Anda di halaman 1dari 10

Saifuddin Ishak, Syahrial dan Yudi Pratama, Hubungan Keluarga Pasien

Terhadap Kekambuhan Skizofrenia

HUBUNGAN KELUARGA PASIEN TERHADAP KEKAMBUHAN


SKIZOFRENIA DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD)
RUMAH SAKIT JIWA ACEH

Yudi Pratama, Syahrial dan Saifuddin Ishak

Abstrak. Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa yang paling banyak terjadi.
Kekambuhan pasien skizofrenia masih tinggi dan memerlukan biaya tinggi, yang ditanggung
oleh keluarga dan pemerintah. Seharusnya pasien skizofrenia yang sudah sembuh tidak
mengalami kekambuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang
berhubungan dengan keluarga terhadap kekambuhan pasien skizofrenia di BLUD RSJ Aceh
yang dilaksanakan sejak bulan Juni 2012 sampai Maret 2013. Jenis penelitian ini merupakan
penelitian analitik dengan menggunakan desain potong lintang. Data kuesioner yang diperoleh
dari 40 responden dianalisis secara deskriptif, kemudian untuk mencari hubungan tiap variabel
terhadap kekambuhan pasien skizofrenia akan dilakukan analisa dengan uji Chi-Square. Hasil
uji Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan
keluarga (p=0,011), dukungan keluarga (p=0,000), kepatuhan pasien minum obat (p=0,000)
dan aktivitas keagamaan pasien (p=0,022), dengan kekambuhan pasien skizofrenia.
(JKS 2015; 2: 77-86)

Kata kunci: Skizofenia, kekambuhan, keluarga, pengetahuan, dukungan, kepatuhan, aktivitas keagamaan

Abstract. Schizophrenia is a most common mental disorder. The possibility of relapse cases
are still high with expensive cost on management, which is borne by the family and
government. Ideally, schizophrenia patients who had recovered should not suffer a relapse.
This study aimed to determine the factors associated with the families from a relapse
schizophrenia patients in Aceh Local Mental Hospital conducted from June 2012 to March
2013. This research is an analytical study with cross-sectional approach. Questionnaire data
obtained from 40 respondents were analyzed descriptively, and the relationship of each
variable will be analyzed by Chi-Square test. The results indicated that there was a significant
assossiation between knowledge of patients families (p = 0.011), patients family support (p =
0.000), medication compliance (p = 0.000) and religious activities of the patients (p = 0.022)
with schizophrenia relapse cases. (JKS 2015; 2: 77-86)

Keywords: Schizophrenia, relapse, family, knowledge, support, compliance, religious activities

Pendahuluan1 paling tidak ada satu dari empat orang di


Pada saat ini penderita dengan gangguan dunia mengalami masalah mental,
jiwa jumlahnya mengalami peningkatan diperkirakan ada sekitar 450 juta orang di
terkait dengan berbagai macam dunia yang mengalami gangguan
1
permasalahan yang dialami, mulai dari kesehatan jiwa.
kondisi perekonomian yang memburuk,
kondisi keluarga atau latar belakang pola Menurut WHO2 skizofrenia merupakan
asuh anak yang tidak baik sampai bencana gangguan mental yang berat yang
alam yang melanda. WHO menyatakan mempengaruhi sekitar 7 per seribu dari
populasi orang dewasa, terutama di
Yudi Pratama, Fakultas Kedokteran Universitas kelompok usia 15-35 tahun. Meskipun
Syiah Kuala Banda Aceh, insiden rendah (3-10.000), prevalensi yang
Syahrial adalah Dosen Bagian Kedokteran Jiwa tinggi terjadi karena kronisitas.
Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala
Banda Aceh, dan
Dalam masyarakat umum terdapat 0,2%-
Saifuddin Ishak adalah Dosen Bagian Ilmu
Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran 0,8% penduduk yang mengalami
Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, skizofrenia. Data American Psychiatric

