Anda di halaman 1dari 30

ALAT BANTU DENGAR

Disusun Oleh :
Kelompok 4 (S1-2A)
1. Chieffiana Laila (121.0021)
2. Desy Evarani (121.0023)
3. Diah Meishinta (121.0025)
4. Hildan Aviano (121.0045)
5. Maya Sari (121.0063)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN SURABAYA
TAHUN AJARAN 2013-2014
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya,


sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah persepsi dan sensori Alat Bantu
Dengar. Makalah ini disusun untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan
perkembangan ilmu keperawatan pada cabang ilmu keperawatan yang sesuai
dengan perkembangan kurikulum terbaru, khususnya mata kuliah Sistem Persepsi
Sensori.
Penulis berharap agar setelah membaca makalah ini, para pembaca dapat
memahami dan mendapatkan pengetahuan yang lebih baik, sehingga dapat
diaplikasikan untuk mengembangkan kompetensi dalam keperawatan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan,
untuk itu penulis selalu bersedia dengan terbuka menerima berbagai saran dan
kritik demi perbaikan di masa mendatang.

Surabaya, 11 April 2014

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..................................................................................................... i


Daftar Isi ............................................................................................................. ii
BAB 1 : Pendahuluan

i
1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................ 2
1.4 Manfaat ...................................................................................... 2
BAB 2 : Tinjauan Pustaka
2.1 Gangguan Pendengaran ............................................................. 3
2.2 Klasifikasi Gangguan Pendengaran .......................................... 3
2.3 Faktor Penyebab Gangguan Pendengaran.................................. 5
BAB 3 : Pembahasan
3.1 Definisi Alat Bantu Dengar ....................................................... 7
3.2 Fungsi Alat Bantu Dengar ......................................................... 7
3.3 Macam Teknologi Alat Bantu Dengar ....................................... 8
3.4 Model Alat Bantu Dengar ........................................................ 11
3.5 Alat Bantu Dengar untuk Bayi .................................................21
3.6 Melepas, Membersihkan, dan Merawat Alat Bantu Dengar ....21
BAB 4 : Penutup
4.1 Kesimpulan .............................................................................. 25
4.2 Saran ........................................................................................ 25
Daftar Pustaka

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendengaran merupakan salah satu indera yang sangat berguna dalam
kehidupan manusia. Dapat mendengar adalah suatu anugerah yang tak ternilai
harganya dari Allah SWT bagi makhluknya, sehingga bila manusia kehilangan
fungsi pendengarannya maka akan menurunlah kualitas kehidupannya.
Pendengaran selain berfungsi sebagai alat komunikasi, juga untuk menikmati
kehidupan anatara lain adalah untuk mendengarkan music yang dapat
menenangkan hati dan hal lain yang diperlukan dalam kehidupan. Fungsi yang
demikian ini kadang-kadang tidak terpikirkan oleh manusia dan baru
menyadari seberapa pentingnya fungsi pendengaran setelah terjadi ganguan.
Kurangnya kesadaran inilah yang banyak menimbulkan kerugian-kerugian di
masa yang akan dating.
Sejauh ini sudah terjadi beberapa kasus gangguan pendengran yang
dialami oleh masyarakat luar khususnya masyarakat Indonesia yang hampir
seluruhnya tidak dapat sembuh 100%. Sangat jarang orang dengan gangguan
pendengaran dapat sembuh secara total seperti sebelumnya. Rata-rata orang
yang mengalami gangguan pendengaran akan tetap mengalami gangguan
pendengaran disisa hidupnya.

Gangguan pendengaran atau ketulian sebenarnya sebanyak 50% dapat


dicegah dengan melakukan upaya promosi kesehatan, mengendalikan faktor
penyebab dan deteksi dini serta mengobati penyakit sesuai standart. Hal
tersebut dapat dilakukan bila dilengkapi dengan sarana yang memadai,
promosi kesehatan yang terus menerus dan meningkatkan pengetahuan sikap
dan perilaku masyarakat.
Upaya-upaya tersebut terus dikembangkan dari waktu ke waktu, sama
halnya dengan upaya mengembalikan fungsi pendengaran seseorang yang
mengalami gangguan pendengaran antara lain adalah menggunakan alat bantu
dengar. Meskipun tidak bisa mengembalikan fungsi pendengaran secara
keseluruhan namun dengan menggunakan alat bantu dengar akan sedikit

1
membantu penderita dalam menangkap suara. Untuk itu dalam makalah ini
penulis akan membahas tentang alat bantu dengar yang diharapkan dapat
memberikan informasi bagi kita semua khususnya pembaca.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa definisi dari alat bantu dengar?
1.2.2 Apa fungsi dari alat bantu dengar?
1.2.3 Apa saja macam-macam teknologi alat batu dengar?
1.2.4 Apa saja model-model alat bantu dengar?
1.2.5 Bagaimana cara melepas, membersihkan dan merawat alat bantu
dengar?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui definisi alat bantu dengar.
1.3.2 Mengetahui fungsi alat bantu dengar.
1.3.3 Mengetahui macam-macam teknologi alat bantu dengar.
1.3.4 Mengetahui model-model alat bantu dengar.
1.3.5 Mengatahui cara melepas, membersihkan dan merawat alat bantu
dengar.

