Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi para dokter. Jenis yang
berat memperlihatkan morbiditas dan derajat cacat yang relatif tinggi dibanding dengan
cedera oleh sebab lain dan biaya yang dibutuhkan dalam penanganannya pun relatif tinggi.1

Dua pertiga luka bakar terjadi di rumah dan sering melibatkan dewasa laki-laki
muda, anak yang lebih muda dari 15 tahun, dan orang tua. Tujuh puluh lima persen dari
kematian yang berkaitan dengan luka bakar terjadi pada kebakaran rumah.2

Luka bakar dapat disebabkan oleh pajanan api secara langsung atau tak langsung,
suhu tinggi matahari, listrik, dan bahan kimia.Penyebab luka bakar pada dewasa muda
sering berkaitan dengan cairan yang mudah terbakar, sedangkan pada anak anak
penyebabnya adalah cairan panas. Faktor resiko luka bakar berkaitan dengan rendahnya
kelas sosial ekonomi dan lingkungan yang tidak aman.1,2

Berat luka bakar tergantung pada kedalaman luka, luas luka, dan daerah luka. Umur
dan keadaan kesehatan penderita juga akan mempengaruhi prognosis.1

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kulit

Kulit merupakan pelindung tubuh yang memiliki luas dan tebal yang beragam.
Luas kulit orang dewasa adalah satu setengah sampai dua meter persegi dengan
ketebalan 1,5 5 mm, tergantung dari letak, umur, jenis kelamin, suhu, dan keadaan
gizi. Kulit paling tipis di kelopak mata, penis, labium minor, dan bagian medial lengan
atas. Kulit yang tebal terletak di telapak tangan dan kaki, punggung, bahu, dan
bokong.1

Kulit memiliki dua lapisan, yaitu : 1. Epidermis yaitu lapisan pelindung paling
luar yang mengandung epitel berlapis gepeng berkeratin yang berasal dari ektoderm; 2.
dermis yaitu jaringan ikat padat yang menyusun sebagian besar ketebalan kulit dan
berasal dari mesoderm3

Organ tambahan kulit berbeda menurut tempatnya. Kelenjar sebasea paling


banyak terdapat di muka tetapi tidak ada di telapak kaki atau tangan, sementara
kelenjar keringat terdapat di seluruh tubuh. 1

Gambar 2.1 Anatomi Kulit3

2
2.2 Fisiologi Kulit

Kulit memiliki beberapa fungsi, yaitu : 1) Fungsi proteksi dengan melindungi


tubuh dari abrasi mekanis dan dalam respon imun. Kulit juga melindungi tubuh dari
dehidrasi ; 2) Regulasi temperatur dengan berperan dalam regulasi temperatur tubuh
dengan adanya vasodilatasi dan vasokonstriksi, serta penyimpanan lemak, dan aktivasi
kelenjar keringat ; 3) Kulit berperan sebagai mekanoreseptor dengan adanya korpuskel
Pacini dan Meissner, rangsangan nyeri dengan adanyan nosiseptor, dan temperature
dengan adanya termoseptor; 4) Regulasi endokrin dengan cara sekresi hormon, sitokin,
dan factor pertumbuhan, serta sintesis dan penympanan vitamin D; 5) Sekresi eksokrin
dengan mengeluarkan keringat dan sebum dari kelenjar sebasea.3

3
2.3 Definisi

Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan
radiasi. 4

2.4 Etiologi

Luka bakar dikalsifikasikan ke dalam lima kategori berdasarkan penyebabnya ,


yaitu : 1. api; 2. air panas ; 3. listrik dan petir; 4. radiasi; 5. pajanan bahan kimia; 6.
suhu sangat rendah.4

Api dan air panas menyebabkan kerusakan sel terutama dengan transfer energi
yang menyebabkan nekrosis koagulatif sedangkan bahan kimia dan listrik
menyebabkan kerusakan langsung pada membran sel ketika terjadi perpindahan panas.2

