Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH BAHASA INDONESIA

KALIMAT DALAM TULISAN AKADEMIK

Disusun Oleh :

UMAR FARUQ (140431100023)

ATA LUKMAN FADLAH (140431100064)

ACHMAD YANI (140431100050)

KOKO SETIONO (140431100131)

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

2016
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji bagi Allah swt. Rasa syukur kami panjatkan
kehadiratnya, karena atas karunia dan izin-Nya semata akhirnya kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah Bahasa Indonesia dengan tema Kalimat
Dalam Tulisan Akademik

Perkenankan kami menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan yang


setinggi-tingginya kepada semua pihak, yang turut memberikan sumbang saran
baik secara moril maupun materiil dan penunjuk serta pembimbing pada kami
dalam pembuatan makalah ini. Akhirnya semoga amal baik semuanya
memperoleh imbalan yang sepadan dari Allah yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Akhir kata, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat
khususnya bagi mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura terutama mahasiswa
Jurusan Teknik Elektro dan kepada para pembaca umumnya.

Bangkalan, 14 Oktober 2016

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................2
DAFTAR ISI..........................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................4
1.1. Latar belakang..........................................................................................4
1.2. Rumusan Masalah....................................................................................5
1.3. Tujuan.......................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................6
2.1. Definisi kalimat........................................................................................6
2.2. Jenis kalimat menurut struktur gramatikal...............................................6
2.3. Jenis kalimat berdasarkan bgaya penyajiannya........................................7
2.4. Jenis kalimat menurut fungsinya..............................................................8
2.5. Kalimat efektif..........................................................................................9
2.6. Kerancuan dan ketaksanaan kalimat........................................................ 10
BAB III PENUTUP...............................................................................................9
3.1. Kesimpulan...............................................................................................9
3.2. Saran.........................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................10

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bahasa Indonesia mempunyai sebuah aturan yang baku dalam
penggunaannya, namun dalam praktiknya sering terjadi penyimpangan dari
aturan yang baku tersebut. Kata-kata yang menyimpang disebut kata non
baku. Begitu juga dalam kalimat, utamanya dalam penulisan akademik,
aturan dan strukur penulisan harus benar-benar diperhatkan. Tidak
memandang siapapun yang menggunakan bahasa indonesia pasti memakai
dua macam bahasa, bahasa baku dan nonbaku. Begitu juga dalam menulis
akademik, perlu diperhatikan struktur dan tata cara penulisan kalimat yang
baik dan benar, guna memudahkan setiap pembaca untuk memahami apa
yang di tulis atau apa yang ingin disampaikan penulis melalui tulisannya.
Banyak dari penulis yang kurang memperhatikan penulisannya, sehingga tak
ayal banyak pembaca yang merasa sulit memahami maksud yang ingin
disampaikan oleh penulis.
Tulisan akademik adalah karya tulis yang disusun oleh orang yang
berpendidikan tinggi untuk memperoleh gelar akdemik, misalnya disertasi
untuk mencapai gelar doctor (S-3), tesis untuk mencapai gelar master (S-2),
skripsi untuk mencapai gelar sarjana (S-1), dan karya tulis atau tugas akhir
bagi program diploma. Tulisan ilmiah bisa juga untuk memenuhi tugus-tugas
akademik, misalnya laporan penelitian, makalah untuk diskusi atau seminar.
Dalam kurikulum Perguruan Tinggi, karya tulisan mempuyai jumlah
SKS yang besar, dan dinilai dalam forum ujian. Nilai yang diperoleh pada
dasarnya merupakan akumulasi dari kecerdasan, pengetahuan, dan
keterampilan yang diperoleh selama dibangku kuliah. Dengan demikian,
karya tulis merepsentasikan intelektualitas penulisnya. Bahkan, karya tulis
juga merupakan perwakilan mutu moral penulisanya. Karena karya tulis
merupukan perwakilan kualitas berdasarkan ilmu pengetahuan dan mutu
moral penulisanya, karya tulis merupakan unsur yang sangat penting dalam
meneliti jenjang karier yang lebih tinggi bagi penulisnya.
Didalam makalah ini, akan dibahas tentang kalimat menurut struktur
dan pola penulisannya, baik itu menurut struktur gramatika, fungsi maupun
kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam penulisan kalimat, kerancuan
kalimat serta ketaksanaan dalam kalimat. Tujuan ditulisnya makalah ini yaitu
untuk memberi arahan dan informasi kepada pembaca tentang tata cara
penulisan kalimat yang baik dan benar, utamanya dalam penulisan akademik.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan kalimat ?
2. Bagaimana struktur pola dasar kalimat ?
3. Bagaimana pola penulisan kalimat menurut struktur gramatikalnya?
4. Bagaimana penyajian kalimat menurut retorikanya ?
5. Apa saja jenis kalimat berdasarkan fungsinya ?
6. Bagaimanakah suatu kalimat bisa dikatakan sebagai kalimat efektif ?
7. Apa yang disebut dengan kerancauan dalam bahasa ?
8. Apa yang disebut dengan ketaksaan dalam bahasa ?

