Anda di halaman 1dari 16

PEMBANGUNAN PARIWISATA

BAHARI MANGROVE SELUAS 150Ha


DI PERAIRAN SUNGSANG BANYUASIN SUMATERA SELATAN

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 7
KETUA : HERIANSYAH HIDAYAT 08101005009
ANGGOTA : 1. ASTRI SIMANGUNGSONG 08091005031
2. ARESTU PRANANA 08101005027
3. DESTRI RIZKI ARIFELIA 08101005043
4. MUTIA 08101005042
5. RACHMAT ADI PHILIPUS 08101005021

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013

Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha


Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan
Latar Belakang
Ekowisata merupakan konsep pariwisata alternatif yang secara konsisten
mengedepankan nilai-nilai alam, sosial, dan masyarakat yang memungkinkan
adanya interaksi positif antar-para pelakunya. Kegiatan wisata di kawasan pesisir,
laut, atau keduanya yang masih alami dan dikembangkan berdasarkan prinsip
pembangunan berkelanjutan ini disebut dengan ekowisata bahari (META, 2002).
Ekowisata menjadi salah satu pilihan dalam mempromosikan lingkungan
yang khas yang masih terjaga keasliannya sekaligus menjadi suatu kawasan
kunjungan wisata. Potensi yang ada adalah suatu konsep pengembangan
lingkungan yang berbasis pada pendekatan pemeliharaan dan konservasi alam.
Konsep ini sangat unik dengan pengembangan dan pelibatan pengelolaan sektor
yang terpadu serta seluruh stakeholders yang terkait. Kesadaran dan apresiasi
masyarakat terhadap upaya pemeliharaan dan kelestarian hutan mangrove
berdampak pada perlunya pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan
memperhatikan lingkungan yang lebih luas.

1. Wajib AMDAL/tidak
Berdasarkan Peraturan Pemerintah LH No. 5 tahun 2012 tentang jenis
rencana usaha yang wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Hidup maka kegiatan rencana pembangunan pariwisata bahari mangrove seluas
150 Ha di Perairan Sungsang tergolong wajib AMDAL.

2. Kewenangan Wajib AMDAL


Kewenangan wajib AMDAL pada rencana kegiatan pembangunan
pariwisata bahari mangrove seluas 150 Ha, maka yang berwenang adalah
Pemerintah Kabupaten Banyuasin.

3. Pelingkupan AMDAL
Pelingkupan merupakan proses untuk menentukan atau menemukan
dampak penting yang sering disebut sebagai masalah utama (main issues) dari
suatu proyek pembangunan terhadap lingkungan. Pelingkupan digunakan sejak
awal dari proses rencana pembangunan suatu proyek. Pelingkupan sudah

Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha


Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan
dilakukan sejak awal, yaitu dalam langkah dasar menyusun kerangka acuan dan
menyusun rencana penelitian lapangan.
3.1. Batasan Wilayah

Peta wilayah Sungsang dari citra Google Map

Peta ruang lingkup ekosistem mangrove di daerah Sungsang, Sumatera Selatan oleh Pusat
Perpetaan Kehutanan Badan Planologi Kehutanan Departemen Kehutanan

Tabel Luas Wilayah Dan Jumlah Penduduk Sungsang

Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha


Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan
No. Nama Desa Jml KK Jml Jiwa (org) Luas Wilayah
1. Sungsang I 1.325 5.046 67.522 Km
2. Sungsang II 1.264 5.014 58.678 Km
3. Sungsang III 776 2.868 53.246 Km
4. Sungsang IV 1.091 4.321 60.554 Km
Jumlah - - 240.000 km

Dengan batas wilayah sebagai berikut :


1. Berbatasan dengan Marga Muara Telang
Sebelah kiri mudik dengan air Gasing sampai dengan Bedegun Besar.
Sebelah kanan mudik Air Gasing Sampai dengan Sungai Rengit.
2. Berbatasan dengan Marga Upang
Sebelah mudik kali musi sampai dengan sungai peresapan dan keliling
laut sampai dengan sungai berdaunan
Sebelah kanan mudik kali musi sampai dengan sungai peradenan.
3. Berbatasan dengan Provinsi Jambi
Sungai benuh sebelah kiri masuk
4. Berbatasan dengan Marga Penuguan
Sebelah kiri Tanjung Bungin (sungai Terusan Bungin) pulau Rimau
Sebelah kanan sampai dengan Sungai Cawan.
5. Berbatasan dengan Marga Tanjung Lago
Sebelah kiri air Sendah (Air Banyuasin) sampai dengan Tanjung Bayan
( Tanjung Genuk Besar).