77
JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015

Association (APA) di tahun 1995 dengan 1.183 diantaranya adalah kasus


menyebutkan 1% populasi penduduk dunia skizofrenia sedangkan untuk pasien jiwa
menderita skizofrenia sedangkan di yang di rawat inap pada Desember 2011
Indonesia sekitar 1% hingga 2% dari total tercatat berjumlah 268 pasien, 209
jumlah penduduk. Masalahnya banyak diantaranya adalah pasien skizofrenia.
keluarga yang belum mengerti benar apa
itu skizofrenia. Ketidakmengertian itu Terdapat empat faktor penyebab pasien
melahirkan jalan pintas. Rata-rata skizofrenia kambuh dan perlu dirawat di
memasukan kerabatnya ke rumah sakit rumah sakit jiwa, yaitu: pasien, keluarga,
jiwa. Padahal penyakit ini bisa dokter dan case manager. Keluarga
dikendalikan. Dengan kemauan diri yang merupakan sistem pendukung utama yang
keras dan dukungan keluarga, penderitanya memberi perawatan langsung pada setiap
bisa hidup normal.3 keadaan pasien baik itu sehat maupun
sakit. Status kesehatan dalam suatu
Di Indonesia terdapat 6-19 orang per 1000 keluarga dipengaruhi oleh pengetahuan
penduduk dunia mengalami skizofrenia. dan sikap keluarga.5
Hasil survey di Indonesia memperlihatkan
bahwa sekitar 1-2% penduduk menderita Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti
skizofrenia, hal ini berarti sekitar 2-4 juta tertarik untuk melakukan penelitian untuk
jiwa dari jumlah tersebut diperkirakan mengetahui faktor-faktor yang
penderita yang aktif sekitar 700.000-1,4 berhubungan dengan kekambuhan pasien
juta jiwa. Penderita yang dirawat di bagian skizofrenia di BLUD Rumah Sakit Jiwa
psikiatri di Indonesia hampir 70% karena Aceh.
skizofrenia.4
Metodologi
Di Aceh, setidaknya terdapat 1.009 Jenis dan Rancangan Penelitian
Gampong Siaga Sehat Jiwa (GSSJ) dari 23 Jenis penelitian ini adalah analitik
Kabupaten Kota dengan total kader sehat observasional yaitu suatu metode yang
jiwa mencapai 6.421 orang, perawat dilakukan dengan tujuan untuk membuat
kesehatan jiwa masyarakat berjumlah 535 suatu keadaan secara objektif serta melihat
orang dan dokter umum plus jiwa korelasi antar variabel. Rancangan
mencapai 166 orang. GGSJ sendiri penelitian ini adalah rancangan cross-
merupakan suatu desa yang masyarakatnya sectional survey, yaitu salah satu bentuk
sadar, mau dan mampu mencegah serta studi observasional yang paling sering
mengatasi ancaman kesehatan jiwa dilakukan mencakup semua penelitian
masyarakat. Data yang diperoleh dari yang pengukuran variabel-variabelnya
Dinas Kesehatan Aceh juga menyebutkan hanya dilakukan satu kali pada satu
dari tahun 2006-2010 tercatat 14.892 waktu.6
pasien yang mengalami gangguan jiwa.
Prevalensi Skizofrenia di Aceh sendiri Tempat dan Waktu Penelitian
mencapai 1,9%. Penelitian ini dilakukan di Badan Layanan
Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Jiwa
Data yang diperoleh dari Rekam Medik Aceh, Banda Aceh. Penelitian ini
BLUD Rumah Sakit Jiwa Aceh sepanjang dilakukan dari bulan Februari 2013 sampai
tahun 2011 tercatat 14.569 kunjungan dengan bulan Maret 2013
pasien jiwa yang rawat jalan, dimana
13.174 diantaranya adalah kasus Populasi dan Sampel Penelitian
skizofrenia. Data terakhir yang didapatkan Populasi yang diteliti dalam penelitian ini
pada Desember 2011 didapatkan 1.296 adalah seluruh keluarga dan pasien
kunjungan pasien jiwa yang rawat jalan, skizofrenia yang mengalami kekambuhan

