Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PEMBAGIAN ANATOMI TUBUH MANUSIA

A. PENDAHULUAN
Anatomi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan hubungan antara
bagian-bagian tubuh. Dengan kata lain, Anatomi adalah ilmu urai yang
mempelajari susunan tubuh dan hubungan bagian-bagiannya satu sama
lain. Dengan setiap region atau setiap daerah, misalnya lengan, tungkai,
kepala, dada, dan seterusnya ternyata terdiri atas sejumlah struktur atau
susunan yang umum didapati pada setiap region. Struktur itu meliputi
tulang, otot, saraf, pembuluh darah, dan seterusnya.
Mempelajari letak dan hubungan satu bagian tubuh tidak dapat dipisahkan
dari pengamatan terhadap fungsi setiap struktur dan sistem jaringannya.
Maka hal ini akan membawa kita kepada pengistilahan Anatomi
Fungsional yang berkaitan erat dengan fisiologi atau ilmu faal. Kemudian
diketahui ada struktur-struktur tertentu yang dapat dilihat oleh mata tanpa
bantuan alat maka hal itu dinamakan Anatomi Makroskopis yang
membedakannya dengan Anatomi Mikroskopis yang menggunakan
bantuan alat mikroskop.
Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi bagian-bagian tubuh dan
fungsi tubuh secara keseluruhan. Pembahasan ini sangat erat kaitannya
dengan pengetahuan tentang semua makhluk hidup yang tercakup dalam
pelajaran Biologi. Selain itu, ilmu ini juga berkaitan erat dengan tugas ahli
sitologi yang mempelajari detail struktur sel, dan ahli biokimia yang
berurusan dengan perubahan kimiawi dan kegiatan sel serta menyelidiki
proses kimia jasad hidup yang serba kompleks. Juga berhubungan erat
dengan ilmu alam, yang mempelajari reaksi fisik dan gerakan-gerakan
yang terjadi di tubuh.

B. MATERI AJAR
1. PENGERTIAN
Anatomi sistematik atau pembagian tubuh dalam sistem-sistem
disusun berdasarkan fungsinya dan berdasarkan ilmu yang
mempelajari bagian-bagian tubuh tertentu. Anatomi adalah: ilmu urai
atau ilmu yang mempelajari tentang susunan tubuh dan hubungan
bagian yang satu dengan yang lain.
1) Anatomi regional adalah : Anatomi yang mempelajari letak
bagian-bagian tubuh tertentu, misalnya mempelajari letak kepala
perut, dan lain-lain.
2) Anatomi makroskopis adalah : Ilmu yang mempelajari bagian
tubuh dengan mata telanjang tanpa alat, misalnya mengamati
kerangka manusia
3) Anatomi mikroskopis adalah : Ilmu yang mempelajari bagian
tubuh dengan menggunakan alat mikroskop, misalnya mengamati
sel tubuh.
4) Fisiologi adalah : Ilmu yang mempelajari tentang fungsi atau
kerja tubuh dalam keadaan NORMAL Patologi adalah : Ilmu
yang mempelajari ketidaknormalan tubuh
5) Patofifiologi adalah : Ilmu yang mempelajari fungsi atau kerja
tubuh dalam keadaan tidak normal.
6) Posisi anatomi adalah : Posisi tubuh dengan ketentuan, tubuh
berdiri tegak kedua tangan di samping tubuh dengan kedua
telapak tangan menghadap ke muka, kepala tegak, pandangan
mata lurus ke depan, kaki rapat.
7) Histology adalah : Ilmu yang mempelajari jaringan tubuh tertentu.

2. PEMBAGIAN ANATOMI TUBUH


Bagian tubuh manusia dikelilingi oleh rangka. Secara garis besar,
tubuh manusia dibagi menjadi:
Batang tubuh (dada, perut, punggung, dan panggul)

1) PERMUKAAN KEPALA
Anatomi permukaan berarti pelajaran anaotomi dalam keadaan
hidup . Mereka yang mempelajari anatomi mempunyai sebuah
sumber pengetahuan yang langsung dapat digunakan, yaitu
tubuhnya sendiri. Ini harus sering digunakan untuk membuktikan
hal-hal yang dipelajari dari buku dan contoh contoh. Dengan
pengetahuan yang diperoleh dengan demikian maka pengamatan
dan pemeriksaan dilakukan oleh dokter dapat diikuti dengan
seksama. Dengan cara palpasi, perkusi, dan auskultasi dokter
mempelajari keadaan pasien guna mencari data untuk menentukan
diagnosa.
Anatomi Permukaan Kepala adalah sebuah garis yang ditarik dari
protuberansia oksipitalis externa kedepan melalui puncak
tenggorok ketitik tengah basis hidung menunjukkan jurusan fissura
longitudinal yang memisahkan belahan otak sebelah kiri dan kanan
dan juga kedudukan sinus sagitalis superior dalam dura meter.
Cara untuk menenukan sulkus sentralis atau fisura Rolandi ialah
dengan menentukan titik tengah antara protuberans oksipitalis
externa dan basis hidung. Sebuah garis yang mengiris melintang 1
cm dibelakang titik tengah tadi dan berjalan kearah telinga
menunjukkan arah sulkus sentralis itu.
Prosesus mastoid dapat diraba dibelakang telinga. Kalenjar parotid
terjepit antara prosesus mastoid dan ramus mandibula (rahang
bawah), tetapi menutupi muskulus masseter (otot kunyah) dibawah
arkus zigomatikus. Salurannya berjalan kedepan menembus otot
pipi (buksinator), akhirnya memasuki mulut di tentang geraham
(molare) atas kedua arteri fasialis dan arteri temporalis.

Gambar 1.1 Anatomi Permukaan Kepala Manusia

2) BATANG LEHER
Batang leher terbagi atas dua bagian utama yang berbentuk
segitiga, yaitu anterior dan posterior, oleh otot sternomastoid yang
berjalan menyerong dari prosesus mastoid tulang pelipis kesebelah
depan klavikula dan dapat diraba disepanjang tulang itu. Klavikula
terletak pada dasar leher dan memisahkannya dari torax.
Segitiga posterior leher di sebelah depan dibatasi oleh otot
sternomastoid dan dibelakang oleh tepi anterior otot trapezius.
Segitiga anterior dari batang leher terbagi dalam berbagai
segitiga lagi.
Segitiga digastrik terletak dibawah rahang. Disini terdapat
beberapa bagian dari kelenjar submandibuler dan kelenjar
parotis, cabang saraf fasialis dan arteri fasialis dan struktur
lainnya yang terletak lebih dalam, termasuk beberapa
pembuluh karotis.

