Anda di halaman 1dari 17

FILSAFAT ILMU DAN ETIKA REKAYASA

INOVASI SAINS DAN TEKNOLOGI

Oleh
HAJERAH
(0010.09.10.2015)
ANGKATAN X (SEPULUH)

Dosen Pengajar:
Prof Dr.Ir. H. Abdul Makhsud, DEA

PROGRAM PASCASARJANA JURUSAN TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2016
FILSAFAT SAINS
DAN INOVASI TEKNOLOGI

A. PENGERTIAN FILSAFAT SECARA UMUM

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan, dan pemikiran


manusia secara kritis, dan dijabarkan dalam konsep mendasar.[1] Filsafat tidak
di dalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen, dan percobaan-
percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi
untuk itu, memberikan argumentasi, dan alasan yang tepat untuk solusi
tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses
dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir, dan logika
bahasa.
Pengertian filsafat berdasarkan para ahli yaitu:
a. Dalam buku yang ditulis oleh Harold Titus dan kawan kawan (1984:11-14)
dituliskan "Ada yang mengemukakan bahwa filsafat adalah sekumpulan
sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan alam yang biasa diterima
secara tidak kritis. Filsafat juga diartikan sebagai suatu proses kritik atau
pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi.
Lalu ada yang mengatakan filsafat adalah usaha untuk mendapatkan
gambaran keseluruhan. Filsafat juga dapat didefinisikan sebagai analisis
logis dari bahasa, serta penjelasan arti kata dan konsep. Sedangkan
pendapat lain mengemukakan bahwa filsafat adalah sekumpulan problema
problema yang langsung mendapat perhatian dari manusia dan yang
dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat"
b. Pengertian Filsafat menurut Soetrionon dan Rita Hanafie (2007) bahwa
secara umum filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat
segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Ilmu pengetahuan tentang
hakikat yang menanyakan apa hakikat atau sari atau inti atau esensi segala
sesuatu.
c. Menurut Poedjawijatna, filsafat adalah ilmu yang mencari sebab yang
sedalam dalamnya bagi segala sesuatu yang ada dan mungkin ada, hal ini
dilanjukan oleh Jujun Suriasuamantri, bahwa pengertian filsafat dapat juga
berupa sebaagai suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu
cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam dalamnya. Hal ini sesuai
dengan kata Socrates bahwa tugas filsafat yang utama adalah
mempersoalkan jawaban, bukan menjawab pertanyaan kita.
d. Martini Djamaris, berpendapat bahwa filsafat adalah suatu proses yang
mempertanyakan tentang arche (dasar) atau asal mula atau asal usul dan
berusaha menjawabnya dengan menggunakan logos (rasio). Dengan
demikian, filsafat adalah penyelidikan yang dilakukan dalam rangka
memahami hakikat alam dan realitasnya dengan mengandalkan akal budi,
jelas Socrates. Beda dengan pendahulunya ini Plato mendefinisikan
filsafat sebagai pendidikan tentang sebab sebab dan asas asas yang paling
akhir dari segala sesuatu yang ada.
e. dalam buku yang ditulis oleh Conny R. Semiawan (1988:37) pengertian
filsafat yang lain dikemukakan oleh Walter Kuffman, Beerling, dan Corn
Verhoeven. Menurut Berling, Pengertian filsafat adalah pemikiran yang
bebas, di ilhami oleh rasio, mengenai segala sesuatu yang muncul dari
pengalaman pengalaman (experience). Menurut Walter Kuffman, bahwa
pengertian filsafat adalah pencarian akan kebenaran dengan pertolongan
fakta-fakta dan argumentasi argumentasi, tanpa memerlukan kekerasan
dan tanpa mengetahui hasilnya terlebih dahulu
f. Pengertian filsafat menurut Verhoeven, filsafat adalah meradikalkan
keheranana ke segala penjuru.
g. Harun Nasution dalam bukunya pada halaman 24 (1973), bahwa
pengertian filsafat adalah berpikir menurut tata tertib (logika) dengan
bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama) dan dengan sedalam
dalamnya, sehingga sampai ke dasar dasar persoalan.
h. dalam Bukunya Imam Barnadib (1982:11-12) bahwa filsafat sebagai
pandangan menyeluruh dan sistematis. Disebut meyeluruh, karena
pandangan filsafat bukan hanya sekedar pengetahuan, melainkan suatu
pandangan yang dapat menembus di balik pengetahuan itu sendiri. Dengan
pandangan seperti ini akan terbuka kemungkinan untuk menemukan
hubungan pertalian antara semua unsur yang dipertinggi, dengan
mengarahkan perhatian dan kedalaman mengenai kebijakan. Dikataakan
sistematis, karena filsafat menggunakan berpikir secara sadar, teliti,
teratur, sesuai dengan hukum hukum yang ada.
i. Pengertian filsafat menurut Imanuel Kant dalam buku karangan Lasiyo
dan Yuwono, 1985:6, dan bahwa filsafat adalah pokok pangkal dari segala
pengetahuan yang didalamnya terdapat 4 persoalan yaituL apakah yang
dapat kita ketahui, apa yang boleh kita kerjakan, sampai dimana harapan
kita, dan terakhir, apa yang itu manusia? Metafisika akan menjawab
pertanyaan pertama, etika menjawab kedua, dan ketiga serta keempat
dijawab oleh agama dan antropologi.
j. Berdasarkan JMW Bakker, definisi filsafat adalah refleksi nasional atau
keseluruhan keadaan agar tercapai hakikat dan mendapatkan hikmah.