78
JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015

yang berobat Badan Layanan Umum dukungan keluarga, kepatuhan pasien


Daerah (BLUD) Rumah Sakit Jiwa Aceh. minum obat dan aktivitas keagamaan
Sampel dalam penelitian ini adalah dengan kekambuhan pasien skizofrenia.
keluarga dan pasien skizofrenia yang Analisis data ini dilakukan dengan uji Chi-
mengalami kekambuhan yang berobat Square dengan kriteria hubungan
Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) ditetapkan berdasarkan p-value
Rumah Sakit Jiwa Aceh. Teknik (probabilitas) yang dihasilkan dengan 95%
pengambilan sampel yang digunakan pada CI dan nilai = 0,05
penelitian ini adalah Non Probability
Sampling dengan metode Accidental Hasil dan Pembshasan
Sampling yaitu suatu metode pengambilan Analisis Univariat
sampel yang dilakukan dengan mengambil Analisis univariat adalah untuk
kasus atau responden yang kebetulan ada menjelaskan distribusi frekuensi dan
atau tersedia pada saat penelitian.7 proporsi variabel dependen dan
independen. Variabel kekambuhan pasien
Besar sampel minimal yang digunakan skizofrenia yang diantar berobat oleh
dalam penelitian ini adalah 40 orang. keluarga terdiri dari 2 kategori yaitu
Adapun kriteria untuk sampel penelitian kambuh dan tidak kambuh (kontrol).
adalah (1) Keluarga yang mengantar Distribusi frekuensi kekambuhan pasien
pasien skizofrenia ke Poli RSJ Aceh dan skizofrenia yang diantar berobat oleh
telah di diagnosa oleh dokter spesialis keluarga di BLUD RSJ Aceh seperti pada
kedokteran jiwa ataupun dokter yang tabel 1 berikut ini.
melakukan follow-up ke dokter spesialis
kedokteran jiwa. (2) Keluarga yang Tabel 1. Distribusi frekuensi kekambuhan
mengantar pasien skizorenia yang pasien skizofrenia yang diantar
mengalami kekambuhan yang berobat di berobat oleh keluarga di BLUD
Poli RSJ Aceh. RSJ Aceh
Kekambuhan n (%)
Teknik Pengambilan Data Sampel Kambuh 20 50
Penelitian Tidak Kambuh 20 50
1. Data diambil peneliti dan dibantu oleh Total 40 100,0
3 orang enumerator.
2. Peneliti dan enumurator melakukan Variabel pengetahuan keluarga terdiri dari
penyamaan visi agar memahami tujuan 12 (dua belas) pernyataan sebagai
penelitian yang akan dilakukan. indikator untuk mengukur pengetahuan
3. Peneliti dan enumurator saling keluarga terhadap skizofrenia. Gambaran
melakukan try-out kuesioner pengetahuan keluarga terhadap skizofrenia
4. Peneliti atau enumurator melakukan di BLUD RSJ Aceh seperti pada tabel 2
wawancara dengan responden berikut ini:

Analisis Data Tabel 2. Distribusi frekuensi pengetahuan


Analisis data yang digunakan dalam keluarga terhadap skizofrenia di
penelitian ini adalah analisis univariat dan BLUD RSJ Aceh
dilanjutkan dengan analisis bivariat. Pengetahuan Keluarga n %
Analisis univariat digunakan untuk
Rendah 22 55
memperoleh gambaran distribusi frekuensi Tinggi 18 45
dan proporsi dari variabel dependen
Total 40 100,0
maupun variabel independen. Analisis data
bivariat dilakukan untuk mengetahui
hubungan antara pengetahuan keluarga,

79
JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015

Variabel dukungan keluarga terdiri dari 16 Variabel aktivitas keagamaan pasien terdiri
(enam belas) pernyataan sebagai indikator dari 8 (delapan) pernyataan sebagai
untuk mengukur dukungan keluarga indikator untuk mengukur aktivitas
terhadap pasien skizofrenia. Gambaran keagamaan pasien. Gambaran aktivitas
dukungan keluarga terhadap pasien keagamaan pasien skizofrenia di BLUD
skizofrenia di BLUD RSJ Aceh seperti RSJ Aceh seperti pada tabel 5 berikut ini:
pada tabel 3 berikut ini:
Tabel 5. Distribusi frekuensi aktivitas
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Dukungan keagamaan pasien skizofrenia di
Keluarga terhadap Pasien BLUD RSJ Aceh
Skizofrenia di BLUD RSJ Aceh Aktivitas Keagamaan n %
Dukungan Keluarga n % Kurang 28 70
Kurang 22 55 Baik 12 30
Baik 18 45 Total 40 100,0
Total 40 100,0
Analisis Bivariat
Variabel kepatuhan pasien minum obat Analisis bivariat untuk menjelaskan
terdiri dari 10 (sepuluh) pernyataan hubungan variabel independen dengan
sebagai indikator untuk mengukur variabel dependen. Variabel independen
kepatuhan pasien dalam minum obat. dalam penelitian ini adalah pengetahuan,
Gambaran kepatuhan pasien minum obat dukungan, kepatuhan minum obat, dan
di BLUD RSJ Aceh seperti pada tabel 4 aktivitas keagamaan sedangkan variabel
berikut ini. dependennya adalah kekambuhan pasien
skizofrenia.
Tabel 4. Distribusi frekuensi kepatuhan
pasien minum obat di BLUD Hubungan pengetahuan keluarga dengan
RSJ Aceh kekambuhan pasien skizofrenia disajikan
Kepatuhan Pasien n % dalam bentuk tabel silang berikut.
Patuh 15 37,5
Tidak Patuh 25 62,5
Total 40 100,0