Gambar 1.2 Anatomi Batang Leher Manusia

3) BATANG TUBUH
Batang tubuh telah diuraikan dalam hubungannya dengan anatomi
permukaan. Dalam perbandingannya dengan tulang belakang maka
puncak sternum terletak berhadapan dengan sambungan antara ruas
kedua dan ketiga vertebrata torakalis.
Sudut sternum atau sudut Louis dapat diraba dari luar. Terletak
pada ketinggian persambungan iga kedua dengan sternum. Pada
ujung lain dari sternum terdapat sudut infrasternal atau xifoid,
dimana tampak atau teraba sebuah lekukan dangkal .
Gambar 1.3 Ruas Tulang
Belakang dan Tulang Rusuk Manusia

4) RONGGA ABDOMEN
ABDOMEN adalah rongga terbesar dalam tubuh. Bentuknya
lonjong dan meluas dari atas dari drafragma sampai pelvis di
bawah. Rongga abdomen dilukiskan menjadi dua bagian, abdomen
yang sebenarnya yaitu rongga sebelah atas dan yang lebih besar
dari pelvis yaitu rongga sebelah bawah dan lebih kecil. Batas-batas
rongga abdomen adalah di bagian atas diafragma, di bagian bawah
pintu masuk panggul dari panggul besar, di depan dan di kedua sisi
otot-otot abdominal, tulang-tulang illiaka dan iga-iga sebelah
bawah, di bagian belakang tulang punggung dan otot psoas dan
quadratus lumborum. Bagian dari rongga abdomen dan pelvis
beserta daerah-daerah (Pearce, 1999).
Gambar 1.4 Rongga Abdomen dan Pelvis (Pearce, 1999)
Keterangan :
1. Hipokhondriak 4. Lumbal kanan.
5. Pusar (umbilikus).
kanan.
6. Lumbal kiri.
2. Epigastrik.
7. Ilium kanan.
3. Hipokhondriak
8. Hipogastrik.
kiri. 9. Ilium kiri
10. Isi dari rongga abdomen adalah sebagian besar dari saluran
pencernaan, yaitu lambung, usus halus dan usus besar (Pearce,
1999).
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21. G
ambar
1.5 Isi

Rongga Abdomen

22. 1. Lambung
23. Lambung terletak di sebelah atas kiri abdomen, sebagian
terlindung di belakang iga-iga sebelah bawah beserta tulang
rawannya. Orifisium cardia terletak di belakang tulang rawan
iga ke tujuh kiri. Fundus lambung, mencapai ketinggian ruang
interkostal (antar iga) kelima kiri. Corpus, bagian terbesar letak
di tengah. Pylorus, suatu kanalis yang menghubungkan corpus
dengan duodenum. Bagian corpus dekat dengan pylorus disebut
anthrum pyloricum.
24. Fungsi lambung :
Tempat penyimpanan makanan sementara.
Mencampur makanan.
Melunakkan makanan.
Mendorong makanan ke distal.
Protein diubah menjadi pepton.
Susu dibekukan dan kasein dikeluarkan.
Faktor antianemi dibentuk.
Khime yaitu isi lambung yang cair disalurkan masuk
duodenum (Pearce, 1999).
25.
26. 2. Usus Halus
27. Usus halus adalah tabung yang kira-kira sekitar dua
setengah meter panjang dalam keadaan hidup. Usus halus
memanjang dari lambung sampai katup ibo kolika tempat
bersambung dengan usus besar. Usus halus terletak di daerah
umbilicus dan dikelilingi usus besar.
28. Usus halus dapat dibagi menjadi beberapa bagian :
a. Duodenum adalah bagian pertama usus halus yang
panjangnya 25 cm.
b. Yeyenum adalah menempati dua per lima sebelah atas dari
usus halus.
c. iIleum adalah menempati tiga pertama akhir.
29. Fungsi usus halus adalah mencerna dan mengabsorpsi
khime dari lambung isi duodenum adalah alkali. (Pearce, 1999).
30.
31. 3. Usus Besar
32. Usus halus adalah sambungan dari usus halus dan dimulai
dari katup ileokdik yaitu tempat sisa makanan. Panjang usus
besar kira-kira satu setengah meter.
33. Fungsi usus besar adalah :
Absorpsi air, garam dan glukosa.
Sekresi musin oleh kelenjer di dalam lapisan dalam.
Penyiapan selulosa.
Defekasi (pembuangan air besar) (Pearce, 1999)
34.
35. 4. Hati
36. Hati adalah kelenjer terbesar di dalam tubuh yang terletak
di bagian teratas dalam rongga abdomen di sebelah kanan di
bawah diafragma. Hati Secara luar dilindungi oleh iga-iga.
Fungsi hati adalah :
a. Bersangkutan dengan metabolisme tubuh, khususnya
mengenai pengaruhnya atas makanan dan darah.
b. Hati merupakan pabrik kimia terbesar dalam tubuh/sebagai
pengantar matabolisme.
c. Hati mengubah zat buangan dan bahan racun.
d. Hati juga mengubah asam amino menjadi glukosa.
e. Hati membentuk sel darah merah pada masa hidup janin.
f. Hati sebagai penghancur sel darah merah.
g. Membuat sebagian besar dari protein plasma.
h. Membersihkan bilirubin dari darah (Pearce, 1999).
37.
38. 5. Kandung Empedu
39. Kandung empedu adalah sebuah kantong berbentuk terong
dan merupakan membran berotot. Letaknya di dalam sebuah
lekukan di sebelah permukaan bawah hati, sampai di pinggiran
depannya. Panjangnya delapan sampai dua belas centimeter.
Kandung empedu terbagi dalam sebuah fundus, badan dan
leher.
40. Fungsi kandung empedu adalah :
a. Kandung empedu bekerja sebagai tempat persediaan getah
empedu.
b. Getah empedu yang tersimpan di dalamnya dibuat pekat.
(Pearce, 1999).
41.
42. 6. Pankreas
43. Pankreas adalah kelenjar majemuk bertandan, strukturnya
sangat mirip dengan kelenjar ludah. Panjangnya kira-kira lima
belas centimeter, mulai dari duodenum sampai limpa. Pankreas
dibagi menjadi tiga bagian yaitu kepala pankreas yang terletak
di sebelah kanan rongga abdomen dan di dalam lekukan
abdomen, badan pankreas yang terletak di belakang lambung
dalam di depan vertebre lumbalis pertama, ekor pankreas bagian
yang runcing di sebelah kiri dan menyentuh limpa.
44. Fungsi pankreas adalah :
a. Fungsi exokrine dilaksanakan oleh sel sekretori lobulanya,
yang membentuk getah pankreas dan yang berisi enzim dan
elektrolit.
b. Fungsi endokrine terbesar diantara alvedi pankreas terdapat
kelompok-kelompok kecil sel epitelium yang jelas terpisah
dan nyata.
c. Menghasilkan hormon insulin mengubah gula darah
menjadi gula otot (Pearce, 1999).

45. 7. Ginjal
46. Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen, terutama di
daerah lumbal di sebelah kanan dari kiri tulang belakang, di
belakang peritoneum. Dapat diperkirakan dari belakang, mulai
dari ketinggian vertebre thoracalis sampai vertebre lumbalis
ketiga ginjal kanan lebih rendah dari kiri, karena hati menduduki
ruang banyak di sebelah kanan. Panjang ginjal 6 sampai 7
centimeter. Pada orang dewasa berat kira-kira 140 gram. Ginjal
terbagi menjadi beberapa lobus yaitu : lobus hepatis dexter,
lobus quadratus, lobus caudatus, lobus sinistra.
47.
48. Fungsi ginjal adalah :
a. Mengatur keseimbangan air.
b. Mengatur konsentrasi garam dalam darah dan
keseimbangan asam basa darah.
c. Ekskresi bahan buangan dan kelebihan garam. (Pearce,
1999)
49.
50. 8. Limpa
51. Terletak di regio hipokondrium kiri di dalam cavum
abdomen diantara fundus ventrikuli dan diafragma.
52. Fungsi limpa adalah :
a. Pada masa janin dan setelah lahir adalah penghasil eritrosit
dan limposit.
b. Setelah dewasa adalah penghancur eritrosit tua dan
pembentuk homoglobin dan zat besi bebas.
53. Limpa dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
a. Dua facies yaitu facies diafraghmatika dan visceralis.
b. Dua kutub yaitu ekstremitas superior dan inferior.
c. Dua margo yaitu margo anterior dan posterior
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71. Gambar 1.6 Rongga Abdomen Bagian Depan
72.
73.
74. Rongga Abdomen Bagian Depan
75. Keterangan :
A. Diafragma. J. Kandung kencing.
B. Esofagus. K. Apendiks.
C. Lambung. L. Sekum.
D. Kaliks kiri. M. Illium.
E. Pankreas. N. Kolon asenden.
F. Kolon desenden. O. Kandung empedu.
G. Kolon transversum. P. Liver.
H. Usus halus. Q. Lobus kanan.
I. Kolon sigmoid. R. Lobus kiri
S.