1.4 Manfaat
1.4.1 Memahami definisi alat bantu dengar.
1.4.2 Memahami fungsi alat bantu dengar.
1.4.3 Memahami macam-macam teknologi alat bantu dengar.
1.4.4 Memahami model-model alat bantu dengar.
1.4.5 Memahami cara melepas, membersihkan dan merawat alat bantu
dengar.

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gangguan Pendengaran


Definisi gangguan pendengaran adalah ketidakmampuan secara parsial
atau total untuk mendengarkan suara pada satu atau kedua telinga. Pembagian
gangguan pendengaran berdasarkan tingkatan beratnya gangguan
pendengaran yaitu mulai dari gangguan pendengaran ringan (20-39 dB),
gangguan pendengaran sedang (40-69 dB), dan gangguan pendengaran berat
(70-89 dB).

2.2 Klasifikasi Gangguan Pendengaran


Gangguan pendengaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
2.2.1 Tuli Kondusif
Disebabkan oleh kondisi patologis pada kanal telinga eksterna,
membrane timpani, atau telinga tengah. Gangguan pendengaran
konduktif tidak melebihi 60dB karena dihantarkan menuju koklea
melalui tulang (hantaran melalui tulang) bila intensitasnya tinggi.
Penyebab tersering gangguan pendengaran jenis ini pada anak adalah
otitis media dan disfungsi tuba eustachius yang disebabkan kelainan
gangguan pendengaran melebihi 40dB.
Dalam beberapa kejadian, gangguan pendengaran konduktif
bersifat sementara. Pengobatan atau bedah dapat membantu tergantung
pada penyebab khusus masalah pendengaran tersebut. Gangguan
pendengaran konduktif juga dapat diatasi dengan alat bantu dengar
atau implan telinga tengah.
2.2.2 Tuli Sensorineural
Disebabkan oleh kerusakan atau malfungsi koklea, saraf
pendengaran dan batang otak sehingga bunyi tidak dapat diproses
sebagaimana mestinya. Bila kerusakan terbatas pada sel rambut di
koklea, maka sel ganglion dapat bertahan atau mengalami degenerasi

3
transnueral. Bila sel ganglion rusak, maka nervus VIII akan mengalami
degenerasi Walleriam. Penyebabnya antara lain adalah: kelainan
genetic, penyakit/kelainan pada saat anak dalam kandungan, proses
kelahiran, infeksi virus, pemakaian obat yang merusak koklea (kina,
antibiotic seperti golongan makrolid), radang selaput otak, kadar
bilirubin yang tinggi. Penyebab utama gangguan pendengaran ini
disebabkan karena faktor genetik atau infeksi, sedangkan penyebab
lainnya jarang terjadi.
Gangguan pendengaran ringan hingga berat sering dapat diatasi
dengan alat bantu dengar atau implan telinga tengah. Sedangkan
implan rumah siput seringkali merupakan solusi atas gangguan
pendengaran berat atau parah.
Sebagian orang menderita gangguan pendengaran sensorineural
hanya pada frekuensi tinggi, juga dikenal dengan sebutan tuli sebagian.
Dalam hal ini, yang rusak hanya sel rambut pada ujung rumah siput.
Pada bagian dalam rumah siput, apeks, sel rambut yang berfungsi
untuk memproses nada rendah masih utuh. Stimulasi akustik dan
elektrik gabungan, atau EAS, telah dikembangkan khusus untuk
menangani kejadian seperti ini.
2.2.3 Tuli Campuran
Bila gangguan pendengaran atau tuli konduktif dan sensorineural
terjadi bersamaan. Gangguan ini disebabkan oleh masalah baik pada
telinga dalam maupun telinga luar atau telinga tengah. Opsi
penanganan mencakup pengobatan, bedah, alat bantu dengar atau
implan pendengaran telinga tengah.
2.2.4 Tuli Persarafan
Masalah yang disebabkan oleh tidak adanya atau rusaknya saraf
pendengaran dapat mengakibatkan gangguan pendengaran saraf.
Gangguan pendengaran saraf biasanya parah dan permanen. Alat bantu
dengar dan implan rumah siput tidak dapat mengatasi hal ini karena
saraf tidak dapat meneruskan informasi bunyi ke otak. Dalam banyak

4
kejadian, Implan Batang Otak Auditory (ABI) dapat menjadi pilihan
pengobatan.

