Anda di halaman 1dari 34

KABUPATENSOLOKSELATAN PENATALAKSANAAN PULPITIS

No. Dokumen :
No. Revisi : 00
SOP Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Pulpitis adalah kondisi inflamasi pulpa persisten yang disebabkan oleh meluasnya karies
sehingga mengenai pulpa muda. Inflamasi pulpa ini bersifat simtomatik atau asimtomatik
disebabkan suatu stimulus noksius.
Pasien mengalami sakit yang hebat terutama bila ada perubahan temperatur kearah dingin,
makan makanan manis atau asam, makanan masuk kedalam kavitas, penghisapan, dan sikap
berbaring. Rasa sakit berlanjut walau penyebab dihilangkan, menusuk, tajam, dan
menyentak-nyentak pada kondisi parah yang menyebabkan pasien tidak dapat tidur.
2. Tujuan a. Menentukan gigi yang menjadi penyebab rasa sakit dengan pemeriksaan
subjektif/anamnesa dan pemeriksaan objektif (intra oral dan ekstra oral).
b. Menegakkan diagnosa
c. Menentukan perawatan tindak lanjut yang dapat dilakukan di Puskesmas.
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi

1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan


2. UU Praktek Kedokteran 2004
3. Permenkes 128 Tahun 2004
4. Diagnosis dan Terapi Penyakit Gigi dan Mulut. LSKI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah-
langkah 1. Menyiapkan pasien pada posisi yang tepat untuk dilakukan pemeriksaan.
2. Pemeriksaan subjektif/anamnesa yang berisi pertanyaan pada pasien tentang perihal
keluhan utama, lokasi keluhan, kapan mulai timbulnya dan kronologi
perkembangannya serta gejala yang menyertai keluhan.
3. Pemeriksaan objektif intra oral yang dilakukan dengan bantuan alat dasar berupa:
kaca mulut, sonde, pinset dan ekskavator.
4. Menegakkan diagnosa
5. Melakukan penatalaksanaan pulpitis berupa perawatan endodontik, bila perlu dapat
diberikan analgetik dan antibiotik.

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli Gigi
2. Apotek

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.
KABUPATENSOLOKSELATAN PENATALAKSANAAN NEKROSIS
PULPA
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Nekrosis Pulpa adalah kematian pulpa sebagian atau seluruhnya disebabkan oleh inflamasi
atau trauma injuri. Perubahan warna mengindikasikan terjadinya nekrosis walaupun pasien
tidak mengeluhkan apa-apa. Pada pemeriksaan klinis akan ditemukan kavitas yang sangat
besar menembus ruang pulpa.

2. Tujuan a. Menentukan gigi yang menjadi penyebab rasa sakit dengan pemeriksaan
subjektif/anamnesa dan pemeriksaan objektif (intra oral dan ekstra oral).
b. Menegakkan diagnosa
c. Menentukan perawatan tindak lanjut yang dapat dilakukan di Puskesmas.

3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.


4. Referensi
1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. UU Praktek Kedokteran 2004
3. Permenkes 128 Tahun 2004
4. Diagnosis dan Terapi Penyakit Gigi dan Mulut. LSKI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah-
langkah 1. Menyiapkan pasien pada posisi yang tepat untuk dilakukan pemeriksaan.
2. Pemeriksaan subjektif/anamnesa yang berisi pertanyaan pada pasien tentang perihal
keluhan utama, lokasi keluhan, kapan mulai timbulnya dan kronologi
perkembangannya serta gejala yang menyertai keluhan.
3. Pemeriksaan objektif intra oral yang dilakukan dengan bantuan alat dasar berupa:
kaca mulut, sonde, pinset dan ekskavator.
4. Menegakkan diagnosa
5. Melakukan penatalaksanaan nekrosis pulpa berupa perawatan endodontik.

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli Gigi
2. Apotek

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.
KABUPATENSOLOKSELATAN PENATALAKSANAAN GINGIVITIS
No. Dokumen :
No. Revisi : 00
SOP Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Gingivitis adalah suatu peradangan pada gusi. Gingivitis dapat terjadi pada interdental
papil, tepi gusi, gusi cekat, atau kombinasinya. Gingivitis ditandai dengan adanya
perubahan warna gusi menjadi lebih merah atau pucat, mudah berdarah, gusi membengkak
sehingga permukaannya menjadi mengkilat dan licin, konsistensi lunak, terasa tidak
nyaman, dan dapat disertai bau mulut.

2. Tujuan a. Menentukan gigi yang menjadi penyebab rasa sakit dengan pemeriksaan
subjektif/anamnesa dan pemeriksaan objektif (intra oral dan ekstra oral).
b. Menegakkan diagnosa
c. Menentukan perawatan tindak lanjut yang dapat dilakukan di Puskesmas.

3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.


4. Referensi
1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. UU Praktek Kedokteran 2004
3. Permenkes 128 Tahun 2004
4. Diagnosis dan Terapi Penyakit Gigi dan Mulut. LSKI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Menyiapkan pasien pada posisi yang tepat untuk dilakukan pemeriksaan.
langkah 2. Pemeriksaan subjektif/anamnesa yang berisi pertanyaan pada pasien tentang perihal
keluhan utama, lokasi keluhan, kapan mulai timbulnya dan kronologi
perkembangannya serta gejala yang menyertai keluhan.
3. Pemeriksaan objektif intra oral yang dilakukan dengan bantuan alat dasar berupa:
kaca mulut, sonde, pinset dan ekskavator.
4. Menegakkan diagnosa
5. Melakukan penatalaksanaan gingivitis berupa skeling, root planing, kuretase,
disertai instruksi pemeliharaan kebersihan mulut.

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli Gigi

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.
KABUPATENSOLOKSELATAN PENATALAKSANAAN
PERIODONTITIS
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Periodontitis adalah merupakan kelanjutan dari gingivitis yang melibatkan epitel
perleketan, ligamen periodontal, sementum, dan tulang alveolar.
Tanda klinis periodontitis serupa dengan tanda klinis gingivitis ditambah dengan
terbentuknya poket periodontal. Tanda klinis penyerta lainnya adalah halitosis, resesi gusi,
kegoyangan, migrasi, atau ekstrusi gigi.

2. Tujuan a. Menentukan gigi yang menjadi penyebab rasa sakit dengan pemeriksaan
subjektif/anamnesa dan pemeriksaan objektif (intra oral dan ekstra oral).
b. Menegakkan diagnosa
c. Menentukan perawatan tindak lanjut yang dapat dilakukan di Puskesmas.