B. TUJUAN FILSAFAT

Dengan berfilsafat kita lebih menjadi manusia lebih mendidik dan


membangun diri sendiri. Sifat yang khusus bagi seorang filsuf ialah bahwa
sesadar-sadarnya apa saja yang termasuk dalam kehidupan manusia, Tetapi
dalam pada itu juga mengatasi dunia itu, Sanggup melepaskan diri,
menjauhkan diri sebentar dari keramaian hidup dan kepentingan-kepentingan
subyektif untuk menjadikan hidupnya sendiri itu obyek peyelidikannya. Dan
justru kepentingan-kepentingan dan keinginan-keinginan subyektif itu maka ia
mencapai keobyektifan dan kebebasan hati, Yang perlu buat pengetahuan dan
penilaian yang obyektif dan benar tentang manusia dan dunia. Dan sifat ini,
sifat mengatasi kesubyektifan belaka, Sifat melepaskan kepentingan-
kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan sendiri,
Berusaha mempertahankan sikap yang obyektif mengenai intisari dan
sifat-sifat objek-objek itu sendiri. Bila seseorang semakin pantas di sebut
berkepribadian, semakin mendekati kesempurnaan kemanusiaan, Semakin
memiliki kebijaksanaan.
Mengajar dan melatih kita memandang dengan luas dan menyembuhkan
kita dari sifat Akuisme dan Aku sentrimisme. Ini berhubungan erat pula
dengan Spesialisasi dalam ilmu pengetahuan yang membatasi lapangan
penyelidikan orang sampai satu aspek tertentu dari pada keseluruhan itu. Hal
inilah dalam ilmu pengetahuan memang perlu akan tetapi sering membawa
kita kepada kepicikan dalam pandangan, Sehingga melupakan apa saja yang
tidak termasuk lapangan penyelidikan itu sendiri, Sifat ini sangat merugikan
perkembangan manusia sebagai keutuhan maka obatnya yang paling manjur
ialah pelajaran filsafat
Secara praktis Daya upaya manusia untuk memikirkan seluruh kenyataan
dengan sedalam-dalamnya itu tak dapat tiada pasti berpengaruh atas
kehidupannya. Hingga dengan sendirinya bagian filsafat yang teoritis akan
bermuara pada kehendak dan perbuatan yang praktis. Seseorang
menginginkan pengertian agar dapat berbuat menurut pengetahuan yang kita
peroleh itu

