Anda di halaman 1dari 17

Nama : Farhandika

Akbar
NIM : K2514031
Makul : Korosi
Pengukuran dan Perhitungan Laju Korosi

Laju korosi adalah kecepatan rambatan atau kecepatan penurunan kualitas


bahan terhadap waktu. Pengungkapan laju korosi yang baik harus melibatkan :
Satuan yang familiar
Mudah kalkulasi dengan kesalahan yang minimum
Mudah dikonversi ke umur pelayanan dalam tahun
Penetrasi
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghitung dan mengukur laju
korosi dari suatu benda, yaitu dengan menghitung dan mengukur:
1. Tegangan Korosi atau Metode Elektrokimia
Metode elektrokimia adalah metode mengukur laju korosi dengan
mengukur beda potensial objek hingga didapat laju korosi yang terjadi,
metode ini mengukur laju korosi pada saat diukur saja dimana memperkirakan
laju tersebut dengan waktu yang panjang (memperkirakan walaupun hasil
yang terjadi antara satu waktu dengan waktu lainnya berbeda). Kelemahan
metode ini adalah tidak dapat menggambarkan secara pasti laju korosi yang
terjadi secara akurat karena hanya dapat mengukur laju korosi hanya pada
waktu tertentu saja, hingga secara umur pemakaian maupun kondisi untuk
dapat ditreatmen tidak dapat diketahui. Kelebihan metode ini adalah kita
langsung dapat mengetahui laju korosi pada saat di ukur, hingga waktu
pengukuran tidak memakan waktu yang lama.
Laju korosi dapat dihitung melalui arus korosi dengan menggunakan
Hukum Faraday[4] dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Banyaknya produk suatu reaksi dapat ditentukan oleh banyaknya muatan
yang dipindahkan.
2. Berat produk reaksi berbanding lurus dengan arus listrik yang mengalirper
satuan waktu yang dirumuskan sebagai berikut :

Dimana :
W = Produk reaksi (gram)
i = Besar arus yang mengalir (coloumb / detik)
t = Lama reaksi (detik)
n = Banyaknya elektron yang menyertai reaksi
F = Bilangan Faraday (96500 coloumb / detik)
BA = Berat atom

Jika BA/n menyatakan berat ekivalen (BE) dan W/t menyatakan laju
reaksi (gram/detik) maka persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi :

Laju korosi yang dinyatakan dalam gram/detik tidak dapat


menunjukkan tingkat penetrasi dari serangan korosi. Jika kedalam persamaan
diatas dimasukkan faktor luas area A (cm2) dan berat jenis logam (gram/cm3 )
maka didapat persamaan laju korosi yang dapat menyatakan daya penetrasi
yaitu :

Jika kita mengkonversikan beberapa satuan yang digunakan sebagai


berikut :
t dalam satuan detik diubah ke dalam tahun
Centimeter diubah kedalam mili inchi
/A diubah kedalam coloumb/detik
i/A menyatakan rapat arus atau ikor
maka persamaan laju korosi dapat dinyatakan sebagai berikut :

Atau
Metode ini menggunakan pembanding dengan meletakkan salah satu
material dengan sifat korosif yang sangat baik dengan bahan yang akan diuji
hingga beda potensial yang terjadi dapat diperhatikan dengan adanya
pembanding tersebut. Berikut merupakan gambar metode yang dilakukan
untuk mendapatkan hasil pada penelitian laju korosi dengan metode
elektrokimia yang diuraikan diatas.
Contoh perhitungan laju korosi dengan metode Elektrokimia :
Sepotong baja yang berada dalam larutan HCl (air-free) mengalami korosi
dengan densitas arus 1 A/cm2. Hitung laju korosi dalam mpy untuk baja
tersebut ?
Penyelesaian :
Diketahui : Sepotong baja berada dalam larutan HCl (air-free)
Densitas arus, i = 1 A/cm2

