Anda di halaman 1dari 13

HUBUNGAN PENYAKIT THALASEMIA

DENGAN TINDAKAN EKSTRAKSI GIGI

DISUSUN OLEH :

MUTIARA HERLYN, S.KG


04124707024

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRWIWIJAYA
2016

A. Definisi Thalasemia

Penyakit thalasemia merupakan kelompok heterogen anemia hemolitik herediter yang


secara umum terdapat penurunan kecepatan sintesis pada satu atau lebih rantai polipeptida
hemoglobin dan diklasifikasikan menurut rantai yang terkena (,,), dimana yang paling sering
ditemukan adalah kelompok dan thalasemia.
Sindroma thalasemia adalah suatu kelompok gangguan hemoglobin bawaan di mana
sintesis satu atau lebih polipeptida hemoglobin normal tidak ada atau menurun yang
menyebabkan penurunan hemoglobinisasi eritrosit, mikrositemia, dan hipokromia. Tetapi
ketidakseimbangan sintesis yang berkelanjutan pada rantai globin menyebabkan presipitasi
intraselular, perubahan karakteristik aliran sel darah merah, dan destruksi prematur. Yang terakhir
menyebabkan komponen hemolitik yang bermakna pada kelompok kelainan eritrosit ini.
Gejala talasemia antara lain anemia, pembesaran limpa, dan fascies cooleys. Pada
penderita thalasemia, zat besi yang ditinggalkan sel darah merah yang rusak itu menumpuk
dalam organ tubuh seperti jantung dan hati (lever). Jumlah zat besi yang menumpuk dalam tubuh
atau iron overload ini akan mengganggu fungsi organ tubuh.Penumpukan zat besi terjadi karena
penderita thalasemia memperoleh suplai darah merah dari transfusi darah. Penumpukan zat besi
ini, bila tidak dikeluarkan, akan sangat membahayakan karena dapat merusak jantung, hati, dan
organ tubuh lainnya, yang pada akhirnya bisa berujung pada kematian.

B. Klasifikasi Thalasemia

Secara molekuler thalasemia dibedakan atas :


1. Alfa Thalasemia (melibatkan rantai alfa)
Alfa Thalasemia paling sering ditemukan pada orang kulit hitam (25% minimal membawa
1 gen). Sindrom thalassemia- disebabkan oleh delesi pada gen globin pada kromosom 16
(terdapat 2 gen globin pada tiap kromosom 16) dan nondelesi seperti gangguan mRNA
pada penyambungan gen yang menyebabkan rantai menjadi lebih panjang dari kondisi
normal.

Faktor delesi terhadap empat gen globin dapat dibagi menjadi empat, yaitu:
Delesi pada satu rantai (Silent Carrier/ -Thalassemia Trait 2)
Gangguan pada satu rantai globin sedangkan tiga lokus globin yang ada masih
bisa menjalankan fungsi normal sehingga tidak terlihat gejala-gejala bila ia terkena
thalassemia.
Delesi pada dua rantai (-Thalassemia Trait 1)
Pada tingkatan ini terjadi penurunan dari HbA2 dan peningkatan dari HbH dan
terjadi manifestasi klinis ringan seperti anemia kronis yang ringan dengan eritrosit
hipokromik mikrositer dan MCV 60-75 fl.
Delesi pada tiga rantai (HbH disease)
Delesi pada tiga rantai ini disebut juga sebagai HbH disease (4) yang disertai
anemia hipokromik mikrositer, basophylic stippling, heinz bodies, dan
retikulositosis.
HbH terbentuk dalam jumlah banyak karena tidak terbentuknya rantai sehingga
rantai tidak memiliki pasangan dan kemudian membentuk tetramer dari rantai
sendiri (4). Dengan banyak terbentuk HbH, maka HbH dapat mengalami
presipitasi dalam eritrosit sehingga dengan mudah eritrosit dapat dihancurkan.
Penderita dapat tumbuh sampai dewasa dengan anemia sedang (Hb 8-10 g/dl) dan
MCV 60-70 fl.
Delesi pada empat rantai (Hidrops fetalis/Thalassemia major)
Delesi pada empat rantai ini dikenal juga sebagai hydrops fetalis. Biasanya
terdapat banyak Hb Barts (4) yang disebabkan juga karena tidak terbentuknya
rantai sehingga rantai membentuk tetramer sendiri menjadi 4.
Manifestasi klinis dapat berupa ikterus, hepatosplenomegali, dan janin yang sangat
anemis. Kadar Hb hanya 6 g/dl dan pada elektroforesis Hb menunjukkan 80-90%
Hb Barts, sedikit HbH, dan tidak dijumpai HbA atau HbF.
Biasanya bayi yang mengalami kelainan ini akan mati beberapa jam setelah
kelahirannya.

