Anda di halaman 1dari 6

1

ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN KELUARGA MERAWAT KLIEN


ISOLASI SOSIAL DENGAN KEMAMPUAN KLIEN BERSOSIALISASI
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NANGKAAN
KABUPATEN BONDOWOSO JAWA TIMUR

(THE RELATIONSHIP BETWEEN FAMILY KNOWLEDGE AND THE CLIENT


SOCIALIZATION ABILITY IN THE CITIZEN OF NANGKAAN SUB DISTRIC
BONDOWOSO EAST JAVA)

Komarudin1*), Achir Yani S. Hamid2), Mustikasari3)

1)
Staf Pengajar Program Studi Ilmu Keperawatan FIKES Universitas Muhammadiyah Jember
Jl. Karimata 49 (Lantai IV) Jember 68121
2,3)
Staf Pengajar Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
*)
e-mail: komarudincahyo@yahoo.co.id

ABSTRAK
Gangguan jiwa, khususnya psikosis (skizofrenia) biasanya didapatkan pada kondisi kronis yang
menimbulkan konsekuensi kemunduran kemampuan dari aktivitas harian dan hubungan sosial (isolasi
sosial). Isolasi sosial merupakan percobaan untuk menghindari interaksi atau hubungan dengan orang
lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan keluarga dalam merawat
klien isolasi sosial dengan kemampuan klien bersosialisasi. Desain yang digunakan adalah descriptive
correlational dengan rancangan cross sectional. Cara pengambilan sample adalah total sampling
dengan sample sebanyak 78 keluarga, dengan kriteria inklusi warga desa di wilayah kerja Puskesmas
Nangkaan Bondowoso dan bersedia menjadi responden, mempunyai anggota keluarga gangguan jiwa
dengan isolasi sosial, dan umur antara 18-60 tahun, dan pendidikan minimal SD. Hasil uji statistik
didapatkan adanya hubungan yang signifikan antara kemampuan klien bersosialisasi dengan
pengetahuan keluarga merawat klien gangguan jiwa dengan isolasi sosial (p < 0,05). Hasil penelitian
dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan peningkatan pengetahuan perawat tentang gangguan jiwa
dan psikoedukasi pada keluarga klien melalui pelatihan atau diskusi kasus mengenai penanganan klien
isolasi sosial di tempat kerjanya.
Kata kunci: isolasi sosial, kemampuan klien, dan pengetahuan keluarga

ABSTRACT
Mental disorder, especially a psychotic (schizophrenia) is chronic condition that the clients have
deterioration on their daily activity and social relationship (social isolation). The clients try to keep
away from other interaction. This research aim was to identify the relationship between family
2

knowledge and the client socialization ability. The design was a descriptive correlation with cross
sectional. The samples were 78 families determined by total sampling. The inclusion criteria were the
citizen of Nangkaan sub distric, and accord as a respondent, having mental health disorders family
member with social isolation, age between 18-60 years, and educational background at least
Elementary School. The result shown that a significant relationship between family knowledge with
the client socialization ability (value p < 0,05). Based on the result, it is recommended that the
community nurse knowledge about social isolation client and family psycho education should be
improved.
Keywords: social isolation, client ability, and family knowledge

LATAR BELAKANG
Gangguan jiwa, khususnya psikosis (skizofrenia) biasanya didapatkan pada kondisi kronis
yang menimbulkan konsekuensi kemunduran kemampuan dari aktivitas harian dan hubungan sosial
(isolasi sosial). Isolasi sosial merupakan percobaan untuk menghindari interaksi atau hubungan dengan
orang lain. Dampak sosialnya sangat serius berupa penolakan, pengucilan, dan diskriminasi (Kompas,
2001). Hingga sekarang penanganan penderita gangguan jiwa, terutama yang mengalami masalah
isolasi sosial belum memuaskan, hal ini disebabkan ketidaktahuan (ignorance) keluarga tentang cara
merawat klien isolasi sosial (Hawari, 2001).
Gangguan jiwa merupakan penyebab utama ketidakmampuan pada kelompok usia paling
produktif, yakni antara 15-44 tahun.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pengetahuan keluarga
dalam merawat klien isolasi sosial dengan kemampuan klien bersosialisasi di wilayah kerja Puskesmas
Nangkaan Kabupaten Bondowoso Jawa Timur. Adapun tujuan khusus penelitian adalah pengetahuan
keluarga dalam merawat klien isolasi sosial, yang meliputi mengenal masalah (pengertian, tanda dan
gejala, penyebab, dampak isolasi sosial), cara mengambil keputusan, cara merawat klien dengan
isolasi sosial, memodifikasi lingkungan, dan mengenal sumber layanan kesehatan, mengidentifikasi
kemampuan klien bersosialisasi yang dipersepsi keluarga, mengidentifikasi hubungan pengetahuan
keluarga dengan kemampuan klien bersosialisasi setelah dikontrol variabel confounding di wilayah
kerja Puskesmas Nangkaan Bondowoso.