Massa atom Fe, a = 55,847

Masaa jenis Fe, D = 7,86 g/cm3

2. Polarisasi
Ketika suatu logam tidak berada dalam kesetimbangan dengan larutan
yang mengandung ion-ionnya, potensial elektrodanya berbeda dengan
potensial korosi bebas dan selisih antara keduanya biasanya disebut polarisasi.
Polarisasi atau penyimpangan dari kesetimbangan sama dengan polarisasi
anoda pada logam dan polarisasi katoda pada lingkungan. Ada dua metode
yang tersedia untuk pengukuran korosi dengan mempertimbangkan polarisasi,
yaitu : tafel extrapolation dan polarization resistance.
a. Metode Ekstrapolasi Tafel
Metode ekstrapolasi Tafel adalah metode untuk mengukur laju
korosi basah dengan menarik garis lurus pada daerah linear kurva
polarisasi katodik dan kurva polarisasi anodik sehinggga kedua garis
tersebut berpotongan pada satu titik, dimana titik ini menunjukkan icorr dan
Ecorr.
Dalam metode ekstrapolarisasi Tafel, kurva polarisasi katodik lebih
digunakan untuk menentukan laju korosi dibandingkan kurva polarisasi
anodik. Hal ini disebabkan polarisasi katodik bersifat cepat dan reversibel
sedangkan polarisasi anodik bersifat ireversibel.
Pada larutan asam kuat, reaksi reduksi yang terjadi berupa
pembentukkan ion hidrogen menjadi gas hidrogen sehingga ekstrapolasi
Tafel katodik merupakan ekstrapolasi reaksi reduksi dari ion hidrogen.
2H+ + 2e- H2
Berikut ini contoh ekstrapolasi Tafel dalam larutan asam kuat H2SO4

Gambar 1.1a Ekstrapolasi Tafel baja karbon dalam larutan 1 N H2SO4


Pada gambar 1.1a, data polarisasi katodik dan anodik besi dalam
larutan asam di-plot dalam sebuah grafik potensial-densitas arus secara
eksperimental. Berdasarkan eksperimental, kurva polarisasi katodik dan
anodik tidak berpotongan pada satu titik sehingga perlu didekatkan dengan
ekstrapolasi Tafel untuk mengetahui laju korosi yang terjadi. Ekstrapolasi
Tafel dilakukan dengan menarik garis lurus pada daerah linear dari kurva
polarisasi katodik sedangkan pada kurva polarisasi anodik, garis lurus
diperoleh dari perhitungan data katodik. Hal ini disebabkan tidak adanya
daerah linear yang ditunjukkan pada kurva polarisasi anodik sehingga
perhitungan dari data katodik digunakan untuk menentukan garis lurus
pada kurva polarisasi anodik. Perpotongan antara kurva polarisasi katodik
dan anodik ini akan menunjukkan icorr dan Ecorr. Laju korosi dapat
ditentukan dengan icorr yang terjadi pada perpotongan kedua kurva.
Pada larutan garam, reaksi reduksi yang terjadi bukan merupakan
pembentukkan gas hidrogen dari ion hidrogen melainkan pembentukan gas
hidrogen dan ion hidroksida dari penguraian air sehingga ekstrapolasi
Tafel katodik merupakan ekstrapolasi reaksi reduksi dari air.
2H2O + 2e- H2 + 2OH-
Berikut ini merupakan contoh ekstrapolasi Tafel dalam larutan
garam Na2SO4

Gambar 1.1b Ekstrapolasi tafel baja karbon, baja karbon yang dilindungi
seng dan baja karbon yang dilindungi seng-aluminium dalam larutan sodium
sulfat

Pada gambar 1.1b, menunjukkan kecenderungan ekstrapolasi Tafel


katodik untuk baja karbon yang tidak dilindungi, dilindungi seng, dan
dilindungi Al-Zn dalam larutan garam, dimana terjadi reaksi reduksi air
menjadi gas hidrogen dan ion hidroksida. Perlindungan dengan lapisan
seng dan Al-Zn pada baja karbon mengurangi polarisasi katodik yang
terjadi. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan potensial dari baja karbon
yang diberikan lapisan seng dan Al-Zn Berdasarkan gambar 1.1b, dapat
dilihat bahwa laju korosi pada baja karbon yang tidak dilindungi lebih
besar dibandingkan laju korosi dengan perlindungan seng dan AL-Zn.