Perbedaan pendapat antara orang yang berfilsafat dan orang yang tidak
berfilsafat boleh dikatakan terletak dalam sikap mereka terhadap hidup
manusia. Hidup disini meliputi segala sesuatu yang dialami dan dirasakan
manusia dalam dirinya sendiri sekaligus yang dirasakan, dialami atau diderita
pula oleh orang lain. Filsafat mengajarkan kita hidup lebih sadar dan bijak,
Memberikan pandangan tentang manusia dan hidupnya yang menerobos
sampai inti sarinya, Sehingga kita dengan lebih tegas dapat melihat baik
keunggulannya, kebesaranya maupun kelemahannya dan keterbatasannya.dari
pengetahuan ini dapatlah kita peroleh perhatian bagi sifat kepribadian yang
menyendirikan setiap orang. Dan hati kita terbuka buat Rahasia yang
menjelma dalam setiap perseorangan yang akhirnya berarti hati kita tetbuka
bagi sumber segala rahasia ialah Tuhan.

Seorang yang bijaksana akan memiliki kemugkinan yang paling tepat


dalam usahanya mencapai Kesejahteraan hidup karena ia mempunyai
wawasan yang tepat dan mendalam. Dia berusaha mengerti apa artinya hidup
dan dirinya dengan segala maslah yang muncul dan yang ia hadapi.
Disamping itu filsafat memberikan petunjuk dengan metode pemikiran
reflektif dan penelitian penalaran supaya kita dapat menyerasikan antara
logika,Rasa,Rasio, pengalaman dan agama didalam usaha manusia mencapai
pemenuhan kebutuhannya dalam usaha yang lebih lanjut yaitu mencapai hidu
yang sejahtera

Dalam hal ini manusia tidak dengan begitu saja menceburkan diri kedalam
salah satu perbuatan atau situasi, karena ia selalu sadar, bahwa ia berbuat
tentang suatu atau tidak berbuat tentang suatu itu. Disini peranan filsafat ialah
secara kritis menyerasikan kehidupan manusia, sehingga tampak hidup
manusia serta arah yang mendasarinya didalam usaha mereka mencapai
kesejahteraan hidup tadi.

Agar menjadi orang yang dapat berpikir sendiri.


