Anda di halaman 1dari 18

DI

S
U
S
U
N

OLEH :

NAJRA NABIILA HAJAR


KELAS : VIII A
8 ETNIS PROVINSI SUMATRA UTARA BESERTA ALAT MUSIKNYA

1. ETNIS MELAYU

Suku Melayu adalah nama yang menunjuk pada suatu kelompok yang ciri utamanya
adalah penuturan bahasa Melayu. Suku Melayu bermukim di sebagian besar Malaysia,
pesisir timur Sumatera, sekeliling pesisir Kalimantan, Thailand Selatan, serta pulau-pulau
kecil yang terbentang sepanjang Selat Malaka dan Selat Karimata. Di Indonesia, jumlah
suku Melayu sekitar 15% dari seluruh populasi, yang sebagian besar mendiami provinsi
Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan
Kalimantan Barat.

ALAT MUSIK MELAYU

Klasifikasi alat musik menurut sumber bunyi


1. Idiophone adalah alat musik yang sumber bunyinya berasal dari alat itu sendiri.
Contoh gambar alat music idiophone

2. Membranphone adalah alat musik yang sumber bunyinya berasal dari getaran
membran/kulit/selaput.
Contoh gambar alat music membranphone

3. Cordophone adalah alat musik yang sumber bunyinya berasal dari getar dawai atau senar.
Contoh alat music cordophone

4. Airophone adalah alat musik yang sumber bunyinya dari getaran udara.
Contoh alat music airophone

2. ETNIS BATAK TOBA


Batak Toba adalah suatu kesatuan kultural. Batak Toba tidak mesti tinggal diwilayah
geografis Toba, meski asal-muasal adalah Toba. Sebagaimana suku-suku bangsa lain, suku
bangsa Batak Tobapun bermigrasi kedaerah-daerah yang lebih menjanjikan penghidupan
yang labih baik. Contoh, mayoritas penduduk asli Silindung adalah marga-marga Hutabarat,
Panggabean, Simorangkir, Hutagalung, Hutapea dan Lumbantobing. Padahal ke-enam marga
tersebut adalah turunan Guru Mangaloksa yang adalah salah- seorang anak Raja Hasibuan
diwilayah Toba. Demikian pula marga Nasution yang kebanyakan tinggal wilayah
Padangsidimpuan adalah saudara marga Siahaan di Balige, tentu kedua marga ini adalah
turunan leluhur yang sama. Batak Toba sebagai kesatuan kultural pasti dapat menyebar ke
berbagai penjuru melintasi batas-batas geografis asal leluhurnya, si Raja Batak yakni
wilayah Toba yang secara spesifik ialah Desa Sianjur Mulamula terletak di lereng Gunung
Pusuk Buhit, kira-kira 45 menit berkendara dari Pangururan, Ibukota Kabupaten Samosir,
sekarang.

ALAT MUSIK BATAK TOBA

a. Oloan
Oloan adalah salah satu gung berpencu yang terdapat pada Batak Toba. Oloan
dimainkan secara bersamaan dengan tiga buah gung yang lain dalam satu ensambel,
sehingga jumlahnya empat buah, yang juga dimainkan oleh empat orang pemain.
Keempat gung ini biasa disebut dengan ogung, namun masing-masing penamaan ogung
ini dibedakan berdasarkan peranannya di dalam ensambel musik.
Gambar oloan

b. Doal
Doal juga adalah gong berpencu yang dimainkan secara bersahut-sahutan
dengan panggora dengan bunyi secara onomatopenya adalah kel sehingga apabila
dimainkan secara bersamaan dengan gong panggora akan kedengaran pok kel pok
kel dan seterusnya dengan ritem yang tidak berubah-ubah sampai kompisisi sebuah
gondang (lagu) habis.
Contoh gambar doal

c. Hesek
Hesek adalah instrumen musik pembawa tempo utama dalam ensambel musik
gondang sabangunan. Hesek ini merupakan alat musik perkusi konkusi. Hesek ini
terbuat dari bahan metal yang terdiri dari dua buah dengan bentuk sama, yaitu seperti
cymbal, namun ukurannya relatif jauh lebih kecil dengan diameter lebih kurang 10-15
cm, dan dua buah alat tersebut dihubungkan dengan tali. Namun sekarang ini alat musik
ini terkadang digunakan sebuah besi saja, bahkan kadang-kadang dari botol saja.
Contoh gambar hesek

d. Garantung
Garantung (baca : garattung) adalah jenis pukul yang terbuat dari wilahan kayu
(xylophone) yang terbuat dari kayu ingol (Latin: ) dan dosi. Garantung terdiri dari 7
wilahan yang digantungkan di atas sebuah kotak yang sekaligus sebagai resonatornya.
Masing-masing wilahan mempunyai nada masing-masing, yaitu 1 (do), 2 (re), 3 (mi), 4
(fa), 5 (so), 6 (la), dan 7 (si). Antara wilahan yang satu dengan wilahan yang lainnya
dihubungkan dan digantungkan dengan tali.
Contoh gambar garantung
Membanphone
a. Gordang
Gendang Batak Toba sering sekali disebut orang gondang atau taganing.
Memang ke dua unsur tersebut terdapat dalam gendang tersebut, hanya saja secara
detail bahwa gondang dan taganing meskipun keduanya adalah termasuk klasifikasi
membranofon dan bentuknya juga hampir sama (hanya perbedaan ukuran), namun
keduanya adalah berbeda.
Contoh gambar gordang

