Anda di halaman 1dari 20

Analisis Perubahan Mangrove Menggunakan Data Citra Landsat

di Pesisir Muara Sungai Lumpur


Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan

Mutia*, Andi Agussalim, S.Pi., M.Sc dan Hartoni, S.Pi., M.Si

Program Studi Ilmu Kelautan, FMIPA, Universitas Sriwijaya


Alamat : Kampus Universitas Sriwijaya Indralaya
Jl. Raya Palembang Prabumulih KM. 35 Indralaya-OKI 30662
Telepon (0711) 580268 / 580056. Fax (0711) 580056
*email : mutia.lagan@gmail.com

ABSTRAK

Indonesia diperkirakan memiliki luas hutan mangrove sekitar 4,25 juta Ha atau
3,98% dari seluruh luas hutan Indonesia, tetapi hanya 2,5 juta Ha dalam keadaan baik
(Nontji, 2005). Penurunan mangrove terus terjadi akibat semakin tingginya keinginan
untuk mengkonversi maupun mengeksploitasi hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan
untuk memetakan tutupan lahan sekitar Pesisir Muara Sungai Lumpur tahun 2000, 2004
dan 2014, menganalisis perubahan yang terjadi selama 14 tahun serta mengetahui
kondisi mangrove. Sebanyak 8 stasiun penelitian data lapangan ditentukan dengan
purposive sampling dengan melakukan identifikasi jenis-jenis mangrove dan
menggunakan data citra Landsat 7 ETM + tahun 2000, data citra Landsat 5 TM tahun
2004 dan data citra Landsat 8 OLI tahun 2014. Klasifikasi terbimbing maximum
likehood dan kerapatan jenis menggunakan transformasi NDVI. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa jenis mangrove sejati yang terdapat di Pesisir Muara Sungai
Lumpur Kabupaten OKI Provinsi Sumatera Selatan adalah Avicennia alba, Avicennia
marina, Rhizophora mucronata, Rhozopora apiculata dan Sonneratia alba. Distribusi
dan luasan mangrove mengalami penurunan selama 14 tahun seluas 1.119,77 Ha.
Penurunan luasan mangrove berbanding terbalik dengan luasan tambak yang justru
mengalami penambahan lahan. Kondisi luasan mangrove tahun 2000 adalah 2.296,34
Ha, tahun 2004 adalah 1.1629,63 Ha dan menurun hingga menjadi 1.176,57 Ha di tahun
2014. Namun secara umum mangrove di Pesisir Muara Sungai Lumpur Kabupaten OKI
Sumsel masih termasuk dalam kategori baik.

Kata kunci : Mangrove, Sungai Lumpur, Sumatera Selatan, Landsat, NDVI

Inderalaya, Agustus 2015


Pembimbing II, Pembimbing I,

Hartoni, S.Pi., M.Si Andi Agussalim, S.Pi., M.Sc


NIP. 197906212003121002 NIP. 197308082002121001
Analisis Perubahan Mangrove Menggunakan Data Citra Landsat
di Pesisir Muara Sungai Lumpur
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan

Mutia*, Andi Agussalim dan Hartoni

Program Studi Ilmu Kelautan, FMIPA, Universitas Sriwijaya


Alamat : Kampus Universitas Sriwijaya Indralaya
Jl. Raya Palembang Prabumulih KM. 35 Indralaya-OKI 30662
Telepon (0711) 580268 / 580056. Fax (0711) 580056
*email : mutia.lagan@gmail.com

ABSTRAK

Indonesia diperkirakan memiliki luas hutan mangrove sekitar 4,25 juta Ha atau
3,98% dari seluruh luas hutan Indonesia, tetapi hanya 2,5 juta Ha dalam keadaan baik
(Nontji, 2005). Penurunan mangrove terus terjadi akibat semakin tingginya keinginan
untuk mengkonversi maupun mengeksploitasi hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan
untuk memetakan tutupan lahan sekitar Pesisir Muara Sungai Lumpur tahun 2000, 2004
dan 2014, menganalisis perubahan yang terjadi selama 14 tahun serta mengetahui
kondisi mangrove. Sebanyak 8 stasiun penelitian data lapangan ditentukan dengan
purposive sampling dengan melakukan identifikasi jenis-jenis mangrove dan
menggunakan data citra Landsat 7 ETM + tahun 2000, data citra Landsat 5 TM tahun
2004 dan data citra Landsat 8 OLI tahun 2014. Klasifikasi terbimbing maximum
likehood dan kerapatan jenis menggunakan transformasi NDVI. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa jenis mangrove sejati yang terdapat di Pesisir Muara Sungai
Lumpur Kabupaten OKI Provinsi Sumatera Selatan adalah Avicennia alba, Avicennia
marina, Rhizophora mucronata, Rhozopora apiculata dan Sonneratia alba. Distribusi
dan luasan mangrove mengalami penurunan selama 14 tahun seluas 1.119,77 Ha.
Penurunan luasan mangrove berbanding terbalik dengan luasan tambak yang justru
mengalami penambahan lahan. Kondisi luasan mangrove tahun 2000 adalah 2.296,34
Ha, tahun 2004 adalah 1.1629,63 Ha dan menurun hingga menjadi 1.176,57 Ha di tahun
2014. Namun secara umum mangrove di Pesisir Muara Sungai Lumpur Kabupaten OKI
Sumsel masih termasuk dalam kategori baik.