1.3 Tujuan
1. Memahami pengertian kalimat secara utuh.
2. Memahami struktur pola dasar kalimat.
3. Memahami struktur penulisan kalimat menurut struktur gramatikalnya.
4. Memahami penyajian kalimat menurut retorikanya.
5. Memahami jenis-jenis kalimat berdasarkan fungsinya.
6. Memahami kalimat efektif secara cermat.
7. Memahami kerancuan dalam bahasa.
8. Memahami ketaksaan dalam bahasa.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Kalimat


A. Pengertian Kalimat
Sesuai dengan tujuan penulisan, bahwa untuk mendeskripsikan
kemampuan berbahasa Indonesia bagi mahasiswa asing, khususnya
tentang penguasaan struktur kalimat. Landasan teori yang relevan dengan
pokok masalah tersebut adalah landasan teori tentang struktur kalimat
Bahasa Indonisia (BI). Sebagaimana kita ketahui, landasan teori
tradisional, struktur, transformasi, dan landasan teori universal.
Sehubungan dengan itu, landasan teori yang diterapkan dalam penelitian
ini adalah landasan struktual, yang di Indonesia, di antaranya,
dikembangkan oleh Ramlan (1963), Keraf (1970), dan Moelino (1992).
Sebagai sarana pengungkapan pikiran yang utuh secara
ketatabahasaan, satuan gramatik kalimat membawa peran penting dalam
komunikasi. Melalui pola kalimat yang benar, komunikasi dapat terjalin
dengan baik. Pesan yang ingin disampaikan penulis atau pembicara dapat
tersampaikan dengan benar pula kepada pembaca atau pendengar. Di
sinilah nilai pentingnya susunan kalimat yang benar dalam
berkomunikasi. Pada bagian ini, akan disajikan beberapa definisi kalimat
menurut beberapa ahli.
Dardjowidojo (1988: 254) menyatakan bahwa kalimat adalah
bagian terkecil dari suatu ujaran atau teks (wacana) yang
mengungkapkan pikiran yang utuh secara ketatabahasaan. Dardjowidojo
menjelaskan kalimat sebagai keseluruhan pemakaian kata yang berlagu,
disusun menurut sistem bahasa yang bersangkutan; mungkin yang
dipakai hanya satu kata, mungkin lebih.
Kridalaksana (2001:92) juga mengungkapkan kalimat sebagai
satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola
intonasi final, dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa;
klausa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan; satuan proposisi
yang merupakan gabungan klausa atau merupakan satu klausa, yang
membentuk satuan bebas; jawaban minimal, seruan, salam, dan
sebagainya.
Badudu (1994: 3-4) mengungkapkan bahwa sebagai sebuah satuan,
kalimat memiliki dimensi bentuk dan dimensi isi. Kalimat harus
memenuhi kesatuan bentuk sebab kesatuan bentuk itulah yang
menjadikan kesatuan arti kalimat. Kalimat yang yang strukturnya benar
tentu memiliki kesatuan bentuk sekaligus kesatuan arti. Wujud struktur
kalimat adalah rangkaian kata-kata yang disusun berdasarkan aturan-
aturan tata kalimat. Isi suatu kalimat adalah gagasan yang dibangun oleh
rangkaian konsep yang terkandung dalam kata-kata. Jadi, kalimat (yang
baik) selalu memiliki struktur yang jelas. Setiap unsur yang terdapat di
dalamnya harus menempati posisi yang jelas. Setiap unsur yang terdapat
di dalamnya harus menempati posisi yang jelas dalam hubungan satu
sama lain. Kata-kata itu diurutkan menurut aturan tata kalimat.
Dardjowidjojo (1988:29) juga menjelaskan bahwa kalimat
umumnya 10 berwujud rentetan kata yang disusun sesuai dengan kaidah
yang berlaku. Setiap kata termasuk kelas kata atau kategori kata, dan
mempunyai fungsi dalam kalimat. Pengurutan rentetan kata serta macam
kata yang dipakai dalam kalimat menentukan pula macam kalimat yang
dihasilkan.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kalimat
adalah bagian terkecil ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan
pikiran yang utuh, merupakan satuan gramatikal yang dapat berdiri
sendiri sebagai satu kesatuan, terdiri atas satu atau lebih klausa yang
ditata menurut sistem bahasa yang bersangkutan, dan mempunyai pola
intonasi final.
(1) Gita sedang belajar di kelas.

Contoh (1) merupakan sebuah kalimat. Contoh tersebut merupakan bagian


terkecil ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh
merupakan satuan gramatikal yang dapat berdiri sendiri, terdiri atas satu
klausa yang ditata menurut sistem bahasa yang bersangkutan, dan
mempunyai pola intonasi final. Inilah yang dimaksud kalimat.

B. Pola Dasar Kalimat Bahasa Indonesia


Kalimat yang kita gunakan sesungguhnya dapat dikembalikan ke
dalam sejumlah kalimat dasar yang sangat terbatas. Dengan kata lain,
semua kalimat yang kita gunakan berasal dari beberapa pola kalimat
dasar saja. Sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing, kalimat dasar
tersebut kita kembangkan, yang pengembangannya itu tentu saja harus
didasarkan pada kaidah yang berlaku.
Berdasarkan keterangan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan
bahwa kalimat dasar ialah kalimat yang berisi informasi pokok dalam
struktrur inti, belum mengalami perubahan. Perubahan itu dapat berupa
penambahan unsur seperti penambahan keterangan kalimat ataupun
keterangan subjek, predikat, objek, ataupun pelengkap. Kalimat dasar
dapat dibedakan ke dalam delapan tipe sebagai berikut.
1. Kalimat Dasar Berpola Subjek, Predikat (S, P)
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek dan predikat.
Predikat kalimat untuk tipe ini dapat berupa kata kerja, kata benda,
kata sifat, atau kata bilangan. Misalnya:
1. Mereka / sedang berenang.
S P (kata kerja)
2. Ayahnya / guru SMA.
S P (kata benda)
3. Gambar itu / bagus.
S P (kata sifat)
4. Peserta penataran ini / empat puluh orang.
S P (kata bilangan)

