Anda di halaman 1dari 14

VIRUS

1. Morfologi Klasifikasi Virus

Berdasarkan jenis asam nukleat, virus dibagi menjadi 2 yaitu :

a. Virus DNA

Virus DNA merupakan virus yang memiliki materi genetik


berupa DNA, kelompok yang tergolong dalam kelompok ini adalah
virus kelas I, II, VII. Beberapa contoh familia virus yang termasuk ke
dalam kelompok ini adalah Herpesviridae, Parvoviridae, dan
Poxviridae.
Herpesviridae merupakan kelompok virus berukuran besar
dengan materi genetik DNA utas ganda sehingga dikelompokkan ke
dalam kelas 1 dalam klasifikasi baltimore. Virus dalam kelompok ini
dapat menyebabkan penyakit ganas dan juga dapat menyebabkan
kelainan pasca kelahiaran pada bayi. Herpesviridae terbagi ke dalam
beberapa genus, yaitu Alpha Herpesvirus, Beta Herpesvirus, dan Gama
Herpesvirus.

Parvoviridae merupakan virus dengan DNA utas tunggal


polaritas positif atau negatif sehingga termasuk dalam kelas II dalam
klasifikasi Baltimore.Virus ini tidak memiliki selubung virus dan
merupakan virus manusia yang berukuran paling kecil.Virus
merupakan virus yang tidak sempurna sehingga perlu berasosiasi dengan
adenovirus sehingga sering disebut Adeno-Associated
Virus(AAV).Salah satu contoh kelompok ini adalah virus B-19 yang dapat
menyebabkan cacat atau keguguran pada janin.

Poxviridae merupakan virus dengan materi genetik DNA untai


ganda sehingga virus ini di termasuk dalam kelas I dalam klasifikasi
Baltimore. Ciri khas dari virus ini adalah virus ini memiliki morfologi
besar dan kompleks. Virus yang terkenal dalam kelompok ini adalah
Smallpox. Smallpox cukup terkenal karena menimbulkan pandemik
yang sangat besar diseluruh dunia. sekarang virus Smallpox sudah bisa
dimusnahkan.

b. Virus RNA

Virus RNA merupakan virus yang memiliki materi genetik


berupa RNA, kelompok yang tergolong dalam kelompok ini adalah
virus kelas III, IV, V, dan VI. Beberapa contoh familia virus yang
termasuk ke dalam kelompok ini adalah Retroviridae, Picornaviridae,
Orthomixoviridae, dan Arbovirus.
Retroviridae merupakan virus berbentuk ikosahedral. Virus ini
memiliki genom RNA berjumlah dua buah yang keduanya identik dan
memiliki polaritas positif yang nantinya akan diekspresikan menjadi
enzim polimerase yang unik yaitu reverse traskriptase yang berguna
untuk mengubah RNA menjadi DNA.DNA yang dihasilkan nantinya akan
berintegrasi ke dalam DNA sel inang sebagai provirus. Virus ini
termasuk ke dalam virus yang ganas, dapat menyebabkan
penekanan sistem kekebalan tubuh dan juga tumor. Sifatnya yang
ganas tersebut disebabkan salah satunya karena virus ini mudah
mengalami mutasi. Salah satu genus dari famili ini yang paling terkenal
adalah genus Lentivirus, yang contoh spesiesnya adalah HIV 1 dan 2.

Picornaviridae merupakan berukuran kecil. Virus ini memiliki


genom RNA dengan polaritas positif sehingga termasuk virus kelas
IV dalam klasifikasi Baltimore. Virus dalam famili ini mampu
menyebabkan banyak penyakit pada manusia, di antaranya adalah
penyakit polio yang disebabkan oleh Poliovirus dan flu ringan yang
disebabkan oleh Rhinovirus.