Tabel 6. Hubungan pengetahuan keluarga dengan kekambuhan pasien skizofrenia di BLUD


RSJ Aceh
Kekambuhan Pasien Skizofrenia
Total
Pengetahuan Keluarga Kambuh Tidak Kambuh
n % n % n %
Rendah 15 68,2 7 31,8 22 100
Tinggi 5 27,8 13 72,2 18 100
Total 20 20 40
*menggunakan uji Chi-Square dengan signifikasi 0,05, p-value=0,011, RP=2,5, (95%-CI)=1,11-5,45

Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh skizofrenia, dengan p-value = 0,011 yang
Hasil Analisis Chi-square pada tabel 4.6 lebih kecil daripada 0,05. Berdasarkan
menunjukkan bahwa terdapat hubungan uji statistik secara bivariat juga
yang signifikan antara pengetahuan menunjukkan Ratio Prevalence RP: 2,5
keluarga dengan kekambuhan pasien {95% CI: (1,11-5,45)} artinya keluarga

80
JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015

dengan pengetahuan yang rendah, pasien besar daripada penelitian yang didapatkan
skizofrenia akan memiliki peluang 2,5 kali di tempat lain, hal ini menunjukkan
untuk mengalami kekambuhan penelitian di tempat lain menunujukkan
dibandingkan dengan keluarga yang hubungan yang lebih signifikan antara
memiliki pengetahuan yang tinggi. pengetahuan keluarga dengan kekambuhan
pasien skizofrenia. Hal ini bisa disebabkan
Hal ini sejalan dengan penelitian yang oleh berbagai macam faktor, diantaranya
dilakukan oleh Wardana di RSJ Pusat dr. bisa disebabkan oleh perbedaan
Soeharto Herdian Jakarta Dari hasil uji karakteristik responden antara di Aceh
statistik (Chi Square) di dapatkan p-value tempat peneliti melakukan penelitian
adalah 0,001 yang berarti p-value lebih dibandingkan dengan penelitian di tempat
kecil dari (0,05).8 Hal ini menunjukkan lain di Jakarta dan Yogyakarta. Akses
bahwa terdapat hubungan yang bermakna informasi yang didapatkan oleh responden
antara pengetahuan responden dengan tentang skizofrenia baik di Aceh maupun
kekekambuhan pada pasien skizofrenia. di tempat lain bisa saja berbeda dan hal ini
Dari nilai RP dapat disimpulkan bahwa tentunya bisa mempengaruhi hasil
responden yang mempunyai pengetahuan penelitian.
rendah 3,2 kali memiliki kecenderungan
kambuh (95% CI: (1,669-6,231)) bila Perawatan di rumah sakit tidak akan
dibandingkan dengan responden yang bermakna bila tidak dilanjutkan dengan
mempunyai pengetahuan tinggi. perawatan di rumah, untuk dapat
melakukan perawatan secara baik dan
Ada hubungan antara tingkat pengetahuan benar keluarga perlu memiliki bekal yaitu
keluarga dengan kekambuhan pasien pengetahuan mengenai penyakit yang
Skizofrenia, dengan hasil p-value 0,001 (< dialami oleh pasien. Hal ini mengingat
0,05). Terdapat hubungan bermakna antara bahwa pasien skizofrenia mengalami
pengetahuan keluarga tentang skizofrenia berbagai kemunduran, salah satunya yaitu
dengan gejala relaps dimana nilai p-value fungsi kognitif, sehingga orang terdekat
0,004 artinya < 0,05 (alpha).5 pasien dalam hal ini keluarga memiliki
peran yang sangat penting.8
Nilai p-value yang berbeda antara yang
didapatkan oleh peneliti dan penelitian di Hubungan dukungan keluarga dengan
tempat lain menunjukkan bahwa nilai p- kekambuhan pasien skizofrenia disajikan
value yang didapatkan oleh peneliti lebih dalam bentuk tabel silang berikut.

