Anda di halaman 1dari 9

Pendahuluan

PT Allegrindo terletak dikaki gunung Simarjarunjung desa Urung Panei, Kec. Purba,
Kab. Simalungun, Sumatera Utara. Perusahaan ini menjalankan usaha yang bergerak dibidang
peternakan babi. Pada tahun 1980-an, peternakan ini didirikan dan dikelola oleh pemerintah
tetapi karena pengelolaan kurang atau tidak optimal, sehingga pemerintah mengalami kerugian.
Kemudian pihak swasta mengambil alih aset perusahaan dari pemerintah pada 20 April 1989
yang disebut sebagai peternakan babi terbesar di Asia Tenggara. Adapun nama lengkap dari
perusahaan ini adalah PT Allegrindo Nusantara. Peternakan ini dikelola diatas areal seluas
40.000 Ha. Peternakan tersebut tidak sekedar memproses penggemukan 25.000 ekor ternak tetapi
juga memproduksi ternak setiap hari minimal 300 ekor seberat 90 Kg/ekor. Selama mengalami
proses pengemukan 6 bulan, kemudian dipasok kepasar lokal di Propinsi Sumatera Utara. Untuk
areal peternakan seluas 40.000 Ha tersebut kapasitas ternak yang di izinkan hanya 50.000 ekor
ternak. (Sumber: Data-Data Perternakan PT Allegrindo, 2015).
PT Allegrindo mempekerjakan 280 orang karyawan yang terdiri dari pegawai
administrasi, satpam, dan buruh harian. Karyawan tersebut berasal dari daerah atau masyarakat
sekitar peternakan yaitu desa Urung Panei dan dari luar daerah seperti dari Kecamatan Dolok
Pardamean. Bahan baku pakan ternak seperti jagung, bukil kacang kedelai, dedak padi, dan
mineral. Bahan baku pakan ternak seperti jagung akan diperoleh dari pedagang yang ada di
daerah tersebut, yang terlebih dahulu dilakukan proses pengelolaan oleh pihak perusahaan.
PT Allegrindo di Desa Urung Panei yang awalnya sempat diprotes warga sekitar namun,
sekarang warga telah bisa menerima kehadirannya setelah peternakan tersebut dilengkapi
Instalasi Penjernihan Air Limbah (IPAL), sehingga air limbah sudah aman dari berbagai bakteri.
Namun banyak pihak yang menganggap bahwa usaha pengolahan limbah oleh PT Allegrindo
masih belum maksimal walaupun perusahaan tersebut telah melakukan berbagai metode
pengolahan limbah. Berdasarkan berbagai sumber, dikatakan bahwa perusahaan saat ini masih
bermasalah dalam hal pengolahan limbah. Beberapa pihak bahkan melaporkan masalah ini
kepada DPRD Simalungun dan menyarankan agar perusahaan ditutup. Dengan kondisi
perusahaan tersebut apabila perusahaan tidak mengambil langkah perbaikan, dikhawatirkan ke
depannya perusahaan ditutup oleh pihak pemerintah.
Permasalahan yang Diangkat
1. Konflik antara PT Allegrindo dengan masyarakat sekitar
Pada Juli 2012, masyarakat yang tinggal di sekitar PT Allegrindo yaitu penduduk Desa
Salbe dan Desa Urung Panei, melakukan demonstrasi ke kantor DPRD Simalungun.
Mereka menyampaikan keluhan mengenai limbah yang dihasilkan dari PT. Allegrindo.
Limbah kotoran ternak dari PT Allegrindo tersebut menyebabkan tercemarnya lahan
pertanian mereka yang terletak di bawah lokasi perusahaan. Menurut masyarakat, limbah
ini mengakibatkan timbulnya bibit penyakit akibat pencemaran udara. Masyarakat
mengatakan bahwa sejak adanya PT Allegrindo di daerah mereka, populasi lalat dan
nyamuk semakin banyak dan pemukiman mereka menjadi bau. Masyarakat juga
melaporkan bahwa perusahaan membuang limbah dan bangkai ternak ke Danau Toba.
Padahal Danau Toba merupakan destinasi wisata yang harus dipelihara
Masyarakat juga mengatakan perusahaan melanggar UU No 40 tahun 2005 tentang CSR
dimana PT Allegrindo tidak memberikan kontribusi terhadap warga sekitar, padahal
menurut undang-undang tersebut, setiap perusahaan wajib memberikan 1% keuntungan
perusahaan kepada masyarakat sekitar.
2. Konflik antara PT. Allegrindo dengan karyawan perusahaan
Pada tahun yang sama, karyawan PT Allegrindo melakukan demonstrasi kepada pihak PT
Allegrindo. Menurut karyawan, perusahaan melanggar UU No 13 tahun 2003 tentang
ketenagakerjaan mengenai perlindungan upah, syarat-syarat kerja dan jam masuk kerja
pada hari Minggu. Karyawan mengatakan bahwa selama ini pekerja tidak diberi masker,
sarung tangan dan kelengkapan lain. Karyawan juga mengeluhkan bahwa mereka tetap
diwajibkan bekerja pada hari libur tanpa adanya insentif tambahan.