2. Kalimat Dasar Berpola Subjek, Predikat, Objek (S,P,O)


Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan objek.
subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba
transitif, dan objek berupa nominal atau frasa nominal.
Misalnya:
Mereka / sedang menyusun / karangan ilmiah.
S P O

3. Kalimat Dasar Berpola Subjek, Predikat, Pelengkap ( S, P, PEL)


Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan
pelengkap. Subjek berupa nominal atau frasa nominal, predikat berupa
verba intransitif atau kata sifat, dan pelengkap berupa nominal atau
adjektiva. Misalnya:
Anaknya / beternak / ayam.
S P Pel.
4. Kalimat Dasar Berpola Subjek, Predikat, Objek, Pelengkap
(S,P,O,Pel)
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, dan
pelengkap. subjek berupa nominal atau frasa nominal, predikat berupa
verba intransitif, objek berupa nominal atau frasa nominal, dan
pelengkap berupa nomina atau frasa nominal. Misalnya:
Dia / mengirimi / saya / surat.
S P O Pel

5. Kalimat Dasar Berpola Subjek, Predikat, Keterangan Tempat (S,P,K)


Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan harus
memiliki unsur keterangan karena diperlukan oleh predikat. Subjek
berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif,
dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
Mereka / berasal / dari Surabaya.
S P K
6. Kalimat Dasar Berpola Subjek, Predikat, Objek, Keterangan Tempat
(S,P,O,K) .
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, dan
keterangan. subjek berupa nominal atau frasa nominal, predikat
berupa verba intransitif, objek berupa nominal atau frasa nominal, dan
keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
Kami / memasukkan / pakaian / ke dalam lemari.
S P O K

7. Kalimat Dasar Berpola Subjek, Predikat, Pelengkap, Keterangan


Tempat (S,P, Pel, K).
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, pelengkap,
dan keterangan. Subjek berupa nominal atau frasa nominal, predikat
berupa verba intransitif atau kata sifat, pelengkap berupa nominal atau
adjektiva, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya :
Ungu / bermain / musik / di atas panggung.
S P Pel. K

8. Kalimat Dasar Berpola Subjek, Predikat, Objek, Pelengkap,


Keterangan Tempat (S,P,O,Pel,K).
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek,
pelengkap, dan keterangan. subjek berupa nominal atau frasa nominal,
predikat berupa verba intransitif, objek berupa nominal atau frasa
nominal, pelengkap berupa nominal atau frasa nominal, dan
keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
Dia / mengirimi / ibunya / uang / setiap bulan.
S P O Pel. K

2.2 Jenis Kalimat Menurut Struktur Gramatikal


Dilihat dari struktur gramatikanya, kalimat bahasa Indonesia dapat
berupa kalimat tunggal dan dapat pula berupa kalimat mejemuk. Kalimat
tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu subjek (S) dan satu predikat
(P). Pola pembentukan kalimat tunggal dapat berpola S + P atau P + S.
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua pola kalimat atau
lebih. Kalimat majemuk dapat bersifat setara (koordinatif), tidak setara
(subordinatif), ataupun campuran (koordiatifsubordinatif). Gagasan yang
tunggal dinyatakan dalam kalimat tunggal; gagasan yang lebih dari satu
diungkapkan dengan kalimat majemuk.

a) Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Pada
hakikatnya, kalau dilihat dari unsur-unsurnya, kalimat-kalimat yang
panjang-panjang dalam bahasa Indonesia dapat dikembalikan kepada
kalimat-kalimat dasar yang sederhana. Kalimat-kalimat tunggal yang
sederhana itu terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Sehubungan
dengan itu, kalimatkalimat yang panjang itu dapat pula ditelusuri pola-
pola pembentukannya. Pola-pola itulah yang dimaksud dengan pola
kalimat dasar.
1) Pola Kalimat Dasar
Kalimat dasar ialah kalimat yang berisi informasi pokok dalam
struktrur inti dan hanya mengandung satu pola kalimat, sedangkan
perluasannya tidak membentuk kalimat baru. Dengan perkataan lain,
kalimat dasar atau kalimat tunggal terdiri atas dua unsur inti (subjek dan
predikat) dan boleh diperluas dengan unsur tambahan (subyek, predikat,
ataupun objek) bila unsur tersebut tidak membentuk pola baru.
Berdasarkan penelitian para ahli, pola kalimat dasar dalam bahasa
Indonesia seperti tertera pada tabel berikut.

Kelima pola kalimat dasar ini dapat diperluas dengan berbagai


keterangan dan dapat pula pola-pola dasar itu digabung-gabungkan
sehingga kalimat menjadi luas dan kompleks.

2) Perluasan Unsur Kalimat Dasar


Unsur kalimat, seperti subyek, predikat, objek, pelengkap, atau
keterangan dapat diperluas sehingga informasi tentang unsur-unsur itu
menjadi lebih lengkap. Setiap kalimat tunggal di atas dapat diperluas
dengan menambahkan kata-kata pada unsur-unsurnya. Dengan
menambahkan kata-kata pada unsur-unsurnya itu, kalimat akan menjadi
panjang (lebih panjang daripada kalimat asalnya), tetapi masih dapat
dikenali unsur utamanya.