2. Beta Thalasemia (melibatkan rantai beta)


Beta Thalasemia pada orang di daerah Mediterania dan Asia Tenggara.
Thalassemia- disebabkan oleh mutasi pada gen globin pada sisi pendek kromosom 11.
a. Thalassemia o
Pada thalassemia o, tidak ada mRNA yang mengkode rantai sehingga tidak
dihasilkan rantai yang berfungsi dalam pembentukan HbA.
Bayi baru lahir dengan thalasemia mayor tidak anemis.
Gejala awal pucat mulanya tidak jelas, biasanya menjadi lebih berat dalam tahun
pertama kehidupan dan pada kasus yang berat terjadi dalam beberapa minggu setelah
lahir. Bila penyakit ini tidak segera ditangani dengan baik, tumbuh kembang anak akan
terhambat.
Anak tidak nafsu makan, diare, kehilangan lemak tubuh, dan demam berulang akibat
infeksi. (Kapita selekta kedokteran)
b. Thalassemia +
Pada thalassemia +, masih terdapat mRNA yang normal dan fungsional namun hanya
sedikit sehingga rantai dapat dihasilkan dan HbA dapat dibentuk walaupun hanya
sedikit.

Secara klinis, terdapat 2 (dua) jenis thalasemia yaitu :


1. Thalasemia Mayor, karena sifat sifat gen dominan.
Thalasemia mayor merupakan penyakit yang ditandai dengan kurangnya kadar hemoglobin
dalam darah.
Akibatnya, penderita kekurangan darah merah yang bisa menyebabkan anemia. Dampak
lebih lanjut, sel-sel darah merahnya jadi cepat rusak dan umurnya pun sangat pendek, hingga
yang bersangkutan memerlukan transfusi darah untuk memperpanjang hidupnya.
Penderita thalasemia mayor akan tampak normal saat lahir,namun di usia 3-18 bulan akan
mulai terlihat adanya gejala anemia. Selain itu, juga bisa muncul gejala lain seperti jantung
berdetak lebih kencang dan facies cooley.
Faies cooley adalah ciri khas thalasemia mayor, yakni batang hidung masuk ke dalam dan
tulang pipi menonjol akibat sumsum tulang yang bekerja terlalu keras untuk mengatasi
kekurangan hemoglobin. Penderita thalasemia mayor akan tampak memerlukan perhatian
lebih khusus. Pada umumnya, penderita thalasemia mayor harus menjalani transfusi darah
dan pengobatan seumur hidup. Tanpa perawatan yang baik, hidup penderita thalasemia
mayor hanya dapat bertahan sekitar 1-8 bulan. Seberapa sering transfusi darah ini harus
dilakukan lagi-lagi tergantung dari berat ringannya penyakit. Yang pasti, semakin berat
penyakitnya, kian sering pula si penderita harus menjalani transfusi darah.