Pembahasan
Penyelesaian masalah dapat dilakukan melalui negosiasi antara pihak-pihak yang terlibat konflik
guna mencapai tujuan. Menurut Pruitt (1981) negosiasi adalah bentuk pengambilan keputusan di
mana dua pihak atau lebih berbicara satu sama lain dalam upaya untuk menyelesaikan
kepentingan perdebatan mereka (dalam Roy J Lewicki, 2010). Negosiasi merupaka suatu proses.
Didalam bukunya Roy J. Lewicki menyebutkan ada beberapa alasan kenapa negosiasi harus
terjadi, seperti berikut:

Menyetujui bagaimana cara membagi sebuah sumber yang terbatas


Menciptakan sesuatu yang baru di mana kedua belah pihak akan melakukannya dengan
cara mereka sendiri

Menyelesaikan masalah atau perselisihan antara kedua belah pihak

Hasil terbaik dari negosisi adalah win-win dan ini perlu dijadikan tujuan utama negosiasi,
ambisi yang berlebih dari salah satu pihak menyebabkan kegagalan negosiasi sehingga hasil
terburuklah yang didapat/ lose-lose. Telah dikenal 2 strategi negosiasi yang umum yaitu
negosiasi distributif dan negosiasi integratif.

Negosiasi distributif adalah tawar menawar dimana akan didapatkan hasil satu pihak
kalah dan pihak lain menang, hasil ini terjadi karena tujuan satu pihak bertentangan langsung
dengan tujuan pihak lain. Negosasi integratif merupakan negosiasi yang mencari satu
penyelsaian atau lebih yang dapat menciptakan solusi win-win atau saling menguntungkan.
Dengan konsep yang berbeda, kedua strategi ini pun memiliki ciri-ciri yang berbeda dalam
penerapannya. Negosiasi distributif terjadi katika piha-pihak yang terlibat konflik memiliki
kepentingan berlawanan sehingga motif hasil dari negosiasi ini adalah menang-kalah.
Negosiasi ini umunya fokus pada hubungan jangka pendek. Negosiasi integratif terjadi ketika
pihak-pihak yang terlibat konflik memiliki kepentingan yang cocok dan serasi sehingga hasil
dari negosiasi ini adalah motif menang-menang. Fokus dari negosiasi ini adalah hasil yang
terjadi dapat digunakan untuk jangkan panjang.

Negosiasi integratif ini merupakan tujuan ideal dari suatu negosiasi karena kedua belah pihak
mendapat keuntungan sebagai hasil dari negosiasi. Negosiasi integratif berfokus pada
kesamaan kedua belah pihak guna memebuhi kebutuhan dean kepentingan. Untuk mencapai
negosiasi integratif, pihak negosiator harus menggunakan kriteria yang objektif.

Negosiasi merupakan langkah untuk menemukan solusi dari masalah dan konflik yang ada.
Guna menghasilkan solusi yang terbaik dan mengakomodasi kebutuhan kedua belah pihak,
perlu dilakukan beberapa proses agar negosiasi berjalan efektif dan efisien.

Ada 7 langkah dalam proses negosiasi yang ideal menurut Leonard Greenhalgh yang
dijabarkan dibawah ini :
1) Persiapan, adalah fase untuk mendefinisikan tujuan dan goal. Bila dihubungkan dengan
kasus, dalam melakukan negosiasi pihak PT Allegrindo dan pihak masyarakat dan karyawan
harus mendefinisikan tujuan dan goal dari negosiasi. Tujuan dari negosiasi ini adalah
pengolahan limbah dan pemenuhan kewajiban CSR oleh pihak PT Allegrindo terhadap
masyarakat sekitar.

