Anda di halaman 1dari 5

TUGAS EKONOMI INDUSTRI

STRATEGI PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN


INDUSTRI

OLEH :
Andi Amirudin
A11114504
ILMU EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016
A. STRATEGI PEMBANGUNAN INDUSTRI
Strategi pembangunan sektor industri, dibagi menjadi dua yaitu : strategi
pokok dan strategi operasional.
1. Strategi Pokok
Memperkuat keterkaitan pada semua tingkatan rantai nilai (value chain)
dari industri termasuk kegiatan dari industri pendukung (supporting
industries), industri terkait (related industries), industri penyedia infrastruktur,
dan industri jasa penunjang lainnya. Keterkaitan ini dikembangkan sebagai
upaya untuk membangun jaringan industri (networking) dan meningkatkan
daya saing yang mendorong inovasi ;
Meningkatkan nilai tambah sepanjang rantai nilai dengan membangun
kompetensi inti ;
Meningkatkan produktivitas, efisiensi dan jenis sumber daya yang
digunakan dalam industri, dan memfokuskan pada penggunaan sumber-
sumber daya terbarukan (green product);
Pengembangan Industri Kecil dan Menengah melalui (a) skema
pencadangan usaha serta bimbingan teknis dan manajemen serta pemberian
fasilitas khusus agar dapat tumbuh secara ekspansif dan andal bersaing
dibidangnya. (b) mendorong sinergi IKM dengan industri besar melalui pola
kemitraan (aliansi), dan (c) membangun lingkungan usaha IKM yang menunjang.

2. Strategi Operasional
1) Pengembangan Lingkungan Bisnis yang nyaman dan kondusif
Bekerjasama dengan instansi terkait untuk mengembangkan Prasarana dan
Sarana fisik di daerah-daerah yang prospek industrinya potensial
ditumbuhkan, antara lain jalan, jembatan, pelabuhan, jaringan tenaga listrik,
bahan bakar, jasa angkutan, pergudangan, telekomunikasi, air bersih.
Mendorong pengembangan SDM Industri, khususnya di bidang Teknik
Produksi dan Manajemen Bisnis.
Mendorong pengembangan usaha jasa prasarana & sarana bisnis penunjang
industri, antara lain Kawasan Industri, Jasa R & D, Jasa Pengujian Mutu,
Jasa Rekayasa/Rancang bangun dan Konstruksi, Jasa Inspeksi Teknis, Jasa
Audit, Jasa Konsultansi Industri, Jasa Pemeliharaan & Perbaikan, Jasa
Pengamanan/Security, Jasa Pengolahan/Pembuangan Limbah, Jasa
Kalibrasi, dan sebagainya.
Mengembangkan kebijakan sistem insentif yang efektif, edukatif, selektif, dan
atraktif.
Menyempurnakan instrumen hukum untuk pengaturan kehidupan industri
yang kondusif, yang memenuhi kriteria :
1. Lebih menjamin kepastian usaha/kepastian hukum, termasuk penegakan
hukum yang konsisten
2. Aturan-main berusaha yang jelas dan tidak menyulitkan
3. Mengurangi sekecil mungkin intervensi pemerintah terhadap pasar
4. Menghormati kebebasan usaha pelaku industri
5. Kejelasan hak dan kewajiban pelaku industri
6. Terjaminnya dan tidak terganggunya kepentingan publik, termasuk
gangguan keselamatan, kesehatan, nilai budaya dan kelestarian
lingkungan hidup.
7. Sinkronisasi kebijakan sektor terkait, seperti kebijakan bidang Investasi
dan sektor Perdagangan.
8. Aparat Pembina yang bersih, profesional, dan pro-bisnis dalam membina
dan memberikan pelayanan fasilitatif kepada dunia usaha, melalui
ketentuan administratif yang sederhana/mudah, dapat mencegah
kecurangan dan manipulasi yang merugikan negara dan masyarakat,
dengan dampak beban yang tidak memberatkan pelaku industri
(administrative compliance cost yang minimal).

2) Fokus pengembangan industri dilakukan dengan mendorong pertumbuhan


klaster industri prioritas
Penentuan industri prioritas, dilakukan melalui analisis daya saing
internasional serta pertimbangan besarnya potensi Indonesia yang dapat digunakan
dalam rangka menumbuhkan industri. Dalam jangka panjang pengembangan
industri diarahkan pada penguatan, pendalaman dan penumbuhan klaster pada
kelompok industri : 1) Industri Agro; 2) Industri Alat Angkut; 3) Industri Telematika; 4)
Basis Industri Manufaktur; dan 5) Industri Kecil dan Menengah Tertentu.
klaster-klaster industri inti, yaitu : 1) Industri makanan dan minuman; 2)
Industri pengolahan hasil laut; 3) Industri tekstil dan produk tekstil; 4) Industri alas
kaki; 5) Industri kelapa sawit; 6) Industri barang kayu (termasuk rotan dan bambu);
7) Industri karet dan barang karet; 8) Industri Pulp dan kertas; 9) Industri mesin listrik
dan peralatan listrik; dan 10) Industri petrokimia.
Pengembangan 10 klaster industri inti tersebut, secara komprehensif dan
integratif, ditunjang industri terkait (related industries) dan industri pendukung
(supporting industries).