3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.


4. Referensi
1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. UU Praktek Kedokteran 2004
3. Permenkes 128 Tahun 2004
4. Diagnosis dan Terapi Penyakit Gigi dan Mulut. LSKI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah-
langkah 1. Menyiapkan pasien pada posisi yang tepat untuk dilakukan pemeriksaan.
2. Pemeriksaan subjektif/anamnesa yang berisi pertanyaan pada pasien tentang perihal
keluhan utama, lokasi keluhan, kapan mulai timbulnya dan kronologi
perkembangannya serta gejala yang menyertai keluhan.
3. Pemeriksaan objektif intra oral yang dilakukan dengan bantuan alat dasar berupa:
kaca mulut, sonde, pinset dan ekskavator.
4. Menegakkan diagnosa.
5. Melakukan penatalaksanaan periodontitis berupa menghilangkan plak dan kalkulus
secara mekanik melalui skeling, root planing, penggerindaan gigi lawan ada kontak
prematur, kuretase, serta lakukan instruksi pemeliharaan kebersihan mulut.

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli Gigi

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.
KABUPATENSOLOKSELATAN PENATALAKSANAAN KARIES
DENTIN
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Karies dentin adalah karies yang disertai dengan adanya kavitas sampai lapisan dentin.
Disebabkan karna proses demineralisasi oleh asam.
Terlihat email yang terbuka, rapuh dan mudah patah, bila diperiksa lesi pada dentin lebih
luas daripada lesi permukaan email. Biasanya pasien mengeluh giginya ngilu, bila
dilewatkan sonde akan tersangkut.

2. Tujuan a. Menentukan gigi yang menjadi penyebab rasa sakit dengan pemeriksaan
subjektif/anamnesa dan pemeriksaan objektif (intra oral dan ekstra oral).
b. Menegakkan diagnosa
c. Menentukan perawatan tindak lanjut yang dapat dilakukan di Puskesmas.

3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.


4. Referensi
1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. UU Praktek Kedokteran 2004
3. Permenkes 128 Tahun 2004
4. Diagnosis dan Terapi Penyakit Gigi dan Mulut. LSKI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Menyiapkan pasien pada posisi yang tepat untuk dilakukan pemeriksaan.
langkah 2. Pemeriksaan subjektif/anamnesa yang berisi pertanyaan pada pasien tentang
perihal keluhan utama, lokasi keluhan, kapan mulai timbulnya dan kronologi
perkembangannya serta gejala yang menyertai keluhan.
3. Pemeriksaan objektif intra oral yang dilakukan dengan bantuan alat dasar
berupa: kaca mulut, sonde, pinset dan ekskavator.
4. Menegakkan diagnosa
5. Melakukan penatalaksanaan karies dentin berupa penambalan dengan Glass
Ionomer atau komposit. Bila dentin sudah tipis sebelum ditambal dilakukan
dahulu rawatan Pulp Capping.
6. Diagram Alir (jika
dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli Gigi

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.
KABUPATENSOLOKSELATAN PROSEDUR SKELING DENGAN
SCALER ULTRASONIC
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :1
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Skeling adalah pembersihan plak, kalkulus, dan stain secara mekanik dari permukaan
mahkota dan akar gigi.
Scaler ultrasonic adalah alat pembersih yang bekerja melepaskan plak, kalkulus dan
staindengan memanfaatkan getaran ultrasonik.
2. Tujuan a. Menentukan gigi yang menjadi penyebab rasa sakit dengan pemeriksaan
subjektif/anamnesa dan pemeriksaan objektif (intra oral dan ekstra oral).
b. Menegakkan diagnosa
c. Menentukan perawatan tindak lanjut yang dapat dilakukan di Puskesmas.

3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.


4. Referensi
5. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
6. UU Praktek Kedokteran 2004
7. Permenkes 128 Tahun 2004
8. Diagnosis dan Terapi Penyakit Gigi dan Mulut. LSKI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 6. Menyiapkan pasien pada posisi yang tepat untuk dilakukan pemeriksaan.
langkah 7. Pemeriksaan subjektif/anamnesa yang berisi pertanyaan pada pasien tentang
perihal keluhan utama, lokasi keluhan, kapan mulai timbulnya dan kronologi
perkembangannya serta gejala yang menyertai keluhan.
8. Pemeriksaan objektif intra oral yang dilakukan dengan bantuan alat dasar
berupa: kaca mulut, sonde, pinset dan ekskavator.
9. Menegakkan diagnosa
10. Melakukan penatalaksanaan nekrosis pulpa berupa perawatan endodontik.

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli Gigi
2. Apotek

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.
6. Diagram Alir (jika
dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli BP
2. Poli KIA/KB
3. Poli Lansia
4. Poli Gigi
5. IGD
6. Apotek

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.

KABUPATENSOLOKSELATAN PERESEPAN OBAT,


PEMESANAN DAN
PENGELOLAAN OBAT
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Resep adalah permintaan tertulis dokter dan dokter gigi kepada Apoteker untuk
menyediakan dan menyerahkan obat kepada pasien sesuai peraturan yang berlaku.

Pemesanan adalah upaya permintaan obat dan bahan medis habis pakai (BMHP) oleh
Apoteker sesuai dengan perencanaan kebutuhan yang telah dibuat ke Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah
setempat.