3.2. Parameter Lingkungan.


3.2.1. Parameter Lingkungan Abiotik.

Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha


Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan
N Komponen Tahap Pra
o. Kegiatan Konstruksi Tahap Konstruksi Tahap Operasi
Komponen
Lingkungan 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 7
FISIK
A KIMIA - - - - - - - - - - - - - - - -
- - - - - -
1 Udara - - - - - TP TP TP - - TP - - - TP TP
- - - - - -
2 Kebisingan - - - - - TP TP TP - - TP - - - TP TP
Ruang, Laut,
- - -
3 dan Lahan - - - - - P -P P - - -p - - - TP -
- - - - - - -
4 Kualitas air - - - - - TP TP TP - - -p p p p TP -p

B BIOTIK - - - - - - - - - - - - - - -

1 Flora - - - - - - - - - - - - - - -

2 Fauna - - - - - - - - - - - - - - - -
- -
3 Biota Perairan - - - - - - p - - - -p p - p - -p

C SOSEKBUD - - - - - - - - - - - - - -
Kependuduka
1 n - - - - - - - - - - - - - - -
Kesempatan
T - - -
2 Kerja P - - - p TP - TP TP P TP - - TP -
Peningkatan
T - - -
3 pendapatan P - - - P TP TP TP TP P TP - - TP --
Ekonomi
4 lokal/regional - - - - - - TP - - - - P -
- -
5 Keamanan - - - - - - - TP - P - - - -
Persepsi
T T T
6 Masyarakat P - P P P - TP TP TP P - P P - - P

7 Lalu lintas - - - - - - - - - - - - - -
-
8 Kesehatan - - - - - - - - - P - - - -

3.2.2. Parameter Lingkungan Biotik.

Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha


Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan
Tabel Komposisi Famili dan Spesies Tumbuhan berdasarkan jenis
komponen mangrove (Indriani, dkk : 2009)
No Family Spesies Kategori
Mangrove
1 Arececeae Nypa fruticans Wurmb ***
2 Asteraceae Wedelia biflora (L) DC *
3 Asclepiadaceae Sarcolobus glabosa R. dan S. *
4 Bignomiaceae Dolichandrone spathacea (L.F) K. *
Schum
5 Combretaceae Combretum tetralopum C.B. *
Clarke
6 Caesalpiniaceae Caesalpinea crista L *
7 Euphobiaceae Bridhelia tomentosa Blum *
Excoearia agallocha L. **
Glochidion littorale Bl *
8 Fabaceae Cynometra ramiflora L *
9 Lecythidaceae Barringtonia racemosa (L.) *
Spreng
Moraceae Ficus microcarpa L. F *
Ficus benjamina L *
Ficus fistulosa Reinw ex Bl *
10 Malvaceae Thespesia populnea Sol ex *
Correae
11 Meliaceae Aphanamixis polystachya (Wall.) *
R.N.Parker
12 Nephrolepidiaceae Nephrolepis cardifolia (L.) Press *
13 Pteridaceae Acrosticum aureum Linn **
14 Rhizophoraceae Rhizophora apiculata Blume ***
15 Sterculiaceae Heritiera littoralis Aiton **
16 Vitaceae Cayratia trifolia (L.) Domin **
Sub-total famili/spesies