Orthomoxoviridae merupakan virus yang memiliki selubung


dengan materi genetik RNA bersegmen berpolaritas negatif sehingga
virus ini termasuk dalam kelas V dalam klasifikasi Baltimore. Ciri khan
dari virus ini adalah virus ini memiliki protein permukaan yang
merupakan antigen utama yaitu Hemmaglutinin (HA) dan Neuraminidase
(NA).Hemmaglutinin merupakan bagian virus yang menempel pada sel
target oleh sebab itu antibodi terhadap hemmaglutinin dapat melindung
dari infeksi virus. Neuraminidase berperan untuk melepaskan virion dari
sel oleh sebab itu antibodi terhadap NA dapat menekan tingkat
keparahan infeksi virus. Contohnya Influenza Virus.

Arbovirus merupakan singkatan dari ARthropoda-BOrne virus


yaitu virus yang berasal dari kelompok Arthropoda.

Berdasarkan protein membran terluarnya (envelope) :

a. Virus yang memiliki selubung atau sampul (enveloped virus)

Virus ini memiliki nukleokapsid yang dibungkus oleh


membran.Membran terdiri dari dua lipid dan protein, (biasanya
glikoprotein).Membran ini berfungsi sebagai struktur yang pertama
tama berinteraksi.

Contoh: Herpesvirus, Corronavirus, dan Orthomuxovirus.

b. Virus yang tidak memiliki selubung

Hanya memiliki capsid (protein) dan asam nukleat (naked


virus).

Contoh: Reovirus, Papovirus, dan Adenovirus.

Berdasarkan bentuk, terdapat empat bentuk partikel virus utama :


a. Helical

Contoh struktur heliks pada virus mosaik tembakau: RNA virus


bergulung berbentuk garis sekerup / spiral selenoid yang disebabkan
pengulangan sub-unit protein. Kapsid terdiri atas satu jenis capsomer
berbadan tegap di sekitar suatu poros pusat untuk membentuk suatu
struktur seperti bentuk sekerup yang mungkin punya suatu rongga pusat.

b. Icosahedral

Kebanyakan virus binatang adalah icosahedral atau near-


spherical dengan icosahedral simetri. Suatu bidang dua puluh reguler
adalah jumlah maksimum suatu kelopak tertutup dari sub-unit
tersebut. Jumlah minimum capsomers yang diperlukan adalah
duabelas, masing-masing terdiri atas lima sub-unit serupa. Banyak
virus, seperti rotavirus, mempunyai lebih dari duabelas capsomers
dan nampak berbentuk bola tetapi mereka mempertahankan simetri
ini. Capsomers di apices dikelilingi oleh lima capsomers lain dan
disebut pentons. Capsomers pada atas muka yang bersegi tiga adalah
mengepung dengan enam capsomers yang lain dan yang disebut
hexons.Contohnya adalah adenovirus.

c. Enveloped

Beberapa jenis amplop virus, terdapat di dalam suatu selaput


sel, yaitu selaput eksternal yang melingkupi suatu sel tuan rumah yang
terkena infeksi/tersebar, atau selaput internal seperti selaput nuklir
atau reticulum endoplasmic, begitu mendapatkan lipid, maka virus
akan membentuk bilayer yang dikenal dengan sebutan amplop.
Selaput ini adalah protein yang membawa kode genetic dari genom
tuan rumah ke genom virus.

d. Complex

Struktur khas dari suatu bacteriophage Virus ini memiliki


suatu kapsid yang tidak berbentuk seperti bentuk sekerup, walaupun
semata-mata serupa dengan icosahedral, dan memiliki struktur ekstra
seperti jas berekor protein atau suatu dinding sebelah luar yang
kompleks. Beberapa bacteriophages mempunyai suatu struktur
kompleks terdiri dari suatu icosahedral di depan dan diikuti suatu ekor
seperti bentuk sekerup yang memiliki suatu pelat dasar bersudut
enam dengan serat ekor protein yang menonjol.