3) Perluasan Kata benda


Kata benda, baik yang berfungsi sebagai predikat, subyek maupun
objek dapat diperluas dengan penambahan kata atau frase pada unsur
kalimat, atau anak kalimat. Penambahan ini dapat dilakukan dengan
keterangan yang memiliki konjungtor yang atau tanpa konjungtor.
Contoh:
Perluasan unsur kalimat dengan kata atau frase tanpa konjungtor yang:
Kalimat Mahasiswa berdiskusi dapat diperluas menjadi kalimat
Mahasiswa semester III berdiskusi.
Perluasan kalimat itu adalah hasil perluasan unsur subjek mahasiswa
dengan semeste III.
Perluasan kata benda dengan konjungtor yang terdapat pada kalimat-
kalimat berikut.
a) Mahasiswa yang pandai mendapat beasiswa
b) Perusahaan yang lemah sekali akan mendapat subsidi
c) Anak yang berbakat melukis itu mendapat bantuan berupa alat-alat
lukis.
Perluasan dengan yang tersebut menunjukkan keterangan yang
menjelaskan kata benda yang menjadi subyek. Kadang-kadang
konjungtor yang itu ditiadakan. Kata benda subyek atau objek dapat
diperluas dengan keterangan penjelas tetapi tidak memakai konjungtor
yang. Penambahan keterangan ini dapat dilakukan dengan menjajarkan
saja unsur keterangan dibelakang subyek atau objek itu.
Contohnya adalah sebagai berikut.
a) Karya tulis ilmiah remaja diperlombakan setiap tahun.
b) Buku petunjuk penulisan karangan ilmiah telah beredar.

4) Perluasan Kata kerja


Kata kerja pengisi predikat kalimat dapat diperluas dengan
penambahan kata atau frase. Kata atau frase ini memberi keterangan
pada predikat. Misalnya keterangan aspek atau modalitas. Keterangan
aspek ditandai oleh kata seperti telah, sedang, akan, sudah, masih,
belum yang menerangkan perbuatan yang terjadi pada predikat.
Contohnya terdapat pada kalimat-kalimat berikut:
a) Pertandingan itu telah usai beberapa saat yang lalu.
b) Bintang bulutangkis masih belum berpindah dari Indonesia.

b) Kalimat Majemuk
Struktur kalimat yang di dalamnya terdapat dua kalimat dasar atau lebih
disebut kalimat majemuk. Berdasarkan hubungan antarkalimat dasar itu,
kalimat majemuk dikelompokkan menjadi kalimat majemuk setara, kalimat
majemuk bertingkat dan kalimat majemuk campuran.
1) Kalimat Majemuk Setara
Struktur kalimat yang di dalamnya terdapat sekurang-kurangnya
dua kalimat dasar dan masing-masing dapat berdiri sebagai kalimat
tunggal disebut kalimat majemuk setara (koordinatif). Kalimat majemuk
setara terjadi dari dua kalimat tunggal atau lebih. Kalimat majemuk
setara dikelompokkan menjadi empat jenis, sebagai berikut.
a. Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata dan
atau serta jika kedua kalimat tunggal atau lebih itu sejalan, dan
hasilnya disebut kalimat majemuk setara penjumlahan.
Contoh:
Kami membaca
Mereka menulis
Kami membaca dan mereka menulis.

Tanda koma dapat digunakan jika kalimat yang


digabungkan itu lebih dari dua kalimat tunggal.
Contoh:
Direktur tenang.
Karyawan duduk teratur.
Para nasabah antre.
Direktur tenang, karyawan duduk teratur, dan para
nasabah antre.
Kalimat berikut terdiri atas dua kalimat dasar.
Saya datang, dia pergi.
Kalimat itu terdiri atas dua kalimat dasar yaitu saya datang
dan dia pergi. Jika kalimat dasar pertama ditiadakan, unsur dia
pergi masih dapat berdiri sendiri sebagai kalimat mandiri.
Demikian pula sebaliknya. Keduanya mempunyai kedudukan yang
sama. Itulah sebabnya kalimat itu disebut kalimat majemuk setara.

b. Kedua kalimat tunggal yang berbentuk kalimat setara itu dapat


dihubungkan oleh kata tetapi jika kalimat itu menunjukkan
pertentangan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara
pertentangan.
Contoh:
1. Amerika dan Jepang tergolong negara maju.
2. Indonesia dan Brunei Darussalam tergolong negara
berkembang.
3. Amerika dan Jepang tergolong negara maju, tetapi
Indonesia dan Brunei Darussalam tergolong negara
berkembang.
Kata-kata penghubung lain yang dapat digunakan dalam
menghubungkan dua kalimat tunggal dalam kalimat majemuk
setara pertentangan ialah kata sedangkan dan melainkan seperti
kalimat berikut.
1. Puspiptek terletak di Serpong, sedangkan Industri Pesawat
Terbang Nusantara terletak di Bandung.
2. Ia bukan peneliti, melainkan pedagang.
3.
c. Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata lalu
dan kemudian jika kejadian yang dikemukakannya berurutan.
Contoh:
1. Mula-mula disebutkan nama-nama juara MTQ tingkat
remaja, kemudian disebutkan nama-nama juara MTQ
tingkat dewasa. Upacara serah terima pengurus
koperasi sudah selesai, lalu Pak Ustaz membacakan doa
selamat.
2.
d. Dapat pula dua kalimat tunggal atau lebih dihubungkan oleh kata
atau jika kalimat itu menunjukkan pemilihan, dan hasilnya
disebut kalimat majemuk setara pemilihan.
e. Contoh:
Para pemilik televisi membayar iuran televisinya di
kantor pos yang terdekat, atau para petugas menagihnya
ke rumah pemilik televisi langsung.

