Anda di halaman 1dari 2

Bisakah penis patah? mungkin pertanyaan ini pernah terlintas di kepala Anda.

Mengingat yang
kita tahu bahwa tidak terdapat tulang pada penis sehingga mungkin kebanyakan pria berpikir
'tongkat ajaib' ini tidak bisa patah. Sayangnya, di dalam dunia medis telah ditemukan sebuah
cedera yang disebut "fraktur penis" atau penis patah.
Fraktur penis merupakan kejadian langka, namun hal ini benar-benar dapat terjadi. Cedera ini
pertama kali dilaporkan pada tahun 1930-an dan sampai saat ini telah dilaporkan ribuan kasus
penis patah terjadi di seluruh dunia.

Apakah Fraktur Penis itu ?

Fraktur penis adalah robeknya tunika albuginea penis (salah satu selaput pembungkus penis)
yang terjadi sewaktu penis dalam keadaan ereksi. Pada saat ereksi, lapisan tunika albuginea
menjadi tipis dan elastisitasnya berkurang. Jika saat ereksi tersebut penis tidak sengaja
dibengkokkan atau mendapat cedera tumpul (tertekuk secara tidak sengaja pada saat
berhubungan sex) yang melebihi elastisitasnya maka akan terjadi robekan pada tunika albuginea.
Saat patah, biasanya penis dalam keadaan ereksi, jadi bagian yang robek atau patah itu langsung
membengkak dan timbul nyeri hebat. Patah penis otomatis membuat pria tidak dapat melakukan
aktivitas seks karena penis membengkok dan nyeri.

Kapan fraktur penis bisa terjadi?

Fraktur penis biasanya terjadi ketika penis terbentur tulang kemaluan atau daerah sekitar tulang
kemaluan (perineum) pasangan selama aktivitas seksual. Berguling di tempat tidur dengan penis
keadaan ereksi di tengah malam, masturbasi dan tergesa-gesa mengenakan pakaian saat penis
ereksi menjadi penyebab dari fraktur penis. Fraktur penis paling sering terjadi ketika posisi
seksual dengan wanita berada di atas, saat ereksi di posisi ini dapat menyebabkan penis cedera.
Saat pemeriksaan dokter dapat melihat adanya penis bengkak dan penis mengalami
deviasi/bengkok (bahkan ada yang berbentuk huruf S). Memar dapat terjadi di bagian perut
bawah, skrotum dan di sekitar penis. Dalam keadaan penis lemas (tidak ereksi), maka tidak akan
terjadi fraktur penis.

Bagaimana Penanganannya?
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa (sesi tanya jawab) antara dokter dengan
pasien, dimana didapatkan riwayat trauma pada penis serta adanya kelainan pada pemeriksaan
fisik penis pasien. Pemeriksaan tambahan/penunjang seperti MRI dapat dilakukan untuk
menunjang diagnosa fraktur penis, akan tetapi jarang dilakukan oleh karena mahal. Pemeriksaan
cavernosography dapat dikerjakan pada kasus fraktur penis yang tidak khas atau riwayat trauma
yang tidak jelas.

Apabila anda mengalami hal ini segeralah berobat ke dokter mengingat komplikasi yang bisa
timbul seperti infeksi, ereksi menjadi bengkok dan timbul rasa nyeri saat ereksi tentunya ini akan
mengurangi kualitas hidup pasien terutama saat berhubungan intim dengan pasangannya.
Apabila keluhannya minimal dokter akan memberikan terapi anti-inflamasi, sedatif, kompres
dingin, bebat tekan dan elevasi penis. Tetapi saat ini beberapa ahli bedah urologi lebih memilih
untuk segera melakukan pembedahan dengan cara menjahit bagian yang robek. Hal ini dapat
mengembalikan kemampuan ereksi seperti semula. Setelah yang robek atau patah dijahit, sekitar
6 minggu penis perlu diistirahatkan (tidak berhubungan intim/masturbasi). Biasanya setelah
dijahit, penis dapat kembali normal.
Tapi, harus melalui pengobatan yang benar agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
99% persen pria yang telah mengalami fraktur penis tidak memiliki masalah saat berhubungan
intim, tetapi 5% dari mereka tidak mendapatkan bentuk penis seperti semula.
Kasus fraktur penis memang jarang terjadi. Dalam setahun, hanya sekitar 12 orang yang
mengalami fraktur penis/penis patah. Itu terjadi karena berhubungan intim tidak berhati-
hati. Pesan yang dapat diambil dari artikel ini adalah lebih baik berhubungan intim dengan lebih
aman dan santai. Karena semua hal yang dilakukan terburu-buru dapat menimbulkan bahaya.