Sasaran Pembangunan Industri Nasional adalah sebagai berikut:

1. meningkatnya pertumbuhan industri yang diharapkan dapat mencapai pertumbuhan 2


(dua) digit pada tahun 2035 sehingga kontribusiindustri dalamProduk Domestik Bruto (PDB)
mencapai 30% (tiga puluh persen);
2. meningkatnya penguasaan pasar dalam dan luar negeri dengan mengurangi
ketergantungan terhadap impor bahan baku, bahan penolong, dan barang modal, serta
meningkatkan ekspor produk industri;
3. tercapainya percepatan penyebaran dan pemerataan industri ke seluruh wilayah Indonesia;
4. meningkatnya kontribusi industri kecil terhadap pertumbuhan industri nasional;
5. meningkatnya pengembangan inovasi dan penguasaan teknologi;
6. meningkatnya penyerapan tenaga kerja yang kompeten di sektor industri; dan
7. menguatnya struktur industri dengan tumbuhnya industri hulu dan industri antara yang
berbasis sumber daya alam.

B. STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI


Dalam rangka menjamin ketersediaan sumber daya alam bagi pengembangan industri
terutama industri yang berbasis mineral tambang dan batubara, migas, serta agro, maka
pemerintah melakukan program sebagai berikut:
a. Pemanfaatansumber daya alam secara efisien, ramah lingkungan dan berkelanjutan
melalui penerapan tata kelola yang baik antara lain meliputi:
1. penyusunan rencana pemanfaatan sumber daya alam;
2. manajemen pengolahan sumber daya alam;
3. implementasi pemanfaatan sumber daya yang efisien paling sedikit melalui
penghematan, penggunaan teknologi yang efisien dan optimasi kinerja proses
produksi;
4. implementasi pemanfaatan sumber daya yang ramah lingkungan dan berkelanjutan
dengan prinsip pengurangan limbah (reduce), penggunaan kembali (reuse),
pengolahan kembali (recycle); danpemulihan (recovery); dan audit tata kelola
pemanfaatan sumber daya alam.

b. Pelarangan atau pembatasan ekspor sumber daya alam


Pelarangan atau pembatasan ekspor sumber daya alam ditujukan untuk memenuhi
rencana pemanfaatan dan kebutuhan perusahaan industri dan perusahaan kawasan
industri, antara lain meliputi:
1. penetapan bea keluar;
2. penetapan kuota ekspor;
3. penetapan kewajiban pasokan dalam negeri;dan
4. penetapan batasan minimal kandungan sumber daya alam.

c. Jaminan Penyediaan dan Penyaluran Sumber Daya Alam


Jaminan penyediaan dan penyaluran sumber daya alam diutamakan untuk mendukung
pemenuhan kebutuhan bahan baku, bahan penolong dan energi serta air baku industri
dalam negeri yang mencakup:
1. penyusunan rencana penyediaan dan penyaluran sumber daya alam berupa paling
sedikit neraca ketersediaan sumber daya alam;
2. penyusunan rekomendasi dalam rangka penetapan jaminan penyediaan dan
penyaluran sumber daya alam;
3. pemetaan jumlah, jenis, dan spesifikasi sumber daya alam, serta lokasi cadangan
sumber daya alam;
4. pengembangan industri berbasis sumber daya alam secara
terpadu;
5. diversifikasi pemanfaatan sumber daya alam secara efisien dan
ramah lingkungan di perusahaan industri dan perusahaan kawasan
industri;
6. pengembangan potensi sumber daya alam secara optimal dan
mempunyai efek berganda terhadap perekonomian suatu wilayah;
7. pengembangan pemanfaatan sumber daya alam melalui penelitian
dan pengembangan;
8. pengembangan jaringan infrastruktur penyaluran sumber daya
alam untuk meningkatkan daya saing perusahaan industri dan
perusahaan kawasan industri;
9. fasilitasi akses kerjasama dengan negara lain dalam hal pengadaan
sumber daya alam;
10. penetapan kebijakan impor untuk sumber daya alam tertentu
dalam rangka penyediaan dan penyaluran sumber daya alam untuk
perusahaan industri dan perusahaan kawasan industri;
11. pengembangan investasi pengusahaan sumber daya alam tertentu
di luar negeri;
12. pemetaan dan penetapan wilayah penyediaan sumber daya alam
terbarukan;
13. konservasi sumber daya alam terbarukan;
14. penanganan budi daya dan pasca panen sumber daya alam
terbarukan;
15. renegosiasi kontrak eksploitasi pertambangan sumber daya alam
tertentu;
16. menerapkan kebijakan secara kontinu atas efisiensi pemanfaatan
sumber daya alam; dan
17. penerapan kebijakan diversifikasi energi untuk industri