2) Kalimat Majemuk Bertingkat


Kalimat majemuk bertingkat mengandung satu kalimat dasar
yang merupakan inti (utama) dan satu atau beberapa kalimat dasar
yang berfungsi sebagai pengisi salah satu unsur kalimat inti itu
misalnya keterangan, subyek, atau objek. Hubungan antara dua atau
lebih unsur kalimat atau klausa dalam kalimat majemuk bertingkat
menggunakan konjungtor yang berbeda dengan kalimat majemuk
setara. Berikut ini kita akan membahas berbagai jenis hubungan
tersebut.
a. Hubungan waktu
Kata penghubung yang digunakan adalah sejak, semenjak,
sedari, ketika, sebelum, sesudah, hingga, sementara, seraya,
tatkala, selama, selagi, serta, sambil, seusai, sesudah, setelah,
jika, sampai, hingga.
Contoh:
Sejak anak-anak, saya sudah terbiasa hidup sederhana.
b. Hubungan syarat
Kata penghubung yang digunakan adalah seandainya,
andaikata, bilamana.
Contoh:
1. Jika Anda mau mendengarkannya, saya akan bercerita.
2. Pembangunan balai desa ini akan berjalan lancar jika
seluruh warga mau berpartisipasi.
c. Hubungan tujuan
Kata penghubung yang digunakan adalah agar, supaya, dan
biar.
Contoh:
Saya mengerjakan tugas itu sampai malam agar besok pagi
dapat mengumpulkannya.
d. Hubungan perlawanan (konsesif)
Kata penghubung yang digunakan adalah walaupun,
meskipun, kendatipun, sungguhpun.
Contoh:
Walaupun hatinya sedih, ibu itu tidak mau menangis di
hadapan anakanaknya.
e. Hubungan perbandingan
Kata penghubung yang digunakan adalah seperti, ibarat,
bagaikan, laksana, alihalih.

Contoh:
Bu Tati menyayangi kemenakannya seperti beliau
menyayangi anak-anaknya.

3) Kalimat Majemuk Campuran


Kalimat majemuk campuran adalah gabungan
antara kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk
bertingkat (taksetara). Dalam kalimat majemuk campuran
sekurang-kurangnya terdapat tiga inti kalimat atau tiga klausa.
Contoh:
1. Pekerjaan itu telah selesai ketika kakak datang dan ibu
selesai memasak.
Klausa utama : pekerjaan itu telah selesai
Klausa bawahan : a) kakak datang
b) ibu selesai memasak.
2. Orang tua yang dudu-duduk di pinggir kolam dan membuka-buka
Koran
itu, adalah tetangga kami.
Klausa utama : orang tua itu adalah tetangga kami
Klausa bawahan : a) orang tua yang dudu-duduk di pinggir kolam
b) orang tua membuka-buka Koran

2.3 Jenis Kalimat Berdasarkan Gaya Penyajiannya (Retorikanya)


1. Kalimat Yang Melepas
Kalimat yang melepas terbentuk jika kalimat tersebut disusun
dengan diawali oleh unsur utama (induk kalimat) dan diikuti oleh unsur
tambahan (anak kalimat). Unsur anak kalimat ini seakan-akan dilepaskan
saja oleh penulisnya. Jika unsur anak kalimat tidak diucapkan, kalimat itu
sudah bermakna lengkap.
Contoh;
1. Saya akan dihadiahkan sepeda oleh Ary jika saya lulus UN..

2. Kalimat yang Klimaks


Kalimat klimaks terbentuk jika kalimat tersebut diawali oleh anak kalimat
dan diikuti oleh induk kalimat. Kalimat belum dapat dipahami jika hanya
membaca anak kalimatnya. penyajian kalimat ini terasa berklimaks dan
terasa membentuk ketegangan.
Contoh:
1. Karena telat bangun pagi, ia ketinggalan bisnya.
2. Kalimat Yang Berimbang
Kalimat yang berimbang disusun dalam bentuk kalimat majemuk setara dan
kalimat majemuk campuran, Struktur kalimat ini memperlihatkan kesejajara
dan dituangkan dalam bentuk kalimat yang simetri.
Contoh:
Jika stabilitas nasional mantap, masyarakat dapat bekerja dengan
tenang dan dapat beribadat dengan leluasa.

2.4 Jenis Kalimat Menurut Fungsinya


Menurut fungsinya, jenis kalimat dapat dirinci menjadi kalimat pernyataan,
kalimat pertanyaan, kalimat perintah, dan kalimat seruan. Semua jenis kalimat itu
dapat disajikan dalam bentuk positif dan negatif.
a. Kalimat Pernyataan (Deklaratif)
Kalimat pernyataan dipakai jika penutur ingin menyatakan sesuatu
dengan lengkap pada waktu ia ingin menyampaikan informasi kepada
lawan berbahasanya. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca titik).
Misalnya:
Positif : Presiden Gus Dur mengadakan kunjungan ke luar
negeri.
Negatif : Tidak semua bank memperoleh kredit lunak.
b. Kalimat Pertanyaan (Interogatif)
Kalimat pertanyaan dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi
atau reaksi (jawaban) yang diharapkan. (Biasanya, intonasi menurun; tanda
baca tanda tanya). Pertanyaan sering menggunakan kata tanya seperti
bagaimana, di mana, mengapa, berapa, dan kapan.
Misalnya:
Positif : Kapan Saudara berangkat ke Singapura?
Negatif : Mengapa gedung ini dibangun tidak sesuai dengan
bestek yang disepakati?
c. Kalimat Perintah dan Permintaan (Imperatif)
Kalimat perintah dipakai jika penutur ingin menyuruh atau
melarang orang berbuat sesuatu. (Biasanya, intonasi menurun; tanda
baca titik atau tanda seru).
Misalnya:
Positif : Maukah kamu disuruh mengantarkan buku ini ke
Pak Sahluddin!
Negatif : Sebaiknya kita tidak berpikiran sempit tentang hak
asasi manusia.
d. Kalimat Seruan
Kalimat seruan dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan
yang kuat atau yang mendadak. (Biasanya, ditandai oleh menaiknya
suara pada kalimat lisan dan dipakainya tanda seru atau tanda titik pada
kalimat tulis).
Misalnya:
Positif : Bukan main, cantiknya.
Negatif : Aduh, pekerjaan rumah saya tidak terbawa.
2.5 Kalimat Efektif