2) Relationship building, adalah fase untuk memetakan pihak-pihak yang terlibat, mencari
tahu dan mencoba mengerti perbedaan yang muncul, menjalin kerjasama, dan membangun
komitmen.

3) Information gathering, adalah fase untuk mengumpulkan informasi, mempelajari apa yang
dibutuhkan oleh pihak lawan negosiasi, dan memperkirakan apa yang terjadi jika hal tersebut
gagal dipenuhi.

4) Information using, adalah fase dimana informasi yang telah diperoleh pada tahap
sebelumnya digunakan.

5) Bidding, adalah fase dimana setiap pihak mengutarakan tawarannya untuk membuka
negosiasi.

6) Closing the deal, adalah fase dimana komitmen untuk mencapai sebuah kesepakatan mulai
diperkuat berdasarkan fase-fase sebelumnya.

7) Implementing the agreement, adalah fase lebih lanjut ketika kesepakatan telah dibuat.
Dalam fase ini dibahas mengenai implementasi dari kesepakatan lebih detail, tentang siapa
harus melakukan apa dan sebagainya.

1. Pemecahan masalah
Pilihan solusi pemecahan masalah dapat dirumuskan dengan berorientasi pada hasil yagn akan
dituju dari negosiasi yang dilakukan. Dengan strategi negosiasi distribusi, alternatif pertama
pemecahan masalah yang diusulkan dari konfik yang timbul antara PT Allegrindo dan
masyarakat terkait masalah limbah ternak yang mengganggu masyarakat adalah PT Allegrindo
mengabulkan permintaan masyarakat untuk melakukan pengolahan limbah ternak guna
meminimalkan dan menghilangkan dampak lingkungan yang timbul akibat limbah ternak yang
mengganggu masyarakat sekitar. Pengolahan limbah sepenuhnya menjadi tangguung jawab PT
Allegrindo. Beberapa langkah yang diusulkan untuk dapat diambil PT Allegrindo dalam
pengolahan limbah ternak adalah dengan membangun pengolahan limbah di lokasi peternakan
yang telah ditinjau oleh Dewan Komisi DPRD. Saluran limbah dari PT Allegrindo diberi tembok
dan dilakukan penyaringan limbah 5 kali proses penyaringan.

