Anda di halaman 1dari 14

TEXT BOOK READING

HUBUNGAN HIPERTENSI DAN MILD COGNITIVE IMPAIRMENT (MCI)

Pembimbing
dr. Tutik Ermawati, Sp.S

Disusun oleh:
Agneska Ernestia Lastasa
1510221010

SMF ILMU PENYAKIT SARAF


RSUD PROF DR MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA

2015

LEMBAR PENGESAHAN
Text Book Reading

Hubungan Hipertensi dengan Mild Cognitive Impairment (MCI)

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti ujian program profesi dokter di Bagian
Ilmu Penyakit Saraf RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo Purwokerto

Disusun oleh:
Agneska Ernestia Lastasa
1510211010

Telah disetujui dan dipresentasikan


Pada tanggal: Desember 2015

Pembimbing,

dr. Tutik Ermawati, Sp.S

2
I. PENDAHULUAN

Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang memerlukan penanggulangan


secara baik, karena hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penting yang dapat
menyebabkan kerusakan organ target seperti otak, jantung, ginjal dan pembuluh darah (NIH,
2003). Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH), saat ini terdapat
600 juta penderita hipertensi di seluruh dunia, dan 3 juta di antaranya meninggal setiap
tahunnya. Tujuh dari setiap 10 penderita tersebut tidak mendapatkan pengobatan secara
adekuat (WHO, 2003).
Hipertensi juga merupakan penyakit yang umum pada populasi lansia di barat, dengan
prevalensi 41% untuk pria dan 54% untuk wanita. Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan
darah (TD) >160 mmHg sistolik dan/atau >95 mmHg diastolik. Data epidemiologis dari
Framingham menyebutkan bahwa tidak ada hubungan antara tekanan darah dan kinerja
kognitif ketika diukur secara bersamaan, namun, ketika data ini dianalisa kembali selama 20
tahun, hasilnya berbanding terbalik terkait dengan kognitif performance. Tiga studi lebih
lanjut telah menunjukkan hubungan antara hipertensi dengan kerusakan kognitif. Hipotesis
dari penelitian ini adalah bahwa kinerja kognitif pada orang dewasa yang lebih tua tanpa
penyakit serebrovaskular yang jelas akan terganggu sejalan dengan meningkatnya tekanan
darah (Gorelick, 2011).
Beberapa penelitian menyatakan bahwa ada hubungan antara peningkatan tekanan
darah sistolik dengan penurunan fungsi kognitif. Mekanisme pasti terjadinya gangguan fungsi
kognitif pada penderita hipertensi belum jelas diketahui. Apabila tekanan darah sistolik yang
tinggi dan kronis akan mengakibatkan gangguan fungsi kognitif ringan atau Mild Cognitive
Impairment (MCI). MCI merupakan suatu keadaan transisi antara kognisi pada proses
penuaan yang normal dengan demensia ringan. Penyandang MCI adalah seorang yang normal
dalam kognisi dan inteleknya, tetapi mengalami kemunduran daya ingat, terutama daya ingat
jangka pendek (recent memory). MCI ini merupakan kondisi peralihan antara fase mudah-
lupa (forgetfullness) yang fisiologis dan kepikunan yang patologis (Petersen, 2011).

3
II. TI NJAUAN PUSTAKA

2.1 Hipertensi

Hipertensi merupakan peningkatan menetap tekanan arteri rata-rata yang lebih tinggi
dari 110 mmHg. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya infark
miokard, gagal jantung, stroke, demensia, dan penyakit ginjal (Simplicini, 2009).
2.1.1 Klasifikasi Hipertensi
Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee (JNC7), seseorang
dapat dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah sistoliknya 140 mmHg atau
tekanan darah diastoliknya 90 mmHg atau sedang mengkonsumsi obat anti hipertensi (JNC
7, 2003).
Berdasarkan laporan yang dibuat JNC 7, tekanan darah pada orang dewasa
diklasifikasikan menjadi 4 kelompok, yaitu normal, prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan
hipertensi derajat 2 seperti yang dapat dilihat pada tabel (JNC 7, 2003).

Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 7

Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah


Darah (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal <120 dan < 80

Prehipertensi 120-139 atau 80-89

Hipertensi derajat 1 140-159 atau 90- 99

Hipertensi derajat 2 160 atau 100

Berdasarkan etiologi dari hipertensi, hipertensi dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu
hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Sebagian besar kasus hipertensi (90%) tidak
dapat ditentukan etiologinya, sehingga digunakan istilah hipertensi esensial. Hipertensi
esensial saat ini dipahami sebagai penyakit multifaktorial yang timbul dari gabungan
berbagai faktor genetik, lingkungan, dan perilaku. Sekitar 5-10% dari kasus hipertensi
merupakan hipertensi sekunder. Hipertensi sekunder didefinisikan sebagai peningkatan
tekanan darah sistemik karena penyebab yang dapat diidentifikasikan. Dalam kasus
hipertensi sekunder, biasanya tekanan darah akan kembali normal atau menurun secara
signifikan ketika penyebabnya diobati (Simplicini, 2009).

4
2.1.2 Kelainan vaskular akibat hipertensi
Telah diketahui hipertensi dapat menyebabkan komplikasi berupa kerusakan pada
pembuluh darah otak, pembuluh darah jantung, retina dan ginjal. Dengan demikian erat
sekali kaitan antara kenaikan tekanan darah dengan kerusakan pembuluh darah.
Pembuluh darah dilapisi oleh selapis sel yang disebut endotel. Endotel yang berfungsi
baik dapat menyebabkan vasokonstriksi dan vasodilatasi yang seimbang. Endotel juga
berperan dalam proses reduksi oksidasi, dan respon inflamasi terhadap kerusakan vaskular.
Hipertensi akan menyebabkan tekanan pada dinding pembuluh darah sehingga terjadi
aktivitas atau kerusakan endotelium yang akan mengakibatkan terjadinya disfungsi
endotel. Faktor risiko lain yang dapat menyebabkan terjadinya disfungsi endotel adalah
diabetes melitus, hiperlipidemia, proses menua, dan merokok. Endotel terletak di antara
lumen dengan sel otot polos pembuluh darah. Sel endotel ini akan mensintesis atau melepas
sejumlah molekul vasoaktif dan tromboregulatorik, serta faktor pertumbuhan. Substansi-
substansi yang dilepaskan oleh sel endotel meliputi, nitric oxide (NO), prostasiklin,
endotelin, faktor pertumbuhan sel endotel, interleukin, penghambat plasminogen dan
faktor von Willebrand (Harvard, 2009).
Pada pembuluh darah sedang, trombosit dan monosit akan mengalir dengan
bebas dan oksidasi dari low density lipoprotein (LDL) akan dicegah dengan produksi
NO yang cukup. Apabila terjadi kerusakan endotel seperti pada hipertensi yang disertai
dengan peningkatan LDL, maka LDL yang teroksidasi akan melekat pada endotel,
kemudian LDL ini akan diikat oleh molekul adhesi (vascular cell adhesion
molecule/VCAM) dan selanjutnya akan menarik monosit sehingga akan terjadi
peningkataan produksi chemokines yang akan menumpuk di dalam tunika intima. Monosit
akan menjadi matang dan akan menjadi makrofag yang aktif, yang bersama dengan sel T
akan mengeluarkan mediator inflamasi (sitokin). LDL yang sudah berubah tadi akan
dimasukan kedalam makrofag, sehingga terbentuklah sel busa (foam cell). Keadaan ini
akan menyebabkan terjadinya atherosclerotic plaque. Plak ini akan membesar dan
ditutup oleh lapisan penutup (fibrous cap). Pada keadaaan tertentu fibrous cap ini dapat
pecah dan menyebabkan terbentuknya thrombus (Harvard, 2009)

2.2 Mild Cognitive Impairment (MCI)

Mild Cognitive Impairment (MCI) merupakan stadium gangguan kognitif yang


melebihi perubahan normal yang terkait dengan penambahan usia, akan tetapi aktivitas