Pengelolaan obat adalah salah satu kegiatan pelayanan kefarmasian yang dimulai dari
perencanaan, permintaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian,
pencatatan dan pelaporan serta pemantauan dan evaluasi.
2. Tujuan 1. Memenuhi kebutuhan pasien dalam pengobatan
2.Menjamin kelangsungan ketersediaan dan keterjangkauan obat dan BMHP yang efisien,
efektif dan rasional, meningkatkan kompetensi/kemampuan tenaga kefarmasian,
mewujudkan sistem informasi manajemen, dan melaksanakan pengendalian mutu
pelayanan.
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Pedoman Penerapan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 1997
3. Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 2001
4. Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Depkes RI tahun 2002
5. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.
Depkes RI tahun 2003
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
7. Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Depkes RI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Peresepan obat untuk pasien dilakukan oleh dokter an dokter gigi mengacu kepada
langkah daftar formularium obat-obatan yang ada di Puskesmas.
2. Pemesanan obat dilakukan oleh Apoteker Puskesmas kepada kepala Instalasi
Farmasi Kabupaten/Kota dengan melampirkan form LPLPO. Pemesanan obat
dilakukan pertriwulan dan sewaktu jika terjadi kekosongan obat.
3. Kegiatan pengelolaan obat dan BMHP meliputi kegiatan perencanaan, permintaan,
penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, pencatatan dan
pelaporan, serta pemantauan dan evaluasi.
4. Perencanaan kebutuhan obat dan BMHP di Puskesmas setiap periode dilaksanakan
oleh Ruang Farmasi di Puskesmas secara berjenjang (bottom-up) dengan
menyediakan data LPLPO.
5. Proses perencanaan dilakukan dengan memperhitungkan pemakaian selama 18
bulan ditambahkan 20% nya untuk buffer stock dan waktu tunggu obat.
6. Permintaan obat berupa data pemakaian obat dengan menggunakan Laporan
Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) diajukan kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan dan kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Solok Selatan.

PERESEPAN OBAT,
PEMESANAN DAN
PUSKESMAS
PAKAN RABAA
PENGELOLAAN OBAT dr. KUSHARNI
NIP. 198106102010012029
No. Dokumen :

SPO
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman : 2/2

7. Penerimaan obat dilakukan oleh petugas farmasi Puskesmas dari Instalasi Farmasi
Kabupaten sesuai dengan permintaan yang telah diajukan.
8. Petugas penerimaan wajib melakukan pengecekan terhadap obat dan BMHP yang
diserahkan, ditandatangani oleh petugas penerima, dan diketahui oleh Pimpinan
Puskesmas. Bila tidak memenuhi syarat, maka petugas penerima dapat mengajukan
keberatan.
9. Penyimpanan obatdan BMHP bertujuan agar mutu obat yang tersedia di Puskesmas
dapat dipertahankan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
10. Penyimpanan obat dan BMHP dilakukan dengan mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut :
a. Bentuk dan jenis sediaan
b. Stabilitas (suhu, cahaya, kelembaban)
c. Mudah atau tidaknya meledak/terbakar
d. Narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus
11. Pendistribusian obat dan BMHP bertujuan untuk memenuhi kebutuhan obat sub
unit pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas dengan jenis, mutu,
jumlah dan waktu yang tepat.
12. Pendistribusi obat dan BMHP ke sub-sub unit Puskesmas dilakukan dengan cara
penyerahan obat sesuai kebutuhan (floor stock).
13. Pengendalian obat dan BMHP bertujuan agar tidak terjadi kelebihan dan
kekosongan obat di unit pelayanan Puskesmas.
14. Pencatatan dan pelaporan bertujuan untuk :
a. Bukti bahwa pengelolaan obat dan BMHP telah dilakukan.
b. Sumber data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian
c. Sumber data untuk pembuatan laporan
15. Pemantauan dan evaluasi pengelolaan obat dan BMHP dilakukan secara periodik
untuk mengendalikan dan menghindari terjadinya kesalahan dalam pengelolaan
obat dan BMHP sehingga dapat menjaga kualitas maupun pemerataan pelayanan.
6. Diagram Alir (jika
dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli BP
2. Poli KIA/KB
3. Poli Lansia
4. Poli Gigi
5. IGD
6. Apotek

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.

KABUPATENSOLOKSELATAN PENCEGAHAN PEMBERIAN


OBAT KADALUARSA,
PELAKSANAAN FIFO & FEFO,
KARTU STOK/KENDALI
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Obat kadaluarsa adalah obat-obatan yang telah masa ketahanannya dimana terjadi
perubahan visual dan fungsi zat aktifnya menjadi tidak baik lagi untuk digunakan dalam
pengobatan.

FIFO (First In First Out) adalah pengaturan dimana barang yang pertama kali datang harus
pertama pula dikeluarkan dari penyimpanannya.

FEFO (First Expire First Out) adalah pengaturan dimana barang yang masa kadaluarsanya
dekat harus dikeluarkan terlebih dahulu dari penyimpanannya.

Kartu stok/kendali adalah kartu yang memuat data setiap mutasi obat dan BMHP yang telah
dilakukan.
2. Tujuan 1. Menjaga tidak terjadinya pemberian obat kadaluarsa.
2. Menjaga siklus mutasi obat dan BMHP selalu teratur.
3. Memudahkan kontrol kualitas dan kuantitas obat dan BMHP.
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Pedoman Penerapan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 1997
3. Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 2001
4. Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Depkes RI tahun 2002
5. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.
Depkes RI tahun 2003
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
7. Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Depkes RI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Untuk menjaga tidak terjadinya pemberian obat kadaluarsa maka petugas Instalasi
langkah Farmasi Puskesmas melakukan pemeriksaan waktu kadaluarsa obat pada setiap
awal bulan.
2. Petugas Instalasi Farmasi juga akan melakukan pengecekan terhadap jumlah yang
tertera di kartu stok dengan fisik obat.
3. Data pemeriksaan waktu kadaluarsa dikumpulkan dan direkapitulasi.
4. Data rekapitulasi akan disampaikan kepada Kepala Instalasi Farmasi Kabupaten,
apakah ada obat yang dapat diretur untuk diganti dengan obat yang masa
kadaluarsanya lebih panjang.
5. Jika tidak ada pengganti obat dengan masa kadaluarsa yang lebih panjang maka
obat dapat digunakan hingga masa kadaluarsanya atau diserahkan kembali ke
Instalasi Farmasi Kabupaten untuk ditindaklanjuti.
6. Untuk mencegah agar jangan obat mendekati masa kadaluarsa maka gunakan obat
yang masa kadaluarsanya pendek terlebih dahulu dan yang datang pertama kali
sehingga siklus mutasi obat dapat teratur dan mengurangi resiko obat kadaluarsa.
7. Kartu stok/kendali digunakan untuk mencatat mutasi obat (penerimaan,
pengeluaran, hilang, rusak, kadaluarsa).
PENCEGAHAN PEMBERIAN
OBAT KADALUARSA,
PUSKESMAS
PELAKSANAAN FIFO & FEFO, dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA KARTU STOK/KENDALI NIP. 198106102010012029

No. Dokumen :

SPO
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman : 2/2

8. Tiap lembaran kartu stok/kendali hanya diperuntukkan mencatat data mutasi 1


(satu) jenis obat.
9. Tiap baris data hanya diperuntukkan mencatat 1 (satu) kegiatan mutasi obat
10. Informasi mutasi obat dicatat pada saat transaksi.
11. Terdapat perhitungan pada kolom persediaan obat
12. Semua informasi obat yang tertulis pada kartu stok adalah data yang terbaru dan
benar
13. Kartu stok diletakkan dekat pada masing-masing item obat dan BMHP yang
tersimpan pada rak.
14. Pencacahan fisik barang dilakukan secara periodik sebulan sekali.
15. Data pada kartu stok digunakan untuk menyusun laporan, perencanaan, pengadaan,
distribusi dan sebagai pembanding terhadap keadaan fisik obat pada tempat
penyimpanan.
6. Diagram Alir (jika
dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Instalasi Farmasi Puskesmas
2. Apotek
8. Rekaman Historis
No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan
Tgl.