b. Taganing
Taganing adalah drum set melodis (drum-chime), yaitu terdiri dari lima buah
gendang yang gantungkan dalam sebuah rak. Bentuknya sama dengan gordang, hanya
ukurannya bermacam-macam. Yang paling besar adalah gendang paling kanan, dan
semakin ke kiri ukurannya semakin kecil. Nadanya juga demikian, semakin ke kiri
semakin tinggi nadanya.
Contoh gambar taganing

c. Odap
Odap adalah gendang dua sisi berbentuk konis. Odap juga terbuat dari bahan
kayu nangka dan kulit lembu serta tali pengencang/pengikat terbuat dari rotan. Ukuran
tingginya lebih kurang 34 37 cm, diameter membran sisi satu 26 cm, dan
diametermembran sisi 2 lebih kurang 12 14 cm.
Cara memainkannya adalah, bagian gendang dijepit dengan kaki, lalu dipukul
dengan alat pemukul, sehingga bunyinya menghasilkan suara dap, dap, dap, dan
seterusnya. Alat musik ini juga dipakai dalam ensambel gondang sabangunan.
Contoh gambar odap

Membranphone
a. Sarune Bolon
Sarune bolon (aerophone double reed) adalah alat musik tiup yang paling besar
yang terdapat pada masyarakat Toba. Alat musik ini digunakan dalam ensambel musik
yang paling besar juga, yaitu gondang bolon (artinya : ensambel besar). Sarune bolon
dalam ensambel berfungsi sebagai pembawa melodi utama. Dalam ensambel gondang
bolon biasanya hanya dimainkan satu buah saja. Pemainnya disebut parsarune.
Contoh gambar saune bolon

b. Sarune Bulu
Sarune bulu (sarune bambu) seperti namanya adalah sarune (aerophone-single
reed, seperti Clarinet) terbuat dari bahan bambu. Sarune ini terbuat dari satu ruas bambu
yang kedua ujungnya bolong (tanpa ruas) yang panjangnya kira-kira lebih kurang 10
12 cm, dengan diameter 1 2 cm.
Contoh gambar sarune bulu

c. Sulim
Sulim (Aerophone : side blown flute) adalah alat musik tiup yang terbuat dari
bambu seperti seruling atau suling. Sulim ini panjangnya berbeda-beda tergantung nada
dasar yang mau dihasilkan. Sulim ini mempunyai 6 lobang nada dengan jarak antara
satu lobang nada dengan lobang nada lainnya dilakukan berdasarkan pengukuran-
pengukuran tradisional.
Contoh gambar sulim

d. Ole-Ole
Ole-ole (Aerophone : multi-reed) adalah alat musik tiup yang sebenarnya
termasuk ke dalam jenis alat musik bersifat solo instrumen. Alat musik ini terbuat dari
satu ruas batang padi dan pada pangkal ujung dekat ruasnya dipecah-pecah sedemikian
rupa, sehingga pecahan batang ini menjadi alat penggetar udara sebagai penghasil bunyi
(multi lidah/reed).
Contoh gambar ole-ole
e. Sordam

Sordam (long flute) adalah salah satu alat musik Batak Toba yang terbuat
dari bambu, yang dimainkan dengan cara meniup dari ujungnya (up blown flute) dengan
meletakkan bibir pada ujung bambu secara diagonal.

Sordam memiliki enam lubang nada, yakni : di bagian atas dan satu di bagian
bawah, sedangkan lubang tiupnya merupakan ujung dari bambu tersebut.

Contoh gambar sordam


f. Talatoat
g. Balobat
h. Tulila

Kordofon
a. Hasapi
b. Sidideng (Arbab)
c. Panggepeng
d. Saga-saga
e. Ensambel

Ensambel gondang sabangunan ini terdiri dari satu buah sarune bolon
(Aeropon, double-reed), terkadang juga menggunakan sarune etek (sarune kecil yang
bentuknya lebih kecil dari sarune bolon sebagai pembawa melodi, satu set drum yang
disebut taganing (drum-chime), yaitu enam buah drum yang digantung pada satu buah
rak, dipukul oleh dua orang dengan stik.
Gondang ini adalah drum yang melodis, disamping sebagai pembawa ritem
gondang ini juga pembawa melodis. Empat buah gong, yaitu odap, panggora, doal dan
ihutan. Satu buah hesek, yaitu satu buah besi yang dipukul sebagai pembawa tempo.
Pada masyarakat Batak, status sosial mereka adalah dapat dikatakan tinggi dan
di hormati. Oleh sebab itu, pemain musik biasanya selalu mengambil tempat lebih tinggi
dari masyarakat pada umumya dalam satu upacara. Misalnya pada upacara mangalahat
horbo (upacara memotong kerbau), pemain musik di daerah Toba biasanya bermain
musik di rumah adat, sedangkan upacaranya sendiri dilaksanakan di halaman rumah
adat tersebut. Ini juga menggambarkan simbol, bahwa musisi itu juga statusnya di
hormati dan tinggi.
Ensambel gondang hasapi adalah ensambel musik dengan menggunakan hasapi
(long neck lute) sebagai pembawa melodi disertai alat musik sulim (aeropon, side-
blown flute). Hasapi biasanya digunakan dua buah, satu hasapi ende, yaitu hasapi
sebagai pembawa melodi dan satu lagi hasapi doal, yaitu hasapi sebagai pembawa
tempo.
Uning-uningan adalah satu ensambel yang menggunakan instrumen yang
dianggap lebih kecil dari dua ensambel musik diatas. Ensambel ini menggunakan alat
musik sebagai pembawa melodi garantung (sejenis xylophone), dipukul dengan
menggunakan dua buah stik. Stik ini tidak saja dipukul ke wilayah-wilayah, tetapi juga
sebagai pembawa tempo dengan memukul stik yang satu kebagian tangkai garantung
tersebut.