Tabel 7. Hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan pasien skizofrenia di BLUD


RSJ Aceh
Kekambuhan Pasien Skizofrenia
Total
Dukungan Keluarga Kambuh Tidak Kambuh
n % n % n %
Buruk 18 81,8 4 18,2 22 100
Baik 2 11,1 16 88,9 18 100
Total 20 20 40
*menggunakan uji Chi-Square dengan signifikasi 0,05, p-value=0,000, RP=7,4, (95%-CI)= 1,96-27,6

Berdasarkan tabulasi silang data pada tabel kekambuhan sebanyak 81,8%, sedangkan
4.7 diatas menunjukkan bahwa dukungan dukungan keluarga yang baik, pasien tidak
keluarga yang buruk, pasien mengalami mengalami kekambuhan sebanyak 88,9%.

81
JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015

Data diatas menunjukkan bahwa dukungan menghadapi tantangan kehidupan sehari-


keluarga yang sangat buruk/buruk hari (Dolan, 2006).
mayoritas pasien skizofrenia mengalami
kekambuhan. Hasil analisis Chi-square Nilai p-value yang berbeda antara yang
pada tabel 7 menunjukkan bahwa terdapat didapatkan oleh peneliti dan penelitian di
hubungan yang signifikan antara dukungan tempat lain menunjukkan bahwa nilai p-
keluarga dengan kekambuhan pasien value yang didapatkan oleh peneliti jauh
skizofrenia, dengan p-value 0,000 yang lebih kecil daripada penelitian yang
berarti p-value < 0,05. Berdasarkan uji didapatkan di tempat lain, hal ini
statistik secara bivariat juga menunjukkan menunjukkan penelitian yang dilakukan
Ratio Prevalence RP: 7,4 {95% CI : (1,96- oleh peneliti menunjukkan hubungan yang
27,6)} artinya keluarga dengan dukungan sangat signifikan antara pengetahuan
yang buruk, pasien skizofrenia akan keluarga dengan kekambuhan pasien
memiliki peluang 6 kali untuk mengalami skizofrenia dibandingkan dengan di tempat
kekambuhan dibandingkan dengan lain. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai
keluarga yang memiliki dukungan yang mamcam faktor, diantaranya bisa
baik. disebabkan oleh perawatan yang di terima
oleh pasien skizorenia selama dirawat inap
Hal ini sejalan dengan penelitian yang di Aceh maupun di Medan berbeda.
dilakukan di Poliklinik RSJ Daerah Menurut opini peneliti jika pasien
Sumatera Utara, yang menyatakan bahwa skizofrenia mendapatkan perawatan yang
terdapat hubungan yang bermakna antara lebih baik ketika dirawat inap, maka ketika
dukungan keluarga terhadap kekambuhan dia telah kembali ke keluarganya maka
pasien skizofrenia dengan nilai signifikansi kebutuhan akan dukungan keluarga tentu
p-value 0,015 artinya < 0,05 (alpha).9 juga tidak sebesar dibandingkan dengan pasien
menyatakan bahwa terdapat hubungan yang mendapatkan perawatan yang tidak
yang bermakna antara dukungan sosial optimal selama rawat inap yang telah
keluarga terhadap frekuensi kekambuhan kembali keluarganya. Hal lain yang
pasien skizofrenia paranoid dengan nilai mungkin bisa mempengaruhi hasil
signifikansi p-value = 0,028 artinya < 0,05 penelitian menurut opini peneliti adalah
(alpha).9 indikasi pemulangan pasien yang tidak
sesuai seperti pasien yang pulang karena
Dukungan keluarga dapat memperkuat karena keiniginan keluarga dan bukan
setiap individu, menciptakan kekuatan karena indikasi kesembuhan.
keluarga, memperbesar penghargaan
terhadap diri sendiri, dan mempunyai Hubungan kepatuhan pasien minum obat
potensi sebagai strategi pencegahan yang dengan kekambuhan pasien skizofrenia
utama bagi seluruh keluarga dalam disajikan dalam bentuk tabel silang
berikut.