A. Pengertian

Kalimat efektif adalah kalimat yang memperlihatkan bahwa proses


penyampaian oleh pembicar atau penulis dalam proses penerimaan oleh
pendengar atau pembaca berlangsung dengan sempurna sehingga isi atau
maksud yang disampaikan oleh pembicara atau penulis tergambar lengkap
dalam pikiran pendengar atau pembaca. Pesan yang diterima oleh pendengar
atau pembaca relatif sama dengan yang dikehendaki oleh pembicara atau
penulis (Alwi, 2001: 39). Kalimat efektif merupakan kunci penentu yang
menjembatani efektivitas bahasa. Secara umum kalimat efektif adalah
struktur hasil gabungan kata- kata yang secara dasar direncanakan mencapai
tujuan komunikasi seprima mungki (Syamsudin, 1994: 99). Lebih lanjut
dijelaskan berkaitan dengan bahasa tulis bahwa kalimat efektif adalah
komposisi kata- kata yang maksud artinya diterima oleh pembaca secara
persis seperti yang dimaksudkan oleh penulisnya. Selain keunggulannya
yang tepat sasran itu, komposisinya benar menutur gramatika sesuai kaidah
berbahasa yang benar dan baik, akan tetapi juga menimbulkan daya tarik
bagi pembaca dan bahkan bagi penulisnya sendiri.

Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan,


gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si
pembicara atau penulis. Untuk itu penyampaian harus memenuhi syarat
sebagai kalimat yang baik, yaitu strukturnya benar, pilihan katanya tepat,
hubungan antarbagiannya logis, dan ejaannya pun harus benar.

Dalam hal ini hendaknya dipahami pula bahwa situasi terjadinya


komunikasi juga sangat berpengaruh. Kalimat yang dipandang cukup efektif
dalam pergaulan, belum tentu dipandang efektif jika dipakai dalam situasi
resmi, demikian pula sebaliknya. Misalnya kalimat yang diucapkan kepada
tukang becak, Berapa, Bang, ke pasar Rebo? Kalimat tersebut jelas lebih
efektif daripada kalimat lengkap, Berapa saya harus membayar, Bang, bila
saya menumpang becak Abang ke pasar Rebo?

Yang perlu diperhatikan oleh para siswa dalam membuat karya tulis,
baik berupa essay, artikel, ataupun analisis yang bersifat ilmiah adalah
penggunaan bahasa secara tepat, yaitu memakai bahasa baku. Hendaknya
disadari bahwa susunan kata yang tidak teratur dan berbelit-belit,
penggunaan kata yang tidak tepat makna, dan kesalahan ejaan dapat
membuat kalimat tidak efektif.

B. Ciri-Ciri Kalimat Efektif

Kalimat efektif mempunyai ciri- ciri, yaitu :

(1) keutuhan,

(2) kesejajaran,

(3) pemfokusan, dan

(4) penghematan.
Berikut ini akan dijelaskan masing- masing ciri kalimat efektif
tersebut di atas dengan merujuk pendapat Finoca (2002).

a. Kesatuan

Kesatuan adalah terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat.


Dengan satu ide pokok boleh panjang atau pendek, menggabungkan
lebih dari satu kesatuan, bahkan dapat mempertentangkan satu dengan
lainnya, asalkan ide atau gagasan kalimatnya tunggal. Penutur tidak
boleh menggabungkan dua kesatuan yang tidak mempunyai hunbungan
sama sekali kedalam sebuah kalimat.

b.Kepaduan

Kepaduan adalah hubungan yang padu antara unsur- unsur


pembentuk kalimat yang termasuk pembentuk kalimat adalah frasa,
klausa, serta tanda baca yang mempentuk S-P-O-Pel.-Ket.

c. Kesejajaran

Kesejajaran adalah terdapatnya unsur- unsur yan sama derajatnya,


sama pola atau susunan kata dan frasa yang dipakai di dalam kalimat.

d. Pemfokusan

Pemfokusan ialah suatu perlakuan khusus menonjolkan bagian


kalimat sehingga berpengaruh terhadap makna kalimat secara
keseluruhan. Cara yang dipakai untuk memberi perlakuan khusus
kepada kata-kata tertentu ada beberapa, yaitu:

(1) Dengan meletakkan kata yang ditonjolkan itu di awl kalimat,

(2) Dengan melakukan pengulangan kata (repetisi),

(3) Dengan melakukan pengontrasan kata kunci, dan


(4) Dengan menggunakan partikel/ penegas.

e. Penghematan

Penghematan adalah menghindari penukaran kata yang tidak perlu.