3. ETNIS BATAK MANDAILING


Suku Mandailing adalah suku bangsa yang mendiami Kabupaten Mandailing
Natal, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Tapanuli
Selatan, Kabupaten Labuhanbatu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kabupaten Labuhanbatu
Selatan, Kabupaten Asahan, dan Kabupaten Batubara di Provinsi Sumatera Utara beserta
Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat di Provinsi Sumatera Barat, dan
Kabupaten Rokan Hulu di Provinsi Riau. Mandailing merupakan kelompok masyarakat
yang berbeda dengan suku, Hal ini terlihat dari perbedaan sistem sosial, asal usul, dan
kepercayaan.

Pada masyarakat Minangkabau, Mandailing atau Mandahiliang menjadi salah


satu nama suku yang ada pada masyarakat tersebut.

ALAT MUSIK BATAK MANDAILING

1. Alat-alat musik tradisional Mandailing dapat diklasifikasikan sebagai berikut:


a. Gordang Sambilan

Membranofon : gordang sambilan dan gondang dua.


Aerofon : suling, salung, sordam, tulila, katoid, saleot, dan uyup-uyup.
Metalofon : ogung, momongan, doal, dan talisasayat.
Idiofon : etek, dongung-dongung, pior, gondang aek dan eor-eor.

b. Gondang Bulu

Kordofon : gordang tano dan gondang bulu

2. Repertoar musik tradisional (gondang) Mandailing :


1. Jolo-jolo Turun
2. Alap-alap Tondi
3. Moncak (Kutindik)
4. Raja-raja
5. Ideng-ideng
6. Tua
7. Sampuara Batu Magulang
8. Padang (Roba) Na Mosok
9. Mandailing
10. Pamulihon
11. Udan Potir
12. Porang
13. Sarama Datu
14. Sarama Babiat
15. Lima (Bombat)
16. Roto Sampedang
17. Aek Magodang (Touk)
18. Mamele Begu
19. Mangido U
20. Tortor Dll.

3. Ende (Nyanyian)
1. Ungut-ungut
3. Sitogol
4. Jeir
5. Bue-bue.

4. Ende-ende (Pantun, sastra lama)

5. Turi-turian (Cerita Bertutur)


1. Raja Gorga di Langit
2. Nan Sondang Milong-ilong
3. Sitapi Surat Tagan, dan lain-lain.

6. Logu (Leitmotivic)
1. Uyup-uyup
2. Opat-opat
3. Ende Panjang.

4. ETNIS KARO

Karo adalah salah Suku Bangsa yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera
Utara, Indonesia. Suku ini merupakan salah satu suku terbesar dalam Sumatera Utara. Nama
suku ini dijadikan salah satu nama Kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami
(dataran tinggi Karo) yaitu Tanah Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut
Bahasa Karo atau Cakap Karo. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah
serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.

Karo merupakan bagian dari silsilah kekerabatan Batak. Silsilah kekerabatan


Batak terdiri dari Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Simalungun, Batak Pak-Pak atau
Dairi, dan Batak Karo, dan Batak Angkola. Dalam perkembangannya, istilah Karo kerap
digunakan untuk merujuk pada Batak Karo.
ALAT MUSIK ETNIS KARO

a. Kulcapi
Kulcapi adalah salah satu alat musik tradisional budaya karo. Kulcapi hampir sama
dengan gitar akustik biasa hanya saja bedanya kulcapi hanya mempunyai 2 senar (1 dan
2), kulcapi tebuat dari bahan dasar kayu yang di ukir sedemikian rupa hingga
menghasilkan suara yang harmony.