2. Thalasemia Minor,
Individu hanya membawa gen penyakit thalasemia, namun individu hidup normal, tanda-
tanda penyakit thalasemia tidak muncul. Walau thalasemia minor tak bermasalah, namun
bila ia menikah dengan thalasemia minor juga akan terjadi masalah. Kemungkinan 25%
anak mereka menderita thalasemia mayor. Pada garis keturunan pasangan ini akan muncul
penyakit thalasemia mayor dengan berbagai ragam keluhan.Seperti anak menjadi anemia,
lemas, loyo dan sering mengalami pendarahan. Thalasemia minor sudah ada sejak lahir dan
akan tetap ada di sepanjang hidup penderitanya, tapi tidak memerlukan transfusi darah di
sepanjang hidupnya.

C. Gejala Klinis Thalasemia

Gejala klinis thalasemia mayor :


1. Tampak pucat dan lemah karena kebutuhan jaringan akan oksigen tidak terpenuhi yang
disebabkan hemoglobin pada thalasemia (HbF) memiliki afinitas tinggi terhadap oksigen
2. Facies thalasemia yang disebabkan pembesaran tulang karena hiperplasia sumsum hebat
3. Hepatosplenomegali yang disebakan oleh penghancuran sel darah merah berlebihan,
hemopoesis ekstramedular, dan kelebihan beban besi.
4. Pemeriksaan radiologis tulang memperlihatkan medula yang lebar, korteks tipis, dan
trabekula kasar. Tulang tengkorak memperlihatkan diploe dan pada anak besar kadang-
kandang terlihat brush appereance.
5. Hemosiderosis yang terjadi pada kelenjar endokrin menyebabkan keterlambatan menarse
dan gangguan perkembangan sifat seks sekunder. Selain itu juga menyebabkan diabetes,
sirosis hati, aritmia jantung, gagal jatung, dan perikarditis.
6. Sebagai sindrom klinik penderita thalassemia mayor (homozigot) yang telah agak besar
menunjukkan gejala-gejala fisik yang unik berupa hambatan pertumbuhan, anak menjadi
kurus bahkan kurang gizi, perut membuncit akibat hepatosplenomegali dengan wajah yang
khas mongoloid, frontal bossing, mulut tongos (rodent like mouth), bibir agak tertarik,
maloklusi gigi

Gejala klinis Thalasemia minor :


Penderita yang menderita thalasemia minor, hanya sebagai carrier dan hanya
menunjukkan gejala-gejala yang ringan. Orang dengan anemia talasemia minor (paling
banyak) ringan (dengan sedikit menurunkan tingkat hemoglobin dalam darah).
Situasi ini dapat sangat erat menyerupai dengan anemia kekurangan zat besi ringan.
Namun, orang dengan talasemia minor memiliki tingkat besi darah normal (kecuali mereka
miliki adalah kekurangan zat besi karena alasan lain). Tidak ada perawatan yang diperlukan
untuk thalassemia minor. Secara khusus, besi tidak perlu dan tidak disarankan.

D. Penyebab Thalasemia

1. Gangguan genetik
Orangtua memiliki sifat carier (heterozygote) penyakit thalasemia sehingga klien memiliki
gen resesif homozygote.
2. Kelainan struktur hemoglobin
Kelainan struktur globin di dalam fraksi hemoglobin. Sebagai contoh, Hb A (adult, yang
normal), berbeda dengan Hb S (Hb dengan gangguan thalasemia) dimana, valin di Hb A
digantikan oeh asam glutamate di Hb S.
Menurut kelainan pada rantai Hb juga, thalasemia dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu :
thalasemia alfa (penurunan sintesis rantai alfa) dan beta (penurunan sintesis rantai beta).
3. Produksi satu atau lebih dari satu jenis rantai polipeptida terganggu
Defesiensi produksi satu atau lebih dari satu jenis rantai a dan b.
4. Terjadi kerusakan sel darah merah (eritrosit) sehingga umur eritrosit pendek (kurang dari
100 hari)
Struktur morfologi sel sabit (thalasemia) jauh lebih rentan untuk rapuh bila dibandingkan sel
darah merah biasa. Hal ini dikarenakan berulangnya pembentukan sel sabit yang kemudian
kembali ke bentuk normal sehingga menyebabkan sel menjadi rapuh dan lisis.
5. Deoksigenasi (penurunan tekanan O2)
Eritrosit yang mengandung Hb S melewati sirkulasi lebih lambat apabila dibandingkan
dengan eritrosit normal. Hal ini menyebabkan deoksigenasi (penurunan tekanan O2) lebih
lambat yang akhirnya menyebabkan peningkatan produksi sel sabit.

