Anda di halaman 1dari 8

Quasi Experimental Designs

Definisi
Quasi experiments disebut juga dengan eksperimen pura-pura. Bentuk desain ini
merupakan pengembangan dari true experimental design yang sulit
dilaksanakan. Desain ini mempunyai variabel kontrol tetapi tidak digunakan
sepenuhnya untuk mengontrol variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan
eksperimen. Desain digunakan jika peneliti dapat melakukan kontrol atas
berbagai variabel yang berpengaruh, tetapi tidak cukup untuk melakukan
eksperimen yang sesungguhnya. Dalam eksperimen ini, jika menggunakan
random tidak diperhatikan aspek kesetaraan maupun grup kontrol.
Tujuan
Tujuan penelitian experimen semu adalah untuk memperkirakan kondisi
eksperimen murni dalam keadaan tidak memungkinkan untuk mengontrol dan
atau memanipulasi semua variabel yang relevan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok
kontrol disamping kelompok eksperimen, namun pemilahan kedua kelompok
tersebut tidak dengan teknik random. Penelitian eksperimental semu bertujuan
untuk menjelaskan hubungan-hubungan, mengklarifikasi penyebab terjadinya
suatu peristiwa, atau keduanya. Desain penelitian quasi eksperimen sering
digunakan pada penelitian lapangan.
Langkah-Langkah Quasi Eksperimen
Berikut adalah langkah-langkah eksperimen quasi :
1. Melakukan tinjauan literature, terutama yang berhubungan dengan
masalah yang akan di teliti.
2. Mengidentifikasi dan membatasi masalah penelitian
3. Merumuskan hipotesis-hipotesis penelitian
4. Menyusun rencana eksperimen, yang biasanya mencakup
5. Melakukan pengumpalan data tahap pertama
6. Melakukan pengumpalan data tahap pertama (pretest)
7. Melakukan eksperimen
8. Mengumpulkan data tahap kedua (posttest)
9. Mengolah dan menganalisis data.
10. Menyusun laporan
Pengertian
Penelitian eksperimen atau percobaan (experiment research) adalah kegiatan
percobaan (experiment), yang bertujuan untuk mengetahui suatu gejala atau
pengaruh yang timbul, sebagai akibat dari adanya perlakuan tertentu. Contoh
khusus dari penelitian eksperimen adalah adanya perlakuan tertentu. Ciri khusus
dari penelitian eksperimen adalah adanya percobaan atau trial. Percobaan ini
berupa perlakuan atau intervensi terhadap suatu variabel. Dari perlakuan
tersebut diharapkan terjadi perubahan atau pengaruh terhadap variabel yang
lain.
Peneliti juga akan memilih salah satu pendekatan yang dipandang paling cocok,
yaitu yang sesuai dengan masalah yang akan dipecahkan (efektivitas).
Pertimbangan lainnya adalah masalah efisiensi, yaitu dengan memperhatikan
keterbatasan dana, tenaga, waktu, dan kemampuan. Sehingga, pedekatan
penelitian yang baik adalah yang efisien, valid, dan reliabel agar data tersebut
dapat digunakan untuk memecahkan masalah.
Berdasarkan pemaparan tersebut, maka kelompok kami akan membahas
mengenai matei tentang Quasi Eksperimen.
Contoh
Bentuk penelitian ini banyak digunakan dibidang ilmu pendidikan atau
penelitian lain dengan subjek yang diteliti adalah manusia, dimana mereka tidak
boleh dibedakan antara satu dengan yang lain seperti mendapat perlakuan
karena berstatus sebagai grup control. Pada penelitian kuasi eksperimen peneliti
dapat membagi grup yang ada dengan tanpa memmbedakan antara control dan
grup secara nyata dengan tetap mengacu pada bentuk alami yang sudah ada.
Desain ini tidak mempunyai pembatasan yang ketat terhadap randomisasi, dan
pada saat yang sama dapat mengontrol ancaman-ancaman validitas.
Misalnya pada beberapa penelitian dalam bidang pendidikan khususnya dalam
pembelajaran, peneliti memerlukan kelas ekpseriman dan kelas kontrol, tetapi
tidak memungkinkan diadakannya pengambilan sujek penelitian secara acak dari
populasi yang ada karena subjek (siswa) secara alamiah telah terbentuk dalam
satu kelompok (satu kelas). Karena itu desain ini tidak akan mengambil subjek
secara acak dari populasi tetapi tetap menggunakan seluruh subjek dalam
kelompok yang utuh (intatct group) untuk diberi perlakuan (treatment).
Pretest an postest experimental group design
Syarat-syarat Penelitian Eksperimen
Sebuah penelitian dapat berjalan baik dan memberikan hasil yang akurat jika
dilaksanakan dengan mengikuti kaidah tertentu. Seperti halnya dengan
penelitian eksperimen, akan memberikan hasil yang valid jika dilaksanakan
dengan mengikuti syarat-syarat yang ada. Berkaitan dengan hel tersebut,
Wilhelm Wundt dalam Alsa (2004) mengemukakan syarat-syarat yang harus
dipenuhi oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian eksperimental, yaitu:
(1) peneliti harus dapat menentukan secara sengaja kapan dan di mana ia akan
melakukan penelitian;
(2) penelitian terhadap hal yang sama harus dapat diulang dalam kondisi yang
sama;
(3) peneliti harus dapat memanipulasi (mengubah, mengontrol) variabel yang
diteliti sesuai dengan yang dikehendakinya;
(4) diperlukan kelompok pembanding (control group) selain kelompok yang diberi
perlakukan (experimental group).
True Experiment dan Quasi Experiment
Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk
mengetahui ada tidaknya akibat dari sesuatu yang dikenakan pada subjek
selidik. Dengan kata lain penelitian eksperimen mencoba meneliti ada tidaknya
hubungan sebab akibat. Caranya adalah dengan membandingkan satu atau lebih
kelompok eksperimen yang diberi perlakuan dengan satu atau lebih kelompok
pembanding yang tidak menerima perlakuan.
Secara umum di dalam pembicaraan penelitian dikenal adanya dua penelitian
eksperimen yaitu: eksperimen betul (true experiment) dan eksperimen tidak
betul-betul tetapi hanya mirip eksperimen. Itulah sebabnya maka penelitian
yang kedua ini dikenal sebagai penelitian pura-pura atau quasi experiment.
Sebagai ciri-ciri untuk penelitian eksperimen yang dikatakan sebagai eksperimen
betul adalah hal-hal yang disebutkan apabila persyaratan-persyaratan seperti
yang dikehendaki dapat terwujud.