METODE
Jenis penelitian merupakan pendekatan penelitian korelasi dengan menggunakan desain atau
rancangan cross sectional.
Setelah dilakukan tehnik sampling dengan menggunakan total sampling diperoleh sejumlah
sample sebanyak 78 responden dengan karakteristik sample meliputi: 1) usia 18-60 tahun; 2)
pendidikan minimal SD; 3) mempunyai anggota keluarga dengan gangguan jiwa dengan masalah
3

isolasi sosial; 4) warga di wilayah kerja Puskesmas Nangkaan; 5) bersedia menjadi responden
penelitian, serta berperan dalam merawat klien.
Penelitian dilakukan pada 2009 bertempat di wilayah kerja Puskesmas Nangkaan Kabupaten
Bondowoso Propinsi Jawa Timur.
Partisipan sebelum dilakukan penelitian diberikan informed consent dan penelitian ini telah
menerapkan prinsip etik (otonomi, privacy, anonymity, confidentiality, beneficience, maleficience,
justice, dan protection from discomfort) pada saat penelitian, serta telah lulus uji etik dari komite etik
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
Prosedur pengumpulan data primer pada penelitian menggunakan kuisioner. Instrumen ini
meliputi: 1) instrumen A berisi data untuk mengumpulkan data pengetahuan keluarga dalam merawat
klien isolasi sosial; 2) instrumen B digunakan untuk data kemampuan klien bersosialisasi. Analisis
data pada penelitian dilakukan dengan cara: 1) analisis univariat untuk mendeskripsikan tiap-tiap
variabel yang meliputi: pengetahuan keluarga, kemampuan klien (mean, median, dan standar
deviation). Hasil uji validitas dan reliabilitas pada kuesioner pengetahuan keluarga didapatkan 16 soal
valid dari 20 soal yang diujikan dengan nilai r hitung antara 0,42 sampai dengan 0,64 > r tabel (0,36)
dan reliabilitas dengan nilai r alfa = 0,88. Kemudian untuk kemampuan klien bersosialisasi
didapatkan 19 soal valid dan reliabel dari 20 soal yang diujikan dengan nilai r hitung antara 0,45
sampai dengan 0,82 dan r alfa = 0,94; 2) analisis bivariat untuk mengidentifikasi hubungan antar
variabel yaitu: pengetahuan keluarga dengan kemampuan klien dengan menggunakan uji pearson
product momment correlation.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Analisis Univariat
Pengetahuan Keluarga Dalam Merawat Klien Dengan Isolasi Sosial
Tabel 1. Distribusi rata-rata skor pengetahuan keluarga di wilayah kerja Puskesmas Nangkaan
Bondowoso tahun 2009 (n = 78)

No Variabel N Mean Median SD Min- 95% CI


Maks

1. Pengetahuan keluarga 78 25,04 24,00 3,84 17 24,17


32 25,90

Dari tabel 1 didapatkan bahwa distribusi rata-rata skor pengetahuan keluarga adalah 25,04
dengan standar deviasi 3,84.

Kemampuan Klien Dengan Isolasi Sosial Dalam Bersosialisasi


4

Tabel 2. Distribusi rata-rata kemampuan klien bersosialisasi di wilayah kerja Puskesmas Nangkaan
Bondowoso tahun 2009 (n = 78)

No Variabel N Median Min-Maks 95% CI

1. Kemampuan klien 78 33,00 22 33,97


62 38,42

Dari tabel 2 didapatkan distribusi rata-rata kemampuan klien bersosialisasi adalah 33,00
dengan nilai terendah 22 dan tertinggi 62. Data terlihat tidak berdistribusi normal, karena hasil bagi
Skewness (0,737) dengan SE (0,272) adalah 2,7 (> 2).

Hasil Analisis Bivariat


Pengetahuan Keluarga Dengan Kemampuan Klien Bersosialisasi
Pengetahuan Dan Umur Keluarga
Tabel 3. Analisis korelasi pengetahuan dan umur keluarga dengan kemampuan klien di wilayah kerja
Puskesmas Nangkaan Bondowoso tahun 2009 (n = 78)

No Variabel Kemampuan Klien


n r p value

1. Pengetahuan keluarga 78 0,376 0,001

Dari tabel 3 didapatkan bahwa hasil analisis terdapat hubungan antara pengetahuan keluarga
dengan umur keluarga (p = 0,001) dan menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan
kemampuan klien bersosialisasi.

Pembahasan
Pengetahuan Keluarga Dengan Kemampuan Klien Bersosialisasi Yang Dipersepsi Keluarga
Pengetahuan keluarga rata-rata adalah 25,04 dengan standar deviasi 3,84, hasil penelitian
diketahui ada dengan kemampuan klien bersosialisasi (p value = 0,001). Penelitian senada oleh
Nugroho (2008) diketahui tingkat pengetahuan keluarga berperan terhadap penerapan perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS). Pada uji multivariat pengetahuan keluarga tidak berhubungan dengan
kemampuan klien bersosialisasi (p value = 0,09). Artinya pengetahuan keluarga tidak menjadi satu-
satunya variabel yang memengaruhi kemampuan klien, tetapi ada variabel lain yang lebih memberikan
andil yaitu tingkat pendidikan dan hubungan keluarga.
5

Kemampuan Klien Bersosialisasi Yang Dipersepsi Keluarga


Skor kemampuan klien dalam hal bersosialisasi, nilai median = 33,00 dengan nilai terendah
adalah 22 dan tertinggi adalah 62. Pengetahuan keluarga dalam merawat anggota keluarganya yang
mengalami isolasi sosial menurut konsep Orem merupakan bagian dari self care agency atau self care
abilities, yaitu kemampuan manusia menerapkan kapasitas self care. Kemampuan ini dipengaruhi oleh
karakteristik individu dalam keluarga kondisi seperti: umur, status perkembangan, pengalaman, sosio-
budaya, kesehatan, dan terdapatnya sumber pendukung (George, 1990).