Hemat tidak berarti harus menghilangkan kata- kata yang dapat
memperjelas arti kalimat. Hemat berarti ekonomis tidak memakai
kata- kat mubazir tidak mengulang- ulang subjek, tidak menjamakkan
kata yang memang sudah berbentuk jamak. Dengan hemat kata- kata
diharapkan kalimat menjadi padat berisi.

Berikut ini akan disampaikan beberapa pola kesalahan yang


umum terjadi dalam penulisan serta perbaikannya agar menjadi kalimat
yang efektif.

1. Penggunaan dua kata yang sama artinya dalam sebuah kalimat :

a. Sejak dari usia delapan tauh ia telah ditinggalkan ayahnya.

(Sejak usia delapan tahun ia telah ditinggalkan ayahnya.)

b. Hal itu disebabkan karena perilakunya sendiri yang kurang


menyenangkan.

(Hal itu disebabkan perilakunya sendiri yang kurang


menyenangkan.

2. Penggunaan kata berlebih yang mengganggu struktur kalimat :

a. Menurut berita yang saya dengar mengabarkan bahwa kurikulum


akan segera diubah.

(Berita yang saya dengar mengabarkan bahwa kurikulum akan


segera diubah. / Menurut berita yang saya dengar, kurikulum akan
segera diubah.)

b. Kepada yang bersalah harus dijatuhi hukuman setimpal.

(Yang bersalah harus dijatuhi hukuman setimpal.)


3. Penggunaan imbuhan yang kacau :

a. Yang meminjam buku di perpustakaan harap dikembalikan.

(Yang meminjam buku di perpustakaan harap mengembalikan. /


Buku yang dipinjam dari perpustakaan harap dikembalikan).

b. Ia diperingati oleh kepala sekolah agar tidak mengulangi


perbuatannya.

(Ia diperingatkan oleh kepala sekolah agar tidak mengulangi


perbuatannya.

4. Kalimat tak selesai :

a. Manusia yang secara kodrati merupakan mahluk sosial yang selalu


ingin berinteraksi.

(Manusia yang secara kodrati merupakan mahluk sosial, selalu


ingin berinteraksi.)

b. Rumah yang besar yang terbakar itu.

(Rumah yang besar itu terbakar.

5. Penggunaan kata dengan struktur dan ejaan yang tidak baku :

a. Kita harus bisa merubah kebiasaan yang buruk.

(Kita harus bisa mengubah kebiasaan yang buruk.)

b. Pertemuan itu berhasil menelorkan ide-ide cemerlang.

(Pertemuan itu telah menelurkan ide-ide cemerlang.).

6. Penggunaan tidak tepat kata di mana dan yang mana :

a. Saya menyukainya di mana sifat-sifatnya sangat baik.

(Saya menyukainya karena sifat-sifatnya sangat baik.)


b. Rumah sakit di mana orang-orang mencari kesembuhan harus
selalu bersih.

(Rumah sakit tempat orang-orang mencari kesembuhan harus


selalu bersih.).

7. Penggunaan kata dari pada yang tidak tepat :


a. Seorang daripada pembatunya pulang ke kampung kemarin.

(Seorang di antara pembantunya pulang ke kampung kemarin.)

b. Seorang pun tidak ada yang bisa menghindar daripada


pengawasannya.
8. Pilihan kata yang tidak tepat :
a. Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan waktu
untuk berbincang bincang dengan masyarakat.

(Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan diri


untuk berbincang-bincang dengan masyarakat.)

b. Bukunya ada di saya.

(Bukunya ada pada saya.)

9. Kalimat ambigu yang dapat menimbulkan salah arti :


a. Usul ini merupakan suatu perkembangan yang menggembirakan
untuk memulai pembicaraan damai antara komunis dan pemerintah
yang gagal.
b. Kalimat di atas dapat menimbulkan salah pengertian. Siapa/apa
yang gagal? Pemerintahkah atau pembicaraan damai yang pernah
dilakukan? (Usul ini merupakan suatu perkembangan yang
menggembirakan untuk memulai kembali pembicaraan damai yang
gagal antara pihak komunis dan pihak pemerintah.

10. Pengulangan kata yang tidak perlu :

a. Dalam setahun ia berhasil menerbitkan 5 judul buku setahun.

(Dalam setahun ia berhasil menerbitkan 5 judul buku.)


b. Film ini menceritakan perseteruan antara dua kelompok yang saling
menjatuhkan, yaitu perseteruan antara kelompok Tang Peng Liang
dan kelompok Khong Guan yang saling menjatuhkan.

(Film ini menceritakan perseteruan antara kelompok Tan Peng


Liang dan kelompok Khong Guan yang saling menjatuhkan.).

11. Kata kalau yang dipakai secara salah :

a. Dokter itu mengatakan kalau penyakit AIDS sangat berbahaya.

(Dokter itu mengatakan bahwa penyakit AIDS sangat berbahaya.)

b. Siapa yang dapat memastikan kalau kehidupan anak pasti lebih


baik daripada orang tuanya?

(Siapa yang dapat memastikan bahwa kehidupan anak pasti lebih


baik daripada orang tuanya?)