2.3 Faktor Penyebab Gangguan Pendengaran


2.3.1 Faktor Genetik
Gangguan pendengaran karena faktor genetik pada umumnya
berupa gangguan pendengaran bilateral tetapi dapat pula asimetrik dan
mungkin bersifat statis maupun progresif. Kelainan dapat bersifat
dominan resesif, berhubungan dengan kromosom X (contoh: Hunters
syndrome, Alport syndrome, Norries disease) kelainan mitokondria
(contoh: Keans-Sayre syndrome), atau merupakan suatu malformasi
pada satu atau beberapa organ telinga (contoh: stenosis atau atresia
kanal telinga eksternal sering dihubungkan dengan malformasi pinna
dan rantai osikuler yang menimbulkan tuli konduktif).
2.3.2 Faktor Didapat
1. Infeksi
Rubela kongenital Cytomegalovirus, toksoplasmosis, virus
herpes simpleks, meningitis bakteri, otitis media kronik purulenta,
mastoiditis, endolabirintitis, kongenital sifilis. Rubela
Cytomegalovirus menyebabkan gangguan pendengaran pada 18%
dari seluruh kasus gangguan pendengaran dimana gangguan
pendengaran sejak lahir akibat infeksi Cytomegalovirus sebesar
50%, infeksi Rubella congenital 50% dan toksoplasma kongenital
10%-15%, sedangkan untuk infeksi herpes simpleks sebesar 10%.
Penelitian oleh Rivera menunjukkan bahwa 70% anak yang
mengalami infeksi sitomegalovirus kongenital mengalami gangguan
pendengaran sejak lahir atau selama neunatus. Pada meningitis
bakteri mengalami laporan post-mortem dan beberapa studi klinis
menunjukkan adanya kerusakan di koklea atau saraf pendengaran,
sayangnya pendengaran masih belum dapat dipastikan.

5
2. Neonatal Hiperbilirubinemia
3. Masalah Perinatal
Prematuritas, anoksia berat, hiperbilirunemia, obat ototoksik.
4. Obat Ototoksik
Obat-obatan yang menyebabkan gangguan pendengaran adalah
sebagai berikut:
Golongan antibiotic : Erythromycin, Gantamin, Streptomycin,
Netilmycin, Amikacin, (pada pemakaian
tetes telinga), Kanamycin, Etiomycin,
Vancomycin.
Golongan diuretic : Furosemide.
5. Trauma
Fraktur tulang temporal, perdarahan pada telinga tengah atau
koklea, dislokasi osikular, trauma suara.
6. Neoplasma
Bilateral acoustic neurinoma (neurofibromatosis 2),
cerebellopontine tumor, tumor pada telinga tengah (contoh:
rhabdomyosarcoma, glomus tumor).

6
BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Definisi Alat Bantu Dengar


Alat bantu dengar merupakan suatu alat akustik listrik yang dapat
digunakan oleh manusia dengan gangguan fungsi pendengaran pada telinga.
Biasanya alat ini dapat dipasang pada bagian dalam telinga manusia ataupun
pada bagian sekitar telinga. Alat bantu dengar dibuat untuk memperkuat
rangsangan bagian sel-sel sensorik telinga bagian dalam yang rusak terhadap
rangsangan suara dan bunyi-bunyian dari luar.
Alat bantu dengar merupakan sebuah alat elektronik yang menggunakan
baterai dimana dalam pemakaiannya terdapat mikrofon yang mengubah
gelombang dari suara tersebut menjadi energi listrik yang kemudian diterima
amplifier yang dapat memperbesar volume suara dan mengirimkannya pada
speaker yang ada pada bagian dalam telinga.
ABD terdiri dari 3 komponen utama: mikrophon, amplifier dan speaker.
ABD menerima suara melalui mikrophone yang mengubah sinyal suara
menjadi sinyal listrik kemudian mengirimkannya ke amplifier. Amplifier
meningkatkan kekuatan sinyal listrik dan mengirimkannya ke telinga pemakai
ABD melalui speaker.
Jika ingin menggunakan alat bantu dengar ini maka terlebih dahulu harus
memeriksakan ambang pendengaran dengan alat yang dinamakan audiogram.
Setelah itu barulah dapat ditentukan jenis dan model apa yang cocok
digunakan untuk kasus kerusakan pendengaran yang dialami.

3.2 Fungsi Alat Bantu Dengar


3.2.1 Membantu pendengaran seseorang yang mengalami gangguan
pendengran.
3.2.2 Membantu dalam menangkap suara dari luar.
3.2.3 Membuat suara percakapan agar cukup terdengar dan nyaman.
3.2.4 Meningkatkan kemampuan berkomunikasi.