b. Metode Resistansi Polarisasi


Metode resistansi polarisasi merupakan metode pengukuran laju
korosi dengan menarik garis linear dari kemiringan kurva polarisasi
katodik dan anodik, dimana kemiringan dari kurva linear tersebut
menggambarkan laju korosi.
Resistansi polarisasi adalah ketahanan material terhadap oksidasi
selama proses diberi arus dari luar yang dinyatakan melalui persamaan :

..........................................(1.1)
dimana :
Rp = resistansi polarisasi
c = konstanta Tafel katodik
a = konstanta Tafel anodik

Gambar 1.2a Kurva polarisasi anodik dan katodik secara teoritis

Secara teoritis, kurva polarisasi katodik dan anodik merupakan


garis linier, dimana pada kurva polarisasi katodik, potensial akan menurun
dengan bertambahnya arus sedangkan pada kurva polarisasi anodik,
potensial akan meningkat dengan bertambahnya arus seperti pada gambar
1.2a. Dari kurva polarisasi katodik dan anodik, akan diperoleh
perpotongan pada satu titik yang menunjukkan icorr dan Ecorr.
Berdasarkan hal tersebut, kurva eksperimental yang diharapkan
merupakan penurunan dari
iapp,c = ic -ia.......................................(1.2)
iapp,a = ia ic.......................................(1.3)
dimana :
iapp,c = densitas arus yang diaplikasikan pada potensial yang sama
ic = arus densitas untuk proses reduksi pada potensial yang sama
ia = arus densitas untuk proses oksidasi pada potensial yang sama

Sedangkan untuk potensial katodik dan anodik diperoleh dari

.............................................(1.4)

..............................................(1.5)
dimana :
c = potensial katodik
a = potensial anodik
c = konstanta Tafel katodik
a = konstanta Tafel anodik
icorr = densitas arus sebagai laju korosi
ic = arus densitas yang diaplikasikan
ia = arus densitas yang diaplikasikan

Kurva polarisasi katodik dan anodik secara teoritis ini digunakan


untuk mensimulasikan kurva polarisasi eksperimental yang di-plot pada
koordinat linier dengan menggunakan konstanta Tafel seperti pada gambar
1.2b,1.2c,dan 1.2d.

Pada gambar 1.2b, 1.2c, dan 1.2d, densitas arus dan potensial
dibagi menjadi daerah katodik dan anodik, dimana iapp dan di-plot pada
pada masing-masing daerah sehingga diperoleh kurva katodik anodik.
Kemudian ditarik garis linear yang menyinggung daerah linear pada kurva
tersebut.

Kurva tersebut memiliki daerah linear pada potensial yang rendah,


dimana kelinearannya bergantung pada konstanta Tafel. Pada gambar
1.2b, garis linear menyinggung kurva katodik anodik pada nilai potensial
yang cukup tinggi, dimana konstanta Tafel yang digunakan sebesar 118
mV untuk anodik dan -118mV untuk katodik. Pada gambar 1.2c, garis
linear menyinggung kurva katodik anodik pada nilai potensial yang
rendah, dimana konstanta Tafel lebih rendah dibandingkan gambar 1.2b
yaitu 30 mV untuk anodik dan -30 mV untuk katodik. Pada gambar 1.2d,
garis linear menyinggung kurva katodik anodik pada potensial rendah,
dimana bentuk kurva katodik dan anodik tidak simetris. Hal ini disebabkan
konstanta Tafel antara katodik dan anodik tidak sama.

