Anda di halaman 1dari 6

Ulsan Kerogen

1. Apa itu Kerogen


Ahli geokimia mendefinisikan kerogen sebagai bagian dari unsur organic sedimen pada batuan
sedimen yang tidak larut pada pelarut organic biasa. Kerogen mempunyai komposisi dari
berbagai material organic, termasuk alga, pollen, wood, vitrinite, dan material tanpa struktur.
Tipe kerogen yang terdapat pada batuan menentukan tipe hidrokarbon yang dihasilkan pada
batuan tersebut. Tipe kerogen yang berbeda mengandung jumlah hidrogen relative terhadap
carbon dan oksigen yang berbeda. Kandungan hydrogen pada kerogen adalah factor pengontrol
oil atau gas yang dihasilkan dari reaksi hidrokarbon primer
2. Kerogen Quality
Tipe kerogen menentukan kualitas source rock. Berdasarkan komposisi unsur-unsur kimia yaitu
karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O), pada awalnya kerogen dibedakan menjadi 3 tipe
utama yaitu kerogen tipe I, tipe II, dan tipe III (Tissot dan Welte, 1984 dalam Killops dan
Killops, 2005), yang kemudian dalam penyelidikan selanjutnya ditemukan kerogen tipe IV
(Waples, 1985). Masing-masing tipe dicirikan oleh jalur evolusinya dalam diagram van
Krevelen.
Kerogen Tipe 1 (highly oil prone - oil prone)
Kerogen Tipe I memiliki perbandingan atom H/C tinggi( l,5), dan O/C rendah (< 0,1). Tipe
kerogen ini sebagian berasal dari bahan organik yang kaya akan lipid (misal akumulasi material
alga) khususnya senyawa alifatik rantai panjang. Kandungan hidrogen yang dimiliki oleh tipe
kerogen I sangat tinggi, karena memiliki sedikit gugus lingkar atau struktur aromatik.
Kandungan oksigennya jauh lebih rendah karena terbentuk dari material lemak yang miskin
oksigen. Kerogen tipe ini menunjukkan kecenderungan besar untuk menghasilkan hidrokarbon
cair atau minyak.
Kerogen tipe I berwarna gelap, suram dan baik berstruktur laminasi maupun tidak berstruktur.
Kerogen ini biasanya terbentuk oleh butiran yang relatif halus, kaya material organik, lumpur
anoksik yang terendapkan dengan perlahan-lahan (tenang), sedikit oksigen, dan terbentuk pada
lingkungan air yang dangkal seperti lagoondan danau.
Kerogen Tipe II (oil and gas prone)
Kerogen Tipe II memiliki perbandingan atom H/C relatif tinggi (1,2 1,5), sedangkan
perbandingan atom O/C relatif rendah (0,1 0,2). kerogen tipe ini dapat menghasilkan minyak
dan gas, tergantung pada tingkat kematangan termalnya. Kerogen tipe II dapat terbentuk dari
beberapa sumber yang berbeda beda yaitu alga laut, polen dan spora, lapisan lilin tanaman,
fosil resin, dan selain itu juga bisa berasal dari lemak tanaman. Hal ini terjadi akibat adanya
percampuran antara material organik autochton berupa phytoplankton (dan kemungkinan juga
zooplankton dan bakteri) bersama-sama dengan material allochton yang didominasi oleh material
dari tumbuh-tumbuhan seperti polen dan spora. Percampuran ini menunjukkan adanya gabungan
karakteristik antara kerogen tipe I dan tipe III.
Kandungan hidrogen yang dimiliki kerogen tipe II ini sangat tinggi, sedangkan kandungan
oksigennya jauh lebih rendah karena kerogen tipe ini terbentuk dari material lemak yang miskin
oksigen. Kerogen tipe II tersusun oleh senyawa alifatik rantai sedang (lebih dari C25) dalam
jumlah yang cukup besar dan sebagian besar naftena (rantai siklik). Pada kerogen tipe ini juga
sering ditemukan unsur belerang dalam jumlah yang besar dalam rantai siklik dan kemungkinan
juga dalam ikatan sulfida. Kerogen tipe II yang banyak mengandung belerang secara lebih lanjut
dapat dikelompokkan lagi menjadi kerogen tipe IIS dengan persen berat belerang (S) organik 8
14% dan rasio S/C > 0,04 (Orr, 1986 dalam Killops dan Killops, 2005).
Kerogen Tipe III (gas prone)
Kerogen Tipe III memiliki perbandingan atom H/C yang relatif rendah (< 1,0) dan perbandingan
O/C yang tinggi (> 0,3). Kandungan hidrogen yang dimiliki relatif rendah, karena terdiri dari
sistem aromatik yang intensif, sedangkan kandungan oksigennya tinggi karena terbentuk dari
lignin, selulosa, fenol dan karbohidrat. Kerogen Tipe III terutama berasal dari tumbuhan darat
yang hanya sedikit mengandung lemak dan zat lilin. Kerogen tipe ini menunjukkan
kecenderungan besar untuk membentuk gas (gas prone).
Kerogen Tipe IV (inert)
Kerogen tipe IV terutama tersusun atas material rombakan berwarna hitam dan opak. Sebagian
besar kerogen tipe IV tersusun atas kelompok maseral inertinit dengan sedikit vitrinit. Kerogen
tipe ini tidak memiliki kecenderungan menghasilkan hidrokarbon sehingga terkadang kerogen
tipe ini dianggap bukan kerogen yang sebenarnya. Kerogen ini kemungkinan terbentuk dari
material tumbuhan yang telah teroksidasi seluruhnya di permukaan dan kemudian terbawa ke
lingkungan pengendapannya. Kerogen tipe IV hanya tersusun oleh senyawa aromatik.
Tabel Tipe Kerogen

Kerogen Predominant hydrocarbon Amount of Typical depositional


type potential hydrogen environment

I Oil prone Abundant Lacustrine

II Oil and gas prone Moderate Marine

III Gas prone Small Terrestrial

Neither (primarily composed


IV None Terrestrial(?)
of vitrinite) or inert material
3. Pembentukan Kerogen

Proses perubahan material organik menjadi kerogen dan kemudian minyak dan gas bumi terbagi
dalam tiga tahapan yaitu: diagenesis, katagenesis dan metagenesis.