Klasifikasi Virus Berdasarkan Fisikokimia


Diameter
Asam Simetri kapsid dan Sensitivitas
Famili Virus partikel Contoh Virus
Nukleat amplop terhadap eter
(nm)

DNA Icosahedral,tidak Resisten Parvovirus 18 26 Adeno-associated


virus
Papovavirus 45 55 Papilloma virus

Beramplop

Adenovirus 70 90 Adenovirus

Virus Herpes
simplek, Varicella-
Icosahedral,
DNA Sensitif Herpesvirus 100 150 zoster,
beramplop
cytomegalovirus,

Smallpox (variola),
vaccinia virus,
DNA Kompleks Bervariasi Poxvirus 230 300
molluseum
contagiosum virus

Enterovirus,
Picornavirus 20 30
rhinovirus
Icosahedral, tidak
RNA Resisten
beramplop
Reovirus 60 80 Reovirus, Orbivirus

Icosahedral,
RNA Sensitif Togavirus 40 70 Virus Rubella
beramplop

California
Arbovirus,
Bunyavirus 90 100
Bunyamwera
Arbovirus

Coronavirus 100 Coronavirus

Heliks, tidak Virus Influenza A


RNA Sensitif Orthomyxvirus 80 120
beramplop dan B

Paramyxovirus 100 200 Parainfluenza

Retrovirus 100 200 Animal tumor virus

Rhadbovirus 70 170 Virus Rabies

Lyphocytic
RNA Heliks, beramplop Sensitif Arenavirus 50 300 choriomeningitis
virus

2. Sifat Kimia Virus

Setiap makhluk hidup pada dasarnya tersusun oleh komponen-komponen


kimiawi yang akan membantu kelangsungan hidupnya. Virus memliki
komponen kimia berups protein, karbohidrat, dan lipid.

1. Protein
Protein dalam virus terdapat dalam bentuk asam nukleat, kapsid, enzim,
dan protein lainnya.

Asam Nukleat

Virus hanya mengandung DNA atau RNA saja. Hal ini menjadi
ciri khas virus dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Virus
hanya memiliki satu asam nukleat, jadi berdasarkan hal ini, virus dapat
diklasifikasikan berdasarkan jenis asam nukleat yang mungkin dimiliki,
yaitu:

- DNA berutasan tunggal


- RNA berutasan tunggal
- DNA berutasan ganda
- RNA berutasan ganda

Pada virus tumbuhan baru dapat ditemukan RNA berutasan


tunggal dan ganda serta DNA berutasan tunggal saja. Sedangkan
pada hewan, keempat jenis asam nukleat telah ditemukan.Berdasarkan
jenis asam nukleat yang terkandung dalam virus, kita dapat
menggolongkan virus menjadi 3 yaitu virus RNA, virus DNA, dan
virus yang tidak diklasifikasi.

Pengertian tentang asam nukleat virus mempunyai arti penting


untuk memahami proses perkembangbiakan virus, sifat biologik, dan
sebagainya. Misalnya:

- Ukuran asam nukleat dihubungkan dengan jumlah informasi


genetik yang dibawanya
- Segmentasi asam nukleat pada virus influenza dihubungkan
dengan terjadinya genetika yang menimbulkan terjadinya
antigenik, derajat homolog basa-basa asam nukleat dihubungkan
dengan taksonomi virus.

Kapsid

Protein lain

Pada adenovirus dan papovirus terdapat protein haemaglutinin yang


dapat menggumpalkan sel darah merah berbagai spesies binatang.

Enzim

Banyak virus telah diketahui mengandung enzim-enzim yang


berfungsi dalam replikasi komponen-komponen asam nukleatnya.
Beberapa virion dapat mengandung suatu enzim khusus yang
mengandung RNA virus model untuk mensintesis utasan RNA kedua
yang dapat mengarahkan sel-sel inang untuk membuat virus. Virus
tumor RNA mengandung suatu enzim yang mengsintesis utasan DNA
dengan menggunakan genom RNA virus sebagai acuan.
Beberapa virus yang mengandung enzim, dapat dikategorikan ke
dalam tiga golongan:

- Neuromisida yang menghidrolisis galaktosa N asetil neuraminat.