Gambar 1.2b Kurva polarisasi secara eksperimental pada konstanta Tafel


anodik 118 mV dan katodik -118 mV
Gambar 1.2c Kurva polarisasi secara eksperimental pada konstanta Tafel
anodik 30 mV dan katodik -30 mV

Gambar 1.2d Kurva polarisasi secara eksperimental pada konstanta Tafel


anodik 30 mV dan katodik -118 mV
Hubungan Laju Korosi dengan Resistansi Polarisasi
Hubungan laju korosi dengan resistansi polarisasi dapat dilihat
pada gambar 1.3. Pada gambar tersebut, dapat dilihat bahwa semakin besar
resistansi polarisasi maka semakin kecil laju korosi yang terjadi. Hal ini
disebabkan kemampuan material untuk tahan terhadap oksidasi lebih
besar, dimana reaksi oksidasi menunjukkan material tersebut terkorosi.
Berdasarkan gambar 1.3, dapat diketahui bahwa semakin besar konstanta
Tafel maka semakin besar resistansi polarisasi dan semakin kecil laju
korosi yang terjadi. Hal ini membuktikan persamaan 1.1 untuk
menentukan resistansi polarisasi.

Gambar 1.3 Hubungan eksperimental antara laju korosi , icorr dan resistansi
polarisasi

c. Potensiodinamik
Metode potensiodinamik merupakan metode pengukuran
kuantitatif terhadap sifat korosi suatu bahan. Potensiodinamik biasanya
digunakan pada pengukuran perilaku aktif-pasif suatu logam. Metode ini
menggunakan kontrol overpotensial secara langsung, sehingga laju korosi
dapat teramati melalui pembacaan langsung kurva polarisasi potensialnya.
Metode pengukuran ini pada umumnya menggunakan tiga elektroda.
Skema secara umum metode potensiodinamik dapat dilihat pada
Gambar 2.5
Gambar 2.5 Rangkaian alat potensiodinamik
Prosedur potensiodinamik menggunakan suatu potensial yang
ditingkatkan dari Ekor keadaan aktif. Potensiodinamik dapat diprogram
untuk meningkatkan potensial secara kontinyu dari potensial korosi
(Ekor). Arus yang terpakai meningkat sejalan dengan potensial yang
mengikuti kurva anodik. Kurva polarisasi anodik dalam potensiodinamik,
mengikuti putaran pasif kurva anodik (Jones, 1996).

d. Polarisasi elektrokimia
Polarisasi elektrokimia adalah Adalah penyimpangan atau
perubahan potensial dari potensial kesetimbangan elektroda sel yang
disebabkan oleh laju reaksi di permukaan logam untuk reaksi sel.
Polarisasi ini terdiri dari Polarisasi Katodik dan Polarisasi Anodik.
Untuk polarisasi katodik (c), electron dipasok menuju permukaan
membangun laju reaksi lambat yang menyebabkan potensial permukaan
(E) menjadi negative, sedangkan Polarisasi anodik (a), electron
dipindahkan dari permukaan logam dengan kehilangan electron secara
lambat yang menyebabkan periubahan potensial permukaan (E) menjadi
positif.
Ada 2 tipe polarisasi elektrokimia, yaitu:
1) Polarisasi Aktivasi
Polarisasi aktivasi Adalah polarisasi yang terjadi karena adanya
perpindahan muatan (elektron).
Contoh: reaksi pembuatan gas hidrogen melalui tiga tahap.
Ion H+ bereaksi dengan elektron dari logam membentuk atom
hidrogen teradsorpsi (Hads).
H+ + e- Hads

Atom Hads bereaksi membentuk H2.


Hads + Hads H2

Molekul H2 bergabung membentuk gas hidrogen yang keluar


dipermukaan logam.
nH2+nH2 Gas H2
2) Polarisasi Konsentras
Polarisasi KonsentrasiAdalah polarisasi konsentrasi
disebabkan karena adanya penurunan konsentrasi pada permukaan
elektrode dari larutan elektrolit.