*** = 2/2
** = 3/3
* =13/16
Ket: *** mangrove mayor, ** mangrove minor, * asosiasi mangrove

3.3.3. Parameter Lingkungan Budaya.

Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha


Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan
Masyarakat Sungasang dalam penggunaan bahasa bersifat nasionalisme
dengan menggunakan bahasa Indonesia, namun dalam percakapan sehari-hari
lebih banyak menggunakan bahasa melayu, Palembang dan Jawa walaupun ada
yang menggunakan bahasa-bahasa suku masing-masing dalam sekala kecil.
Adat istiadat yang ada di Sungsang hampir sama dengan Palembang,
pertalian adat dalam marga Sungsang ini seadat dengan serasan yang mengurus
adat dalam marga adalah Ngabehi (Pasirah) kemudian diatur sampai kemasyarakat
sesuai dengan tingkat permasalahannya yaitu untuk yang paling kecil di dalam
kampung diurus oleh Kliwon/ pengawa untuk permasalahan adat yang tidak dapat
diselesaikan oleh Kliwon / pengawa diselesaikan oleh Proatin / Kerio sedangkan
urusan yang bertalian dengan adat diurus oleh Ngbehi / Pasirah.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sungsang masih memakai adat


dan tradisi yang telah diatur dalam undang-undang dan peraturan daerah anatara
lain :
1. Pembuatan jembatan / jalan dengan cara dibagi rata panjang jalan dengan
jumlah penduduk yang ada.
2. Menjaga ketertipan dan keamanan merupakan tanggung jawab seluruh
masyarakat tanpa kecuali dengan dipinpin oleh petugas yang ditunjuk.
3. Bagi masyarakat yang pekerjaannya sebagai nelayan pemerintah memberikan
hak usaha untuk berkarang / menangkap ikan.
4. Untuk tanah tungguan tidak dilakukan lelang tetapi itu merupakan hak usaha
p9usaka yang turun menurun dari fulan ke fulan.
5. Untuk penguasaan hutan dan sungai yang dikenal oleh masyarakat sejak
dahulu adalah, sewa bumi, sewa sungai, kapak kayu, dan pancung alas.
6. Selain hak-hak tadi ada larangan yang harus dipatuhi dan tidak boleh
dilanggar antara lain rimba larangan untuk persediaan kayu bagi penduduk
dan rimba larangan untuk menjaga mata air / sumber air.

Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha


Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan
Masyarakat Sungsang sejak Zaman Belanda sudah patuh dan taat terhadap
peraturan dengan menerapkan undang-undang sibur cahaya dan dalam penerapan
undang-undang ini dibagi dua tingkatan hakim:
1. Hakim Dusun
Hakim ini menangani perkara-perkara adat jika melakukan kesalahan dan
tidak menjatuhi hukuman tetapi hanya membayar tepung tawar yaitu nasi
kunyit, seekor ayam, emas sekupang, selembar kain panjang, dan uang seringgit.
2. Hakim Marga
Hakim ini berlaku terhadap pelanggaran adat dengan hukuman denda
setinggi-tingginya 12 ringgit, perkara ini tidak lagi melibatkan Hakim Dusun dan
harus dirapatkan oleh Hakim Marga jika dapat diselesaikan melalui damai maka
didamaikan jika tida maka dilanjutkan ke pengadilan negeri.

4. Metode Pengumpulan Data


4.1. Metode Sistem Informasi Geografis

Peta wilayah Sungsang dari citra Google Map

Pengumpulan data dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis


merupakan kombinasi antara fotogrametri dan interpreasi foto udara. Komponen
kemudian akan dipergunakan untuk menyimpan, menganalisis, dan

Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha


Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan
mempresentasikan data. Semua informasi tentang komponen lingkungan dan
aktivitas proyek dimasukkan dalam peta pada unit analisis ini. Untuk mengalisis
lokasi rencana pembangunan wisata bahari, maka dengan menggunakan metode
Sistem Informasi Geografis diharapkan akan mendapat informasi mengenai
cakupan wilayah yang akan dijadikan tempat pariwisata.

