadaaan biasanya sempurna di antara episode,

9
namun sebagian kecil pasien mungkin mendapat depresi yang akhirnya menetap, terutama

pada usia lanjut (untuk keadaan ini, kategori ini harus tetap digunakan). Episode masing-

masing dalam berbagai tingkat keparahan, seringkali dicetuskan oleh peristiwa kehidupan

yang penuh sters; dalam berbagai budaya, baik episode tersendiri maupun depresi menetap

dua kali lebih banyak pada wanita daripada pria.

Bagaimanapun seringnya seseorang pasien gangguan depresif berulang mengalami episode

depresif sebagai penderitaan,tidak mustahil baginya akan mengalami episode manik. Jika

ternyata terjadi episode manik, maka diagnosisnya harus diubah menjadi gangguan afektif

bipolar.

Gejala

Episode depresi. Mood terdepresi, kehilangan minat dan berkurangnya energy adalah gejala

utama dari depresi. Pasien mungkin mengatakan perasaannya sedih, tidak mempunyai

harapan, dicampakkan, atau tidak berharga. Emosi pada mood depresi kualitasnya berbeda

dengan emosi duka cita atau kesedihan yang normal .

Pasien dalam keadaan mood terdepresi memperlihatkan kehilangan energi dan minat, merasa

bersalah, sulit berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan, berpikir mati atau bunuh diri. Tanda

dan gejala lain termasuk perubahan dalam tingkat aktivitas, kemampuan kognitif, bicara dan

fungsi vegetative (termasuk tidur, aktivitas seksual dan ritme biologik yang lain).

Gangguan ini hampir selalu menghasilkan hendaya interpersonal, sosial dan fungsi pekerjaan.

Adapun gambaran klinik dari pasien depresi ini antara lain :

1. Adanya gejala psikologis berupa penurunan vitalitas umum, yang mungkin dinyatakan

pasien sebagai suatu kehilangan dan sedih. Biasanya dia menarik diri dari kehidupan

sosialnya. Segala sesuatu kelihatannya tanpa harapan, selalu murung, ansietas mungkin ada

10
atau pasien mungkin mencoba untuk menyembunyikan keluhannya (depresi senyum).

2. Variasi diurnal, dimana semua gejala cenderung memburuk pada dini hari dan membaik di

siang hari.

3. Bunuh diri, dapat menjadi tanda awal penyakit. Kemungkinan bunuh diri sulit diduga

sebelumnya, tetapi selalu harus diperhitungkan. Pikiran bunuh diri seharusnya selalu

ditanyakan dan jika ada harus dianggap serius. Penderita depresi jarang membunuh

keluarganya, tetapi kalau terjadi biasanya karena dia merasa harus menyelamatkan

keluarganya dari kehidupan yang sengsara.

4. Retardasi atau perlambatan berpikir biasa ditemukan dan dicerminkan dalam pembicaraan

serta pergerakannya. Ada kemiskinan pikiran dan kesulitan berkonsentrasi. Pada kasus lain

agitasi mungkin menjadi gejala dominan, disertai dengan adanya kegelisahan motorik yang

nyata.

5. Perasaan bersalah sering ditemukan disertai mengomeli diri sendiri dan turunnya penilaian

diri. Dalam kasus berat, bisa timbul waham dimana penyakit yang dideritanya merupakan

suatu hukuman untuk dosanya di masa lampau, baik itu dosa yang dikhayalkannya maupun

kesalahan yang memang benar-benar pernah ia lakukan. Pasien juga bisa merasa bahwa dia

dipandang rendah dan dituduh bejad oleh orang lain. Kemungkinan ada keasyikan sendiri,

hipokondriasis dan waham hipokondria. Mungkin juga ada waham kemiskinan atau waham

nihilistik.

6. Halusinasi jarang ditemukan, tetapi dapat timbul pada kasus berat.

7.Depersonalisasi dan derealisasi tidak jarang terjadi. Pasien menyatakan bahwa dia

kehilangan perasaan dan mempunyai sensasi asing. Dia merasa tidak nyata dan baginya

benda-benda terlihat tidak nyata.

11
8. Pikiran dan tindakan berisi perasaan bersalah atau menyalahkan diri sendiri mungkin

ditemukan.

9. Insomnia sering ditemukan. Gejala khasnya pasien mula-mula bangun dini hari, kemudian

semakin lama semakin pagi dan bahkan akhirnya dapat menjadi insomnia total.