5
fungsional masih normal dan belum memenuhi kriteria demensia. MCI terutama digunakan
sebagai peringatan bahwa penyandangnya memiliki risiko tinggi untuk mengidap demensia
dan merupakan fase transisi antara gangguan memori fisiologis dan patologis (Abadi, 2013).
2.2.1 Kognitif
Pengertian kognitif menurut Benson FD, Cognition is the process by which
information (internal and external) is manipulated in the brain. Pendapat lain menurut
Kaplan dan Sadock (1975), Cognition is mental process of knowing and becoming aware.
Pengertian yang lebih lebih sesuai dengan behavior neurology dan neuropsikologi: kognitif
adalah suatu proses dimana semua masukan sensoris (taktil, visual dan auditorik) akan
diubah, diolah, disimpan dan selanjutnya digunakan untuk hubungan interneuron secara
sempurna sehingga individu mampu melakukan penalaran terhadap masukan sensoris
tersebut (Petersen, 2011).
Fungsi kognitif mempunyai empat item utama yang dapat dianalogikan dengan
kerja dari komputer, yaitu:
1. Fungsi reseptif, yang melibatkan kemampuan untuk menyeleksi,
memproses, mengklasifikasikan dan mengintegrasikan informasi.
2. Fungsi memori dan belajar, yang maksudnya adalah mengumpulkan
informasi dan memanggil kembali.
3. Fungsi berpikir adalah mengenai organisasi dan reorganisasi informasi.
4. Fungsi ekspresif, yaitu informasi-informasi yang didapat dikomunikasikan
dan dilakukan (Hidayati, 2011).
II.2.2 Epidemiologi
Prevalensi MCI di Amerika Serikat sekitar 3-4% dalam dekade ke-8 pada populasi
umum; 19,2% untuk usia 65-74 tahun, 27,6% untuk usia 75-84 tahun, dan 38% untuk usia
85 tahun. Risiko kematian MCI meningkat sekitar 50% pada orang Amerika dan Afrika.
MCI lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria pada usia 70-79 tahun (10%) dan usia
80-89 tahun (25%) (Petersen, 2011).
II.2.3 Etiologi
Sejumlah faktor yang dapat menyebabkan terjadinya MCI antara lain:
1. Diet
Peningkatan risiko MCI berhubungan dengan diet tinggi lemak jenuh dan
kolesterol. Diet tinggi protein memiliki risiko rendah terhadap timbulnya MCI.
2. Sindrom metabolik
Sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang menderita sindrom
metabolik (kadar insulin tinggi, obesitas, dan kadar lemak abnormal) dan
tingkat inflamasi tinggi secara bersamaan akan mengalami kerusakan kognitif
lebih besar.
3. Radikal bebas

6
Area tubuh dengan output energi tinggi, seperti otak, sangat rentan terhadap
radikal bebas sehingga dapat memicu terjadinya gangguan memori terutama
pada usia lanjut.
4. Penyakit vaskular
Penurunan aliran darah ke otak dapat menyebabkan sel saraf di otak akan
hilang sebelum waktunya sehingga terjadi penurunan fungsi mental, kapasitas
dan kecepatan pemrosesan informasi.
5. Stres
Peristiwa stres besar dapat memberikan efek kumulatif seumur hidup yang
memperparah penurunan kognitif.
6. Hormon tiroid
Hipotiroidisme dihubungkan dengan gangguan berkonsentrasi, gangguan
memori, dan depresi. Hipertiroidisme juga dihubungkan dengan gangguan
fungsi kognitif.
II.2.4 Subtipe Klinis
1. Amnestic MCI - single domain: terdapat gangguan memori dengan tidak adanya
gangguan dari area fungsi kognitif yang lain seperti atensi, orientasi, bahasa dan
visuospatial.
2. Amnestic MCI - multiple domain: terdapat gangguan memori ditambah satu atau
lebih gangguan dari area fungsi kognitif yang lainnya.
3. Non Amnestic MCI - single domain: terdapat gangguan pada satu area fungsi
kognitif tanpa adanya gangguan dari area fungsi memori.
4. Non Amnestic MCI - multiple domain: terdapat gangguan pada dua atau lebih area
fungsi kognitif tanpa adanya gangguan dari area fungsi memori.
Ke empat subtipe klinis tersebut berbeda dalam hal etiologi dan outcome nya.
Amnestic MCI (single domain lebih baik dari yang multiple domain) mempunyai
kemungkinan yang lebih besar mengalami progresifitas menjadi penyakit demensia
Alzheimer. Sedangkan subtipe non-Amnestic mempunyai kemungkinan mengalami
progresifitas menjadi penyakit demensia non-Alzheimer (Petersen, 2011).