E. Manifestasi Klinis

1. Manifestasi Klinis Ekstraoral


Manifestasi klinis dari semua thalasemia adalah berhubungan dengan sifat hemopoietik
ekstramedularis reaktif dari penyakit dan lebih menonjol dibandingkan pada anemia
hemolitik sel sabit. Tidak seperti anemia sel sabit, krisis yang menyakitkan tidak terjadi,
tetapi nyeri tulang telah dilaporkan pada konsentrasi hemoglobin yang rendah karena
hyperplasia sumsum tulang.
Pasien tersebut biasanya kecil jika dibandingkan dengan usianya dan memiliki bentuk wajah
yang khas (fasies Cooley), yaitu mata yang terpisah lebar, punggung hidung yang terdepresi,
pipi yang menonjol, tulang frontal dan parietal yang menonjol, dan mata yang sembab.
Derajat deformitas sefalofasial berhubungan dengan keparahan penyakit dan saat terapi
diberikan.
Pada thalasemia beta mayor, anemia berat menyadi nyata pada usia 3-6 bulan. Pembesaran
hati dan limpa terjadi akibat destruksi eritrosit yang berlebihan, hemopoiesis ekstramedula,
dan lebih lanjut akibat penimbunan besi. Limpa yang membesar meningkatkan kebutuhan
darah dengan meningkatkan volume plasma, destruksi eritrosit, dan cadangan eritrosit.

2. Manifestasi Klinis Perioral dan Intraoral


Manifestasi oral terlihat dari hipertrofi dan remodeling maksila yang sering menyebabkan
maloklusi. Overbite parah dengan gigi maksila anterior yang protrusi dan renggang atau
prominen namun berjejal dapat terjadi. Segmen posterior dapat mengalami pergeseran ke
bukal dengan disertai ekspansi prosesus alveolar.
Banyak pasien mengalami maloklusi, inflamasi ginggiva dan karies gigi anterior akibat
ketidakmampuan untuk mengatupkan mulutnya dan akibat bernapas melalui mulut.
Gigi kadang kadang menunjukkan perubahan morfologis seperti menurunnya diameter
bukolingual, gigi molar kedua dan premolar yang kecil dan bertambahnya jumlah lekuk, pit,
dan fisura. Enamel dan dentin mengandung zat besi dengan konsentrasi yang lebih tinggi,
yang berhubungan dengan jumlah transfusi darah tiap tahun. Overload zat besi karena
regimen transfusi darah yang intensif dapat menyebabkan sindrom sika, serta nyeri dan
pembengkakan kelenjar parotis akibat deposit zat besi di kelenjar serosa.
Glosodinia dan hilangnya papilla lidah, mirip dengan yang terjadi pada anemia defisiensi
besi dan defisiensi asam folat, adalah penyulit yang sering dari thalasemia minor.

F. Ekstraksi Gigi pada Pasien Thalasemia

Seorang dokter gigi haruslah mengusahakan agar setiap pencabutan gigi yang
dilakukannya merupakan suatu tindakan yang ideal. Untuk mencapai tujuan tersebut dan
menghindari komplikasi yang mungkin timbul pada pencabutan gigi haruslah mengetahui
indikasi dan kontraindikasi dari pencabutan gigi.
Ekstraksi gigi pada pasien thalsemia juga merupakan suatu tindakan yang memiliki
komplikasi. Indikasi dan kontraindikasi ekstraksi gigi juga berlaku pada pasien thalasemia,
namun pada pasien ini lebih diperlukan perhatian khusus dalam penatalaksanaannya.