Kata kunci : Mangrove, Sungai Lumpur, Sumatera Selatan, Landsat, NDVI


The Analysis of the Changing of Mangrove Used Landsat Image Data
in the Side of Lumpur River Estuary
Ogan Komering Ilir (OKI) South Sumatra

Mutia*, Andi Agussalim and Hartoni

Program Study of Marine Science, Faculty of Mathematics and Natural Sciences,


University of Sriwijaya
Address : Campus Sriwijaya University Indralaya
Jl. Raya Palembang Prabumulih KM. 35 Indralaya-OKI 30662
Phone (0711) 580268 / 580056. Fax (0711) 580056
*email : mutia.lagan@gmail.com

ABSTRACT

Indonesia is estimated having extensive mangrove forests around 4,25 million


hectares or 3,98% of the total area of Indonesia forests, but only 2,5 million hectares in
good condition (Nontji, 2005). Mangrove decliny continues to be occured as a result of
the increasing desires level to convert and exploit mangrove forests. This study aims to
mapping land cover around the side of Lumpur River Estuary in the years of 2000, 2004
and 2014, to analyse the changes that happen arround 14 years and to identify mangrove
conditions. It is about 8 research station field data is pleasured by purpossive sampling.
The types of mangrove and by using Landsat image data 7 ETM + in 2000, Landsat
image data 5 TM in 2004 and 8 OLI Landsat image data in 2014. The maximum
likehood supervised classification and the density types used to NDVI transformation.
The results explained that the types of true mangroves found in side of Lumpur River
Estuary OKI South Sumatera Province are Avicennia alba, Avicennia marina,
Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata and Sonneratia alba. The distribution and
the mangrove scope is decreasing in 14 years around 1.119,77 Ha. The decreasing
mangrove scope is inversed with the pond scope which even increasing. The mangrove
scope in 2000 is 2.296,34 Ha, in 2004 is 1.1629,63 Ha and it is decreasing to be
1.176,57 Ha in 2014. However, generally mangrove in the side of Lumpur River
Estuary OKI South Sumatera is in good conditions.

Keywords: Mangrove, Lumpur River, South Sumatera, Landsat, NDVI


I. Pendahuluan

Luas hutan mangrove di Indonesia semakin menurun dan hanya sedikit vegetasi
mangrove dalam keadaan baik. Menurut Nontji (2005) luas hutan mangrove di seluruh
Indonesia diperkirakan sekitar 4,25 juta Ha atau 3,98% dari seluruh luas hutan
Indonesia, tetapi hanya 2,5 juta Ha dalam keadaan baik. Provinsi Sumatera Selatan
pernah menjadi provinsi yang memiliki luas hutan mangrove terbesar ketiga di
Indonesia, seperti yang disampaikan oleh Kusmana (1996) dalam Ridho et al. (2006)
bahwa Sumatera Selatan memiliki luas hutan mangrove terbesar ketiga di Indonesia
setelah Irian Jaya dan Kalimantan Timur dengan luas 363.430 Ha pada tahun 1993.
Mangrove tersebut banyak dijumpai di pesisir timur Kabupaten Banyuasin dan Ogan
Komering Ilir (OKI).
Fungsi biologi, ekonomi dan lingkungan menyebabkan ekosistem mangrove
perlu untuk di monitoring agar selalu dijaga kelestariannya. Salah satu metode yang
dapat digunakan dalam pemantauan luasan lahan hutan mangrove yaitu dengan
menggunakan teknologi penginderaan jauh, khususnya data citra Landsat. Susilo (1997)
dalam Ridho et al. (2006) berpendapat bahwa metode ini memiliki kelebihan yaitu
dapat memantau wilayah yang luas dalam waktu yang hampir bersamaan dan
berkesinambungan.
Menurut Hidayah dan Wiyanto (2013) untuk lahan dengan tutupan yang
homogen, citra landsat dengan resolusi 30 meter cukup efektif dalam membuat
klasifikasi lahan. Metode penginderaan jauh dapat memantau wilayah yang luas dalam
waktu yang hampir bersamaan dan berkesinambungan termasuk daerah yang sulit untuk
dijelajahi serta dapat mengetahui kondisi mangrove dalam waktu singkat. Pendeteksian
sebaran luasan mangrove akan didapat dari pengolahan serta analisa data citra satelit,
kemudian dengan interpretasi maka akan terlihat vegetasi mangrove dan yang bukan
mangrove. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan
luasan mangrove di Pesisir Muara Sungai Lumpur Kabupaten Ogan Komering Ilir
(OKI) Provinsi Sumatera Selatan menggunakan data citra Landsat.

II. Metodologi Penelitian


Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli Desember 2014. Penelitian dibagi
menjadi tiga tahap, yaitu interpretasi sementara tutupan lahan, ground check lapangan
dan interpretasi ulang data citra di Laboratorium Penginderaan Jauh dan Sistem
Informasi Geografis Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Sriwijaya. Peta lokasi dan stasiun penelitian disajikan
pada Gambar 1.