Tabel 8. Hubungan kepatuhan pasien minum obat dengan kekambuhan pasien skizofrenia di
BLUD RSJ Aceh
Kekambuhan Pasien Skizofrenia
Total
Kepatuhan Minum Obat Kambuh Tidak Kambuh
n % n % n %
Tidak Patuh 19 76 6 24 25 100
Patuh 1 6,7 14 93,3 15 100
Total 20 20 40
*menggunakan uji Chi-Square dengan signifikasi 0,05, p-value=0,000, RP=11,4, (95%-CI)= 1,69-76,7

82
JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015

Berdasarkan tabulasi silang data pada tabel Nilai p-value yang didapatkan oleh peneliti
8 diatas menunjukkan bahwa pasien tidak dengan yang dilakukan dilakukan oleh
patuh minum obat, pasien mengalami peneleliti di tempat lain adalah sama dan
kekambuhan sebanyak 76%, sedangkan menunjukkan hubungan yang sangat
pasien patuh minum obat, pasien tidak siginfikan antara kepatuhan pasien minum
mengalami kekambuhan sebanyak 93,3%. obat dengan kekambuhan skizofrenia, hal
Data diatas menunjukkan bahwa pasien ini menunjukkan kepatuhan pasien minum
tidak patuh minum obat, mayoritas pasien obat merupakan hal yang paling penting
skizofrenia mengalami kekambuhan. dalam mencegah terjadinya kekambuhan
pasien skizofrenia karena ketika pasien
Hasil Analisis Chi-square pada tabel 8 putus obat maka reaksi dari obat yang
menunjukkan bahwa terdapat hubungan diharapkan juga otomatis akan terputus,
yang signifikan kepatuhan pasien minum sehingga langsung memicu terjadinya
obat dengan kekambuhan pasien kekambuhan. Di Aceh obat yang diperoleh
skizofrenia, dengan p-value adalah 0,000 oleh pasien skizofrenia mayoritas
yang berarti p-value < 0,05. Berdasarkan ditanggung oleh JKA, sehingga hal ini
uji statistik secara bivariat juga tentu saja semakin memudahkan pasien
menunjukkan Ratio Prevalence RP: 11 dalam memperoleh obat khususnya dari
{95% CI: (1,69-76,7)} artinya pasien yang golongan pasien yang kurang mampu.
tidak patuh minum obat akan memiliki
peluang 11 kali untuk mengalami Faktor yang paling penting sehubungan
kekambuhan dibandingkan dengan pasien dengan perawatan kembali pasien
yang patuh minum obat. skizofrenia adalah ketidakpatuhan
pengobatan dimana pada penelitian
Hal ini sejalan dengan penelitian yang terkontrol mereka mendapatkan hasil
dilakukan oleh Marpaung (2009) di RSJ persentase pasien yang tidak minum obat
Daerah Sumatera Utara yang menyatakan secara nyata lebih tinggi daripada pasien-
bahwa diperoleh pasien yang tidak patuh pasien yang menjalani pengobatan secara
dengan frekuensi rawat inap tinggi rutin. Penyebab ketidakpatuhan terhadap
sebanyak 59 orang (100%), pasien yang terapi obat adalah sifat penyakit yang
patuh dengan frekuensi rawat inap rendah kronis sehingga pasien merasa bosan
sebanyak 24 orang (85,7%). Hasil uji chi- minum obat, berkurangnya gejala, tidak
square variabel ketidakpatuhan pasien pasti tentang tujuan terapi, harga obat yang
skizofrenia dengan frekuensi rawat inap mahal, tidak mengerti tentang instruksi
diperoleh p = 0,000 < 0,05, artinya penggunaan obat, dosis yang tidak akurat
terdapat hubungan signifikan antara dalam mengkonsumsi obat dan efek
ketidakpatuhan pasien skizofrenia dengan samping yang tidak menyenangkan.
frekuensi rawat inap, dimana Hubungan aktivitas keagamaan dengan
ketidakpatuhan pengobatan akan kekambuhan pasien skizofrenia disajikan
mengakibatkan frekuensi rawat inap yang dalam bentuk tabel silang berikut.
tinggi.