Indikasi dan Kontraindikasi Ekstraksi Gigi


Indikasi ekstraksi gigi desidui :
1. Karies besar sehingga pulpa menjadi non vital.
Untuk poin ini ada pendapat yang berlawanan : segera cabut sebelum timbul
keluhan/infeksi, dan melakukan perawatan. Tapi tindakan dilakukan dengan melihat
situasi. Jika sudah waktunya gigi erupsi (atau dekat waktunya), maka tidak masalah
dilakukan pencabutan. Tapi kalaupun terpaksa dicabut dan waktunya masih lama sebelum
erupsi, bisa dicegah dengan menggunakan space retainer.
2. Mengganggu erupsi dan arah pertumbukan dari gigi tetap.
3. Kalau gigi susu itu sering menyebabkan sakit karena infeksi dan bengkak berulang-ulang.
4. Kalau sudah terbentuk sinus pada mukosa disekitar ujung akar.
5. Kalau sudah terjadi ulkus decubitalis (akar giginya keluar sehingga ujungnya yang tajam
melukai jaringan lunak sekitar,bibir/pipi).

Indikasi ekstraksi gigi permanen :


1. Gigi yang rusak akibat perluasan lubang/karies gigi. Dimana karies luas dapat
menyebabkan keradangan pulpa, menjalar ke daerah periapikal. Sehingga timbul
berbagai bentuk keradangan yang melibatkan struktur jaringan yang lebih dalam.
2. Gigi yang terlibat penyakit periodontal. Jaringan periodontal rusak yang tidak dapat
diperbaiki lagi. Sehingga timbul suatu poket dan menyebabkan gigi yang goyang.
Sebagai panduan, kehilangan setengah dari kedalaman tulang alveolar yang normal atau
ekstensi poket ke bifurkasi akar gigi bagian posterior atau mobilitas yang jelas berarti
pencabutan gigi tidak bisa dihindari lagi.
3. Abses (infeksi) gigi merupakan infeksi baik pada akar gigi maupun infeksi antara gigi
dan gingiva. Kebanyakan penyebab abses adalah perluasan dari kerusakan/kebusukan
gigi, keadaan infeksi ini dapat menyebabkan rasa sakit yang sangat. Dokter gigi dapat
menyelamatkan gigi tersebut dengan mengobati infeksinya namun bila hal tersebut tidak
berhasil maka gigi harus dicabut.
4. Gigi sebagai focal infeksi pada kasus-kasus infeksi misalnya : endokarditis rheumatik,
infeksi ginjal, pencabutan gigi yang mati sering diindikasikan.
5. Gigi yang terlibat fraktur dan osteomyelitis. Gigi yang terletak garis fraktur sebaiknya
dicabut. (beberapa ahli berpendapat sebaiknya dipertahankan). Gigi yang terlibat
osteomyelitis dicabut bila telah goyang. Jika garis gigi pecah mungkin harus dilakukan
pencabutan untuk mencegah infeksi tulang.
6. Gigi dalam keadaan mati atau pulpitis akut / kronis. Keadaan saluran akar tidak mungkin
dilakukan perawatan endodontik/saluran akar (pulpa non vital)
7. Gigi yang tidak mungkin dilakukan perawatan apikoectomy = pengambilan 1/3 ujung
akar dari gigi.
8. Persiapan radioterapi. Sebelum radiasi tumor oral, gigi yang tidak sehat membutuhkan
pencabutan, atau pengangkatan untuk mereduksi paparan radiasi yang berhubungan
dengan osteomelitis.
9. Gigi sehat untuk memperbaiki oklusi/estetika (perawatan ortodontik/kawat gigi).
10. Gigi dalam keadaan impaksi. Dalam kasus ini terpadat ketidakcukupan ruang dalam
mulut bagi gigi molar karena kepadatan gigi molar yang ada di depannya sehingga
menyebabkan nyeri dan bengkak. Terkadang gigi molar menjadi impaksi dalam arti tidak
cukup kuat untuk erupsi sehigga menyebabkan rasa sakit dan infeksi gingiva.
11. Supernumerary teeth. Dalam situasi ini keadaan supernumery teeth terkadang
menghambat erupsi gigi lain dalam mulut dan membutuhkan ekstraksi agar didapatkan
tempat yang cukup bagi gigi yang akan erupsi.
12. Sisa akar gigi
13. Gigi yang menyebabkan trauma pada jaringan lunak (pipi, bibir, langit-langit mulut dll.
14. Gigi penyebab / terlibat dengan kista.
15. Malposisi ekstrem
16. Gigi geraham belakang pertama (M1) atau geraham belakang dua (M2) yang rusak, untuk
mencegah geraham belakang bungsu (M3) impaksi.