Gambar 1. Peta Lokasi dan Stasiun Penelitian

Alat dan bahan yang digunakan dibagi menjadi 2, yaitu alat dan bahan yang
digunakan di laboratorium serta di saat ground check lapangan. Alat dan bahan yang
digunakan antara lain adalah Laptop, Data Citra Landsat 7 ETM+ tahun 2000, Citra
Landsat 5 TM tahun 2004 dan Citra Landsat 8 OLI tahun 2014 (Path 123/Row 62),
Citra Orthorektifikasi (2002), perangkat lunak ENVI 4.3, Arc GIS 9.3 dan Ms. Excel.
Alat dan bahan yang digunakan dilapangan antara lain buku identifikasi mangrove
(Desitarani et al, 2014), kamera digital, rol meter, meteran kain, GPS, tali raffia, tabel
sheet pengamatan, alat tulis dan peta tutupan lahan hasil klasifikasi sementara citra
tahun 2014.
Stasiun penelitian ditentukan secara purpossive sampling yang artinya titik
stasiun penelitian tersebut dipilih secara sengaja dengan tujuan tertentu. Titik stasiun
penelitian di pilih berdasarkan hasil klasifikasi tutupan mangrove dan telah disesuaikan
dengan data lapangan. Hal ini bertujuan agar dapat digunakan sebagai pembanding
antara data lapangan dan data citra hasil klasifikasi. Titik stasiun penelitian adalah
sebagai berikut :
Stasiun 1, 2 dan 3 mewakili kondisi dan sebaran mangrove pada Pesisir Muara
Sungai Lumpur Kabupaten OKI pada bagian atas/utara.
Stasiun 4 dan 5 mewakili kondisi dan sebaran mangrove pada Pesisir Muara
Sungai Lumpur Kabupaten OKI pada bagian tengah.
Stasiun 6, 7 dan 8 mewakili kondisi dan sebaran mangrove pada Pesisir Muara
Sungai Lumpur Kabupaten OKI pada bagian bawah/selatan.
Titik koordinat stasiun penelitian disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Titik Koordinat Stasiun Penelitian


Titik Koordinat
Stasiun
Lintang (Latitude) Bujur (Longitude)
1 3o2308,23" LS 105o5456,61" BT
2 3o2408,84" LS 105o5414,87" BT
3 3o2459,66" LS 105o53'55,47" BT
4 3o25'09,47" LS 105o53'06,87" BT
5 3o25'19,25" LS 105o5302,99" BT
6 3o2604,19" LS 105o5303,03" BT
7 3o2637,41" LS 105o5253,34" BT
8 3o2713,57" LS 105o5237,82" BT

Pengambilan data dilakukan dengan mencatat spesies mangrove, keliling lingkar


batang dan jumlah vegetasi mangrove yang terdapat di dalam plot pengamatan. Cara
penggunaan ukuran petak contoh untuk tingkat hidup mangrove yang ditetapkan oleh
Departemen Kehutanan (2005) adalah sebagai berikut:
1) Semai (mulai kecambah sampai tinggi 1 m) dengan ukuran plot 1x1 m.
2) Anakan (anakan pohon dengan tinggi lebih dari 1 m atau dengan luas keliling pohon
kurang dari 30 cm) dengan ukuran plot 5x5 m.
3) Pohon (pohon dengan tinggi > 2 meter dan keliling lebih dari 30 cm) dengan ukuran
plot 10x10 m.
Penggunaan transek kuadrat saat ground check digunakan untuk
membandingkan data kerapatan vegetasi mangrove yang sebenarnya dengan kerapatan
mangrove yang dihasilkan dari pengolahan data citra. Metode transek kuadrat yang
dilakukan yaitu dengan menarik transek sepanjang 100 meter yang kemudian dibagi
menjadi 3 plot dengan luasan masing-masing plot adalah 30x30 meter dan berjarak 5
meter antar plot. Masing-masing plot dengan luas 30x30 meter digunakan untuk
menghitung jumlah tegakan mangrove tingkat pohon. Luas plot 30x30 meter dianggap
mewakili setiap 1 piksel pada Citra Landsat yang memiliki resolusi spasial 30 meter.
Transek kuadrat mangrove yang dilakukan disajikan pada Gambar 2.
A A
B B
C C
100 meter
C B
5m A 5m

Gambar 2. Transek Kuadrat Mangrove


Keterangan :
A = Pohon Mangrove (30 x 30 m)
B = Anakan Mangrove (5x5m)
C = Semai Mangrove (1x1m)

Data data mengenai jenis, jumlah tegakan dan diameter pohon yang telah
dicatat dalam tabel data mangrove dianalisis dengan metode menurut Bengen (2002),
yaitu :
Kerapatan jenis (Ki)
Basal Area (BA)
Ki = A 2

Kerapatan Relatif (KR)


BA = ( DBH
4 )

( )
KR = n x 100% Dominansi Jenis (Di)
BA
Di = A
Frekuensi Jenis (Fi)
pi Dominansi Relatif (DR)
Di
Fi = p
( )
DR = Di x 100%
Frekuensi Relatif (FR)
Fi Indeks Nilai Penting (INP)
( )
FR = F x 100% INP = KR + FR + DR
Untuk menentukan kriteria penentuan kondisi mangrove berdasarkan Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup (2004), dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kriteria Kondisi dan Kerapatan Mangrove


Kerapatan
Kriteria Penutupan (%)
(pohon/Ha)
Sangat Padat 75 1500
Baik
Sedang 50 - < 75 1000 - < 1500
Rusak Jarang < 50 < 1000
Sumber : Kepmen LH (2004)