KABUPATENSOLOKSELATAN PERESEPAN PSIKOTROPIKA


DAN NARKOTIKA
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang
berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang
menyebabkan perubahan pada aktifitas mental dan perilaku.

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis
maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,
hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan
ketergantungan.
2. Tujuan Sebagai acuan bagi petugas dalam melayani peresepan psikotropika dan narkotika
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU No. 5 tahun 1997
2. UU No. 22 tahun 1997
5. Prosedur / Langkah- 1. Petugas obat melakukan pemeriksaan administrasi terhadap kelengkapan resep
langkah 2. Pemberian obat psikotropika dan narkotika dapat dierahkan berdasarkan resep asli
dari rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, apotek lainnya dan dokter.
3. Salinan resep psikotropika dan narkotika yang baru dilayani sebagian atau belum
dilayani sama sekali hanya boleh dilayani oleh apotek yang menyimpan resep asli.
4. Resep yang mengandung narkotika :
a. Harus ditulis tersendiri
b. Tidak boleh ada iterasi (ulangan)
c. Dituliskan nama pasien, tidak boleh untuk pemakaian sendiri
d. Alamat pasien ditulis dengan jelas
e. Aturan pakai ditulis dengan jelas

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait Poli BP
2. Poli KIA/KB
3. Poli Lansia
4. Poli Gigi
5. IGD
6. Apotek

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.

KABUPATENSOLOKSELATAN PENGGUNAAN OBAT YANG


DIBAWA SENDIRI OLEH
PASIEN/KELUARGA
(OBAT DARI RUMAH PASIEN
RAWAT INAP)
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Obat dari rumah pasien rawat inap adalah obat yang dibawa seniri oleh pasien atau keluarga
pasien pada saat pasien berobat dan dirawat di Puskesmas
2. Tujuan Sebagai acuan bagi petugas dalam menangani obat dari rumah pasien rawat inap
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Pedoman Penerapan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 1997
3. Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 2001
4. Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Depkes RI tahun 2002
5. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.
Depkes RI tahun 2003
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
7. Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Depkes RI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Perawat IGD/Rawatan menjelaskan kepada pasien/keluarga mengenai kebijakan


langkah dan prosedur obat-obat yang dibawa dari rumah
2. Perawat IGD/Rawatan menanyakan kepada pasien/keluarga mengenai ada/tidaknya
obat yang dikonsumsi sebelumnya dan dibawa dari rumah.
3. Perawat akan menginformasikan ke dokter tentang obat yang dibawa pasien dari
rumah untuk diskrining oleh dokter apakah obat dilanjutkan atau tidak berdasarkan
ketentuan yang sudah ditetapkan. Kemudian obat tersebut didata kedalam formulir
rekonsiliasi obat dan daftar obat yang dibawa dari rumah. Formulir tersebut harus
ditandatangani oleh dokter yang melakukan skrining.
4. Obat-obat yang dibawa dari rumah diserahkan oleh keluarga pasien kepada perawat
untuk disimpan dan formulir tersebut ditandatangani oleh pasien/keluarga pasien
dan perawat.
5. Perawat membawa lobat tersebut untuk diverifikasi oleh petugas farmasi
6. Petugas farmasi mengecek obat pasien berdasarkan kriteria yang telah ditentukan,
yakni keutuhan kemasan, keaslian obat dengan yang ada di pasaran dan tanggal
kadaluarsa.
7. Jika ada obat yang tidak sesuai kriteria verifikasi, maka obat dipisahkan dan diberi
keterangan tidak boleh digunakan pada formulir verifikasi dan label obatnya.
8. Petugas farmasi menandatangani formulir tersbut dan obat disimpan di depo
farmasi secara terpisah yaitu dengan diberikan plastik dan diletakkan di bukal obat
pasien.
9. Untuk obat-obat yang sama dengan obat pada terapi di Puskesmas, maka obat dari
rumah dapat digunakan selama pasien dirawat di Puskesmas.
10. Pada saat pasien pulang, obat dikembalikan kepada pasien/keluarga pasien dengan
memperlihatkan tanda terima yang ditandatangai pasien/keluarga pasien dan
perawat serta mengisi formulir pengembalian obat dari rumah.
PENGGUNAAN OBAT YANG
DIBAWA SENDIRI OLEH
PASIEN/KELUARGA
PUSKESMAS
PAKAN RABAA
(OBAT DARI RUMAH PASIEN dr. KUSHARNI
NIP. 198106102010012029
RAWAT INAP)
No. Dokumen :

SPO
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman : 2/2

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. IGD
2. Ruang Rawat Inap
3. Apotek
8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.
KABUPATENSOLOKSELATAN PENGAWASAN DAN
PENGENDALIAN
PENGGUNAAN PSIKOTROPIKA
DAN NARKOTIKA
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Pengawasan penggunaan psikotropika dan narkotika adalah suatu proses dalam menjaga
penggunaan psikotropika dan narkotika tetap dalam fungsi terapeutiknya bagi pasien
sehingga tidak terjadi resiko atau efek lain pada pasien atas penggunaannya.