Enzim ini terdapat pada orthomixovirus yaitu pada salah satu
tonjolan glikoproteinnya. Enzim ini berfungsi membantu penetrasi ke
dalam sel.

- Beberapa jenis virion mengandung RNA polimerase. Jika genom


virus merupakan genom yang langsung dapat bertindak sebagai mRNA,
maka ekspresi genom dapat berlansung.hal demikian dapat ditemukan
pada picornavirus dan arbovirus. Tatapi jika genom virus berupa DNA
atau RNA dengan polaritas negatif, maka sebelum genom tersebut
diekspresikan dalam bentuk protein, terlebih dahulu harus
ditranskripsikan menjadi RNA dengan polaritas positif. Dalam hal
yang disebut terakhir, terdapat dua jenis enzim polimerase. Pertama,
virus menggunakan polymerase yang terdapat di dalam sel hospes,
seperti pada herpesvirus, adenovirus, dan papovavirus. Kedua, virion
mengandung polymerase sendiri seperti pada poxvirus, myxovirus,
rhabdovirus, dan retrovirus menpunyai enzim transkripsi terbalik yang
berfungsi membentuk DNA dari cetakan RNA.

- Beberapa virion juga mengandung enzim yang bekerja pada asam


nukleat. Adenovirus, poxvirus,, dan retrovirus misalnya mengandung
enzim nuklease.

2. Karbohidrat

Semua virus mengandung karbohidrat karena asam nukleatnya itu sendiri


mengandung ribose dan deoksiribose. Beberapa virus hewan bersampul
seperti virus influensa dan mikro virus yang lain, pada umumnya terdapat
duri-duri yang terbuat dari glikoprotein. Unsur karbohidratnya terdiri dari
monosakarida yang dihubungkan dengan rantai polipeptida oleh ikatan
glikosida.

3. Lipid

Berbagai ragam senyawa lipid (lemak) telah ditemukan pada virus.


Senyawa-senyawa ini meliputi fosfolipid, flikolipid, lemak-lemak alamiah,
asam lemak, aldehid lemak, dan kolesterol. Virus yang berselebung
mengandung lipid netral, fosfolipid, dan glikolipid pada selubungnya.
Komposisi campuran ini tergantung pada jenis sel yang diinfeksikan,
median dimana sel tumbuh dan jenis virus yang menginfeksi.

3. Biomolekuler Virus

Biologi molekuler virus berkaitan dengan Molekul Genetik pada Virus,


yaitu :

a. Virus (+) Single-stranded


Virus RNA (+) Single-stranded (ssRNA) adalah anggota dari
keluarga besar virus yang juga disebut picornavirus karena mereka
memiliki genom RNA kecil ("pico"). RNA beruntai tunggal dari genom
picornavirus secara stuktural dan fungsional identik dengan suatu
molekul mRNA dan seperti disebut "+". Molekul RNA virus dapat
langsung diterjemahkan oleh ribosom sel inang untuk membuat
protein virus. sel inang tidak memiliki mekanisme untuk mereplikasi
RNA (tidak ada enzim pada host yang menggunakan RNA sebagai
template untuk sintesis asam nukleat). Dengan demikian, genom ini
harus mengkodekan suatu enzim virus yang dapat mereplikasi
genom ssRNA serta protein yang dibutuhkan untuk kapsid. Anggota
kelas ini virus mencakup banyak virus flu biasa serta virus polio.
Virus flu bereplikasi dalam lapisan epitel pada saluran pernapasan.
Virus polio bereplikasi dalam lapisan usus, tetapi pada beberapa
kesempatan, lolos dari usus dan menginfeksi sel-sel saraf ditulang
belakang yang mengakibatkan kelumpuhan.

b. RNA Virus(-) Single-stranded


Genom virus jenis ini tidak dapat langsung diterjemahkan.
Alam telah menciptakan ratusan (-) ssRNA virus yang berbeda mulai
dari campak, virus influenza, rabies dan Ebola virus. Virus memiliki
strategi replikatif sangat aneh. Virus jenis ini dapat digambarkan
melalui virus stomatitis vesikuler (VSV).