Saluran merah (RED) pada data Citra Landsat 7 ETM + tahun 2000 dan
Citra Landsat 5 TM tahun 2004 adalah band 3 sedangkan pada data Citra
Landsat 8 OLI berada pada band 4. NIR (Near Infrared) untuk data Citra
Landsat 7 ETM+ tahun 2000 dan Citra Landsat 5 TM tahun 2004 adalah band 4
sedangkan pada data Citra Landsat 8 OLI berada pada band 5. Nilai kelas
kerapatan mangrove dapat dibedakan berdasarkan nilai digital number (DN)
yang dihasilkan. Proses klasifikasi pada citra dinamakan klasifikasi
terbimbing dengan metode Maximum Likelihood Classification. Dilakukan
analisis dengan menggunakan formula NDVI untuk mengetahui perubahan pada
mangrove. Diagram alir pengolahan data citra satelit disajikan pada Gambar 3.

Menggabungkan Band pada Citra (P123/R62) Citra


Orthorektifikasi
(2002)
Koreksi Radiometrik & Koreksi Geometrik
Cropping Citra Sesuai Lokasi Penelitian

Hasil cropping Citra Hasil cropping Citra Hasil cropping Citra


Landsat 7 ETM+ (2000) Landsat 5 TM (2004) Landsat 8 OLI (2014)
Maximum Likehood Maximum Likehood Maximum Likehood (2014)
(2000) (2004)

Non Mangrove Non Mangrove Non Mangrove


Mangrove Mangrove Mangrove

NDVI NDVI NDVI

Citra Kerapatan Mangrove Citra Kerapatan Mangrove Citra Kerapatan Mangrove


Berdasarkan NDVI (2000) Berdasarkan NDVI (2004) Berdasarkan NDVI (2014)
Perubahan Luasan dan Kerapatan Mangrove

Analisis Perubahan Luasan dan Kerapatan MangroveGround Check Lapangan


(2014)
di Pesisir Muara Sungai Lumpur Kabupaten Ogan
Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan
Gambar 3. Diagram Alir Pengolahan Data Citra Satelit
III. Hasil dan Pembahasan
3.1 Kondisi Tutupan Lahan Lokasi Penelitian
3.1.1 Tutupan Lahan Tahun 2000
Gambar 4 menunjukkan bahwa tutupan lahan pada tahun 2000
didominasi oleh perairan, yakni seluas 7.427,97 Ha dari total luasan wilayah
penelitian sebesar 14.400 Ha. Pada tahun 2000, tutupan lahan mangrove lebih
luas dibandingkan dengan tutupan lahan tambak yakni tutupan mangrove
memiliki luas 2.296,34 Ha dan tambak 2.128,69 Ha. Lahan terbuka pada
tahun 2000 memiliki luas 1.337,59 Ha dibandingkan pemukiman hanya 851,95
Ha. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2000, lahan terbuka belum
dimanfaatkan secara potensial, sedangkan luas tutupan lahan lumpur sebesar
357,46 Ha yang merata dipinggiran pesisir mangrove.

Gambar 4. Peta Tutupan Lahan Tahun 2000 di Pesisir Muara Sungai Lumpur OKI Sumsel

3.1.2 Tutupan Lahan Tahun 2004


Peta tutupan lahan pada wilayah Pesisir Muara Sungai Lumpur
Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan tahun 2004 disajikan
pada Gambar 9.
Gambar 5. Peta Tutupan Lahan Tahun 2004 di Pesisir Muara Sungai Lumpur Kabupaten OKI Sumsel
Selama 4 tahun (2000 2004), terjadi pengurangan tutupan lahan pada
kelas perairan dan mangrove. Sedangkan untuk keempat tutupan lahan lainnya
justru mengalami penambahan luas, yakni tambak mengalami penambahan
lahan 495,80 Ha, pemukiman mengalami penambahan luas 149,75 Ha, lahan
terbuka mengalami penambahan luas 77,57 Ha dan tutupan lahan lumpur
mengalami penambahan luas 191,54 Ha.

3.1.3 Tutupan Lahan Tahun 2014


Berdasarkan perbandingan peta tutupan lahan tahun 2004 dan 2014 terlihat
bahwa mangrove yang diwakili dengan warna hijau terlihat semakin menipis,
sedangkan area tambak dengan warna cyan terlihat semakin meningkat di wilayah
pesisir Desa Sungai Lumpur. Luas kelas tambak di wilayah Pesisir Muara Sungai
Lumpur memiliki penambahan lahan 1.830,06 Ha dalam jangka waktu 10 tahun.
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Pramudji (2010) bahwa kontribusi yang paling besar
dalam menurunnya luas area hutan mangrove adalah area tambak. Peta tutupan lahan
pada tahun 2014 di Pesisir Muara Sungai Lumpur Kabupaten OKI Provinsi Sumatera
Selatan disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6. Peta Tutupan Lahan Tahun 2014 di Pesisir Muara Sungai Lumpur Kabupaten OKI Sumsel