Diagenesis
Proses diagenesis material organik yang diakibatkan oleh proses biologis lebih dominan terjadi
dalam sedimen yang baru terendapkan (recently deposited) dan biasa terjadi pada kedalaman
hingga 2 km serta temperatur maksimal 75oC. Bahkan, proses mikrobiologis ini juga terjadi
sebelum material organik terendapkan. Dalam proses ini, material organik akan mengalami
beberapa proses sebagai berikut:

Eliminasi gugus fungsi seperti gugus karboksil dan hidroksil dari molekul utama, umumnya
dalam bentuk CO2 dan H2O, sehingga penurunan rasio O/C lebih besar dibandingkan
penurunan rasio H/C.Proses diagenesis ini mengubah material organik menjadi kerogen,
yaitu material organik yang memiliki sifat tidak larut dalam air, larutan basa dan asam (non-
oksidator) dan berbagai pelarut organik (benzena, metanol, toluen).
Berkurangnya senyawa tak jenuh dibandingkan senyawa jenuh ekivalennya karena proses
hidrogenasi ikatan rangkap.
Kelimpahan senyawa alifatik lebih banyak dibandingkan senyawa aromatik.

Molekul dengan rantai pendek berkurang kelimpahannya dibandingkan molekul rantai


panjang.
Hidrolisis molekul kompleks menghasilkan fragmen molekul turunan yang dapat
bergabung dengan molekul lain menghasilkan molekul baru yang tidak terdapat dalam biota
asli. Sebagai contoh, phytol yang merupakan produk degradasi klorofil-a, dan fenol yang
merupakan produk degradasi dari berbagai senyawa aromatik terkondensasi membentuk
senyawaan fenol-phytol.
Dalam lingkungan dengan kandungan sulfur yang tinggi, adisi H2S hasil bakteri
pereduksi dapat membentuk gugus tiol pada beberapa senyawa seperti isoprenoid.
Kondensasi berbagai molekul membentuk makromolekul yang kompleks.

Katagenesis
Pada proses diagenesis, yang terjadi adalah proses kondesasi pembentukan makromolekul yang
kompleks (kerogen) dari bahan pembentuknya yang lebih sederhana. Sebaliknya pada proses
katagenesis ini makromolekul yang kompleks terurai menjadi molekul yang lebih sederhana
yang lebih kaya akan hidrogen. Fasa yang kaya akan hidrogen ini bersifat mobile dan dapat
bermigrasi keluar dari batuan sumber.
Perbedaan lain dengan diagenesis adalah proses katagenesis ini merupakan proses fisik yang
dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur. Katagenesis terjadi pada rentang kedalaman 3-4 km
dengan kisaran temperatur sekitar 50-150oC dan tekanan sebesar 300 sampai 1500 bar. Pada
pengaruh lingkungan ini, kerogen akan semakin terkompaksi (memadat) dan molekulnya
mengatur ulang menjadi lebih rapat dan teratur. Pada proses ini atom-atom O, N dan S dalam
bentuk gugus fungsi karbonil, karboksil, ester dan amina juga tereliminasi dari molekul kerogen.
Secara keseluruhan, kerogen mengalami penurunan rasio H/C yang lebih besar dibanding
penurunan rasio O/C akibat pembebasan hidrokarbon, sebagaimana terlihat pada diagram van
Krevelen.

Diagram van Krevelen. Tanda panah menunjukkan arah


evolusi komposisi material organik selama proses
diagenesis dan pematangan termal (katagenesis dan metagenesis)

Gambar berikut memperlihatkan proses pembentukan minyak dan gas sebagai fungsi terhadap
temperatur. Selama proses katagenesis ikatan yang pertama kali putus adalah ikatan heteroatom
karena umumnya ikatan heteroatom lebih lemah daripada ikatan C-C. Hasil pemutusan ikatan
tersebut membentuk molekul dengan rantai karbon berkisar antara C15 C33 dan dalam
beragam struktur: n-alkana, aromatis dan sikloalkana (gambar 2). Molekul yang telah kehilangan
gugus fungsinya disebut fosil geokimia atau biomarker. Pada akhir proses katagenesis (transisi
ke metagenesis), yaitu pada temperatur sekitar 150-180oC proses pemutusan berjalan lebih lanjut
menghasilkan hidrokarbon dengan rantai yang lebih pendek ( C5) yang dapat berupa gas dan
sedikit hidrokarbon dengan rantai > C5 yang disebut kondensat sehingga sering juga disebut
sebagai zona gas basah (wet gas).

Pembentukan hidrokarbon sebagai fungsi terhadap kedalaman dan temperatur. Komposisi


hidrokarbon yang terbentuk terlihat pada grafik di sebelah kanan

Metagenesis
Pada temperatur yang lebih tinggi proses pembentukan minyak telah berhenti dan ikatan C-C
terputus dalam proses yang disebut cracking. Pada proses ini, molekul yang terbentuk dari
pemutusan hidrokarbon tersebut adalah CH4 (metana) atau gas kering (dry gas) dan residual
kerogen (C, grafit) seperti terlihat pada gambar di bawah. Proses ini terjadi pada temperatur di
atas 150C.
Proses pematangan kerogen hingga pembentukan metana dan residual kerogen