VSV adalah kerabat dekat dari virus rabies. Menginfeksi kuda,


sapi dan babi dan menghasilkan lesi pada kuku dan mulut hewan
yang terinfeksi. Hal ini dapat ditularkan ke manusia yang dapat
menyebabkan demam dan pembengkakan dalam mulut. Setelah
memasuki sel inang, VSV dengan RNA untai tunggal (-) menghadapi
masalah logistik bahkan lebih besar daripada yang dihadapi oleh
virus polio. Selain itu, RNA stranded (-) ini tidak diakui oleh ribosom
tuan rumah sebagai template dan dengan demikian enzim ini dapat
tidak langsung diproduksi.

Beberapa virus ssRNA(-) memiliki genom tersegmentasi.


Sebagai contoh, virus Ebola diperkirakan memiliki tiga (-)ssRNAs
berbeda di dalamnya genom, untuk setiap pengkodean protein yang
terpisah. Anggota virus influenza memiliki delapan (-) ssRNAs yang
berbeda. Masing-masing RNA virus direplikasikan secara terpisah,
dan kemasan harus diatur untuk memastikan bahwa virion masing-
masing menerima satu dari setiap RNA yang berbeda

c. Double-stranded RNA virus

Sekelompok kecil virus membawa informasi genetik dalam


bentuk double-stranded RNA (dsRNA). Anggota dari virus kelas ini
memiliki sepuluh dsRNAs berbeda dalam virion. Virion juga
membawa RNA polimerase yang mentranskripsi dsRNA ke (+)
ssRNA. Hasil transkrip ini dapat berfungsi sebagai mRNA yang
kemudian diterjemahkan menjadi protein virus yang diperlukan atau
mereka dapat bertindak sebagai template untuk (-) sintesis untai
dan diubah kembali menjadi genom dsRNA.

d. Retrovirus (+) SsRNA

Virus ini adalah virus yang mengandung genom yang dapat


bertindak sebagai mRNA. yang paling terkenal di antaranya adalah
HIV, virus yang menyebabkan AIDS. Selain HIV, retrovirus agak
jarang pada manusia, namun lazim di mamalia lain dan burung.
Genom retrovirus serupa dalam struktur dan ukuran picornavirus
seperti virus polio, dan orang mungkin mengira bahwa replikatif
strategi retrovirus menyerupai virus polio. Hal ini tidak terjadi.
Kehidupan siklus retrovirus adalah unik dan tidak biasa.

Setelah memasuki sel, untai RNA (+) tidak terkait dengan


ribosom, meskipun memiliki semua atribut dari mRNA. Sebaliknya,
RNA virion digunakan sebagai template untuk membuat DNA salinan
genom virus. Istilah "terbalik" dan "retro" menyiratkan suatu
mekanisme yang kebalikan dari yang biasanya beroperasi di semua
sel.pada Alur biasa, informasi dalam sebuah sel dari DNA ke RNA,
bukan dari RNA pada DNA. Produk awal transkripsi balik RNA adalah:
DNA helix ganda hybrid. Proses ini berlangsung di sitoplasma.
Setelah dsDNA virus disintesis, kemudian diangkut ke dalam inti,
karena sifatnya yang kovalen sehingga dapat dihubungkan ke DNA
kromosom sel inang . DNA virus yang terintegrasi ke dalam genom
inang disebut provirus, akibatnya retrovirus telah menciptakan
sebuah versi dari genom virus yang memiliki semua atribut dari gen
seluler yang ditemukan dalam sel inang. DNA virus dapat
ditranskripsi oleh sel inang menjadi RNA (+) yang diangkut ke
sitoplasma dan digunakan baik sebagai mRNA dalam sintesis protein
virus ataupun sebagai genom untuk progeni baru virus.

