Anda di halaman 1dari 16

Konsep Dasar Medis

A. Definisi
Karsinoma paru adalah salah satu jenis neoplasma ganas yang terdapat di paru.

B. Anatomi fisiologi
C. Patofisiologi
1. Pembagian praktis untuk tujuan pengobatan
a. SCLC (small cell lung cancer)
b. NSCLC (non small cell lung cancer), karsinoma skuamosa,
adenokarsinoma, karsinoma sel besar
2. Klasifikasi Histopatlogis Kanker Paru WHO 1981
- Benigna
- Displasia
- Maligna
a.Squamous cell ca
b. Small cell ca
c.Adeno ca
d. Giant cell ca
e.Carcinoids
f. Mesotelioma
3. Klasifikasi lengkap tumor paru (jnak dan ganas)
a. Tumor jinak
- Hemartoma
- Chondroma bronchus
- Cystadenoma bronchus
- Fibrioma
- Leiomyoma
- Lipoma
- Papiloma
- Neurofibroma
- Pulmonary angioma dengan anterio-venous fistula
- Histiocytoma
- Endometriosis
- Lymphocysts
- Lymphangioleiomyomatosis
- Pulmonary chemodectoma
b. Tumor jinak yang dapat menjadi ganas
- Bronchial adenoma
- Haemangiopericytoma
- Pulmonary blastoma
- Myoblastoma
c. Tumor ganas
- Karsinoma bronkogenik
- Alveolar cell carcinoma
- Pulmonary lymphoma
- Melanoma
- Leiomyosarcoma
D. Etiologi
1. Kebiasaan merokok
2. Penyebab lain,
a. Yang berhubungan dengan pajanan zat karsinogen, seperti :
- asbestos, sering menimbulkan mesotelioma
- radiasi ion pada pekerja tambang uranium
- radon, arsen, kromium, nikel, polycyclic hydrocarbon, vinyl
chloride
b. Polusi udara
pasien kanker paru lebih benyak didaerah urban yang banyak polusi
udaranya dibandingkan yang tinggal di daerah ural
c. Genetik, terdapat perubahan/mutasi beberapa gen yang berperan
dalam kanker paru, yakni:
- Proto Oncogen
- Tumor Supressor Gene
- Gene Encoding Enzyme

E. Tanda dan Gejala


Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala
klinis. Bila sudah menampakkan gejala berarti pasien sudah dalam stadium lanjut.
Gejala-gejala dapat bersifat :
a. Lokal (tumor tumbuh setempat)
- Bentuk baru atau bentuk lebih hebat pada batuk kronik
- Hemoptasis
- Mengi (wheezing, stridor) karena ada obstruksi saluran nafas
- Kadang terdapat kavitas seperti abses paru
- Atelaktasis
d. Invasi lokal
- Nyeri dada
- Dispnea karena efusi pleura
- Invasi ke perikardium terjadi temponade atau aritmia
- Sindrom vena kava siperior
- Sindrom horner (facial anhidrosis ptosis, miosis)
- Suara serak, karena penekanan pada nervus laryngealrecurren
- Sindrom pancoast, karena invasi pada fleksus brakialis dan
saraf simpatis servikalis
e.Gejala penyakit metastasis
- Pada otak, tulang, hati, adrenal
- Limfadenopati servikal dan supraklavikula
f. Sindrom Paraneoplastik
- Sistemik: penurunen BB, anoreksia, demam
- Hematologi: leukositosis, anemia, hiperkoagulasi
- Hipertropi osteoartropi
- Neurologik: demensia, ataksia, tremor, neuropati perifer
- Neuromiopati
- Endokrin:sekresi berlebihan hormon paratiroid (hiperkalsemia)
- Dermatologik: eritema multiform, hiperkeratosis, jari tabuh
- Renal: SIADH
g. Asimtomatik dengan kelainan radiologis
- Sering terjadi pada perokok dengan PPOK/COPD yang
terdeteksi secara radiologis
- Kelsinan berupa nodul soliter