Pengendalian penggunaan psikotropika dan narkotika adalah suatu proses dalam menjaga
agar jumlah psikotropik dan narkotika selalu tersedia untuk pelayanan kefarmasian, tidak
mengalami kekosongan dan mendekati waktu kadaluarsa.
2. Tujuan Sebagai acuan bagi petugas dalam melakukan pengawasan dan pengendalian penggunaan
psikotropika dan narkotika.
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU No. 5 tahun 1997
2. UU No. 22 tahun 1997
5. Prosedur / Langkah- 1. Obat-obatan psikotropika dan narkotika diresepkan oleh dokter sesuai indikasi
langkah medisnya dengan rentang terapi yang ditentukan oleh dokter yang meresepkan.
2. Apoteker memberikan informasi kepada pasien/keluarga pasien untuk
menggunakan obat psikotropika dan narkotika hingga habis dan tidak boleh
disimpan untuk penggunaan sewaktu.
3. Apoteker memberikan edukasi kepada pasien bahwa obat psikotropika dan
narkotika hanya boleh digunakan oleh pasien yang bersangkutan.
4. Pasien/keluarga pasien diminta untuk menginformasikan kepada apoteker/dokter
jika ditemukan reaksi setelah penggunaan obat psikotropika dan narkotika oleh
pasien.
5. Jika pasien mengalami reaksi setelah penggunaan obat psikotropika dan narkotika,
maka petugas farmasi/apoteker melaporkannya dengan menggunakan form
pelaporan efek samping obat.
6. Stok psikotropika dan narkotika di Puskesmas harus dikontrol dengan baik agar
obat selalu tersedia dan tidak pula mengalami kelebihan sehingga beresiko
kadaluarsa.

PENGAWASAN DAN
PENGENDALIAN
PUSKESMAS
PENGGUNAAN PSIKOTROPIKA dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA DAN NARKOTIKA NIP. 198106102010012029

No. Dokumen :

SPO
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman : 2/2

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli BP
2. Poli KIA/KB
3. Poli Gigi
4. Poli Lansia
5. IGD/Rawatan
6. Apotek

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.
KABUPATENSOLOKSELATAN PENYIMPANAN OBAT
No. Dokumen :
No. Revisi : 00
SOP Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Penyimpanan obat adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan cara
menempatkan obat-obatan dan bahan medis habis pakai (BMHP) yang diterima pada tempat
yang dinilai aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak obat dan BMHP.
2. Tujuan Tujuan penyimpanan obat adalah :
1. Memelihara mutu obat
2. Menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab
3. Menjaga kelangsungan persediaan
4. Memudahkan pencarian dan pengawasan
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Pedoman Penerapan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 1997
3. Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 2001
4. Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Depkes RI tahun 2002
5. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.
Depkes RI tahun 2003
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
7. Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Depkes RI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Sistem penyimpanan obat di Puskesmas dilakukan berdasarkan stabilitas dan sifat
langkah kimia, bentuk sediaan, generik atau nama dagang, alfabet, dan alat kesehatan
2. Obat yang stabil pada suhu kamar disimpan di rak-rak berdasarkan bentuk sediaan,
generik atau nama dagang, alfabetis dan disusun sesuai ukuran dan bentuk yang
disesuaikan dengan ketentuan khusus yaitu :
- Obat yang memiliki beberapa kekuatan sediaan dijauhkan jaraknya
dengan tempat obat yang lain
- Obat-obatan golongan narkotika disimpan di lemari dua pintu dengan
double lock dan masing-masing kunci dipegang oleh petugas farmasi.
- Obat psikotropika disimpan di rak terkunci
- Obat injeksi disimpan dalam tempat terhindar dari cahaya matahari
- Bahan berbahaya dan beracun (B3) disimpan dalam lemari khusus
(flammable cabinet untuk yang mudah terbakar dan corrosive cabinet
untuk yang mengiritasi).
- Obat-obat golongan elektrolit pekat disimpan dilemari terpisah dan
terkunci, diberi label kuning ditiap kemasan sebagai
warning/peringatan.
- Produk nutrisi baik enteral (susu) dan parenteral (infus) disimpan
secara terpisah pada kondisi ruangan yaitu dibawah suhu 30 0C
3. Obat yang tidak stabil pada suhu kamar disimpan di lemari es (suhu 2-8 0 C), untuk
vaksin polio ketika dimasukkan ke lemari es ditandai tanggal masuknya.
4. Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) disimpan pada rak khusus alat kesehatan
5. Larutan kontras disimpan dilemari terkunci yang diletakkan di unit terkait
6. Reagen untuk keperluan laboratorium langsung didistribusikan ke laboratorium
setelah diterima oleh petugas farmasi dari dinas kesehata.
7. Penyimpanan dan pengelolaan obat-obat yang sudah memasuki masa kadaluarsa
mengikuti SPO pengelolaan obat yang mengdekati kadaluarsa. Pada saat
pengambilan atau memasukkan obat, lakukan pencatatan pada kartu stok.
PENYIMPANAN OBAT
PUSKESMAS No. Dokumen : dr. KUSHARNI

SPO
PAKAN RABAA No. Revisi : 00 NIP. 198106102010012029
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman : 2/2

8. Untuk obat dalam jumlah besar disusun diatas palet atau papan pengganjal untuk
menghindari agar obat tidak bersentuhan langsung dengan lantai untuk menjaga
stabilitas sediaan obat.
9. Obat dalam dan obat luar disimpan terpisah
10. Lakukan pengecekan suhu ruangan (25-30 0 C) dan lemari es (2-80 C) dengan
mengisi form checklispengontrol suhu ruangan penyimpanan dengan lengkap setiap
harinya pada saat jam datang dan jam pulang oleh petugas.
11. Bila terjadi penyimpangan suhu segera laporkan kepada pimpinan Puskesmas untuk
ditindak lanjuti.
12. Sistem pengeluaran obat menggunakan prinsip FEFO (First Expire First Out) dan
FIFO (First In First Out) serta dicatat di kartu stok oleh petugas farmasi.
13. Pemantauan stok obat dilakukan melalui sistem pengecekan stok fisik dan kartu
stok secara manual.
6. Diagram Alir (jika
dibutuhkan)
7. Unit Terkait Instalasi Farmasi Puskesmas
8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.
KABUPATENSOLOKSELATAN PEMBERIAN OBAT KEPADA
PASIEN DAN PELABELAN
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Pemberian obat adalah kegiatan yang dilakukan oleh petugas farmasi untuk menyerahkan
obat kepada pasien yang menerima resep
2. Tujuan Mengetahui tata cara pemberian obat kepada pasien
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Pedoman Penerapan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 1997
3. Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 2001
4. Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Depkes RI tahun 2002
5. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.
Depkes RI tahun 2003
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
7. Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Depkes RI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Penyerahan obat pasien rawat jalan/poli dilakukan oleh Apoteker dan dapat
langkah digantikan oleh Asisten Apoteker atau petugas yang telah ditunjuk pimpinan jika
Apoteker tidak berada ditempat.
2. Sebelum penyerahan dan pemberian obat dilakukan identifikasi pasien sesuai
standar yang berlaku di Puskesmas Pakan Rabaa.
3. Petugas apotek mengemas obat alam wadah yang sesuai (plastik obat) sehingga
pasien dapat membawa pulang obat.
4. Petugas apotek memberi etiket dan label obat yang jelas pada kemasan mencakup
nama obat, dosis, cara pemakaian obat dan frekuensi penggunaannya.
6. Diagram Alir (jika
dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli BP
2. Poli KIA/KB
3. Poli Gigi
4. Poli Lansia
5. IGD/Rawatan
6. Apotek

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.