e. virus DNA beruntai tunggal

Beberapa virus kecil membawa genom mereka sebagai


molekul DNA beruntai tunggal (ssDNA). virus Ini memiliki genom
sederhana: satu gen untuk protein nukleokapsid virus dan gen lain
untuk enzim replikasi DNA. Virus dengan genom ssDNA juga
menghadapi masalah replikasi yang serius dalam sel inang. Ketika
masuk ke dalam sel inang, genom tidak dapat digunakan untuk
membuat protein virus karena template untuk transkripsi adalah
DNA beruntai ganda. Karena hal ini, langkah pertama setelah infeksi
adalah konversi dari ssDNA virus ke dsDNA menggunakan DNA
polymerase sel inang. Pada beberapa virus, ujung 3 'dari lipatan
DNA virus dan dsDNA dibentuk kembali oleh pasangan dasar
dengan urutan internal. Dengan cara ini, primer yang dibangun ke
dalam genom dengan ujung 3 'dapat diperpanjang untuk
menciptakan dsDNA yang berfungsi sebagai template untuk
transkripsi. Hasil transkrip dijabarkan untuk membuat protein virus,
DNA virus direplikasi diubah kembali menjadi genom ssDNA, dan
virion dikemas untuk ekspor. Virus parvo pada anjing dan kucing
adalah anggota famili ssDNA virus.

4. Reproduksi Virus

Untuk perkembangbiakan, virus memerlukan lingkungan sel yang hidup.


Oleh karena itu, virus menginfeksi sel bakteri, sel hewan, atau sel
tumbuhan untuk bereproduksi. Ada dua macam cara virusmenginfeksi sel
hospes, yaitu secara litik dan secara lisogenik.

A. INFEKSI SECARA LITIK

Infeksi secara litik melalui fase-fase sebagai berikut ini:

1. Fase adsorpsi dan infeksi

Fag akan melekat atau menginfeksi bagian tertentu dari dinding sel
hospes, daerah itu disebut daerah reseptor (receptor site = reseptor
spot). Daerah ini khas bagi fag tertentu, dan fag jenis lain tidak dapat
melekat di tempat tersebut. Virus tidak memiliki enzim untuk
metabolisme, tetapi memliki enzim lisozim yang berfungsi merusak
atau melubangi dinding sel hospes.

Sesudah dinding sel hospes terhidrolisis oleh lisozim, maka seluruh


isi fag masuk kedalam hospes. Fag kemudian merusak dan
mengendalikan DNA hospes.

2. Fase replikasi (fase sintesa)

DNA fag mengadakan replikasi (menyusun DNA) menggunakan DNA


hospes sebagai bahan, serta membentuk selubung protein. Maka
terbentuklah beratus-ratus molekul DNA baru virus yang lengakap
dengan selubungnya.

3.Fase pembebasan virus (fag-fag baru)/ fase lisis

Sesudah fag dewasa, sel hospes akan pecah (lisis), sehingga


keluarlah virus atau fag yang baru. Jumlah virus baru ini dapat
mencapai sekitar 200.

B. INFEKSI SECARA LISOGENIK

1. Fase adsorpsi dan infeksi

Fag menenpel pada tempat yang spesifik. Virus melakukan


penetrasi pada hospes kemudian mengluarkan DNAnya kedalam tubuh
hospes.

2. Fase penggabungan

DNA virus bersatu dengan DNA hospes membentuk profag. Dalam


bentuk profag, sebagian besar gen berada dalam fase tidak aktif, tetapi
sedikitnya ada satu gen yang selalu aktif. Gen aktif berfungsi untuk
mengkode protein reseptor yang berfungsi menjaga agar sebagian
gen profag tidak aktif.