F. Diagnosis
1. Prosedur Diagnostik
a. Foto dada secara posterior-anterior (PA) dan lateral adalah
pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker
paru.
b. Pemeriksaan computer tomograph dan megnetic resonance imaging
Pemeriksaan CT scan pada dada, lebih sensitif daripada pemeriksaan
foto dada biasa, karena dapat mendeteksi kalainan atau nodul dengan
diameter minimal 3 mm, walaupun positif palsu untuk kelainan
sebesar itu mencapai 25-60%.
c. Pemeriksaan Bone scanning. Pemeriksaan ini diperlukan bila diduga
ada tanda-tanda metastasis ke tulang. Insidens metastasis ke tulang.
Insidens metastasis tumor non small cell lung cancer (NSCLC) ke
rulang dilaporkan sebesar 15%.
2. Pemeriksaan sitologi
Pemeriksaan sitologi sputum rutin dikerjakan terutama bila pasien ada
keluhan seperti batuk. Pemeriksaan sitologi tidak selalu memberika hasil
positif karena tergantung pada :
- Letak tumor terhadap bronkus
- Jenis tumor
- Tehnik mengeluarkan sputum
- Jumlah sputum yang diperiksa
- Waktu pemeriksaan sputum
3. Pemeriksaan Histopatologi
a. Bronkoskopi
b. Biopsi trans torakal (TB)
c. Torakoskopi
d. Mediastinoskopi
e. Toraktomi

G. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan kanker
1. Kuratif : menyembuhkan, memperpanjang masa bebas penyakit dan
meningkatkan angka harapan hidup pasien
2. Paliatif : mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup
4. Rawat rumah (hospice care) pada kasus terminal : mengurangi dampak
fisis maupun psikologis kanker baik pada pasien maupun keluarga
5. Suporttif : menunjang pengobatan kuratif paliatif dan terminal seperti
pemberian nutrisi, tramsfusi darah dan komponen darah, transfusi darah
dan komponen darah, growth factors obat anti nyeri dan obat anti injeksi.
1. Terapi bedah
2. Radioterapi
3. Kemoterapi
Konsep Dasar Keperawatan
A. Pengkajian
1. Identifikasi : nama, jenis kelamin, agama,pendidikan
2. Data medik : dikirim oleh, diagnosa?
3. Keadaan umum : keadaan sakit, alasan, tanda-tanda vital
4. Pola kesehatan : (11 pola Gordon)
a. Persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan
- Riwayat penyakit, pernah mengalami sakit,hospitalisasi
- Status kesehatan dan penyakit yang diderita, upaya yang dilakukan
- Lingkungan tempat tinggal klien
- Tingkat pengetahuan dan kepedulian pasien
- Hal-hal yang membuat status kesehatan pasien berubah : merokok, alkohol,
obat-obatan, polusi, lingkungan, ventilasi.
- Kebiasan bergadang waktu malam
b. Nutrisi metabolik
- Jenis, frekuensi dan jumlah makanan yang dikonsumsi sehari
- Adanya mual, muntah, anorexia, ketidakmampuan memenuhi kebutuhan
nutrisi
- Ketaatan terhadap diet, kaji diet khusus
- Jenis makanan yang disukai (pedas, asam, manis, panas, dingin)
- Adanya makanan tambahan
- Napsu makan berlebih/kurang
- Kebersihan makanan yang dikonsumsi
c. Eliminasi
- Pola BAK dan BAB: frekuensi, karakteristik, ketidaknyamanan, masalah
pengontrolan
- Adanya mencret bercampur darah
- Warna feses, bentuk feses, dan bau
- Adanya nyeri waktu BAB
d. Aktivitas dan latihan
- Kebiasaan aktivitas sehari hari
- Kebiasaan olah raga
- Rasa sakit saat melakukan aktivitas
e. Tidur dan istirahat
- Adanya gejala susah tidur/insomnia
- Kebiasaan tidur per 24 jam
f. Persepsi kognitif
- Gangguan pengenalan(orientasi)terhadap tempat, waktu dan orang
- Adanya gangguan proses pikir dan daya ingat
- Cara klien mengatasi rasa tidak nyaman(nyeri)
- Adanya kesulitan dalam mempelajari sesuatu
g. Persepsi dan konsep diri
- Penilaian klien terhadap dirinya sendiri
h. Peran dan hubungan dengan sesama
- Klien hidup sendiri/keluarga
- Klien merasa terisolasi
- Adanya gangguan klien dalam keluarga dan masyarakat
i. Reproduksi dan seksualitas
- Adanya gangguan seksualitas dan penyimpangan seksualitas
- Pengaruh/hubungan penyakit terhadap seksualitas
j. Mekanisme koping dan toleransi terhadap stess
- Adanya perasaan cemas,takut,tidak sabar ataupun marah
- Mekanisme koping yang biasa digunakan
- Respon emosional klien terhadap status saat ini
- Orang yang membantu dalam pemecahan masalah
k. Sistem kepercayaan
- Agama yang dianut,apakah kegiatan ibadah terganggu
B. Diagnosa keperawatan
Pre Operasi