2.2.5 Gejala Klinis


Manifestasi MCI dapat meliputi gangguan pada aspek bahasa, memori, emosi,
visuospasial dan kognisi.
a. Gangguan bahasa
Menurut Critchley (1959) yang dikutip dari Sidarta (1989) gangguan bahasa yang
terjadi pada demensia terutama tampak pada kemiskinan kosa kata. Pasien tak dapat
menyebutkan nama benda atau gambar yang ditunjukkan padanya (confrontation naming),
tetapi lebih sulit lagi menyebutkan nama benda dalam satu kategori (category naming),

7
misalnya disuruh menyebutkan nama buah atau hewan dalam satu kategori. Sering adanya
diskrepansi antara penamaan konfrontasi dan penamaan kategori dipakai untuk mencurigai
adanya demensia dini. Misalnya orang dengan cepat dapat menyebutkan nama benda dalam
satu kategori, ini didasarkan karena adanya abstraksinya mulai menurun (Petersen, 2011).
b. Gangguan memori
Sering merupakan gejala yang pertama timbul pada MCI. Tahap awal terganggu
adalah memori baru, yakni cepat lupa apa yang baru saja dikerjakan, lambat laun memori
lama juga dapat terganggu. Fungsi memori dibagi dalam tiga tingkatan bergantung lamanya
rentang waktu antara stimulus dan recall, yaitu :
1. Memori segera (immediate memory), rentang waktu antara stimulus dan recall hanya
beberapa detik. Di sini hanya dibutuhkan pemusatan perhatian untuk mengingat
(attention).
2. Memori baru (recent memory), rentang waktu lebih lama yaitu beberapa menit, jam,
bulan bahkan tahun.
3. Memori lama (remote memory), rentang waktunya bertahun-tahun bahkan seumur
hidup (Petersen, 2011).
c. Gangguan emosi
Gangguan ini sering timbul pada penderita stroke. Sekitar 15% pasien mengalami
kesulitan kontrol terhadap ekspresi dari emosi. Tanda lain adalah menangis dengan tiba-tiba
atau tidak dapat mengendalikan tawa. Efek langsung yang paling umum dari penyakit pada
otak pada personality adalah emosi yang tumpul, disinhibition, kecemasan yang berkurang
atau euforia ringan, dan menurunnya sensitifitas sosial. Dapat juga terjadi kecemasan yang
berlebihan, depresi dan hipersensitif (Petersen, 2011)
d. Gangguan visuospasial
Sering timbul dini pada MCI. Pasien banyak lupa waktu, tidak tahu kapan siang dan
malam, lupa wajah teman dan sering tidak tahu tempat sehingga sering tersesat (disorientasi
waktu, tempat dan orang). Secara objektif gangguan visuospasial ini dapat ditentukan dengan
meminta pasien mengkopi gambar atau menyusun balok-balok sesuai bentuk tertentu
(Petersen, 2011).
e. Gangguan kognisi (cognition)
Fungsi ini yang paling sering terganggu pada pasien MCI, terutama daya abstraksinya.
Ia selalu berpikir konkret, sehingga sukar sekali memberi makna peribahasa. Juga daya
persamaan (similarities) mengalami penurunan (Petersen, 2011).
f. Gangguan gejala vaskular antara lain:

8
Sakit kepala,
Sesak nafas apabila melakukan aktivitas,
Tekanan darah yang tinggi,
EKG yang menunjukkan kelainan (Petersen, 2011)

2.3 Insidensi

Sebuah studi dari 2.505 pria berusia antara 71-93 tahun menemukan bahwa pria
dengan tekanan sistolik 140 mm Hg atau lebih tinggi 77% lebih mungkin mengembangkan
MCI dibandingkan pria dengan tekanan sistolik di bawah 120 mm Hg. Studi lain yang
mengevaluasi tekanan darah dan fungsi kognitif pada orang antara 18-46 tahun dan antara 47-
83 tahun menemukan bahwa dalam kedua kelompok usia sistolik tinggi dan tekanan diastolik
terkait dengan penurunan kognitif dari waktu ke waktu (Kemenkes, 2012).