7
3.3 Macam Teknologi Alat Bantu Dengar
3.3.1 Alat Bantu Dengar Analog
Alat bantu dengar bekerja dengan mengandalkan baterai untuk
bekerja sebagai power supply, bila dipakai 8 jam perhari satu baterai
dapat bertahan kurang lebih 2 minggu. Sistem kerja alat bantu dengar
berawal ketika ada suara, misalnya suara lonceng berbunyi lalu oleh
komponen yaitu mic menangkap suara tersebut dan di proses dengan
cara mengubah energi akustik (gelombang suara) menjadi sinyal
listrik, lalu dilanjutkan prosesnya oleh amplifier lalu diamplifier
memproses sinyal listrik (gelombang suara) yang dihasilkan dari mic
untuk selanjutnya sinyal listrik (gelombang suara) diperbesar lalu
untuk selanjutnya sinyal yang sudah di perbesar tersebut diproses oleh
receiver. Di dalam receiver sinyal listrik gelombang suara tersebut
oleh receiver dirubah menjadi suara akustik yang sudah diperbesar
receiver ini dapat di analogikan seperti Speaker, maka suara yang di
dengar sama persis dengan sumber bunyi, dan suara tersebut sudah di
perbesar karena proses amplifikasi.
Cara kerja ABD analog adalah suara yang diterima oleh mikrofon
langsung diperkeras oleh amplifier tanpa ada penyaringan, termasuk
suara latar, suara bising, yang membuat si pengguna alat ini sulit untuk
memfokuskan pada suara lawan bicaranya, yang seharusnya lebih
dominan.
Analog dirancang untuk berbagai derajat penurunan pendengaran.
Untuk menyesuaikan seting atau konfigurasi yang tepat, Audiologist
akan membantu untuk melakukan pemeriksaan sebelum fitting. Setelah
derajat serta respon setiap frekuensi diketahui, selanjutnya audiologist
akan melakukan perubahan dan disesuaikan dengan konfigurasi yang
paling cocok dengan hasil pemeriksaan.

8
Keterangan Gambar :
1. MIC atau Micropon adalah suatu jenis transduser yang mengubah
energi-energi akustik (gelombang suara) menjadi sinyal listrik.
2. Amplifier berfungsi untuk memproses sinyal listrik (gelombang
suara) yang dihasilkan dari mic untuk selanjutnya sinyal listrik
(gelombang suara) diperbesar lalu untuk selanjutnya sinyal yang
sudah diperbesar tersebut diproses oleh Receiver.
3. Receiver berfungis untuk mengubah sinyal listrik (gelombang
suara ) menjadi suara yang telah dikeraskan. Receiver ini dapat di
analogikan seperti speaker.
4. Baterai berfungsi untuk mengalirkan energy listrik untuk
menjalankan komponen Mic, Amplifier, dan Receiver.

3.3.2 Alat Bantu Dengar Analog/Programmable


Umumnya mempunyai banyak program dan perubahan pada
konfigurasi dilakukan oleh komputer. Pilihan program ini
diperuntukkan untuk berbagai kondisi mendengar yang berbeda,
misalnya tempat sepi, restoran, mall dll. Harga Analog biasanya lebih
murah dibandingkan dengan Digital.

3.3.3 Alat Bantu Dengar Digital

9
Tidak jauh berbeda dengan alat bantu dengar Analog, sistem kerja
alat bantu dengar digital bekerja dimulai dari suara berbunyi dari
sumber bunyi lalu di tangkap oleh mic, oleh mic suara itu dirubah dari
sinyal suara menjadi sinyal listrik analog lalu prosesnya dilanjutkan ke
analog to digital converter, pada proses ini sinyal dirubah dari sinyal
analog ke sinyal digital setelah itu dilanjutkan ke amplifier. Di dalam
amplifier sinyal suara digital diproses dengan menyaring suara
percakapan dan suara nois, untuk selanjutnya tugas amplifier
membesarkan sinyal suara digital, dengan memfokuskan membesarkan
sinyal suara pada suara percakapan, dan mengecilkan suara nois untuk
selanjutnya sinyal suara digital dirubah kembali menjadi sinyal analog
oleh digital to analog converter. Untuk selanjutnya sinyal analog
tersebut di proses oleh receiver yang merubah sinyal suara analog
menjadi suara yang sudah di perbesar.
ABD teknologi digital mempunyai 2 mikrofon bahkan ada yang 3
mikrofon, yang berfungsi untuk menangkap suara latar dan lawan
bicara, beberapa ABD digital dapat secara otomatis memilih suara
mana yang diinginkan menjadi lebih dominan, sudah tentu dengan
beberapa pengaturan terlebih dahulu. Channel yang tersedia di ABD
digital minimal mempunyai 4 channels sampai dengan 20 channels
yang dapat diatur sesuai dengan hasil audiogram.