3. Kandungan Hasil Korosi


Metode pengujian laju korosi berdasarkan kandungan korosi adalah
metode mengukur laju korosi dengan mengukur materi hasil korosi, dimana
hal-hal tersebut meliputi beratdari objek yang di uji, komposisi kimia yang
terdapat pada objek dan oksida objek yang diuji dan kandungan pH yang
terdapat pada objek uji.
1. Pada pengujian berat
Pengujian ini dilakukan dengan cara menimbang material hasil
korosi serta menimbang benda uji, sehingga kita bisa membandingkan
berat yang hilang dari benda uji apakah sama dengan berat material hasil
korosi dari benda uji.
2. Komposisi kimia
Pengujian yang dilakukan pada material hasil korosi untuk
mengetahui komposisi kimia yang terkandung dari material hasil korosi
tersebut. Kita harus mengetahui komposisi kimia dari hasil korosi yang
terjadi pada benda uji, hal itu dapat di lihat dari reaksi kimia yang terjadi
pada proses korosi benda uji. Oksida besi ataupun karat yang terbentuk
dapat di ketahui unsur atau senyawa apa yang terkandung di dalamnya.
3. Kandungan pH
Pengujian yang dilakukan dengan menguji tingkat pH atau
keasaman pada material hasil korosi. Kita dapat menetahui tingkat pH dari
oksida besi atau karat yang telah lepas dari benda uji.
Kelemahan metode ini adalah tidak dapat menggambarkan secara pasti
laju korosi yang terjadi secara singkat, karena hanya dapat mengukur laju
korosi pada waktu yang relatif lama, hingga secara umur pemakaian maupun
kondisi untuk dapat ditreatmen tidak dapat diketahui. Kelebihan metode ini
adalah memiliki keakurasian pengujian yang cukup akurat, mampu
memprediksi umur pakai bahan, mampu mengetahui ketahan bahan uji dari
unsur-unsur kimia yang ada pada lingkungan, dan mampu nengetahui unsur
atau faktor apa saja yang mampu mempercepat korosi(dilihat dari pengujian
komposisi kimia dan tingkat pH)

4. Kehilangan Berat
Metode kehilangan berat adalah perhitungan laju korosi dengan
mengukur kekurangan berat akibat korosi yang terjadi. Metode ini
menggunakan jangka waktu penelitian hingga mendapatkan jumlah
kehilangan akibat korosi yang terjadi.
Metode ini adalah mengukur kembali berat awal dari benda uji (objek
yang ingin diketahui laju korosi yang terjadi padanya), kekurangan berat dari
pada berat awal merupakan nilai kehilangan berat. Kekurangan berat
dikembalikan kedalam rumus untuk mendapatkan laju kehilangan beratnya.
Metode ini bila dijalankan dengan waktu yang lama dan suistinable
dapat dijadikan acuan terhadap kondisi tempat objek diletakkan (dapat
diketahui seberapa korosif daerah tersebut) juga dapat dijadikan referensi
untuk treatment yang harus diterapkan pada daerah dan kondisi tempat objek
tersebut.
Metode ini sering digunakan untuk menentukkan laju korosi dalam
berbagai lingkungan. Metode ini berdasarkan ASTM G1,G4,A90 dan NACE
RP0775. Korosi kupon digunakan untuk pada pengukuran total kehilangan
berat pada periode penanaman. Ini menunjukkan korosi akan terjadi, sebuah
kupon tunggal tidak dapat digunakan untuk menentukan kecepatan korosi
beragam atau berubah selama periode penanaman. Informasi perubahan
kecepatan korosi dapat ditentukan dengan beberapa pemasangan kupon pada
satu waktu dan evaluasi kupon pada interval waktu yang pendek.