KABUPATENSOLOKSELATAN PEMBERIAN INFORMASI


PENGGUNAAN OBAT
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Pemberian informasi penggunaan obat adalah kegiatan yang dilakukan oleh petugas apotek
dalam memberikan setiap informasi berkaitan dengan obat yang harus diketahui oleh pasien
dengan benar.
2. Tujuan Mengetahui tata cara pemberian informasi penggunaan obat kepada pasien secara akurat,
tidak bias, faktual, terkini, mudah dimengerti, etis dan bijaksana.
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Pedoman Penerapan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 1997
3. Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 2001
4. Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Depkes RI tahun 2002
5. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.
Depkes RI tahun 2003
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
7. Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Depkes RI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Pemberian informasi penggunaan obat dilakukan oleh Apoteker dan dapat
langkah digantikan oleh Asisten Apoteker atau petugas yang telah ditunjuk pimpinan
sebagai petugas apotek jika Apoteker tidak berada ditempat.
2. Petugas apotek memberikan obat disertai dengan informasi penggunaan obat yang
memadai dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh pasien/keluarga pasien.
3. Petugas apotek memberikan informasi kepada pasien/keluarga pasien tentang cara
penggunaan obat, indikasi obat, cara mengkonsumsi obat.
4. Petugas apotek memastikan bahwa pasien sudah memahami cara pemakaian obat.
5. Petugas apotek menjelaskan kepada pasien bahwa obat-obatan disimpan ditempat
yang aman dan dijauhkan dan jangkauan anak-anak.
6. Petugas apotek menjelaskan kepada pasien/keluarga pasien bahwa obat hanya boleh
digunakan oleh pasien yang bersangkutan dan pentingnya kepatuhan penggunaan
obat.

PEMBERIAN INFORMASI
PUSKESMAS
PENGGUNAAN OBAT dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA No. Dokumen : NIP. 198106102010012029

SPO
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman : 2/2

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli BP
2. Poli KIA/KB
3. Poli Gigi
4. Poli Lansia
5. IGD/Rawatan
6. Apotek

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.
KABUPATENSOLOKSELATAN PEMBERIAN INFORMASI
TENTANG EFEK SAMPING
OBAT
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Pemberian informasi tentang efek samping obat adalah kegiatan yang dilakukan oleh
Apoteker/petugas farmasi dalam memberikan setiap informasi tentang kemungkinan
terjadinya efek samping obat/efek yang tidak diharapkan.
2. Tujuan Sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh
Apoteker/petugas farmasi dalam memberikan informasi tentang efek samping obat kepada
pasien secara akurat,tidak bias, faktual, terkini, mudah dimengerti, etis dan bijaksana.
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Pedoman Penerapan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 1997
3. Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 2001
4. Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Depkes RI tahun 2002
5. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.
Depkes RI tahun 2003
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
7. Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Depkes RI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Apoteker/petugas farmasi memberikan informasi kepada pasien tentang potensi
langkah efek samping dari obat yang akan diminum pasien.
2. Apoteker/petugas farmasi memberikan informasi kepada pasien tentang hal apa
yang dapat dilakukan pasien/keluarga pasien apabila terjadi efek samping obat
setelah obat dikonsumsi.
6. Diagram Alir (jika
dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli BP
2. Poli KIA/KB
3. Poli Gigi
4. Poli Lansia
5. IGD/Rawatan
6. Apotek

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.

KABUPATENSOLOKSELATAN PETUNJUK PENYIMPANAN


OBAT DI RUMAH
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Penyimpanan obat adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan cara
menempatkan obat pada tempat yang dinilai aman dari gangguan fisik yang dapat merusak
obat.
2. Tujuan Tujuan penyimpanan obat adalah untuk memelihara mutu obat.
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Pedoman Penerapan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 1997
3. Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 2001
4. Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Depkes RI tahun 2002
5. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.
Depkes RI tahun 2003
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
7. Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Depkes RI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Obat disimpan dalam wadah tertutup rapat.


langkah 2. Obat disimpan terlindung dari cahaya matahari.
3. Obat disimpan pada suhu ruangan (250300 C)
4. Obat sirup kering, setelah direkonstitusi hanya bertahan selama 7 hari, setelah itu
sirup harus dibuang meskipun masih bersisa.
5. Obat sirup disimpan disuhu kamar, tidak dilemari es dan hanya dapat digunakan
selama 1 bulan setelah tutup botol dibuka. Hal ini bertujuan untuk mencegah
kontaminas mikroba pada tutup botol.
6. Obat tetes mata setelah dibuka hanya boleh digunakan selama 1 bulan.
7. Untuk obat suppositoria, harus disimpan dalam lemari es/pendingin.
6. Diagram Alir (jika
dibutuhkan)
7. Unit Terkait Apotek
8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.