T. Patologi Abdomen

1. Peritonitis, merupakan radang pada peritoneum yang sangat


berbahaya sebagai komplikasi dari penyebaran infeksi yang terjadi
pada organ-organ abdomen seperti appendicitis, salphingitis, rupture,
saluran cerna, luka tembus abdomen.
2. Obstruksi usus, merupakan penyumbatan usus yang terjadi karena
adanya daya mekanik dan mempengaruhi dinding usus sehingga
mengakibatkan penyempitan atau penyumbatan lumen usus.
3. Preumo peritoneum, merupakan adanya udara di dalam rongga
peritoneum, (Bontrager, 2001)
4. Editis Ulseratif, merupakan penyakit dimana daerah yang luas dari
usus besar meradang dan mengalami ulserasi. (Bontrager, 2001)
5. Volvulus, disebut juga torsi merupakan pemutaran usus dengan
mesenterium sehingga poros. (Bontrager, 2001)
6. Tumor / neoplasma adalah kumpulan sel abnormal yang terbentuk
oleh sel-sel yang tumbuh terus menerus secara tidak terbatas, tidak
terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi
tubuh (Dr. Kristanto)
7. Ulkus atau tukak yaitu terjadi apabila sebagian permukaan tulang
jaringan hilang sedang sekitarnya meradang. Bisa terjadi di kulit atau
alat dalam seperti lambung dan usus (Dr. Kristanto)
U.
5) PELVIS
V. Tanda-tanda wanita yang mulai memasuki masa pubertas
dengan menstruasi pertama atau nama lainnya menarche, uterus
dan vagina membesar, buah dada membesar serta jaringan ikat
pada dan saluran darah bertambah, sifat kelamin sekunder tampil,
lengkung tubuh berkembang, adanya bulu ketiak dan pubis pelvis
melebar.
W. Rongga pelvis yang membesar ini terletak di bawah,
berhubungan dengan rongga abdomen, yang dibentuk oleh Os. Iski
dan Os.Pubis pada sisi samping dan depan, Os. Sakrum dan Os.
Koksigis membentuk batas belakang dan pinggiran pelvis dibentuk
oleh promontorium sakrum di belakang iliopektinal sebelah sisi
samping dan depan dari tulang sakrum.
X. Lalu pintu keluar pelvis (pintu bawah) dibatasi oleh Os.
Koksigis di belakang simfisis pubus, di depan lengkung Os. Pubis,
Os. Iski, serta ligamentum yang berjalan dari Os. Iski dan Os.
Sakrum disetiap sisi, pintu keluar ini membentuk lantai pelvis.
Lantai pelvis ini yang di bentuk oleh 2 berkas otot M. Levator ani
dan M. Koksigis yang bekerja sebagai diapragma pelvis.
Y. Ada perinium yang merupakan bagian terendah dari badan
berupa sebuah garis yang menyambung kedua tuberositas iski,
daerah depan segitiga kongenitial dan bagian belakang segitiga
anal, titik tengahnya disebut badan perineum terdiri dari otot fibrus
yang kuat di sebelah depan anus.
Z. Sedangkan isi pelvis ada kandung kemih dan 2 buah ureter
terletak di belakang simfisis, kolon sigmoid sebelah kiri foa iliaka
dan rektum yang terletak di sebelah belakang rongga mengikuti
lengkung sakrum. Kelenjar limfe, serabut saraf fleksus lumbo
sakralis untuk anggota gerak bawah cabang pembuluh darah arteri
iliaka interna dan vena iiaka interna yang melengkapi isi rongga
pelvis.
AA.
1. Bagian Panggul Wanita
AB. Pelvis wanita terdiri atas :
a. Os. Coxae
AC. Terletak disebelah samping dan depan dari pelvis
wanita. Terdiri dari 3 tulang penyusun, yaitu : Os. Ilium, Os.
Ischium, dan Os. Pubis.
b. Os.Ilium
Os. Ilium merupakan tulang terbesar dari panggul dan
membentuk bagian atas dan belakang panggul. Memiliki
permukaan anterior berbentuk konkaf yang disebut fossa
iliaca. Bagian atasnya disebut Krista iliaca. Ujung-ujung
disebut Spina Iliaca anterior superior dan spina Iliaca
posterior superior. Terdapat tonjolan memanjang dibagian
dalam Os. Ilium yang membagi pelvis mayor dan pelvis
minor disebut linea innominata (linea terminalis).
c. Os.Ischium
AD. Terdapat disebelah bawah Os. Ilium. Merupakan
tulang yang tebal dengan tiga tepi di belakang foramen
obturator. Os. Ichium merupakan bagian terendah dari Os.
Coxae. Memiliki tonjolan di bawah tulang duduk yang sangat
tebal disebut Tuber Ischii berfungsi sebagai penyangga tubuh
sewaktu duduk.
d. Os.Pubis
AE. Terdapat disebelah bawah dan depan Os. Ilium.
Dengan tulang duduk dibatasi oleh Foramen obturatum.
Terdiri atas korpus (mengembang kebagian anterior). Os.
Pubis terdiri dari ramus superior (meluas dari korpus ke
asetabulum) dan ramus inferior (meluas ke belakang dan
berat dengan ramus ischium). Ramus superior Os. Pubis
berhubungan dengan dengan Os.Ilium, sedangkan ramus
inferior kanan dan kiri membentuk arkus pubis. Ramus
inferior berhubungan dengan Os. ischium.
e. Os.Sacrum
AF. Tulang ini berbentuk segitiga dengan lebar dibagian
atas dan mengecil dibagian bawahnya. Tulang kelangkang
terletak di antara kedua tulang pangkal paha yang terdiri dari
dan mempunyai ciri:
AG. Os. sacrum berbentuk baji, terdiri atas 5 Vertebra
sacralis.
Vertebra pertama paling besar, mengahadap ke depan.
Pinggir atas vertebra ini dikenal sebagai promontorium,
merupakan suatu tanda penting dalam penilaian ukuran-
ukuran panggul.
Di kanan dan kiri, garis tengah terdapat lubang yang
akan dilalui saraf: foramina sacralis anterior.
f. Os.Coccygis
AH. Berbentuk segitiga dengan ruas 3 sampai 5 buah
bersatu. Pada saat persalinan, Os. Coccygis dapat didorong ke
belakang sehingga dapat memperluas jalan lahir.
AI.
2. Sendi Pelvis terdapat 4 sendi pelvis yaitu :
1. Sacroiliaca
AJ. Sebagai penghubung Os. Sacrum dan Os. Ilium.
Memungkinkan gerakan terbatas ke depan dan ke belakang.
AK. Pergeseran yang terlalu lebar pada articulatio ini
sering menyebabkan rasa nyeri pada persendian.
2. Simphisis pubis
AL. Terbentuk dari hubungan 2 Os.Pubis
AM. Merupakan articulatio cartilagenia dan sendi
amphiarthrosis yang pergerakan sendinya lebih sedikit.
AN. Longgarnya hubungan Simphisis pubis ini dapat
menimbulkan simfisiolisis yang terasa sangat nyeri.
3. Articulatio sacroocygea
AO. Memiliki hubungan dengan Os. Sacrum dan Os.
Coccygeus.
AP. Adanya sendi ini memungkinkan Os. Coccygeus
tertekan ke belakang pada waktu kepala janin lahir.
AQ.
3. Ligamen-ligamen Pelvis
AR. Ligamen yang menghubungkan Os. Sacrum dengan Os.
Ilium pada articulatio sacroiliaca merupakan yang terkuat di
seluruh tubuh.
AS. Ligamen Sacrotuberosum mengikat sacrum dengan tuber
ischii, sedang ligamen sacrospinosum menghubungkan sacrum
dengan spina ischiadika. Kedua ligamen ini membentuk dinding
posterior dari pintu bawah panggul.
AT.
4. Bagian bagian Pelvis
AU. Secara fungsional panggul terdiri atas 2 bagian yang
disebut pelvis mayor dan pelvis minor.
AV.
AW.
1. Pelvis Mayor
AX. Bagian pelvis di atas linea terminalis, yang tidak
banyak kepentingannya dalam obsetri.
2. Pelvis Minor
AY. Dibatasi oleh pintu atas panggul (inlet) dan pintu
bawah panggul (outlet).
AZ. Pelvis minor berbentuk saluran yang mempunyai
sumbu lengkung ke depan (sumbu carus).
BA.
5. Pintu atas Pelvis
BB. Merupakan satu bidang yang dibatasi sebelah posterior oleh
promontrium, di lateral oleh linea terminalis dan anterior oleh
pinggir atas symphisis.
BC. Pada pelvis ginekoid pintu atas panggul hampir bundar,
kecuali di daerah promontrium agak masuk sedikit.
BD. Ukuran pintu atas pelvis yaitu :
Diameter anteroposterior yang di ukur dari promontorium
sampai ke tengah permukaan posterior symphisis. Diameter
anteroposterior disebut juga konyugata obsetrika.
Konjugata diagonalis yaitu jarak bagian bawah symphisis
sampai ke promontorium, yang dapat diukur dengan
memasukkan jari tengah dan telunjuk ke dalam vagina dan
mencoba meraba promontorium. Pada panggul normal
promontorium tidak teraba dengan jari yang panjangya 12
cm.
Konjugata Vera yaitu jarak pinggir atas symphisis dengan
promontorium diperoleh dengan mengurangi konyugata
diagonalis dengan 1,5 cm.
Diameter tranversa adalah jarak terjauh garis lintang pintu
atas panggul, biasanya sekitar 12,5 13 cm.
Diameter Oblikua, yaitu garis yang dibuat antara
persilangan konyugata vera dengan diameter tranversa ke
articulation sacroiliaca yang panjangnya sekitar 13 cm.
BE.
BF.
6. Ruang Pelvis
BG. Merupakan saluran di antara pintu atas panggul dan pintu
bawah panggul.
BH. Dinding anteriornya sekitar 4 cm terdiri atas os pubis
dengan symphisisnya.
BI. Dinding posteriornya dibentuk oleh os sacrum dan os
coccygeus, sepanjang kurang lebih 12 cm, Karena itu ruang
panggul berbentuk saluran denagn sumbu melengkung ke depan.
BJ.
7. Jenis Pelvis meurut Caldwell-Moloy
Pelvis Ginekoid : ditemukan pada 45% wanita. Panjang
diameter anteroposterior hampir sama dengan diameter
tranversa.
Pelvis Android : bentuk pintu atas panggul hampir segitiga.
Walaupun diameter anteroposterior hampir sama dengan
diameter tranversa, tetapi diameter tranversa dekat dengan
sacrum. Bagian dorsal dari pintu atas panggul gepeng,
bagian ventral menyempit ke muka. Ditemukan 15% pada
wanita.
Pelvis Antropoid : ditemukan pada 35% wanita. Bentuk
pintu atas panggul agak lonjong seperti telor. Diameter
anteroposterior lebih besar daripada diameter tranversa
Pelvis Platipelloid : Ditemukan pada 5% wanita. Diameter
tranversa lebih besar daripada diameter anteroposterior.
BK.