Berat ringannya luka bakar dipengaruhi oleh penyebab dan lama terjadinya
kontak dengan sumber panas. Kerusakan jaringan yang disebabkan api ;lebih berat
dibandingkan dengan air panas; kerusakan jaringan akibat bahan yang bersifat koloid
lebih berat dibandingkan air panas. Ledakan selain dapat menimbulkan luka bakar,
juga menyebabkan kerusakan organ dalam akibat daya ledak. Bahan kimia, terutama
asam dapat menyebabkan kerusakan jaringan hebat akibat reaksi jaringan sehingga
terjadi diskonfigurasi jaringan yang menyebabkan gangguan penyembuhan.4

2.5 Klasifikasi Luka Bakar

Berdasarkan American Burn Association luka bakar diklasifikasikan


berdasarkan kedalaman, luas permukaan, dan derajat ringan luka bakar.1

a. Luka bakar berdasarkan kedalaman jaringan

- Luka bakar derajat I


4
Didefinisikan sebagai luka yang terbatas pada epidermis. Luka bakar ini
nyeri, eritem, dan memucat terhadap sentuhan dengan barier epidermis yang intak.
Contohnya : terbakar matahari dan terciprat air panas. Luka bakar ini tidak
menimbulkan jaringan parut. Terapi pada luka bakar derajat satu bertujuan untuk
menyamankan dengan menggunakan larutan yang mendinginkan.5

Gambar 2.2 Luka bakar derajat 1

- Luka bakar derajat II. Dibagi menjadi dua, superfisial dan dalam. Terjadi
kerusakan dermis pada seluruh luka derajat dua, perbedaannya terletak pada
dalamnya kerusakan pada dermis.

Gambar 2.3 Luka Bakar Derajat 2

5
Luka bakar dermis superfisial (derajat IIA) terlihat eritem, memucat saat
disentuh, dan sering timbul bula. Contohnya adalah luka bakar akibat air panas
dan percikan api. Luka ini dapat sembuh spontan dengan reepitelisasi dari
epidermis yang tersisa pada folikel rambut dan kelenjar keringat dalam 7 sampai
14 hari. Setelah sembuh, luka bakar ini dapat meninggalkan sedikit perbedaan
warna kulit pada daerah yang terbakar.3
Luka bakar dermis dalam terlihat pucat, tidak memucat dengan sentuhan,
tetapi tetap sakit pada tusukan jarum. Luka bakar ini dapat sembuh 14 sampai
35 hari dengan reepitelisasi dari folikel rambut dan keratinosit kelenjar keringat.
Setelah sembuh luka bakar ini sering meninggalkan jaringan parut akibat
hilangnya dermis.2

- Luka bakar derajat III

Gambar 2.4 Luka Bakar Derajat 3

Luka bakar yang mengenai seluruh kedalaman kulit dengan karteristik


eskar yang keras dan kasar dan berwarna hitam, putih, atau merah seperti ceri,
tidak ada epidermis dan dermis yang tersisa.
Luka bakar dermis dalam dan luka bakar derajat tiga membutuhkan eksisi
dan cangkok kulit dari pasien untuk menyembuhkan luka secara tepat waktu.2

b. Berdasarkan luas permukaan luka bakar

6
Gambar 2.5 Wallence Rule of Nines1

Luas luka tubuh dinyatakan sebagai persentase terhadap luas permukaan


tubuh atau Total Body Surface Area (TBSA). Untuk menghitung secara cepat
dipakai Rules of Nine atau Rules of Walles dari Walles. Perhitungan cara ini hanya
dapat diterapkan pada orang dewasa, karena anak-anak mempunyai proporsi tubuh
yang berbeda. Pada anak-anak dipakai modifikasi Rule of Nines menurut Lund and
Browder, yaitu ditekankan pada umur 15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun.2

Tabel 2.1 Menentukan luas luka bakar menurut Lund dan Browder6

Area luka bakar 0-1 1-4 5-9 10-14 15 Dewasa


Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun

Kepala 19 17 13 11 9 7

Leher 2 2 2 2 2 2

Dada 13 13 13 13 13 13

Punggung 13 13 13 13 13 13

Lengan kanan atas 4 4 4 4 4 4

Lengan kiri atas 4 4 4 4 4 4

7
Lengan kanan 3 3 3 3 3 3
bawah

Lengan kiri bawah 3 3 3 3 3 3

Tangan kanan 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5

Tangan kiri 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5

Genetalia 1 1 1 1 1 1

Bokong kanan 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5

Bokong kiri 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5

Paha kanan 5,5 6,5 8 8,5 9 9,5

Paha kiri 5,5 6,5 8 8,5 9 9,5

Tungkai kanan 5 5 5,5 6 6,5 7

Tungkai kiri 5 5 5,5 6 6,5 7

Kaki kanan 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5

Kaki kiri 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5

c. Bedasarkan derajat ringan luka bakar menurut American Burn Association1 :