Penggunaan lahan tambak selama 14 tahun mengalami kenaikan yang


cukup signifikan, yaitu persentase perubahannya mencapai 16,15% dan
merupakan kelas dengan persentase perubahan yang paling tinggi dibandingkan
kelas lainnya. Hal ini menandakan bahwa kegiatan tambak dianggap penting
bagi masyarakat sekitar. Kelas perairan terus mengalami penurunan luasan,
terlihat bahwa perairan pada tahun 2000 seluas 7.427,97 Ha menjadi 7.180,02
Ha di tahun 2004 kemudian pada tahun 2014 seluas 6.809,76 Ha.
Demikian halnya dengan kelas mangrove, mangrove mengalami
penurunan luasan sebesar 1.119,77 Ha atau sebanyak 7,78% selama 14 tahun.
Kecenderungan penurunan lahan yang terjadi berdasarkan penafsiran citra ini
mengindikasikan bahwa terjadi degradasi hutan mangrove yang cukup tinggi di
Pesisir Muara Sungai Lumpur Kabupaten OKI Provinsi Sumatera Selatan.
Perubahan lahan mangrove bukan hanya terjadi karena adanya keinginan untuk
mengkonversi lahan dari masyarakat sekitar, namun juga masih banyak kalangan
masyarakat umum yang menganggap mangrove merupakan sumberdaya yang
potensial untuk dimanfaatkan dari kayunya.

3.2 Pembagian Kelas Mangrove Berdasarkan Kerapatan


3.2.1 Kerapatan Mangrove Tahun 2000
Klasifikasi kerapatan mangrove digunakan untuk membagi kelas kerapatan
mangrove menjadi 3 klasifikasi kerapatan. Berdasarkan data pengolahan citra
menunjukkan bahwa mangrove yang berada di Pesisir Muara Sungai Lumpur
Kabupaten OKI pada tahun 2000 adalah 2.296,34 Ha yang terdiri mangrove jarang 5,23
Ha, mangrove sedang 87,05 Ha dan mangrove lebat 87,05 Ha. Peta kelas kerapatan
mangrove pada tahun 2000 disajikan pada Gambar 7.

Gambar 7. Peta kerapatan mangrove tahun 2000 di Pesisir Muara Sungai Lumpur OKI Sumsel

3.2.2 Kerapatan Mangrove Tahun 2004


Untuk mendapatkan pembagian kelas kerapatan maka terlebih dahulu
melihat nilai minimum dan maksimum Digital Number yang didapat dari hasil
pengolahan citra. Pembagian interval kelas kerapatan mangrove pada tahun 2004
terdapat pada Tabel 2.
Tabel 2. Klasifikasi kerapatan mangrove berdasarkan DN citra tahun 2004
No Klasifikasi Kerapatan Interval Kelas Digital Number
1 Mangrove Jarang 0,0100 0,2344
2 Mangrove Sedang 0,2345 0,4589
3 Mangrove Lebat 0,4590 0,6833

Interval masing-masing kerapatan mangrove pada tahun 2004


disesuaikan dengan DN maksimum dikurang DN minimum kemudian dibagi
menjadi 3 bagian klasifikasi, yaitu mangrove jarang, mangrove sedang dan
mangrove lebat. Menurut Muhsoni (2009) analisis NDVI bernilai -1 sampai 1.
Nilai -1 hingga 0 menunjukkan bahwa objek bukan vegetasi sedangkan nilai 0
hingga 1 menunjukkan bahwa objek adalah vegetasi. Peta kelas kerapatan
mangrove tahun 2004 disajikan pada Gambar 8.

Gambar 8. Peta kerapatan mangrove tahun 2004 di Pesisir Muara Sungai Lumpur OKI Sumsel

Nilai digital number citra pada tahun 2000 dan 2004 adalah sama, hal ini
menunjukkan bahwa adanya kerapatan yang terbaca dicitra masih sama dengan
keadaan selama 4 tahun. Total luasan mangrove pada tahun 2004 adalah
1.629,63 Ha. Mangrove ditunjukkan oleh warna hijau, sehingga semakin hijau
warna mangrove pada peta menunjukkan bahwa semakin rapatnya vegetasi
mangrove. Mangrove dengan warna hijau muda menunjukkan kelas mangrove
jarang seluas 7,29 Ha. Mangrove dengan kerapatan sedang 109,89 Ha dan
mangrove lebat 1.512,45 Ha.

3.2.3 Kerapatan Mangrove Tahun 2014


Jarak waktu selama 10 tahun dapat menyebabkan perubahan kerapatan
mangrove. Nilai maksimal Digital Number (DN) algoritma NDVI pada citra
Landsat tahun 2014 adalah 0,5572. Adanya perubahan nilai digital number
menandakan bahwa kerapatan jumlah vegetasi berkurang. Untuk menyesuaikan
interval klasifikasi kerapatan, maka untuk kerapatan mangrove jarang dan
sedang disesuaikan dengan interval kelas DN pada citra tahun 2000 dan 2004,
sedangkan untuk interval kerapatan mangrove lebat hanya sebatas nilai DN
maksimal. Klasifikasi kerapatan mangrove berdasarkan DN pada tahun 2014
disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Klasifikasi kerapatan mangrove berdasarkan DN citra tahun 2014


No Klasifikasi Kerapatan Interval Kelas Digital Number
1 Mangrove Jarang 0,0100 0,2344
2 Mangrove Sedang 0,2345 0,4589
3 Mangrove Lebat 0,4590 0,5572

Nilai DN yang menurun menunjukkan bahwa kerapatan secara


keseluruhan mengalami penurunan. Luas mangrove di Pesisir Muara Sungai
Lumpur menurun sebanyak 453,06 Ha selama 10 tahun. Kerapatan mangrove
jarang dan lebat mengalami menurunan luas lahan, sedangkan kerapatan
mangrove sedang mengalami penambahan luas lahan. Peta kerapatan mangrove
pada tahun 2014 di Pesisir Muara Sungai Lumpur Kabupaten OKI Provinsi
Sumatera Selatan disajikan pada Gambar 9.