Alternatif pemecahan masalah yang diusulkan dari konfik yang timbul antara PT Allegrindo dan
masyarakat terkait kewajiban CSR perusahaan kepada masyarakat adalah dengan pemenuhan
kewajiban CSR perusahaan kepada masyarakat sesuai dengan undang-undang. Mengingat bahwa
CSR bersifat wajib dan tertera dalam Undang-Undang No 40 rahun 2005 tentang CSR yang
berbunyi setiap perusahaan wajib memberikan 1% keuntungan perusahaan kepada masyarakat
sekitar. Mengenai jumlah biaya yang dikeluarkan guna memenuhi kewajiban CSR disesuaikan
dengan keuntungan perusahaan. Untuk memenuhi kewajiban tersebut, diusulkan perusahaan
memberikan subsidi kepada masyarakat. Subsidi yang diberikan kepada masyarakat dapat berupa
subsidi kesehatan dimana perusahaan menyuplai obat-obatan ke puskesmas terdekat. Obat yang
diberikan disesuaikan dengan musim penyakit lingkungan masyarakat. Masyarakat yang berobat
dengan penyakit ringan digratiskan. Selain itu perusahaan juga dapat memberikan subsidi
pertanian berupa pemberian pupuk kompos pada masyarakat secara gratis. Subsidi dalam bidang
pendidikan dilakukan dengan memberikan beasiswa kepada siswa yang berprestasi. PT
Allegrindo juga dapat berkontribusi dalam bidang pendidikan dengan memberikan tambahan
tenaga pendidik dan infrastruktur sekolah, dimana gaji dari tenaga pendidik tambahan itu
menjadi tanggung jawab PT Allegrindo. Perusahaan juga dapat membantu masyarakat membuka
jalan dengan meminjamkan alat berat secara gratis.
Dengan strategi negosiasi distribusi, alternatif solusi pemecahan masalah yang diusulkan dari
konfik yang timbul antara PT Allegrindo dan karyawan terkait alat perlindungan diri karyawan
adalah dengan memberikan alat-alat perlindungan diri kepada karyawan berupa masker, sarung
tangan, sepatu boot dan alat perlindungan diri lainnya.Semua biaya yang dikeluarkan dari
pengadaan APD ini sepenuhnya seharusnya ditanggung oleh pihak perusahaan karena keamanan
karyawan di lokasi perusahaan merupakan tanggung jwab perusahaan.
Dengan strategi negosiasi distribusi, alternatif solusi pemecahan masalah yang diusulkan dari
konfik yang timbul antara PT Allegrindo dan karyawan terkait jam kerja dan perlingungan upah
adalah dengan penetapan jam kerja dan upah yang sesuai dengan undang-undang. Undang-
undang yang dapat menjadi rujukan dalam menentukan upah pekerja dan jam kerja karyawan
adalah UU No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, khushsnua pasal 66 poin 2c tentang
perlindungan upah dan syarat-sayarat kerja. Jam kerja yang ditentukan oleh undang-undang
adalah 40 jam dalam seminggu, apabila melebihi 40 jam dalam seminggu maka diberikan uang
lembur. Bagi karyawan yang bekerja di hari libur, maka perusahaan disarankan untuk
memberikan upah tambahan yang jumlahnya sesuai kesepakatan.
2. Alternatif Pemecahan Masalah
alternatif solusi pemecahan masalah dapat pula dirumuskan dengan strategi negosiasi
integratif, dimana solusi pemecahan masalah yang diusulkan dari konfik yang timbul
antara PT Allegrindo dan masyarakat terkait masalah limbah ternak yang mengganggu
masyarakat adalah PT Allegrindo dan masyarakat sekitar bersama-sama melakukan
pengolahan limbah. Pengolahan limbah tidak hanya menajdi tanggung jawab PT
Allegrindo, tetapi juga menjadi tanggung jawab masyarakat sekitar. Perusahaan dapat
membangun instlasi pengolaha limbah, dan masyarakat dapat turut serta dalam
pengolahan limbah, misalnya dengan mengolah limbah kotoran babi menjadi pupuk. Dari
alternatif pemecahan masalah ini, tanggung jawab pengolahan limbah tidak hanya
terletak di tangan PT Allegrindo tetapi jugan menjadi tanggung jawab masyarakat.
Dengan strategi negosiasi integratif, solusi pemecahan masalah yang diusulkan dari
konfik yang timbul antara PT Allegrindo dan karyawan terkait alat perlindungan diri
karyawan adalah dengan perusahaan menyediakan APD yang dapat digunakan berkali-
kali, namun untuk APD yang hanya bisa digunakan sekali pakai, diharapkan disediakan
sendiri oleh karyawan. APD yang reuseable misalnya sepatu boot, apron. APD yang non
reuseable misalnya masker dan sarung tangan.