1) Luka Bakar Ringan
- Luka bakar derajat II < 5%
- Luka bakar derajat II 10% pada anak
- Luka bakar derajat II < 2%1
2) Luka Bakar Sedang
- Luka bakar derajat II 15-25% pada orang dewasa
- Luka bakar derajat II 10-20% pada anak-anak
- Luka bakar derajat III < 10%1
3) Luka Bakar Berat
- Luka bakar derajat II 25% atau lebih pada orang dewasa
- Luka bakar derajat II 20% atau lebih pada anak-anak

8
- Luka bakar derajat III 10% atau lebih
- Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain. 1
2.6 Patofisiologi luka bakar

Dalam perjalanan penyakitnya luka bakar dibedakan menjadi tiga fase5:


1. Fase awal/ fase akut/ fase syok :
Pada fase ini permasalahan utama adalah gangguan pada saluran nafas,
gangguan mekanisme bernafas oleh karena eskar melingkar di dada atau trauma
multipel di rongga toraks; dan gangguan sirkulasi . Gangguan yang terjadi pada
fase ini menimbulkan dampak sistemik. Gangguan airway tidak hanya dapat
terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi
obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca
trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase
akut. Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
akibat cedera termal yang berdampak sistemik
2. Fase setelah syok berakhir, fase sub akut :
Permasalahan utama pada fase ini adalah systemic inflammatory
response syndrome (SIRS) dan Multi-Organ dysfunction syndrome (MODS) dan
sepsis. Ketiganya merupakan perkembangan dari fase akut.
3. Fase lanjut :
Fase ini berlangsung sejak terjadinya penutupan luka sampai maturasi
jaringan. Permasalahan utama adalah penyulit yang terjadi pada luka bakar
seperti parut hipertrofik, kontraktur dan deformitas lain yang terjadi karena
kerapuhan jakringan atau struktur tertentu akibat proses inflamasi hebat yang
berlangsung lama, contohnya : kerapuhan tendon ekstensor pada jari-jari tangan
yang menyebabkan bouttonierre deformity.

2.7 Cedera inhalasi


Cedera inhalasi menjelaskan perubahan mukosa saluran nafas akibat adanya
paparan terhadap suatu iritan dan menimbulkan manifestasi klinik dengan gejala distres
pernafasan.

9
1. Patofisiologi
Trauma panas langsung yang disebabkan akibat menghirup udara panas
dengan suhu (150 C atau lebih tinggi) biasanya mengakibatkan luka bakar di
orofaring, wajah, dan saluran nafas bagian atas (di atas pita suara). Bahkan udara
dengan panas berlebih dengan cepat didinginkan sebelum mencapai saluran
pernafasan bawah karena efisiensi pertukaran panas luar biasa di orofaring dan
nasopharing.4
Panas dan bahan kimia dalam asap menghasilkan cedera langsung pada
4, 13,
mukosa saluran nafas, mengakibatkan edema, eritema, dan ulserasi.
14
Meskipun terjadi perubahan mukosa namun perubahan anatomis mungkin timbul
beberapa saat setelah luka bakar, perubahan fisiologis tidak akan timbul sampai
terjadinya edema yang cukup secara klinis mengganggu patensi jalan napas atas.
Ini tidak mungkin terjadi selama 12 sampai 18 jam. 4
Dalam beberapa keadaan makin diperburuk oleh keracunan carbon
moniksida (CO). Keracunan ini dapat menyebabkan rasa mual, muntah , sakit
kepala sampai gangguan mental, kejang dan kematian tergangtung dari level
karboksihemoglobin dalam darah penderita.1,2
Pemberian cairan dengan volume besar yang diperlukan untuk penanganan
luka bakar, dan perlepasan mediator dari kulit yang terbakar, sebagian bertanggung
jawab memperberat cedera. Oksidan dari asap dan dari sel-sel inflamasi merupakan
penyebab utama cedera. 4
2. Tahapan Klinis
Perjalanan klinis pasien dengan cedera inhalasi dibagi menjadi tiga tahap: 5
a. Tahap Pertama
Insufisiensi paru akut. Pasien dengan cedera paru beratkan menunjukkan
insufisiensi paru akut dalam 0-36 jam setelah cedera dengan asfiksia, keracunan
karbon monoksida, bronkospasme, obstruksi saluran napas atas dan kerusakan
parenkim.