Gambar 9. Peta Kerapatan Mangrove Tahun 2014 di Pesisir Muara Sungai Lumpur OKI Sumsel

Kerapatan mangrove pada tahun 2014 terlihat secara jelas dari Gambar 9
diatas. Pada tahun ini luasan mangrove adalah 1.176,57 Ha dengan 651,07 Ha
merupakan mangrove lebat. Warna hijau muda pada peta menunjukkan bahwa
mangrove dengan kerapatan sedang semakin mendominasi, sedangkan
berdasarkan luasan mangrove tahun 2014 memiliki 525,41 Ha mangrove sedang.
Lain halnya dengan mangrove sedang yang mulai terlihat mendominasi,
mangrove jarang justru hampir tidak tampak, karena hasil pengolahan citra
menunjukkan hanya seluas 0,09 Ha.

3.3 Perubahan Mangrove Selama 14 tahun


Sebagian besar mangrove yang terdapat pada tahun 2000 mengalami
perubahan lahan pada tahun 2014. Perubahan lahan mangrove terjadi secara
alami maupun buatan. Perubahan lahan terjadi secara alamiah oleh alam
misalnya bencana alam banjir, longsor dan sedimentasi. Perubahan mangrove
yang terjadi karena alam dapat menyebabkan berkurangnya vegetasi mangrove,
namun dengan jumlah penurunan yang biasanya tidak mencolok karena jarang
terjadi. Grafik perubahan luas mangrove selama waktu 14 tahun disajikan pada
Gambar 10.

Grafik Perubahan Luas Mangrove

Mangrove Lebat
Keterangan :
Mangrove Sedang

Luas (Ha) Mangrove Jarang

Gambar 10. Grafik Perubahan Luas Mangrove Selama 14 Tahun di Pesisir Muara Sungai Lumpur OKI
Sumsel

Grafik diatas menunjukkan bahwa perubahan luas yang paling


mendominasi selama jangka waktu 14 tahun adalah perubahan mangrove lebat.
Dari ketiga kerapatan tersebut, menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan
mangrove sebesar 1.119,77 Ha mangrove selama tahun 2000 hingga 2014.
Mangrove yang pada tahun 2000 sebanyak 2.296,34 Ha berubah menjadi
1.629,63 Ha pada tahun 2004 dan di tahun 2014 menunjukkan mangrove bersisa
1.176,57 Ha.
Kerapatan mangrove yang cenderung menurun ini menunjukkan bahwa
adanya penurunan kualitas ekosistem mangrove. Bukan hanya dari perubahan
luasan mangrovenya, namun juga adanya perubahan jumlah dari kerapatan
mangrove sedang menjadi mangrove jarang, maupun dari kerapatan lebat
menjadi kerapatan sedang. Secara rinci tabel perubahan mangrove disajikan
pada Tabel 4.

Tabel 4. Perubahan Mangrove Selama 14 tahun


Kriteria
Kerapatan Luas Mangrove (Ha) Perubahan Luasan Mangrove (Ha)
Mangrove (Ha)
2000 2004 2014 (20002004) (20042014)
Tahun
Jarang 5,23 7,29 0,09 +2,06 -7,20
Sedang 87,05 109,89 525,41 +22,84 +415,52
Lebat 2.204,06 1.512,45 651,07 -691,61 -861,38
Total 2.296,34 1.629,63 1.176,57 -666,71 -453,06
Sumber : Data Citra Olahan (2015)
Keterangan : + = Penambahan Luas
- = Pengurangan Luas

3.4 Kondisi Mangrove pada Setiap Stasiun Penelitian


Kondisi jenis mangrove setiap stasiun penelitian disajikan pada Gambar
11.
1100
1000
900
800
700
600
Avicennia
Kerapatanalba
Jenis Avicennia 500
(ind/Ha) marina Sonneratia alba Rhizophora apiculata Rizhophora mucronata
400
300
200
100
0
St 1 St 2 St 3 St 4 St 5 St 6 St 7 St 8

Gambar 11. Grafik Kerapatan Jenis Mangrove Ground Check


Sumber : Data lapangan (2014)