10. Anoreksia, konstipasi, gangguan pencernaan, penurunan berat badan, amenore dan

kehilangan libido biasa ditemukan. Mungkin terjadi kelelahan dan letargi, atau tanda autonom

ansietas. Pikiran untuk melakukan bunuh diri dapat timbul pada sekitar dua pertiga pasien

depresi, dan 10-15% melakukan bunuh diri. Mereka yang dirawat dirumah sakit dengan

percobaan bunuh diri dan ide bunuh diri mempunyai umur hidup lebih panjang disbanding

yang tidak dirawat.

Beberapa pasien depresi terkadang tidak menyadari ia mengalami depresi dan tidak mengeluh

tentang gangguan mood meskipun mereka menarik diri dari keluarga, teman dan aktifitas

yang sebelumnya menarik bagi dirinya.

Hampir semua pasien depresi (97%) mengeluh tentang penurunan energi dimana mereka

mengalami kesulitan menyelesikan tugas, mengalami kendala disekolah dan pekerjaan, dan

menurunnya motivasi untuk terlibat dalam kegiatan baru. Sekitar 80% pasien mengeluh

masalah tidur, khusunya terjaga dini hari (terminal insomnia) dan sering terbangun dimalam

hari karena memikirkan masalh yang dihadapi. Kebanyakan pasien menunjukkan

peningkatan atau penurunan nafsu makan, demikian pula dengan bertambah dan menurunnya

berat badan serta mengalami tidur lebih lama dari yang biasa .

Faktor Biokimia

12
Sejumlah besar penelitian telah melaporkan berbagai kelainan didalam metabolit amin

biogenik yang mencakup neurotransmitter norepinefrin, serotonin dan dopamine. Dalam

penelitian lain juga disebutkan bahwa selain faktor neurotransmitter yang telah disebutkan di

atas, ada beberapa penyebab lain yang dapat mencetuskan timbulnya depresi yaitu

neurotransmitter asam amino khususnya GABA (Gamma-Aminobutyric Acid) dan peptida

neuroaktif, regulasi neurendokrin dan neuroanatomis .

Pada regulasi neuroendokrin, gangguan mood dapat disebabkan terutama oleh adanya

kelainan pada sumbu adrenal, tiroid dan hormon pertumbuhan. Selain itu kelainan lain yang

telah digambarkan pada pasien dengan gangguan mood adalah penurunan sekresi nocturnal

melantonin, penurunan pelepasan prolaktin terhadap pemberian tryptophan, penurunan kadar

dasar FSH (Follicle Stimullating Hormon) dan LH (Luteinizing Hormon), dan penurunan

kadar testosteron pada laki-laki .

Depresi Berat Dengan Gejala Psikotik

13
Depresi berat dengan gejala psikotik adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah

aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas beraktivitas dan biasanya

menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, perkerjaan rumah dan urusan

rumah tangga, gangguan pola tidur dan terdapat waham dan halunsinasi atau stupor depresi.

Kriteria Diagnostik

Kriteria depresi berat dengan gejala psikotik menurut DSM-IV :

1. Mood menurun hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, seperti yang ditunjukkan

baikmelalui laporan subjektif (perasaan sedih atau kosong), atau pengamatan orang

lain (tampak bersedih)


2. Menurunnya minat atau kesenangan yang nyata pada semua atau hampir semua

aktivitas hampir sepanjang hari, hampir setiap hari.


3. Penurunan berat badan yang bermakna walaupun tidak diet atau berat badan

bertambah.
4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
5. Agitasi atau retardasi psikomotor atau kegelisahan hampir setiap hari
6. Lelah atau hilang energi hampir setiap hari
7. Perasaan tidak berarti atau rasa bersalah yang tidak sesuai atau berlebihan
8. Menurunnya kemampuan berpikir atau konsentrasi, atau keragu-raguan hampir setiap

hari
9. Pikiran berulang mengenai kematian, upaya melakukan bunuh diri.
10. Waham dan halusinasi.

14
BAB IV

PENATALAKSANAAN

Pengobatan pasien dengan gangguan mood harus diamanahkan pada sejumlah tujuan.

Pertama, keamanan pasien harus terjamin. Kedua, pemeriksaan diagnostik yang lengkap pada

pasien harus dilakukan. Ketiga, suatu rencana pengobatan harus dimulai yang menjawab

bukan hanya gejala sementara tetapi juga kesehatan pasien selanjutnya. Dokter harus

mengintegrasikan farmakoterapi dengan intervensi psikoterapeutik. Jika dokter memandang

gangguan mood pada dasarnya berkembang dari masalah psikodinamika, ambivalensi

mengenai kegunaan obat dapat menyebabkan respons yang buruk, ketidakpatuhan, dan

kemungkinan dosis yang tidak adekuat untuk jangka waktu yang singkat. Sebaliknya, jika

dokter mengabaikan kebutuhan psikososial pasien, hasil dari farmakoterapi mungkin

terganggu .