Gambar 2.5 Kupon Untuk Analisa Kehilangan Berat


Interpretasi data coupon terdiri dari lokasi,waktu, pengukuran
kedalaman, profil permukaan (penggelembungan atau erosi) produk korosi
dan atau komposisi scale(produk yang terbentuk karena tanah memiliki pH
basa yang bereaksi dengan tanah) dan faktor operasi (inhibitor,dll).
Dalam preparasi kupon, harus bersih dari semua kontaminan (debu,
minyak dan produk karat), pengoperasian pengamplasan harus dilakukan
sangat hati-hati untuk menghindari temperatur tinggi pada permukaan yang
akan mempengaruhi mikrostruktur kupon. Untuk setiap sudut kupon harus
dipoles untuk menghindari adanya konsentrasi tegangan yang mengarah pada
korosi karena retak tegangan. Karena jumlah kupon yang ditanam lebih dari
satu sehingga pemberian nomor seri menjadi sangat penting dalam
penganalisian.
Setelah proses preparasi sampel, data berat, dimensi dan nomor serinya
dicatat dan juga penduplikasian foto permukaan menjadi sangat penting untuk
data perbandingan setelah penanaman.
Tipe kupon memiliki ukuran dan konfigurasi yang berbeda-beda
tergantung alat yang digunakan (holder) atau keinginan dari pengguna.
Komposisi kupon terbuat dari 0.1 hingga 0.2 % baja karbon dalam bentuk
strip atau plate yang memiliki kemudahan dalam pengerjaannya.
Waktu penanaman harus dipertimbangkan ketika penginterpretasi data
kupon korosi. Waktu pendek penanaman (15 hingga 45 hari) sudah dapat
menunjukkan kecepatan korosi dari suatu logam [NACE RP0775]. Untuk
waktu penanaman yang panjang (60 hingga 90 hari) sering digunakan untuk
mendeteksi serangan pitting.
Setelah penanaman dilakukan dalan jangka tertentu, pembersihan dan
penghilangan produk korosi dan semua yang terekspos dipermukaan harus
dilakukan dengan hati-hati sebelum berat akhir diukur. Pembersihan dilakukan
secara mekanika,kimia atau keduanya. Untuk lebih jelasnya dalam pembersih
permukaan pada sampel kupon dijelaskan dalam ASTM G1,G4 dan NACE
RP0775.

Gambar 2.6 Kupon Yang Telah Terkorosi

Tabel 2.1 Reagen Yang Direkomendasi Untuk Membersihkan dan


Penghilangan Produk Korosi Dari Kupon Yang Terkorosi [3]

Material Zat Kimia Waktu Temperatur Keterangan

Besi Dan 20% NaOH,200g/L Hingga Dingin -


Baja Zinc Dust Or Bersih
Conc.HCl,50 G/L,
SnCl2+ 20 G/L
SbCl3

Baja 10% H2so4 Hingga Room 1400f Terhindar Dari


Tahan 10 % HNO3 Bersih (600c) Kontaminasi
Karat Klorida

Setelah berat akhir diukur kemudian dilakukan penghitungan


kecepatan korosi menggunakan MPY (mils penetration per year) dengan
rumus sebagai berikut
:
Dengan Pengkonversian unit Satuan laju korosi sebagai berikut

MPY adalah penghitungan kecepatan korosi yang paling populer di


Amesika serikat, meskipun ditambahkan penggunaan metric units dibeberapa
tahun belakangan ini. Konversi Ke Equivalent Metric Penetration Rates
sebagai berikut:
1 mpy = 0,0254 mm.yr = 25,4 m/yr = 2,90 nm/h = 0,805 pm/s

Tabel 2.2 perbandingan pada MPY dengan Equivalent metric-rate Expressions


Relative Mpy mm/yr m/yr nm/h pm/s
Corrosion
Resistance
Outstanding <1 < 0.02 < 25 <2 <1

Excelent 1-5 0.02-0.1 25-100 2-10 1-5

Good 5-20 0.1-0.5 100-500 10-50 20-50

Fair 20-50 0.5-1 500-1000 50-150 20-50

Poor 50-200 1-5 1000-5000 150-500 50-200

Unacceptable 200+ 5+ 5000+ 500+ 200+


Contoh perhitungan laju korosi dengan metode Weight Loss :
Spesimen baja karbon rendah dengan ukuran 0,2 x 0,1 x 0,03 m dipaparkan
pada lingkungan industri kimia. Dalam waktu 1 minggu, setelah dilakukan
produk korosinya dihilangkan, ternyata berat spesimen berkurang sebanyak
0,0006 kg. Hitunglah laju korosi dari spesimen tersebut ?
Penyelesaian :
1. Dik : Dimensi spesimen baja karbon rendah = 0,2 x 0,1 x 0,03 m
Ekposur time = 1 minggu = 168 jam
Weight loss = 0,0006 kg = 0,6 gram
Densitas baja karbon = 7,86 g/cm3