Keterangan Gambar:

10
1. MIC atau micropon adalah suatu jenis transduser yang mengubah
energi-energi akustik (gelombang suara) menjadi sinyal listrik.
2. Analog To Digital Converter merupakan salah satu Komponen
pendukung dari alat bantu dengar yang fungsinya mengubah sinyal
analog menjadi sinyal digital, dengan tujuan agar sinyal suara
digital lebih mudah di proses di bandingkan sinyal analog yang
sulit di proses.
3. Amplifier berfungsi untuk memproses sinyal listrik (gelombang
suara) yang dihasilkan dari mic untuk selanjutnya sinyal listrik
(gelombang suara) di perbesar lalu untuk selanjutnya sinyal yang
sudah di perbesar tersebut diproses oleh receiver.
4. Digital To Analog Converter merupakan salah satu komponen
pendukung dari alat bantu dengar untuk mengubah sinyal digital ke
sinyal analog agar dapat di eksekusi oleh receiver
5. Receiver berfungis untuk mengubah sinyal listrik (gelombang
suara ) menjadi suara yang telah dikeraskan. Receiver ini dapat di
analogikan seperti speaker.
6. Baterai berfungsi untuk mengalirkan energy listrik untuk
menjalankan komponen Mic, Amplifier, dan Receiver.

3.4 Model Alat Bantu Dengar


Model ABM didasarkan pada bagaimana ABM tersebut diletakkan serta
penguatan yang dibutuhkan. Umumnya ABM diletakkan dibelakang telinga
dan dalam lubang telinga.
3.4.1 Behind The Ear (BTE)
Terdiri dari plastik atau casing tempat menyimpan komponen alat
bantu dengar yang dirancang mengikuti struktur telinga belakang
kemudian disambungkan dengan earmold atau cetakan telinga yang
dipasangkan pada telinga bagian luar. Suara yang ditangkap dari ABD
diteruskan ke telinga melalui earmold atau cetakan telinga. BTE
umumnya digunakan semua umur mulai dari penurunan pendengaran
ringan sampai dengan penurunan pendengaran berat.

11
Kelebihan:
1. Model lebih banyak dan beragam serta harga dimulai dari yang
terjangkau hingga termahal.
2. Mudah mengoperasikan untuk segala jenis usia dengan berbagai
tingkat gangguan pendengaran.
3. Memiliki earbuds atau earmould yang bisa diganti-ganti sesuai
dengan ukuran liang telinga atau jika earbuds atau earmould rusak.

12
4. Mudah didapatkan baik melalui rumah sakit, toko khusus ABD
bahkan toko alat-alat kesehatan.
5. Model bisa disesuaikan dengan pemakai seperti bentuk, warna, dan
ukuran agar tidak kaku dalam pemakaian.
Kekurangan :
1. Rentan terkena air keringat apabila banyak melakukan aktivitas
sedang hingga berat misalnya berlari atau kegiatan di luar ruangan
yang banyak terkena matahari, musti bawa saputangan atau tisu
buat jaga-jaga dan lap keringat.
2. Mudah jatuh jika melompat atau berlari.
3. Terdapat adanya noise atau distorsi bila mencoba menelepon
dengan handphone/seluler akibat sinyal.

3.4.2 In The Ear (ITE)


ABD yang dipasangkan dalam telinga bagian luar dan digunakan
untuk penurunan pendengaran ringan sampai dengan berat. Beberapa
ITE dilengkapi dengan fitur seperti telecoil. Telecoil adalah magnet
lilitan magnet yang berfungsi untuk menangkap suara melalui melalui
lilitan magnet tersebut bukan melalui mikrophon. Fitur ini memberikan
kemudahan pemakai alat bantu mendengar untuk berbicara melalui
telephon. Telecoil juga berfungsi untuk menangkap suara yang
dikeluarkan oleh induction loop system. ITE umumnya tidak
digunakan oleh anak-anak dan orangtua.

13
Kelebihan :
1. Ukuran yang relatif kecil.
2. Menggunakan cetakan sel akrilik untuk menentukan bentuk liang
telinga luar sehingga bisa melakukan pengepasan ukuran telinga.
Kekurangan :
1. Harga sedikit lebih mahal dan tentu sangat tergantung pada ukuran
telinga karena tidak semua ABD memiliki ukuran yang berbeda-
beda.
2. Tidak cocok untuk anak-anak karena Earmould sedikit lebih besar
daripada ukuran anak.
3. Lebih banyak dipakai orang dewasa yang sesuai dengan kondisi
tertentu.
4. Rentan jatuh jika dipakai anak-anak untuk banyak kegiatan seperti
lari atau bermain.

3.4.3 In The Canal (ITC)


Adalah ABD bentuk kanal tersebut terdiri atas dua jenis yaitu ITC dan
ICC. Alat Bantu dengar jenis ITC bentuk dan ukurannya dapat
disesuaikan dengan penggunanya. Alat bantu jenis ini relatif berukuran
kecil. Jenis lain adalah ICC. Alat ini terletak di dalam saluran telinga.
Kedua alat ini memang sangat nyaman digunakan karena ukurannya
yang kecil. Namun untuk kedua macam lat bantu ini hanya memiliki

14
ruang sedikit yang dapat digunakan untuk menyimpan cadangan batere
dan mikrofon yang terpasang di dalamnya. Dapat digunakan untuk
penderita gangguan pendengaran kategori ringan sampai dengan
kategori sedang. Selain itu model ini kurang dianjurkan untuk
penderita dengan gangguan pendengaran yang cukup berat dan juga
kurang disarankan untuk dipakai oleh anak anak.