KABUPATENSOLOKSELATAN PENANGANAN OBAT


KADALUARSA/RUSAK
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Penanganan obat kadaluarsa adalah mekanisme pengaturan terhadap obat-obat yang telah
kadaluarsa/rusak.
2. Tujuan Menjamin bahwa obat-obat kadaluarsa/rusak tidak tercampur dengan obat-obat yang masih
panjang masa kadaluarsanya/tidak rusak.
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Pedoman Penerapan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 1997
3. Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 2001
4. Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Depkes RI tahun 2002
5. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.
Depkes RI tahun 2003
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
7. Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Depkes RI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Untuk obat/bahan medis habis pakai yang 8 bulan akan kadaluarsa dimasukkan
langkah dalam plastik tersendiri dan diberi label warna hijau tetapi tetap diletakkan dalam
wadah penyimpanannya serta diberi identitas yang berisikan informasi mengenai
nama obat, waktu kadaluarsa, jumlah, serta paraf dan nama petugas yang
mengecek.
2. Untuk obat/bahan medis habis pakai yang 2 bulan akan kadaluarsa dimasukkan
dalam plastik tersendiri dan diberi label warna pink tetapi tetap diletakkan dalam
wadah penyimpanannya, serta diberi identitas yang berisikan informasi mengenai
nama obat, waktu kadaluarsa, jumlah serta paraf dan nama petugas yang mengecek.
3. Untuk obat/ bahan medis habis pakai yang sudah kadaluarsa dipisahkan dari wadah
penyimpanannya dan diberi identitas yang berisikan informasi mengenai nama
obat, waktu kadaluarsa, jumlah, serta paraf dan nama petugas yang mengecek. Obat
yang telah kadaluarsa diberikan kepada Instalasi Farmasi Kabupaten untuk
ditindaklanjuti.
4. Obat yang telah kadaluarsa harus dikurangi stoknya dari total stok yang ada
sebelumnya.
5. Dalam upaya pencegahan obat mengalami waktu kadaluarsa, maka daftar obat yang
mendekati 2 bulan waktu kadaluarsanya diinformasikan kepada Kepala Instalasi
Farmasi Kabupaten untuk kemudian dapat disosialisasikan pada unit/puskesmas
lain yang membutuhkan.
6. Setiap awal bulan, petugas Instalasi Farmasi Puskesmas akan melakukan
pemeriksaan waktu kadaluarsa obat yang telah ditetapkan dengan mencatat bulan,
tahun kadaluarsa serta jumlahnya.
7. Daftar obat yang 2 bulan mendekati masa kadaluarsanya akan diinformasikan
kepada dokter yang meresepkan untuk dapat digunakan terlebih dahulu sebagai
pilihan dalam terapi pengobatan pasien.

PENANGANAN OBAT
PUSKESMAS
KADALUARSA/RUSAK dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA No. Dokumen : NIP. 198106102010012029

SPO
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman : 2/2

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli BP
2. Poli KIA/KB
3. Poli Gigi
4. Poli Lansia
5. IGD/Rawatan
6. Apotek

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.
KABUPATENSOLOKSELATAN PELAPORAN EFEK SAMPING
OBAT
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Pelaporan efek samping obat adalah upaya memberitahukan secara lisan ataupun tertulis
untuk semua obat yang menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan setelah obat diberikan
kepada pasien.
2. Tujuan Untuk meningkatkan keamanan pasien (patient safety)
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Pedoman Penerapan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 1997
3. Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 2001
4. Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Depkes RI tahun 2002
5. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.
Depkes RI tahun 2003
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
7. Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Depkes RI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Pelaporan efek samping obat dilakukan oleh Apoteker.


langkah 2. Efek samping yang muncul dituliskan dalam rekam medis pasien
3. Efek samping yang muncul dilaporkan ke Pimpinan Puskesmas oleh dokter atau
perawat yang menemukan adanya efek samping melalui farmasi dengan mengisi
form monitoring efek samping (MESO) selama 1 x 24 jam setelah efek samping
ditemukan.

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli BP
2. Poli KIA/KB
3. Poli Gigi
4. Poli Lansia
5. IGD/Rawatan
6. Apotek

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.

KABUPATENSOLOKSELATAN PENCATATAN, PEMANTAUAN,


PELAPORAN EFEK SAMPING
OBAT, KTD
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Efek samping obat adalah efek lain obat yang timbul, tidak diharapkan setelah penggunaan
obat.

KTD (Kejadian Tidak Diharapkan) adalah kesalahan yang tidak diharapkan yang
menimbulkan cedera yang tidak terkait dengan perjalanan penyakit atau keadaan mendasar
pasien tetapi tidak terjadi cedera.
2. Tujuan 1. Pencacatan efek samping obat bertujuan untuk dokumentasi pasien pada rekam
medis pasien sebagai pedoman pengobatan selanjutnya.
2. Pemantauan efek samping obat bertujuan untuk pengendalian agar tidak terjadi lagi
efek samping obat pada pasien yang sama atau pencegahan pada pasien yang
lainnya.
3. Pelaporan efek samping obat bertujuan untuk mendapatkan tindak lanjut yang cepat
dan segera setelah terjadi efek samping obat sehingga dapat meningkatkan
keamanan dan keselamatan pasien (patient safety).
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Pedoman Penerapan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 1997
3. Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 2001
4. Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Depkes RI tahun 2002
5. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.
Depkes RI tahun 2003
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
7. Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Depkes RI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Efek samping obat yang muncul pada pasien dicatat dalam rekam medis pasien
langkah 2. Pemantauan efek samping obat dan KTD dilakukan oleh dokter, perawat dan
apoteker.
3. Pelaporan efek samping obat dilakukan oleh dokter atau perawat yang menemukan
adanya dugaan efek samping dan KTD melalui farmasi
4. Pelaporaan efek samping obat dan KTD dibuat dengan mengisi form monitoring
efek samping obat (MESO) selama 1 x 24 jam setelah efek samping ditemukan.
5. Form dibuat rangkap 2, 1 rangkap untuk dilaporkan ke Badan POM dan 1 rangkap
untuk disertakan dalam rekam medis pasien.

PERESEPAN OBAT,
PEMESANAN DAN
PUSKESMAS
PAKAN RABAA
PENGELOLAAN OBAT dr. KUSHARNI
NIP. 198106102010012029
No. Dokumen :

SPO
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman : 2/2

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli BP
2. Poli KIA/KB
3. Poli Gigi
4. Poli Lansia
5. IGD/Rawatan
6. Apotek

8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.
KABUPATENSOLOKSELATAN PENYEDIAAN OBAT-OBAT
EMERGENSI DI UNIT KERJA
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Obat emergensi adalah obat-obat penting yang dapat diakses cepat saat terjadi kasus
kegawatdaruratan pasien
2. Tujuan Untuk mempercepat penanganan atau pertolongan pertama pada pasien dengan kasus gawat
darurat sehingga meningkatkan keselamatan pasien (patient safety)
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Pedoman Penerapan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 1997
3. Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 2001
4. Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Depkes RI tahun 2002
5. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.
Depkes RI tahun 2003
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
7. Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Depkes RI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Obat-obatan emergensi dapat disimpan dalam wadah khusus untuk obat-obatan
langkah penting saat kasus gawat darurat medis (kit emergensi).
2. Kit emergensi berisikan obat-obatan dan bahan medis habis pakai yang diperlukan
saat emergensi
3. Daftar obat emergensi tersedia dalam kit tersebut
4. Penggunaan kit emergensi dilakukan pada kasus gawat darurat
5. Kit emergensi hanya tersedia diruangan IGD dan ruang rawat inap

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait IGD/Rawatan
Instalasi Farmasi Puskesmas
8. Rekaman Historis
No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan
Tgl.