b. Tahap Kedua

10
Edema paru.Tahap kedua ini terjadi pada 5-30% pasien, biasanya 48
96 jam setelah terbakar.
c. Tahap Ketiga
Bronchopneumonia. Muncul di 15-60% dari jumlah pasien dengan
laporan angka kematian 50-86%. Bronchopneumonia biasanya terjadi 3-
10 hari setelah luka bakar, sering berkaitan dengan dahak lendir yang banyak
yang terbentuk di cabang tracheobronchial. Pneumonia muncul dalam beberapa
hari pertama biasanya karena spesies staphylococcus resisten penisilin, dan
setelah 3-4 hari, terjadi perubahan flora pada luka bakar ini tercermin dalam
gambaran pada pada paru-paru spesies gram negatif terutama spesies
pseudomonas.
3. Diagnosa
Deteksi dini cedera bronkopulmonalis sangat penting dalam meningkatkan
kelangsungan hidup setelah dicurigai adanya trauma inhalasi.5

4. Tanda dan Gejala Klinis


Adanya riwayat paparan asap di ruang tertutup (pasien dengan stupor atau
sadar). Luka bakar wajah / hangus pada bulu hidung / bronchorrhea / dahak
dengan jelaga (Spooty sputum), temuan auskultasi (whezing atau rales).5, 13, 14
Laju pernafasan yang cepat di indikasikan akibat terjadinya kerusakan
saluran nafas bawah yang di pengaruhi oleh edema yang terjadi kemudian atau bisa
juga diindikasikan akibat inhalasi asap dengan keracunan metabolik.1
5. Temuan laboratorium
Hipoksemia dan / atau peningkatan kadar karbon monoksida 5
6. Metode Diagnostik
Chest X-ray kurang membantu dan merupakan metode yang kurang sensitif
karena pasien masuk sangat jarang ditemukan abnormal dan mungkin masih tetap
normal selama tujuh hari ke depan setelah luka bakar.2
Metode diagnostik standar pada setiap pasien luka bakar adalah bronkoskopi
untuk cedera saluran nafas bagian atas. Temuan positif adalah: edema jalan napas,
peradangan, nekrosis mukosa, adanya jelaga pada saluran nafas, jaringan yang
luruh, material karbon pada jalan napas.5

2.8 Tatalaksana Luka Bakar


11
1. Prehospital
Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api misalnya dengan
menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk menutup pasokan oksigen
bagi api yang menyala.1
Seluruh pakaian yang terbakar oleh bahan kimia harus diangkat pelan-
pelan. Bubuk kimia kering harus disikat dari luka. Proses koagulasi protein sel di
jaringan yang terbajan suhu tinggi berlangsung terus setelah api dipadamkan
sehingga destruksi tetap meluas. Proses ini dapat dihentikan dengan mendinginkan
daerah yang terbakar dan mempertahankan suhu dingin ini selama satu jam pertama.
Oleh karena itu pertolongan pertama pada luka bakar setelah memadamkan api
adalah merendam atau mengalirkan daerah yang luka dengan air selama lima belas
menit. Air yang digunakan tidak harus steril. kemudian pasien ditutupi dengan linen
kering, bersih, dan hangat untuk mencegah hipotermia.1

2. Survey Primer
Seperti pada pasien-pasien trauma, pemeriksaan awal pada pasien luka bakar
dibagi menjadi survey primer dan sekunder .
- Airway
Riwayat terkurung di dalam ruangan yang terbakar atau tanda-tanda
awal cedera jalan nafas membutuhkan evaluasi jalan nafas dan tata laksana
definitif. Manifestasi klinis cedera inhalasi dapat tersembunyi dan seringkali
tidak muncul pada 24 jam pertama.7
Tanda dari cedera jalan nafas adalah : 1. Luka bakar pada wajah dan/atau
leher; rambut hidung atau alis yang hangus; 3. Deposit karbon dan perubahan
inflamasi akut pada orofaring; 4. Sputum berkarbon; 5. Suara parau; 6. ledakan
dengan luka bakar pada kepala dan batang tubuh; 7. Level Karboksihemoglobin
lebih dari 10%.7