2.4 Etiopatologi
Mekanisme pasti terjadinya gangguan kognitif ringan pada hipertensi belum
sepenuhnya dipahami. Suatu hipertensi menyebabkan percepatan terjadinya arterosklerosis
pada jaringan otak yang berimplikasi pada gangguan kognitif, yang mana pada penelitian
sebelumnya ditunjukan adanya hubungan bermakna antara derajat retinopati hipertensi
sebagai akibat hipertensi lama yang mana selain proses terjadinya vasokontriksi pada
pembuluh darah retina sendiri juga peristiwa arteriosklerosis.
Kapiler dan arteriola jaringan otak akan mengalami penebalan dinding oleh karena
terjadi deposisi hyalin dan proliferasi tunika intima yang akan menyebabkan penyempitan
diameter lumen dan peningkatan resistensi pembuluh darah. Hal tersebut memicu terjadinya
gangguan perfusi serebral, memungkinkan terjadinya iskemia berkelanjutan pada gangguan
aliran pembuluh darah yang kecil hingga timbul suatu infark lakuner. Hipertensi kronik dapat
menyebabkan gangguan fungsi sawar otak yang menyebabkan peningkatan permeabilitas
sawar otak. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak khususnya substansi alba menjadi lebih
mudah mengalami kerusakan akibat adanya stimulus dari luar. Hipertensi tak terkontrol yang
menetap berhubungan dengan kerusakan WMH (White Matter Hyperintensities) yang lebih
besar. Tingkat tekanan darah tampaknya juga berperan, dengan nilai tekanan darah yang lebih
tinggi berhubungan dengan derajat WMH yang lebih tinggi.
WMH dan silent infarct dianggap sebagai penanda iskemi serebral kronik yang
disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah serebral kecil. Peningkatan tekanan darah sistolik
mepengaruhi fungsi kognitif terutama pada usia lanjut, dimana terjadinya gangguan
mikrosirkulasi dan disfungsi endotel juga berperan pada MCI pada hipertensi.

9
Penatalaksanaan efektif hipertensi dapat mempertahankan fungsi kognitif, beberapa
penelitian menunjukkan bahwa tingkat tekanan darah tertentu, terutama tekanan darah
sistolik sebesar setidaknya 130 mmHg penting dalam mempertahankan fungsi kognitif pada
lansia. Retinopati merupakan indikator kontrol tekanan darah yang buruk pada pasien
hipertensif, risiko demensia telah mengalami peningkatan pada kelompok dengan retinopati.
Sehingga penatalaksanaan hipertensi yang adekuat dapat sekaligus mengurangi risiko
berulangnya stroke iskemik sebagai pemicu timbulnya gangguan kognitif, juga mengurangi
komplikasi vaskular dan aterosklerosis yang ikut mempengaruhi penurunan fungsi kognitif
pada orang dengan lanjut usia.
Sumber lain menyebutkan bahwa pada orang dewasa, efek hipertensi pada otak
diduga karena tekanan darah sistolik melebihi mekanisme autoregulatory otak. Hal ini
menyebabkan kerusakan pada pembuluh otak kecil yang dapat menyebabkan gangguan
autoregulasi, infark lakunar, angiopati amiloid, dan bahkan atrofi otak. Pada orang dewasa,
angiopati amiloid dan atrofi otak dapat terlihat mirip dengan penyakit Alzheimer. Perubahan
ini membuat sulit untuk membedakan hipertensi yang berhubungan dengan penyakit
Alzheimer dari demensia vaskular sekunder karena hipertensi.
Peningkatan tekanan darah pada penderita hipertensi akan menyebabkan perburukan
kemampuan autoregulasi otak karena peningkatan tekanan sistolik dan diastolik
mempengaruhi pembuluh darah di otak. Selain itu, hipertensi juga menurunkan vasoreaktif
pembuluh darah di otak. Jadi, hipertensi pada pembuluh darah yang besar menyebabkan
aterosklerotik, sedangkan pada pembuluh darah yang kecil menyebabkan interna vaskular
remodelling. Intinya, seperti dijelaskan, hipertensi dapat menyebabkan gangguan fungsi
kognitif meski belum demensia dan belum mengalami stroke.

2.6 Diagnosis dan Penatalaksanaan


Deteksi dini memberikan gambaran perkembangan penurunan kognitif awal akibat
faktor risiko vaskuler sebelum terjadinya kerusakan lanjut yang menyebabkan penurunan
kualitas hidup manusia. Cara pendekatan, prinsip-prinsip deteksi dini dan tata laksana
penurunan kognitif akibat faktor risiko vaskuler memerlukan pendekatan khusus di tingkat
layanan primer maupun tingkat rujukan dengan menggunakan instrumen instrument
penilaian khusus dan bentuk-bentuk intervensi khusus. Deteksi dini dan tata laksana faktor
risiko vaskular dengan gangguan kognitif dilakukan pada penyandang hipertensi, terutama
pada kelompok usia lanjut. Yang merupakan suatu rangkaian kegiatan yang
berkesinambungan (Perdossi, 2007).