b. Sarune.
1. Anak-anak sarune, terbuat dari daun kelapa dan embulu-embulu (pipa kecil) diameter
1 mm dan panjang 3-4 mm. Daun kelapa dipilih yang sudah tua dan kering. Daun
dibentuk triangel sebanyak dua lembar. Salah satu sudut dari kedua lembaran daun
yang dibentuk diikatkan pada embulu-embulu, dengan posisi kedua sudut daun
tersebut,
2. Tongkeh sarune, bagian ini berguna untuk menghubungkan anak-anak sarune.
Biasanya dibuat dari timah, panjangnya sama dengan jarak antara satu lobang nada
dengan nada yang lain pada lobang sarune,
3. ampang-ampang sarune, bagian ini ditempatkan pada embulu-embulu sarune yang
berguna untuk penampung bibir pada saat meniup sarune. Bentuknya melingkar
dnegan diameter 3 cm dan ketebalan 2 mm. Dibuat dari bahan tulang (hewan),
tempurung, atau perak,
4. batang sarune, bagian ini adalah tempat lobang nada sarune, bentuknya konis baik
bagian dalam maupun luar. Sarune mempunyai delapan buah lobang nada. Tujuh di
sisi atas dan satu di belakang. Jarak lobang 1 ke lobang adalah 4,6 cm dan jarak
lobang VII ke ujung sarune 5,6 cm. Jarak antara tiap-tiap lobang nada adalah 2 cm,
dan jarak lubang bagian belakang ke lempengan 5,6 cm.
5. gundal sarune, letaknya pada bagian bawah batang sarune. Gundal sarune terbuat
dari bahan yang sama dengan batang sarune. Bentuk bagian dalamnya barel,
sedangkan bentuk bagian luarnya konis. ukuran panjang gundal sarune tergantung
panjang batang sarune yaitu 5/9.
c. Gendang
Alat musik gendang adalah berfungsi membawa ritme variasi. Alat ini dapat diklasifikasi
ke dalam kelompok membranofon konis ganda yang dipukul dengan dua stik. Dalam
budaya musik Karo gendang ini terdiri dari dua jenis yaitu gendang singanaki (anak) dan
gendang singindung (induk). Gendang singanaki di tambahi bagian gerantung. Bagian-
bagian gendang anak dan induk adalah sama, yang berbeda adalah ukuran dan fungsi
estetis akustiknya

Bagian-bagian gendang itu adalah:

`
1. tutup gendang, yaitu bagian ujung konis atas. Tutup gendang ini terbuat dari kulit
napuh (kancil). Kulit napuh ini dipasang ke bingkai bibir penampang endang.
Bingkainya terbuat dari bambu.
2. Tali gendang lazim disebut dengan tarik gendang terbuat dari kayu
nangka(Artocarpus integra sp). Salah satu sampel contoh ukuran untuk bagian atas
gendang anak adalah 5 cm, diameter bagian bawah 4 cm dan keseluruhan 44 cm.
ukuran gendang kecil yang dilekatkan pada gendang anak, diameter bagian atas 4
cm, diameter bagian bawah 3 cm, dan panjang keseluruhan 11,5 cm. Alat pukulnya
(stik) terbuat dari kayu
3. jeruk purut. Alat pukul gendang keduanya sama besar dan bentuknya. Panjangnya 14
cm dan penampang dan penampung relatif 2 cm.
Untuk gendang indung, diameter bagian atas 5,5 cm, bagian bawah 4,5 cm, panjang
keseluruhan 45,5 cm. Bahan alat pukulnya juga terbuat dari kayu jeruk purut. Ukuran
alat pukul ini berbeda yaitu yang kanan penampangnya lebih besar dari yang kiri,
yaitu 2 cm untuk kanan dan 0,6 cm untuk kiri. Panjang keduanya sama 14 cm.
(Sumber: dari berbagai sumber)

5. ETNIS SIMALUNGUN

Batak Simalungun adalah salah sub Suku Bangsa Batak yang berada di provinsi
Sumatera Utara, Indonesia, yang menetap di Kabupaten Simalungun dan sekitarnya.
Beberapa sumber menyatakan bahwa leluhur suku ini berasal dari daerah India Selatan.
Sepanjang sejarah suku ini terbagi ke dalam beberapa kerajaan. Marga asli penduduk
Simalungun adalah Damanik, dan 3 marga pendatang yaitu, Saragih, Sinaga, dan Purba.
Kemudian marga marga (nama keluarga) tersebut menjadi 4 marga besar di Simalungun.

Orang Batak menyebut suku ini sebagai suku "Si Balungu" dari legenda hantu
yang menimbulkan wabah penyakit di daerah tersebut, sedangkan orang Karo menyebutnya
Timur karena bertempat di sebelah timur mereka.