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah bahwa ada hubungan pengetahuan keluarga dengan
kemampuan klien bersosialisasi. Artinya semakin tinggi atau baik pengetahuan keluarga tentang cara
merawat klien gangguan jiwa dengan isolasi sosial semakin meningkatkan kemampuan klien
bersosialisasi.
Saran yang dapat direkomendasikan yaitu: 1) pada petugas kesehatan khususnya dinas
kesehatan untuk melakukan evaluasi program penyuluhan kesehatan jiwa masyarakat melalui program
monitoring dan evaluasi di puskesmas, puskesmas dapat meningkatkan kemampuan perawat melalui
pendidikan dan pelatihan berkelanjutan bidang perawatan kesehatan jiwa masyarakat (perkesmas) atau
public health nursing (PHN). Perawat dapat meningkatkan kemampuan keluarga dalam hal
pengetahuan gangguan jiwa dan psikoedukasi keluarga dengan cara memberikan pendidikan kesehatan
atau penyuluhan tentang cara merawat klien dengan isolasi sosial terhadap keluarga, memberikan
motivasi bahwa perawatan klien adalah tanggung jawab bersama tiap anggota keluarga, membentuk
kader kesehatan jiwa di wilayah kerjanya; 2) perlu diteliti lebih lanjut tentang kemampuan keluarga
yang berkaitan dengan aspek afektif dan psikomotorik dalam meningkatkan kemampuan klien
bersosialisasi, dengan instrumen yang lebih sederhana sesuai dengan kriteria inklusi pendidikan
minimal responden dan perlu dispesifikkan responden yang pernah atau belum pernah rawat inap di
rumah sakit jiwa, klien dan anggota keluarga tinggal dalam satu rumah atau keluarga.

DAFTAR PUSTAKA
Admin. 2007. Hubungan Latar Belakang Pendidikan, Usia, Dan Masa Jabatan Dengan Kemampuan
Melaksanakan Tugas. http://elearn.bpplsp-reg5.go.id. Diakses pada 26 Juni 2009.
Depsos. 2008. Peta Masalah Anak Jalanan. http://www.depsos.co.id/Balitbang/Puslitbang. Diakses
pada 26 Juni 2009.
Effendy, N. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Edisi dua. Jakarta: EGC.
Fitzpatrick, J.J., dkk. 2001. Conceptual Model Of Nursing Analysis And Application. Appleton &
Lange. Norwalk. California: Connecticut San Marino.
George, J.B. 1990. Nursing Theories The Best For Professional Nursing Practice. Third edtion.
Appleton & Lange. Norwalk: Connecticut.
6

Haber, J. 1992. Comprehensive Psychiatric Nursing. Fourth edition. St. Louis. Missouri: Mosby-Year
Book.
Hawari, D. 2001. Skizofrenia, Penanganan Secara Komprehensif. Jakarta: EGC.
Kaplan & Sadock. 1997. Sinopsis Psikatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikistri Klinis. Jilid satu. Edisi
ketujuh. Jakarta: Binarupa Aksara.
Kholifah, S.N. 2008. Analisis Hubungan Karakteristik Keluarga Dan Karakteristik Usia Lanjut
Dengan Kemampuan Keluarga Merawat Usia Lanjut Di Wilayah Kecamatan Candi kabupaten
Sidoarjo-Jatim. Thesis. http://www.digilib.ui.ac.id. Diakses pada 26 Juni 2009.
Kompas. 2001. http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/. Diakses pada 14 Maret 2009.
Linn & Hyde. 1989. Gender Dan Kesehatan Jiwa. Kompas. 2006. http://64.203.71.11/kesehatan/news.
Diakses pada 21 Juni 2009.
Marsudi, H. 2009. Memilih Kamar Rawat Inap. http://www.sties.ac.id. Diakses pada 26 Juni 2009.
Nugroho. 2008. Hubungan Tingkat Pengetahuan Kepala Keluarga Dengan Strata PHBS Pada Tatanan
Institusi Keluarga Di Wilayah Kerja Puskesmas Tawangmangu Kabupaten karanganyar:
stikes_smart@ymail.com. Diakses pada 26 Juni 2009.
Safwani, M. 2008. Analisis Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Beban Keluarga Dalam Merawat Klien
Menarik Diri. Tesis. Tidak dipublikasikan.
Siswono. 2001. Sangat Besar Beban Akibat Gangguan Jiwa. http//www.kompas.com. Diakses pada 26
Juni 2009.