2.6 Kerancuan dan Ketaksanaan kalimat


A. Kerancuan
Kerancuan bahasa adalah kontaminasi/kekacauan dalam
bahasa. Kerancuan ini dapat terjadi dalam susunan/penggabungan
maupun pembentukan, baik ditingkat kata, frasa, klausa, maupun
kalimat. Berikut ini contoh kerancuan dalam bahasa Indonesia.

a. Kerancuan kata
contoh:
1. berulangkali : berkali-kali
2. seringkali/kerapkali : berkali-kali
b. Tingkat frasa
contoh:
Belok kiri jalan terus
Kalimat di atas terdapat dua frasa yaitu "belok kiri
dan jalan terus".
c. Tingkat kalimat
Kontaminasi kalimat tau kerancuan kalimat adalah kalimat
dengan susunan kacau.
contoh:
1. Mahasiswa itu menyelesaikan tugas, kemudian
tugasnya diserahkan kepada Dosen. (salah)
2. Mahasiswa itu menyelesaikan tugas, kemudian
menyerahkannya kepada Dosen.
(betul)
d. Tujuan (purpose) : Penjelasan kalimat (explanatory sentence)
1. Definisi (definition)
2. Contoh (example)
3. Argumentasi
4. Perbedaan (contrast)
5. Analisis/proses (analysis/process)
6. Diskusi
7. Deskripsi
8. Narasi.

A. Ketaksanaan Kalimat
Ketaksanaan atau ambiguitas merupakan bagan dari makna
bahasa yang terdapat dalam sebuah tuturan atau tulisan. Ketaksaan
atau ambivalensi adalah kemungkinan makna ganda pada kata atau
rangkain kata, baik yang berupa frase, klausa maupun kalimat.

a. Tingkat kata

Yang termasuk taksa tingkat kata adalah semua kata yang


tergolong polisemi, artinya satu kata dengan beberapa
pengertian/ makna.

Contoh:
1. kandungan : unsur, organ tubuh wanita
2. kepala : pimpinan, anggota tubuh
3. kaki : bagian akhir, anggota tubuh
b. Tingkat frasa

Gabungan kata yang tidak predikatif yang memiliki


makna lebih dari satu.

Contoh:

1. Bebas parkir: parkir gratis, tidak ada tempat


parkir
2.Hapus papan tulis: menghapus papan tulis,
menghapus tulisan

c. Tingkat klausa

Contoh:
1. Buku sejarah baru: cetakan terakhir, sejarah
peristiwa terakhir.
2. Isteri dokter muda: yang muda adalah isteri. Yang
muda adalah dokter.

d. Tingkat kalimat

Contoh:

Anak perwira tinggi yang rendah hati.

Perwira tinggi yang rendah hati (itu) mempunyai


anak.
Perwira tinggi (itu) mempunyai anak yang rendah
hati.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kalimat adalah bagian terkecil ujaran atau teks (wacana) yang
mengungkapkan pikiran yang utuh, merupakan satuan gramatikal yang dapat
berdiri sendiri sebagai satu kesatuan, terdiri atas satu atau lebih klausa yang ditata
menurut sistem bahasa yang bersangkutan, dan mempunyai pola intonasi final.
Pola kalimat dasar tediri dari kalimat bentuk subjek, predikat objek,pelengkap,
dan keterangan tempat. Dilihat dari struktur gramatikanya, kalimat bahasa
Indonesia dapat berupa kalimat tunggal dan dapat pula berupa kalimat mejemuk.
Penyajian kalimat menurut retorikanya dapat dibedakan yaitu kalimat yang
melepas dan Kalimat yang Klimaks. Menurut fungsinya, jenis kalimat dapat dirinci
menjadi kalimat pernyataan, kalimat pertanyaan, kalimat perintah, dan kalimat seruan.
Semua jeis kalimat itu dapat disajikan dalam bentuk positif dan negatif. Kalimat efektik
bias dikatakan efektif apabila berasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan,
maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penuli dengan
mempunyai ciri- ciri di antaranya : Keutuhan, kesejajaran, pemfokusan,
penghematan. Kerancauan bahasa merupakan kecauan yang terjadi dalam susunan
atau penggabungan maupun pembentukan baik tingkat kata, frasa, klausa, maupun
kalimat ketaksanaan merupakan kemungkinan maknsa ganda atau
rangkaian kata baik berupa frasa, klausa, maupun kalimat. Ketaksaan atau
ambivalensi adalah kemungkinan makna ganda pada kata atau rangkain kata, baik
yang berupa frase, klausa maupun kalimat.

3.2 Saran
Penulis mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dalam pembuatan
makalah ini mengenai Kalimat dalam Tulisan Akademik. Penulis menyarankan
kepada semua pembaca untuk mempelajari tentang struktur dan pola penyusunan
kalimat. Dengan mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa dan mahasiswi
memiliki ketetapan dalam menyampaikan dan menyusun suatu gagasan agar yang
gagasan yang disampaikan dapat dipahami dengan mudah dan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Jahrir, Andi Sahtiani. 2012. Mata Pengembangan Kepribadian Bahasa


Indonesia. Skripsi. UniversitasNegeri Makassar
Alwasilah, A.C. (2002) Pokoknya Kualitatif: Dasar-dasar Merancang dan
Melakukan Penelitian Kualitatif. Bandung: Dunia Pustaka Jaya
Iswara, P.D. (2000) Variasi Pola Kalimat dan Keterbacaannya. Tesis pada
Program Pascasarjana UPI Bandung.
Amando, M. 1962. Uaraian Kalimat dan Kata-kata. Jakarta. Pustaka Rakyat.
Atunsuhono. 1956. Uraian Kalimat Bahasa Indonesia. Jogjakarta: Hien Hoo
Sing.
Ali, Lukman dkk. 1991. Petunjuk Praktis Berbahasa Indonesia. Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Badudu, J.S. 1983. Membina Bahasa Indonesia baku. Bandung: Pustaka
Prima.
Finoza, Lamuddin. 2002.. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Insan Mulia.
Razak, Abdul. 1985. Kalimat Efektif. Jakarta: Gramedia.