4.2. Metode Checklist


Dampak Tak ada Dampa Dampa Kegunaa Berlawana Masala Jangka Dapat Tak
Lingkungan dampa k+ k- n n h Panjan Kembal Dapat
k g i Kembali
Satwa liar x x x
Spesies x x x x
yang akan
pudah
Vegetasi x x x
alam
Kualitas x
air
Kesehatan x
Nilai x x x
ekonomi
Tenaga x x
Kerja

5. Identifikasi Dampak dan Perkiraan Dampak


Data yang diperlukan sebelum langkah pendugaan/prakiraan dampak
adalah: Keadaan tingkat kualitas dan kuantitas air yang ada sebelum
kegiatan/proyek berjalan. Pendugaan/prakiraan dampak pada kualitas dan
kuantitas air perlu memperhatikan hal-hal sbb:
1. Menetapkan tipe dan kuantitas dari pencemar air yang akan dihasilkan
oleh setiap alternatif aktivitas yang diusulkan baik dalam fase
pembangunan maupun dalam fase proyek yang sudah berjalan.
2. Menetapkan keadaan kualitas dan kuantitas air sebelum proyek dibangun.
Keadaan yang perlu diketahui adalah:

Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha


Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan
a. Kualitas dan kuantitas air permukaan di areal yang akan dibangun,
baik dalam bentuk nilai rata-rata ataupun frekuensi distribusinya.
b. Masalah2 air yang spesifik pernah terjadi dan juga yang masih
terjadi.Misalnya masalah pencemaran
c. Kualitas dan kuantitas air bumi/air tanah
d. Data meteorologi terutama data tentang rata2 curah hujan bulanan,
evaporasi dan temperatur
e. Baku mutu kualitas air (air permukaan dan air tanah) yang berlaku
di daerah tersebut, juga baku mutu buangan yang diizinkan, dan
persyaratan teknologi pengelolaan buangan yang berlaku
f. Keadaan buangan bahan organik dan inorganik,
sedimentasi,kandungan bakteri, seta menetapkan sumber2
pencemarnya.
g. Data tentang macam dan jumlah penggunaan air yang telah ada
didaerah yang bersangkutan
Pendugaan dampak kualitas dan kuantitas air ini dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana pengaruh pencemaran air permukaan dan air
bawah tanah terhadap lingkungan. Oleh karena itu, sebelum mengkaji
interaksi antara kegiatan dengan rona lingkungan perlu mengetahi dan
memahami terjadinya pencemaran. Menurut definisi pencemaran yang
tercantum dalam Peraturan Pemerintah No20 tahun 1990: Pencemaran air
adalah masuknya atau dimasukannya mahluk hidup, zat, energi dan atau
komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air
menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi
lagi sesuai dengan peruntukannya.

Besarnya potensi pencemaran yang akan terjadi tergantung dari dua aspek
yaitu:
1. Intensitas limbah
Intensitas limbah tergantung dari jenis kegiataan dan bahan baku,
kapasitas kegiatan dsb
2. Daya dukung perairan
Daya dukung perairan tergantung dari kondisi alam dan fisik seperti iklim,
topografi, debit sungai dsb.

Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha


Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan
Untuk mengukur besarnya dampak pencemaran di perairaan yang
mengalir digunakan model matematika yang didasarkan pada hukum
kekebalan masa (Masa yang masuk sama dengan masa keluar).
Berbagai pencemar air dihitung sejauh mana konsentrasi di daerah aliran
air dengan variasi berbagai jarak dari sumber pencemar. Pendugaan ini
dilakukan dengan model matematika yang telah banyak dikembangkan.

6. Metode Studi pengumpulan dan analisis data


A. ANGKET
Agket (self-administered questionnaire) adalah teknik pengumpulan data
dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi
sendiri oleh responden. Responden adalah orang yang menjawab atau
memberikan tanggapan atas pertanyaan yang diajukan.
Keuntungan Teknik Kerugian Teknik Angket
Angket
Dapat menjangkau sampel Karena dikirim melalui pos,
dalam jumlah besar karena persentase pengembalian angket
dapat dikirim melalui pos relatif rendah
Biaya membuat angket Pertanyaan dalam angket dapat
relatif murah salah ditafsirkan dan tidak ada
kesempatan mendapatkan
penjelasan
Tidak terlalu mengganggu Tidak dapat digunakan bagi
responden karena responden yang kurang bisa
pengisiannya ditentukan membaca dan menulis, atau
oleh responden sendiri memiliki tingkat pendidikan yang
kurang memadai

Dua macam pertanyaan dalam instrumen penelitian adalah pertanyaan


terbuka dan tertutup. Di bawah ini akan disebutkan perbedaan antara keduanya.
Pertanyaan Terbuka Pertanyaan Tertutup
Jawaban tidak disediakan sehingga Jawaban sudah
responden bebas menulis jawaban disediakan, responden

Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha


Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan
sendiri sesuai pandangannya hanya memilih saja
Jawaban dari responden sangat Mudah mengolahnya
bervariasi sehingga sulit mengolahnya karena jawaban tidak
karena harus menggolongkan jawaban bervariasi
yang ada
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggolongkan jawaban atas
pertanyaan terbuka:
1. Penggolongan hanya didasarkan pada satu prinsip (dimensi) sehingga
seseorang tidak masuk ke lebih dari satu golongan
2. Golongan-golongan yang dibuat harus saling meniadakan (mutually
exclusive)
3. Golongan yang dibuat harus menyeluruh (exhaustive), artinya tidak
satupun yang tidak termasuk ke salah satu golongan.

Pedoman yang perlu diperhatikan dalam membuat pertanyaan untuk


instrumen penelitian (Rubin & Habibie, 1989):
1. Pertanyaan harus jelas dan tidak meragukan
2. Hindari pertanyaan atau pernyataan berganda
3. Responden harus mampu menjawab
4. Pertanyaan-pertanyaan harus relevan, artinya berkenaan dengan tujuan
penelitian
5. Pertanyaan atau pernyataan pendek adalah yang terbaik
6. Hindari pertanyaan, pernyataan, atau istilah yang bias, termasuk tidak
mengajukan pertanyaan yang sugestif
7. Mulailah pertanyaan angket dengan pertanyaan yang menarik, tidak
sensitif atau yang sangat pribadi. Untuk pertanyaan identitas diajukan
terakhir
8. Petunjuk pengisian harus jelas

B. WAWANCARA
Wawancara yang juga dikenal dengan interview adalah
pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh
Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha
Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan
pewawancara kepada responden dan jawaban responden dicatat atau
direkam. Selain itu wawancara juga dapat dilakukan melalui telepon.
Teknik wawancara dapat digunakan pada responden yang buta huruf atau
tidak terbiasa membaca atau menulis, termasuk anak-anak.
Keuntungan Wawancara Kerugian
Wawancara
Dapat digunakan pada responden yang Membutuhkan biaya
tidak bisa membaca dan menulis yang besar untuk
perjalanan pengumpul
data
Pewawancara dapat segera Hanya dapat
menjelaskan jika ada pertanyaan yang menjangkau jumlah
kurang dipahami responden yang lebih
kecil
Wawancara dapat mengecek kebenaran Kehadiran
jawaban responden dengan pewawancara mungkin
mengajukan pertanyaan pembanding mengganggu
atau dengan melihat wajah dan gerak- responden
gerik responden

Dalam kegiatan wawancara calon responden berhak untuk tidak bersedia


menjadi responden. Untuk menghindari hal tersebut, ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Penampilan fisik, termasuk cara berpakaian pewawancara. Penampilan
yang baik akan menciptakan kesan yang baik di mata responden
2. Sikap dan tingkah laku pewawancara. Sikap yang baik dan sopan akan
menyenangkan responden
3. Identitas. Pewawancara harus mengenalkan dirinya, bila perlu beserta
kartu pengenal dan surat tugas
4. Persiapan. Pewawancara harus menguasai apa saja yang akan ditanyakan
pada responden

Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha


Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan
5. Pewawancara harus bersikap netral, tidak mengarahkan jawaban
responden. Bila pewawancara merasa kesulitan dalam menggolongkan
jawaban responden, tanyakan kepada reponden kategori mana yang
menurut responden paling sesuai untuk jawaban itu.

C. OBSERVASI
Observasi diartikan sebagai pengamatan dengan indera penglihatan yang
berarti tidak mengajukan pertanyaan.
Keuntungan Observasi Kerugian Observasi
Data yang diperoleh Pengamat harus mengamati sampai
adalah data yang segar, tingkah laku yang diharapkan
artinya diperoleh dari terjadi. Jika dana yang tersedia
subjek saat terjadinya cukup besar pengamat dapat
tingkah laku menggunakan video perekam
Beberapa tingkah laku, seperti
Keabsahan alat ukur tingkah laku kriminal yang bersifat
dapat diketahui langsung pribadi sukar diamati bahkan dapat
membahayakan pengamat