BL. Gambar 1.7 PELVIS


BM.
BN.
3. Istilah yang Lazim dipakai pada Deskriptif Anatom
1. Aksis dan Bidang Penting
BO. Bidang / plana dan axis penting anatomi
Bidang / plana sagital adalah bidang yang membagi tubuh
menjadi dua, yaitu sisi kanan dan sisi kiri. Bidang sagital yang
membagi tepat ditengah sehingga sisi kanan dan kiri simetris
disebut plana mediosagital.
Pada plana sagital terdapat 2 axis atau sumbu yaitu axis sagital
dan axis vertikal / longitodinal.
Axis sagital adalah sumbu yang
berjalan dengan arah depan belakang.
Axis vertikal / longitodinal adalah
sumbu yang berjalan dengan arah
atas bawah.

BP. Bidang/ plana transversal/ horizontal adalah bidang yang


membagi tubuh menjadi dua bagian yaitu atas dan bawah.

BQ. Pada plana transversal terdapat axis transversal dan axis


sagital.
Axis transversal adalah sumbu yang berjalan dengan arah kanan
kiri.
Bidang/ plana frontal atau coronal adalah bidang yang membagi
tubuh menjadi 2 sisi depan dan belakang.
Pada plana frontal terdapat axis transversal dan axis
longitodinal.
2. Posisi Anatomi
BR. Tubuh manusia dipelajari dalam keadaan berdiri tegak
dengan kedua lengan pada sisi tubuh dan telapak tangan terbuka
menghadap kedepan, kepala tegak dan mata tertuju lurus kedepan.
Tubuh dibagi menjadi :
kepala dan leher (caput dan column).
batang badan (truncus).
anggota badan (membrum/ ekstremitas)
BS.Truncus dibagi menjadi
thorax.
Abdomen.
Pelvis.
Membrum/ ekstremitas terdiri membrum superius dan inferius
BT.Membrum superius terdiri dari:
Brachium.
Antebrachium.
Manus
BU. Membrum inferius terdiri dari
femur.
Cruris.
Pedis.
Membrum superius dihubungkan dengan truncus oleh gelang bahu
yang terdiri dari clavicula dan scapula.

Membrum inferius dihubungkan dengan truncus oleh gelang pelvis


yang terdiri dari coxae dan sacrum.
BV.
BW.
BX.
BY.
BZ.

CA.

CB.

CC.

CD.

CE.

CF.
CG.

CH.

CI.