Adapun persyaratan dikehendaki adalah sebagai berikut:


Kondisi-kondisi yang ada di sekitar atau yang diperkirakan mempengaruhi subjek
yang digunakan untuk eksperimen seyogianya disingkirkan, sehingga apabila
perlakuan selesai dan ternyata ada perbedaan antara hasil pada kelompok
eksperimen dengan kelompok pembanding maka perbedaan hasil ini merupakan
akibat dari adanya perlakuan.
Terdapat kelompok yang tidak diberi perlakuan yang difungsikan sebagai
pembanding bagi kelompok yang diberi perlakuan. Pada akhir eksperimen, hasil
pada kedua kelompok dibandingkan. Perbedaan hasil akan merupakan efek dari
pemberian perlakuan pada kelompok eksperimen.
Sebelum dilaksanakan eksperimen dilakukan kondisi kedua kelompok diusahakan
sama sehingga paparan tentang hasil akhir dapat betul-betul merupakan hasil
ada dan tidaknya perlakuan.
Apabila penelitian eksperimen dilakukan terhadap orang, diharapkan bahwa
anggota kelompok eksperimen maupun kelompok pembanding tidak
terpengaruh akan status mereka sehingga hasil eksperimen tidak terkena -
Hawthorne effectl dan atau John Henry effect.
Catatan:
Hawthorne effect:
Adalah efek sampingan yang disebabkan karena anggota kelompok eksperimen
mengetahui statusnya sehingga hasil akhir tidak semurni yang diharapkan.
John Henry effect:
Adalah efek sampingan yang disebabkan karena anggota kelompok pembanding
menyadari statusnya sehingga ada upaya ekstra dari mereka untuk menyamai
hasil kelompok eksperimen dan hasil akhir tidak semurni yang diharapkan.
Ahli penelitian yang banyak berbicara tentang model-model atau desain
eksperimen adalah Campbell dan Stanley. Di dalam bukunya Experimental and
Quasi-Experimental Designs for Research kedua ahli tersebut mengelompokkan
penelitian eksperimen menjadi dua yaitu: eksperimen murni dan eksperimen
pura-pura.
Dengan persyaratan penelitian eksperimen murni seperti telah disebutkan dapat
dikemukakan tiga model eksperimen sebagai berikut:
1. Model pertama
Pretest-posttest control group design dengan satu macam perlakuan. Di dalam
model ini sebelum dimulai perlakuan kedua kelompok diberi tes awal atau
pretest untuk mengukur kondisi awal (01). Selanjutnya pada kelompok
eksperimen diberi perlakuan (X) dan pada kelompok pembanding tidak diberi.
Sesudah selesai perlakuan kedua kelompok diberi tes lagi sebagai post tes (02).
Secara umum model pertama dapat diskemakan seperti berikut:
Keterangan:
E = simbol untuk kelompok eksperimen
P = simbol untuk kelompok pembanding