Dengan latihan akal yang di berikan dalam filsafat kita harus menjadi orang
yang sungguh-sungguh berdiri sendiri / mandiri terutama dalam lapangan
kerohanian, mempunyai pendapat sendiri. Jika perlu dapat dipertahankan pula
menyempurnakan ara kita berpikir, hingga dapat bersikap kritis, melainkan
mencari kebenaran dalam apa yang dikatakan orang baik dalam buku-buku
maupun dalam surat surat kabar dan lain lain.
C. FILSAFAT ILMU DAN ETIKA REKAYASA
- FILSAFAT ILMU
Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat yang menjawab beberapa
pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar
filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara
lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat
dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat
menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep
dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut
dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta
memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari
sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-
macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan;
serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan
terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
Ilmu berusaha menjelaskan tentang apa dan bagaimana alam
sebenarnya dan bagaimana teori ilmu pengetahuan dapat menjelaskan
fenomena yang terjadi di alam. Untuk tujuan ini, ilmu menggunakan bukti
dari eksperimen, deduksi logis serta pemikiran rasional untuk mengamati
alam dan individual di dalam suatu masyarakat.
Salah satu konsep mendasar tentang filsafat ilmu adalah empirisme,
atau ketergantungan pada bukti. Empirisme adalah cara pandang bahwa
ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami selama
hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah berarti harus berdasarkan dari
pengamatan atau pengalaman. Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji
dengan metode empiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi.
Setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan
mendapatkan hasil yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti
yang dapat digunakan untuk mengembangkan teori-teori yang bertujuan
untuk menjelaskan fenomena alam.
Salah satu cara yang digunakan untuk membedakan antara ilmu dan
bukan ilmu adalah konsep falsifiabilitas. Konsep ini digagas oleh Karl
Popper pada tahun 1919-20 dan kemudian dikembangkan lagi pada tahun
1960-an. Prinsip dasar dari konsep ini adalah, sebuah pernyataan ilmiah
harus memiliki metode yang jelas yang dapat digunakan untuk membantah
atau menguji teori tersebut. Misalkan dengan mendefinisikan kejadian atau
fenomena apa yang tidak mungkin terjadi jika pernyataan ilmiah tersebut
memang benar.
Pengertian filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam berbagai
literatur. Filsafat ilmu menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah
segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala
hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala
segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang
pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung
pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.
Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering
juga disebut epistimologi. Epistimologi berasal dari bahasa Yunani yakni
episcmc yang berarti knowledge, pengetahuan dan logos yang berarti
teori. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854 yang
membuat dua cabang filsafat yakni epistemology dan ontology (on =being,
wujud, apa + logos = teori ), ontology ( teori tentang apa).
Filsafat ilmu secara sederhana dapat dikatakan bahwa, filsafat ilmu
adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh
pengetahuan secara ilmiah. Ini berarti bahwa terdapat pengetahuan yang
ilmiah dan tak-ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah yang disebut
ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan
yang telah disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa; sehingga
memenuhi asas pengaturan secara prosedural, metologis, teknis, dan
normatif akademis. Dengan demikian teruji kebenaran ilmiahnya sehingga
memenuhi kesahihan atau validitas ilmu, atau secara ilmiah dapat
dipertanggungjawabkan. Sedang pengetahuan non ilmiah adalah yang
masih tergolong prailmiah. Hal ini bisa saja diperoleh secara dari hasil
serapan inderawi, baik yang telah lama maupun baru didapat. Disamping
itu termasuk yang diperoleh secara pasif atau di luar kesadaran seperti
ilham, intuisi, wangsit, atau wahyu (oleh nabi).
filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat
pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh
karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman
dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama
tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini
senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980) bahwa ilmu
pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah
Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya
pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik.
Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja
kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi
kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).
Oleh karena itu, pada filsafat ilmu diperlukan perenungan kembali
secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga
implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman.
Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau
mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat.
filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang
berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu ada yang dijadikan
objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan
salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang
berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.
Kutipan Koento Wibisono (1984) menyimpulkan pengertian filsafat ilmu.
- ETIKA REKAYASA
Kata etika berasal dari kata ethos, yang secara sempit berarti:
a. Perilaku adat istiadat (Bourke, 1966)
b. Aturan atau tindakan susila (Runes, 1986)
Etika juga diartikan sebagai filsafat moral yang berkaitan dengan
studi tentang tindakan-tindakan baik atau buruk manusia di dalam
mencapai kebahagiaan.
Rekayasa adalah:
a. Penerapan sains untuk kesejahteraan umat manusia (Zen, 1981)
b. Penerapan ilmu pengetahuan dalam penggunaan sumber daya alam
demi manfaat bagi masyarakat dan umat manusia (Martin & Schinzinger,
1994)
Etika rekayasa adalah studi tentang permasalahan dan perilaku moral,
karakter, cita-cita, orang secara individu ataupun berkelompok yang
terlibat dalam perancangan, pengembangan, dan penyebarluasan
teknologi.
Rekayasawan adalah pencipta produk dan proses-proses inovatif
untuk meningkatkan kemudahan, kekuatan, dan keindahan di dalam hidup
sehari-hari Teknologi adalah kemampuan teknik yang berlandaskan
pengetahuan ilmu eksakta yang berdasarkan proses teknis Sedangkan
menurut Charles B. Fleddermann, etika enjiniring adalah aturan dan
standar yang mengatur arah para insinyur dalam peran mereka sebagai
profesional.
Tujuan etika rekayasa adalah meningkatkan otonomi moral. Otonomi
moral adalah kemampuan seseorang untuk berpikir rasional, kritis dan
mandiri tentang isu-isu moral berlandaskan kaidah-kaidah yang berlaku
dan menerapkan pemikiran moral ini pada situasi yang timbul dalam
praktek karir profesional di bidang teknik.
Kaidah Pokok Etika Rekayasa Di dalam menjalakan tugas
profesionalnya seorang rekayasawan wajib:
1. Menjunjung tinggi keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
2. Memberikan jasa-jasa profesi hanya pada bidang-bidang yang sesuai
dengan kompetensinya.
3. Memberikan pernyataan-pernyataan kepada umum hanya secara objektif
dan jujur.