Kelebihan:
1. Model ITC adalah model yang menarik karena terbilang ukuran
yang kecil dan sangat fungsional dibanding model BTE.
2. Hampir tidak terlihat oleh semua orang karena berada di mulut
lubang telinga dan warna yang serupa dengan kulit.
3. Dari jauh memang tidak terlihat namun sedikit terlihat bila dilihat
dari samping dan dekat.
4. Cocok untuk anak muda yang tidak ingin terlihat minder
menggunakan ABD dalam bepergian atau beraktivitas di luar.
5. Model ini membuat anda bisa mendengarkan suara-suara alami dan
cukup jernih dibanding BTE.
Kekurangan:
1. Salah satu kekurangan adalah semakin besar anak akan lebih
longar karena lubang telinga mengalami pertumbuhan ukuran
sehingga terus melakukan penyesuaian berulang ketika longgar.

15
2. Kelemahan lain utama bagi orang tua adalah ABD ini memiliki
baterai kecil, jadi jika Anda penderita arthritis akan sulit untuk
mengganti baterai.
3. Volume control yang terlalu kecil untuk disesuaikan serta mikrofon
dan penerima yang sangat dekat terkadang menyebabkan gangguan
yang terjadi dalam ABD.
4. Berisiko tinggi kerusakan akibat kotoran telinga yang menumpuk
dan kelembaban di dalam liang telinga.

3.4.4 Completely In The Canal (CIC)


Jenis alat bantu dengar ini berukuran lebih kecil yang diletakan agak
ke dalam liang telinga. Dilengkapi dengan tangkai mini sehingga
memudahkan pemasangan dan pelepasan. Dapat digunakan untuk
penderita gangguan pendengaran kategori ringan sampai dengan
kategori sedang.

Kelebihan:
1. Model ini lebih kecil daripada model ITE atau ITC sehingga tidak
terlihat dari luar.
2. Memiliki kemampuan menyaring dan mengeluarkan suara yang
lebih alami karena dekat dengan gendang telinga.
Kekurangan:
1. Model CIC lebih mahal daripada model-model di atas.
2. Sangat tidak direkomendasikan untuk anak-anak karena akan
mengalami pertumbuhan liang telinga sehingga memungkinkan

16
terjatuh semakin besar. Pasalnya ukuran ABD ini memang tetap
dan tidak mengikuti ukuran liang telinga anak-anak.
3. Jika anda penderita Arthritis akan mengalami kesulitan untuk
mengeluarkan atau mengganti baterai yang ukurannya lebih kecil
lagi.
4. Adanya gangguan umpan balik terhadap kualitas suara karena
mikrofon dan gendang telinga sangat dekat berupa suara noise
sehingga kesulitan untuk mendengarkan sekitar dengan jelas.
5. Kotoran telinga dan kelembaban berisiko tinggi kerusakan yang
juga menyebabkan tingkat perbaikan menjadi lebih tinggi atau
sama dengan harga beli baru.

3.4.5 Implant
ABD model implan yang biasanya ditanam di bagian belakang struktur
telinga.

17
Kekurangan :
Kekurangan utama adalah model implant terbilang paling mahal
daripada model-model di atas karena pemasangan implan harus
melalui operasi khusus untuk menanam receiver di bagian gendang
telinga dan mengatur volume melalui perangkat mini eksternal.
Juga sangat sulit untuk menemukan karena harus dipesan secara
khusus melalui dokter bagian THT.

3.4.6 Wired Hearing Aid


ABD yang menggunakan kabel sebagai penghubung antara mikrofon
dan earmould. Nama lain adalah Pocket Hearing Aid. Dari namanya
diketahui bahwa ABD yang diletakan atau dijepitkan di dalam saku
atau kantong khusus. Menggunakan kabel sebagai media membawa
sinyal listrik ke speaker atau earmould. Earmould dicetak dengan
menggunakan silikon atau akrilik secara khusus untuk membentuk
bagian daun telinga agar pas.
Model ini juga mengalami banyak perubahan pada model dari yang
kaku hingga model futuristik. Menggunakan baterai umum seperti
baterai AA atau AAA. Cukup taruh di kantong baju. Dapat digunakan
untuk penderita gangguan pendengaran kategori ringan sampai dengan
kategori berat. ABD jenis ini digunakan pada gangguan dengar tingkat
sedang hingga sangat berat.

18
Kelebihan:
1. Sudah banyak yang menyerupai mini mp3 player yang membuat
orang mengira itu adalah pemutar musik dan bisa digunakan untuk
berbagai aktivitas dengan gaya.
Kekurangan :
1. Agak merepotkan dalam pemasangkan karena perlu sembunyikan
kabel ABD dibalik baju.
2. Satu kabel ada dua earmould maka sulit untuk mendapatkan
pengganti bila salah satu earmould rusak.
3. ABD jenis pocket ini jika dipakai oleh bayi adalah bentuk atau
ukuran receiver yang besar.
4. Ketika dipasang untuk bayi, receiver ini bentuknya lebih besar
dibanding ukuran telinga bayi sehingga bisa menyebabkan iritasi
atau luka pada daun telinga.