CJ. Gambar 1.8 Posisi Anatomi

CK.
3. Arah Pergerakaan
CL. Pergerakan struktur tubuh baik gerak (motion) maupun
perpindahan (movement) terjadi karena kontraksi otot. Otot dapat
menggerakkan bagian-bagian kerangka maupun organ internal secara
relatif satu sama lain. Semua pergerakan itu diklasifikasikan
berdasarkan arah struktur yang digerakkan. Pada anatomi manusia,
semua deskripsi posisi dan pergerakan didasarkan pada asumsi bahwa
tubuh berada pada rentang medial dan abduction penuh dalam posisi
anatomis.
CM. Pergerakan bisa memberi tekanan yang signifikan pada
sendi yang terlibat. Semua gerak (motion) dianggap sebagai kontribusi
campuran maupun tunggal oleh perpindahan (movement) yang
mengikutinya. Gerak memiliki lawan dan diperlakukan sebagai
pasangan.
CN. Untuk menggambarkan berbagai pergerakan tubuh, sembari
menjelaskan dan menganalisis latihan, kita menggunakan terminologi
kinesiologi atau studi tentang gerak.
CO. Terminologi Gerak Anatomis
CP.Pergerakan ini adalah relatif terhadap tubuh, dan bukan terhadap
posisi tubuh di dalam ruang.

1. Anterior atau Ventral bagian depan tubuh.


2. Posterior atau Dorsal bagian belakang tubuh.
3. Superior bagian atas tubuh.
4. Inferior bagian bawah tubuh.
5. Medial menuju garis tengah tubuh.
6. Lateral menjauh dari garis tengah tubuh.
7. Proksimal mendekati batang tubuh.
8. Distal menjauhi batang tubuh.
9. Superficial dekat dari permukaan tubuh.
10. Deep jauh di bawah permukaan tubuh.
11. Cephalic berkaitan arah kepala.
12. Caudal berkaitan dengan tulang ekor.
13. Unilateral, Ipsilateral, Isolateral mengacu pada satu sisi.
14. Bilateral mengacu pada kedua belah sisi.

4. Bidang Anatomis

CQ.

CR.

CS.

CT.

CU.

CV.

CW.

CX.

CY. Gerak manusia digambarkan dalam tiga dimensi


berdasarkan sistem bidang dan sumbu. Tiga bidang imajiner diposisikan
membelah tubuh pada sudut sedemikian sehingga saling berpotongan di
pusat massa tubuh. Dalam posisi anatomisnya, pusat gravitasi (COG = centre
of Gravity) manusia berada di promontori sakrum (sacral promontory).
1. Bidang Sagital juga dikenal sebagai Bidang Median atau
Anteroposterior adalah bidang imajiner yang membentang dari depan ke
belakang dan dari atas ke bawah. Bidang ini membelah tubuh menjadi
bagian medial (kiri) dan bagian lateral (kanan).
2. Bidang Frontal juga dikenal sebagai bidang Coronal atau Lateral
membentang dari sisi ke sisi dan dari atas ke bawah. Bidang ini membelah
tubuh menjadi bagian anterior (depan) dan belakang (posterior).
3. Bidang Transversal atau bidang Horizontal, membentang dari sisi ke sisi
dan dari depan ke belakang, membelah tubuh menjadi bagian superior
(atas) dan inferior (bawah).

CZ. Bidang sagital tegak lurus terhadap bidang frontal yang


tegak lurus terhadap bidang horizontal. Bidang-bidang ini hanyalah titik
acuan. Ketiganya adalah sarana untuk menggambarkan gerak.

5. Sumbu Anatomis

DA. Sumbu digunakan untuk menggambarkan gerak rotasi otot dan


tulang.

1. Sumbu longitudinal atau sumbu kutub merentang dari utara ke selatan


terhadap posisi anatomis.
2. Sumbu horizontal atau sumbu bilateral merentang dari timur ke barat
terhadap posisi anatomis.
3. Sumbu antero-posterior merentang dari depan ke belakang terhadap
posisi anatomis.
DB.

DC. 1. Gerak pada Bidang Sagital

DD.

1. Fleksi suatu gerak sendi yang memperkecil sudut sendi di antara dua
tulang atau lebih. Gerak ini terjadi di sekitar sumbu transversal. Gerk
fleksi menggerakkan sendi dari posisi netral ke posisi apapun pada arah
yang sama dengan gerak natural sendi. Atau, jika Anda telah pada posisi
ekstensi, gerak fleksi mengembalikan sendi ke posisi netral.
2. Ekstensi gerak kebalikan dari fleksi. Ekstensi adalah gerak meluruskan
di sekitar sumbu transversal ketika sendi bergerak dari posisi fleksi
kembali ke posisi anatomis netral pada bidang sagital.
3. Hiper-ekstensi adalah gerakan melampaui posisi netral atau lebih dari nol
derajat. Hiper dalam konteks ini bukan berarti berlebihan, atau lebih besar
dari normal, atau terlalu banyak tapi sekadar di lebih dari netral atau nol.

4. Dorsifleksi gerak fleksi pada sendi


pergelangan kaki ke arah atas, membawa
kaki mendekati tungkai bawah.
5. Plantar fleksi gerak fleksi pada sendi pergelangan kaki ke arah bawah
telapak kaki, membawa kaki menjauhi tungkai bawah.

DE. 2. Gerak pada Bidang Frontal

1. Abduksi gerak ke samping, menjauhi tubuh pada posisi anatomis.


2. Hiper-abduksi gerak abduksi melampaui sudut optimal yang
memungkinkan
3. Adduksi kebalikan dari abduksi, mengarah kembali ke posisi anatomis.
4. Hiper-adduksi gerak adduksi melebihi garis tengah tubuh.

5. Elevasi gerak bahu kearah telinga, seperti ketika mengangkat bahu untuk
mengatakan, Saya tidak tahu.
6. Depresi kebalikan elevasi, kembali ke posisi anatomis.
7. Feksi Lateral menekuk leher atau batang tubuh ke samping.

8. Inversi gerak memutar kaki sehingga sisi medial telapak kaki terangkat
ke dalam. Kombinasi supinasi dan adduksi.
9. Eversi gerak memutar kaki sehingga sisi lateral telapak kaki terangkat
ke luar. Kombinasi pronasi dan abduksi

DF.3. Gerak pada Bidang Transversal

1. Abduksi horizontal suatu gerak unik pada bidang transversal. Misalnya,


berdiri dengan lengan lurus terentang ke samping, lurus setinggi bahu dan
sejajar lantai. Pindahkan lengan ke arah depan tubuh, sepanjang garis bahu
dan sejajar lantai.
2. Adduksi horizontal kebalikan abduksi horisontal. Misalnya, berdiri
dengan kedua lengan terjulur ke depan tubuh, sejajar lantai. Pindahkan
lengan ke samping tubuh, sepanjang garis bahu, sejajar lantai.

3. Protaksi abduksi skapula (tulang belikat) menuju garis tengah tubuh.


4. Retraksi adduksi skapula kembali ke posisi anatomis netral.

5. Rotasi gerak berputar pada sendi tulang belakang.


1. Rotasi lateral gerak memutar menjauhi garis tengah tubuh.
2. Rotasi medial kebalikan rotasi lateral, gerak berputar ke arah garis
tengah tubuh.

DG.
6. Pronasi rotasi ke arah dalam untuk pergelangan tangan. Pada gerak ini,
ibu jari dari posisi anatomis diputar ke arah tubuh.
7. Supinasi kebalikan dari pronasi, kembali ke posisi anatomis.

8. Sirkumduksi (Circumduction) gerak membentuk kerucut.

..
DH.