4. Bertindak sebagai pelaku yang jujur dan terpercaya terhadap pemberi kerja
ataupun klien, dan menghindarkan diri dari konflik-konflik kepentingan.

5. Meningkatkan reputasi profesionalnya melalui unjuk kerja yang baik dan


bukan melalui persaingan secara curang.

6. Berperilaku terhormat, bertanggung jawab, etis, dan taat aturan untuk


meningkatkan kehormatan, reputasi, dan kemanfaatan profesi.

7. Secara terus menerus meningkatkan kemampuan profesionalnya sepanjang


karir dan memeberi kesempatan engineers di bawah bimbingannya untuk
mengembangkan kemampuan professional.

D. FILSAFAT ILMU DAN ETIKA REKAYASA DALAM ASPEK


EPISTEMOLOGI, ONTOLOGI DAN AKSIOLOGI.
Filsafat ilmu memiliki tiga cabang kajian yaitu ontologi, epistemologi
dan aksiologi.
1. Epistemologi
Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan
logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan
dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk
salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang
safat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya,
macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan
hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya
serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang
dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia
melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya;
metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode
kontemplatis dan metode dialektis.
2. Ontologi
Ontologi berasal dari bahasa Yunani yang artinya ilmu tentang
yang ada. Sedangkan, menurut istilah adalah ilmu yang membahas
sesuatu yang telah ada, baik secara jasmani maupun secara rohani. Dalam
aspek Ontologi diperlukan landasan-landasan dari sebuah pernyataan-
pernyataan dalam sebuah ilmu. Landasan-landasan itu biasanya kita sebut
dengan Metafisika.
Selain Metafisika juga terdapat sebuah asumsi dalam aspek
ontologi ini. Asumsi ini berguna ketika kita akan mengatasi suatu
permasalahan. Dalam asumsi juga terdapat beberapa paham yang berfungi
untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tertentu, yaitu:
Determinisme (suatu paham pengetahuan yang sama dengan empiris),
Probablistik (paham ini tidak sama dengan Determinisme, karena paham
ini ditentukan oleh sebuah kejadian terlebih dahulu), Fatalisme (sebuah
paham yang berfungsi sebagai paham penengah antara determinisme dan
pilihan bebas), dan paham pilihan bebas. Setiap ilmuan memiliki asumsi
sendiri-sendiri untuk menanggapi sebuah ilmu dan mereka mempunyai
batasan-batasan sendiri untuk menyikapinya. Apabila kita memakai suatu
paham yang salah dan berasumsi yang salah, maka kita akan memperoleh
kesimpulan yang berantakan.
3. Aspek Aksiologi
Aspek aksiologi merupakan aspek yang membahas tentang untuk
apa ilmu itu digunakan. Menurut Bramel, dalam aspek aksiologi ini ada
Moral conduct, estetic expresion, dan sosioprolitical. Setiap ilmu bisa
untuk mengatasi suatu masalah sosial golongan ilmu. Namun, salah satu
tanggungjawab seorang ilmuan adalah dengan melakukan sosialisasi
tentang menemuannya, sehingga tidak ada dengan hasil penemuan
tersebut. Dan moral adalah hal yang paling susah dipahami ketika sudah
mulai banyak orang yang meminta permintaan, moral adalah sebuah
tuntutan.
Ilmu bukanlah sekadar pengetahuan (knowledge). Ilmu memang
berperan tetapi bukan dalam segala hal. Sesuatu dapat dikatakan ilmu
apabila objektif, metidis, sistematis, dan universal. Dan knowledge adalah
keahlian maupun keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman
maupun pemahanan dari suatu objek. Sains merupakan kumpulan hasil
observasi yang terdiri dari perkembangan dan pengujian hipotesis, teori,
dan model yang berfungsi menjelaskan data-data.
E. SAINS DAN INOVASI TEKNOLOGI
- SAINS
(science) diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya
adalah pengetahuan. Sunddan Trowbribge merumuskan bahwa Sains
merupakan kumpulan pengetahuan dan proses.Sedangkan Kuslan Stone
menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-
carauntuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains
merupakan produk dan prosesyang tidak dapat dipisahkan. "Real Science
is both product and process, inseparably Joint"(Agus. S. 2003: 11) Sains
sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan
untuk melakukanpenyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang
gejala-gejala alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah,
merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkandata,
menganalisis dan akhimya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa
karakteristik yang mendasar dari Sains ialah kuantifikasi artinya gejala
alam dapat berbentuk kuantitas
- INOVASI
Inovasi merupakan setiap ide atau pun gagasan baru yang belum
pernah ada atau pun diterbitkan sebelumnya. Sebuah inovasi biasanya
berisi terobosan-terobosan baru mengenai sebuah hal yang diteliti oleh
sang inovator (orang yang membuat inovasi). Inovasi biasanya sengaja
dibuat oleh sang inovator melalui berbagai macam aksi atau pun penelitian
yang terencana.
Sebuah ide, gagasan, atau pun teori hanya bisa digolongkan ke
dalam sebuah inovasi jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Khas
Ciri utama dari sebuah inovasi adalah khas. Inovasi harus memiliki
ciri khas sendiri yang tidak dimiliki atau pun ada pada ide atau pun
gagasan yang sudah ada sebelumnya. Tanpa ciri khas yang spesifik,
sebuah ide atau pun gagasan tidak dapat digolongkan menjadi sebuah
inovasi baru.
2. Baru
Ciri ke dua dari sebuah inovasi adalah baru. Setiap inovasi harus lah
merupakan ide atau pun gagasan baru yang memang belum pernah
diungkapkan atau pun dipublikasikan sebelumnya.
3. Terencana
Ciri ketiga dari sebuah inovasi adalah terencana. Sebuah inovasi biasa
nya sengaja dibuat dan direncanakan untuk mengembangkan objek-
objek tertentu. Dengan kata lain, setiap inovasi yang ditemukan pada
dasar nya merupakan kegiatan yang sudah direncanakan sejak awal.
4. Memiliki Tujuan
Ciri terakhir yang harus ada pada inovasi adalah memiliki tujuan.
Seperti yang telah dijelaskan di poin yang sebelumnya, inovasi
merupakan aktivitas terencana untuk mengembangkan objek-objek
tertentu (tujuannya adalah mengembangkan objek objek tertentu).
- TEKNOLOGI
Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-
barang yang diperluka aspekn bagi kelangsungan, dan kenyamanan
hidup manusia. Penggunaan teknologi oleh manusia diawali dengan
pengubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana.
F. SAINS DAN INOVASI TEKNOLOGI DALAM BIDANG TEKNIK
SIPIL DITINJAU DARI ASPEK EPISTEMOLOGI, ONTOLOGI
DAN AKSIOLOGI
- PERKERASAN KAKU (RIGID PAVEMENT)