3.4.7 Bone Conducting Implant (Implan Hantaran Tulang)


Digunakan untuk penderita dengan gangguan pendengaran konduktif
dan memiliki masalah otologi, misalnya masalah otitis media dan
kelainan telinga luar. Saat ini juga tersedia bone conduction aid yang
berbentuk kacamata, sehingga bisa digunakan bersamaan jika pemakai
memiliki masalah visual karena pemakai hanya perlu mengganti
ukuran lensanya saja yang sesuai.
Yang perlu diketahui bahwa alat jenis ini digunakan jika orang yang
memiliki kelainan pada liang telinga. Masalah yang timbul adalah
telinga luar, tengah atau satu telinga mungkin tidak berfungsi sama
sekali yang mengakibatkan suara tidak dapat masuk ke dalam telinga.
Untuk mengatasi hambatan adalah membuat jalan yang berbeda untuk
suara ke telinga bagian dalam dengan memotong hambatan
pendengaran yakni melalui implan hantaran tulang. untuk jelasnya
lihat gambar di bawah ini.

19
Kelebihan :

20
1. Model ini untuk mengatasi kelainan yang dampak pada telinga dan
bisa disandingkan dengan kacamata visual.
Kekurangan :
1. Terbilang mahal karena harus melakukan prosedur operasi untuk
menanam bagian tersebut ke tulang bagian belakang kepala. Harga
kasarnya adalah sekitar USD 4000 (Rp 38 juta dengan kurs Rp
9500 tidak termasuk biaya lain-lain).

3.5 Alat Bantu Dengar Untuk Bayi


3.5.1 Body Aids
Merupakan alat bantu dengar yang dipergunakan untuk anak dalam
usia balita. Cenderung lebih ekonomis dibandingkan model
sekelasnya. Mudah untuk digunakan karena mempunyai kemampuan
penggeseran pada mikrofon yang digunakan, jadi tidak harus
mendekatkan telinga ke sumber suara. alat ini tidak mudah hilang,
pasalnya penggunaan mirip dengan radio ukuran kecil atau walkman.
Alat ini memiliki kekurangan pada penerimaan suara yang sama antara
telinga kiri dan kanan. Anak yang menggunakan alat ini juga tidak
mampu mengetahui sumber suara karena hanya memiliki satu pengeras
suara dan penerima. Kemungkinan adanya feedback terhadap suara
dapat terjadi jika cetakan telinga tidak sesuai dengan ukuran.

3.5.2 OTE
Memiliki kemampuan untuk memebedakan arah suara karena
memiliki alat pengolah suara yang cukup baik. Memiliki pengaturan
yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dengar balita yang
menggunakannya. Alat ini dapat memebedakan arah sumber suara baik

21
kanan, kiri, depan, dan belakang, kenyamanan alat ini juga sudah
diakui.

3.6 Melepas, Membersihkan, dan Merawat Alat Bantu Dengar


3.6.1 Persiapan Alat
1. Alat Bantu dengar klien
2. Sabun, air, dan handuk atau kain basah
3. Pembersih slang atau tusuk gigi
4. Baterai baru (jika perlu)

3.6.2 Pelaksanaan
1. Jelaskan kepada klien apa yang akan anda lakukan, mengapa hal
tersebut perlu dilakukan, dan bagaimana klien dapat bekerja sama.
2. Cuci tangan dan observasi prosedur pengendalian infeksi lain yang
sesuai.
3. Berikan privasi klien.
4. Lepaskan alat bantu dengar.
a. Matikan alat Bantu dengar dan rendahkan volumenya. Tombol
hidup atau mati mungkin ditandai dengan O (mati/off), M
(mikrofon), T (telepon), atau TM (telepon/mikrofon).
Baterai akan terus terpakai jika alat Bantu dengar tidak
dimatukan.
b. Lepaskan earmold dengan memutarnya agak ke depan dan
menariknya keluar.
c. Apabila alat Bantu dengar tidak digunakan dalam beberapa
hari, lepaskan baterainya. Melapaskan baterai akan mencegah
korosi pada alat Bantu dengar akibat kebocoran baterai.
d. Simpan alat bantu dengar ditempat yang aman. Hindari
pemajanan yang benar akan mencegah alat hilang atau rusak.