4. CAIRAN TUBUH
1. Pengertian
DI. Cairan tubuh (bahasa Inggris: interstitial fluid, tissue
fluid, interstitium) adalah cairan suspensi sel di dalam tubuh makhluk
multiselular seperti manusia atau hewan yang memiliki fungsi
fisiologis tertentu. Cairan tubuh merupakan komponen penting bagi
fluida ekstraselular, termasuk plasma darah dan fluida transelular.
Cairan tubuh dapat ditemukan pada spasi jaringan (bahasa Inggris:
tissue space, interstitial space).
DJ. Rata-rata seseorang memerlukan sekitar 11 liter cairan
tubuh untuk nutrisi sel dan pembuangan residu jaringan tubuh.
Kelebihan cairan tubuh dikeluarkan melalui air seni. Kekurangan
cairan tubuh menyebabkan seseorang kehausan dan akhirnya
dehidrasi.
DK. Contoh cairan tubuh adalah:
Darah dan plasma darah.
Sitosol.
Zalir serebrospinal.
Korpus vitreum maupun humor vitreous.
Serumen.
Humor aqueous.
Cairan limfa.
Cairan pleura.
Cairan amnion
2. Pertukaran Cairan dalam Jaringan
DL. Pemasukan : Cairan tubuh sebagian besar berasal dari
makanan dan minuman setiap hari dan sebagian kecil berasal dari
proses oksidasi H2 dalam makanan.
DM. Pengeluaran :
Pengeluaran cairan terjadi melalui organ-organ seperti;
Ginjal
Merupakan pengatur utama keseimbangan cairan yang
menerima 170 liter darah untuk disaring setiap hari.
Produksi urine untuk semua usia 1 ml/kg/jam.
Pada orang dewasa produksi urine sekitaar 1,5 liter/hari.
Jumlah urine yang diproduksi oleh ginjal dipengaruhi oleh
ADH dan aldosteron.
Kulit
Hilangnya cairan melalui kulit diatur oleh saraf simpatis yang
merangsang aktivitas kelenjar keringat.
Rangsangan kelenjar keringat dapat dihasilkan dari aktivitas
otot, temperatur lingkungan meningkat dan demam.
Paru-paru
Meningkatnya cairan hilang sebagai respon terhadap perubahan
kecepatan dan kedalaman napas akibat pergerakan atau demam.
Gastrointestinal
Dalam kondisi normal cairan yang hilang dari gastrointestinal
setiap hari sekitar 100 1200 ml.
Gangguan keseimbangan cairan pada defisit cairan yaitu:
Isotonis
Bila sel dimasukan kedalam suatu larutan tanpa
menyebabkan sel membengkak atau mengkerut disebut
larutan isotonis.
Hipotonis
Larutan yang bila dimasukan kedalamnya akan menyebabkan
sel menjadi bengkak.
Hipertonis
Larutan yang menyebabkan sel mengkerut jika dimasukan
kedalam larutan tadi.
DN.
3. Edema dan Dehidrasi
DO. EDEMA (Sembab)
A. Pengertian
DP. Pada umumnya edema berarti meningkatnya
volume cairan ekstraseluler dan ekstravaskuler disertai dengan
penimbuan cairan ini dalam sela-sela jaringan dan rongga
serosa. Dapat bersifat setempat atau umum. Dalam rongga
pleura dan rongga pericard normal juga terdapat cairan sedikit,
sekedar untuk membasahi lapisan permukaan. Dalam rongga
pericard misalnya normal terdapat 5-25 ml cairan. Selain itu,
bergantung pada lokasinya pengumpulan cairan dalam rongga
tubuh yang berbeda diberi sebutan yang beragam, seperti :
Hydrothorax.
Hydropericardium.
Hydroperitoneum atau Ascites
DQ. Dengan anasarca dimaksudkan edema umum
dengan penimbunan cairan dalam jaringan subcutis dan rongga
tubuh. Juga disebut dropsy. Penimbunan cairan dalam sel
sering dinamai cellular edema. Istilah ini kurang tepat dan
sebaiknya dinamai cellular hyrdation atau hydropic change.
DR. Edema adalah suatu kelebihan cairan dalam
jaringan.normalnya cairan di dorong kedalam ruang jaringan
oleh kekuatan tekanan darah pada arterial berakhir pada
kapiler. Pada ujung vena kapiler, tekanan darah turun dan
protein plasma menggunakan tekanan osmotik yang menarik
kembali cairan.saluran getah bening mengalirkan semua
kelebihan cairan.
DS.
B. Penyebab Edema
Obstruksi Limpatik : Cairan tubuh sebenarnya berasal dari
plasma darah dan hasil metabolisme sel.
DT. Sebagian cairan interstisium dengan zat-zat yang
melarut akan diserap lagi melalui dinding kapiler darah masuk
kedalam saluran darah. Sebagian lain, yang mengandung
sejumlah protein masuk kedalam saluran limpe. Jumlah limpe
yang akan mengalir dapat diperbanyak bila :
Tekanan veSSna meningkat
Dipijat.
Pergerakan pasif yang bertambah banyak.
Permeabilitas endotel kapiler bertambah.
DU. Selama outflow limpe dari daerah terjamin baik,
maka tidak akan terjadi penimbunan cairan dan edema.
Apabila terjadi gangguan aliran limpe pada suatu daerah, maka
cairan jaringan akan tertimbun, dinamai limpedema.
DV. Limpedema misalnya sering terjadi akibat
mastektomi radikal untuk mengeluarkan suatu tumor ganas
payudara.
DW. Edema juga dapat terjadi akibat tumor ganas
menyebuk atau menginfiltrasi kelenjar dan saluran limpe.
DX. Saluran dan kelenjar inguinal yang meradang akibat
infestasi filaria dapat menyebabkan edema pada scrotum.
Scrotum dan tungkai sangat membesar dan sering dinamai
elephantiasis.
DY. Obstruksi saluran limpe dalam thorax oleh tumor
menyebabkan gangguan pengaliran (drainage) limpe pada
daerah thorax dan menimbulkan penimbunan cairan dalam
rongga pleura dan rongga peritoneum, sehingga terjadi
hydrothorax dan ascites.
DZ. Bila akibat obstruksi, tekanan menjadi sedemikian
tinggi hingga ductus thoracicus robek, maka cairan limpe yang
banyak mengandung lemak masuk kedalam rongga thorax,
dinamai chylothorax atau masuk kedalam rongga peritoneum
dinamai chyloperitoneum.
Permeabilitas Kapiler yang bertambah :
EA. Endotel kapiler merupakan suatu membran
semipermeabel yang dapat dilalui oleh air dan elektrolit secara
bebas, sedangkan protein plasma hanya dapat melaluinya
sedikit atau terbatas. Tekanan osmotik darah lebih besar
daripada limpe. Daya atau kesanggupan permeabilitas ini
bergantung kepada substansi semen (cement substance) yang
mengikat sel-sel endotel tersebut. Pada beberapa keadaan
tertentu, misalnya akibat pengaruh toksin yang bekerja
terhadap endotal, permeabilitas bertambah.
EB. Akibatnya ialah protein plasma keluar dari kapiler,
sehingga tekanan osmotik koloid darah menurun dan
sebaliknya tekanan osmotik cairan interstisium bertambah. Hal