Dengan skema seperti tergambar dapat diketahui bahwa efektivitas perlakuan


ditunjukkan oleh perbedaan antara (01 02) pada kelompok eksperimen dengan
(02 01) pada kelompok pembanding.
2. Model kedua
Pretest posttest control group design dengan dua macam perlakuan. Model ini
merupakan perluasan dari model pertama. Jika pada model pertama perlakuan
yang dieksperimenkan, hanya satu macam sehingga hanya ada sebuah
kelompok eksperimen, pada model kedua ada dua macam perlakuan pada dua
kelompok eksperimen. Dengan model ini peneliti ingin mengecek ada tidaknya
pengaruh pretest terhadap posttest, atau dengan kata lain peneliti ingin
mengecek ada tidaknya carry-over effect dan atau practice-effect dari adanya
prestest.
Dengan menggunakan model kedua ini penelitian diharapkan dapat
menunjukkan efektivitas perlakuan dengan lebih cermat.
Skema dari model kedua adalah sebagai berikut:
3. Model ketiga: Solomon four-group design
Model ini menambahkan dua kelompok dari kelompok asli yang ada pada model
pertama. Salah satu dari kelompok-kelompok yang ada ini diberi juga perlakuan
tetapi sebelumnya tidak diberi tes awal. Harapannya adalah hasil pengukuran
akhir tidak dipengaruhi oleh tes awal. Dengan kata lain dengan model ini peneliti
ingin mengecek pengaruh prestest terhadap posttest dengan meniadakan
prestest pada salah satu kelompok.
Skema model ketiga adalah sebagai berikut:
Skor yang diperoleh dari eksperimen dengan model ini dapat dianalisis untuk
menentukan efek dari semua variabel yang terkait (program, tes awal, variabel
yang diperkirakan mengganggu, dan sebagainya).
Contoh analisis:
Antara E1 dengan C1 : dapat diketahui efek perlakuan tetapi dipertanyakan.
adanya efek tes awal.
Antara E1 dengan E2 : dapat diketahui efek tes awal tetapi ada juga efek
perlakuan.
Antara C1 dengan E2 : dapat diketahui perbedaan efek tes awal dengan efek
perlakuan.
Antara C1 dengan C2 : dapat diketahui perbedaan efek tes awal dengan efek
perlakuan.
Antara E1 dengan C2 : dapat diketahui efek tes awal sekaligus perlakuan.
Antara E2 dengan C2 : dapat diketahui efek perlakuan saja.
Model-model eksperimen yang tidak murni antara lain dikemukakan sebagai
berikut:
1. Model pertama: One shot case study, yaitu sebuah eksperimen yang
dilaksanakan tanpa adanya kelompok pembanding dan juga tanpa tes awal.
Skema dari model ini adalah sebagai berikut:

Dengan model ini peneliti tujuannya sederhana yaitu ingin mengetahui efek dari
perlakuan yang diberikan pada kelompok tanpa mengindahkan pengaruh faktor
lain.
2. Model kedua: One group pretest posttest design yaitu eksperimen yang
dilaksanakan pada satu kelompok saja tanpa kelompok pembanding. Model ini
lebih sempuma jika dibandingkan dengan model pertama karena sudah
menggunakan tes awal sehingga besarnya efek dari eksperimen dapat diketahui
dengan pasti.
Skema model kedua adalah:
3. Model ketiga: Posttest only control group design Model ini sama dengan dua
baris terakhir dari model Solomon. Penggunaan model ini didasari asumsi bahwa
kelompok eksperimen dan kelompok pembanding yang diambil melalui undian
sudah betul-betul ekuivalen.

Validitas Internal
Validitas internal adalah sejauh mana hasil sebuah studi penelitian klinis tidak
bias. Beberapa karakteristik penelitian mempengaruhi validitas internal.Validitas
internal ini adalah tingkatan dimana hasil-hasil penelitian dapat dipercaya
kebenarannya atau berkenaan dengan derajat akurasi antardesain penelitian
dan hasil yang dicapai.. Validitas internal merupakan hal yang esensial yang
harus dipenuhi jika peneliti menginginkan hasil studinya bermakna.Validitas
internal mengacu pada kemampuan desain penelitian untuk menyingkirkan atau
membuat masuk akal penjelasan alternatif hasil, atau masuk akal dugaan
sementara (Campbell, 1957; Kazdin, 2003c).
Ada banyak faktor yang mempengaruhi masing-masing validitas. Berikut ini akan
di bahas faktor-faktor yang mempengaruhi validitas internal :
1. Sejarah (History)
Peristiwa yang terjadi pada waktu yang lalu yang kadang-kadang dapat
berpengaruh terhadap variabel keluaran (variabel terikat). Oleh karena itu
terjadinya perubahan variabel terikat, kemungkinan bukan sepenuhnya
disebabkan karena perlakuan atau eksperimen, tetapi juga dipengaruhi oleh
faktor sejarah atau pengalaman subjek penelitian terhadap masalah yang
dicobakan, atau masalah-masalah lain yang berhubungan dengan eksperimen
tersebut.
2. Kematangan (Maturitas)
Manusia, binatang, atau benda-benda lainnya sebagai subjek penelitian selalu
mengalami perubahan. Pada manusia perubahan berkaitan dengan proses
kematangan atau maturitas, baik secara biologis maupun psikologis. Dengan
bertambahnya kematangan pada subjek ini akan berpengaruh terhadap variabel
terikat. Dengan demikian, maka perubahan yang terjadi pada variabel terikat
bukan saja karena adanya eksperimen, tetapi juga disebabkan karena proses
kematangan pada subjek yang mendapatkan perlakuan atau eksperimen.
3. Seleksi (Selection)
Dalam memilih anggota kelompok eksperimen dan kelompok kontrol bisa terjadi
perbedaan ciri-ciri atau sifat-sifat anggota kelompok satu dengan kelompok yang
lainnya. Misalnya anggota-anggota kelompok eksperimen lebih tinggi
pendidikannya dibandingkan dengan anggota-anggota kelompok kontrol,
sehingga sebelum diadakan perlakuan sudah terjadi pengaruh yang berbeda
terhadap kedua kelompok tersebut. Setelah adanya perlakuan pada kelompok
eksperimen, maka besarnya perubahan variabel terikat yang terjadi mendapat
gangguan dari variabel pendidikan tersebut. Dengan kata lain, perubahan yang
terjadi pada variabel terikat bukan saja karena pengaruh perlakuan, tetapi juga
karena pengaruh pendidikan.
4. Prosedur Tes (Testing)
Pengalaman pada pretes dapat mempengaruhi hasil postes, karena
kemungkinan para subjek penelitian dapat mengingat kembali jawaban-jawaban
yang salah pada waktu pretes, dan kemudian pada waktu postes subjek tersebut
dapat memperbaiki jawabannya. Oleh sebab itu, perubahan variabel terikat
tersebut bukan karena hasil eksperimen saja, tetapi juga karena pengaruh dari
pretes.
5. Instrumen (Instrumentation)
Alat ukur atau alat pengumpul data (instrumen) pada pretes biasanya digunakan
lagi pada postes. Hal ini sudah tentu akan berpengaruh terhadap hasil postes
tersebut. Dengan perkataan lain, perubahan yang terjadi pada variabel terikat,
bukan disebabkan oleh perlakuan atau eksperimen saja, tetapi juga karena
pengaruh instrumen.
6. Mortalitas (Mortality)
Pada proses dilakukan eksperimen, atau pada waktu antara pretes dan postes
sering terjadi subjek yang dropout baik karena pindah, sakit ataupun
meninggal dunia. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap hasil eksperimen.
7. Regresi ke Arah Nilai Rata-rata (Regressien Toward The Mean)
Ancaman ini terjadi karena adanya nilai-nilai ekstrem tinggi maupun ekstrem
rendah dari hasil pretes (pengukuran pertama), cenderung untuk tidak ekstrem
lagi pada pengukuran kedua (postes), namun biasanya melewati nilai rata-rata.
Perubahan yang terjadi pada variabel terikat tersebut adalah bukan perubahan
yang sebenarnya, tetapi merupakan perubahan semu. Oleh sebab itu, regresi ke
arah nilai rata-rata ini juga disebut regresi semu (regression artifact).