Kontraindikasi ekstraksi gigi :


Secara umum ekstraksi gigi tidak dapat dilakukan apabila pasien tidak menghendaki
giginya dicabut. Perlunya komunikasi yang baik antara dokter dengan pasien akan menciptakan
suatu kerja sama yang baik, dimana pasien akan memahami mengapa harus dilakukannya suatu
tindakan dan dokter dapat melakukan tindakan tersebut sesuai dengan prosedurnya. Selain
penolakan secara langsung dari pasien terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
ekstraksi gigi, seperti penyakit sistemik dibawah ini.

a. Kontaindikasi sistemik :
1. Kelainan jantung
2. Kelainan darah. Pasien yang mengidap penyakit penyakit darah seperti leukemia,
haemoragic purpura, hemofilia. Pasien yang mengidap anemia.
3. Diabetes mellitus tidak terkontrol. Sangat mempengaruhi penyembuhan luka.
4. Penyakit ginjal. Pasien dengan penyakit ginjal ( nephritis ) pada kasus ini bila dilakukan
ekstraksi gigi akan menyebabkan keadaan akut
5. Penyakit hepar (hepatitis).
6. Pasien dengan penyakit syphilis, karena pada saat itu daya tahan terutama tubuh sangat
rendah sehingga mudah terjadi infeksi dan penyembuhan akan memakan waktu yang
lama.
7. Alergi pada anastesi local
8. Rahang yang baru saja telah diradiasi, pada keadaan ini suplai darah menurun sehingga
rasa sakit hebat dan bisa fatal.
9. Toxic goiter
10. Kehamilan. terpaksa dilakukan, dianjurkan dilakukan pada trimester ke dua karena obat-
obatan pada saat itu mempunyai efek rendah terhadap janin.
11. Psychosis dan neurosis pasien yang mempunyai mental yang tidak stabil karena dapat
berpengaruh pada saat dilakukan ekstraksi gigi
12. Terapi dengan antikoagulan.

b. Kontraindikasi lokal
1. Radang akut. Keradangan akut dengan cellulitis, terlebih dahulu keradangannya harus
dikontrol untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Jadi tidak boleh langsung dicabut.
2. Infeksi akut. Pericoronitis akut, penyakit ini sering terjadi pada saat M3 RB erupsi
terlebih dahulu
3. Malignancy oral. Adanya keganasan (kanker, tumor dll), dikhawatirkan pencabutan akan
menyebabkan pertumbuhan lebih cepat dari keganasan itu. Sehingga luka bekas ekstraksi
gigi sulit sembuh. Jadi keganasannya harus diatasi terlebih dahulu.
4. Gigi yang masih dapat dirawat/dipertahankan dengan perawatan konservasi, endodontic
dan sebagainya