ini menyebabkan makin banyak cairan yang meninggalkan
kapiler dan menimbulkan edema. Bertambahnya permeabilitas
kapiler dapat terjadi pada :
Infeksi berat
Reaksi anafilaktik
Keracunan akibat obat-obatan atau zat kimiawi
Anoxia yang terjadi akibat berbagai keracunan.
Tekanan vena yang meningkat akibat payah jantung
Kekurangan protein dalam plasma akibat albuminuria
Retensi natrium dan air pada penyakit ginjal tertentu
Edema setempat sering terjadi akibat bertambahnya
permeabilitas kapiler disebabkan oleh radang. Pembengkakan
kulit setempat sering terjadi akibat :
Reaksi alergi
Gigitan atau sengatan serangga
Luka besar
Infeksi atau akibat terkena zat-zat kimiawi yang tajam
seperti soda bakar atau asam-asam keras.
Edema angioneurotik ialah edema setempat yang sering
timbul dalam waktu yang singkat tanpa sebab yang jelas.
Sering terjadi pada anggota tubuh akibat lergi atau neurogen.
Berkurangnya Protein Plasma :
EC. Protein plasma yang berkurang mengakibatkan
tekanan osmotik koloid menurun. Sebagian besar tekanan
osmotik ini diselenggarakan oleh albumin. Biasanya edema
akan timbul bila kadar albumin lebih rendah dari 2 gram per
100 ml. Suatu contoh edema akibat kekurangan albumin ialah
edema nefrotik. Hal ini terjadi akibat penyakit ginjal, sehingga
albumin seolah-olah bocor dan keluar melalui ginjal dalam
jumlah besar.
ED. Akibatnya ialah hipoalbuminemi dan pembalikan
perbandingan albumin-globulin. Kejadian ini sering ditemukan
pada keadaan yang dinamai sindrom nefrotik, yaitu penyakit
ginjal dengan ciri-ciri : Edema, proteinuria terutama albumin,
hipoalbuminemi, hiperlipemi khususnya hipercholesterolemi,
lipiduria.
EE.Edema akibat berkurangnya protein juga dapat terjadi pada
kelaparan dan gizi buruk.
EF. Hipoproteinemi dapat terjadi pula pada penderita penyakit
hati, oleh karena sintesis protein terganggu. Oleh karena itu
edema sering sangat nyata pada penderita cirrhosis hepatis.
Tekanan daerah kapiler yang meninggi (hydrostatic
pressure)
EG. Tekanan darah dalam kapiler bergantung kepada :
Tonus arteriol
Kebebasan aliran darah dalam vena
Sikap tubuh (posture)
Temperatur dan beberapa faktor lain.
EH. Tekanan ini merupakan daya untuk
menginfiltrasi cairan melalui dinding kapiler. Tekanan ini
biasanya meningkat bila tekanan dalam vena meningkat. Bila
tekanan ini lebih besar daripada tekanan osmotik yang menarik
air dari jaringan maka mengakibatkan edema. Edema akibat
tekanan kapiler yang meninggi dapat terjadi pada :
1. Kongesti Pasif (Passive Congestion)
EI. Akibat obstruksi mekanik pada vena, menyebabkan
tekanan darah vena meningkat, misalnya dapat terjadi
pada vena iliaca akibat uterus yang membesar pada
kehamilan. Dalam hal ini edema terjadi pada tungkai.
2. Edema Kardial
EJ. Terjadi oleh karena tekanan vena meningkat akibat
sirkulasi darah terganggu karena payah jantung (left heart
failure). Edema ini bersifat sistemik, tetapi yang paling
nyata terkena ialah bagian-bagian paling bawah
(dependent part), yaitu kaki pada penderita yang masih
dapat berjalan dan rongga-rongga viscera serta serosa
pada penderita yang berbaring terus.
EK.
3. Obstruksi Portal
EL. Pada penyakit cirrhosis hepatitis tekanan dalam
vena portae meningkat sehingga megakibatkan cairan
dalam rongga peritoneum, yaitu terjadi ascites.
4. Edema Postural
EM. Pada orang yang berdiri terus menerus untuk waktu
yang lama, terjadi edema pada kaki dan pergelangan kaki.
Edema ini tidak terjadi bila orang bergerak aktif, misanya
berjalan-jalan karena aktivitas otot ikut membantu aliran
dalam pembuluh limpe.
5. Tekanan Osmotik Koloid :
EN. Tekanan osmotik koloid dalam jaringan biasanya
hanya kecil sekali sehingga tidak dapat melawan tekanan
osmotik koloid yang terdapat dalam darah. Tetapi pada
beberapa keadaan tertentu jumlah protein pada jaringan
dapat meninggi, misalnya bila permeabelitas kapiler
bertambah. Dalam hal ini maka tekanan osmotik jaringan
dapat menimbulkan edema.
EO. Filtrasi cairan plasma juga mendapat perlawanan
dari tekanan jaringan (tissue tension). Tekanan ini
berbeda-beda pada berbagai jaringan. Pada jaringan
subcutis yang renggang seperti kelopak mata dan alat
kelamin luar, tekanan sangat rendah, karena itu pada
tempat tersebut mudah timbul edema.
6. Retensi Natrium dan Air:
EP. Retensi natrium terjadi bila eksresi natrium dalam
air kemih lebih kecil dari pada yang masuk (intake),
karena konsentrasi natrium meninggi maka akan terjadi
hipertoni. Hipertoni menyebabkan air ditahan sehingga
jumlah air ekstraseluler, baik yang intravaskuler maupun
yang interstisial bertambah akibatnya jadi edema.
EQ. Edema akibat retensi natrium bersifat ekstrarenal
(dipengaruhi oleh saraf) dapat juga disebabkan oleh
hormon lain. Pada penderita yang mendapat pengobatan
dengan ACTH, testosteron, progesteron, atau estrogen
sering terjadi edema sedikit atau banyak.
ER.
ES.Kategori Patofisiologi Edema
ET.1. Peningkatan Tekanan Hidrostatik
EU. a. Gangguan aliran vena balik :
EV. ~ Gagal jantung kongestif
EW. ~ Perikarditis Konstriktif
EX. ~ Asites (sirotis hati)
EY. ~ Kompresi atau obstruksi vena :
EZ. Trombosis
FA. Tekanan eksterna (misal massa)
FB. Inaktivitas ekstremitas inferior yang lama ditopang
FC. Dilatasi arteriolar
FD. ~ Panas
FE. ~ Disregulasi Neurohumonal
FF. 2. Penurunan Tekanan Osmotik Plasma (Hipoproteinemia)
FG. ~ Glumerulopati yang kehilangan protein (sindrom nefrotik)
FH. ~ Sirosis hati (asites)
FI. ~ Malnutrisi
FJ. ~ Gastroenteropati yang kehilangan protein
FK. 3. Obstruksi Limpatik
FL. ~ Inflamasi
FM. ~ Neoplastik
FN. ~ Pasca pembedahan
FO. ~ Pasca radiasi
FP. 4. Retensi Natrium
FQ. ~ Asupan garam berlebih dengan insupisiensi ginjal
FR. ~ Peningkatan reabsorsi natrium ditubulus :
FS. Hipoperfusi ginjal
FT. Peningkatan sekresi renin angiotensin aldosteron
FU. 5. Inflamasi
FV. ~ Inflamasi akut dan kronik
FW. ~ Angiogenesis