Untuk menjamin penelitian menghasilkan laporan yang valid, maka keseluruhan


ancaman validitas di atas harus dapat dikontrol oleh peneliti. Cara yang
dilakukan beragam, tergantung kebutuhan dan tergantung tingkat ancaman
yang muncul.
Bila ancaman-ancaman ini diabaikan, sangat dimungkinkan hasil penelitian tidak
valid dan tidak memberikan kesimpulan yang berarti.

II.2 Validitas Eksternal

Validitas eksternal berkaitan dengan generalisasi hasil penelitian studi. Dalam


semua bentuk desain penelitian, hasil dan kesimpulan penelitian ini adalah
terbatas kepada para peserta dan kondisi seperti yang didefinisikan oleh kontur
penelitian dan mengacu pada sejauh mana generalisasi hasil penelitian untuk
lain kondisi, peserta, waktu, dan tempat (Graziano & Raulin, 2004).
ikhwal penelitian yang menyangkut pertanyaan, sejauh mana hasil suatu
penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi induk (asal sampel) penelitian
diambil.
Contoh : apabila kita meneliti tingkat efektifitas suatu metode penyuluhan baru
mengenai program imunisasi dengan mengambil sampel di suatu desa dan
ternyata baik hasilnya.

Validitas eksternal itu Berkaitan dengan pertanyaan apakah fakta mengenai


treatment (IV) yang diberikan benar-benar mengakibatkan perbedaan pada DV,
atau Apakah benar-benar IV berpengaruh pada DV.

Validitas eksternal ialah tingkatan dimana hasil-hasil penelitian dapat


digeneralisasi pada populasi, latar dan hal-hal lainnya dalam kondisi yang mirip.
Hal-hal yang menjadi sumber-sumber validitas eksternal ialah:
Interaksi Testing
Efek-efek tiruan yang dibuat dengan menguji responden akan mengurangi
generalisasi pada situasi dimana tidak ada pengujian pada responden.
Interaksi Seleksi
Efek dimana tipe-tipe responden yang mempengaruhi hasil-hasil studi dapat
membatasi generalitasnya.
Interaksi Setting
Efek tiruan yang dibuat dengan menggunakan latar tertentu dalam penelitian
tidak dapat direplikasi dalam situasi-situasi lainnya.

Validitas eksternal berkenaan dengan derajat akurasi, dapat atau tidaknya hasil
penelitian digeneralisasikan atau diterapkan pada populasi tempat sampel
tersebut diambil. Bila sampel penelitian representatif, instrumen penelitian valid
dan reliabel, cara mengumpulkan dan menganalisis data benar, penelitian akan
memiliki validitas eksternal yang tinggi.