Mengacu pada kriteria kerapatan mangrove Keputusan Menteri


Lingkungan Hidup (2004) menunjukkan bahwa stasiun 1 dan 8 merupakan
stasiun memiliki kerapatan mangrove lebat. Stasiun 2 hanya ditemukan semai
dengan jenis Avicennia alba sebanyak 26.666 ind/Ha, sedangkan untuk anakan
pada stasiun 2 ditemukan juga jenis Sonneratia alba dengan banyak 666 ind/Ha.
Data kerapatan jenis pohon untuk stasiun 2 terlihat bahwa stasiun ini memiliki
kerapatan sedang, yakni 1.026 ind/Ha yang terdiri dari jenis Avicennia alba dan
Sonneratia alba.
Berdasarkan jumlah kerapatan individu pohon 1.185 ind/Ha, stasiun 3
termasuk dalam kategori hutan mangrove dengan kerapatan sedang. Lain halnya
dengan stasiun 4 dan stasiun 5. Mangrove dengan kerapatan jarang terdapat di
stasiun 4 dan 5 yang berada di mulut Pesisir Muara Sungai Lumpur. Stasiun 6
menunjukkan kerapatan sebesar 1.004 Ind/Ha yang terdiri dari Avicennia alba,
Avicennia marina, dan Rhizophora mucronata.
Terdapat Avicennia alba dan Avicennia marina pada stasiun 7 dengan
total kerapatan 1.030 ind/Ha. Di stasiun ini juga ditemukan Acanthus
ebracteatus yang berada dipertengahan hingga ke ujung zonasi sehingga
walaupun kerapatan pohonnya lebih rendah dibandingkan stasiun 1 dan 8 pada
stasiun ini individu mangrove minor cukup banyak. Pada stasiun ini
menunjukkan indeks nilai penting pada Avicennia alba 135,84% dan Avicennia
marina 164,16% sehingga nilai pentingnya adalah 300%.
Tingkat dominansi (INP) berkisar antara 0 300 menunjukkan adanya
keterwakilan jenis mangrove yang berperan dalam ekosistem, sehingga jika INP
300 menunjukkan bahwa mangrove memiliki nilai penting dalam suatu
lingkungan pesisir. Lain halnya dengan stasiun 8, pada stasiun ini mangrove
jenis Avicennia alba memiliki kerapatan jenis 815 ind/Ha, Avicennia marina 141
ind/Ha dan juga ditemukan jenis Sonneratia alba dengan kerapatan 607 ind/Ha
sehingga total kerapatan mangrove stasiun 8 adalah 1.563 ind/Ha.
Berdasarkan keputusan Kepmen LH (2004) yang mengacu pada kriteria
baku kerusakan mangrove, bahwa kriteria mangrove yang baik adalah vegetasi
mangrove yang memiliki kerapatan 1.000 hingga > 1.500 ind/Ha sedangkan
vegetasi mangrove dengan kriteria rusak ditunjukkan dengan kerapatan individu
mangrove dibawah 1.000 ind/Ha Dari hasil penentuan kerapatan mangrove
diatas, maka dapat disimpulkan bahwa wilayah Pesisir Muara Sungai Lumpur
Kabupaten OKI Provinsi Sumatera Selatan masih dalam kondisi yang baik.

IV. Kesimpulan
1. Terdapat 6 kelas tutupan lahan sekitar vegetasi mangrove yaitu perairan,
pertambakan, mangrove, pemukiman, lahan terbuka dan lumpur.
2. Selama jangka waktu 14 tahun (2000 2014) terjadi perubahan luasan
mangrove sebesar 1.119,77 Ha.
3. Secara umum kondisi mangrove di Pesisir Muara Sungai Lumpur Kabupaten
Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan termasuk dalam kategori baik.

Daftar Pustaka
Bengen DG. 2002. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.
Cetakan Ketiga. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. IPB : Bogor.

Desitarani, Wiriadinata H, Miyakawa H, Rachman I, Sulistyono R, Partomiharjo T.


2014. Buku Panduan Lapangan Jenis Jenis Tumbuhan Restorasi. JICA : LIPI.

Departemen Kehutanan. 2005. Pedoman Inventarisasi dan Identifikasi Lahan Kritis


Mangrove. Jakarta : Departemen Kehutanan.

Hidayah Z dan Wiyanto DB. 2013. Analisa Temporal Perubahan Luas Hutan Mangrove
di Kabupaten Sidoarjo dengan Memanfaatkan Data Citra Satelit. Jurnal Bumi
Lestari. Vol 2 : VIII 2013. Hlm 318 326.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. 2004. Kriteria Baku dan Pedoman
Penentuan Kerusakan Mangrove. Kepmen LH 201/2004

________. 2005. Laut Nusantara. Cetakan Keempat. Djambatan: Jakarta.

Ridho MR, Hartoni, Sari SP. 2006a. Analisis Perubahan Luasan Mangrove di Pantai
Timur Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan Menggunakan
Data Citra Landsat TM [jurnal]

Ridho MR, Sundoko A, Ulqodry TZ. 2006b. Analisis Perubahan Luasan Mangrove di
Muara Sungai Banyuasin, Sungsang dan Upang Provinsi Sumatera Selatan
Menggunakan Citra Satelit Landsat-TM. Jurnal Pengelolaan Lingkungan dan
Sumberdaya Alam .Vol: IV (2): 11-18.

Sari SP. 2006. Analisis Kondisi Mangrove Di Pantai Timur Ogan Komering Ilir (OKI)
Provinsi Sumatera Selatan Menggunakan Data Citra Landsat TM. Universitas
Sriwijaya : Program Studi Ilmu Kelautan [skripsi]

Analisis Perubahan Mangrove Menggunakan Data Citra Landsat


di Pesisir Muara Sungai Lumpur
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan

Mutia*, Andi Agussalim dan Hartoni

Program Studi Ilmu Kelautan, FMIPA, Universitas Sriwijaya


Alamat : Kampus Universitas Sriwijaya Indralaya
Jl. Raya Palembang Prabumulih KM. 35 Indralaya-OKI 30662
Telepon (0711) 580268 / 580056. Fax (0711) 580056
*email : mutia.lagan@gmail.com