12
Gambar 2.7 Cedera Inhalasi
Tata laksana pasien dengan cedera inhalasi bertujuan untuk
mempertahankan patensi jalan nafas dan memaksimalkan pertukaran udara.
Jika terjadi kegagalan nafas maka harus dilakukan intubasi.2
Penatalaksanaan luka bakar tanpa distress pernapasan :5,7

1. Intubasi (pemasangan pipa endotrakeal) tanpa menggunakan pelumpuh otot dan


tanpa ventilator
2. Pemberian oksigen 2-4 liter/menit melalui pipa endotrakeal
3. Penghisapan sekret secara berkala
4. Humidifikasi dengan pemberian nebulizer setiap 6 jam
5. Pemberian bronkodilator (Ventolin inhalasi) dilakukan bila jelas dijumpai gejala dan
tanda distress pernapasan
6. Pemantauan gejala/tanda distress pernapasan :
a. Gejala subyektif : gelisah, sesak napas
b. Gejala obyektif : peningkatan frekuensi pernapasan (>30 x/menit), sianotik,
stridor, aktivitas otot pernapasan bertambah
c. Untuk pemantauan ini dilakukan pemeriksaan :
* Analisis gas darah :

- pada pertama kali penderita ditolong (saat resusitasi)

- pada 8 jam pertama

13
- dalam 24 jam pasca cedera

- selanjutnya sesuai kebutuhan

* Foto thorax 24 jam pasca cedera

7. Pemeriksaan radiologi

8. Pelaksanaan dilakukan di ruang resusitasi instalasi gawat darurat

Penatalaksanaan pada cedera inhalahasi

Prosedur yang dilakukan, antara lain:

1. Intubasi dan atau krikotiroidotomi:

- Bila dijumpai distres pernafasan, kerjakan krikotiroidotomi


- Bila tidak dijumpai distres pernafasan, kerjakan intubasi dan atau
krikotiroidotomi Intubasi (pemasangan pipa endotrakea) tanpa menggunakan
pelumpuh otot sebagai premedikasi, dilanjutkan perawatan dengan atau tanpa
ventilator
2. Pemberian oksigen 2-4 liter/menit melalui pipa endotrakea

3. Penghisapan sekret secara berkala

4. Humidifikasi dengan melalui pipa endotrakea dan atau kanula krikotiroidotomi


selama 24 jam

5. Lavase bronko-alveolar (bronchial washing, pulmonary toilet) untuk melepaskan


sekret kental yang melekat dan mengencerkannya serta membersihkan sloughing
mucosa yang memicu terbentuknya cast penyebab obstruksi.

6. Pemberian bronkodilator-selektif secara inhalasi: 1 ampul diuapkan dalam


nebulizer, 3 kali sehari; dilakukan bila cedera inhalasi disebabkan oleh sisa
pembakaran tak sempurna yang berasal dari bahan-bahan kimiawi (luka bakar kimia
dan luka bakar listrik).

14
7. Pemantauan gejala dan tanda distres pernafasan

Tabel 2.2 Kriteria Intubasi7

Criteria Nilai
PaO2 (mm Hg) < 60
PaCO2 (mm Hg) > 50 (acutely)
P/F ratio < 200
Respiratory/ventilatory Impending
failure Upper airway edema Severe

Menurut Shehan secara klinis indikasi untuk intubasi adalah :


- Visualisasi secara langsung didapatkan eritema atau pembengkakan
oropharing.
- Perubahan suara dengan batuk yang kasar atau suara serak.
- Stridor, tachypnoe atau dyspnea

Tabel 2.3 Kriteria Ekstubasi: 5

Criteria Value

PaO2/FiO2 (P/F) ratio > 250


Maximum inspiratory pressure (MIP) (cm H2O) > 60
Spontaneous tidal volume (ml/kg) > 5-7
Spontaneous vital capacity (ml/kg) > 15-20
Maximum voluntary ventilation > present twice the
minute
Audible leak around the ET tube with cuff deflated volume