Ditinjau dari aspek Epistemologi, secara umum konstruksi perkerasan jalan


terdiri atas dua jenis, yaitu perkerasan lentur (flexible pavement) yang bahan
pengikatnya adalah aspal dan perkerasan kaku (rigid pavement) dengan semen
sebagai bahan pengikatnya yang jalannya biasa juga disebut jalan beton. Jalan
beton biasanya digunakan untuk ruas jalan dengan hirarki fungsional arteri yang
berada dikawasan baik luar maupun dalam kota untuk melayani beban lalu-lintas
yang berat dan padat. Selain itu karena biaya pemeliharaan jalan beton dapat
dikatakan nihil walaupun biaya awalnya lebih tinggi dibandingkan dengan jalan
aspal yang selalu memerlukan pemeliharaan rutin, pemeliharaan berkala, dan
peningkatan jalan (tentunya ini akan memakan biaya yang tidak sedikit pula),
maka sangatlah tepat jika jalan beton digunakan pada ruas-ruas jalan yang sangat
sibuk karena sesedikit apapun, perbaikan jalan yang dilakukan akan mengundang
kemacetan yang tentunya akan berdampak sangat luas.
Ditinjau dari aspek Ontologi Rigid pavement atau perkerasan kaku
adalah jenis perkerasan jalan yang menggunakan beton sebagai bahan
utama perkerasan tersebut Perkerasan ini umumnya dipakai pada jalan
yang memiliki kondisi lalu lintas yang cukup padat dan memiliki distribusi
beban yang besar, seperti pada jalan-jalan lintas antar provinsi, jembatan
layang (fly over), jalan tol, maupun pada persimpangan bersinyal. Jalan-
jalan tersebut umumnya menggunakan beton sebagai bahan Perkerasan
kaku karena mempunyai kekakuan dan stiffnes, akan mendistribusikan
beban pada daerah yangg relatif luas pada subgrade, beton sendiri bagian
utama yangg menanggung beban struktural. Sedangkan pada perkerasan
lentur karena dibuat dari material yang kurang kaku, maka persebaran
beban yang dilakukan tidak sebaik pada beton. Sehingga memerlukan
ketebalan yang lebih besar.