ALAT MUSIK ETNIS SIMALUNGUN

1. Golongan Idiofon
a. Mongmongan, merupakan alat musik yang terbuat dari kuningan atau besi yang
memiliki pencu. Mongmongan ada dua macam yaitu, Mongmongan
sibanggalan danMongmongan sietekan.
b. Ogung, merupakan nama lain dari gong yang selama ini kita kenal. Ogung ada dua
macam yaitu ogung sibanggalan dan ogung sietekan.
c. Sitalasayak, adalah alat musik yang bentuknya seperti simbal yang ter terbuat dari
kuningan atau besi dan terdiri dari dua bilah yang sama bentuknya.
d. Garantung, merupakan alat musik yang terbuat dari kayu dan mempunyai
resonantor yang juga terbuat dari kayu. Garantung terdiri dari tujuh bilah yang
mempunyai nada berbeda.
e. Golongan Aerofon
a. Sarune Bolon, merupakan jenis alat musik tiup yang mempunyai dua lidah
(double reed) badannya terbuat dari silastom, nalihnyaq terbuat dari timah,
tumpak bibir terbuat dari tempurung. Lidah terbuat dari daun kelapa, dan
sigumbang terbuat dari bamboo, Sarune bolon dipergunakan sebagai pembawa
melodi.
b. Sarune Buluh, merupakan jenis alat musik tiup yang yang terdiri dari satu lidah
(single reed). Sarune buluh terbuat dari bambu, mempunyai tujuh lobang suara,
sebelah atas enam lobang dan sebelah bawah satu lobang.
c. Tulila, merupakan sejenis recorder yang terbuat dari bambu, Tulila dimainkan
secara vertikal.
d. Sulim, merupakan alat musik sejenis flute yang terbuat dari bambu.
e. Sordam, merupakan alat musik sejenis flute yang terbuat dari bambu yang
dimainkan miring (oblique flute).
f. Saligung, merupakan salah satu alat musik sejenis flute yang terbuat dari
bambu hanya saja ditiup dengan hidung.
g. Ole-ole, adalah merupakan jenis alat musik tiup yang yang terdiri dari satu
lidah (single reed).badannya terbuat dari batang padi dan resonantornya terbuat
dari daun enau atau daun kelapa.
Hodong-hodong, merupakan alat musik sejenis genggong, genggong jenis alat
musik yang dibuat dari bilah, besi, kawat, dan sebagainya yang dibunyikan dengan
ditekankan di mulut lalu dipetik dengan telunjuk. Hodong-hodong dipergunakan sebagai
alat komunikasi seorang pemuda kepada kekasihnya dan sebagai hiburan.
Ingon- ingon, merupakan alat musik di ladang yang ditiup oleh angin. Angin
memutar kincir sehingga bambu berbunyi. Ingon-ingon terbuat dari sebilah kayu
sebagai kincir dan bambu sebagai penghasil bunyi.
1. Golongan Membranofon
a. Gonrang Sidua-dua, merupakan gendang yang badannya terbuat dari kayu
ampirawas dan kulitnya dari kulit kancil atau kulit kambing. Gonrang Sidua-
dua terdiri dari dua gendang.
b. Gonrang sipitu-pitu/Gonrang bolon, merupakan gendang yang badannya
terbuat dari kayu dan kulitnya terbuat dari kulit lembu, kambing, dan kulit
kancil. Pada bagian atas terdapat kulit dan pada bagian bawah ditutupi
kayu. Gendangnya terdiri dari tujuh buah gendang .
2. Golongan Kordofon
a. Arbab, adalah alat musik yang terbuat dari : tabung resonantordari labu atau
tempurung, leher terbuat dari kayu atau bamboo, lempeng atas terbuat dari kulit
kanci atau kulit biawak, senar terbuat dari benang dan alat penggesek terbuat
dari ijuk enau yang masih muda.
b. Husapi, merupakan alat musik sejenis lute yang mempunyai leher. Husapi
terbuat dari kayu dan mempunyai dua senar.
c. Jatjaulul/Tengtung, merupakan alat musik yang terbuat dari bambu yang
senarnya sebanyak dua atau tiga buah. Dimainkan dengan memukul senarnya.

2. Ensembel Musik Tradisional Simalungun


A. GONRANG SIDUA-DUA SIMALUNGUN
Gonrang Sidua-dua adalah seperangkat musik tradisional simalungun yang
terdiri dari satu buah sarune bolon, dua buah gonrang, dua buah gonrang mongmongan
dan dua buah ogung. Gonrang dalam kebudayaan simalungun disebut juga
dengan mardagang yang artinya merantau atau berpindah-pindah. Pemain Gonrang
Sidua-Dua disebut Panggual. Lagu - lagu gonrang disebut Gual.
Membunyikan/memainkan Gonrang disebut Pahata.
Gual gonrang sidua-dua dibedakan atas dua bagian :
1. Topapon, yaitu gual yang menggunakan dua buah gendang dan pola ritmenya sama.
2. Sitingkahon/Siumbakon, yaitu gual yang menggunakan dua buah gendang yang
masing-masing mempunyai pola ritme yang berbeda. Apabila pembawa ritme dasar
oleh gonrang sibanggalan dan gonrang sietekan sebagai pembawa ritme lain, maka
disebut sitingkahon. Apabila pembawa ritme dasar oleh gonrang sietekan dan
gonrang sibanggalan sebagai pembawa ritme lain, maka disebut siumbakon.