Untuk pemantauan ini , maka dilakukan pemeriksaan :


15
a. Analisis gas darah serial

- Pertama kali pasien ditolong (saat resusitasi)

- Dalam 8 jam pertama

- Dalam 24 jam pasca cedera

b. Foto toraks/paru, 24 jam pasca cedera dan 3-4 hari pasca cedera. Pemeriksaan
radiologik (foto toraks/paru) dikerjakan bila masalah pada jalan nafas,
pernafasan dan gangguan sirkulasi telah diatasi.

8. Pelaksanaan intubasi-krikotiroidotomi dan perawatan jalan nafas dilakukan di


Ruang Resusitasi Instalasi Gawat Darurat (IGD)

9. Tindakan resusitasi jalan nafas dilakukan sebelum tindakan resusitasi cairan

10. Penatalaksanaan di ruang intensif selanjutnya adalah perawatan saluran nafas


(trakeostomi atau krikotiroidotomi) dengan penghisapan sekret secara periodik,
humidifikasi dan lavase bronkial (bronchial-washing, pulmonary toilet). Seringkali
dijumpai sekret kental bercampur dengan sloughing mucosa yang dapat
menyebabkan obstruksi (cast, mucus plug) dengan gejala distres pernafasan; dalam
hal ini diperlukan prosedur pembersihan kanula trakeostomi trakeostomi/
krikotiroidotomi secara periodik.

11. Prosedur rehabilitasi pernafasan dilakukan dengan cara mengatur posisi pasien
(duduk atau setengah duduk, pronasi), vibrasi dan latihan otot-otot pernafasan baik
secara pasif maupun aktif, latihan refleks batuk dsb dimulai sejak awal.

- Breathing
Perhatian utama ditujukan pada gangguan mekanisme bernafas oleh
karena adanya eskar melingkar di dinding dada dan atau ada cedera toraks
(misal pneumotoraks, hematotoraks, fraktur tulang iga dsb).2
Cedera jalan nafas dapat menyebabkan gejala-gejala gangguan
pernafasan seperti : 1. edema saluran nafas atas dan atau obstruksi akibat

16
pajanan langsung ; 2. inhalasi produk-produk panas yang menyebabkan
trakeobronkitis, edema, dan pneumonia ; 3. keracunan CO. Selalu curiga terjadi
keracunan CO pada pasien yang mengalami luka bakar pada ruangan tertutup.

Tabel 2.4 Gejala keracunan CO6


Kadar Gejala
0-10% Gejala minimal
10-20% Nausea, sakit kepala
20-30% Letargi
30-40% Agitasi
40-50% Koma, depresi nafas
> 50% Kematian

- Circulation5
Untuk mengetahui volume peredaran darah pada pasien dengan luka
bakar dapat dilakukan melalui pemeriksaan urin yang keluar setiap jam
sehingga pemasangan kateter perlu dilakukan.
Pada anak anak dengan berat badan kurang dari atau sama dengan 30
kg maka jumlah urin yang diharapkan adalah 1.0 ml per kilogram berat badan
per jam. Pada orang dewasa jumlah urin yang diharapkan 0.5 sampai 1.0 ml per
kilogram berat badan per jam.
Pasien dengan luka bakar membutuhkan 2 sampai 4 ml cairan ringer
laktat per kilogram berat badan per persen luas luka bakar derajat ke dua dan
tiga pada dua puluh empat jam pertama untuk menjaga volume peredaran darah
yang adekuat untuk mempertahankan perfusi renal yang adekuat. Separuh dari
jumlah cairan diberikan pada 8 jam pertama setelah luka bakar terjadi dan
sisanya diberikan 16 jam kemudian.
Jumlah cairan yang diberikan ditentukan oleh respon pasien, yaitu : 1.
jumlah urin; 2. tanda vital; 3. kondisi umum.
Jumlah urin yang diharapkan pada anak dengan berat kurang dari 30 kg
adalah 1ml/kgBB/jam sedangkan pada orang dewasa jumlah urin yang
diharapkan adalah 0,5 1 ml/kgBB/jam
3. Survey sekunder2
- Pemeriksaan fisik