G. Penatalaksanaan Dental

Pasien dengan thalasemia mayor memerlukan hitung darah lengkap, termasuk kadar
hemoglobin dan hematokrit, sebelum terapi dental. Hanya perawatan paliatif yang dapat
dilakukan jika kadar hemoglobin kurang dari 10 gr/dl. Terapi dental rutin harus dilakukan segera
setelah jadwal transfusi teratur. Pasien lebih rentan terhadap infeksi, dan sebagian klinisi
memberikan perlindungan antibiotika profilatik sebelum terapi dental untuk menghindari
komplikasi postoperatif berupa osteomielitis.
Antibiotik spektrum luas dianjurkan karena spesies Salmonella dan Staphylococcus lebih
sering ditemukan pada kultur pasien-pasien ini.. Masalah ini adalah kontroversial dan harus
didiskusikan dengan ahli hematologi. Pemeriksaan dental yang menyeluruh diperlukan untuk
menyingkirkan sumber infeksi di mulut dari suatu demam yang tidak diketahui asalnya.
Permasalahan lain adalah meningkatnya resiko infeksi pada pasien thalasemia yang telah
menjalani splenektomi, dianjurkan agar pasien tersebut mendapatkan antibiotika profilaktik
sebelum terapi dental. Juga, pasien dengan thalasemia memiliki resiko infeksi human
immunodeficiency virus dan hepatitis yang lebih tinggi karena banyaknya transfusi darah yang
mereka terima.
Dengan demikian kehati-hatian yang tepat harus diambil jika menterapi mereka.
Kehati-hatian harus dilakukan selama prosedur bedah untuk mencegah fraktur patologis yang
disebabkan oleh ruang sumsum tulang yang lebar. Terapi orthodontik dapat dilakukan untuk
mengkoreksi defek dental dan kosmetik, terutama di daerah anterior maksila.
Pasien dengan thalasemia minor biasanya asimptomatik, dan pada sebagian besar kasus terapi
dental dapat dilakukan tanpa kehati-hatian khusus.
Dokter gigi dalam melakukan perawatan gigi, dapat pertama sekali menemukan penyakit
ini pada pasien. Hal ini dapat diketahui dari tampilan fisik penderita dan gambaran radiografi
dental. Radiografi dental perlu dilakukan untuk melihat perubahan yang terjadi pada tulang
wajah dan tengkorak. Gambaran radiografi menunjukkan pembesaran tulang maksila yang
berlebihan, akar gigi yang memendek, taurodontis, penipisan lamina dura, diastema, sinus
maksila mengecil, kanalis alveolaris inferior dan korteks mandibula menipis, sehingga dapat
menjadi kriteria diagnosa untuk thalasemia dan menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan
perawatan gigi.