1. Terapi Farmakologis

Antidepresan yang tersedia sekarang cukup bervariasi di dalam efek farmakologisnya. Variasi

tersebut merupakan dasar untuk pengamatan bahwa pasien individual mungkin berespons

terhadap antidepresan lainnya. Variasi tersebut juga merupakan dasar untuk membedakan

efek samping yang terlihat pada antidepresan .Pembedaan yang paling dasar diantara

antidepresan adalah pada proses farmakologis yang terjadi, dimana ada antidepresan yang

memiliki efek farmakodinamika jangka pendek utamanya pada tempat ambilan kembali

(reuptake sites) atau pada tingkat inhibisi enzim monoamine oksidasi. bekerja untuk

menormalkan neurotransmitter yang abnormal di otak khususnya epinefrin dan norepinefrin.

Antidepresan lain bekerja pada dopamin. Hal ini sesuai dengan etiologi dari depresi yang

kemungkinan diakibatkan dari abnormalitas dari sistem neurotransmitter di otak. Obat

15
antidepresan yang akan dibahas adalah antidepresi generasi pertama (Trisiklik dan MAOIs),

antidepresi golongan kedua (SSRIs) dan antidepresi golongan ketiga (SRNIs)

a. Trisiklik

Trisiklik merupakan antidepresan yang paling umum digunakan sebagai pengobatan lini

pertama untuk gangguan depresif berat .Golongan trisiklik ini dapat dibagi menjadi beberapa

golongan, yaitu trisiklik primer, tetrasiklik amin sekunder (nortriptyline, desipramine) dan

tetrasiklik tersier (imipramine, amitriptlyne). Dari ketiga golongan obat tersebut, yang paling

sering digunakan adalah tetrasiklik amin sekunder karena

mempunyai efek samping yang lebih minimal. Obat golongan tetrasiklik sering dipilih karena

tingkat kepuasan klinisi dikarenakan harganya yang murah karena sebagian besar golongan

dari obat ini tersedia dalam formulasi generik .

Golongan obat trisiklik bekerja dengan menghambat reuptake neurotransmitter di otak.

Secara biokimia, obat amin sekunder diduga bekerja sebagai penghambat reuptake

norepinefrin, sedangkan amin tersier menghambat reuptake serotonin pada sinaps neuron.hal

ini mempunyai implikasi bahwa depresi akibat kekurangan norepinefrin lebih responsive

terhadap amin sekunder, sedangkan depresi akibat kekurangan serotonin akan

lebihresponsive terhadap amin tersier .

b. MAOIs (Monoamine Oxidase Inhibitors)

MAOIs telah digunakan sebagai antidepresan sejak 15 tahun yang lalu. Golongan ini bekerja

dalam proses penghambatan deaminasi oksidatif katekolamin di mitokondria, akibatnya kadar

epinefrin, noreprinefrin dan 5-HT dalam otak naik.

Obat ini sekarang jarang digunakan sebagai lini pertama dalam pengobatan depresi karena

bersifat sangat toksik bagi tubuh. Selain karena dapat menyebabkan krisis hipertensif akibat

16
interaksi dengan tiramin yang berasal dari makanan-makanan tertentu seperti keju, anggur

dan acar, MAOIs juga dapat menghambat enzim-enzim di hati terutama sitokrom P450 yang

akhirnya akan mengganggu metabolisme obat di hati.

c. SSRIs (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors)

SSRIs adalah jenis pengobatan yang juga menjadi pilihan lini pertama pada gangguan

depresif berat selain golongan trisiklik .Obat golongan ini mencakup fluoxetine, citalopram

dan setraline. SSRIs sering dipilih oleh klinisi yang pengalamannya mendukung data

penelitian bahwa SSRIs sama manjurnya dengan trisiklik dan jauh lebih baik ditoleransi oleh

tubuh karena mempunyai efek samping yang cukup minimal karena kurang memperlihatkan

pengaruh terhadap sistem kolinergik, adrenergik dan histaminergik. Interaksi farmakodinamik

yang berbahaya akan terjadi bila SSRIs dikombinasikan dengan MAOIs, karena akan terjadi

peningkatan efek serotonin secara berlebihan yang disebut sindrom serotonin dengan gejala

hipertermia, kejang, kolaps kardiovaskular dan

gangguan tanda vital .