10
Penatalaksanaan
Sebagai upaya tata laksana faktor risiko vaskular dapat dilakukan di puskesmas
maupun di rumah sakit. Tata laksana faktor risiko vaskular di puskesmas meliputi
penatalaksanaan perilaku, mengatasi obesitas atau menurunkan kelebihan berat badan,
mengurangi asupan garam di dalam tubuh, menciptakan keadaan rileks, melakukan olah raga
teratur, berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, terapi farmakologis. Tata laksana
faktor risiko vaskular di rumah sakit meliputi penilaian lanjut faktor risiko vaskular
menggunakan instrumen atau peralatan spesifik khusus, penilaian vaskular yaitu anamnesis
keluhan vaskular seperti sakit kepala, sesak nafas apabila melakukan aktivitas, tanda-tanda
khusus gangguan vascular lainnya, pemeriksaan tekana darah, EKG, dan pemeriksaan
lainnya (TCD, EECP). Terapi farmakologis untuk pencegahan komplikasi akibat faktor risiko
vaskular dan pengobatan komplikasi akibat faktor risiko vaskular (Perdossi, 2007).
Tata laksana Gangguan Kognitif
Tata laksana gangguan kognitf dilakukan melalui pendekatan Brain Restoration
sesuai dengan gangguan yang didapat dari hasil penilaian deteksi dini dengan instrument
MOCA-INA ataupun dengan CERAD-neuropsychological battery. Tata laksana gangguan
kognitif secara garis besar meliputi:
a) Atensi
Atensi adalah suatu komponen proses kognitif yang berkaitan erat dengan tingkat
kesadaran yang tinggi (High Consious) yang berkaitan erat dengan fungsi kognitif (High
Cortical Function).Penanganan tata laksana dapat dilakukan oleh tenaga perawat terlatih
dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1) Gunakan model penanganan yang disesuaikan dengan teori atensi


2) Gunakan terapi kegiatan yang terorganisir secara hirarkis.
3) Lakukan secara berulang-ulang
4) Keputusan jenis penanganan dipilih berdasarkan data pasien
5) Secara aktif memfasilitasi generalisasi dari awal pengobatan
6) Latihan diberikan bersifat fleksibel

b) Memori
Memori merupakan komponen penting sebagai suatu proses penyimpanan informasi
(information storage) dan proses pemanggilan kembali informasi tersebut (retrieval/recall
information) Latihan memori dapat dilakukan dengan pengulangan dari suatu pelatihan)
Memori melalui praktik latihan:

11
- Penggunaan memori untuk meningkatkan latihan memori menunjukkan bahwa
memori dapat diperkuat
- Menyarankan bahwa latihan memori kemungkinan besar dapat disebabkan melalui
peningkatan kemampuan pusat perhatian.
- Kami telah melakukan pada klien yang memiliki gangguan "memori" hasilnya telah
berkurang setelah mengikuti pelatihan dalam proses perhatian
1. Memori melalui strategi pelatihan
- Melalui visual
- Strategi organisasi verbal (misalnya, membentuk akronim; membuat asosiasi kata
dengan memasangkan beberapa kata-kata)
- Elaborasi semantik (menghubungkan kata-kata atau ide-ide dalam cerita)
2. Menentukan pelatihan memori yang akan dilakukan
- Teknik restoratif dirancang khusus untuk meningkatkan memori pasien yang
berfungsi untuk meningkatkan proses dalam fungsi memori.
3. Metamemory pelatihan
- Mengajar self instructional untuk mengajar rutinitas pemantauan diri (yaitu, eksekutif
strategi) agar meningkatkan fungsi memori mereka.

2.7 Prognosis
Ilmuwan Eropa melaporkan bahwa terapi jangka panjang antihipertensi mengurangi
risiko demensia sebesar 55%. Beberapa studi Amerika sedikit berbeda pendapat. Salah satu
terapi terkait dengan risiko 38% lebih rendah. Penelitian lain melaporkan bahwa setiap tahun
terapi dikaitkan dengan penurunan 6% dalam risiko demensia, khususnya, pria yang diobati
selama 12 tahun atau memiliki risiko 65% lebih rendah dari penyakit Alzheimer daripada pria
dengan hipertensi yang tidak diobati. Tim peneliti dari Harvard dan Universitas Boston
melaporkan bahwa enam bulan terapi antihipertensi benar-benar meningkatkan aliran darah
ke otak, memberikan penjelasan yang baik untuk manfaat yang diamati dalam studi klinis
(Semplicini, 2009).