H. Komplikasi Ekstraksi Gigi

1. Perdarahan. Pada kebanyakan kasus dikarenakan kurangnya pemeriksaan inspeksi dan


debridemen dari socket gigi (meninggalkan granuloma atau kista di dalamnya). Setelah
diberikan anestesi local, bersihkan socket dengan kuret kemudian gigit dengan kassa dan
kompres.
2. Fraktur gigi. Terkadang gigi dapat patah saat pencabutan dan sisa gigi harus dikeluarkan
seluruhnya, komplikasi ini juga dapat menyebabkan rasa sakit dan pembengkakan dan
kerusakan jaringan ekstraksi juga lebih banyak. Fraktur patologis pada thalasemia yang
disebabkan oleh ruang sumsum tulang yang lebar. Terkadang gigi dapat patah saat
pencabutan dan sisa gigi harus dikeluarkan seluruhnya, komplikasi ini juga dapat
menyebabkan rasa sakit dan pembengkakan dan kerusakan jaringan ekstraksi juga lebih
banyak.
3. Infeksi. Dapat diakibatkan karena tidak dilakukan tindakan aseptic saat ekstraksi, adanya
tulang mati (sequester bone) atau adanya sisa kista. Lakukan pemeriksaan inspeksi dan
pembersihan socket gigi dalam anestesi local. Pemberian antibiotic selama 6 sampai 8 hari
sebaiknya diberikan jika terdapat rasa sakit yang berat setelah masa penyembuhan usai atau
jika tampak adanya pus. Jika lebih dari area akar gigi yang terinfeksi saat akan dilakukan
ekstraksi gigi maka antibiotic mungkin sebaiknya diberikan setelah gigi pasien selesai
diekstraksi. Meningkatnya resiko infeksi pada pasien thalasemia yang telah menjalani
splenektomi, dianjurkan agar pasien tersebut mendapatkan antibiotika profilaktik sebelum
terapi dental. Juga, pasien dengan thalasemia memiliki resiko infeksi human
immunodeficiency virus dan hepatitis yang lebih tinggi karena banyaknya transfusi darah
yang mereka terima. Dengan demikian kehati-hatian yang tepat harus diambil jika menterapi
mereka.
4. Pembengkakan. Pembengkakan dapat berlanjut atau meningkat setelah dua hari paska
ekstraksi, namun sebaiknya mulai berkurang pada hari ke 5. kompres ess dapat berguna
untuk mengurangi pembengkakan 20 menit pada area pipi kemudian pada area ekstraksi,
hentikan selama 10 menit kemudian ulangi kembali. Pembengkakan dapat menjadi masalah
dalam hal membuka mulut, sehingga bila pembengkakan telah berkurang, mulut dapat
bekerja lebih baik.
5. Dry socket. Dimana bekuan darah yang menutup daerah bekas ekstraksi menghilang tanpa
digantikan oleh bekuan darah yang lain. Tulang dan jaringan sarah terpapar oleh udara dan
lainnya yang terdapat dalam rongga mulut menyebabkan rasa sakit dan terkadang bau busuk.
Dikarenakan anoksia dari tulang atau sequester alveolar tertinggal di tempat tersebut
menghasilkan rasa sakit 2 sampai 3 hari setelah tindakan. Untuk menanggulanginya
bersihkan socket, gunakan analgetik dan antibiotic bila terdapat infeksi. Normalnya dry
socket bersih sekitar 5 sampai 7 hari.
6. Rasa nyeri dan tidak nyaman saat tidur. Tidur dengan kepala agak dinaikkan dapat
mengurangi tekanan pada rahang, menggunakan dua bantal dapat menolong. Cobalah untuk
menghindari tidur berbaring pada daerah ekstraksi untuk menghindari nyeri dan tidak
nyaman.
7. Kerusakan gigi yang lain selama ekstraksi gigi berlangsung.

I. Proses Penyembuhan

Setelah gigi di ekstraksi maka akan terbentuk lubang pada tulang rahang dimana
merupakan tempat gigi yang sudah dicabut (socket gigi). Seiring berjalannya waktu lubang ini
bentuknya akan semakin halus dan diisi oleh tulang. Hal ini dapat memakan waktu mingguan
atau bulanan untuk proses penyembuhan yang sempurna. Sekitar 1-2 minggu setelah tindakan
merupakan waktu yang cukup untuk terjadinya penyembuhan pada tempat bekas ekstraksi.
Setelah 7 hari masa penyembuhan dapat memulai makan makanan padat tanpa menyebabkan
rasa sakit. Proses penyembuhan setelah ekstraksi gigi adalah cepat karena di dalam mulut
diciptakan agar penyembukan berjalan dengan cepatnya. Penyembuhan dapat terhambat karena
merokok. Gingiva dapat sembuh sempurna 3-4 minggu setelah ekstraksi gigi. Jika tulang rahang
mengalami kerusakan selama ekstraksi gigi, akan membutuhkan waktu sampai 6 bulan untuk
sembuh sempurna.