17
Untuk mengobati pasien dengan luka bakar perlu dilakukan pemeriksaan
mengenai kedalaman dan luas luka bakar, cedera yang berhubungan, dan berat
badan pasien.
o Luas luka bakar berdasarkan rule of nine
Kategori penderita ini ditujukan untuk kepentingan prognosis yang
berhubungan dengan angkat morbiditas dan mortalitas.
- Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan darah lengkap, karboksihemoglobin, glukosa, elektorolit,
dan pemeriksaan kehamilan pada perempuan berusia subur harus dilakukan.
Analisa gas darah juga harus dilakukan untuk mengukur jumlah HbCO.
Rontgen thorax juga harus dilakukan untuk menentukan apakah ada
cedera yang berkaitan.
Sirkulasi perifer
Untuk mempertahankan sirkulasi perifer pada pasien dengan luka bakar
ekstremitas sirkuferensial, harus dilakukan : 1. melepaskan perhiasan di seluruh
ekstremias pasien ; 2 periksa sirkulasi distal, cek sianosis, pengisian ulang
kapiler, dan tanda-tanda neurologis seperti paresthesia dan nyeri jaringan dalam.
Pemeriksaan pulsasi pada pasien dengan luka bakar paling baik dilakukan
dengan menggunakan Doppler.
Pencegahan stress ulcer
Pemberian cairan saja tidak akan memperbaiki kondisi mukosa usus,
sehingga dibutuhkan pemberian bolus nutrisi enteral secara agresif sebagai
stimulasi pada mukosa dan vili-vili usus.
Antasid diberikan dalam dosis besar dan kontinyu untuk menetralisir
asam lambung. Bila sudah terjadi perdarahan saluran cerna, efektivitasnya
diragukan.
Tatalaksana Secara Umum
1. Resusitasi Cairan
Pemberian cairan menurut formula Parkland adalah sebagai berikut: Pada
24 jam pertama: separuh jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama,
sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada bayi, anak dan orang tua,

18
kebutuhan cairan adalah 4 ml. Bila dijumpai cedera inhalasi maka
kebutuhan cairan 4 ml ditambah 1% dari kebutuhan.
Penatalaksanaan 24 jam kedua
Pemberian cairan yang menggunakan glukosa dan dibagi rata dalam
24 jam. Jenis cairan yang dapat diberikan adalah glukosa 5% atau 10%
1500-2000 ml. Batasan ringer laktat dapat memperberat edema interstisial.
Pemantauan sirkulasi dengan menilai tekanan vena pusat dan jumlah
produksi uin <1-2 ml/kgBB/jam,berikan vasoaktif samapi 5 mg/kgBB,
Pemantauan analisa gas darah, elektrolit1,4,7.

Penatalaksanaan setelah 48 jam

Cairan diberikan sesuai kebutuhan maintenance. Pemantauan


sirkulasi dengan menilai produksi urin (3-4 ml/kgBB), hemoglobin dan
hematokrit1,4

2. Manajemen Nyeri8

a. Analgetik Opioid
Opioid merupakan fondasi utama dalam upaya mengontrol nyeri
pada luka bakar. Opiod sangat efektif dan variasi obatnya yang banyak
tersedia memberikan berbagai jenis pilihan potensi, metode pemberian dan
lamanya kerja. Efek positif dari obat ini adalah dapat memberikan rasa
nyaman melebihi batas undividu untuk merasakan perasaan bebas nyeri.
Morfin telah terbukti berkorelasi positif dengan menurunkan gejala sindrom
stres pasca-trauma. Efek opioid sangat luas dan berkorelasi dengan efek
samping yang ditimbulkan seperti depresi pernapasan, gatal, mual, dan
muntah.8
b. Obat Antiinflmasi, Parasetamol, dan Dipyrone
Obat-obat ini dapat mengurangi jumlah opioid yang dibutuhkan
hingga 20-30%. Obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) juga dapat
mengurangi dampak buruk dari penggunaan opioid secara signifikan