3. Fase pembelahan

Bila sel hospes membelah diri, profag ikut membelah sehingga dua
sel anakan hospes juga mengandung profag didalam selnya. Hal ini
akan berlangsung terus- menerus selama sel bakteri yang
mengandung profag membelah.

5. Epidemiologi Virus

Epidemiologi virus tidak lepas dari sejarah sosial virus


yang menggambarkan pengaruh virus dan infeksi virus pada sejarah
manusia. Wabah yang disebabkan oleh virus dimulai ketika perilaku
manusia berubah selamaperiode Neolitik. Dalam masyarakat pertanian,
kepadatan penduduk meningkat, sehingga memungkinkan penyebaran
virus secara cepat dan kemudian menjadi endemik. Virus tumbuhan dan
ternak juga meningkat, dan ketika manusia bergantung pada pertanian
dan peternakan, penyebaran virus
seperti potivirus dan rinderpest berdampak sangat besar.

Virus variola dan campak adalah salah satu penyakit tertua yang
menginfeksi manusia. Setelah berevolusi dari virus yang menginfeksi
hewan lain, mereka pertama kali menyebar di antara masyarakat Eropa
dan Afrika Utara ribuan tahun yang lalu. Virus itu kemudian dibawa ke
Dunia Baru oleh orang Eropa pada masa penaklukan Spanyol,
tetapi penduduk asli Amerika tidak memiliki kekebalan alami terhadap
virus dan jutaan dari mereka meninggal selama epidemi. Pandemi
influenza telah tercatat sejak tahun 1580, frekuensinya terus meningkat
beberapa abad kemudian. Pandemi pada tahun 1918-1919, yang
menewaskan 40-50 juta orang dalam waktu kurang dari satu tahun,
merupakan salah satu yang paling mematikan dalam sejarah.

Louis Pasteur dan Edward Jenner adalah orang pertama yang


mengembangkan vaksin yang dapat melindungi manusia dari infeksi
virus. Sifat virus tetap tidak diketahui sampai penemuan mikroskop
elektron pada tahun 1930-an, ketika ilmu virologiberkembang pesat. Pada
abad ke-20, banyak penyakit lama dan baru yang ditemukan disebabkan
oleh virus. Terjadi beberapa epidemi poliomielitis yang dapat dikendalikan
setelah dikembangkannya vaksin pada tahun 1950. HIV merupakan salah
satu patogen virus terbaru. Meskipun menjadi pusat perhatian karena
menyebabkan penyakit, virus juga dapat dimanfaatkan karena mendorong
proses evolusi dengan mentransfer gen dari satu spesies ke spesies lain
dan memainkan peranan penting dalam ekosistem.

6. Cara Penularan Virus


a. Transmisi melalui pernapasan

Contoh : Virus Influenza A

b. Transmisi melalui Faecal-oral

Contoh : enterovirus

c. Transmisi melalui darah

Contoh : Virus hepatitis B

d. Transmisi melalui hunbungan seksual

Contoh : HIV

e. Transmisi melalui vektor binatang atau serangga

Contoh : virus rabies

7. Identifikasi Virus

Teknik diagnosis infeksi virus beberapa tahun yang lalu dilakukan


dengan kultur, dengan teknik in vivo, in ovo dan in vitro. In vivo dilakukan
dengan meninokulasikan virus ke dalam hewan percobaan, kemudian
yang diamati adalah symptom yang timbul pada hewan tersebut. In ovo,
dilakukan dengan teknik kultur virus pada telur berembrio, dengan teknik
khusus, kemudian setelah inkubasi beberapa waktu bisa diamati reaksi
hasil inflamasi infeksi virus pada telur berupa pock. Sedangkan secara In
vitro baru beberapa waktu terakhir ini berkembang dengan sangat pesat.
Teknik kultur ini menggunakan media biakan sel hidup, yang biasanya
dilakukan dengan mengekstrak ginjal kera atau embrio ayam. Dengan
menggunakan teknik pembiatan media maka akan didapatkan biaskan sel
monolayer untuk mengkulturkan virus, indikator adanya pertumbuhan
virus biasanya dilakukan dengan melihat keberadaan plaque pada
permukaan media.