Berdasarkan keterlibatan pengamat dalam kegiatan orang yang diamati,


observasi dapat dibedakan menjadi:
1. Observasi partisipan (participant observation)
Pengamat ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh subjek yang
diteliti namun tetap waspada untuk mengamati kemunculan tingkah laku
tertentu.
2. Observasi takpartisipan (nonparticipant observation)
Pengamat berada di luar subjek yang diamati

Berdasarkan cara pengamatan yang dilakukan, observasi dibedakan


menjadi:
1. Observasi tak berstruktur

Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha


Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan
Pengamat tidak membawa catatan tentang tingkah laku apa saja yang
secara khusus akan diamati. Ia akan mengamati arus peristiwa dan
mencatatnya atau meringkasnya untuk kemudian dianalisis.
2. Observasi berstruktur
Pengamat memusatkan perhatian pada tingkah laku tertentu sehingga
dapat dibuat pedoman tentang tingkah laku apa saja yang harus diamati.
Tingkah laku lainnya diabaikan.

7. Analisis Data
Dari hasil observasi beberapa data dan informasi, proyek
pembangunan Pariwisata bahari mangrove ini membawa keuntungan ditinjau
dari aspek ekonomi bagi Sumatera Selatan. Karena dapat menjadi Tambang
Emas bagi Sumatera Selatan jika nantinya pariwisata ini banyak yang
mengunjungi. Selain itu juga membawa keuntungan bagi kesejahteraan
masyarakat di sekitar Proyek pembangunan baik saat pembangunan maupun
pasca pembangunan. Selama proyek pembangunan dijalankan, telah terlihat
perubahan tingkat kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Ekonomi
masyarakat di sekitar daerah tersebut akan meningkat dan lebih sejahtera.
Dan secara tidak langsung akan menambah Pendapatan daerah Sumatera
Selatan. Diharapkan dengan adanya pariwisata mangrove ini akan dapat
membawa nama Sumatera Selatan di mata dunia.
Untuk itu kiranya perlu dievaluasi kembali rencana pembangunan
pariwisata mangrove ini yang penempatannya berada di dalam kawasan Hutan
Lindung Air Telang dan sekitar Taman Nasional Sembilang, dengan
memperhatikan asfek ekologi kawasan secara lebih mendalam dan meluas.
Namun demikian, kiranya pelaksanaan pariwisata mangrove tersebut,
harus pula memperhatikan banyak aspek di dalamnya. Kajian secara
komprehensif dan mendalam, terkait dengan dampak yang ditimbulkan dari
usaha tersebut, baik secara sosial, ekonomi, dan lingkungan, dengan
melibatkan banyak fihak, terutama masyarakat sekitar wilayah projek,
merupakan tahapan yang harus dijalankan oleh pemerintah. Dalam hal ini,

Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha


Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan
transparansi, obyektifitas, dan keprofesionalan harus menjadi prasyarat,
sehingga hasil dari proses identifikasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan
kepada masyarakat..Ada baiknya pengerjaan projek pariwisata mangrove
untuk sementara ini dihentikan terlebih dahulu.
REFERENSI
Indriani, dkk. 2009. Keanekaragaman Spesies Tumbuhan pada Kawasan
Mangrove Nipah (Nypa fruticans Wurmb) di Kecamatan Pulau Rimau
Kab. Banyuasin Sumatera Selatan. Palembang : Universitas Sriwijaya
Laapo, Alimudin, dkk. 2008. Kajian Karakteristik dan Kesesuaian Kawasan
Mangrove Untuk Kegiatan Ekowisata Mangrove di Gugus Pulau Togean,
Taman Nasional Kepulauan Togean. Bogor : Universitas Pertanian Bogor.
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/108581

Syulasmi, Ammi dan Tina Safaria. 2009. Hand Out Pengantar Amdal. FMIPA:
UPI.
(ml.scribd.com/doc/103995127/AMDAL2)

fidanurlaeli.files.wordpress.com/2012/10/amdal2.doc

Pembangunan Pariwisata Bahari Mangrove Seluas 150 Ha


Di Perairan Sungsang Banyuasin Sumatera Selatan