12
III. KESIMPULAN

1. Hipertensi menyebabkan percepatan terjadi arteriosklerosis pada jaringan otak


sehingga memicu terjadinya gangguan kognitif.
2. Kapiler dan arteriol jaringan otak akan mengalami penebalan dinding oleh karena
terjadi deposisi hyalin dan proliferasi tunika intima yang akan menyebabkan
penyempitan diameter lumen dan peningkatan resistensi pembuluh darah. Hal tersebut
akan penyebabkan penurunan perfusi jaringan otak yang dapat menyebabkan iskemia
dan infark lakunar jaringan otak.
3. Hipertensi kronik dapat menyebabkan gangguan fungsi sawar otak yang
menyebabkan peningkatan permeabilitas sawar otak. Hal ini akan menyebabkan
jaringan otak khususnya substansi alba menjadi lebih mudah mengalami kerusakan.
4. Kerusakan pembuluh darah kecil jaringan otak selain menyebabkan peningkatan
resistensi pembuluh darah otak tetapi juga menyebabkan gangguan fungsi vasomotor
dan penurunan kapasitas dilatasi pembuluh darah otak.
5. Tekanan darah sistemik merupakan faktor yang amat menentukan perfusi jaringan
otak sehingga pada penderita hipertensi kronik dimana telah terjadi adaptasi
mekanisme autoregulasi pembuluh darah otak, tekanan darah yang tinggi diperlukan
untuk menjaga perfusi jaringan otak yang adekuat.
6. Tekanan darah yang lebih rendah pada kelompok dengan gangguan fungsi kognitif
dibandingkan dengan kelompok yang tanpa gangguan fungsi kognitif mungkin
diakibatkan dari arteriosklerosis yang timbul, dimana pada penderita hipertensi yang
disertai arteriosklerosis yang berat akan mengakibatkan kekakuan pada pembuluh
darah yang mengakibatkan tekanan darah yang lebih rendah.

DAFTAR PUSTAKA

13
Abadi K, Dian W, Ellen AG, Marcella ER, Bambang S 2013, Hipertensi dan Risiko Mild
Cognitive Impairment pada Pasien Usia Lanjut, Jurnal Kesehatan Masyarakat
Nasional, Vol.8, No.3, pp 119-124.

Gorelick, P 2011, Vascular Contributions to Cognitive Impairment and Dementia : A


Statement for Association Healthcare Professionals From the American Heart
Association/American. Stroke 2011;42:2672-2713.

Harvard Health Publications. 2009. Blood pressure and your brain. Diakses tanggal: 30
November 2015. Diakses dari:
http://www.health.harvard.edu/newsletters/Harvard_Mens_Health_Watch/2009/October
/blood-pressure-and-your-brain

Hidayati 2011. Hipertensi Menyebabkan Gangguan Kognitif, Jurnal Medika, Edisi No. 04
Vol XXXVI 2011. Available in http://jurnalmedika.com/edisi-tahun-2011/edisi-no-04-
vol-xxxvii-2011/309-kegiatan/594-hipertensi-menyebabkan-gangguan-kognitif.
[diakses pada 2 Desember 2015].

Joint National Committee VII 2003, US Department of Health and Human Services. NIH
Publication.

Perdossi 2007, Diagnosis Dini dan Penatalaksanaan Demensia, Kelompok Studi Neuro-
behaviour, pp 1-8.

Petersen RC 2011, Clinical Practice: Mild Cognitive Impairment, The New England
Journal of Medicine, Vol. 364 (23): 2227-34.

Pusat Intelegensia Kesehatan 2012, Petunjuk Teknis Deteksi Dini Gangguan Kognitif pada
Faktor Risiko Vaskular. Kementerian Kesehatan RI.

Semplicini, Andrea & Inverso, Giulia. 2009. Cognitive impairment in hypertension.


SciTopics. Available in http://www.scitopics.com/Cognitive
impairment_in_hypertension.html. [diakses pada: 5 Desember 2015].

WHO-ISH Hypertension Guideline Committee 2003, Guidelines of the Management of


Hypertension. J Hypertension 21(11):1983-92.

14