Dp 1 : Inefektif bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan peningkatan sekresi


dan penurunan batuk
Tujuan : bersihan jalan nafas kembali efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 3 X 24 jam
Kriteria Hasil :
- Pasien akan mengungkapkan batuk berkurang
- TTV dalam batas normal
- Bunyi nafas Vesikuler
- Pasien tampak segar dan rileks
Intervensi :
1. Kaji ulang Keadaan umum pasien
R /: Indikator awal dalam melakukan intervensi berikutnya
2. Kaji Pola, irama, frekuensi nafas
R /: Membantu perawat mengevaluasi kefektifan usaha batuk efektif
3. Berikan posisi yang menyenangkan untuk pasien
R /: Agar pasien lebih rileks
4. Ajarkan pasien dalam tehnik latihan batuk efektif
R /: Membantu mengeluarkan slim
5. Berikan pendidikan kesehantan pada pasien tentang penyebab batuk dan terapi-
terapi yang akan diberikan
R /: Agar pasien lebih kooperatif
6. Kolaborasi dengan Dokter dalam pemberian O
R /: Membantu dalam pemenuhan kebutuhan oksigen pasien
Dp 2 : Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan batuk
Tujuan : gannguan pola tidur teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3 X 24 jam
Kriteria Hasil :
- Pasien akan mengungkapkan dapat tidur karena batuk berkurang
- TTV dalam Batas Normal
- Bunyi nafas Vesikuler
- Pasien Tampak segar dan rileks
Intervensi :
1. Kaji ulang Keadaan Umum pasien
R /: indikator awal dalam melakukan intervensi berikutnya
2. Kaji ulang kebiasaan tidur pasien selama 24 jam
R /: Membantu perawatan mengidentifikasi kebutuhan tidur pasien
3. Berikan pasien posisi yang menyenangkan
R /: Dapat meningkatkan relaksasi dan tidur dengan memberi ruang pada paru-paru
lebih besar pengembanagan melalui menurunkan tekanan ke atas organ-organ
abdominal
4. Ajarkan dan anjurkan pasien tindakan untuk meningkatkan tidur seperti makanan
tinggi protein, susu, keju sebelum tidur
R /: Untuk membantu agar pasien segera tidur (efek sedatif)
5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antitusif
R /: Untuk membantu meredakan batuk pasien

Dp 3 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan


intake yang tidak adeguat

Tujuan : Status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi setelah dilakukan
tindakan keperawatan 3 x 24 jam

Kriteria Hasil :
- Pemasukan nutrisi adekuat
- BB pasien stabil
- IMT 18,5 22,5
- Mukosa mulut Lembab
- Turgor kulit elastis
- TTV dalam batas Normal
Rencana Tindakan :
1. Kaji pola maka pasien
R /: Membantu dalam menentukan intervensi yang tepat
2. Timbang BB tiap hari
R /: Membantu keadeguatan pemasukan nutrisi
3. Kaji keadaan umum dan TTV
R /: Indikator awal dalam menentukan intervensi berikutnya
4. Berikan makanan dalam keadaan hangat
R /: Untuk meningkatkan nafsu makan pasien
5. Anjurkan dan bantu pasien untuk mempertahankan higiene oral yang baik
R /: Higiene oral yang buruk menimbulkan bau dan rasa tidak enak, yang
mengurangi nafsu makan
6. Jelaskan kepada pasien tentang pentingnya masukan nutrisi bagi tubuh
R /: Agar pasien dapat kooperatif saat perawat memberikan Asuhan Keperawatan
7. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam penentuan menu makanan pasien
R /: Untuk mempertahankan nutrisi yang adeguat

Dp 4 : Nyeri yang berhubungan dengan efek dari penyakit


Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 3 x 24 jam
Sasaran :
- Pasien dapat menjalani aktivitas tanpa merasa nyeri
- Ekspresi wajah rileks
- Klien mendemonstrasikan ketidaknyamananya hilang

Intervensi :
1. Kaji tingkat nyeri (lokasi, durasi, intensitas, kualitas) tiap 4 6
jam
R/ : Sebagai indikator awal dalam menentukan intervensi berikutnya
2. Kaji keadaan umum pasien dan TTV
R/ : Sebagai indikator awal dalam menentukan intervensi berikutnya
3. Beri posisi yang menyenangkan bagi pasien
R/ : Untuk membantu pasien dalam pengontrolan nyeri
4. Beri waktu istrahat yang banyak dan kurangi pengunjung
sesuai keinginan pasien
R/ : Dapat menurunkan ketidaknyamanan fisik dan emosional
5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
R/ : Membantu dalam penyembuhan pasien
Post - Operasi