17
d. SNRIs (Serotonin and Norepinephrine Inhibitors )

18
Golongan antidepresan SNRIs bekerja dengan mekanisme yang hampir sama dengan

golongan SSRIs, hanya saja pada SNRIs juga menghambat dari reuptake norepinefrin (NIM

19
2. Terapi Non Farmakologis

Tiga jenis psikoterapi jangka pendek yang digunakan dalam pengobatan depresif berat adalah

terapi kognitif, terapi interpersonal dan terapi perilaku (Kaplan, 2010). NIMH (2002) telah

menemukan predictor respons terhadap berbagai pengobatan sebagai berikut ini : (1)

disfungsi sosial yang rendah menyatakan respons yang baik terhadap terapi interpersonal, (2)

disfungsi kognitif yang rendah menyatakan respons yang baik terhadap terapi kognitif-

perilaku dan farmakoterapi, (3) disfungsi kerja yang tinggi mengarahkan respons yang baik

terhadap farmakoterapi, (4) keparahan depresi yang tinggi menyatakan respons yang baik

terhadap terapi interpersonal dan farmakoterapi. Pada awalnya, terapi ini dikembangkan oleh

Aaron Beck yang memusatkan pada distorsi kognitif yang didalilkan ada pada gangguan

20
depresi berat. Tujuan terapi ini untuk menghilangkan episode depresif dan mencegah

rekurennya dengan membantu pasien mengidentifikasi dan uji kognitif negatif (Kaplan,

2010).

Terapi interpersonal dikembangkan oleh Gerald Klerman, memusatkan pada satu atau dua

masalah interpersonal pasien yang sedang dialami sekarang, dengan menggunakan dua

anggapan: pertama, masalah interpersonal sekarang kemungkinan memiliki akar pada

hubungan awal yang disfungsional. Kedua, masalah interpersonal sekarang kemungkinan

terlibat di dalam mencetuskan atau memperberat gejala depresif sekarang (Kaplan, 2010).

Sebuah penelitian menunjukan bahwa pasien yang mendapat terapi dengan nefazadone

(serzone) plus suatu bentuk short-term psikoterapi yang disebut cognitive behavioral analysis

system of psychotherapy (CBASP) memberikan hasil terapi yang lebih baik secara signifikan

(85% response, 42% remission) dibandingkan dengan pasien yang mendapat terapi dengan

serzone saja (55% response, 22% remission) atau CBASP saja (52%response, 24%

remission).

21
BAB V

PROGNOSIS

Gangguan mood cenderung memiliki perjalanan penyakit yang panjang dan pasien cenderung

mengalami kekambuhan. Episode depresif yang tidak diobati berlangsung 6 sampai 13 bulan,

sementara sebagian besar episode yang diobati berlangsung kira-kira 3 bulan. Menghentikan

antidepresan sebelum 3 bulan hampir selalu menyebabkan kembalinya gejala (Kaplan, 2010).

Pasien yang dirawat di rumah sakit untuk episode pertama gangguan depresif berat memiliki

kemungkinan 50% untuk pulih dalam tahun pertama. Banyak penelitian telah berusaha untuk

mengidentifikasi indikator prognostik yang baik dan buruk di dalam perjalanan gangguan

depresif berat. Episode ringan, tidak adanya gejala psikotik, fungsi keluarga yangstabil, tidak

adanya gangguan kepribadian, tinggal dalam waktu singkat di rumah sakit dalam waktu yang

singkat, dan tidak lebih dari satu kali perawatan di rumah sakit adalah indikator prognostik

yang baik. Prognosis buruk dapat meningkat oleh adanya penyerta gangguan distimik,

penyalahgunaan alkohol dan zat lain, gejala gangguan kecemasan, dan riwayat lebih dari satu

episode sebelumnya.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim, R. 2013. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari

PPDGJ-III. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, Jakarta.


2. Elvira S. 2013. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta : FKUI.
3. Kaplan & Sadock. 2010. Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri

Klinis. Jakarta : EGC.


4. Halverson,Jerry. Depression.30 Maret 2016

http://emedicine.medscape.com/article/286759-overview
5. Belmaker.Major Depressive Disorder. 30 Maret 2016.

http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMra073096
6. WHO. Depression. 28 Maret 2016. www.who.int/mediacentre/factsheets/fs369/en/
7. WebMD. Symptoms of Depression.28 Maret 2016

http://www.webmd.com/depression/
8. Mind. Understanding Depression.28 Maret2016.
https://www.mind.org.uk/media/42904/understanding_depression_2012.pdf
9. Tomb David A. 2004. Buku Saku Psikiatri Edisi 6. Jakarta : EGC
10. National Institute of Mental Health. What You Need To Know: Depression. 28 Maret

2016. http://www.nimh.nih.gov/health/publications/depression-what-you-need-to-

know-12-2015/index.shtml

23