83

82
JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015

Tabel 9. Hubungan aktivitas keagamaan dengan kekambuhan pasien skizofrenia di BLUD


RSJ Aceh
Kekambuhan Pasien Skizofrenia
Total
Aktivitas Keagaman Kambuh Tidak Kambuh
n % n % n %
Kurang 17 60,7 11 39,3 28 100
Baik 3 25 9 75 12 100
Total 20 20 40
*menggunakan uji Chi-Square dengan signifikasi 0,05, p-value=0,038, RP=2,4, (95%-CI)=0,87-6,76

Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh agama dan lainnya agar terjadi
hasil analisis Chi-square pada tabel 4.9 keseimbangan jiwa yang dinamis.12
menunjukkan bahwa terdapat hubungan Spiritual sehat tercermin dari cara
yang signifikan antara aktivitas keagamaan seseorang dalam mengekspresikan rasa
dengan kekambuhan pasien skizofrenia, syukur, pujian, kepercayaan dan
dengan p-value = 0, 038 yang lebih kecil sebagainya terhadap sesuatu diluar alam
daripada 0,05. Berdasarkan uji statistik fana ini, yakni Tuhan yang maha kuasa.
secara bivariat juga menunjukkan Ratio Sehat spiritual dapat dilihat dari praktik
Prevalence RP: 2,4 {95% CI : (0,87-6,76)} keagamaan seseorang. Dengan kata lain,
artinya aktivitas keagamaan yang kurang, sehat spiritual adalah keadaan dimana
pasien skizofrenia akan memiliki peluang seseorang menjalankan ibadah dan semua
2,4 kali untuk mengalami kekambuhan aturan-aturan agama yang dianutnya.
dibandingkan dengan pasien dengan
aktivitas keagamaan yang baik. Agama dan spiritualitas juga membantu
proses terapi baik terapi psikis maupun
Hal ini terkait dengan penelitian kualitatif fisik. Pasien depresi yang menerima terapi
yang dilakukan di Malang, menyatakan yang berorientasi pada agama memiliki
bahwa setelah dilakukan penelitian pada depresi yang lebih rendah dan penyesuaian
pasien yang diberikan terapi doa, klinis yang lebih baik dibandingkan
diketahui bahwa terjadi perubahan perilaku dengan pasien yang menerima terapi
pada penderita skizofrenia, dimana pasien biasa.13
yang pertama dinyatakan sembuh dan
diizinkan pulang.11 Perubahan perilaku Keterbatasannya data tentang penelitian di
dalam diri pasien tampak dari hilangnya tempat lain tentang hubungan aktivitas
halusinasi dan delusi yang diderita oleh keagamaan pasien dengan kekambuhan
pasien. Selain itu pasien tidak lagi marah- skizofrenia yang peneliti dapatkan bisa
marah dan pasien juga sudah mau disebabkan oleh berbagai faktor. Menurut
berkumpul dan bercerita dengan teman- opini peneliti, Aceh merupakan tempat di
temannya. Kegiatan bersih dan rawat diri Indonesia yang menjalankan syariat islam,
juga semakin rajin dilakukan. Selain itu, hal ini tidak terlepas dari mayoritas
kegiatan keagamaan seperti sholat dan penduduknya yang beragama islam dan
mengaji juga semakin rajin. juga julukan Serambi Mekkah yang
didapat oleh Aceh. Berbeda di tempat lain
Spiritual merupakan komponen tambahan yang persentase penduduk yang beragama
pada definisi sehat oleh WHO dan islam tidak sebesar di Aceh. Islam sudah
memiliki arti penting dalam kehidupan menjadi identitas yang sangat melekat
sehari-hari masyarakat. Setiap individu dengan penduduk aceh meskipun
perlu mendapat pendidikan formal maupun kenyataannya aktivitas keagamaan yang
informal, siraman rohani seperti ceramah