Penggunaan Gonrang Sidua-Dua


Dalam upacara religi, maksudnya suatu upacara pemujaan atau penyembahan maupun
pemanggilan roh yang baik dan pengusiran roh yang jahat. Gonrang sidua-dua
digunakan dalam acara :
1. Manombah/memuja, yaitu untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
2. Marangir, yaitu suatu acara untuk membersihkan badan dari perbuatan tidak baik
dan roh-roh jahat.
3. Ondos Hosah, yaitu semacam ritual tolak bala yang dilakukan oleh desa atau
keluarga.
4. Manabari/manulak bala, yaitu mengusir mara bahaya dari suatu desa atau dari diri
seseorang.
5. Marbah-bah, yaitu suatu untuk menjauhkan seseorang dari penyakit ataupun
kematian.
6. Mangindo pasu-pasu, yaitu meminta berkat agar tetap sehat dan mendapat rezeki.
7. Manogu losung/hayu, yaitu acara untuk mengambil kayu untuk dijadikan lumpang
atau tiang rumah.
8. Rondang bintang, yaitu suatu acara setelah panen besar.
Dalam upacara adat, yaitu upacara dalam hubungan antara manusia dengan manusia.
Gonrang sidua-dua digunakan dalam acara :
1. Mamongkot rumah, yaitu acara memasuki rumah baru.
2. Patuekkon, yaitu acara untuk membuat nama seseorang.
3. Marhajabuan, acara pemberkatan pada suatu perkawinan agar perkawinan tersebut
diwarnai kebahagiaan.
4. Mangiligi, yaitu suatu acara yang diadakan untuk menghormati seseorang yang
meninggal dunia yang sudah memiliki anak cucu.
5. Bagah-bagah ni sahalak, yaitu suatu acara yang diadakan karena seseorang ingin
membuat pesta.
Dalam acara malasni uhur atau acara kegembiraan, Gonrang sidua-dua digunakan dalam
acara :
1. Mangalo-alo tamu, yaitu suatu acara untuk menyambut tamu penting dari luar
daerah.
2. Marilah, merupakan suatu acara muda-mudi yang menyanyi bersama.
3. Pesta malasni uhur, yaitu suatu acara kegembiraan yang diadakan suatu keluarga.
4. Peresmian, bangunan-bangunan, yaitu suatu acara kegembiraan meresmikan
bangunan.
5. Hiburan, dan lain-lain.

6. ETNIS PAKPAK

Suku Batak Pakpak adalah salah satu suku bangsa yang terdapat di Pulau
Sumatera Indonesia. Tersebar di beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara dan Aceh,
yakni di Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Humbang Hasundutan,
Tapanuli Tengah (Sumatera Utara), Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam
(Provinsi Aceh)

Dalam administrasi pemerintahan, suku Pakpak banyak bermukim di wilayah


Kabupaten Dairi di Sumatera Utara yang kemudian dimekarkan pada tahun 2003 menjadi
dua kabupaten, yakni:

1. Kabupaten Dairi (ibu kota: Sidikalang)


2. Kabupaten Pakpak Bharat (ibu kota: Salak)

Suku bangsa Pakpak kemungkinan besar berasal dari keturunan tentara kerajaan
Chola di India yang menyerang kerajaan Sriwijaya pada abad 11 Masehi.

ALAT MUSIK PAK PAK

Kalondang Pakpak
Posisi musik tradisional sangatlah jelas dan terpandang dalam budaya Pakpak. Pada
upacara-upacara tradisi, musik, terutama genderang, mempunyai peranan penting: menjadi
bagian dari sebuah prosesi adat, semisal pernikahan dan kematian. Dalam setiap
menjalankan upacara adat, suku Pakpak menempatkan musik sebagai alat memperlancar
komunikasi.
Orang Pakpak memiliki ensambel musik, baik tetabuhan (drum chime), yakni
genderang si sibah (gendang sembilan), yang terdiri dari sembilan gendang satu sisi yang
ditempatkan dalam satu rak. Gendang yang dipukul dengan stik (pemukul) ini selalu dipakai
untuk mengiringi upacara adat. Di suku Pakpak upacara adat selalu terbagi dua: untuk
keriaan, dan sebaliknya, untuk kedukaan. Musik (genderang) memegang peranan penting
dalam keduanya.
Selain drum chime, orang Pakpak juga memiliki alat musik sejenis xylophone, yang
mereka sebut kalondang. Ciri khas kalondang ini adalah dimainkan dengan mengikuti
melodi yang sama dengan vokal, tapi si pemain selalu punya ruang untuk berimprovisasi.
Kemudian ada juga kecapi, serta gong (aerofon, recorder). Lalu lobat dan sordam
(end-blown flute) sebagai instrumen solo. Terkadang digunakan juga memang dalam
ensambel musik.
Lobat biasanya dimainkan perkemenjen (penyadap getah kemenyan). Selain
memainkan alat musik ini lazimnya mereka juga menyanyikan odong-odong. Senandung ini
liriknya diciptakan sendiri, biasanya bermuatan keluh kesah hidup, atau kerinduan kepada
anak-istri di kampung. Odong-odong selalu dinyanyikan di atas pohon, sambil menyadap
kemenyan dengan perkakas khusus; perkakas sadap itu yang dipakai sebagai musik iringan
dengan memukul-mukulkannya ke pohon kemenyan.
Sordam lebih banyak digunakan seseorang saat rehat tatkala mermakan
(menggembalakan ternak di padang rumput). Di samping alat musik tersebut masih ada
ensambel musik genderang si pitu, yang terdiri dari 7 buah gendang (drum set) yang
diletakkan pada satu rak.
Sordam juga digunakan sebagai medium untuk memasuki ruang berdimensi lain
agar bisa berkomunikasi dengan roh para leluhur. Orang pintar yang sedang memanggil
arwah misalnya, banyak yang menggunakan sordam saat pembukaan upacara. Biasanya
setelah memainkan alat tiup bersuara sangat pilu ini mereka akan bisa memasuki dimensi
lain. Jawaban dari alam lain pun bisa didapat. Acara seperti ini sering diadakan saat mencari
orang hilang.
Dalam upacara duka, genderang berperan penting. Berbagai jenis irama gendang
akan disesuaikan dengan kebutuhan saat upacara. Bunyi-bunyian tetabuh itu baku sifatnya;
tanpa improvisasi atau variasi bunyi. Ini berbeda dengan musik saat keriaan. Biasanya,
untuk mengiringi tatak (tarian), genderang digabung dengan kalondang. Yang terakhir ini,
lebih leluasa diimprovisasikan; pemainnya biasanya banyak memanfaatkan ruang kosong di
antara notasi dengan menyusupkan bunyi-bunyian varian. Bahkan dalam perkembangannya,
lagu-lagu populer Pakpak pun bisa diiringi genderang yang dikawinkan dengan kalondang.
Yang menjadi ciri khas musik Pakpak adalah nada-nadanya kebanyakan minor.
Tentu saja susunan notasinya menjadi cukup romantis.
Di luar musik-musik yang pakem atau standar ini, khazanah musik tradisional
Pakpak masih berisikan ragam bentuk nyanyian yang dilantunkan di acara-acara penting.
Salah satunya, ya odong-odong tadi: nyanyian perkemenjen yang notasinya selalu minor,
lirik-liriknya selalu pilu, sarat rindu dan harapan.
Nyanyian merupakan unsur penting dalam folklor Pakpak. Sitagandera, misalnya,
sebuah cerita yang wajib diketahui semua orang Pakpak, selalu disajikan dalam bentuk
nyanyian. Kalimat datar dalam bentuk tutur, sebutan lainnya: narasi, hanya pengantar cerita;
selebihnya nyanyian. Tidak semua orang bisa menceritakan Sitagandera dengan baik dan
sempurna. Sebab tak semua orang mampu melantunkan ceritanya.