ABSTRAK

Indonesia diperkirakan memiliki luas hutan mangrove sekitar 4,25 juta Ha atau
3,98% dari seluruh luas hutan Indonesia, tetapi hanya 2,5 juta Ha dalam keadaan baik
(Nontji, 2005). Penurunan mangrove terus terjadi akibat semakin tingginya keinginan
untuk mengkonversi maupun mengeksploitasi hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan
untuk memetakan tutupan lahan sekitar Pesisir Muara Sungai Lumpur tahun 2000, 2004
dan 2014, menganalisis perubahan yang terjadi selama 14 tahun serta mengetahui
kondisi mangrove. Sebanyak 8 stasiun penelitian data lapangan ditentukan dengan
purposive sampling dengan melakukan identifikasi jenis-jenis mangrove dan
menggunakan data citra Landsat 7 ETM+ tahun 2000, data citra Landsat 5 TM tahun
2004 dan data citra Landsat 8 OLI tahun 2014. Klasifikasi terbimbing maximum
likehood dan kerapatan jenis menggunakan transformasi NDVI. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa jenis mangrove sejati yang terdapat di Pesisir Muara Sungai
Lumpur Kabupaten OKI Provinsi Sumatera Selatan adalah Avicennia alba, Avicennia
marina, Rhizophora mucronata, Rhozopora apiculata dan Sonneratia alba. Distribusi
dan luasan mangrove mengalami penurunan selama 14 tahun seluas 1.119,77 Ha.
Penurunan luasan mangrove berbanding terbalik dengan luasan tambak yang justru
mengalami penambahan lahan. Kondisi luasan mangrove tahun 2000 adalah 2.296,34
Ha, tahun 2004 adalah 1.1629,63 Ha dan menurun hingga menjadi 1.176,57 Ha di tahun
2014. Namun secara umum mangrove di Pesisir Muara Sungai Lumpur Kabupaten OKI
Sumsel masih termasuk dalam kategori baik.

Kata kunci : Mangrove, Sungai Lumpur, Sumatera Selatan, Landsat, NDVI

Inderalaya, Agustus 2015


Pembimbing I, Pembimbing II,

Andi Agussalim, S.Pi., M.Sc a.n. Andi Agussalim,S.Pi., M.Sc


NIP. 197308082002121001 NIP. 197308082002121001

Mengetahui,
Ketua Program Studi Ilmu Kelautan

Heron Surbakti, S.Pi, M.Si


NIP. 197703202001121002
Analisis Perubahan Mangrove Menggunakan Data Citra Landsat
di Pesisir Muara Sungai Lumpur
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan

Mutia*, Andi Agussalim dan Hartoni

Program Studi Ilmu Kelautan, FMIPA, Universitas Sriwijaya


Alamat : Kampus Universitas Sriwijaya Indralaya
Jl. Raya Palembang Prabumulih KM. 35 Indralaya-OKI 30662
Telepon (0711) 580268 / 580056. Fax (0711) 580056
*email : mutia.lagan@gmail.com

ABSTRAK

Indonesia diperkirakan memiliki luas hutan mangrove sekitar 4,25 juta Ha atau
3,98% dari seluruh luas hutan Indonesia, tetapi hanya 2,5 juta Ha dalam keadaan baik
(Nontji, 2005). Penurunan mangrove terus terjadi akibat semakin tingginya keinginan
untuk mengkonversi maupun mengeksploitasi hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan
untuk memetakan tutupan lahan sekitar Pesisir Muara Sungai Lumpur tahun 2000, 2004
dan 2014, menganalisis perubahan yang terjadi selama 14 tahun serta mengetahui
kondisi mangrove. Sebanyak 8 stasiun penelitian data lapangan ditentukan dengan
purposive sampling dengan melakukan identifikasi jenis-jenis mangrove dan
menggunakan data citra Landsat 7 ETM+ tahun 2000, data citra Landsat 5 TM tahun
2004 dan data citra Landsat 8 OLI tahun 2014. Klasifikasi terbimbing maximum
likehood dan kerapatan jenis menggunakan transformasi NDVI. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa jenis mangrove sejati yang terdapat di Pesisir Muara Sungai
Lumpur Kabupaten OKI Provinsi Sumatera Selatan adalah Avicennia alba, Avicennia
marina, Rhizophora mucronata, Rhozopora apiculata dan Sonneratia alba. Distribusi
dan luasan mangrove mengalami penurunan selama 14 tahun seluas 1.119,77 Ha.
Penurunan luasan mangrove berbanding terbalik dengan luasan tambak yang justru
mengalami penambahan lahan. Kondisi luasan mangrove tahun 2000 adalah 2.296,34
Ha, tahun 2004 adalah 1.1629,63 Ha dan menurun hingga menjadi 1.176,57 Ha di tahun
2014. Namun secara umum mangrove di Pesisir Muara Sungai Lumpur Kabupaten OKI
Sumsel masih termasuk dalam kategori baik.

Kata kunci : Mangrove, Sungai Lumpur, Sumatera Selatan, Landsat, NDVI

Inderalaya, Agustus 2015


Pembimbing I, Pembimbing II,

Andi Agussalim, S.Pi., M.Sc Hartoni, S.Pi., M.S


NIP. 197308082002121001 NIP. 197906212003121002

Mengetahui,
Ketua Program Studi Ilmu Kelautan
Heron Surbakti, S.Pi, M.Si
NIP. 197703202001121002