22
5. Bersihkan earmold.
a. Lepaskan earmold jika memungkinkan. Lepaskan earmold dari
alat penerima yang terdapat di alat bantu dengar tubuh atau dari
sarung alat bantu dengar dari jenis alat bantu dengar dibelakang
telinga dan alat bantu dengar di kacamata pada tempat
pertemuan slang dengan pengait sarunng. Jangan lepaskan
earmold jika dilem atau difiksasi dengan cincin logam kecil.
Pelepasan akan memfasilitasi pembersihan dan mencegah
kerusakan yang tidak disengaja pada bagian lain.
b. Apabila earmold tersebut bisa dilepaskan, rendam dalam sedikit
larutan sabun. Bilas dan keringkan dengan baik. Jangan
menggunakan alcohol isopropyl. Alkohol dapat merusak alat
bantu dengar.
c. Apabila earmold tidak dapat dilepaskan atau merupakan alat
bantu dengar didalam telinga, lap earmold degan kain basah
atau lembab.
d. Periksa kepatenan lubang earmold. Tiap-tiap sisa air melalui
lubang atau buang debris (misalnya, kotoran telinga) dengan
menggunakan pembersih slang atau tusuk gigi.
e. Pasang kembali earmold jika dilepaskan dari alat bantu dengar.
6. Pasang alat bantu dengar.
a. Tanya klien apakah earmold tersebut untuk telinga kanan atau
kiri.
b. Pastikan baterai telah dimasukkan ke dalam alat bantu dengar.
Matikan alat bantu dengar dan pastikan bahwa volume
dikecilkan. Volume yang terlalu besar akan membuat klien
stress.
c. Inspeksi earmold untuk mengidentifikasi bagian saluran telinga.
Beberapa earmold hanya terpasang pas di saluran dan konka
telinga: earmold lainnya terpasang pas di semua kontur telinga.
Bagian saluran telinga sebagai panduan untuk ketepatan
pemasangan alat bantu dengar.

23
d. Sejajarkan bagian earmold dengan bagian yang sama pada
telinga klien.
e. Rotasikan earmold agak ke depan dan masukkan bagian saluran
telinga.
f. Tekan earmold secara hati-hati ke dalam telinga sambil
merotasikan earmold tersebut ke arah belakang.
g. Periksa apakah earmold terpasang pas dengan bertanya kepada
klien apakah dia merasa tidak ada gangguan dan nyaman.
h. Sesuaikan komponen lain dari alat bantu dengar di belakang
telingandan alat bantu dengar di tubuh.
i. Nyalakan alat bantu dengar dan atur volume sesuai dengan
kebutuhan klien.

7. Perbaiki masalah yang terkait dengan fungsi yang tidak benar.


a. Apabila suara lemah atau apabila tidak ada suara:
1) Pastikan bahwa volume ditinggikan secara cukup.
2) Pastikan lubang earmold tidak tersumbat.
3) Periksa baterai dengan menyalakan alat, meningkatkan
volumenya, menangkupkan tangan anda ke earmold dan
dengarkan. Suara siulan yang konstan mengindikasikan
bahwa baterai masih berfungsi. Bila perlu ganti baterai.
Pastikan bahwa kutub positif (+) dan negative (-) baterai
terpasang sesuai dengan kutub positif dan negative pada
alat bantu dengar.
4) Pastikan saluran telinga tidak tersumbat dengan kotoran
telinga, yang dapat menghambat gelombang suara.
b. Apabila klien melaporkan suara siulan atau dengkingan setelah
pemasangan alat bantu dengar:
1) Kecilkan volume suara.
2) Pastikan earmold terpasang dengan tepat ke alat penerima.
3) Masukkan kembali earmold.

24
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari penjelasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa alat bantu
dengar adalah alat elektronik yang biasanya dipakai di belakang teling, dalam
lubang telinga. ABD membuat suara terdengar lebih keras, jadi sesorang yang
mengalami gangguan pendengaran dapat mendengar, berkomunikasi dan
berpartisipasi lebih aktif dalam kehidupan kesehariannya.
ABD terdiri dari beberapa jenis teknologi, yakni: Analog,
Analog/Programmer, dan Digital. Masing-masing jenis teknologi tersebut
mempunyai mekanisme kerja yang berbeda. Selain itu ada berbagai macam
model alat bantu dengar mulai dari yang terjangkau hingga yang paling mahal,
diantaranya: Behind The Ear (BTE), In The Ear (ITE), In The Canal (ITC),
Completely In The Canal (CIC), Implant, Wired Hearing Aid, dan Bone
Conducting Implant (BCI) yang mana masing-masing mempunyai kelebihan
dan kekurangan.

4.2 Saran

25
Memilih ABD kembali kepada selera pemakai dan tingkat gangguan
pendengaran penderita. Hanya penderita lebih tahu mana yang lebih cocok
dalam menggunakan ABD untuk aktivitas tertentu.

26
DAFTAR PUSTAKA

Cameron, John.R. dkk.2006.Fisika Tubuh Manusia, Edisi 6.Jakarta:EGC.


Breman, Audrey. dkk.2009.Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis, Edisi 5.
Jakarta:EGC.
Wong, Donna.L. dkk.2009.Buku Ajar Keperawatan Pediatrik, Volume
1.Jakarta:EGC.
www.pusatalatbantudengar.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Alat_bantu_dengar