KABUPATENSOLOKSELATAN PENYIMPANAN OBAT EMERGENSI


DI UNIT PELAYANAN
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Penyimpanan obat emergensi adalah kegiatan menetapkan bagaimana obat emergensi
disimpan, dijaga dan dilindungi dari kehilangan atau pencurian.
2. Tujuan Menjaga agar obat-obat emergensi tetap terjaga dan tidak hilang.
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Pedoman Penerapan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 1997
3. Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 2001
4. Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Depkes RI tahun 2002
5. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.
Depkes RI tahun 2003
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
7. Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Depkes RI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Obat-obat emergensi disimpan pada wadah khusus (kit emergensi)
langkah 2. Untuk mencegah penyalahgunaan, pencurian atau kehilangan terhadap obat-obat
emergensi maka kit emergensi harus disegel.
3. Setiap shift perawat melakukan overan kit emergensi agat tetap terjaga jumlah obat-
obatan fisik sama dengan stok pada daftar obatnya.

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait IGD/Rawatan
8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.
KABUPATENSOLOKSELATAN IDENTIFIKASI DAN PELAPORAN
KESALAHAN PEMBERIAN OBAT
DAN KNC
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Kesalahan pemberian obat (Medication error) adalah kesalahan yang terjadi pada proses
pengobatan yang masih dalam pengawasan dan tanggung jawab profesi kesehatan,pasien
atau konsumen, berkaitan dengan obat (peresepan, transcribing, dispensing dan
administering) yang sebenarnya dapat dicegah.

KNC (Kejadian Nyaris Cedera ) = Near Miss adalah setiap kejadian/kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau karena tidak mengambil tindakan yang belum
mengenai/mencapai pasien, sehingga tidak terjadi cedera.
Contoh : instruksi peresepan tidak lengkap, obat yang diserahkan ke perawat tertukar dan
dikembalikan ke farmasi.
2. Tujuan Untuk meningkatkan keselamatan pasien (patient safety)
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Pedoman Penerapan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 1997
3. Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 2001
4. Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Depkes RI tahun 2002
5. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.
Depkes RI tahun 2003
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
7. Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Depkes RI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Lakukan identifikasi pada kasus medication error atau KNC apakah karena
langkah instruksi peresepan tidak lengkap, obat tertukar, kesalahan dalam pembacaan resep
atau salah penyiapan obat.
2. Jika telah diketahui kesalahan apa yang terjadi maka dilakukan pelaporan segera
pada Pimpinan yang selanjutnya akan di follow up oleh Pimpinan.
3. Setiap kejadian kesalahan pemberian obat dan KNC yang terjadi harus dicatat
dalam form pelaporan medication error dan KNC dalam waktu 1 x 24 jam.
6. Diagram Alir (jika
dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Poli BP
2. Poli KIA/KB
3. Poli Gigi
4. Poli Lansia
5. IGD/Rawatan
6. Apotek
8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.

KABUPATENSOLOKSELATAN MONITORING PENYEDIAAN OBAT


EMERGENSI DI UNIT KERJA
No. Dokumen :

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian Monitoring penyediaan obat emergensi adalah upaya memantau ketersediaan obat
emergensi agar selalu tersedia pada saat dibutuhkan.
2. Tujuan Memenuhi kembali stok obat emergensi terdapat pemakaiannya pada kasus gawat darurat
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi 1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Pedoman Penerapan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 1997
3. Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas. Depkes RI tahun 2001
4. Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Depkes RI tahun 2002
5. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.
Depkes RI tahun 2003
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
7. Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Depkes RI tahun 2006

5. Prosedur / Langkah- 1. Setiap obat dan bahan medis habis pakai yang terpakai di kit emergensi harus
langkah dipenuhi kembali stoknya oleh petugas Instalasi Farmasi Puskesmas
2. Pemenuhan stok kit emergensi dilakukan paling lama dalam 2 jam setelah formulir
pemakaian obat dan bahan medis habis pakai kit emergensi diterima oleh petugas
Instalasi Farmasi Puskesmas.
3. Kit emergensi kemudian disegel kembali setelah dilakukan penggantian obat
emergensi yang terpakai.
4. Pengecekan masa kadaluarsa obat dan bahan medis habis pakai pada kit emergensi
dilakukan setiap 1 bulan sekali oleh petugas farmasi.
5. Setiap shift perawat melakukan overan kit emergensi.

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait IGD/Rawatan
Instalasi Farmasi Puskesmas
8. Rekaman Historis
No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan
Tgl.

KABUPATENSOLOKSELATAN

No. Dokumen :
No. Revisi : 00
SOP Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian
2. Tujuan
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi
5. Prosedur / Langkah-
langkah
PERESEPAN OBAT,
PEMESANAN DAN
PUSKESMAS
PAKAN RABAA
PENGELOLAAN OBAT dr. KUSHARNI
NIP. 198106102010012029
No. Dokumen :

SPO
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman : 2/2

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait
8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.
KABUPATENSOLOKSELATAN

No. Dokumen :
No. Revisi : 00
SOP Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman :
PUSKESMAS dr. KUSHARNI
PAKAN RABAA NIP. 198106102010012029

1. Pengertian
2. Tujuan
3. Kebijakan Berdasarkan SK Kepala Puskesmas No. . Tentang.
4. Referensi
5. Prosedur / Langkah-
langkah
PERESEPAN OBAT,
PEMESANAN DAN
PUSKESMAS
PAKAN RABAA
PENGELOLAAN OBAT dr. KUSHARNI
NIP. 198106102010012029
No. Dokumen :

SPO
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 20 Januari 2016
Halaman : 2/2

6. Diagram Alir (jika


dibutuhkan)
7. Unit Terkait
8. Rekaman Historis

No Halaman Yang Dirubah Perubahan Diberlakukan


Tgl.

Anda mungkin juga menyukai