Musik Populer
Tentu saja orang Pakpak mengapresiasi musik populer juga. Sebagian pesar
pencipta lagu Pakpak populer tak jelas alias no name (nn). Terlepas dari itu, apa yang
diciptakan para komposer Pakpak sejak dulu sudah mencirikan kepakpakan mereka. Selain
menggunakan lirik berbahasa Pakpak, nada minor yang mendominasi menjadi cirinya.
Karya generasi awal (tidak ada catatan ihwal batas tahun yang pasti) seperti lagu Pantar
Silang, Tiris Mo Lae Bengkuang, Teddoh Mulak, Tangis Anak Melumang, dan Tanoh
Simsim cukup melegenda. Dari generasi berikutnya muncul Cikala Le Pongpong, lagu yang
akhirnya melampaui wilayah Pakpak dan menembus dunia industri.
Belakangan musik tradisional Pakpak mulai tergerus oleh kemajuan teknologi,
Alhasil pada upacara kematian pun genderang sudah berganti menjadi keyboard tunggal.
Genderang dimainkan tanpa menghadirkan genderang dan penabuhnya. Caranya? Ya
suaranya yang sudah direkam diprogram ke keyboard. Itu yang dibunyikan.
Musik populer Pakpak masih tertinggal dari segi teknologi dan kemampuan
mengolah komposisi serta aransemen kekinian. Jika dibandingkan dengan musik populer
suku lain di negeri ini, Pakpak jauh ketinggalan. Bisa jadi hal ini disebabkan karena tak
adanya pembuka jalan. Di sisi lain para praktisi musik populer Pakpak itu sendiri terpaku
pada trend musik populer kawasan paling dekat: Toba dan Karo. Jadilah irama Melayu
(dangdut) merajai musik populer Pakpak, atau pelantunan berformat trio, sebagaimana pada
musik-musik pop Toba

7. ETNIS PESISIR

suku Pasisi atau suku Pesisi, adalah salah satu suku yang terdapat di kota Sibolga
dan Tapanuli Tengah. Masyarakat suku Batak Pesisir ini, hidup di sepanjang pesisir pantai
sebelah barat Sibolga dan Tapanuli Tengah.
Suku Batak Pesisir ini sebenarnya berawal dari suku Batak Toba, Mandailing dan
Angkola yang telah menetap di Sibolga dan Tapanuli Tengah, sejak beratus-ratus tahun yang
lalu. Setelah sekian lama terjadi pembauran dari ketiga suku Batak ini, maka datanglah
imigran lain yang berasal dari Minangkabau dan Melayu dari pesisir Timur Sumatra, lalu
terjadi perkawinan-campur di antara ke 5 suku bangsa ini. Dari percampuran ke 5 suku
bangsa ini lah terbentuk suatu komunitas yang disebut sebagai suku Pesisir. Pada awalnya
mereka berbicara menggunakan bahasa Batak, tetapi setelah berabad-abad tercampur dengan
budaya Minang dan Melayu, maka akhirnya bahasa merekapun berubah dan berganti
menjadi bahasa Pesisir, seperti yang mereka ucapkan sehari-hari saat ini.