Contoh beberapa teknik kultur secara invivo, yaitu virus polio,


menggunakan kera sebagai hewan percogbaan , cara penyuntikannya
melalui Intra cerebral (ke dalam otak), Intra spinal ( ke dalam sumsum
tulang belakang), intra nasal (diteteskan ke dalam hidung), Intra
musculair (disuntikkan ke dalam otot paha). Jika 2 minggu setelah
penyuntikan kera lumpuh, membuktikan adanya virus polio.

Identifikasi Virus rabies, menggunakan tikus putih dewasa yang


disuntik secara intra cerebral. Pada waktu 1 sampai 2 minggu, tikus putih
tersebut akan sakit, bulunya rontok dan kemudian mati. Virus dengue,
menggunakan bayi tikus berumur 1 3 hari suntikan secara intra cerebral,
dan sub cutan darah yang diperiksa. Setelah 7 10 hari tikus akan
kejang-kejang atau lemas kemudian mati, maka darah tadi mengandung
virus dengue. Virus Q fever, menggunakan marmot jantan disuntik secara
intra peritoneal dengan sputum, darah, atau urine. Setelah 1 2 minggu,
skrotumnya diperiksa, jika skrotum marmot membengkak, dan skrotum
memerah dan penuh cairan, ini bukti bahwa bahan tersebut mengandung
virus Q fever.

Seiring dengan perkembangan teknologi, maka diagnosis penyakit


virus menggunakan beberapa teknik yang lebih modern, melalui beberapa
pendekatan antara lain dengan deteksi antigen virus, melalui berbagai
pemeriksaan, hal ini juga sering rumit dan belum dapat dilaksanakan di
setiap laboratorium. Pemeriksaan ini menggunakan basic biologi
molekuler dan teknik hibridisasi molekuler, antigen dan diagnosis protein
specific, membutuhkan pengetahuan dan pengalaman serta ketrampilan
di laboratorium. Teknik diagnosis yang lebih banyak digunakan adalah
dengan deteksi genom virus, cara ini bisa dilakukan dengan beberapa
teknik, antara lain dengan RNA-Polyacrylamide gel Latex, hibridisasi
genom, dan amplifikasi genom dengan reaksi Polymerase Chain
Reaction (PCR). Untuk keperluan lebih lanjut berhubungan dengan
identifikasi dan deteksi adanya mutasi menggunakan teknik squensing
DNA. Cara yang paling popular untuk identifikasi virus pada masa ini
adalah dengan menggunakan uji immunologi serologi, antara lain dengan
melihat respon abtibodi (IgM dan IgG). Juga pemeriksaan adanya
peningkatan titer dengan Tes ikatan Komplemen (Complement Fixation
Test = CFT), Tes Aglutinasi, Tes Penghambatan Hemaglutinasi (HI), Tes
Presipitasi, Tes Netralisasi, Fluorescence Antibody Tes (FAT), Enzyme
Linked Immuno Sorbent Assay (ELISA), Radio Immuno Assay (RIA),
Counter Immuno Elektroforesis (CIE), immunoflourecent /
Immunohistokimia Enzim.

Pemilihan teknik diagnosis unutk virus tentu saja tergantung dari


tujuan diagnosisnya, apakah untuk deteksi keberadaan virus, keperluan
epidemiologi, keperluan monitoring prognosis penyakit infeksi, pengujian
antiretroviral, ataupun untuk penelitian.
TUGAS

VIROLOGI

Disusun Oleh :
Nama : Winda Permata Sari
NIM : P07134012048

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM
JURUSAN ANALIS KESEHATAN MATARAM
Jalan Praburangkasari Dasan Cermen Cakranegara Telepon (0370)
631160
2014