19
2.9 Prognosis
Prognosis pada kasus luka bakar ditentukan oleh beberapa faktor yang
menyangkut mortalitas dan morbiditas, yaitu : 1. jenis luka bakar, lokasi, dan
kedalaman; 2. respon pasien terhadap trauma dan terapi ; 3. terapi.
Prognosis luka bakar umumnya jelek pada usia yang sangat muda dan usia
lanjut. Pada usia yang sangat muda system regulasi tubuh belum berkembang
sempurna, komposisi cairan intravascular dibandingkan cairan
ekstravaskular,intersisiel dan intraselular berbeda dengan komposisi manusia dewasa
dan sangat rentan terhadap trauma. Sedangkan pada usia lanjut proses degenerative
pada system, organ, dan sel merupakan salah satu faktor yang mengurangi toleransi,
daya tahan, dan daya kompensasi tubuh terhadap trauma.2,3

2.10 Komplikasi
Setelah sembuh dari luka, masalah berikutnya yang timbul adalah akibat
jaringan parut yang dapat berkembang menjadi cacat berat. Kontraktur kulit dapat
mengganggu fungsi dan menyebabkan kekakuan sendi. Kekakuan sendi ini memerluka
program fisioterapi intensif dan kontraktur memerlukan tindakan bedah.
Bila luka bakar merusak jalan nafas akibat inhalasi. Dapat terjadi ateletaksis,
penumonia, atau insufisiensi fungsi paru pasca trauma.1

20
BAB III

KESIMPULAN

Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan oleh kontak dengan sumber panas sepeeti api, air panas, bahan kimia, listrik,
dan radiasi. Luka bakar merupakan suatu jenis trauma dengan mortalitas dan morbiditas
tinggi yang memerlukan penanganan khusus sejak awal sampai fase lanjut.

Berat ringan luka bakar dipengaruhi oleh penyebab dan lama kontak dengan
pajanan. Luka bakar dibedakan berdasarkan kedalamannya, yaitu : 1. Luka bakar derjat 1
yang hanya mengenai superfisial dermis; 2) derajat dua dangkal yang mengenai superfisial
dermis dan derajat dua dalam yang mengenai hampir seluruh bagian dermis; 3) luka bakar
derajat tiga yang mengenai seluruh ketebalan dermis dan lapisan yang lebih dalam.

Luka bakar menyebabkan gangguan pada saluran pernafasan, mekanisme


pernafasan, dan gangguan sirkulasi yang bila tidak ditangani dengan baik dapat berlanjut
menjadi SIRS hingga sepsis.

Penatalaksanaan pada luka bakar membutuhkan suvey primer dan sekunder,


prognosis luka bakar ditentukan oleh jenis luka bakar, terapi, dan respon pasien terhadap
terapi yang diberikan.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Bisono, Pusponegoro AD. Luka, Trauma, Syok, Bencana. Dalam : Sjamsuhidajat R,


de Jong W, editor. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi. Jakarta : EGC, 1997: hal.
81-91
2. Wolf SE, Herndon DN. Burns. In : Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM,
Mattox KL, editors. Sabiston Textbook of Surgery. 17th ed. Philadelphia : Elsevier
Saunders, 2004 :p.569-78
3. Hansen JT. Introduction to the human body. In : Hansen JT. Netters Clinical
Anatomy. 2nd ed. Philadelphia : Elsevier Saunders, 2010 :p.4
4. Moenadjat Y. Pendahuluan. Dalam : Moenadjat Y editor. Luka Bakar. Edisi ke-2.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2010: hal. 1-10, 11-18, 21-
33,45
5. Amy BW, McManus WF, Goodwin CW Jr, et al. Thermal injuries. In : American
Colleges of Surgeons on Trauma. Advanced Trauma Life Support. 8 th ed. Chicago :
American College of Surgeon, 2008 : hal 211-23
6. Bittner, Edward A., Shank Erik, Woodson Lee,. Martyn Jeevendra. 2015. Acute and
Perioperative Care of the burn injuried Patient. American Society Of
Anesthesiologists: 122:448-64.

7. Hettiaratchy s, Papini R. Initial management of a major burn: overview, BMJ.


2004 ; 328:555-7
8. De Castro RJA, Leal P. C. & Sakata R.K. Pain Management in Burn Patients. Rev
Bras Anestesiol. 2013;63(1):149-58.

22