ALAT MUSIK ETNIS PESISIR

a. Bansi

Bentuk instrumen bansi hampir sama dengan saluang pauah, hanya saja bansi
sedikit lebih kecil. Awal perkembangan instrumen musik bansi adalah di daerah Pesisir
Selatan (Painan), Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dalam perkembangnya
sekarang, intrumen bansi sudah menyebar keberbagai daerah lain di Minangkabau. Bansi
mempunyai 7 (tujuh) lobang nada dengan ketentuan: 6 (enam) buah lobang nada terletak
pada bagian sebelah atas, dan 1 (satu) buah lobang nada terletak pada bagian belakang
(antara lobang nada kelima dan keenam). Instrumen Bansi lebih banyak dimainkan secara
tunggal, dan oleh masyarakat juga digunakan untuk hiburan pribadi, sebagai pelipur lara
seperti sering dimainkan di sawah-sawah, pondok-pondok oleh anak gembala. Pada saat
sekarang, bansi lebih sering digunakan untuk keperluan orkestra karawitan Minangkabau,
komposisi musik, musik iringan tari dan tidak jarang digunakan sebagai backgraund
suatu pertunjukan teater.

b. Sarunai Pesisir

Sarunai pesisir, dikatakan demikian karena pada masa dahulunya instrumen ini
berkembang di daerah pesisir selatan Minangkabau. Karena perkembangan kebudayaan
serta pendukungnya sendiri Sarunai Pesisir ini juga mengalami penyebaran ke daerah lain
di Minangkabau. Bentuk Sarunai Pesisir sama dengan jenis sarunai yang terdapat di
daerah Sungai Pagu. Perbedaannya terletak pada bentuk bagian induk sarunai. Sarunai
pesisir terdiri dari lima sambungan dan tiga buah lobang nada. Sedangkan Sarunai Sungai
Pagu terdiri dari dua sambungan dan empat buah lobang nada.

Fungsi dari Sarunai Pesisir adalah sebagai media hiburan yang dimainkan pada
kegiatan gotong royong; dimulai dari tempat berkumpul sampai pada lokasi kegiatan
gotong royong dilaksanakan. Kadangkala Sarunai Pesisir ini juga diiringi dengan
Talempong Pacik.
Contoh gambar sarunai pesisir
8. ETNIS NIAS
Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam bahasa
aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha =
manusia) dan pulau Nias sebagai "Tan Niha" (Tan = tanah).

Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan
yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrak yang mengatur segala
segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam
budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar
yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. Kasta : Suku Nias
mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah
"Balugu". Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar
dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-
hari.

Nomor Inventaris : 03-0373


Nama / Name
Nias : Gndra
Indonesia : Gendang
English : Drum
Asal / Origin : Orahili-Ulunoyo, Nias Tengah
Keaslian / Originality : Original
Deskripsi / Description :
This is bitten in a big party such as wedding party, etc.
Terbuat dari batang pohon besar yang bulat yang telah dikeruk bagian dalamnya, hingga
tembus sampai ke ujung sebelah. Kemudian, kedua sisinya ditutup dengan kulit kambing,
diikat dengan rotan di sekeliling pinggirnya. Dipergunakan pada upacara besar (Owasa),
pesta pernikahan dsb.
66

Nomor Inventaris : 03-0436


Nama / Name
Nias : Aramba
Indonesia : Gong
English : Gong
Asal / Origin : Hilimbuasi, Nias Tengah
Keaslian / Originality : Original
Deskripsi / Description :
This is bitten in a big party such as wedding party, etc.
Terbuat dari bahan kuningan. Dipergunakan pada saat ada upacara besar (Owasa), pesta
pernikahan dsb. Tinggi 13,5 cm, tebal 0,5 cm dengan diameter 44 cm.

Nomor Inventaris : 03-0557


Nama / Name
Nias : Faritia
Indonesia : Canang
English : Gong
Asal / Origin : Telukdalam
Keaslian / Originality : Original
Deskripsi / Description :
This is bitten in a big party such as wedding party, etc.
Terbuat dari bahan kuningan. Dipergunakan pada saat ada upacara besar (Owasa), pesta
pernikahan dsb. Tinggi 8,5, cm, tebal 0,4 cm dengan diameter 26 cm.
68
Nomor Inventaris : 03-2900
Nama / Name
Nias : Ndruri Mbewe
Indonesia :
English :
Asal / Origin : Hilizaria, Nias Tengah
Keaslian / Originality : Original
Deskripsi / Description :
Musical instrument
Alat musik gesek. Dibuat dari bahan logam. Panjang 15,8 cm dan lebar 2,7 cm.
Nomor Inventaris : 03-1448
Nama / Name
Nias : Lagia
Indonesia :
English :
Asal / Origin : Orahili-Ulunoyo
Keaslian / Originality : Original
Deskripsi / Description :
Musical instrument.
Alat musik gesek. Panjang 25,2 cm, Tinggi 96 cm, tebal 1,3 cm dengan diameter14,8 cm.