84
JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015

dilakukan oleh penduduknya tidak 1. Perlu penjelasan terus-menerus kepada


menunjukkan hal yang sama. keluarga pasien tentang mekanisme
pemberian obat pada pasien
Kesimpulan skizofrenia secara terus-menerus.
Berdasarkan penelitian yang telah 2. Perlunya peran keluarga pasien
dilakukan pada 40 keluarga pasien skizofrenia sangat penting agar dapat
skizofrenia di Badan Layanan Umum memberikan dukungan sepenuhnya
Daerah Rumah Sakit Jiwa aceh, didapatkan untuk kesembuhan pasien skizofrenia.
hasil sebagai berikut: 3. Perlu pembekalan tentang
1. Berdasarkan 4 variabel yang diajukan pengetahuan kepada keluarga pasien
pada penelitian diantaranya adalah terhadap penerimaan kembali pasien
pengetahuan keluarga, dukungan skizofrenia di dalam keluarga dan
keluarga, kepatuhan pasien minum obat mekanisme pemberian obat secara
dan aktivitas keagamaan. Keempat teratur.
variabel yang dimaksud menunjukkan
hasil yang signifikan terhadap Perlunya mendorong keluarga pasien
kekambuhan pasien skizofrenia, skizofrenia untuk tetap membawa anggota
dimana variabel yang paling signifikan keluarganya kepada pendekatan
adalah kepatuhan pasien minum obat keagamaan secara terus menerus dan dapat
(p-value = 0,000) diikuti dukungan mendalami agama.
keluarga (p-value = 0,000),
pengetahuan keluarga (p-value = Daftar Pustaka
0,011) dan aktivitas keagamaan (p- 1. Pebrianti, S, Wijayanti, R, & Munjiati.
value = 0,022). Hubungan Tipe Pola Asuh Keluarga
dengan Kejadian Skizofrenia di Ruang
2. Variabel kepatuhan pasien minum obat Sakura RSUD Banyumas. Banyumas:
Jurnal Keperawatan Soedirman. 2009.
(p-value = 0,000) dan dukungan
2. WHO. 2012. Schizophrenia. Dibuka pada
keluarga (p-value = 0,000) adalah 18 Oktober 2012 pada website
merupakan variabel yang sangat http://www.who.int/mental_health/manag
signifikan, hal ini dimungkinkan oleh ement/schizophrenia/en/
karena peran keluarga dalam 3. Tomb, David. Buku Saku Psikiatri Edisi
pengawasan dan dukungan terhadap 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
minum obat secara teratur serta EGC. 2004.
dukungan moril yang diberikan 4. Irmansyah. 2006. Faktor Genetika Pada
keluarga untuk pasien yang terus- Skizofrenia. Dibuka pada website
menerus akan mempengaruhi proses http://www.schizophrenia.web.id tanggal
kesembuhan pasien skizofrenia yang 10 Oktober 2012
lebih baik. 5. Ryandini, Felicia Risca, Saraswati, Sri
Haryani, & Meikawati, Wulandari.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan
3. Sementara variabel pengetahuan Kekambuhan pada Pasien Skizofrenia di
keluarga (p-value = 0,011) dan Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Amino
aktivitas keagamaan (p-value = 0,022) Gondohutomo Semarang. 2006. Dibuka
juga menunjukkan hasil signifikansi pada website
yang bermakna. http://ejournal.stikestelogorejo.ac.id/index
.php/ilmukeperawatan/article/view/29 5
Saran Mei 2012
Berdasarkan hasil kesimpulan tersebut, 6. Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian
beberapa saran dan rekomendasi yang Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
dapat diajukan antara lain sebagai berikut: Rineka Cipta. 2006.

85
JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015

7. Budiarto, Eko. Biostatiska Untuk 10. Dolan, P., Canavan, J., Pinkerton, J..
Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Family Reflective Practice, London:
EGC. Jakarta. 2001. Jessica Kingsley Publisher. 2006
8. Wardana, Putu Agus Kresna. Hubungan 11. Annisah, Muflih Jihad. Doa sebagai
Pengetahuan dan Sikap Keluarga tentang Terapi Perubahan Perilaku pada
Skizofrenia dengan Kekambuhan Pasien Penderita Skizofrenia. Malang: Fakultas
Skizofrenia di Unit Rawat Jalan RS Jiwa Psikologi Universitas Islam Negeri
Pusat dr. Soeharto Herdian Jakarta. Maulana Malik Ibrahim. 2009
Skripsi. Jakarta: Universitas 12. WHO. 2013. Development of health
Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. impact assessment in Thailand. Diambil
2009. pada tanggal 24 Maret 2013 di
9. Saputra, Nanda. Hubungan Dukungan http://www.who.int/bulletin/volumes/81/6
Keluarga dengan Kekambuhan Pasien /en/phoolcharoen.pdf
Skizofrenia di Poliklinik Rumah Sakit 13. Subandi, MA. Integrasi Psikoterapi
Jiwa Daerah Propinsi Sumatera Utara Dalam Dunia Medis. Yogyakarta:
Medan. Skripsi. Medan: Universitas Fakultas Psioklogi Universitas Gadjah
Sumatera Utara. 2010. Mada. 2003.

86