Dp 1 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan


intake yang tidak adeguat
Tujuan : Terpenuhinya nutrisi secara adekuat setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 3 x 24 jam
Sasaran :
- Berat badan klien stabil
- IMT 18,5 22,5
- Pasien tampak segar
- Peristaltik normal
- Pasien menunjukan keadaan bebas tanda malnutrisi
- Pasien kembali pada pola diet normal secara bertahap
Intervensi :
1. Kaji status nutrisi pasien meliputi : pola diit, pola makan, makanan yang dapat
menjadi pencetus nyeri
R/ : Untuk melihat tingkat keparahan kekurangan nutrisi dan etiologinya
2. Kaji keadaan umum pasien dan TTV
R/ : Sebagai indikator awal dalam menentukan intervensi berikutnya
3. Pantau haluaran dan masukan nutrisi tiap 8 jam
R/ : Untuk melihat keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran makanan
4. Pertahankan lingkungan tanpa stress
R/ : Meningkatkan perasaan nyaman
5. Berikan makanan dalam jumlah kecil tapi sering
R/ : Untuk mengurangi konsentrasi otot perut dan menambah nafsu makan untuk
pasien

DP 2 : Ansietas yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan sekunder


terhadap Ca Paru
Tujuan : Ansietas dapat diminimalkan sampai dengan diatasi setelah 1x 24 jam
Sasaran :
- Pasien tampak rileks
- Pasien mendemonstrasikan/menunjukan kemampuan mengatasi masalah dan
menggunakan sumber-sumber secara efektif
- Tanda-tanda vital normal
- Pasien melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi
Intervensi :
1. Kaji tingkat ansietas dan diskusikan penyebab bila mungkin
R/ : Identifikasi masalah spesifik akan meningkatkan kemampuan individu untuk
menghadapinya dengan lebih realistis
2. Kaji ulang keadaan umum pasien da TTV
R/ : Sebagai indikator awal dalam menentukan intervensi berikutnya
3. Berikan waktu pasien untuk mengungkapkan masalahnya dan dorongan ekspresi
yang bebas, misalnya rasa marah, takut, ragu
R/ : Agar pasien merasa diterima
4. Jelaskan semua prosedur dan pengobatan
R/ : Ketidaktahuan dan kurangnya pemahaman dapat menyebabkan timbulnya
ansietas
5. Diskusikan perilaku koping alternatif dan tehnik pemecahan masalah
R/ : Mengurangi kecemasan pasien

Dp 3 : Kurang pengetahuan tentang perawatan diri dan status nutrisi yang


berhubungan dengan ketidaktahuan tentang sumber informasi
Tujuan : Informasi tentang perawatan diri dan status nutrisi dipahami setalah
dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam
Sasaran :
- Klien menyatakan pemahaman tentang informasi yang diberikan
- Klien menyatakan kesadaran dan merencanakan perubahan pola perawatan
diri
Intervensi :
1. Kaji tingkat pengetahuan pasien
R/ : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dalam penerimaan informasi, sehingga
dapat memberikan informasi secara tepat
2. Diskusikan hubungan tentang agen penyebab terhadap penyakit Ca. Paru
R/ : Memberikan pemahaman kepada pasien tentang hal-hal yang menjadi pencetus
penyakit
3. Jelaskan tanda dan gejala perforasi
R/ : Gejala perforasi adalah nyeri pada dada
4. Jelaskan pentingnya lingkungan tanpa stress
R/ : Untuk mencegah peningkatan stimulasi simpatis
5. Diskusikan tentang metode pelaksanaan stress
R/ : Cara penatalaksanaan stress : relaksasi, latihan dan pengobatan
Daftar Pustaka

Juall Carpenito, lynda RN,(1999).Diagnosa dan Rencana Keperawatan.


Ed 3. Jakarta : Media Aesculappius.

Syaifuddin.(1997). Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat. Edisi 2.


Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran (EGC).

A.K. Muda, Ahmad, (2003). Kamus Lengkap Kedokteran.Edisi Revisi.


Jakarta : Gitamedia Press.

Purnawan Ajunadi, Atiek S.seomasto, Husna Ametz,(1982). Kapita


Selekta Kedokteran. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran : UI.
TUGAS TERSTRUKTUR
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II

TUMOR PARU
Dosen pembimbing : Susanna, SKM

OLEH :

Paula Lina Pudaka


Ponda Manggarani
Selvianus Setyanto
Silvia Angela
Stepanus Maman Hermawan
Thomas Sandhi Gundala
Utet Sudarsih

AKADEMI KEPERAWATAN DHARMA INSAN


PONTIANAK
2006
DAFTAR ISI

Kata pengantar

Daftar isi

LANDASAN TEOTITIS

KONSEP DASAR MEDIS

A. Definisi Tumor Paru

B. Anatomi Fisiologi

C. Etiologi

D. Patofisiologi

E. Tanda dan Gejala

F. Penatalaksanaan Medik

G. Test Diagnosis

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. Pengkajian

B. Diagnosa Keperawatan

Daftar Pustaka