FX.
FY.DEHIDRASI
FZ.A. Pengertian
GA. Dehidrasi adalah suatu gangguan dalam keseimbangan air yang
disertai output yang melebihi intake sehingga jumlah air dalam tubuh
berkurang.meskipun yang hilang adalah cairan tubuh tetapi dehidrasi juga
disertai gangguan elektrolit.
GB. Gangguan volume air bisa berupa kekurangan air(dehidrasi), dan
dapat disertai kurangnya natrium (dehidrasi hipotonik) air tubuh lebih
banyak hilang bila suhu badan meningkat. Diare, muntah-muntah, dan
kehilangan air melalui ginjal, kulit, paru, dan saluran cerna.
GC.
GD. Tabel 1.1 Keseimbangan Air
GE. Masukan GF. P GG. Pengeluaran
angkalan Air
GH. Makanan GI. GK. GL. GM. GN. 500 ml
basah dan Plasma 3000 Paru-
GJ. 2
minuman cai ml par
0
ran u
0
0
m
l
GO. Air dari GP. GR. GS. GT. GU. 400 ml
oksidasi dan Jaringa 1200 Kulit
GQ.
makanan kering n ml Ins
500
ens
m
ibe
l
l
GV. GW. GX. GY. GZ. HA. 1300 ml
Cairan 30.000 Urina
sel ml
HB. HC. HD. HE. HF.Fes HG. 200 ml
es
HH. HI. HJ. HK. HL. HM. 100 ml
Kering
at
HN. HO. HP. HQ. HR. HS. 2500 ml
2500 45.000
m ml
l
HW.
HX.
HT. HY.
HV. IC. ID. IE. IF.
HU. HZ.
IA.
IB.
IG. B. Penyebab Dehidrasi
IH. 1. Kemiskinan Air (water depletion) atau Dehidrasi Primer
II. Hal ini terjadi karena masuknya air sangat terbatas akibat:
Penyakit yang menghalangi masuknya air
Penyakit mental yang disertai dengan menolak air atau
ketakutan akan air (hidrophobia)
Penyakit sedemikian rupa sehingga penderita sangat lemah dan
tidak dapat minum lagi
Koma yang terus menerus
Dehidrasi primer juga dapat terjadi pada orang yang
mengeluarkan keringat yang sangat banyak, tanpa mendapat
penggantian air. Pada stadium permulaan water depletion, ion
natrium dan chlor ikut menghilang dengan cairan tubuh, tetapi
kemudian terjadi reabsorpsi ion melalui tubulus ginjal yang
berlebihan, sehingga ekstraseluler mengandung natrium dan
chlor berlebihan dan terjadi hipertoni.
Hal ini menyebabkan air akan keluar dari sel sehingga terjadi
dehidrasi intraseluler dan inilah yang menimbulkan rasa
haus.selain itu timbul perangsangan terhadap hipofisis yang
kemudian melepaskan hormon antidiuretik sehingga terjadinya
oligura.
IJ. Gejala-gejala khas pada dehidrasi primer ialah:
o Haus
o Air liur sedikit sehingga mulut kering
o Oliguria
o Sangat lemah
o Timbulnya gangguan mental seperti halusinasi atau
delirium
IK. Kematian akan terjadi bila kehilangan air 15%
atau 22% total body water
IL.
IM.
IN. 2. Dehidrasi Sekunder atau Sodium Depletion
IO. Dehidrasi terjadi karena tubuh kehilangan cairan yang
mengandung elektrolit..istilah ini lebih sesuai dari pada salt depletion
untuk memberi tekanan pentingnya natrium. Kekurangan intake garam
biasanya tidak menimbulkan sodium depletion oleh ginjal, bila perlu
dapat mengatur dan menyimpan natrium.
IP. Sodium depletion sering terjadi akibat keluarnya cairan melalui
saluran pencernaan pada keadaan muntah-muntah dan diare yang
parah.
IQ. Hilangnya natrium berlebihan melalui air kemih tidak biasa, tetapi
dalam keadaan tertentu dapat juga terjadi pada:
IR.a. Penyakit addison
IS. b. Acidosis yang terjadi akibat diabetes
IT. c. Penyakit ginjal tertentu
IU. Pada penyakit-penyakit ini hilangnya natrium diperberat oleh
muntah-muntah.
IV. Akibat sodium depletion terjadi hipotoni ekstrasluler sehingga
tekanan osmotik menurun. Hal ini menghambat dikeluarkannya
hormon antiduretik sehigga ginjal mengeluarkan air, agar tercapai
konsentrasi cairan ekstraseluler yang normal. Akibatnya volume
plasma dan cairan interstisium menurun. Selain itu karena terdapat
hipotoni ekstraseluler, air akan masuk kedalam sel.
IW. Hidrasi seluler ini berbeda dengan keluarnya air dari sel yang
terjadi pada dehidrasi akibat water depletion.oleh karena terjadi
hipotoni intrseluler maka keadaan ii tidak timbul rasa haus.
IX. Gejala-gejala lain terdiri atas:
IY.a. Nausea
IZ.b. Muntah-muntah
JA. c. Kekejangan
JB. d. Sakit kepala
JC. e. Perasaan lesu dan lelah
JD. Akibat menurunnya volume darah maka cardiac output menurun,
sehingga tekanan darah juga ikut menurun menyebabkan pingsan jika
berdiri lama dan filtrasi glomerulus menurun, sehingga menjadi
penimbunan menurun. Air kemih biasanya tidak mengandung
natriumkelorida, selain itu juga terjadi gangguan keseimbangan asam-basa
dan hemokonsentrasi kematian dapat terjadi karena kegagalan aliran
perifer.
JE.
C. PENUTUP
1. Ringkasan
JF. Pembagian tubuh dalam sistem-sistem disusun berdasarkan
fungsinya dan berdasarkan ilmu yang mempelajari bagian-bagian
tubuh tertentu. Anatomi Tubuh dibagi menjadi:
JG. 1). Permukaan Kepala
JH. 2). Batang Leher
JI. 3). Batang Tubuh
JJ. 4). Rongga Abdomen
JK. 5). Pelvis
JL.
2. Tes Umpan Balik
JM. Tes Umpan Balik dilakukan dengan memberikan post test
pada mahasiswa tentang pengetahuan bagian tubuh manusia.
JN. Soal Post Test:
1) Istilah anatomi yang menunjukkan arah depan adalah:
JO. A. Anterior. JQ. C. Superior.
JP. B. JR. D. Inferior.
Posterior. JS. E. Ventral.
2) Istilah anatomi yang menunjukkan arah kiri:
3) A. Dextra. 5) D. Medial.
4) B. Sinistra. 6) E. Tibialis
7) C. Lateral..
8) Yang bukan merupakan posisi anatomi adalah:
9) A. Tubuh berdiri tegak.
10) B. Kepala menghadap ke atas.
11) C. Mata lurus ke depan.
12) D. Lengan tergantung lurus di sisi tubuh.
13) E. Telapak tangan menghadap ke depan.
14) Gerakan membuka tungkai kaki pada posisi istirahat dan
merapatkannya kembali
merupakan gerakan
A. Ekstensi dan pronasi
B. Fleksi dan ekstensi
C. Rotasi dan elevasi
D. Abduksi dan adduksi
E. Ekstensi dan Fleksi
15) Gejala gejala yang termasuk dalam tanda Dehidrasi sekunder
adalah:
A. Nausea & Muntah-muntah
B. Febris
C. Lunglai
D. Oliguria
E. Gangguan Mental
16)
3. Tindak Lanjut
17) Hasil Post Test Dibagikan dan di evaluasi sebagai motivasi
mahasiswa agar belajar lebih giat lagi. Sebagai tambahan, mahasiswa
dengan nilai post test rendah akan di berikan tugas merangkum materi
yang telah diajarkan.