Pada konstruksi perkerasan kaku, perkerasan tidak dibuat menerus


sepanjang jalan seperti halnya yang dilakukan pada perkerasan lentur. Hal
ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pemuaian yang besar pada
permukaan perkerasn sehingga dapat menyebabkan retaknya perkerasan,
selain itu konstruksi seperti ini juga dilakukan untuk mencegah terjadinya
retak menerus pada perkerasan jika terjadi keretakan pada suatu titik pada
perkerasan. Salah satu cara yang digunakan untuk mencegah terjadinya hal
diatas adalah dengan cara membuat konstruksi segmen pada perkerasan
kaku dengan sistem joint untuk menghubungkan tiap segmennya.

Ditinjau dari aspek aksiologi, perkerasan kaku (Rigid Pavemnt)


berbahan beton menggantikan penggunaan aspal yang menjadi bahan
perkerasan dahulu yang dominan digunakan. Berkat perkembangannya
proyek-proyek jalan tidak lagi terpaku pada penggunaan 1 bahan material
perkerasan saja melainkan memliki alternative lain yaitu material beton
(Rigid Pavement). hal ini sangat baik untuk menjaga keseimbangan stok
material aspal dan semen (bahan baku beton) sehingga dapat terkendali
mengingat material material alam tersebut adalah material yang tidak
dapat diperbaharui. Jika ditinjau atau diuji secara secara kualitasnya
perkerasan kaku (Rigid Pavement) berbahan beton dapat bertahan selama
10 tahun dibandingkan aspal yang mudah aus jika tergenangi air sehingga
penggunaan beton sebagai bahan perkerasan jalan dinilai menjadi lebih
ekonomis dan efisien.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

1. Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat


dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta
pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang
dimiliki oleh setiap manusia.

2. Ontologi berasal dari bahasa Yunani yang artinya ilmu tentang yang ada.
Sedangkan, menurut istilah adalah ilmu yang membahas sesuatu yang
telah ada, baik secara jasmani maupun secara rohani. Dalam aspek
Ontologi diperlukan landasan-landasan dari sebuah pernyataan-
pernyataan dalam sebuah ilmu.

3. Aspek aksiologi merupakan aspek yang membahas tentang untuk apa


ilmu itu digunakan.

4. Pengetahuan mengenai sains dapat mendorong munculnya inovasi. Inovasi


membutuhkan teknologi, karena teknologi dapat membantu manusia untuk
berkreasi, yaitu mengimplementasikan idenya menjadi sebuah
karya.Teknologi bisa berkembang akibat inovasi. Inovasilah yang menjadi
dasar teknologi-teknologi yang mendukung kita bekerja saat ini.

B. SARAN

Setiap pembahasan mengenai ilmu pengetahuan diharapkan melalui kajian


landasan filosofis, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi agar upaya dan
usaha yang menjadi pembaharuan dalam teknologi dapat dipertanggung
jawabkan secarai ilmiah. Perkembangan teknologi yang semakin canggih
hendaknya di imbangi dengan kebijaksanaan pemakaian dan penggunaannya,
jangansampai teknologi membuat kita menjadi bermalas-malasan.

Anda mungkin juga menyukai