3. Pilihan pemecahan masalah


Pilihan solusi pemecahan masalah dari konfik yang timbul antara PT Allegrindo dan
masyarakat terkait masalah limbah ternak yang mengganggu masyarakat adalah hasil dari
negosiasi distributif dimana PT Allegrindo mengabulkan permintaan masyarakat untuk
melakukan pengolahan limbah ternak guna meminimalkan dan menghilangkan dampak
lingkungan yang timbul akibat limbah ternak yang mengganggu masyarakat sekitar.
Pengolahan limbah sepenuhnya menjadi tangguung jawab PT Allegrindo. Beberapa
langkah yang diusulkan untuk dapat diambil PT Allegrindo dalam pengolahan limbah
ternak adalah dengan membangun pengolahan limbah di lokasi peternakan yang telah
ditinjau oleh Dewan Komisi DPRD. Saluran limbah dari PT Allegrindo diberi tembok
dan dilakukan penyaringan limbah 5 kali proses penyaringan.
Solusi pemecahan masalah yang diusulkan dari konfik yang timbul antara PT Allegrindo
dan masyarakat terkait kewajiban CSR perusahaan kepada masyarakat adalah dengan
pemenuhan kewajiban CSR perusahaan kepada masyarakat sesuai dengan undang-
undang. Mengingat bahwa CSR bersifat wajib dan tertera dalam Undang-Undang No 40
rahun 2005 tentang CSR yang berbunyi setiap perusahaan wajib memberikan 1%
keuntungan perusahaan kepada masyarakat sekitar. Mengenai jumlah biaya yang
dikeluarkan guna memenuhi kewajiban CSR disesuaikan dengan keuntungan perusahaan.
Untuk memenuhi kewajiban tersebut, diusulkan perusahaan memberikan subsidi kepada
masyarakat. Subsidi yang diberikan kepada masyarakat dapat berupa subsidi kesehatan
dimana perusahaan menyuplai obat-obatan ke puskesmas terdekat. Obat yang diberikan
disesuaikan dengan musim penyakit lingkungan masyarakat. Masyarakat yang berobat
dengan penyakit ringan digratiskan. Selain itu perusahaan juga dapat memberikan subsidi
pertanian berupa pemberian pupuk kompos pada masyarakat secara gratis. Subsidi dalam
bidang pendidikan dilakukan dengan memberikan beasiswa kepada siswa yang
berprestasi. PT Allegrindo juga dapat berkontribusi dalam bidang pendidikan dengan
memberikan tambahan tenaga pendidik dan infrastruktur sekolah, dimana gaji dari tenaga
pendidik tambahan itu menjadi tanggung jawab PT Allegrindo. Perusahaan juga dapat
membantu masyarakat membuka jalan dengan meminjamkan alat berat secara gratis.
Dengan strategi negosiasi distribusi, solusi pemecahan masalah yang diusulkan dari
konfik yang timbul antara PT Allegrindo dan karyawan terkait alat perlindungan diri
karyawan adalah dengan memberikan alat-alat perlindungan diri kepada karyawan berupa
masker, sarung tangan, sepatu boot dan alat perlindungan diri lainnya.Semua biaya yang
dikeluarkan dari pengadaan APD ini sepenuhnya seharusnya ditanggung oleh pihak
perusahaan karena keamanan karyawan di lokasi perusahaan merupakan tanggung jwab
perusahaan.
Dengan strategi negosiasi distribusi, solusi pemecahan masalah yang diusulkan dari
konfik yang timbul antara PT Allegrindo dan karyawan terkait jam kerja dan
perlingungan upah adalah dengan penetapan jam kerja dan upah yang sesuai dengan
undang-undang. Undang-undang yang dapat menjadi rujukan dalam menentukan upah
pekerja dan jam kerja karyawan adalah UU No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan,
khushsnua pasal 66 poin 2c tentang perlindungan upah dan syarat-sayarat kerja. Jam
kerja yang ditentukan oleh undang-undang adalah 40 jam dalam seminggu, apabila
melebihi 40 jam dalam seminggu maka diberikan uang lembur. Bagi karyawan yang
bekerja di hari libur, maka perusahaan disarankan untuk memberikan upah tambahan
yang jumlahnya sesuai kesepakatan.
Penutup
Salah satu cara untuk menemukan penyelesaian konflik atau maslaah adalah dengan
melakukan negosiasi antara pihak-pihak yang terlibat konflik. Strategi negosiasi dapat
berupa negosiasi integratif atau negosiasi distributif.
PT Allegrindo bergerak dibidang peternakan babi. Pada tahun 2012, terjadi konflik
anatara PT Allegrindo dengan masyarakat sekitar terkait limbah ternak dan tuntutan CSR
masyarakat kepada perusahaan. Perusahaan juga terlibat konflik dengan karyawan terkait
hak karyawan dalam mendapat alat perlindungan dari perusahaan, masalah terkait jam
kerja dan perlindungan upah.
Untuk penyelesaian masalah tersebut, diperlukan negosiasi kedua belah pihak. Solusi
yang disarankan dalam kasus ini adalah dibangunnya instalasi pengolahan limbah oleh
perusahaan dimana seluruh operasionalnya menjadi tanggung jawab perusahaan,
pemenuhan CSR oleh perusahaan sesuai undang dan regulasi mengenai jam kerja dan
uang lembur untuk karyawan yang masuk kerja melebihi 40 jam seminggu.
Semua negosiasi memiliki aspek distributuf dan integratif, tetapo selalu ada salah satu
aspek yang lebih dominan dalam negosiasi tersebut. Demikian pula dalam kasus ini,
negosiasi tersebut melibatkan aspek distirbutif dan integratif. Dilihat dari tujuan negosiasi
dan solusi penyelesaian masalah yang ada di PT Allegrindo secara objektif, maka saya
menyarankan solusi negosiasi distributif.